Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Pelayanan Gereja

Serba-Serbi Kotabaru

Ekaristi Remaja Sumpah Pemuda: “MAESTRO” Kamis (28/10) Perayaan Ekaristi Remaja dengan tagline “MAESTRO” diadakan. “MAESTRO” adalah kependekan dari Muda Semangat Trobosan Bangsa. Misa yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda ini dipimpin oleh Pater Fransiskus Pieter Dolle, S.J. Melalui Ekaristi ini kaum muda diingatkan kembali untuk mengambil peran sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam pembangunan bangsa. Selain itu, juga untuk menjaga warisan bangsa yang telah diwariskan kepada kaum muda. Ada beberapa hal unik dalam perayaan Ekaristi Kaum Remaja kali ini. Salah satunya adalah EKR bulan Oktober 2021 ini bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda. Untuk mengingatkan kembali perjuangan para pemuda dalam memerdekakan Indonesia, maka ada sebuah video yang dibuat oleh tim panitia. Anggota RKK atau Remaja Katolik Kotabaru satu persatu bergantian menjawab pertanyaan yang diberikan. Sekitar enam anggota RKK memberikan opininya terkait Sumpah Pemuda. Dari apa yang mereka ketahui tentang Sumpah Pemuda, isi Sumpah Pemuda, dan harapan mereka untuk Indonesia. Meski banyak dari mereka yang tidak mengingat isi dari Sumpah Pemuda tapi harapan mereka bagi Bangsa Indonesia sangat tulus. Tujuan dari video ini adalah mengajak kaum muda untuk berefleksi mengenai kepedulian terhadap negara ini. Perayaan Ekaristi pun dilanjutkan dengan homili dari Pater Pieter. Masih dengan suasana perayaan Sumpah Pemuda. Romo mengajak umat untuk mencari apa makna Sumpah Pemuda bagi diri sendiri. Romo juga mengajak kita untuk bangga menjadi warga Indonesia yang memiliki berbagai keberagaman namun tetap bisa bersatu. “Kita patut bangga menjadi warga negara Indonesia dengan semangat kekatolikan. Seperti kata Mgr. Soegijapranata: 100% Katolik, 100% Indonesia.” Melalui homilinya, Pater Pieter mengajak kita untuk melihat keindahan dalam keberagaman yang ada. Tidak selamanya perbedaan itu adalah hal yang buruk. Ada kalanya keberagaman itu membuat sebuah negara menjadi kaya. Keberagaman juga membuat manusia bisa saling melengkapi. Seperti halnya murid-murid Yesus yang memiliki latar belakang yang berbeda atau seperti nada musik yang tidak hanya satu. Connecting People melalui Game Mobile Legends Dalam rangka memeriahkan hari Sumpah Pemuda, Orang Muda Katolik (OMK) Kotabaru menyelenggarakan Kotabaru E-Sport Mobile Legends: Bang-Bang. Tujuan diadakannya Kotabaru E-Sport adalah untuk menjalin relasi antar-orang muda Katolik. OMK Kotabaru memilih tagline “Connecting People” atas dasar keprihatinan terhadap teman-teman muda yang rutinitasnya cukup berubah semenjak adanya pandemi yang membuat banyak orang muda semakin jarang berdinamika. Dengan adanya Kotabaru E-Sport ini, diharapkan rekan-rekan muda bisa mendapatkan relasi satu sama lain, sehingga merangkul kaum muda untuk dapat berkolaborasi dan elaborasi. Kotabaru E-Sport Competition Mobile Legends: Bang-Bang diikuti oleh 32 tim dari berbagai daerah. Turnamen dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, yakni 28-30 Oktober 2021 secara daring. Pada hari ketiga, tepatnya Sabtu, 30 Oktober 2021 turnamen ditayangkan secara live streaming melalui channel YouTube Gereja St. Antonius Padua Kotabaru. Setelah melalui beberapa babak, terdapat 3 tim yang meraih kejuaraan. Juara pertama diraih oleh Always Grateful, juara kedua diraih oleh Carbondioxida, dan juara ketiga diraih oleh Canem Stercore. Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman muda yang telah berpartisipasi. Semoga dengan diadakannya Kotabaru E-Sport, teman-teman memiliki semangat muda yang semakin membara khususnya untuk melayani Tuhan. REBORN CAMP: Mempersiapkan Diri Menerima Baptisan dengan Semangat Ignatian Menjadi Katolik berarti hidup kembali (reborn) dalam Kristus sesuai ajaran Gereja Katolik. Berani memutuskan menjadi Katolik adalah keputusan besar dalam hidup seseorang. Untuk itu, setelah mengikuti hampir 60 pertemuan persiapan selama kurang lebih satu tahun, para katekumen diajak ambil waktu sejenak dan keluar dari rutinitas harian untuk menjernihkan dan memantapkan keputusan menjadi Katolik dalam Reborn Camp 2021.  Reborn Camp 2021, yang diselenggarakan oleh Tim Pelayanan Sakramen Inisiasi pada hari Minggu, 14 November 2021 di Wisma Maya Kaliurang ini, menjadi sarana membangun kekompakan tim antara katekis senior dengan katekis muda. Yang menarik, beda generasi antarkatekis ini justru saling melengkapi sehingga materi katekesenya bisa disampaikan dalam nuansa millennial dan kemasan digital. Fun, seru, namun tetap berbobot. Dalam Sesi 1: The Ignatian Way, Pater Macarius Maharsono Probho, S.J. memberi insights tentang bagaimana memilih berdasarkan Spiritualitas Ignatian. Peserta juga diajak membuat grafik kehidupan untuk menemukan Tuhan dalam kilas sejarah hidup mereka. Dari kilas sejarah hidup mereka itulah, lalu tampak di momen apa saja mereka berjumpa dengan Yesus dan akhirnya berani mengambil keputusan menjadi Katolik. Sama seperti St. Ignatius yang mempunyai cannonball moment, tiap peserta pasti juga mempunyai momen yang memotivasinya mantap menjadi Katolik. Inilah yang diolah dalam kelompok-kelompok kecil selama Sesi 2: My Chosen Way. Kemudian, di tengah hari, Pater Maharsono memperkenalkan examen atau penelitan batin dan mengajak peserta mencecap pengalaman ber-examen sekitar 15 menit. Setelah makan siang, di Sesi 3: My Chosen Name, peserta diajak untuk mengenal lebih dalam nama baptis yang sudah dipilih. Bagaimana riwayat hidup santo atau santa tersebut? Lalu keutamaan-keutamaan apa yang ingin diteladani dari santo atau santa tersebut? Kemudian peserta mensharingkan di kelompok besar. Walaupun berlangsung dari pagi hingga sore, dengan prokes yang ketat, namun Reborn Camp terasa begitu cepat. Seluruh kegiatan ini diakhiri dengan doa penutup kreatif. “Acaranya seru, menyenangkan, dan banyak kawan-kawan yang sama mau memeluk iman Katolik. Setelah acara ini, kami semua lebih mantap lagi untuk mengikuti iman Katolik. Terima kasih juga kepada katekis-katekis yang sudah membimbing kami secara offline maupun online,” ujar Felicia, salah satu katekumen kelas online. Kontributor : Maria Ludwina – Cornelia Marissa & Nicholas Marcel – Jessica Juliani & Edi Widiasta – KOMSOS Kotabaru

Pelayanan Gereja

Menimba Semangat Kemurahan Hati dan Kepedulian melalui UAP

Tahun ini Gereja St Antonius Purbayan merayakan ulang tahun yang ke-105 tahun pada 14 November 2021. Tema yang diangkat tahun ini yaitu Dengan Semangat UAP Gereja St Antonius Purbayan Semakin  Peduli dan Murah Hati di Tengah Pandemi Covid-19. Melalui tema ini Dewan Paroki ingin menularkan semangat UAP kepada para umat, salah satunya dengan merawat dan melestarikan lingkungan hidup.  Sesuai dengan tema HUT Gereja St Antonius Purbayan, Dewan Paroki menunjuk Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup atau Tim Lingkup untuk mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan perayaan ini. Tim Lingkup memutuskan untuk mengadakan kegiatan pembagian tanaman dan menebarkan benih nila di sungai Bengawan Solo, yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2021. Kegiatan ini pun diselenggarakan bertepatan juga dengan memperingati hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2021.  Kegiatan membagi tanaman gratis kepada umat paroki Purbayan dilaksanakan pada 16-17 Oktober 2021 setelah selesai misa. Tim Lingkup bekerja sama dengan Balai Pengelolaan DASHL (Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung) Kementerian Lingkungan Hidup Surakarta, membagikan 1000 bibit tanaman, yang terdiri atas bibit tanaman hias dan buah. Bibit tanaman hias yang dibagikan yaitu pucuk merah dan tabebuya, sedangkan untuk bibit tanaman buah yaitu sawo, salam, mangga, rambutan, jeruk, sirsak, pala, aren, duwet, dan petai.  Umat begitu antusias dalam kegiatan ini, selain mendapatkan bibit gratis, mereka juga bisa menanam tanaman di rumah mereka. Akibat pandemi Covid-19  umat tidak bisa pergi ke mana-mana dengan bebas. Dengan dibagikannya bibit tanaman ini diharapkan umat mendapat kesibukan baru untuk merawat tanaman. Dan secara tidak langsung, mereka telah membantu merawat bumi dengan melakukan hal kecil seperti menanam dan merawat tanaman. Tanaman yang ditanam dan tumbuh akan menimbulkan sukacita bagi yang merawatnya, apalagi bisa menghasilkan buah kemudian bisa berbagi dengan orang-orang sekitar. Oksigen bertambah karena makin banyak tanaman yang ditanam, maka makhluk hidup menjadi sehat dan ekosistem lingkungan hidup menjadi semakin lestari. Tim Lingkup bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Surakarta mengadakan kegiatan menebar benih ikan nila di sungai Bengawan Solo. Kegiatan ini dilaksanakan 24 Oktober 2021 jam 10.00 dan sebanyak 4000 ekor benih nila disebarkan di sana. Tujuan kegiatan ini agar ikan yang ditebar ini bisa tumbuh berkembang di Sungai Bengawan Solo dan masyarakat di sekitar pinggiran sungai Bengawan Solo bisa menambah gizi keluarga mereka dengan  daging ikan hasil tangkapan mereka. Selain menebar benih ikan di sungai, Gereja Santo Antonius juga menyerahkan bantuan bibit tanaman kepada warga sekitar Bengawan Solo agar ditanam di sepanjang bantaran sungai untuk penghijauan dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan sekitar sungai. Nantinya masyarakat juga bisa memanfaatkan panen buah dari tanaman tersebut. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyelamatkan kelangsungan hidup semua ciptaan. Seperti diketahui, pada saat ini ancaman perubahan iklim menjadi isu yang hangat diperbincangkan dan banyak negara bersiap–siap untuk menghadapi bencana perubahan iklim tersebut. Bencana akibat perubahan iklim terjadi karena terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan terjadi karena ulah dan keserakahan kita yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempedulikan akibat yang terjadi. Jadi, tepatlah kegiatan ini dilaksanakan karena selain menjaga kelestarian lingkungan hidup juga untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat. Kontributor : KOMSOS Purbayan

Karya Pendidikan

Donor Darah Serentak Seluruh Dunia

Di tengah pandemi Covid-19, Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia (AAJI) memberanikan diri untuk menyelenggarakan donor darah. Kebutuhan darah selalu penting baik saat tidak ada pandemi dan terlebih saat pandemi. Seperti motto sekolah-sekolah Jesuit “men and women for and with others,” AAJI mengajak alumni delapan Kolese Jesuit dan satu universitas untuk membantu sesama yang membutuhkan melalui kegiatan donor darah.  Kegiatan ini awalnya diinisiasi oleh rekan-rekan KEKL (Keluarga Eks Kolese Loyola) yang pernah mengadakan kegiatan serupa tahun 2019. Tahun ini, KEKL mengajak kolese-kolese lain untuk berkolaborasi bersama dalam kegiatan donor darah lintas Alumni Kolese dan Universitas. Ini menjadi tugas dan tantangan besar bagi Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia, yaitu membangun kolaborasi antar-alumni kolese dan universitas Jesuit. Dicari 1000 Pahlawan Dunia Masa Kini menjadi tagline kegiatan ini. Tercatat lebih dari 1200 yang mendaftar untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ini. Kegiatan ini diselenggarakan serentak pada 6-7 November 2021 di 48 kota di Indonesia dan dua kota mancanegara yaitu Singapura dan Hongkong. Koordinasi antar panitia di berbagai kota dan negara ini tidaklah mudah. Syukurlah kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Kantong darah yang terkumpul total sebanyak 807 buah. Ada banyak yang ingin mendonorkan darahnya namun terkendala tekanan darah tinggi, HB kurang, dan lain-lain. Pelaksanaan donor darah ini dibuka oleh Provinsial Serikat Jesus, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. di SMA Kolese Loyola, Semarang. Beliau begitu antusias mendukung kegiatan ini, salah satunya dengan mengajak rekan-rekan awam agar terlibat dalam kegiatan ini. Pater Beni pun menjadi pendonor pertama dalam kegiatan ini.  Ada satu kejadian mengharukan sekaligus membahagiakan, yaitu ketika di PMI R.S. Fatmawati, dikoordinasi oleh rekan-rekan IKAGONA (Ikatan Alumni Gonzaga), seorang ibu dengan gembira menghampiri panitia. Ia mengucapkan terima kasih karena dengan terselenggaranya kegiatan ini, kebutuhan darah untuk putrinya menjadi tercukupi. Hal ini membuat kami tersadar dan mengingat kembali pesan dari Pater Beni yang dikutip dari ucapan St. Ignatius Loyola, “Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada kata-kata.” Kita tidak perlu menunggu hal besar untuk membantu dan memberikan cinta untuk sesama. Kita dapat memulainya dengan hal kecil tetapi berdampak bagi hidup orang lain. Sekali lagi, terima kasih untuk Anda yang sudah bergerak bersama seluruh Alumni Jesuit Indonesia dan menjadi pahlawan pembaru dunia masa kini! Kontributor : Adrianus Roy – AAJI

Pelayanan Spiritualitas

Retret Berjalan Bersama Ignatius

Sebelas orang awam dari KAJ (10 orang) dan Keuskupan Bogor (1 orang) yang terdiri atas enam perempuan, lima laki-laki telah mengikuti retret Berjalan Bersama Ignatius di Rumah Retret Kristus Raja, Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah. Pendamping retret ini adalah Pater Agustinus Priyono Marwan, S.J. yang juga merupakan Direktur Joint International Jesuit Tertianship. Retret dimulai pada Jumat, 15-19 Oktober 2021. Retret ini diselenggarakan dalam jumlah peserta terbatas dengan syarat sudah menerima 2 kali vaksin dan tes antigen dinyatakan negatif. Retret ini mengacu pada buku Berjalan Bersama Ignatius yang ditulis oleh Pater Jenderal Serikat Jesus, Arturo Sosa, S.J. Kami para awam berinisiatif untuk bergabung dalam peringatan 500 tahun pertobatan Ignatius melalui retret ini. Retret berlangsung sejak Jumat sore, 15 Oktober 2021. Dimulai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Priyono, S.J. dan kemudian dilanjutkan dengan makan malam. Setiap hari para peserta merayakan Ekaristi dan pada hari kedua setiap peserta bertemu dengan pembimbing serta mengungkapkan rahmat yang diharapkan dari retret ini dengan fokus sesuai tema pada buku. Setiap hari para peserta membangun suasana silentium dalam refleksi pribadi, meditasi, dan doa mengikuti dinamika hubungan mereka dengan Tuhan. Para peserta dapat berinteraksi pada sesi percakapan rohani dalam kelompok, makan bersama, dan wawanhati pribadi bersama pembimbing retret. Pada hari ketiga, peserta memulai wawanhati dan satu jam adorasi Sakramen Mahakudus. Hari keempat dan kelima para peserta menerima sakramen Maha Rahim.  Peserta diajak untuk mengenal seni berjumpa Tuhan dalam segala dengan menggunakan dua cara. Cara yang pertama berjumpa dengan Tuhan dalam retret ini yaitu dengan membaca secara bijaksana dan permenungan dalam 11 bab yang berlanjut dengan wawanhati dengan Tuhan; percakapan rohani dalam kelompok kecil; serta wawanhati dengan pendamping. Sedangkan cara yang kedua antara lain dengan mengindera alam ciptaan; menemukan kehadiran Tuhan dalam pengalaman suka duka hidup pribadi maupun bersama orang lain; mengenal dan melibatkan diri dengan Tuhan melalui meditasi; dan melibatkan diri dalam kisah Tuhan lewat kontemplasi dengan daya indera dan daya jiwa. Sebelum perayaan Ekaristi penutup, pendamping retret menyampaikan bahwa perjalanan ini adalah awal untuk mengikuti Ignatius dalam kehidupan sehari-hari dan menemukan Tuhan dalam segala hal. Tidak ada selamat tinggal. Para peserta berbagi berkat dan kegembiraan yang diberikan selama retret. Beberapa membagikan sharing mereka dalam kelompok pesan di media sosial. Sukacita yang luar biasa terpancar dari wajah peserta dan pendamping retret, sebuah tanda kesiapan untuk berjalan bersama St. Ignatius. Begitu banyak rahmat yang diperoleh oleh para peserta. Salah satunya Pak Adi yang bercerita bahwa retret terakhir yang dilakukannya adalah 10 tahun yang lalu dan bayangan untuk retret kali ini akan berteman dan katam dengan alkitab. Namun ternyata retret ini sungguh santai, menjadikan saya mampu melakukan mapping masalah dan kekhawatiran saya sesuai arahan Pater Priyono. Pada awalnya Pak Tri juga tertarik mengikuti retret ini karena diajak istrinya. Ketika ditanya mohon rahmat apa selama mengikuti retret ini, ia bingung. Ia mulai memperoleh rahmat keinginan untuk membaca buku Berjalan Bersama Ignatius yang membuka hatinya, yaitu tidak perlu memohon rahmat yang tinggi tetapi rahmat yang sederhana. Rupanya Yesus itu bisa dijumpai melalui istrinya yang mengajaknya mengikuti retret ini. Dalam membaca buku, ia mendapat rahmat yaitu merefleksikan dosa-dosa saya yang lalu dan tidak disadari. Pater Priyono semakin meneguhkan dirinya untuk membuka peziarahan dan membersihkan diri kita. Setelah mengikuti retret ini Pater Priyono berharap para peserta tetap merawat keinginan dan kerinduan berjumpa dengan sesama dan Tuhan. Bila ingin memulai sesuatu, mulailah dengan hati walaupun nantinya akan ada banyak gangguan. Tetap ingatlah pesan Santo Ignatius, yaitu menjadi orang yang memiliki kasih, bukan menjatuhkan orang lain namun membuat mereka terangkat dan penuh semangat. Kontributor : PUSPITA

Pelayanan Spiritualitas

Pengenalan Spiritualitas Ignatian Lintas Agama

Menjelang akhir program tersiat 2021, para peserta diundang untuk berkontemplasi membagikan kegembiraan selama proses tersiat. Dari situ ada sebuah kerinduan untuk membagikan Spiritualitas Ignatian kepada banyak orang, termasuk rekan-rekan lintas agama. Para peserta tersiat kemudian berinisiatif untuk membuat rangkaian webinar Pengenalan Spiritualitas Lintas Agama dengan mengajak teman-teman lintas agama untuk bergabung di dalamnya. Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual dari bulan Juli-November 2021 (dua kali pertemuan dalam sebulan, setiap Kamis minggu kedua dan Kamis minggu keempat). Acara ini diselenggarakan juga sebagai bagian dari momen peringatan 500 tahun Pertobatan St Ignatius.  Webinar yang pertama diselenggarakan pada 8 Juli 2021 pukul 19.30 WIB dengan tema Pengenalan Sosok St Ignatius oleh Pater Didik Chahyono, S.J. dan Pater Mutiara Andalas, S.J.. Pater Didik mengungkapkan bahwa seluruh peserta yang mengikuti webinar ini merupakan pribadi-pribadi yang memiliki perhatian besar pada jalinan persaudaraan dan kerja sama lintas agama. Perjumpaan virtual ini bukanlah webinar semata seperti pada umumnya. Namun lebih dari itu, perjumpaan ini diharapkan dapat semakin mempererat kebersamaan dan kerja sama rekan-rekan lintas agama. Dalam paparannya, Pater Didik mengatakan bahwa spiritualitas merupakan semangat hidup yang didasarkan pada relasi pribadi seseorang dengan Tuhan pencipta. Relasi pribadi ini akan mempengaruhi cara pandang orang tersebut terhadap Sang Pencipta, dunia, dan segala makhluk ciptaan. Contohnya, bila seseorang merasakan pengalaman dicintai oleh Tuhan, maka seseorang itu akan memandang dunia ini sebagai anugerah yang harus disyukuri dan dijaga, termasuk ketika seseorang itu memandang sesamanya. Pengalaman dikasihi ini akan mendorongnya untuk mengasihi sesama dan seluruh makhluk ciptaan. Dengan demikian, Spiritualitas Ignatian merupakan semangat hidup yang dimiliki oleh Santo Ignatius terkait pengalaman batinnya dengan Tuhan Sang Pencipta. Pengalaman batin ini mengobarkan dirinya untuk mengabdi Tuhan dan mencintai manusia demi keselamatan jiwa-jiwa. Sementara Pater Andalas menceritakan pengalaman Ignatius saat bertemu dengan orang Moor (Islam). Bagi kebanyakan orang Spanyol waktu itu, berbincang dengan orang Moor (Islam) sangat jarang terjadi. Tetapi Ignatius bersedia berbincang meski isi perbincangannya menyinggung soal Bunda Maria. Perbedaan pandangan ini menyebabkan suasana hati Ignatius tidak nyaman. Berkat bimbingan Roh Kudus melalui seekor keledai, Ignatius membiarkan orang Moor itu pergi dan tidak bertindak negatif. Perjumpaan virtual pada pertemuan pertama ini berlangsung penuh persahabatan. Sejumlah peserta bertanya jawab dan berbagi pengalaman hidup, sehingga tanpa terasa waktu berjalan melebihi dari rencana semula. Dari 100 pendaftar, 75 orang bertahan hingga acara selesai. Acara ini diikuti oleh 40 peserta non Katolik dan 45 orang beragama Katolik serta sejumlah anggota Serikat Jesus. Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. pun hadir dan menemani kegiatan webinar perjumpaan virtual tersebut. Mgr Ruby menekankan tiga hal mengenai spiritualitas Ignatian, yaitu pentingnya persiapan (preparasi) untuk sesuatu yang akan dikerjakan, melaksanakannya semaksimal mungkin, dan merefleksikan atas keseluruhan hal yang telah dikerjakan. Sementara Pater Beni sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan lintas agama yang berkenan menimba inspirasi orang suci dari agama Katolik. Hal ini merupakan bentuk dialog antaragama yang nyata. Istimewa juga bahwa doa pembukaan acara ini dipimpin oleh Kiai Muhammad Abdul Qodir dan doa penutup dibawakan oleh Samaneri Theranimmala Webinar ini terselenggara dalam 10 kali pertemuan selama lima bulan dengan tema-tema yang menarik dan dibawakan oleh para nostri Serikat Jesus yang baru selesai menjalani masa tersiat mereka. Kegiatan ini dapat berlangsung berkat kerja sama dari para Nostri SJ, Tim Kerja Pelayanan Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Paroki St Theresia Bongsari, Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia, dan Komunitas Persaudaraan Lintas Agama Kota Semarang. Peserta yang hadir dalam pertemuan virtual ini sekitar 40-50 orang. Meskipun mengalami penurunan di setiap pertemuannya, namun ada rasa syukur karena sejumlah rekan lintas agama yang belum pernah berkarya di institusi Serikat Jesus berkenan untuk mengenal dan belajar spiritualitas Ignatian. Kontributor : P. Eduardus Didik Chahyono Widyatama, S.J.

Pelayanan Masyarakat

Anugerah Budaya bagi Majalah BASIS

Majalah BASIS telah terbit 70 tahun lamanya. Tepat pada hari ulang tahunnya, Kamis, 18 November 2021, Majalah BASIS menerima anugerah budaya sebagai majalah budaya tertua dari Yogyakarta dan kebanggaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Anugerah ini diberikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) X, di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta. Acara penganugerahan penghargaan ini merupakan bentuk penyadaran akan arti pentingnya pelestarian budaya. Penghargaan ini adalah usaha agar warisan budaya dikembangkan tanpa kehilangan rohnya, terutama bagi generasi muda. Pemerintah Daerah memberikan penghargaan kepada setiap orang atau lembaga yang berjasa maupun memiliki prestasi luar biasa dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan. Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Majalah BASIS. “Kami menyampaikan penghargaan yang tinggi disertai tanda mata atas upaya-upaya tak kenal lelah dan tak kunjung menyerah dari para pelestari dan pegiat kegiatan kebudayaan dan kesenian yang menerima penghargaan ini,” ungkap Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., Kepada Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Sementara itu, Sri Sultan Hamengkubuwana X menegaskan bahwa kebudayaan harus dikembangkan dan apresiasi harus diberikan kepada pegiat budaya yang telah berkarya demi makin istimewanya Daerah Istimewa Yogyakarta. “Saya mengucapkan terima kasih kepada para pegiat yang telah berkontribusi dan menerima anugerah penghargaan tahun ini. Semoga anugerah yang diterima bisa menjadi semangat penggerak dalam berkarya meningkatkan marwah budaya, mendukung masyarakat yang lebih sejahtera dalam tataran Hamemayu Hayuning Bawana,” tutur Ngarsa Dalem. Harapan Sri Sultan Hamengkubuwana X kiranya sejalan dengan Majalah BASIS yang betul-betul setia dan konsisten pada visi yang diletakkan pada awal berdiri, yakni menjadi majalah yang kritis berbudaya yang tanggap pada keadaan masyarakat.  Majalah BASIS bahkan memberikan jasa bagi bangsa Indonesia, yakni ketika tahun 1955 menerbitkan artikel-artikel demokrasi yang bahkan dijadikan pedoman demokrasi dan akhirnya dicetak banyak sekali sebagai booklet kecil dan dibagikan secara cuma-cuma kepada rakyat untuk belajar demokrasi.  Ketua Yayasan BASIS, Rm. Prof. Dr. A. Sudiarja, S.J., yang hadir untuk menerimanya menyatakan, “Ini sungguh kehormatan yang luar biasa bagi kami mendapat anugerah budaya dan langsung diterimakan oleh Gubernur DIY, Ngarsa Dalem Sultan HB X. Anugerah ini sebenarnya yang kami harapkan, namun tidak bisa kami pastikan, karena hanya orang lain yang bisa menilai dan menentukan.” Dalam kesempatan terpisah, Pemimpin Umum dan Penanggung Jawab Majalah BASIS, Rm. Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J. mengatakan, “Anugerah budaya ini menurut saya adalah juga hasil dukungan teman-teman wartawan dan pemerintah Provinsi DIY. Maka, saya berharap semoga Majalah BASIS masih terus bisa bertahan melanjutkan perjuangan ini. Ini suatu anugerah yang patut disyukuri sebagai majalah kebudayaan kebanggaan Daerah Istimewa Yogyakarta.” Penulis buku Anak Bajang Menggiring Angin ini juga mengatakan, Majalah BASIS adalah kekuatan budaya yang mendapat penghargaan setelah 70 tahun berjuang. Kesetiaan dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan rekan-rekan wartawan sejak dulu, membuatnya terus bisa bertahan. “Anugerah ini adalah berkah bagi Majalah BASIS sekaligus berkah bagi pers Indonesia. Lebih-lebih, Majalah BASIS ini selalu menjadi bacaan dan pegangan untuk menggarap skripsi, untuk insight dosen, serta untuk bahan diskusi,” pungkasnya.  Kontributor : Slamet Riyadi, Willy Putranta

Kuria Roma

Seri Video Berjalan Bersama Ignatius Episode 3 : Hidup dengan Gagah Berani di Zaman ini

Ada ragam cara orang memandang realitas; dengan penuh antisipasi, pengharapan, kasih sayang, dan komitmen untuk melakukan hal-hal baik. Ada yang sekadar menjadi penonton, menyaksikan dari jauh keberhasilan dan kegagalan orang lain. Ada pula yang karena sibuk dengan perbedaan lantas menilai realitas dengan penuh prasangka dan perselisihan yang pada akhirnya justru menghalangi segala usaha untuk membangun tali persaudaraan. Namun realitas, dengan segala kekayaan nuansanya, tidaklah berdiam diri dan terjebak pada cara pandang sempit atau ideologi-ideologi absolut. Realitas selalu jauh lebih kaya daripada yang kita duga. Untuk itulah, pada tahun ini kita semua yang menghidupi spiritualitas Ignasian bersama-sama memohon rahmat pertobatan agar mampu melihat segalanya secara baru di dalam Kristus sebab kita pun ingin memandang realitas sebagaimana Yesus memandangnya. Kita ingin melihat belas kasih dan komitmen. Kita ingin menemukan kehadiran Allah Bapa yang penuh belas dan kebijaksanaan pada ciptaan-Nya. Mereka yang kecil dan sederhana, yang berbeda dan terasing, dan pada orang-orang yang hendak membangun masa depan yang penuh harapan. Semoga kita terbantu untuk memahami realitas sehingga kita dapat menunjukkan jalan Tuhan. Marilah kita bersama-sama memohon rahmat agar mampu memandang realitas seperti cara Yesus memandangnya. Beranikah kita? Marilah kita berdoa, baik secara pribadi maupun bersama-sama sebagai sebuah komunitas, dengan inti doa seperti ditunjukkan pada bagian akhir bab ketiga buku Berjalan bersama Ignatius yang saya tulis. (Lihat: Berjalan Bersama Ignatius karangan Arturo Sosa, S.J. terbitan PT. Kanisius dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia, 2021 hlm. 114 – 117).

Penjelajahan dengan Orang Muda

Temu Orang Muda Sahabat Jesuit

Seperti telah kita ketahui bersama, salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangka merayakan 50 tahun Provinsi Indonesia Serikat Jesus adalah refleksi bersama terkait karya-karya kerasulan Provindo. Pada bulan November ini, kita merefleksikan karya Provindo dalam mendampingi orang muda. Ini sesuai dengan Preferensi Kerasulan Universal yang ketiga yaitu menemani kaum muda dalam menciptakan masa depan yang penuh harapan.  Keterlibatan Jesuit Indonesia dalam Formasi Orang Muda Seperti di belahan bumi yang lain, pelayanan Jesuit di Indonesia sangat terkait dengan formasi orang muda. Formasi orang muda ini menjadi salah satu aspek pelayanan Jesuit melalui karya pendidikan, paroki, dan kategorial. Secara khusus Jesuit Indonesia terlibat dalam pelayanan formasi orang muda melalui karya-karya pendidikan menengah dan tinggi, mempersiapkan mereka menjadi man and women for and with others. Selain bekerja di lembaga pendidikan yang dimiliki dan dikelola oleh Provindo, Jesuit Indonesia juga bekerja pada Yayasan Strada di Keuskupan Agung Jakarta dan Yayasan Kanisius di Keuskupan Agung Semarang. Tidak hanya orang muda yang terkait dengan sekolah-sekolah Jesuit saja, Jesuit di Indonesia juga terlibat dalam formasi orang muda yang sedang belajar di perguruan tinggi negeri atau swasta melalui pelayanan paroki-paroki mahasiswa di Depok, Jakarta, Yogyakarta, dan Surakarta.  Karya paroki merupakan sebuah pelayanan terhadap umat dengan rentang usia yang sangat beragam, dari anak-anak hingga lansia. Keterlibatan para pastor paroki Jesuit dalam formasi orang muda di paroki terwujud dalam pelayanan dan pendampingan terhadap Orang Muda Katolik (OMK). Satu lagi keterlibatan Jesuit Indonesia dalam formasi orang muda yang perlu direfleksikan adalah pendampingan Jesuit Indonesia kepada kelompok Magis. Magis merupakan kelompok orang muda. Ada yang masih kuliah, tetapi juga cukup banyak yang sudah bekerja. Mereka mencoba memperdalam spiritualitas Ignasian dan mempraktekannya dalam hidup sehari-hari. Saat ini, kelompok Magis berkembang di Jakarta dan Yogyakarta. Mendengarkan Cerita Orang Muda Pater Arturo Sosa, dalam refleksi yang tertuang dalam Berjalan Bersama Ignatius mengatakan bahwa syarat untuk keberhasilan proses pendampingan orang muda adalah jika orang dewasa mau mendengarkan mereka. Sesuai dengan anjuran Pater Jendral, bentuk webinar yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 2021 ini adalah mendengarkan orang muda yang telah didampingi oleh para Jesuit. Ada empat pertanyaan yang mematik refleksi bersama mereka ini.  (a) Bagaimana selama ini orang-orang muda ini bekerja sama dengan para Jesuit? (b) Dari pengalaman bekerja bersama dengan para Jesuit, spiritualitas Ignasian apa yang terpancarkan? (c) Dari spiritualitas Ignasian tersebut, apa yang dipakai dalam hidup? (d) Apa harapan Anda sebagai orang muda terhadap para Jesuit untuk 5-10 tahun ke depan? Dipandu oleh moderator Frater Antonius Septian Marhenanto, S.J., webinar diawali dengan sharing dari tiga orang muda: Stella Vania (OMK paroki Kotabaru), Hendrikus Handoko (Campus Ministry Universitas Sanata Dharma), dan Herman Cahyono (Komunitas Magis). Vania yang sangat aktif di Paroki Kotabaru Yogyakarta sejak misdinar mensharingkan pengalamannya yang selalu mendapat tantangan dari para Jesuit. Henrikus, saat ini menjadi ketua Komunitas Kana di Sanata Dharma, memiliki pengalaman kebebasan (kepercayaan) dalam bekerja bersama dengan para Jesuit. Herman Cahyono, yang mengenyam pendidikan menengah di SMA Loyola dan pendidikan tinggi di Universitas Sanata Dharma, mensharingkan pengalaman ketertarikannya dengan spiritualitas Ignasian yang akhirnya terpenuhi melalui komunitas Magis. Herman menggali inspirasi kepemimpinan Ignasian dan menerapkannya dalam dunia kerja. Apa harapan mereka terhadap para Jesuit? Hendrikus berharap bahwa Jesuit bisa lebih luas dan lebih giat lagi dalam memperkenalkan spiritual Ignatian. Hendrikus baru kenal Jesuit ketika melakukan studi di Yogyakarta. Menurut Vania, keterlibatannya di paroki lebih pada pekerjaan yang terkait dengan liturgi atau kegiatan paroki lainnya. Vania berharap ada kegiatan pendalaman spiritualitas Ignasian bagi para pelayan dan aktivis paroki. Jangan sampai banyak orang bekerja di paroki yang dikelola oleh Jesuit tetapi tidak mengenal spiritualitas Ignasian. Kerinduan agar Jesuit memperluas upaya pengenalan spiritualitas Ignasian ini juga disampaikan oleh beberapa peserta webinar. Webinar ini tidak hanya mendengarkan pengalaman dari narasumber yang diundang. Seluruh peserta dibagi dalam kelompok-kelompok untuk saling berbagi terkait dengan empat pertanyaan pemantik di atas. Sharing kelompok kecil ini dipandu oleh teman-teman dari komunitas Magis. Pengalaman didampingi untuk melakukan pemeriksaan batin, journaling, self awareness, dan cura personalis banyak disharingkan dalam kelompok. Pertemuan ini diakhiri dengan peneguhan oleh Pater Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur, S.J. yang saat ini bertugas sebagai pastor paroki mahasiswa di Yogyakarta. Pater Effendi mengajak orang muda menyediakan diri bersama para Jesuit berjuang bagi Gereja di Indonesia. Selain itu, beliau meminta bantuan kepada orang muda untuk mau memperkenalkan spiritualitas Ignasian kepada orang-orang muda yang lain. Catatan Akhir Fokus webinar ini adalah mendengarkan cerita orang muda. Hal ini sudah berjalan sangat baik. Semua orang muda peserta webinar mendapat kesempatan untuk berbagi. Namun fokus ini menghilangkan aspek informasi yaitu pemaparan keterlibatan Provindo dalam formasi terhadap orang muda. Beberapa peserta menantikan informasi ini ditambah dengan refleksi Provindo terkait hal ini. Semoga ada kesempatan di lain waktu.  Kontributor : Agustinus Eko Budi Santoso, S.J.