Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Gereja

Pelayanan Gereja

Menemukan Tuhan dalam Keheningan

Perjalanan Sahabat Ignatian Bongsari Finding God in all things. Inilah salah satu kutipan dari St. Ignatius Loyola yang senantiasa dijalani oleh para Sahabat Ignatian di Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang. Menemukan Tuhan di dalam segala hal, termasuk dalam keheningan sekalipun.   Dari total 32 peserta, terdapat 16 peserta yang berhasil menjaga komitmen untuk mengikuti dan menyelesaikan program kegiatan Ignatian Remaja 2025. Mereka adalah para remaja dari lingkup paroki Bongsari dan wilayah Panjangan yang berusia 17-21 tahun. Mereka telah menjalani proses belajar dan pendampingan rohani mulai dari bulan Mei sampai Desember 2025.   Selama tujuh bulan tersebut, para Ignatian Remaja atau yang disebut sebagai tim Salmeron, belajar mengenai spiritualitas Ignatian serta mengenal diri sendiri melalui buku The 7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey). Mereka juga diajarkan untuk mendengar suara Tuhan melalui latihan meditasi serta doa hening.   Dalam proses pendampingan, pada awalnya banyak dari tim Salmeron yang merasa kesulitan menjalani doa hening. Beberapa dari mereka kesulitan untuk fokus berdoa akibat suhu ruang yang terasa panas atau adanya suara-suara di sekitar ruang doa. Ada pula yang masih kesulitan untuk menjaga tubuh pada posisi yang sama selama sesi doa, entah karena pegal atau kesemutan.   Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, pendamping tim Salmeron memberikan pesan bahwa hal tersebut memang perlu dirasakan karena pengalaman-pengalaman itu membuktikan bahwa mereka menyadari keadaan mereka pada saat melakukan doa. Doa hening mengajarkan mereka untuk membangun kesadaran akan situasi dan kondisi diri pada saat itu.     Selain belajar meditasi dan doa hening, tim Salmeron juga diajak oleh Pater Agustinus Sarwanto, S.J. untuk melihat dan merenungkan kehidupan pribadi. Topik yang sering diangkat adalah tentang ketakutan. Pater Sarwanto sempat memberikan materi ini dengan membahas tiga ketakutan yang umum dirasakan banyak orang, yaitu fear of missing out (FOMO), fear of people’s opinion, dan you only live once (YOLO).   Kemudian Pater Sarwanto memberikan pertanyaan reflektif pada tim Salmeron, yaitu apa saja ketakutan yang muncul dari dalam dan luar diriku? Dari pertanyaan tersebut, muncul jawaban yang dominan dari para peserta yaitu ketakutan akan masa depan.   Setelah menjalani beberapa pertemuan dan retret pertama di Rumah Retret KSED, para peserta merasakan beberapa perubahan di dalam hidup mereka. Berbagai ketakutan yang pernah mereka rasakan sebelumnya sudah bisa mereka hadapi dengan keberanian. Mereka lebih mudah untuk memasrahkan hasil akhirnya pada Tuhan setelah mengusahakan semuanya dengan maksimal.   Puncak perjalanan adalah Retret Ignatian di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten pada 12-14 Desember 2025. Dalam retret ini, mereka menerapkan segala ilmu yang telah mereka pelajari dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, khususnya mengenai doa hening. Pater Sarwanto meminta tim Salmeron untuk melakukan self-guided retreat dimana mereka menjalani retret pribadi selama tiga hari dalam situasi hening, tanpa komunikasi verbal dengan orang lain selain hal mendesak.     Pasca puncak kegiatan Ignatian Remaja, buah-buah dari segala usaha yang dilakukan para pendamping serta tim Salmeron dapat dirasakan oleh banyak pihak. Mereka terlibat aktif dalam kegiatan menggereja dan Orang Muda Katolik (OMK). Dampak yang baik ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditularkan pada generasi berikutnya agar kehidupan dalam Gereja dapat berkembang dan terus berlangsung.   Kontributor: Anastasia Adristri – Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang

Pelayanan Gereja

Pesta Umat yang Menghidupkan Kembali Sejarah

Amazing Race Gedangan: Halaman Gedung Bintang Laut Gereja Katolik St. Yusuf Gedangan pagi itu berbeda dari biasanya. Umat berbondong-bondong berkumpul dengan aneka atribut unik, mulai pakaian adat hingga kostum menarik lainnya. Mereka bersiap mengikuti Amazing Race, sebuah acara jalan sehat sambil menelisik kembali sejarah Gereja Katolik St. Yusuf Gedangan yang merupakan salah satu rangkaian acara menuju 150 Tahun Pemberkatan Gereja Gedangan pada 12 Desember 2025 lalu.   Pada awalnya, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada September 2025. Meski persiapannya sudah matang dan umat sudah begitu bersemangat, situasi sosial politik ternyata tidak kondusif sehingga panitia memutuskan menunda acara ini. Akhirnya, pada Jumat pagi, 16 Januari 2026, acara ini dapat dilaksanakan. Meski tahun telah berganti, semangat dan gairah untuk bergerak dan belajar bersama melalui Amazing Race tetap sama.   Menjelang dini hari tanggal 16 Januari lalu, umat dan panitia harap-harap cemas. Cuaca sulit diprediksi karena Kota Semarang setiap hari diguyur hujan. Pepatah Gusti Allah mBoten Sare meyakinkan para panitia dan umat bahwa cuaca akan baik selama acara. Benar saja, cuaca selama pelaksanaan Amazing Race sejuk, tidak sepanas biasanya, tetapi juga tidak mendung. Pas untuk berolahraga!     Mengenal Sejarah Pekikan yel-yel dari seratus sembilan puluhan peserta yang terbagi dalam 18 kelompok di depan Gedung Bintang Laut membuka semarak Amazing Race Gedangan. Dari depan Gedung Bintang Laut, setiap kelompok melewati sejumlah rute yang berbeda dengan beberapa pos yang sama, di mana masing-masing pos menawarkan keseruannya sendiri.   Pos “memecahkan kode” yang dibuat dalam bentuk sandi Morse bertujuan untuk mengundang umat memahami bahwa iman menjangkau semua bangsa manusia, termasuk yang memiliki cara dan bahasa komunikasi yang berbeda. Pos “menyusun puzzle” agar utuh membuat peserta menyusun puzzle foto Gereja Gedangan pada tahun 1900-an untuk menyadarkan umat bahwa berdirinya Gereja Gedangan yang megah adalah bagian dari kepingan-kepingan usaha berbagai pihak dan karya Allah sendiri.   Tempat-Tempat Bersejarah Karena Amazing Race adalah sarana umat untuk mengenal lebih dekat histori Gereja Katolik Gedangan, pos yang dituju merupakan tempat bersejarah dan erat kaitannya dengan perkembangan iman dan pembangunan Gereja Katolik Gedangan.   Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang dikenal sebagai Gereja Blenduk, adalah salah satu posnya. Di bangunan gereja yang berdiri kokoh dengan kubah merah dan dinding putih menjulang ini, umat Katolik awal di Semarang merayakan Ekaristi.   Taman Srigunting No. 5-6 ini pernah menjadi gereja sekaligus tempat tinggal para imam, di mana lantai satu menjadi tempat peribadatan dan lantai dua menjadi rumah tinggal. Saat ini, bangunan tersebut menjadi salah satu destinasi wajib karena di sana rutin diadakan pameran karya seni rupa kontemporer dan kini ditempati oleh PT EMKL Marabunta.   Lokasi Gereja Katolik St. Yusuf, Gedangan yang kini berada, diusahakan oleh seorang imam diosesan dari Belanda, Romo J. Lijnen, Pr. Ia membeli lahan yang lebih strategis yang dulunya adalah kebun pisang.   Dua tempat lain yang menjadi pos permainan adalah Teater Oudetrap dan Rumah Akar. Oudetrap Theatre merupakan sebuah ruang untuk seni pertunjukan atau teater, sekaligus salah satu gedung cagar budaya bernuansa bangunan Belanda di kawasan Kota Lama Semarang yang difungsikan sebagai galeri kesenian dan kebudayaan. Kedua bangunan ini, gedung teater dan Rumah Akar, memang tidak memiliki kaitan langsung dengan perkembangan Gereja Gedangan, akan tetapi tempat-tempat ini adalah bagian dari saksi sejarah perkembangan dan pertumbuhan iman Katolik di Gedangan, tempat umat tinggal, dan para misionaris menjalankan karya luhur mereka.     Kembali ke Rumah Setelah lelah menyusuri gedung dan lokasi bersejarah di Kota Lama, semua peserta dan panitia berkumpul di dalam Gereja Gedangan. Ternyata, meski telah lama menjadi umat Gedangan, tidak semua umat mengenal dengan baik sejarah gerejanya. Amazing Race menjadi jalan bagi umat untuk semakin mengenal dan merasakan jejak-jejak perkembangan dan pertumbuhan iman Katolik yang berawal dari kawasan pusat Kota Lama Semarang. Bukankah untuk mengenal dan dekat, umat perlu menelusuri sendiri tempat-tempat bersejarah gereja mereka sendiri?   Pesta Umat Rangkaian Amazing Race dilanjutkan dengan lomba yel-yel antarkelompok. Semua kelompok mencoba menampilkan aneka yel-yel terbaik mereka, lengkap dengan gerakannya. Lingkungan Benedictus Banjarsari dan Marta Mlayu Darat yang lebih dominan diisi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu menampilkan yel-yel unik disertai gerakan atraktif yang begitu menghibur. Hadiah-hadiah yang dibagikan dalam doorprize berasal dari kalangan umat sendiri yang dengan penuh sukacita dan rela hati berbagi. Pengumuman juara Amazing Race menjadi penutup rangkaian keseruan pesta umat ini.     Mimpi yang Jadi Kenyataan Siang itu umat Gedangan pulang dengan penuh kegembiraan. Mimpi untuk jalan sehat sambil belajar sejarah yang sudah dinantikan sejak tahun 2025, kini sudah jadi kenyataan. Ini adalah pesta umat, pesta bersama. Tuhan sudah menyelenggarakan waktu yang tepat. Ini menjadi pegangan bagi semua, bahwa Tuhan selalu punya rancangan yang terbaik bagi umat-Nya.   Akhirnya, melalui Amazing Race, jalan sehat dan napak tilas sejarah Gedangan, semua umat semakin mantap untuk melangkah bersama, memeluk, dan mencintai gereja dan sejarahnya. Sejarah Gereja Katolik Gedangan dan sejarah Kota Lama Semarang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Dari sudut-sudut Kota Lama itulah iman Katolik di Semarang ini bertumbuh dan berkembang hingga sampai pada generasi sekarang ini.   Semoga, lewat momen bersejarah ini, Amazing Race: Napak Tilas Sejarah dan Perkembangan Iman Katolik, setiap pribadi umat Katolik di Gedangan khususnya semakin mantap menjadi penopang iman dan cinta bagi satu sama lain, sebagaimana tiang-tiang gereja yang menopang Gereja Gedangan yang gagah dan megah.     Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Pelayanan Gereja, Penjelajahan dengan Orang Muda

Yang Pernah Jatuh Akan Berdiri Lagi

Perjalanan 30 kilometer yang biasanya ditempuh dalam satu jam, berubah menjadi petualangan empat jam penuh perjuangan. Sebanyak 50 Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah utara Keuskupan Ketapang harus berjibaku melintasi jalan berlumpur licin untuk mencapai Paroki St. Maria Botong di pedalaman Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi sebuah ziarah iman yang konkret untuk menyambut Hari Orang Muda Katolik Sedunia.   Perjuangan dalam Empat Jam Perjalanan Ketika melihat jadwal keberangkatan para OMK Regio Utara Keuskupan Ketapang dari Balai Berkuak menuju Gereja St. Maria Paroki Botong, Kualan Hulu pada 22 November 2025, pandangan mata saya langsung berpindah melihat gumpalan awan menghitam di siang menjelang sore hari. Benar saja, hujan deras mengubah jalan tanah menjadi medan licin seperti dilumuri minyak.   Dengan mengendarai sepeda motor, 50 OMK beserta para pendamping: Pater Alle, Pr (Moderator OMK Regio Utara), Sr. Regina, RGS, Fr. Sandro, Pr, dan Fr. Donatus, Pr, berangkat menempuh perjalanan. Jalan yang dilalui bukanlah jalan biasa, namun medan berlumpur, licin, dan terjal sangat menguji kesabaran sekaligus keberanian mereka. Perjalanan selama kurang lebih empat jam menjadi pengalaman yang menguras tenaga, namun justru memperlihatkan semangat pantang menyerah dan solidaritas yang kuat di antara mereka.     Di sela-sela perjalanan, mereka tetap menemukan ruang untuk berbagi sukacita. Beberapa dari mereka merekam vlog sederhana, menangkap kesan spontan yang lahir dari pengalaman di lapangan. “Sangat seru guys!” ungkap Okra, OMK Paroki Balai Semandang dengan antusias.   “Jatuh guys, jalannya ekstrem sekali. Salah satu penumpangnya yang jatuh. Gimana? Histeris?” Lalu, jawab salah satu OMK Paroki St. Maria Botong yang hendak pulang dari Balai Berkuak ke Botong, yang sempat jatuh, “Ya‚ biasa saja‚ (jalanan) tidak sebagus di hilir‚ jadi, ya, jangan berekspektasi lebih.” Balas vlogger tersebut, “Mantap. Memang mental pejuang!”   Ketika harus melewati kubangan lumpur yang dalam, mereka saling mengingatkan untuk tetap waspada dan tenang. Dalam situasi-situasi sulit, kerja sama dan kepedulian satu sama lain menjadi kunci. Ada yang hampir terjatuh, ada motor yang sempat terperosok, namun selalu ada tangan yang sigap membantu. Pengalaman ini tidak hanya menjadi kisah perjalanan fisik, tetapi juga pembelajaran nyata tentang kebersamaan, kepercayaan, dan semangat melayani.   Sukacita di Tempat Tujuan Minggu, 23 November 2025, adalah hari istimewa yang memuat dua hal yang patut disyukuri sebagai komunitas Gereja Katolik, yaitu Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam sekaligus Hari Orang Muda Katolik Sedunia. Sementara di banyak tempat perayaan mungkin berlangsung meriah, Paroki Botong merayakannya dengan cara berbeda tetapi tak kalah mendalam, untuk sungguh-sungguh mengenang Yesus sebagai Raja yang berjuang, berjerih payah, dan rela berkorban.     Keselamatan fisik seluruh rombongan hingga tiba di tujuan adalah rahmat pertama yang nyata. Sukacita lain terpancar dari komunitas Paroki St. Maria Botong. Dikunjungi oleh orang-orang muda Katolik dari beragam paroki di daerah hilir menjadi rahmat konsolasi bahwa orang-orang yang berada di daerah hulu tetap menjadi satu tubuh persaudaraan di dalam Tuhan. Sayur pakis, sayur rebung bambu, sayur concong (keong sungai), sayur nangka atau gori, dan ikan sungai Kualan Hulu menjadi pelengkap khas, sederhana, namun tetap menghangatkan perjamuan dan perjumpaan para orang muda Katolik.   Belajar dari Perjuangan Empat Jam Perjalanan Cuaca malam yang sejuk selepas hujan menyelimuti perjumpaan OMK Regio Utara di Dangau St. Yusuf, Botong. Di tengah perbukitan Kalimantan Barat, para OMK saling berkenalan, berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman peziarahan mereka menyusuri jalanan pedalaman yang penuh tantangan. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, perjumpaan ini menjadi ruang pembelajaran iman untuk menyadari kehadiran Tuhan yang setia menyertai umat-Nya, bahkan di jalan-jalan yang licin, berlumpur, dan jauh dari kenyamanan.     Ronald, Ketua OMK Regio Utara, menegaskan bahwa kondisi jalanan pedalaman menuju Paroki Botong yang berlumpur dan sulit dilalui merupakan realitas harian umat setempat. Bagi mereka yang tinggal di wilayah hilir dengan akses jalan yang lebih baik, pengalaman ini menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap empati dan belajar untuk refleksi diri. “Jalanan pedalaman ini menjadi guru kehidupan kita sebagai komunitas Orang Muda Katolik,” ungkapnya. Melalui kebersamaan dan semangat saling menolong, para OMK belajar bahwa setiap tantangan dapat dilalui ketika mereka saling tolong menolong sebagai sebuah komunitas yang peduli dan berpengharapan.   Dari Katekese hingga Aksi Nyata Dengan sederhana dan mengena, Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. atau akrab disapa Pater Wawan, Pastor Kepala Paroki Botong, membagikan renungan mendalam dalam perayaan Ekaristi hari itu. Ia menguraikan makna memberi kesaksian iman dalam kehidupan melalui lima bentuk kesaksian yang dapat diwujudkan setiap orang beriman: Kesaksian Hidup (Martyria per Vitam) Kesaksian Pewartaan Injil (Kerygma) Kesaksian Kasih-Sosial (Diakonia) Kesaksian Persekutuan (Koinonia) Kesaksian Pengorbanan (Martyria per Sanguinem)     Katekese ini langsung diwujudkan dalam aksi nyata Kesaksian Pelayanan Kasih (diakonia). Usai misa, dengan semangat gotong royong, para OMK terjun ke jalanan berlumpur. Berbekal karung dan ember, mereka mengumpulkan batu-batu sungai, memikulnya, dan menimbunnya di titik-titik yang paling licin. Batu-batu itu, meski kecil, menjadi “batu penjuru” yang memperkuat landasan jalan bagi warga sekitar.     Setiap Peran Bermakna dalam Perjalanan Bersama Perjalanan melewati jalanan berlumpur liat menuju Paroki St. Maria Botong yang licin seperti berminyak karena hujan mengajarkan tentang “Je dia tau mananjung, manunggu huma (yang tidak dapat berjalan, menunggu rumah).”     Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap orang dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan perannya. Ada yang mendorong motor di jalan berlumpur, ada yang memasak untuk keluarga, ada yang mengumpulkan batu, dan ada pula yang memikulnya demi perbaikan jalan. Kontribusi setiap orang, sekecil apa pun itu, tetaplah bernilai. Peran yang berbeda-beda itu kemudian dipersatukan oleh semangat yang sama, yaitu bekerja untuk kebaikan bersama.   Refleksi ini juga mengingatkan bahwa setiap orang menjalani panggilan dan tantangan hidup masing-masing. Di tengah perbedaan tersebut, kita diajak untuk tidak menyerah. Layaknya Yesus sang Raja yang memilih jalan kerendahan hati dan pengorbanan, kita diajak untuk terus berjalan bersama, membangun harapan, dan menghadirkan dampak nyata bagi sesama dan masyarakat luas.   Kontributor: F. Nicolaus David Kristianto, S.J.

Pelayanan Gereja

HUT ke-150 Tahun pemberkatan Gedung Gereja St. Yusup, Gedangan

Dari Blenduk ke Gedangan: Pada Jumat, 12 Desember 2025, Gereja Katolik St. Yusup Gedangan merayakan sebuah puncak sejarah: 150 tahun pemberkatan gedung gereja bergaya neogotik yang megah. Perayaan yang dihadiri oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan sejumlah imam dan biarawan-biarawati, bukan sekadar pesta ulang tahun bangunan. Ini adalah perayaan syukur atas perjalanan iman yang telah mengalirkan kehidupan, pengharapan, dan pendidikan bagi banyak generasi.   Embrio Iman dan Pendidikan di Tanah Jawa Sebelum gedung kokoh berdiri, umat Katolik Gedangan telah berkumpul sejak 217 tahun lalu, merayakan Ekaristi di Gereja Blenduk yang merupakan gereja Protestan Gereformeerd. Perjalanan dimulai dari rumah sederhana yang dibeli Pater Lambertus Prinsen, Pr (kini menjadi Semarang Art Gallery), yang kemudian dilanjutkan dengan pembelian sebidang kebun pisang untuk lokasi gereja saat ini oleh Pater J. Lijnen (yang kelak menjadi Monsinyur). Pembangunan Gereja St. Yusup Gedangan yang dimulai pada 1 Oktober 1870, kemudian diresmikan pada 12 Desember 1875.     Di bawah asuhan Serikat Jesus sejak 1877, Gedangan bertransformasi menjadi “lokakarya iman dan budaya”. Tempat ini menjadi sekolah bagi misionaris Eropa untuk mendalami budaya dan bahasa Jawa sebelum melanjutkan karya. Dari ruang diskusi dan persiapan di Gedangan inilah, mimpi besar tentang pusat pendidikan dan iman di Muntilan yang dicita-citakan oleh Pater van Lith, S.J. dan Pater Hoevenaars, S.J. dimatangkan. Lebih dari itu, Gedangan menjadi titik tolak misi ke berbagai penjuru Nusantara seperti Flores, Maluku, dan Papua. Gereja Gedangan layaknya embrio yang melahirkan tidak hanya paroki, tetapi juga sistem pendidikan Katolik dan pewartaan yang kontekstual di Jawa.   Merayakan Akar, Menghidupi Masa Kini Perayaan 150 tahun ini disiapkan dengan serangkaian kegiatan selama setahun, mulai dari jelajah sejarah, rekoleksi, hingga kegiatan sosial, yang melibatkan seluruh unsur umat, mulai dari anak-anak hingga lansia. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan, mulai dari Launching Rangkaian Acara, Sayembara Desain Logo dan Merchandise HUT, Buka Puasa Pasar Tiban, Talkshow Pasar Tiban, Minggu Panggilan dan Café Gedangan, Jelajah Gereja St. Yusup Gedangan, Misa Novena, Rekoleksi Ignatian, Audisi Gedangan’s Got Talent, Donor Darah, Ziarah Gua Maria Blitar, Mini Talk Show Sejarah Gereja Gedangan, Perayaan Puncak, dan Amazing Race sebagai penutup pada 16 Januari 2026 nanti.   Dalam perayaan Ekaristi puncak, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. mengingatkan bahwa gereja ini berdiri karena kesetiaan Allah dan ketaatan, serta cinta para perintis dan umat yang bahu-membahu. Mereka adalah “rekan kerja Allah” yang menjadikan bangunan ini hidup.   Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Jesuit Indonesia, menegaskan bahwa perayaan ini adalah pesta iman leluhur. Di Gedanganlah, pada 1896, Pater Hebrans dengan haru menyaksikan pembaptisan anak-anak pribumi Jawa, layaknya sebuah momen kemenangan kasih yang inklusif. Dari Gedangan, iman kemudian menyebar ke Ambarawa, Solo, dan daerah lainnya di Jawa Tengah.   Panggilan untuk Terus Mengalirkan Kasih Kini, dengan 3.387 umat yang tersebar di 11 wilayah, Gereja Gedangan menghadapi zaman baru. Tema perayaan, “Gereja St. Yusup Gedangan Berziarah Mengarungi Zaman dalam Pengharapan”, adalah kompas untuk masa depan. Gereja Gedangan dipanggil untuk terus berbenah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi teladan konkret yang membawa sukacita Injil.   Sebagaimana St. Yusup, sang pelindung, yang kuat dalam keheningan, taat, dan bekerja untuk kebaikan banyak orang, Gereja Gedangan diingatkan untuk tetap menjadi oase pengharapan di tengah teriknya tantangan zaman. Gereja Gedangan adalah saksi bahwa dari sebuah sebidang tanah berisi kebun pisang, kasih Allah dapat bertumbuh, mengalir, dan menghidupi banyak orang.     Perayaan 150 tahun ini adalah pengingat bagi kita semua tentang kekuatan akar sejarah, ketekunan dalam pendidikan, dan panggilan bersama untuk terus menjadi saluran kasih yang relevan bagi dunia masa kini. Dari Gedangan, kita belajar bahwa warisan terbesar adalah iman yang hidup, yang berziarah, dan yang berbuah bagi sesama.   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Pelayanan Gereja

Menuju Satu Abad Penuh Sukacita

HUT Gereja KotaBaru Ke-99: Berbeda dengan misa harian pada umumnya, umat Gereja Kotabaru tampak memenuhi gedung gereja bersiap merayakan ulang tahun Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru ke-99 pada Jumat, 26 September 2025. Diawali dengan misa secara konselebran oleh Pater Andrianus Maradiyo, Pr, Pater Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho, S.J., Pater Yohanes Agus Setiyono, S.J., Pater Floribertus Hasto Rosariyanto, S.J., Pater Vincentius Doni Erlangga, S.J., dan Pater Cyprianus Kuntoro Adi, S.J.   Perayaan Ekaristi dibuka dengan iringan lagu pembuka dan tarian. Pater Maradiyo dalam homilinya mengajak umat mengenang kembali perjalanan Gereja Kotabaru hingga menjadi gereja inklusif yang umum dikenal saat ini.   Sebelum berkat penutup, pemberkatan Taman Doa Maria Concordia dilakukan. Taman Doa diberkati oleh Pater Maradiyo didampingi para imam lainnya. Acara berlanjut dengan launching logo dan maskot HUT ke-100 Gereja Kotabaru. Pater Agus, Pater Fajar dan Pater Kuntoro bersama-sama menggunting pita, membuat kain yang menutupi logo dan maskot langsung terbuka. Logo dan maskot yang ada pun juga diberkati oleh Pater Maradiyo.     Seusai perayaan Ekaristi, para umat berpindah di halaman gereja untuk melanjutkan acara dengan pesta umat yang dibuka dengan pemotongan tumpeng nasi kuning. Pater Maradiyo memotong tumpeng dan memberikan secara simbolis kepada Pater Fajar dan Pater Agus. Dalam pesta umat ini turut diadakan penyerahan hadiah bagi para pemenang sayembara serta peluncuran jingle HUT ke-100 Gereja Kotabaru yang dimeriahkan dengan flashmob dari kakak-kakak PIA.   Suasana hangat dan penuh sukacita mencerminkan harmonisasi umat Kotabaru. Momen ini menjadi pembuka kesiapan Kotabaru menyongsong usia ke-100. Setelah melewati berbagai sejarah dan proses, sejalan dengan prinsip Gereja yang terbuka, semoga Gereja Kotabaru senantiasa menjadi rumah bagi siapa pun yang membutuhkan tempat untuk pulang.   Selamat ulang tahun bagi Gereja Kotabaru!     Kontributor: Emanuella Gracia & Jessica Juliani – Kotabaru Digital Service

Pelayanan Gereja

Dalam Mendampingi Kita Didampingi

Halo, kami adalah Anak-Anak Bunda Maria. Kelompok ini awalnya dibentuk pada tahun 2012 sebagai wadah belajar Kitab Suci bagi anak-anak, namun karena berkat Tuhan, kami berkembang menjadi kelompok pelayanan belajar Kitab Suci, koor, dan persiapan sakramen bagi anak dan remaja. Kelompok ini berada di bawah reksa Paroki Blok B, Jakarta yang terbuka bagi semua anak, termasuk anak-anak dari luar negeri yang sebagian besar bukan berasal dari negara berbahasa Inggris dan juga siswa-siswi dari sekolah internasional.   Perjalanan kami menjelajahi spiritualitas Ignasian dimulai saat Pastor Paroki Blok B, Pater Aluisius Pramudya Daniswara, S.J. atau akrab disapa Pater Pram, (dengan bahasanya) memaksa kami mencoba melakukan Percakapan Rohani dalam retret tahunan kami. Saat itu kami mengira itu hanya program biasa seperti yang lainnya. Tak disangka, justru menjadi benih transformasi bagi kami para katekis dan anak-anak yang kami dampingi.   Sebagai katekis, kami berusaha mengadakan retret sehari sekali setahun. Momen itu menjadi waktu bagi kami untuk mengisi ulang energi, berhenti sejenak dari rencana pembelajaran dan prakarya, serta merasakan kesatuan dalam kelompok. Biasanya, suasananya hening dan berpusat pada mendengarkan refleksi pater.   Namun kali ini, pater mengajak kami melakukan aktivitas berbeda, yaitu Percakapan Rohani—di mana kami mendengarkan dengan seksama, berbagi cerita secara bebas dan nyaman, serta membiarkan Roh membimbing apa yang akan terjadi di tengah kami. Awalnya terasa aneh, tetapi nyatanya berhasil. Kami merasa tidak hanya disegarkan, tetapi juga lebih terhubung satu sama lain. Kami berbagi harapan dan usaha-usaha kami, bukan sekadar sebagai sesama rekan katekis, melainkan sebagai sahabat dalam perutusan bersama. Sejak itu, kami sering mempraktikkannya berkali-kali. Dalam formasi 12 minggu bagi para katekis baru yang terakhir ini dilakukan, kami mengakhirinya dengan percakapan Rohani, di mana setiap peserta berbagi hal-hal yang mengejutkan mereka, ketakutan-ketakutan, serta harapan dalam karya pelayanan mereka. Tak salah lagi, buah dari kegiatan ini adalah rasa persaudaraan dan perjumpaan satu sama lain dalam suasana otentik tanpa dibatasi peran, jabatan, maupun tugas. Kami mulai melihat diri kami bukan lagi sekadar sesama katekis, melainkan sahabat dalam perjalanan bersama.   Tentu saja, setelah bercerita kepada Pater Pram tentang buah-buah rohani yang kami alami, ia “memaksa” kami lagi, untuk melakukan Examen. Sebagai awam yang melayani di paroki Jesuit, kami mengira sudah memahami Examen. Selama bertahun-tahun, kami telah mengajarkan anak-anak untuk berdoa dalam tiga langkah sederhana, yaitu pertama bersyukur kepada Tuhan, kedua memohon pengampunan, dan terakhir mengungkapkan harapan/permohonan. Kami berpikir, “Sudah! Kami mengerti ini!” Namun, ia mengingatkan bahwa doa lebih dari sekadar kata-kata, itu adalah pengangkatan hati dan jiwa kepada Tuhan. Dengan lembut namun tegas ia meminta kami tidak hanya mempraktikkan Examen sendiri, setiap hari dan secara tertulis, tetapi juga membawanya ke dalam sesi dengan anak-anak. “Melalui ini,” ia bersikeras, “kita dan anak-anak akan mengenal diri kita lebih dalam.”   Jujur saja, kami sempat menunda-nunda. Di tengah rencana pembelajaran, pekerjaan, dan persiapan sakramen yang harus ditangani, latihan ini terasa seperti satu beban tambahan. Namun, dalam semangat Jesuit yang sejati, kami tetap menjalankannya. Kami mulai dengan para calon Krisma, meminta mereka melakukan doa Examen setiap malam dan menuliskannya. Awalnya kami tidak banyak berkomentar, hanya memastikan mereka melakukannya. Setelah tiga minggu, kami menjadwalkan percakapan rohani satu per satu dengan setiap calon. Kami tidak tahu apa yang akan muncul. Tidak terbayangkan, apa yang terjadi justru mengejutkan kami. Saya tidak akan pernah lupa seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun yang dengan setia menulis Examen setiap malam. Buku catatannya penuh refleksi. Saya membacanya seperti seorang detektif, lalu bertanya: “Apa pola yang kamu lihat? Apa yang paling sering kamu syukuri, yang kamu mohonkan pengampunan, dan apa yang menjadi permohonanmu?” Ia membalik halaman-halaman bukunya, lalu menatap saya dengan suara pelan, “Saya cenderung sering mengumpat.” Ia menunjuk beberapa catatan yang menuliskannya. Saya bertanya dengan lembut, “Mengapa kamu melakukan itu? Apakah mengumpat betul cara terbaik untuk mengekspresikan diri?” Ia berpikir cukup lama sebelum menjawab, “Karena itu yang dilakukan teman-temanku. Rasanya biasa saja, meskipun dalam hati saya tahu itu salah.” Kami diam. Lalu aku bertanya, “Jika kamu bisa memberi nasihat pada dirimu sendiri, apa yang akan kamu katakan?” Dia berhenti sejenak, lebih lama kali ini, dan akhirnya berkata dengan kata-kata yang menusuk hati, “Jangan lakukan apa yang menurut kita biasa!”   Pada saat itu, Roh Kudus menyentuh hatinya: sederhana namun jelas dan kuat. Melalui Examen, anak muda ini tidak hanya menemukan kelemahan pribadinya, tetapi juga keberanian untuk menolak kepatuhan buta. Itu adalah pengenalan akan kehendak Tuhan yang nyata, lahir bukan dari ceramah, melainkan dari doanya sendiri. Aku begitu terharu hingga hampir menangis.   Percakapan lainnya sama mengharukannya. Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun mengaku merasa terjebak dalam rutinitas, kosong, dan jauh dari Tuhan. Seorang gadis remaja berbagi bagaimana Examen membantunya menyadari dan bersyukur atas berkat-berkat kecil dan biasa yang ia terima setiap hari. Seorang lagi berbicara jujur tentang frustrasi akibat tekanan tak berujung untuk berprestasi di sekolah. Dan seorang gadis berani, dengan air mata di matanya, mengajukan pertanyaan yang membebani hatinya, “Apakah nenekku yang sudah meninggal diselamatkan?” Ada senyuman, tawa, dan ya, air mata. Kami belum pernah melihat kejujuran seperti itu dalam program-program sebelumnya.   Kami tidak siap menghadapi emosi yang muncul, tetapi itu adalah jenis kelebihan yang kudus. Setelah 13 tahun melayani MMK, kami semakin memahami bahwa menjadi seorang katekis tidak berarti melulu mengajarkan doktrin tetapi juga mendampingi sebagai teman dan rekan seperjalanan. Itulah anugerah sejati dari percakapan rohani dan Examen.   Pada malam itu juga, kami menelepon Pater Pram untuk berbagi kegembiraan dan kekaguman kami. Kami bukanlah ahli spiritualitas Ignatian, melainkan sekadar saksi dari buah-buahnya. Dan jika Anda adalah seorang katekis yang membaca ini, kami ingin mendorong Anda untuk membiarkan diri “dipaksa” juga melakukan Percakapan Rohani dan Examen, bahkan ketika terasa canggung dan seolah seperti melakukan pekerjaan tambahan. Sebab justru di saat-saat seperti itu Roh bekerja. Kadang, kebijaksanaan terdalam muncul begitu saja dari mulut seorang anak laki-laki berusia 13 tahun:   “Jangan lakukan apa yang tampak biasa dan normal!”     Kontributor: Joanne – Katekis Mother Mary’s Kids (MMK) 

Pelayanan Gereja

Gedangan dalam Langkah dan Cerita

Amazing Race: Salam hangat, saya Lusia dari OMK Gedangan. Mungkin Anda masih ingat, di edisi sebelumnya saya menulis tentang Gereja Gedangan. Kali ini, saya kembali tetapi dengan cerita berbeda meski masih dari tempat yang sama. Semoga pembaca belum lupa dengan cerita saya sebagai pemandu Jelajah Gedangan pada Internos Agustus lalu.   Masih seputar Perayaan 150 Tahun Gedung Gereja Gedangan, bulan lalu saya dan beberapa teman, beberapa dewan paroki, Pater Cahyo Christanto dan Pater Mathando (Dodo), sedang mempersiapkan acara jalan sehat sambil menelusuri kembali sejarah gereja kami tercinta. Jalan sehat dipilih bukan hanya untuk menyehatkan tubuh, tapi juga untuk mengenang perjalanan iman. Acara ini diberi nama “Amazing Race.” Kegiatan kali ini menggabungkan olahraga, pengenalan sejarah Gedangan, dan persaudaraan antarumat. Kali ini saya terlibat dalam sie acara, membantu membuat soal untuk tiap pos perhentian dan juga membuat buku panduan yang nantinya digunakan umat untuk mengerjakan tantangan di tiap pos perhentian.   Umat diajak berjalan melalui rute berbeda dan nantinya di setiap rute ada beberapa pos perhentian yang berisi permainan yang berkaitan dengan sejarah Gereja Gedangan. Dengan cara ini, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi sungguh dialami dan dirasakan oleh setiap orang yang terlibat, entah sebagai panitia atau peserta.   Setiap pos menghadirkan pengalaman berbeda. Ada pos “Pecahkan Kodenya!” Di pos ini, disediakan soal-soal yang ditulis dalam bentuk sandi Morse, yang sekilas mungkin mengingatkan kita pada kegiatan Pramuka. Namun sebenarnya, pos ini bertujuan mengajak peserta merenungkan cara berkomunikasi, sekaligus menyadari bahwa iman dapat diteruskan dalam berbagai bahasa. Ada pos “Tentukan Kebenarannya!”, di mana peserta diajak untuk lebih teliti dalam memahami dan mengingat sejarah serta iman. Lalu, ada pos “Isi Teka-Tekinya!”, di mana peserta diminta mengisi TTS dengan tujuan mengenal kembali perjalanan sejarah secara menyenangkan, sekaligus merasa tertantang untuk menyelesaikannya.   Tak kalah menarik, ada pos “Susun Agar Utuh!” Di pos ini, peserta diminta menyusun puzzle yang menampilkan foto Gereja Gedangan dari tahun 1900-an. Melalui potongan-potongan kecil itu, peserta diajak merenungkan bahwa sejarah Gereja dan umat bagaikan kepingan yang, bila disatukan, membentuk gambaran indah karya Allah. Terakhir, ada pos “Siapakah Saya?”, di mana peserta harus menebak sosok dari potongan gambar yang tersedia. Permainan sederhana ini menjadi kesempatan untuk mengenang kembali tokoh-tokoh yang pernah berkarya di Gedangan, sekaligus melatih ketelitian dan menghidupkan ingatan akan sejarah komunitas.   Semuanya sudah siap, rancangan acara sudah beres, hadiah sudah tersedia, semua panitia yang terlibat sudah tahu tugasnya masing-masing. Technical Meeting pun tinggal menghitung hari. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, acara ini dapat tersusun dan siap untuk dilaksanakan. Umat juga nampak antusias, sudah membuat yel-yel untuk tiap tim, dan menyiapkan pakaian terbaik. Bayangan suasana akan hari itu sudah ada di kepala, yaitu peserta jalan beramai-ramai, pos perhentian yang penuh dengan tawa, beberapa panitia yang sibuk lari kesana-kemari memastikan semuanya berjalan lancar. Sungguh, momen itu bukan sekadar acara jalan sehat namun juga wujud kebersamaan umat Gedangan.   Namun, rencana indah ini harus tertahan sejenak. Pada akhir Agustus hingga awal September 2025, suasana Indonesia tengah memanas. Aksi demonstrasi besar pertama kali muncul di Jakarta, lalu gaungnya terasa ke banyak kota, termasuk Semarang. Massa memenuhi jalan, beberapa titik kota jadi ruang menyuarakan tuntutan. Tidak sedikit juga rencana publik yang terdampak. Kawasan Kota Lama pun jadi salah satunya.   Bulan September ini sebenarnya dipenuhi dengan berbagai acara budaya yang menarik. Namun, demi keamanan bersama, beberapa di antaranya harus ditunda—bahkan ada yang dibatalkan. Keadaan ini juga dirasakan di Gedangan, di mana kegiatan Amazing Race terpaksa harus ditunda. Tentu saja banyak umat merasa kecewa; tak sedikit yang kesal karena sudah mempersiapkan diri—ini dan itu—untuk mengikuti kegiatan tersebut. Namun menjelang hari-H, yang datang justru kabar penundaan acara. Jika saya berada di posisi mereka, saya pun mungkin akan kecewa dan kesal.   Tapi bagaimanapun juga, keselamatan bersama lebih utama daripada semarak acara yang, dalam situasi seperti ini, memang sebaiknya ditunda. Meski harus ditunda, makna rohaninya tetap utuh.   Sebagai panitia, saya juga merasa sedikit kecewa dengan penundaan ini. Namun di saat yang sama saya juga merasa tenang. Sejujurnya, saya sempat khawatir, jika kondisi belum aman, bisa saja hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Saya rasa itu lebih buruk daripada penundaan Amazing Race sendiri. Setidaknya, acara yang telah dipersiapkan ini masih bisa dilaksanakan di waktu mendatang.   Jalan sehat ini tetap menjadi simbol perjalanan iman bersama. Sejarah Gereja Gedangan tidak hanya ada di buku, tetapi hidup dalam langkah umat yang terus berjalan. Meski kadang perjalanan tertahan oleh situasi zaman, namun penundaan ini bukanlah akhir melainkan jeda untuk menyiapkan hati. Kegiatan ini kelak akan tetap mengajak umat lebih mengenal sejarah, lebih mencintai Gereja, dan lebih bersatu. Mengutip semangat Ignatian, kita dapat menemukan Allah dalam segala hal, termasuk dalam rencana yang belum sempat terlaksana.   Kontributor: Lusia Pamungkas – Gedangan Muda

Pelayanan Gereja

Catatan Seorang Pemandu

Cerita di Balik Tembok Gedangan: Hai, namaku Lusia tapi biasa dipanggil Aisul dan aku adalah satu dari banyak OMK di Gedangan. Aku suka jalan-jalan, sejarah, dan yang paling favorit adalah jalan sambil mendengarkan cerita sejarah. Kali ini gantian aku yang mau cerita tentang Gereja Gedangan, gereja Katolik paling tua di Semarang. Di OMK Gedangan, kami punya satu wadah seru untuk kenalan—dan pastinya makin sayang—dengan gereja kami sendiri lho! Namanya Jelajah Gedangan. Tujuan awalnya sederhana, yaitu mengenalkan kembali Gereja Santo Yusup Gedangan ke siapa pun yang penasaran, terutama dari sisi sejarah dan kekayaan warisan imannya. Dan karena ini adalah kegiatan OMK, tour guide-nya juga dari kami-kami sendiri, OMK Gedangan. Kami sering berkumpul, ngobrol, dan cari tahu cerita-cerita lama tentang gereja ini. Lalu, semua yang kami temukan itu kami bagikan ke siapa saja yang tertarik untuk menelusuri jejak masa lalu di balik tembok tua Gedangan.   Akhir 2019 sampai awal 2020 adalah waktu kami memulai penjelajahan di Gereja Gedangan. Masih hangat di pikiran kita bukan? Kala itu awal mula adanya Covid-19? Memang agak melanggar aturan pemerintah yang seharusnya duduk diam di rumah yang saat itu masih ramai dengan hastag #mendingdirumahaja, tapi kami malah berkumpul untuk mengajak banyak orang jalan-jalan virtual. Bermodalkan sejarah yang kami baca dan kami cari tahu lebih lanjut sumbernya dan didukung kemajuan teknologi yang juga mumpuni, kami mulai dengan Jelajah Gedangan Virtual. Kami tidak hanya mengajak teman-teman dari Gedangan, tetapi juga semua orang yang ingin tahu tentang Gedangan. Mungkin, Anda yang sedang membaca tulisan ini juga jadi salah satunya? Dari yang awalnya hanya bercerita tentang sejarah Gedangan, tokoh yang pernah tinggal di Gedangan, dan ornamen yg biasa kita lihat kalau sedang misa, sekarang jadi makin banyak tema yang bisa kami ceritakan ke banyak orang.    Di 2025 ini, Gereja Gedangan merayakan 150 tahun pemberkatan gedung gereja dan sepanjang tahun ini ada banyak rangkaian acara untuk memeriahkannya, salah satunya adalah Mini Talk Show Jelajah Gedangan yang sudah terlaksana bulan Juni lalu dengan mengusung tema Di Balik Tembok Gedangan sebuah momen langka untuk para peserta Jelajah yang biasanya diajak berjalan sambil mendengarkan cerita dan berkeliling Gedangan, kala itu mereka cukup duduk manis sambil mendengarkan beberapa narasumber yang punya cerita dan pengalaman seru mengenai Gereja Gedangan.    Ada tiga narasumber saat itu, yaitu pertama Pater Vincentius Suryatma Suryawiyata, S.J. atau yang akrab dipanggil Pater Surya. Obrolan saat itu cukup menarik, informatif, dan penuh nuansa nostalgia yang membuat peserta bisa turut ‘menyusuri waktu’ bersama Pater Surya lewat tokoh dan sosok yang membentuk wajah Gereja Gedangan. Dari Pater Surya kami diajak menyadari bahwa Gedangan tidak hanya bangunan tua yang indah, namun juga menjadi tempat lahirnya semangat misi yang besar dan tempat di mana banyak kisah bermula, bahkan jejaknya masih sangat bisa dirasakan sampai sekarang.   Selain Pater Surya yang mengajak bernostalgia, ada juga Pater Ignatius Windar Santoso, S.J. yang juga berbagi cerita. Kali ini dengan latar belakang sebagai archivist Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Windar menunjukkan salah satu dokumentasi catatan baptisan di zaman dulu yang masih tersimpan rapi. Melalui dokumen baptisan, kami jadi tahu bahwa Semarang adalah salah satu tempat penting dalam perkembangan Katolik di masa Hindia Belanda. Gedangan memiliki cukup banyak peran sebagai gerbang awal misi katolik di Jawa, maka dari itu arsip-arsip ini bisa jadi semacam ‘harta karun’ sejarah yang sangat berharga.      Masih tentang arsip baptisan, ada satu lagi narasumber yang membawakan cerita ‘mengejutkan’ dengan fun fact-nya! Namanya Mas Yogi, seorang pengamat sejarah sekaligus founder dari Bersukaria Walk Tour (Bersukaria Walk Tour bisa dicari di instagram. Anda pasti jadi ingin ikut semua rute Walking Tour-nya). Mas Yogi berbagi cerita seru tentang arsip Gereja Gedangan. Beberapa waktu lalu Mas Yogi membawa rombongan orang Belanda yang sedang mencari tahu sejarah leluhur mereka. Menurut cerita yang mereka dengar, para leluhurnya dibaptis di Gedangan. Yang mengejutkan adalah setelah ditelusuri dan ketemu, ternyata salah satu leluhurnya adalah artis terkenal di masa itu! Selain itu orang-orang Belanda ini juga membawa beberapa foto untuk membandingkan gereja dulu dan sekarang. Semacam ingin tahu before-after.   Dari cerita Pater Surya, Pater Windar, dan Mas Yogi, aku jadi makin tahu, betapa pentingnya keberadaan para Pater pendahulu dan arsip yang berupa catatan baptisan bagi gereja. Tidak hanya jadi bukti adanya sejarah tapi juga bisa menjadi jembatan penghubung lintas generasi. Tidak pernah terbayangkan, kalau catatan puluhan bahkan ratusan tahun lalu itu bisa membantu seseorang menemukan keluarganya dan menyambung cerita hidup mereka. Ternyata, banyak hal yang patut untuk disyukuri dari Mini Talk Show Jelajah Gedangan ini. Setiap pembicara punya warna dan cerita yg unik. Pater Surya yang penuh nostalgia dengan mengingat kembali tokoh-tokoh yang pernah tinggal di Gedangan, Pater Windar yang menunjukkan betapa pentingnya arsip dan catatan baptisan, dan juga Mas Yogi yang menunjukkan secara nyata terhubungnya masa lalu dan masa sekarang melalui peninggalan sejarah berupa catatan baptisan.   Untukku sendiri, aku bersyukur bisa jadi bagian dari tour guide di Jelajah Gedangan dan juga jadi bagian dalam rangkaian perayaan 150 tahun ini. Bukan hanya berbagi dan belajar bersama mengenai sejarah, tetapi tentang memunculkan kembali kisah-kisah yang mungkin nyaris terlupakan. Dan pastinya membagikan pada Anda dan banyak orang adalah salah satu usaha kecil yang bisa aku lakukan untuk merawat Gedangan agar tidak hanya menjadi bagian masa lalu tapi juga menjadi bagian yang tetap terasa dekat juga hidup di segala zaman.    Kabar baiknya OMK Gedangan masih akan mengadakan Jelajah Gedangan dan di bulan November nanti akan ada Mini Talk Show Jelajah Gedangan yang kedua. Pastinya akan ada banyak cerita baru, perspektif yang menarik nan seru, dan mungkin mendapat fun fact sejarah lain yang belum pernah kita dengar sebelumnya! Tetap stay tune dan jangan lupa follow instagram @gerejagedangan dan @gedanganmuda. Sampai Jumpa di Gereja Gedangan!    Kontributor: Lusia Pamungkas – Gedangan Muda