HIDUP kita ini PERUTUSAN

HIDUP kita ini PERUTUSAN

Sejak masa persiapan hingga tahap merefleksikan panggilan Sang Raja yang dilihat oleh Serikat dalam terang situasi dunia dan Gereja saat ini, Kongregasi Jenderal secara khusus menekankan adanya kaitan erat antara hidup kita dan perutusan kita, di mana kita bersama dengan banyak orang lain, diutus sebagai pelayan-pelayan sukacita Injil.[1]nBagi orang yang memilih mengikuti Kristus dalam Serikat untuk melayani Gereja, hidup dan perutusan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Di satu sisi, kita tahu tubuh Serikat ini rapuh dan terbentuk dari para pendosa yang diampuni dan diutus untuk ikut serta dalam karya perutusan rekonsiliasi-Nya. Di sisi yang lain, kita ini hidup sebagai peziarah (peregrinos), yang manangguk keuntungan dari aneka tegangan yang muncul dari perutusan yang dikerjakan dalam konteks yang kompleks dan selalu berubah.[2] Gambaran para primi patres selama mereka tinggal di Venezia menunjukkan secara indah kaitan erat antara hidup dan perutusan. Ignatius dan masing-masing dari para primi patres mengalami pertobatan radikal hidup mereka. Cinta Kristus yang menjadi satu-satunya alasan pilihan cara hidup, kemiskinan injili, kedekatan dengan orang miskin, ketersediaan untuk dikirim ke misi, dan berkumpul bersama dalam komunitas yang berdiskresi dan berkomitmen apostolis,[3] inilah ciri dasar perubahan dalam hidup mereka yang memungkinkan didirikannya Serikat Jesus.

 Pertobatan pribadi merupakan dimensi yang harus ada kalau hidup dibaktikan pada perutusan. Ini adalah yang Pater Jenderal Adolfo Nicolás ajakkan pada kita semua melalui tanggapannya pada surat ex-officio tahun 2014,[4] yakni rekonsiliasi interior. Pertobatan pribadi[5] memungkinkan pulihnya kemerdekaan batin yang memampukan kita sepenuhnya siap sedia untuk diutus. Melalui pertobatan semacam itu, kita mempercayakan diri hanya kepada Allah Pencipta dan Tuhan kita, yang kita minta dalam “Asas dan Dasar” Latihan Rohani St. Ignatius agar kita bisa melakukannya, dan kita mengambil sikap lepas bebas sehingga hanya menginginkan dan memilih yang lebih mengarahkan kita kepada tujuan kita diciptakan.[6]

 Pertobatan komunal juga diperlukan untuk mengalami harmoni yang ada di antara hidup dan perutusan. KJ 35 mengingatkan kita bahwa komunitas itu sendiri merupakan perutusan.[7] Kita hidup bersama karena kita dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Jesus, tepatnya untuk ambil bagian dalam hidup dan perutusan-Nya.[8] Hidup bersama kita sebagai sahabat-sahabat dalam Tuhan lahir dan terpelihara di dalam Ekaristi yang dirayakan untuk mengenang Yesus, suatu kenangan yang bukan sekadar ingatan tetapi aktualisasi sakramental kehadiran nyata Yesus Kristus di antara kita dan bekal rohani perjalanan hidup kita. Umat kristiani senantiasa mengenangkan peristiwa keselamatan ini, yaitu peristiwa di mana Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan untuk membuat dari mereka ini Umat Allah. Sungguh, melalaikan kenangan-kenangan ini atau menghilangkannya akan menjerumuskan kita kembali kepada penindasan, kebencian, perbudakan, dan  penyembahan berhala …[9]

Ketika merayakan Ekaristi, kita mengenang Yesus Kristus yang wafat demi pengampunan dosa seluruh manusia dan bangkit untuk menyatakan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Dalam Ekaristi kita menemukan kekuatan dan makanan rohani memampukan komunitas mengalami rekonsiliasi dan mendiskresikan hidup-perutusannya.[10] Pembaruan perayaan Ekaristi komunitas merupakan bagian dari ajakan pertobatan yang  ditegaskan KJ 36 kepada kita. Ajakan untuk bertobat atas hidup komunitas kita mencakup dimensi lainnya juga.  Sejak semula Serikat Jesus merupakan lembaga yang menarik pribadi-pribadi dari beragam budaya menjadi satu dengan ikatan kharisma yang sama; suatu Lembaga yang merambah ke banyak tempat dan srawung dengan budaya-budaya yang sangat berbeda. Karena perutusan Serikat adalah menginkulturasi Injil dalam keadaan-keadaan sangat berbeda di tempat para Jesuit berada itu, proses permanen pertobatan sungguh diminta dari kita. Dengan demikian, di satu sisi, setiap Jesuit mesti melaksanakan proses kompleks inkulturasi Injil di dalam budayanya sendiri dan ini menuntut pertobatan pribadi. Di sisi lainnya, komunitas-komunitas kita, karena dibentuk oleh pribadi-pribadi dari beragam budaya yang ingin ambil bagian dalam perutusan di dalam masyarakat multikultur, memiliki kesempatan istimewa untuk mengalami kekayaan interkulturalitas (interculturalidad) sebagai saksi bagi umat manusia yang telah berekonsiliasi.

 

Berusaha mendekat pada orang miskin dan cara hidup mereka merupakan satu dimensi paling menuntut dari pertobatan kita.[11] Kedekatan pada orang miskin mengarahkan kita kepada hal yang mendasar dalam Injil, realitas kehidupan, dan pemberian hidup yang sebenarnya. Tidak ada rumus mengenai kedekatan pada orang-orang miskin, demikian juga tidak ada pembenaran untuk tidak melakukannya. Mayoritas masyarakat kita adalah orang miskin. Terserah kepada kita untuk mencari cara agar dekat dengan mereka, seperti inkarnasi Allah di dalam diri Jesus Kristus. Jalan ini akan menolong kita menjadi solider dan setia kepada mereka yang paling lemah, dan kemudian membimbing kita menumbuhkan kultur hospitalitas.[12]

Mengambil bagian secara serius dalam rekonsiliasi dengan semua ciptaan sebagai dimensi hidup-perutusan kita jelas merupakan tantangan atas kehidupan pribadi dan komunitas. Kita ditantang untuk mengubah aspek-aspek hidup di mana kita mempunyai kebiasaan mengkonsumsi dan memakai peralatan kerja yang merusak lingkungan dan yang  tidak memperkuat modal sosial ekonomi, yang oleh Paus Fransiskus dalam ensikilik Laudato Si dipandang sebagai suatu ancaman bagi kehidupan di « rumah bersama » kita, yaitu planet bumi ini.[13]

Dalam KJ 36 kita juga ditantang untuk bisa mengubah komunitas-komunitas menjadi ruang-ruang percakapan rohani dan diskresi inklusif.[14] Percakapan rohani harus menjadi cara dalam kita bertukar pengalaman dengan sesama Jesuit di komunitas-komunitas dan dengan banyak orang lain dalam karya-karya kerasulan kita. Tingkatan percakapan semacam inilah yang bisa menyiapkan kita untuk melakukan diskresi inklusif, yaitu langkah pengambilan keputusan untuk hidup dan perutusan Serikat kita. Diskresi inklusif semacam ini juga membantu kita mengasah kemampuan mendengarkan orang lain yang turut ambil bagian dalam proses sejarah yang memanusiakan.  

Selain itu, satu hal yang bahkan lebih menuntut transformasi seperti telah disebut sebelumnya adalah pertobatan institusional. Agar hidup dan perutusan bisa seiring sejalan, kita dituntut untuk melihat kembali cara berorganisasi dan memeriksa dengan cermat institusi-institusi kerasulan kita. Sebagaimana diingatkan KJ 36, gubernasi Serikat itu bersifat pribadi (memperhatikan para anggotanya), rohani, dan rasuli.[15] Dengan demikian, pertobatan pribadi, komunitas, dan karya mensyaratkan adanya perbaikan struktur-struktur kelembagaan kita agar mampu beradaptasi dengan tuntutan karya kerasulan zaman ini

[1] Sambutan Paus Fransiskus dalam Kongregasi Jenderal 36 pada 24 Oktober 2016.

[2] K J36 d. 2, n. 27. Bdk. bagian pertama dari sambutan Paus Fransiskus dalam Kongregasi Jenderal 36; di sana Paus mengingatkan visi Ignatian tentang melakukan peziarahan dan mengambil keuntungan (aprovechar – sacar provecho).

[3] KJ 36, D.1,4-5

[4] Surat 2014/13, 8 September 2014

[5] Bdk. KJ 36 D.1, 7-19

[6] LR 23

[7] KJ 35 d. 3, n. 41.

[8] Markus 3:13-15.

[9] Kel 1:8-13; Ul 6:20-25; 26:1-11; Mz 77 (78):3-7; 105 (106):7-13,21: 1Kor 10:14-17; 11:23-26.

[10] 1Kor 11:27-34.

[11] Bdk. KJ36 d. 1, n. 6, 15.

[12] Bdk. KJ 36 d. 1, n. 26; d. 2, n. 18-19.

[13] KJ 36 d. 1, n. 2.

[14] KJ 36 d. 1, 12, 14

[15] KJ 36 d. 2, n. 1.