Menjadi Serikat Yesus Provinsi Indonesia

Menjadi Serikat Yesus Provinsi Indonesia

MELEPAS LUAR JAWA, FOKUS KE JAWA

Dengan diangkatnya Pater Walterus Staal sebagai Vikaris Apostolik Batavia pada tahun 1893, tanah misi Hindia Belanda secara juridis maupun faktual ada di tangan Serikat Jesus karena tenaga misionaris yang ada seluruhnya Jesuit. Bersamaan dengan itu mulai muncul wacana untuk mengadakan pembagian wilayah-wilayah gerejawi. Kebhinekaan suku, bahasa, budaya dan luasnya wilayah misi akan semakin efektif dan baik dilayani dengan keterlibatan dan kehadiran kongregasi lain. Singkat kata, Jesuit tidak bisa melayani sendirian. Tambahan tenaga merupakan sebuah keharusan. Bersamaan dengan itu pula kemungkinan untuk masuk berkarya di antara pribumi Jawa juga bertiup. Belum ada tanda-tanda bahwa orang Jawa akan menerima pewartaan Injil, namun beberapa tulisan dan laporan menyebutkan bahwa di daerah-daerah pedalaman kemungkinan itu bukan sesuatu yang mustahil.

Berfokus di Jawa berarti harus melepas wilayah-wilayah Luar Jawa. Padahal di beberapa tempat panenan itu sedang mengalami masa menuai, seperti di Flores dan Kei-Tanimbar di Maluku. Diskusi tentang kemungkinan melepas wilayah Luar Jawa pun dimulai. Sebagian setuju, sebagian menolak mentah-mentah. Yang menarik adalah bahwa pembicaraan ini tidak hanya melibatkan para Jesuit yang berkarya di tanah misi tetapi juga mereka yang tinggal di Belanda. Alasan dari mereka yang menentang kiranya terwakili dari pandangan pater van Meurs. Ia menilai pembagian wilayah itu nec necessaria, nec utilis, nec aequa. Tidak perlu karena justru dengan satu vikariat, Vikaris dapat dengan lebih mudah memerintah. Soal kekurangan tenaga, Belanda akan mampu mengirim misionaris. Juga tidak bermanfaat, bahkan merugikan, karena pembagian wilayah hanya akan menciptakan ketidakcocokan, merongrong kesatuan dan memperberat kekuatan finansial. Pembagian itu juga tidak adil, tidak fair, karena ketika berada dalam suasana sulit tidak ada yang mau datang. Sekarang, setelah segalanya berjalan lancar dan tinggal memetik panenan mengapa justru Jesuit malah mau melepasnya.

Mereka yang setuju dengan pembagian wilayah biasanya adalah mereka yang duduk di gubernation. Mereka inilah yang secara langsung merasakan pergulatan Vikaris, langsung mengalami kurangnya personel, banyaknya tempat yang meminta kehadiran misionaris, dan tidak mudahnya wilayah-wilayah yang ditangani. Tu;isan Pater van Santen, Superior Misi, kepada Pater Provinsial pada 6 September 1889 dapat mewakili pemikiran dari mereka yang setuju dengan pembagian :

Para Jesuit yang masih hidup makin lemah dan kelelahan. Banyak orang kita meninggal di puncak kekuatan mereka. Sungguh kita berada dalam situasi yang susah dan kritis. Saya sungguh-sungguh tidak berdaya di hadapan semua ini. Saya kira inilah saat penting bagi kita untuk mengambil sebuah keputusan yang berani: atau kita harus mengirim lebih orang-orang kita atau kita harus membagi wilayah tanah misi dan separuhnya kita serahkan kepada pihak-pihak lain. Sungguh, hanya menunda saja tidaklah menyelesaikan masalah.

Pada akhir abad XIX terjadi pergantian, baik di pucuk pimpinan misi maupun vikariat, yakti Pater G. Helling sebagai Superior Misi (1897-1904) dan Mgr. E. Luypen sebagai Vikaris Apostolik Batavia (1897-1923). Mereka segera menuntaskan persoalan yang ditinggalkan oleh para pendahulu mereka. Lewat negosiasi yang tidak selalu mudah baik dengan Pemerintah Belanda di Indonesia maupun dengan Propaganda Fide, akhirnya proses pembagian wilayah dapat diwujudkan. Dengan Dekret 22 Desember 1902, Propaganda Fide mendirikan Prefektur New Guinea yang dipercayakan kepada Missionaires du Sacre Coeur de Jesus, MSC. Wilayah gerejawi baru selanjutnya adalah Prefektur Nederland-Borneo (1905) dan Sumatra (1911) yang diserahkan kepada Kapusin, OFMCap; Prefektur Kepulauan Sunda Kecil (1914) yang dipercayakan kepada Societas Verbi Divini, SVD; Prefektur Sulawesi (1919) kepada MSC. Sewaktu karya misi di antara orang Jawa juga mulai berkembang, Propaganda Fide berturut-turut mendirikan Prefektur Surabaya (1923, CM), Malang (1923, OCarm), Bandung (1927, OSC), Purwokerto (1927, MSC), Sukabumi (1929, OFM). Sewaktu Propaganda Fide mendirikan Vikariat Apostolik Semarang pada tahun 1940 dan mempercayakannya kepada uskup pribumi pertama Mgr. Albertus Soegijapranata, Serikat Jesus berfokus pada karya-karya di Jakarta dan Semarang.

DI ANTARA ORANG JAWA

Keputusan untuk memfokuskan karya misi di Pulau Jawa ternyata mendapat dukungan penuh dari pimpinan provinsi di Belanda. Dukungan penuh tersebut diwujudkan dengan segera dikirimnya tiga tenaga muda yang dikhususkan untuk “misi Jawa”. Mereka adalah Pater van Lith, Hoevenaars, dan Engbers. Dalam catetannya Pater Provinsial bahkan menulis bahwa Belanda rela melepas putra-putra terbaiknya untuk “misi Jawa”. Lagi-lagi karya misi di Hindia Belanda dihadapkan pada jalan bersimpang. Misi Jawa yang baru seumur jagung dan belum menampakkan hasilnya sudah diwarnai dengan konflik besar di antara para penanggungjawabnya. Romo van Lith dan Romo Hoevenaars bukan hanya berbeda visi tetapi juga tampaknya tidak bisa bekerja sama. Beratnya konflik dan sengitnya perselisihan di antara kedua rasul Jawa hampir membuat Pimpinan Misi untuk menutup saja karya yang baru saja diawali itu. Dalam suasana yang amat genting ini, tidak berlebihan untuk mengatakan “peristiwa Kalibawang” sebagai sebuah mukjizat. Pendekatan misi Romo van Lith akhirnya dipilih sebagai arah baru karya misi di antara orang Jawa, pendekatan budaya. Bahasa untuk zaman kita, dialog adalah sebuah keharusan.

Jika para misionaris ingin membawa orang non Kristen kepada Kristus, mereka harus menemukan titik -awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah terletak hati dari orang-orang ini.

Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka.

Di Pulau Jawa, khususnya di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.

Berpangkal dari pendekatan gaya Muntilan atau gaya van Lith inilah, Serikat Jesus melayani Gereja di antara penduduk pribumi tang masih berada di bawah penjajahan Belanda. Mulai dari kaderisasi awam pribumi di Kolese Xaverius Muntilan, menyiapkan tenaga-tenaga gerejawi di Muntilan-Code-Mertoyudan, membina kesadaran berpolitik menuju self-government lewat tulisan dan keterlibatan langsung, Romo van Lith menempatkan Serikat Jesus dan Gereja menjadi bagian integral dari pergulatan pribumi. Tentu saja bukan tanpa kesalahpahaman dan konflik, pro dan kontra. Warisan spiritualitas Ignatius yang kemudian diterjemahkan dalam konteks budaya oleh Fransiskus Xaverius, Alessandro Valignano, Matteo Ricci, Roberto de Nobili, Alexandre de Rhodes di bumi Asia diupayakan tertanam pula di bumi Indonesia. Dokumen-dokumen misi yang muncul pada periode ini mengkonfirmasi langkah, orientasi, dan arah keterlibatan Serikat Jesus. Tokoh-tokoh awam-Katolik pun bermunculan, panggilan Jesuit pribumi juga berkembang. Bersama dengan awam, kongregasi-kongregasi religious selain Serikat Jesus melibatkan diri dalam pergulatan masyarakat Indoensia dalam mempersiapkan kemerdekaan dan masa-masa awal kemerdekaan. Keterlibatan penuh anggota-anggota Serikat Jesus dan Gereja Katolik selama periode-periode tersebut membuahkan hasil yang baik. Gereja dipandang sebagai bagian dari bangsa Indoensia sendiri dan tidak dilihat sebagai institusi asing. Peristiwa sejarah ini terasa berharga untuk terus diingat dan dihayati kembali secara kreatif supaya kekatolikan dan kejesuitan menyatu dengan ke-indonesiaan sebagai keniscayaan sejarah. Pokok ini semakin terasa relevan untuk disadari di tengah kecenderungan sementara kelompok yang mau merusak kebenaran dan keindahan kebhinekaan.

MEMPERSIAPKAN TERBENTUKNYA PROVINSI SJ INDONESIA

Ketika Romo van Lith meninggal pada 9 Januari 1926, ia telah membantu meletakkan fondasi yang kokoh bagi masa depan Serikat Jesus di Indonesia. Paling tidak Jesuit sudah memiliki rumah novisiat, juniorat, dan filsafat. Sekolah-sekolah Katolik yang dikelola Jesuit menjangkau tempat-tempat terpencil yang bahkan sekolah pemerintah pun belum berdiri. Di samping ratusan awam yang secara aktif terlibat dalam karya misi, Jesuit juga mendapat benih-benih pangilan dari sekolah yang dirintis oleh Romo van Lith. Perlu dicatat bahwa atas gagasan Romo van Lith pula novisiat didirikan di Yogyakarta dan bahwa para Jesuit Belanda yang ingin berkarya di Indonesia bergabung di Indonesia sejak masa novisiat. Tujuannya agar sejak awal mereka sudah melatih dan membina kerja sama. Daftar nama para novis Jesuit di Yogyakarta pada tahun 1915-1930 kiranya dapat menjadi ilustrasi bagaimana gagasan Romo van Lith itu terwujud.

Informasi kecil yang tidak kalah penting, yaitu pada akhir tahun 1923, enam novis Jesuit “binaan Yogyakarta” mengucapkan kaul pertamaaa. Pater Straeter mengajukan usul kepada Pater Provinsial supaa mereka tetap tinggal di Kolese Ignatius melanjutkan masa juniorat mereka dan sekaligus melanjutkan “mengajar agama” di daerah-daerah sekitar Yogyakarta . Pada tahun 1926, dengan tiga staf pengajar, misi Jesuit di Indonesia membuka tahap baru penting lainnya dalam rangka pembinaan imam pribumi, yaitu kursus filsafat. Dengan itu kompleks bangunan Kolese Ignatius terdiri atas novisiat, juniorat, filsafat, dan Seminari Kecil (Kolese Kanisius di Code)

Juga tidak boleh dilupakan bahwa pada tahun 1926 itu terjadi peristiwa penting bagi Gereja Katolik dan Jesuit di Indonesia. Pada tahun 15 Agustus 1926, di Maastricht, Belanda ditahbisakan seorang imam dan Jesuit Pribumi Indonesia yang pertama, FX Satiman. Teman angkatannya, Darmasepoetra, tidak jadi ditahbiskan karena alasan kesehatan. Sekalipun bisa diterima tetap saja tidak jadi ditahbiskannya Darmasepoetra merupakan berita menyedihkan sebagaimana terungkap dari tulisan Pater Schmedding ini.

Kami mendapat kabar bahwa Darmasepoetra mungkin tidak akan ditahbiskan karena kondisi fisiknya yang sakit-sakitan. Berita ini tentu menimbulkan kekecewaan mendalam di sini. Saya memang tidak terkejut. Melihat karya-karya misi lain menjadi jelaslah bahwa Tuhan membimbing kita melalui pelbagai kesulitan dan salib. Dibandingkan dengan tempat-tempat lain boileh dikatakan bahwa misi kita menanggung salib yang lebih ringan.

Sampai dengan tahun 1926, semua murid Seminari Menengah yang ingin menjadi imam bergabung dengan Serikat Jesus. Kehadiran kongregasi-kongregasi religious lain yang bekerja di misi Indonesia membuat pilihan semakin beragam, antara lain Karmelit, Kapusin, Lazaris, dll. Para misionaris Jesuit juga sudah mengantisipasi pembinaan imam-imam diosesan sehingga sewaktu pada tahun 1936, Mgr. Willekens mengabulkan permintaan lima siswa yang ingin menjadi imam diosesan untuk Vikariat Batavia, para Jesuit sudah siap membantu.

Ditahbiskannya FX Satiman sebagai imam dan Jesuit pribumi pertama pada tahun 1926, ditunjuknya Mgr. A. Soegijapranata sebagai Jesuit dan uskup pribumi pertama pada tahun 1940, memperlihatkan bahwa Jesuit di Indonesia telah berkembang dalam jumlah dan juga dalam perannya di dalam pemerintahan Gereja.

Yang berkembang tidak hanya Serikat Jesus tetapi juga Gereja Katolik di Indonesia. Pada 3 Januari 1961, perkembangan Gereja ini dimahkotai dengan Surat Apostolik Paus Johannes XXIII, Quod Christus Adorandus, yang mengangkat Gereja Indonesia menjadi Hierarki Mandiri. Dan untuk Serikat Jesus, kepercayaan itu diterima sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya 8 September 19714, ketika Vice Provinsi Indonesia ditingkatkan menjadi Provinsi SJ Indonesia. Surat A.R.P. Pedro Arrupe yang ditulis satu tahun sesudahnya, 1972, dapat membantu kita sekarang merasakan getaran suasana pada waktu itu.

Provinsi muda Indonesia memiliki banyak segi baik. Terutama kalian, baik angota pribumi, maupun pendatang, semua mengemban tugas perutusan. Kalian diutus. Dan karena diutus, maka kalian punya tujuan, serupa,dan bersama rekan-rekan Jesuit seluruh dunia [……}

Untuk apa Misi? Bagi Jesuit yang tenangdan berkepala dingin, persoalan itu tidak perlu dibuat berlebihan. Misi dibutuhkan karena Kristus mengutus kita, lagi pula karena kegembiraan perlu ditularkan agar tetap tulus. Misi dibutuhkan karena orang melarat, terluka, menderita, tertindas, dan bimbang perlu diberitahu tidak hanya sekali tetapi serratus kali. “Bapa mencintai kalian. Percayalah dan bergembiralah!”

Segi lain yang menguntungkan dalam Provinsi ini terletak khususnya dalam tatanan Pendidikan. Kalian menyelenggarakan Seminari Tinggi dan Menengah, IKIP, STKat, tiga Kolese SMA dan satu ATMI [….]. Bahkan ada yang cemas, bahwa karya-karya tersebut menjauhkan orang-orang kita dari karya yang lebih mendesak, baik yang berupa pewartaan Injil langsung maupun penanaman pengaruh dalam bidang-bidang masyarakat Indonesia yang merana karena kemelaratan, korupsi, dan ketidakadilan.

Provinsi Indonesia dalam banyak segi terberkati dengan tanda-tanda yang menunjuk pada masa depan yang gemilang. Seperempat anggota Provinsi ini berusia di bawah 30 tahun […]. Dari 232 anggota Provindo, 168 lahir di Indonesia dan 120 di antaranya di bawah 40 tahun. Selama lima tahun terakhir kalian menyaksikan adanya perhatian dan penghargaan terhadap Gereja yang belum pernah Nampak sebelumnya, sehingga Gereja berkembang melampaui perhitungan biasa, khususnya di Jawa Tengah, daerah yang diserahkan kepada Serikat Jesus.

AKHIR KATA…

Sebagai Lembaga gerejawi dengan segala warisan rohani yang dimilikinya, Serikat Jesus melakukan evaluasi karya dan pelayanan juga dengan warisan yang dimilikinya itu. Kegiatan yang diberi nama eksamen karya, ini akan memakan waktu Panjang, memeras tenaga dan energi seluruh anggota, baik para Jesuit maupun rekan-rekan awam yang terlibat dalam karya yang ditangani. Muara dari kegiatan ini tidak lain adalah keinginan Serikat Jesus untuk bisa melayani dengan lebih baik. Oleh karena itu, semua orang yang terlibat dituntut memiliki keterbukaan hati dan kebesaran jiwa selaras dengan bimbingan Roh Kudus. Disposisi rohani tadi diperlukan karena pada akhir proses eksamen karya ini, sesuai arahan Pater Jenderal dalam surat “Apotolic Institutions at the Service of Mission” masing-masing karya harus siap memberi empat posisi atas karya pelayanannya: (1) Creating, membuka karya baru; (2) Maintaining, mempertahankan yang ada; (3) Transferring, mengalihkan pengelolaan atau kepemilikan; (4) Closing, menutup yang ada. Sebagaimana pengalaman perjalanan Sejarah Provinsi Serikat Jesus yang sering dihadapkan pada persimpangan jalan, Provindo kiranya juga siap memilih jalan mana yang disediakan Tuhan. Bagaimana Ad Maiorem Dei Gloriam harus diterjemahkan di zaman kita?

 

Oleh Rm Hasto Rosariyanto, Floribertus, S.J.