Pilgrims on Christ’s Mission

Penjelajahan dengan Orang Muda

Pelayanan Spiritualitas, Penjelajahan dengan Orang Muda

Menemukan Damai di Tengah Ketidakpastian

Refleksi Pertemuan Magis Asia Pacific 2025 Mendapat kesempatan untuk mewakili Magis Indonesia di pertemuan Magis Asia Pacific 2025 adalah suatu berkat besar yang Tuhan berikan untukku. Sebelum kabar ini aku terima, aku sedang berada di momen desolasi namun Tuhan hadir melalui perantara Pater Koko untuk memberi tahu bahwa aku salah satu yang akan mewakili Magis Indonesia. Pada saat itu aku merasa Tuhan memberiku hadiah besar atas kesabaran dan keihklasanku menerima kejadian yang aku alami akhir-khir ini. Menyambut kabar itu dengan gembira aku mempersiapkannya dari awal dengan tim Magis Indonesia. Kami kooperatif dalam membantu sama lain selama masa persiapan dan semua dipermudah dengan urusan kami masing-masing baik itu urusan pekerjaan di kantor, pengurusan visa, dan berbagai koordinasi lain. Ketika semuanya sudah siap aku mulai memberitahukan kepada orang tua dan beberapa teman terdekatku untuk memohon doa mereka selama aku 10 hari di Taiwan. Mereka semua juga menyambut kabar ini dengan sukacita dan ikut mendoakan perjalananku.   Hari pun tiba saat kami sampai di Taiwan disambut dengan cuaca dingin, mendung, dan sedikit hujan. Kami dijemput oleh panitia di Bandara dan diajak menggunakan MRT hingga sampai di venue pertama yaitu Sekolah St. Ignatius Loyola. Aku sekamar dengan perwakilan Magis Jepang dan Magis Singapore. Kegiatan pun dimulai dengan berkumpul di aula sekolah dan bertemu dengan beberapa perwakilan dari negara lain. Kami bisa saling mengenal menambah relasi pertemanan baru dan bertukar informasi dengan budaya negara kami masing-masing. Total kurang lebih ada 11 negara. Kegiatan berikutnya diisi dengan materi yang diberikan oleh perwakilan imam, refleksi pribadi, sharing dalam kelompok, misa harian dan sampailah pada kegiatan inti yaitu Magis Experiment.     Dalam Magis Experiment ini aku memilih melayani kaum marginal pada urutan pertamaku dan aku ditempatkan sesuai dengan kelompok yang aku pilih. Kelompokku didampingi koordinator, seorang imam, dan beberapa teman dari Magis Singapura, Korea, dan Filipina. Sebelum kami melakukan kegiatan Magis Experiment, kami diminta untuk menulis beberapa ketakutan dan aku menulis ketakutanku adalah kendala bahasa jika berkomunikasi langsung dengan para tuna wisma dan akan tempat tinggal selama kegiatan. Pada hari pertama, kami diajak untuk mengunjungi salah satu NGO dan kami dibantu oleh salah satu pendamping kami dalam menerjemahkan bahasa Mandarin ke bahasa Inggris. Ternyata ketakutanku mulai memudar karena kami bisa memahami selama kami berkomunikasi dan pesannya dapat kami terima dengan baik. Kami diajak berkeliling ke beberapa tempat dengan mengunjungi salah satu kuil bersejarah sambil menikmati jalanan dan kota Taiwan. Hal ini terasa istimewa karena ini adalah kunjungan pertamaku ke Taiwan. Malamnya kami menyiapkan makanan untuk diberikan kepada para tuna wisma di pinggir stasiun.   Malam itu kami keluar naik MRT kemudian berjalan kaki untuk menemui beberapa tuna wisma. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditemani imam pendamping. Selama aku memberikan makanan dan sedikit berkomunikasi dengan mereka, aku merasa Tuhan hadir dengan mengingatkanku akan kenyamanan rumah yang aku miliki. Punya kamar, ruangan hangat, punya tempat tidur tidak kedinginan dan tidak kehujanan tetapi mereka tidur hanya beralaskan kardus dan payung sebagai pelindung hujan. Aku merasa tersentuh ketika mereka merasa sukacita akan kehadiran kami membawa sedikit makanan. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas tempat tinggal yang aku miliki dan keluarga masih utuh setia mendampingiku.   Pada hari berikutnya, kami diajak ke sebuah pelabuhan untuk bertemu dengan beberapa nelayan dan pekerja home care di Taiwan. Semua yang kami temui adalah pekerja Indonesia dan aku senang bisa bertegur sapa dengan mereka. Sebagai seorang nelayan yang tidurnya hanya di kapal, jauh dari keluarga di Indonesia dan pulang setelah beberapa bulan mengingatkanku akan pekerjaan dan kenyamanan yang aku miliki saat ini. Kadang aku mengeluhkan pekerjaan dan ternyata itu tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku sempat mengobrol juga dengan salah satu pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja mengurus lansia. Ia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil berusia 2 tahun di Indonesia untuk bekerja di Taiwan mencari nafkah. Namun dia punya cita-cita untuk menyekolahkan anaknya di Taiwan agar bisa menjadi guru mandarin di Indonesia. Hal itu menyentuhku akan cinta seorang Ibu untuk anaknya. Setelah selesai berbincang-bincang, kami semua makan malam bersama dengan tema makanan Indonesia dan teman-temanku dari negara lain menyukai makanan tempe. Para pekerja migranlah yang menyiapkan dan memasak makan malam untuk kami semua. Kekeluargaan sangat terasa dalam momen ini.     Tak terasa dua malam Magis Experiment yang kami jalani bisa kami lalui. Ternyata semua ketakutanku yang aku sempat tulis di awal tidak terjadi. Tuhan menyertaiku menyelesaikan tugas ini dengan banyak berkat, seperti kekeluargaan dalam kelompok, relasiku dengan orang-orang yang aku jumpai, dan kenyamanan dalam tempat tinggal, makanan, kebutuhan lainnya semua dicukupkan. Tuhan benar-benar hadir dalam tiap waktu yang aku lalui hingga bisa memiliki pengalaman spiritual selama Magis Experiment ini. Banyak cinta yang aku terima dan bisa aku bagikan lagi ke orang lain saat kembali ke Indonesia. Aku semakin terpanggil untuk melayani kaum marginal. Aku semakin bisa merasakan nilai-nilai yang Tuhan kehendaki dalam hidup pelayananku. Waktu 10 hari sebagai seorang peziarah di Taiwan tidak terasa aku lalui. Ada momen di mana aku merindukan orang tua, tempat tinggal, kebiasaan yang aku lakukan di rumah tapi berkat Tuhan, aku bisa lalui. Aku belajar untuk rendah hati dan menikmati momen saat ini.     Semua pengalaman selama mengikuti Magis Asia Pacific adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tempat-tempat di Taiwan yang aku kunjungi, makanan, cuaca, teman-teman Magis dari berbagai negara, panitia Magis Taiwan yang selalu siap membantu, pelayanan yang diberikan panitia. Secara keseluruhan, acara terasa mudah dan lancar. Aku pulang ke Indonesia membawa semangat Magis yang baru dan ada perasaan damai dalam hati yang aku rasakan. Aku merasa momen desolasiku sebelum pergi disembuhkan melalui kegiatan ini. Aku merasa lebih tenang dan mulai bisa melepaskan pelan-pelan ketakutanku dengan bisa melihat kehadiran Tuhan dalam momen keheningan yang aku rasakan.   Kontributor: Magdalena Prita – Delegasi Magis Indonesia

Jesuit Global, Penjelajahan dengan Orang Muda

MAGIS Movement, Gerakan Bersama Orang Muda

Refleksi atas pertemuan MAGIS Think In Meeting di Roma, Italia.   Pada awal Januari 2026, Kuria Roma menjadi ruang perjumpaan dan diskresi bagi para koordinator Pelayanan Orang Muda Serikat Jesus dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan yang dikenal sebagai MAGIS Think In Meeting ini menghimpun para koordinator pendamping orang muda tingkat konferensi dari: Eropa, Afrika dan Madagaskar, Asia Pasifik, Asia Selatan, Amerika Utara, dan Amerika Latin (yang diwakili oleh masing-masing Presiden Konferensi), bersama tim dari MAGIS Digital Home–India, serta perwakilan Kuria Roma.   Mereka yang hadir bukanlah para pemimpin karya besar seperti pendidikan atau sosial, melainkan para pendamping yang sehari-hari bergumul dekat dengan realitas hidup orang muda. Yang menyatukan mereka adalah kepedulian bersama, yaitu bagaimana menemani orang muda dewasa di dunia yang dinamis, rapuh sekaligus penuh energi, tetapi juga sarat kebingungan dan pencarian makna.   Membaca Tanda Zaman Bersama Orang Muda Dalam sambutannya, Pater Jenderal Arturo Sosa mengajak peserta untuk berangkat dari realitas konkret dunia hari ini. Ia mengisahkan bagaimana sebuah artikel di harian El País berbicara tentang fenomena yang menarik: mengapa masih ada orang muda yang kembali percaya di tengah krisis. Konteksnya adalah Eropa sekuler, tempat banyak penopang hidup—rumah, pekerjaan, keluarga, kesehatan, ketenteraman, dan rasa aman—mengalami keruntuhan, sehingga melahirkan krisis makna. Dari situ, Pater Jenderal menawarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi para pendamping orang muda: Apakah kita melihat tanda-tanda meningkatnya ketertarikan pada kehidupan batin dan spiritualitas? Apakah ini terjadi di mana-mana, atau hanya fenomena pasca-sekularisasi? Apakah pencarian makna hidup berkaitan erat dengan spiritualitas?   Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi nada dasar refleksi selama pertemuan bahwa pelayanan orang muda dewasa tidak bisa dilepaskan dari konteks global yang ditandai oleh ketidakpastian, konflik, ketimpangan, serta perubahan besar dalam dunia digital dan teknologi.     MAGIS: Gerakan Universal, Bukan Sekadar Global Pertemuan ini berangkat dari keyakinan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah kairos, waktu rahmat, bagi pertumbuhan MAGIS. Seperti ditegaskan Pater Jenderal, MAGIS telah berkembang secara kreatif di berbagai belahan dunia, dari bawah ke atas, dengan aneka wajah dan pendekatan kontekstual. Dalam refleksinya, ia mengajak peserta untuk membedakan dua istilah yang tampak mirip namun sarat makna: global dan universal. Mungkin mudah menyebut MAGIS sebagai gerakan global, tetapi dalam terang kharisma Ignatian, istilah universal jauh lebih tepat. Gereja, kristianistas, dan Serikat Jesus sejak awal memahami diri sebagai universal, bukan global. Globalisasi kerap mengarah pada penyeragaman dan pemusatan kuasa; universalisme justru berangkat dari perbedaan, menghormatinya, dan melihatnya sebagai kekayaan bersama. Dengan menggunakan gambaran tubuh, Pater Jenderal menegaskan bahwa tubuh membutuhkan keragaman organ agar dapat hidup. Tubuh yang homogen tidak memiliki kehidupan. Demikian pula MAGIS: bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman yang memberi daya hidup.   Selama pertemuan, para koordinator mendengarkan laporan dari enam konferensi. Meskipun konteksnya sangat beragam, benang merahnya jelas: orang muda dewasa sedang bergulat dengan kompleksitas hidup yang semakin besar. Mobilitas geografis dan sosial sering membawa peluang, tetapi juga kesepian. Kepercayaan pada institusi melemah. Di banyak tempat, kerinduan akan perubahan mendorong keterlibatan sosial dan politik, namun sering tanpa pendampingan diskretif yang memadai. Pandemi COVID-19 meninggalkan luka mendalam, khususnya dalam kesehatan mental. Maka semakin jelas bahwa orang muda tidak hanya membutuhkan kegiatan, melainkan pendampingan, komunitas, relasi yang mendalam, dan ruang aman untuk bertumbuh.   MAGIS sebagai Cara Hidup Salah satu rumusan yang paling mengena selama pertemuan adalah definisi ini, yaitu MAGIS adalah sebuah “cara hidup” yang dihayati orang muda melalui pengalaman dan proses yang berakar pada spiritualitas Ignatian. MAGIS bukan sekadar acara atau pertemuan, melainkan proses yang dihidupi dalam komunitas, idealnya bersama orang muda sebagai rekan seperjalanan dan dalam kebersamaan. Unsur-unsur kuncinya meliputi: doa, perjumpaan dengan realitas, berbagi dalam kelompok, formasi, dan semakin mengenal hati Yesus. Di sini, diskresi panggilan hidup mendapat tempat penting—bukan sebagai rekrutmen, melainkan sebagai pendampingan orang muda untuk menemukan arah hidup mereka di hadapan Allah.   Digital: Medan Baru Perutusan Pertemuan ini juga menyoroti tantangan dan peluang besar dunia digital. Pater Jenderal mengingatkan bahwa dunia digital adalah ruang yang penuh energi dan potensi, namun tidak bebas dari bahaya. Ia mengutip pandangan Paus Leo XIV yang menyebut dunia digital sebagai peluang sekaligus tantangan utama untuk menghadirkan sukacita Injil di dunia yang terluka.   Pengalaman MAGIS Digital Home di Asia Selatan menjadi tanda harapan: ruang digital yang aman, kreatif, dan lintas budaya, dengan ribuan peserta dan tema-tema relevan seperti kesehatan mental, ekologi, karier, dan seni. Dari pengalaman ini, gerakan MAGIS kini sedang menyiapkan langkah baru: pengembangan platform digital yang lebih terintegrasi yang akan diluncurkan saat MAGIS Korea 2027.   MAGIS Korea 2027 dipandang bukan sekadar peristiwa, melainkan tonggak penting bagi MAGIS sebagai gerakan universal orang muda dewasa. Persiapan menuju ke sana mencakup seleksi dan pembinaan peziarah, formasi kepemimpinan, serta keterkaitan nyata dengan komunitas lokal agar dampaknya berkelanjutan.   Para koordinator sepakat untuk memperkuat jejaring lintas konferensi, berbagi sumber daya, dan terus berdiskresi bersama: Apa dan Bagaimana MAGIS semakin dihayati sebagai sebuah gerakan?     Berjalan Bersama dalam Harapan Dalam terang bacaan Kitab Suci dan spiritualitas Ignatian, Pater Jenderal mengingatkan kembali Prinsip dan Dasar, yaitu beriman kepada Yesus Kristus dan saling mengasihi. Dari sanalah diskresi roh menemukan pijakannya. Seperti Yesus yang memulai pelayanan-Nya di masa sulit, demikian pula kita dipanggil untuk berani melayani di batas-batas rapuh kehidupan manusia.   Pertemuan ini ditutup dengan sebuah pertanyaan doa yang sederhana namun mendalam: Di manakah aku menemukan harapan dalam semua ini? Dengan mendengarkan Roh, realitas orang muda, dan satu sama lain, MAGIS melangkah ke depan—sebagai jalan hidup, gerakan universal, dan ungkapan kasih Allah yang terus bekerja di hati orang muda zaman ini.     Kontributor: P. Alexander Koko Siswijayanto, S.J.

Pelayanan Gereja, Penjelajahan dengan Orang Muda

Yang Pernah Jatuh Akan Berdiri Lagi

Perjalanan 30 kilometer yang biasanya ditempuh dalam satu jam, berubah menjadi petualangan empat jam penuh perjuangan. Sebanyak 50 Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah utara Keuskupan Ketapang harus berjibaku melintasi jalan berlumpur licin untuk mencapai Paroki St. Maria Botong di pedalaman Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi sebuah ziarah iman yang konkret untuk menyambut Hari Orang Muda Katolik Sedunia.   Perjuangan dalam Empat Jam Perjalanan Ketika melihat jadwal keberangkatan para OMK Regio Utara Keuskupan Ketapang dari Balai Berkuak menuju Gereja St. Maria Paroki Botong, Kualan Hulu pada 22 November 2025, pandangan mata saya langsung berpindah melihat gumpalan awan menghitam di siang menjelang sore hari. Benar saja, hujan deras mengubah jalan tanah menjadi medan licin seperti dilumuri minyak.   Dengan mengendarai sepeda motor, 50 OMK beserta para pendamping: Pater Alle, Pr (Moderator OMK Regio Utara), Sr. Regina, RGS, Fr. Sandro, Pr, dan Fr. Donatus, Pr, berangkat menempuh perjalanan. Jalan yang dilalui bukanlah jalan biasa, namun medan berlumpur, licin, dan terjal sangat menguji kesabaran sekaligus keberanian mereka. Perjalanan selama kurang lebih empat jam menjadi pengalaman yang menguras tenaga, namun justru memperlihatkan semangat pantang menyerah dan solidaritas yang kuat di antara mereka.     Di sela-sela perjalanan, mereka tetap menemukan ruang untuk berbagi sukacita. Beberapa dari mereka merekam vlog sederhana, menangkap kesan spontan yang lahir dari pengalaman di lapangan. “Sangat seru guys!” ungkap Okra, OMK Paroki Balai Semandang dengan antusias.   “Jatuh guys, jalannya ekstrem sekali. Salah satu penumpangnya yang jatuh. Gimana? Histeris?” Lalu, jawab salah satu OMK Paroki St. Maria Botong yang hendak pulang dari Balai Berkuak ke Botong, yang sempat jatuh, “Ya‚ biasa saja‚ (jalanan) tidak sebagus di hilir‚ jadi, ya, jangan berekspektasi lebih.” Balas vlogger tersebut, “Mantap. Memang mental pejuang!”   Ketika harus melewati kubangan lumpur yang dalam, mereka saling mengingatkan untuk tetap waspada dan tenang. Dalam situasi-situasi sulit, kerja sama dan kepedulian satu sama lain menjadi kunci. Ada yang hampir terjatuh, ada motor yang sempat terperosok, namun selalu ada tangan yang sigap membantu. Pengalaman ini tidak hanya menjadi kisah perjalanan fisik, tetapi juga pembelajaran nyata tentang kebersamaan, kepercayaan, dan semangat melayani.   Sukacita di Tempat Tujuan Minggu, 23 November 2025, adalah hari istimewa yang memuat dua hal yang patut disyukuri sebagai komunitas Gereja Katolik, yaitu Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam sekaligus Hari Orang Muda Katolik Sedunia. Sementara di banyak tempat perayaan mungkin berlangsung meriah, Paroki Botong merayakannya dengan cara berbeda tetapi tak kalah mendalam, untuk sungguh-sungguh mengenang Yesus sebagai Raja yang berjuang, berjerih payah, dan rela berkorban.     Keselamatan fisik seluruh rombongan hingga tiba di tujuan adalah rahmat pertama yang nyata. Sukacita lain terpancar dari komunitas Paroki St. Maria Botong. Dikunjungi oleh orang-orang muda Katolik dari beragam paroki di daerah hilir menjadi rahmat konsolasi bahwa orang-orang yang berada di daerah hulu tetap menjadi satu tubuh persaudaraan di dalam Tuhan. Sayur pakis, sayur rebung bambu, sayur concong (keong sungai), sayur nangka atau gori, dan ikan sungai Kualan Hulu menjadi pelengkap khas, sederhana, namun tetap menghangatkan perjamuan dan perjumpaan para orang muda Katolik.   Belajar dari Perjuangan Empat Jam Perjalanan Cuaca malam yang sejuk selepas hujan menyelimuti perjumpaan OMK Regio Utara di Dangau St. Yusuf, Botong. Di tengah perbukitan Kalimantan Barat, para OMK saling berkenalan, berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman peziarahan mereka menyusuri jalanan pedalaman yang penuh tantangan. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, perjumpaan ini menjadi ruang pembelajaran iman untuk menyadari kehadiran Tuhan yang setia menyertai umat-Nya, bahkan di jalan-jalan yang licin, berlumpur, dan jauh dari kenyamanan.     Ronald, Ketua OMK Regio Utara, menegaskan bahwa kondisi jalanan pedalaman menuju Paroki Botong yang berlumpur dan sulit dilalui merupakan realitas harian umat setempat. Bagi mereka yang tinggal di wilayah hilir dengan akses jalan yang lebih baik, pengalaman ini menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap empati dan belajar untuk refleksi diri. “Jalanan pedalaman ini menjadi guru kehidupan kita sebagai komunitas Orang Muda Katolik,” ungkapnya. Melalui kebersamaan dan semangat saling menolong, para OMK belajar bahwa setiap tantangan dapat dilalui ketika mereka saling tolong menolong sebagai sebuah komunitas yang peduli dan berpengharapan.   Dari Katekese hingga Aksi Nyata Dengan sederhana dan mengena, Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. atau akrab disapa Pater Wawan, Pastor Kepala Paroki Botong, membagikan renungan mendalam dalam perayaan Ekaristi hari itu. Ia menguraikan makna memberi kesaksian iman dalam kehidupan melalui lima bentuk kesaksian yang dapat diwujudkan setiap orang beriman: Kesaksian Hidup (Martyria per Vitam) Kesaksian Pewartaan Injil (Kerygma) Kesaksian Kasih-Sosial (Diakonia) Kesaksian Persekutuan (Koinonia) Kesaksian Pengorbanan (Martyria per Sanguinem)     Katekese ini langsung diwujudkan dalam aksi nyata Kesaksian Pelayanan Kasih (diakonia). Usai misa, dengan semangat gotong royong, para OMK terjun ke jalanan berlumpur. Berbekal karung dan ember, mereka mengumpulkan batu-batu sungai, memikulnya, dan menimbunnya di titik-titik yang paling licin. Batu-batu itu, meski kecil, menjadi “batu penjuru” yang memperkuat landasan jalan bagi warga sekitar.     Setiap Peran Bermakna dalam Perjalanan Bersama Perjalanan melewati jalanan berlumpur liat menuju Paroki St. Maria Botong yang licin seperti berminyak karena hujan mengajarkan tentang “Je dia tau mananjung, manunggu huma (yang tidak dapat berjalan, menunggu rumah).”     Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap orang dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan perannya. Ada yang mendorong motor di jalan berlumpur, ada yang memasak untuk keluarga, ada yang mengumpulkan batu, dan ada pula yang memikulnya demi perbaikan jalan. Kontribusi setiap orang, sekecil apa pun itu, tetaplah bernilai. Peran yang berbeda-beda itu kemudian dipersatukan oleh semangat yang sama, yaitu bekerja untuk kebaikan bersama.   Refleksi ini juga mengingatkan bahwa setiap orang menjalani panggilan dan tantangan hidup masing-masing. Di tengah perbedaan tersebut, kita diajak untuk tidak menyerah. Layaknya Yesus sang Raja yang memilih jalan kerendahan hati dan pengorbanan, kita diajak untuk terus berjalan bersama, membangun harapan, dan menghadirkan dampak nyata bagi sesama dan masyarakat luas.   Kontributor: F. Nicolaus David Kristianto, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Sebuah Catatan di Satu Semester

Perkampungan Sosial Pingit Seperti biasa, pada Senin sore saya bersiap dan bergegas terutama karena langit sudah berubah menjadi gelap. Doaku sore itu semoga hujan tidak turun sebab menurutku hujan hanya romantis bagi mereka yang mampu, yang mempunyai privilese untuk melihat indahnya rintik hujan dari balik kaca mobil. Namun tidak untuk penunggang ojek online seperti saya, pengguna kendaraan roda dua dan transportasi umum. Juga tidak romantis, terutama bagi  orang-orang yang harus mencari rezeki di jalanan. Petang itu, kami sudah janjian dengan anak-anak di Perkampungan Sosial Pingit (PSP) untuk memasak bersama, sebuah rencana sejak beberapa minggu sebelumnya. Ini harus terlaksana, sebab jika gagal, tentu anak-anak sakan sangat kecewa.    Malam itu kami akan masak seblak sebagai menu utama. Berbekal resep hasil berguru dari adik dan cookpad, merapal doa dan harap di hati kepada Sang Penentu Hidup supaya kelas perdana memasak kami hari itu berjalan lancar dan mudah, saya pun berangkat dari rumah menuju Pingit dengan wajah yang berusaha terlihat yakin meski hati khawatir tidak karuan. Rasa cemas muncul karena takut perkakas masak ada yang terlupa, bahan masakan ada yang terlewat, bumbu yang sudah diracik dari rumah tidak cukup, hingga  rasa takut jangan-jangan kompor gunung yang kami sewa tidak bisa bekerja ciamik layaknya kompor-kompor rumahan pada umumnya.    Tak disangka, anak-anak PSP luar biasa antusias terhadap kelas memasak ini. Bukan hanya dari kelas inti yang kami ampu, yaitu anak-anak SMP, tetapi juga anak-anak dari kelas sebelah juga sama bersemangatnya. Seperti biasa, anak-anak lebih memilih kelas diselenggarakan di Balai karena sirkulasi udara yang lebih terbuka dan mereka merasa lebih nyaman dan leluasa. Kelas memasak malam itu juga kami selenggarakan di Balai. Kami berdoa bersama sebelum memulai kelas. Salah seorang dari anak-anak kami pasti akan bertugas untuk memimpin dengan doa yang sangat singkat, dan tak jarang, sambil bercanda. Tetapi sepertinya pertanyaan musikus Sal Priadi dalam lagunya Gala Bunga Matahari tentang apakah Dia suka bercanda? terjawab malam itu. Sepertinya Dia memang suka bercanda sebab nyatanya doa kami yang kurang ‘serius’ pun tetap didengar dan dikabulkan. Doa kami malam itu adalah semoga kelas memasak pada malam itu berjalan dengan sangat riang, mudah, dan penuh kehangatan. Baik laki-laki maupun perempuan sangat bersemangat, bahu-membahu mempersiapkan semuanya, ikut mencuci sayur, memotong bahan isi seblak, hingga menyalakan kompor. Waktu terasa berjalan dengan cepat dan kelas kami pun melebihi jam pembelajaran sehingga anak-anak dari kelas lain untuk ikut bergabung memasak dan menyantap bersama hasil masakan perdana ini. Rasa masakannya? Lumayan enak.     Memang sejak awal kami terpilih untuk bergabung menjadi sukarelawan di Perkampungan Sosial Pingit, ada beberapa pesan yang menyarankan bahwa sedapat mungkin, materi yang kami akan berikan kepada anak-anak bukanlah materi pembelajaran yang mirip seperti silabus mata pelajaran mereka, namun sesuatu yang berbeda. Kami para sukarelawan yang tergabung ke dalam Tim SMP dari pertama urun rembug, kami memilih beberapa core values yang akan menjadi ‘benang merah; dari materi kami selama setahun ke depan, yaitu Survive and Sustain. Kami ingin materi yang akan kami bagi selama setahun ke depan, meskipun tidak banyak, namun bisa masuk menjadi ‘core memories’ anak-anak yang akan selalu mereka ingat, rasa dan gunakan ketika kelak mereka dewasa. Seperti kelas memasak yang kami pilih untuk malam ini, kelas ini memang sudah masuk ke dalam silabus materi rencana pembelajaran kami untuk satu tahun ke depan, karena untuk anak-anak kami yang memang baru mulai memasuki masa SMP, dimana mereka juga mulai masuk ke dalam fase pubertas dan pencarian jati diri, kami berharap materi-materi yang kami berikan kepada mereka akan membantu mereka menghargai dan sabar terhadap yang namanya ‘proses’. Proses daur hidup yang tidak selalu gembira. Sebelum kelas memasak ini, kami juga memberikan mereka kesempatan untuk berkreasi menghias kue untuk melatih kreativitas mereka. Harapan kami, kelak di masa depan, mungkin ada dari mereka yang tertarik untuk menjadi seorang Chef handal atau jika harapan itu dianggap terlalu tinggi, paling tidak suatu saat ketika kesulitan mendapatkan pekerjaan, mereka bisa membuat usaha sendiri, menjadi pengusaha makanan gerobak. Sekali waktu, kami juga pernah dalam satu jadwal kelas, memberikan mereka tantangan untuk mengisi peta buta negara-negara di kawasan regional Asia Tenggara, harapan kami, dengan itu mereka tahu bahwa ada kehidupan lain di luar Pingit, bahkan di luar Indonesia. Jika berharap salah satu dari mereka berhasil menjadi Diplomat juga terlalu muluk, setidaknya minimal mereka tahu bahwa mereka mungkin suatu hari nanti bisa bertahan hidup dengan menjadi pejuang devisa di negara tetangga.   Kembali kepada proses pembelajaran kami di kelas memasak malam itu. Ada satu catatan yang mungkin akan saya ingat dan menjadi salah satu pembelajaran hidup berharga untuk saya selamanya. Ada satu momen, di tengah proses kami memasak, kami kehabisan bumbu penyedap. Seorang anak perempuan kecil, dengan wajah lugu dan suara lantang langsung menawarkan diri kepada saya. “Mbak, aku belikan ya bumbunya di warung atas sebentar?”. “Loh, memangnya ga jauh? Sebentar biar Mbak minta tolong kakak yang lain untuk belikan, Mbak juga ambil uangnya dulu ya,” jawab saya. “Ga usah Mbak, kelamaan nanti, biar aku belikan saja, aku ada uang kok,” ucap gadis kecil itu sambil menunjukkan uang seribuan nya ke saya. “Loh jangan, masak pakai uang kamu, sebentar ya biar Mbak minta kakak sukarelawan saja yang belikan” tegas saya. “Gapapa Mbak, biar pakai uang aku aja, lagian kan ini untuk kita makan rame-rame juga, jadi ya gapapa,” ujar gadis kecil itu tetap memaksa dan seketika langsung lari pergi menghilang, menuju warung di atas. Seketika saya terdiam dan terhenyak. Fokus saya terpecah. Perasaan kaget, haru, dan senang menjadi satu. Ada perasaan hangat yang menjalar. Dari penampilan gadis kecil itu, bisa jadi, uang seribu yang ia tunjukkan kepada saya adalah uang jajan satu-satunya yang ia punya di hari itu, namun dengan lantang dan berani, ia tawarkan uang satu-satunya itu tanpa rasa takut, alasannya pun luar biasa, karena nanti masakan ini juga akan dimakan bersama-sama. Ucapan yang berjiwa besar dan tanpa rasa takut sedikitpun, terucap dari bibir seorang anak kecil.    Momentum itu membuat saya akhirnya merenung. Sambil memperhatikan sisa menit-menit terakhir menuju berakhirnya kelas kami di malam itu. Mungkin dunia orang dewasa menjadi sangat rumit karena tanpa sadar, seiring proses kita menjadi tua dan dewasa, perlahan kita juga

Penjelajahan dengan Orang Muda

Café Puna: “Discerning the Will of God”

Pada hari Kamis, 22 Mei 2025, komunitas SJ Pulo Nangka menyelenggarakan kegiatan Café Puna (Café Pulo Nangka), sebuah forum santai dan inspiratif untuk berbagi pengalaman dalam menghidupi spiritualitas Ignatian bersama para Frater Serikat Jesus Unit Pulo Nangka. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB dan dilaksanakan secara hybrid, yakni on-site di Komunitas Pulo Nangka serta secara daring melalui platform Zoom.   Kegiatan bertajuk “Discerning the Will of God” ini dihadiri oleh 65 peserta secara langsung dan 50 peserta secara daring, yang terdiri dari umat lingkungan, OMK, mahasiswa, kelompok MAGIS, serta para religius lain yang memiliki ketertarikan pada dinamika hidup rohani dan proses discernment (membedakan kehendak Allah) dalam spiritualitas Ignatius Loyola.   Sesi utama dipandu oleh Frater Herdian, S.J. dan Frater Pond, S.J. yang membawakan pembahasan mengenai tiga waktu diskresi dalam spiritualitas Ignatian. Fokus utama malam itu adalah pada waktu ketiga—yakni momen diskresi di mana seseorang tidak berada dalam kondisi pengalaman batin yang kuat (waktu pertama) maupun gerak rasa yang mencolok (waktu kedua), tetapi mengambil keputusan melalui pertimbangan akal budi yang jernih dan tenang.     Disampaikan pula bahwa pertimbangan akal budi dalam waktu ketiga tidak bersifat kering atau semata-mata rasional. Diskresi ini tetap mengandaikan kebebasan batin, yakni keterbukaan dan keterlepasan dari ketertarikan pribadi yang mengaburkan pandangan. Kebebasan ini memungkinkan seseorang untuk memilih bukan hanya apa yang baik, melainkan apa yang lebih memuliakan Tuhan dan membahagiakan dirinya secara mendalam dan sejati.   Sesi diakhiri dengan tanya jawab interaktif dan sharing pengalaman singkat dari beberapa peserta yang menyoroti tantangan konkret dalam menjalani proses discernment, terutama dalam konteks pilihan hidup dan pekerjaan. Pada sesi ini, pertanyaan-pertanyaan dari para peserta dijawab oleh para Pater SJ yang hadir baik secara langsung maupun online. Mereka adalah Pater Sardi, Pater Effendi, Pater Siwi, dan Pater Widi. Selain bahwa kita harus cermat dalam melakukan diskresi, para penanggap menegaskan pentingnya membangun kebiasaan refleksi harian dan pendampingan rohani sebagai sarana konkret untuk menumbuhkan kepekaan rohani dalam membuat keputusan-keputusan penting.   Akhirnya, kegiatan ini menjadi ruang formasi rohani yang hangat, terbuka, dan mencerahkan, yang diharapkan terus berlanjut secara berkala sebagai wadah bagi kaum muda dan siapa saja yang ingin mendalami spiritualitas Ignatian dalam kehidupan sehari-hari.   Kontributor: Sch. Alexius Aji Pradana, SJ – Humas Café Puna

Penjelajahan dengan Orang Muda

“By Healing the World, We Rise Together”

Ekaristi Kaum Muda Johar Baru 2025 Sabtu, 17 Mei 2025, Skolastikat SJ Unit Johar Baru kembali menggelar Ekaristi Kaum Muda (EKM) sebagai bagian dari tradisi kreatif dan reflektif komunitas skolastik SJ Unit Johar Baru. Lebih dari sekadar perayaan liturgi, EKM menjadi ruang spiritual yang mengajak kaum muda untuk merenungkan iman mereka dalam konteks kehidupan masa kini. Dengan tema “By Healing the World, We Rise Together,” kegiatan EKM menggemakan Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus, khususnya ajakan untuk berkolaborasi dalam merawat rumah kita bersama. Ekaristi Kaum Muda Johar Baru tahun ini diikuti oleh sekitar 120 peserta dari berbagai komunitas, seperti Prompang SJ, MAGIS Jakarta, PMKRI, ATMI Cikarang, Kolese Kanisius, PMKAJ Unit Selatan, PMKAJ Unit Barat, OMK Paroki Kampung Duri, Sant’Egidio, Universitas Atma Jaya Jakarta, OMK Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Tangerang, STF Driyarkara, serta kolaborator dari kongregasi, dan lembaga mitra lainnya. Keberagaman latar belakang, dan semangat yang dibawa para peserta, menjadikan EKM sebagai perayaan yang sungguh hidup, relevan, dan menyentuh realitas zaman.   Rangkaian kegiatan dibuka dengan Misa Kreatif yang dipimpin oleh Pater Effendi Kusuma Sunur, S.J. Dalam homilinya, Pater Effendi mengajak para peserta untuk merenungkan dimensi kasih dalam konteks ekologis. Ia menekankan bahwa lawan kata dari kasih bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian. Banyak kerusakan lingkungan yang terjadi bukan karena kebencian aktif, melainkan karena sikap pasif, dan tidak peduli. Seruan tersebut menggugah hati para peserta, untuk melihat kembali gaya hidup mereka, serta membangkitkan kesadaran, bahwa mencintai Allah berarti juga mencintai, dan peduli pada ciptaan-Nya. Ekaristi semakin syahdu dengan kehadiran Sisca Saras, mantan anggota JKT48, yang tampil sebagai pemazmur. Dengan suara dan pembawaannya yang tenang, Sisca membantu menghadirkan suasana doa yang mendalam dalam Liturgi Sabda. Ia juga membawakan dua lagu dalam sesi ramah tamah.    Salah satu bentuk konkret komitmen ekologis dalam Ekaristi Kaum Muda Johar Baru tahun ini, adalah penggunaan meja altar dari 86 Eco-brick, yang dibuat secara mandiri oleh para frater Johar Baru. Eco-brick adalah botol plastik bekas, yang diisi padat dengan sampah anorganik tak terurai, seperti: plastik pembungkus, kresek, dan styrofoam. Melalui proses yang tekun dan kreatif, sampah-sampah anorganik tersebut dapat diubah menjadi barang, yang memiliki nilai guna.      Setelah perayaan Ekaristi, para peserta mengikuti sesi sharing dalam kelompok kecil, yang dibagi dalam tiga putaran. Sesi sharing didahului oleh penayangan video pendek, tentang ekologi yang telah disiapkan panitia. Putaran pertama mengajak peserta merefleksikan kehidupan pribadi mereka: Sudahkah aku hidup secara ekologis? Putaran kedua mendorong empati masing-masing peserta untuk mendengarkan, dan menangkap pembelajaran dari sharing teman lain. Pada putaran terakhir, masing-masing peserta diajak merumuskan satu kehendak konkret, sebagai buah dari keterlibatan mereka di EKM ini. Proses tersebut menjadi ruang refleksi bagi masing-masing peserta, untuk membangun kesadaran ekologi, dan mengarah pada transformasi gaya hidup yang lebih ekologis.    Setelah sesi sharing, suasana beralih ke nuansa perayaan dalam bentuk Pesta Rakyat dan Pentas Seni. Komunitas-komunitas peserta menampilkan karya seni mereka: musik, puisi, dan lain-lain. Semangat partisipasi dari para peserta menjadi tanda; bahwa iman kaum muda adalah iman yang hidup, kreatif, dan penuh sukacita. Tak ketinggalan, kehadiran stan UMKM dari warga sekitar, menjadi dukungan nyata terhadap ekosistem ekonomi lokal. Aksi kecil seperti ini menunjukkan, bahwa merawat bumi bukan hanya tentang menanam pohon atau mengelola sampah, tetapi juga tentang membangun solidaritas dengan sesama manusia.   Menjelang akhir acara, peserta diajak mendengarkan Gobind Vashdev, seorang penulis, dan fasilitator transformasi kesadaran dalam hal ekologi. Dalam talkshow-nya, Gobind berbicara tentang akar terdalam krisis ekologis: krisis spiritual. Ia menyampaikan bahwa krisis lingkungan adalah cermin dari ketidakseimbangan dalam diri manusia. “Ketika manusia lupa akan cukup, lupa bersyukur, dan hidup dalam ketamakan, maka bumi pun akan terluka,” katanya. Kata-kata Gobind menantang peserta untuk melihat ke dalam, sebelum menunjuk keluar. Ia mengajak para peserta menyadari bahwa perilaku eksploitatif terhadap alam, lahir dari jiwa yang kosong, jiwa yang tidak puas, tidak tahu cukup, dan tidak mampu bersyukur atas yang sudah dimiliki. Ketika manusia kehilangan rasa cukup (sense of enough), maka alam menjadi korban kerakusan yang tak berujung.     Sebagai skolastik Jesuit, kami yang terlibat sebagai panitia Ekaristi Kaum Muda Johar Baru 2025 tidak sekadar menyelenggarakan sebuah acara, tetapi juga belajar banyak dari pengalaman ini. Kami belajar mendengarkan, berkolaborasi dengan banyak komunitas, serta menggerakkan semangat ekologis secara nyata pada kaum muda. Semua ini menjadi bagian dari formasi kami, untuk menjadi “Men for others.” Akhirnya, Ekaristi Kaum Muda Johar Baru 2025 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah proses formasi, aksi ekologis, dan pewartaan iman yang hidup.   Kontributor: Sch. Ignatius Dio Ernanda Johandika, S.J.  

Penjelajahan dengan Orang Muda

Kunjungan ke Pesantren Ahmadiyah

Pada Sabtu, 18 Januari 2025, perwakilan frater dari Kolese Hermanum melakukan kunjungan ke Kampus Mubarok yang berlokasi di daerah Parung, Jawa Barat. Kampus Mubarok merupakan pusat Ahmadiyah Indonesia sekaligus “seminari” para calon imam Ahmadiyah di Indonesia. Ada 15 frater dari berbagai negara, ditemani oleh Pater Guido Chrisna, S.J. dan Pak Buddhy Munawar, seorang dosen Islamologi di STF Driyarkara, yang berkunjung ke komunitas Ahmadiyah. Kunjungan ini dimaksudkan agar para frater dapat semakin mengenal Komunitas Ahmadiyah dan pada akhirnya semakin mampu membangun dialog antaragama dengan mendalam.   Kunjungan kami ini disambut oleh Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia (pimpinan Ahmadiyah Indonesia), Maulana Mirajuddin Sahid. Dalam seremoni pembukaan kunjungan ini, Amir Nasional berpesan untuk selalu mengusahakan dialog dengan berbagai pihak agar dapat menciptakan kerukunan di tengah masyarakat. Setelah seremoni pembukaan tersebut, kami diajak untuk mengenal sejarah dan spiritualitas komunitas Ahmadiyah di sebuah gedung yang mereka sebut sebagai Peace Center. Ketika memasuki Peace Center kami diperlihatkan foto-foto para pemimpin agama di dunia (termasuk Paus Fransiskus), pendiri Komunitas Ahmadiyah dan para penerusnya, tokoh-tokoh nasional Indonesia yang merupakan bagian dari Komunitas Ahmadiyah dan karya-karya pelayanan Ahmadiyah di Indonesia. Komunitas Ahmadiyah menjadi komunitas yang sering “dipinggirkan” karena keyakinan mereka yang berbeda dari arus utama, terutama mengenai paham mesias dan nabi dari keyakinan umat Islam pada umumnya. Komunitas ini didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada abad ke-19 di India. Ahmadiyah percaya bahwa Kedatangan Kedua Sang Mesias telah terjadi, dan bahwa Mesias yang Dijanjikan adalah pendiri mereka sendiri. Meskipun sebagian besar keyakinan mereka mirip dengan agama Islam pada umumnya, penafsiran mereka tentang peran Mesias menjadi titik perbedaan yang kontroversial. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai non-Muslim. Bahkan Pusat komunitas Ahmadiyah dipindahkan dari Pakistan ke London demi alasan keamanan. Kepemimpinan Mirza Ghulam Ahmad diteruskan oleh para penerusnya dan bergelar Khalifatul Masih. Sekarang, Komunitas Ahmadiyah dipimpin oleh Khalifatul Masih V yang bernama asli Hazrat Mirza Masroor Ahmad. Khalifatul Masih V selalu menyerukan mengenai perdamaian dan cinta kasih dalam khotbah-khotbahnya. Love for all, hatred for none. Itulah motto dari Komunitas Ahmadiyah yang selalu dibawa dan ditunjukkan oleh Khalifatul Masih V dalam setiap khotbahnya.   Setelah berkenalan dengan sejarah dan iman mereka, para frater diajak berdinamika bersama para “seminaris” Ahmadiyah. Para mahasiswa di Kampus Mubarok ini tinggal dalam sebuah asrama besar dan tidur bersama di sebuah barak besar. Mereka tidak boleh mengakses internet dan menggunakan ponsel. Mereka bahkan juga mengalami “peregrinasi” selama tiga hari. Cara hidup ini sepintas mirip kehidupan di seminari pada umumnya.   Setelah lulus dari SMA, para calon imam Ahmadiyah menjalani pendidikan di Kampus Mubarok selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, mereka akan “ditahbiskan” menjadi imam Ahmadiyah dan menerima perutusan langsung dari Khalifatul Masih, pimpinan tertinggi komunitas Ahmadiyah. Segala perpindahan tugas perutusan harus berdasarkan keputusan Khalifatul Masih dengan rekomendasi dari pimpinan nasional Ahmadiyah suatu negara. Secara tidak langsung, sistem hierarki yang dipakai oleh komunitas Ahmadiyah tidak jauh berbeda dengan hierarki Gereja Katolik. Komunitas Ahmadiyah memiliki pemimpin umum yang disebut Khalifatul Masih. Cara mereka mengutus para imamnya juga terkesan mirip dengan model Gereja Katolik dalam perutusan para imamnya. Belum lagi, proses formasi para calon imam Ahmadiyah juga mirip dengan formasi para calon imam Katolik.   Kemiripan dalam hal-hal teknis dan juga nilai kasih yang mereka junjung tinggi meneguhkan kami. Kunjungan kami ke pesantren Ahmadiyah ini semakin meneguhkan kami untuk berusaha berjejaring dan berkolaborasi dengan semua pihak dalam menciptakan bonum commune di dalam masyarakat. Memang apa yang kami imani tentu saja berbeda dengan mereka. Akan tetapi, kami dan mereka memiliki kesamaan visi dan nilai yang sama-sama dijunjung tinggi, baik oleh Gereja Katolik maupun oleh Ahmadiyah sendiri: mengasihi sesama dan mewujudkan kedamaian di dunia. Kunjungan ini ditutup dengan olahraga bersama dengan para “seminaris” Ahmadiyah. Kami bermain sepak bola untuk menutup kunjungan yang penuh makna ini.   Kontributor:Fr. Feliks Erasmus Arga, S.J. dan Fr. Aman Aslam, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Open House dan Ekaristi Kaum Muda-Mahasiswa Katolik DIY 2024

Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional di bulan November 2024, Pusat Pastoral Mahasiswa DIY (PPM DIY) mengadakan rangkaian acara untuk memaknai kepahlawanan yang relevan dengan situasi orang muda di zaman ini. Rangkaian acara terdiri dari Open House PPM DIY pada tanggal 9 November dan Ekaristi Kaum Muda yang dilanjutkan dengan talkshow serta pentas seni pada 10 November. Topik yang diangkat adalah mengenai kepahlawanan yang telah diteladankan oleh para tokoh nasional (tak terkecuali para pahlawan nasional yang beragama Katolik) dan aktualisasinya untuk anak muda zaman ini. Kepahlawanan sebagai suatu semangat selalu relevan dan bisa diaktualisasikan terus-menerus.   Untuk itu, dengan gaya bahasa anak muda, kegiatan ini mengambil judul AGAPE: Akrab aGAwe PEnak yang dalam bahasa aslinya (Yunani, “ἀγάπη”) merujuk pada bentuk cinta yang tanpa pamrih, tulus, dan penuh kasih sayang. Dalam konteks ini, agape sering digambarkan sebagai cinta universal atau kasih yang tidak bersyarat, yang mencerminkan keinginan tulus untuk kebaikan orang lain tanpa mengharap-kan balasan. Para mahasiswa Katolik Jogja diajak untuk berani memberikan diri dengan cinta yang tanpa pamrih, tulus, dan penuh kepada siapa pun sebagai bentuk kepahlawanan yang sejalan dengan ajaran Katolik. Akronim dari “Agape” yaitu “akrab agawe penak” mengajak para mahasiswa Katolik untuk menjalin keakraban dengan caranya sendiri dan berjalan bersama sebagai sesama mahasiswa Katolik. Tindakan kepahlawanan di zaman ini pun bisa ditempuh dengan cara anak-anak Generasi Z yang akrab dengan dunia digital. Maka, selain “penak” (fun, menyenangkan) juga bermanfaat untuk banyak orang.    Momen perjumpaan antar mahasiswa Katolik DIY sempat terhenti akibat pandemi beberapa waktu lalu. Maka, kegiatan ini menjadi kegiatan untuk mempertemukan mahasiswa Katolik se-DIY, sejak pandemi usai. Harapannya, dengan kegiatan ini bisa terjalin jejaring dan relasi persaudaraan antara mahasiswa Katolik yang tersebar di berbagai kampus. Di DIY terdapat seratusan lebih Perguruan Tinggi, Akademi, dan Sekolah Tinggi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para mahasiswa Katolik bisa saling mengenal satu sama lain, berbagi cerita, dan menguatkan dalam perjalanan hidup mereka.   Pada hari pertama, dalam acara Open House PPM DIY, para mahasiswa menyediakan layanan cek kesehatan bagi warga di sekitar PPM DIY. Selain itu, ada kegiatan senam bersama, kerja bakti, donor darah, pembagian hadiah doorprize, dan makan siang bersama. Keterlibatan para mahasiswa bagi masyarakat menjadi bentuk kepahlawanan sederhana yang bisa mereka lakukan. Mahasiswa perlu mengenali lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal setiap harinya, sehingga ilmu yang mereka pelajari di kelas tidak berhenti pada pemikiran saja tetapi juga diaktualisasikan untuk kebaikan bersama. Para mahasiswa kedokteran dan ilmu kesehatan misalnya terlibat dalam pelayanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Selain itu, para mahasiswa juga belajar untuk menjalin jejaring dengan semua pihak yang berkehendak baik, seperti misalnya kelompok Sego Mubeng dari Paroki Kotabaru.   Pada hari kedua, EKM dilaksanakan di kapel Kolese de Britto dan dilanjutkan dengan talkshow serta pentas seni di aula Kolese de Britto. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. A.R. Yudono Suwondo, Pr. selaku Vikaris Episkopal (Vikep) Yogyakarta Barat didampingi Pater Daryanto, S.J. (Pusat Pastoral Mahasiswa), Rm. Setyo Budi Sambodo, Pr (Romo Mahasiswa Kevikepan Semarang), dan Pater Hugo, SJ (Moderator Kolese de Britto, tuan rumah acara). Inilah bentuk sapaan Gereja Katolik kepada orang-orang Muda terutama mahasiswa Katolik di Jogja. Melalui EKM ini mahasiswa juga mendapatkan ruang untuk menghayati Ekaristi dengan cara anak muda, seperti iringan musik orkes, tari-tarian pengiring, renungan yang dibawakan dengan teater, hingga doa dengan berbagai bahasa daerah.   Ada sekitar 800-an mahasiswa Katolik dari berbagai universitas yang hadir pada acara hari kedua. Bukan hanya dari Jogja saja tetapi juga dari Semarang dan Surakarta. Setelah Ekaristi, acara dilanjutkan dengan talkshow yang diisi oleh Pater G. Subanar, S.J. dan Walma Jelena. Pater Banar membagikan kisah kepahlawanan umat Katolik Indonesia pada zaman penjajahan Jepang melalui buku yang baru saja terbit, yakni Kinro Hoshi, Kisah Umat Katolik di Pendudukan Jepang (Kanisius, 2024). Sementara itu, dari perspektif orang muda Walma Jelena yang mempopulerkan mantila di akun media sosialnya (@walmajelena; Your Mantilla Lady) berbagi kesaksian iman di dunia digital.    Setelah talkshow beberapa kelompok mahasiswa mengisi pentas seni. Di antaranya tari-tarian daerah, teater, dan musik. Multikulturalitas mahasiswa Katolik yang ada di DIY akan mewarnai tampilan-tampilan seni ini, mengingat mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Rm Buset (Setyo Budi Sambodo) juga tampil menghibur dengan standup comedy. Selain itu juga ada keterlibatan siswa-siswa SMA Kolese de Britto melalui tampilan musik. Tidak sedikit juga alumni de Britto yang saat kuliah di Jogja terlibat aktif dalam kegiatan Keluarga Mahasiswa Katolik. Maka, inilah bentuk pendampingan berkelanjutan bagi orang-orang muda untuk berjalan bersama membangun masa depan yang penuh harapan.   Kontributor: P Agustinus Daryanto, S.J.