Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Porseni Kolese Gonzaga Merajut Komunitas Lintas Angkatan

VERA AMICITIA EST INTER BONOS: Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Kolese Gonzaga 2025 telah berlangsung dengan semangat penuh sukacita dan persaudaraan. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Porseni tahun ini dihelat dengan satu misi mulia, yaitu menjadi laboratorium hidup untuk memperkuat ikatan komunitas lintas angkatan di antara siswa kelas X, XI, dan XII. Melalui berbagai aktivitas yang dirancang, semangat “Vera Amicitia Est Inter Bonos” menjadi napas yang menghidupi seluruh rangkaian acara.   Struktur Komunitas dalam “House” Jesuit Untuk mencapai tujuan itu, siswa tidak berlomba sebagai perwakilan kelas atau angkatan, tetapi terbagi dalam sepuluh kelompok besar bernama “House.” Setiap House, yang beranggotakan sekitar 90 siswa campuran dari semua tingkat, mengambil nama dari para Santo Jesuit yang menginspirasi, seperti Fransiskus Xaverius, Petrus Faber, Petrus Claver, Edmund Campion, Joseph Pignatelli, Alfonsus Rodrigues, Johannes Bergman, Fransiskus Borgias, Paulus Miki, dan Stanislaus Kostka. Struktur ini memaksa interaksi dan kolaborasi, di mana setiap poin yang diraih anggota memperkuat posisi House-nya, mendidik mereka tentang arti solidaritas yang melampaui batas teman sekelas.     Pembelajaran Holistik di Luar Ruang Kelas Selama Porseni, ruang kelas dikosongkan dan seluruh area sekolah berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Beragam aktivitas dirancang untuk menjangkau beragam minat dan bakat. Di lapangan, semangat sportivitas berkobar dalam lomba basket, voli, dan mini soccer. Di lobi, ketenangan dan strategi diuji dalam pertandingan catur. Sementara itu, keberanian menghadapi tantangan fisik ditunjukkan di area panjat dinding (wall climbing).   Kreativitas juga mendapat panggung utama. Di taman belakang sekolah, digelar lomba memasak yang unik, di mana peserta tidak hanya dinilai dari rasa hidangan, tetapi juga dari presentasi yang mengaitkan masakannya dengan negara asal Santo pelindung House mereka. Di sepanjang pagar sekolah, jiwa seni diekspresikan melalui lomba mural. Para peserta melukiskan simbol-simbol kehidupan dan pelayanan Santo mereka, seperti mural Petrus Claver yang menggambarkannya sebagai servant of the slaves lengkap dengan perahu budak dan simbol kebebasan di lautan luas. Kedua lomba ini menekankan pada proses kreatif dan reflektif, bukan sekadar hasil akhir.     “Gonzaga Got Talent” Sekolah meyakini bahwa setiap siswa adalah karya unik dengan talentanya masing-masing. Untuk memastikan tidak ada bakat yang terlewat, Porseni menyelenggarakan “Gonzaga Got Talent” melalui aplikasi rekaman online “A-Luigi.” Setiap siswa wajib merekam dan mengunggah kebolehannya, mulai dari menyanyi, memainkan berbagai alat musik (piano, violin, gitar, drum, dll), menari, membaca puisi, hingga sulap dan melukis.   Proses kurasi oleh para guru juri membuka banyak kejutan. Bakat-bakat tersembunyi terungkap, misalnya siswa yang pendiam ternyata memiliki suara emas, siswi yang anggun ternyata adalah penggebuk drum yang handal, atau tutor matematika yang serius ternyata piawai dalam seni pertunjukan. Dari semua rekaman, dipilih 10 terbaik per kategori untuk tampil secara langsung di depan seluruh komunitas. Momen ini menjadi perayaan yang sangat personal dan hangat, di mana setiap keunikan diakui dan diapresiasi.     Mempertajam Pikiran dan Semangat Tim: Cerdas Cermat dan Lomba Kelompok Tahun ini, Porseni juga menghadirkan dimensi baru, yaitu lomba cerdas cermat matematika dan pengetahuan umum antar House. Babak penyisihan dan final disaksikan wajib oleh seluruh komunitas, menciptakan atmosfer intelektual yang bersemangat. Saat soal matematika dipecahkan, tak hanya peserta, para penonton pun ikut menghitung dan bersorak kegirangan. Lomba pengetahuan umum dirancang untuk memacu rasa ingin tahu siswa tentang dunia, budaya, dan istilah-istilah umum.     Dinamika kelompok semakin terasah dalam lomba vokal grup dan band. Dengan waktu latihan yang terbatas, siswa lintas angkatan harus cepat beradaptasi dan berkolaborasi. Mereka membawakan lagu wajib serta lagu pilihan. Harmoni yang indah tercipta bukan hanya dari nada, tetapi juga dari proses bekerja sama itu sendiri. Selain itu, acara perkenalan maskot setiap House menjadi momen edukasi yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu, di mana perwakilan harus mendalami dan mempresentasikan riwayat hidup, perjuangan, serta nilai-nilai Santo pelindung mereka dengan kostum yang kreatif.   Puncak Kebersamaan di Christmas Vigil Concert Mengalir dari semangat Porseni, komunitas Gonzaga mengakhiri semester dengan Christmas Vigil Concert di gedung Ciputra Artpreneur. Konser ini adalah puncak ungkapan syukur dan ruang kontemplasi menyambut Natal. Gonzaga Big Band Orchestra (GBBO) membawakan “Carol of The Bells” dengan penuh energi, diiringi oleh Paduan Suara “Suara Gonzaga” (Surga) yang menyanyikan lagu-lagu Natal dari berbagai penjuru dunia seperti Polandia, Jerman, dan Filipina. Kehadiran Pater Emanuel Baskoro Poedjinoegroho, S.J. (Pater Superior), Bapak Corneiles Tedjo Endriyarto (Ketua Yayasan Wacana Bhakti), perwakilan alumni (Ikagona), serta orang tua siswa, menunjukkan lingkaran komunitas yang luas dan solid. Pater Eduard Calistus Ratu Dopo, S.J., M.Ed., Kepala Sekolah sekaligus pelatih, menyanyikan dua lagu sebagai bentuk terima kasih tulus kepada semua pihak.     Dari Kompetisi Menuju Komunitas Acara Porseni ditutup dengan pengumuman juara umum, yang tahun ini diraih oleh House Edmund Campion. Namun, kemenangan sejati terletak pada proses yang telah dilalui. Setiap siswa belajar menjadi pemimpin dan pelayan melalui kepanitiaan, mengalami langsung arti kerja sama lintas angkatan, dan belajar mensyukuri baik talenta sendiri maupun kelebihan orang lain.   Seperti ungkapan dari karya Cicero dalam bukunya berjudul De Amicitia, Porseni Kolese Gonzaga 2025 berhasil menjadi wadah nyata untuk menumbuhkan “persahabatan sejati.” Dalam semangat Ignasian, kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan (competence), tetapi lebih penting lagi membangun kepedulian (care) dan hati yang tulus (conscience). Semoga ikatan yang terjalin ini menguatkan komunitas Gonzaga untuk menyambut Tuhan dengan pertobatan dan mewujudkan niat baik di tahun baru. AMDG.   Kontributor: Gabriella Kristalinawati, S.Pd., M.Si.

Karya Pendidikan

Kolaborasi Generasi untuk Masa Depan Desain Indonesia

WOODFEST 2025: WOODFEST 2025 menandai sebuah tonggak baru. Untuk pertama kalinya, acara yang telah diselenggarakan ketiga kalinya ini digelar di luar kampus SMK PIKA Semarang, bertempat di Marina Convention Center. Perpindahan ini bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi sebuah pernyataan: WOODFEST telah matang menjadi sebuah platform publik yang siap menjangkau khalayak yang lebih luas dari kalangan industri, akademisi, dan masyarakat.   Tahun ini, partisipasi melonjak dengan kehadiran lebih dari 30 brand, mulai dari produsen furnitur ekspor, kontraktor interior, hingga sekolah dan universitas dengan fokus pada kayu, desain, dan arsitektur. WOODFEST 2025 membuktikan diri bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi sebagai ekosistem untuk bertukar ide, inovasi, dan lahirnya kolaborasi baru. Antusiasme publik pun luar biasa. Lebih dari 2.400 pengunjung memadati venue selama tiga hari, menegaskan bahwa Semarang memiliki potensi kuat menjadi pusat pertemuan industri kayu dan desain kreatif di Indonesia.     Namun, capaian terpenting WOODFEST 2025 justru terletak pada kolaborasi yang terjalin di balik panggung. Panitia pelaksana yang terdiri dari alumni PIKA (KAPIKA) bekerja berdampingan dengan para siswa/i SMK PIKA. Para siswa tidak hanya membantu, mereka juga mengalami langsung proses perancangan dan manajemen event industri nyata mulai dari komunikasi dengan ekshibitor, logistik, hingga interaksi dengan pengunjung. Inilah inti dari WOODFEST: ia adalah medium pendidikan yang hidup, tempat transfer ilmu dan pembentukan karakter profesional terjadi secara langsung.   Rangkaian seminar tematik memperkaya wawasan peserta dengan pembahasan mulai dari keberlanjutan material, inovasi desain, hingga tantangan regulasi internasional seperti EUDR (European Union Deforestation Regulation).     WOODFEST 2025 juga diwarnai oleh kehadiran istimewa Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Kehadiran Beliau mengingatkan kita pada akar spiritual PIKA—sebuah karya pendidikan yang dirintis Bruder Joseph Haeken, S.J. dan Bruder Paul Wiederkehr, S.J. Semangat Ignasian akan kedisiplinan, refleksi, dan pelayanan bagi sesama menjadi fondasi yang membuat kesuksesan ini bermakna lebih dalam. Pada akhirnya, WOODFEST 2025 adalah perwujudan nyata dari semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, sebuah karya untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar yang membawa dampak bagi masyarakat.   Sebagai Ketua Panitia, saya menyaksikan sendiri komunitas KAPIKA yang bukan sekadar jejaring nostalgia, melainkan sebuah kekuatan hidup yang bergerak aktif. Kolaborasi dengan adik-adik siswa/i SMK PIKA adalah investasi yang tak ternilai untuk kesinambungan generasi. Keberhasilan WOODFEST 2025 membuktikan bahwa PIKA telah melahirkan manusia-manusia kreatif, tangguh, dan siap berkarya untuk Indonesia.   WOODFEST 2025 bukanlah garis akhir, melainkan awal dari sebuah babak yang lebih besar. Semoga semangat kolaborasi dan kreativitas ini terus berkobar, berlipat ganda, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan dan industri Indonesia.     Kontributor: Johanes Chaesario Octavianus – Ketua Panitia Pelaksana WOODFEST 2025

Karya Pendidikan

Yayasan Kanisius yang Cerdas, Aman, dan Peduli

107 Tahun Menyalakan Api: Selasa, 21 Oktober 2025, keluarga besar Yayasan Kanisius merayakan HUT ke-107. Perayaan misi yang dirintis oleh seorang misionaris Jesuit asal Belanda, Pater Van Lith, menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama hampir satu abad lebih ini. Tema Cerdas, Aman, dan Peduli merangkum arah gerak ke depan Yayasan sampai menyambut usia yang ke-110 di tahun 2028 nanti.   Acara puncak HUT ke-107 Yayasan Kanisius dirayakan dengan Ekaristi di setiap cabang. Cabang Yogyakarta merayakan syukur ini di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bercela, Nanggulan, dipimpin oleh Pater Martinus Suharianto, Pr (Pastor Paroki Nanggulan), Pater Heru Hendarto, S.J., selaku Ketua Yayasan, dan Pater Surya Awangga, S.J. Sementara itu, Cabang Semarang merayakannya dengan Ekaristi di Paroki Karangpanas, Semarang. Perayaan dipimpin oleh Pastor Paroki Karangpanas, Pater Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr., dan Bendahara Yayasan Pater Aria Dewanto, S.J.     Kanisius Masa Kini Saat ini, Yayasan Kanisius menaungi 186 sekolah; mulai dari Daycare, KB-TK, SD, SMP, SMA, SMK, dengan 1.322 guru-karyawan, dan 17.892 siswa-siswi yang tersebar di empat cabang: Semarang, Yogyakarta, Magelang, dan Surakarta. Pada satu periode, yayasan yang lahir pada 21 Oktober 1918 ini pernah mendidik lebih dari 35.000 siswa di 350 sekolah di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Seiring perkembangannya dan berbagai tantangan pada beberapa dekade terakhir, jumlah tersebut perlahan-lahan menurun. Berhadapan dengan aneka tantangan ini, Yayasan Kanisius terus berbenah diri.   Belajar di Zaman yang Cair Dalam merayakan HUT ke-107, Yayasan terus memfasilitasi para guru dan murid untuk menambah wawasan dan keterampilan baru. Pada 10 Oktober 2025 di KB-TK Kurmosari, sejumlah guru di Yayasan Kanisius Cabang Semarang dan beberapa Yayasan Pendidikan Katolik di Semarang mengikuti acara Kanisius Belajar: Sharing Praktek PPR dan bedah buku “Men and Women for Others,” karya Pater Melkyor Pando, S.J.   Melalui sharing best practice PPR, Kepala Sekolah SMP Kanisius Argotiloso Sukorejo, Yohanes Martono, S.Pd. dan Kepala Sekolah SD Kanisius Sanjaya Sukorejo, Yohana Rosana Meiwati, S.Pd., mengungkapkan bagaimana cura personalis telah membuat sekolah menjadi rumah bagi semua. Relasi antara kepala sekolah dan guru-karyawan semakin erat, para murid pun semakin berkembang sesuai dengan bakat dan keistimewaannya, dan orang tua pun makin tersapa.   Sementara itu, dalam pemaparan mengenai bukunya, Pater Melkyor Pando menegaskan bahwa visi pendidikan Jesuit tetaplah relevan di zaman yang cair ini (penuh ketidakpastian, terus berubah, dan bahkan ditandai dengan ketidakpastian permanen). Kesetiaan untuk menanamkan 4C (competence, compassion, commitment, conscience) menjadi kunci untuk membentuk pribadi-pribadi “Men and Women for Others” di zaman ini.   Pada waktu yang hampir bersamaan, Jumat-Sabtu, 10-11 Oktober 2025 di Wisma Salam, 28 guru Yayasan Kanisius dari Cabang Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Pembelajaran Mendalam. Kegiatan ini membahas pemanfaatan AI untuk Implementasi Deep Learning melalui Contextual Project-Based Learning yang berorientasi SDG’s, bersama Pater A.P. Danang Bramasti, S.J. dan Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. (Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).   Ignatian Parenting dan Safeguarding SD Kanisius Girisonta pun turut mengadakan Ignatian Parenting pada Jumat, 17 Oktober 2025 lalu. Melalui tema “Menjadi Orangtua Bijak di Era Digital”, para orang tua diajak untuk bermitra dengan sekolah dalam membimbing anak-anak di tengah tantangan perkembangan dunia digital. Selain itu, sosialisasi dan pelatihan safeguarding kini telah selesai dilaksanakan bagi setiap guru di seluruh cabang. Sosialisasi yang telah berlanjut kepada anak-anak dan orang tua ini pun diharapkan menjadikan sekolah-sekolah Kanisius tempat yang aman untuk anak bertumbuh-kembang. Ini menjadi salah satu nilai plus sekolah Kanisius, selain mendidik generasi muda yang cerdas dan peduli terhadap sesama dan sekitarnya.   Cincin Emas Pesta Perak Sukacita HUT Kanisius kali ini terasa istimewa karena terdapat empat guru di Kanisius Semarang yang telah 25 tahun lebih mengabdi. Yayasan Kanisius Cabang Semarang memberikan cincin emas sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang telah membentuk generasi muda dengan teladan, ketekunan, dan kasih. Mereka adalah: Ibu Ika Purbiantari, S.Pd., Kepala SMP Kanisius Raden Patah, yang menekankan toleransi beragama sebagai fondasi pendidikan di sekolah multikultural. Ibu Tutik Supriyanti, S.E., Guru TK Kanisius Kaliwinong, yang membimbing anak-anak dengan pendekatan holistik meski dengan fasilitas sederhana. Bapak Agustinus Suwasma, S.Pd., yang aktif mengintegrasikan nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui kegiatan budaya seperti barongsai. Bapak Felix Yanik Sargunadi, Staf Kantor Pusat Yayasan Kanisius, yang aktif di balik operasional kantor. Bu Rini Kusumawati, S.Pd. selaku Kepala Cabang Semarang dalam sambutannya menyampaikan, “Meski harga emas saat ini sedang naik drastis, Yayasan tetap berkomitmen penuh untuk memberikan cincin emas kepada para guru. Ini adalah tanda kepedulian dan cinta Yayasan terhadap setiap pribadi yang penuh loyalitas dan totalitas dalam memberikan diri.”     Menjadi Men and Women for Others Sebagaimana dalam sambutannya, Ketua Yayasan Kanisius, Pater Heru Hendarto S.J., mengundang setiap pribadi untuk menggarap kecerdasan secara menyeluruh, meliputi kecerdasan hidup, emosi, rohani, dan skill, sehingga setiap orang menjadi nyaman dengan diri sendiri dan sesama, saling menghargai dan menghormati. Semua pribadi diajak untuk peduli pada sesama, mereka yang berkekurangan, pada alam dan segalanya, sebab setiap pribadi dilahirkan dan dibentuk untuk menjadi manusia yang peduli. Be Men and Women for Others!   Semoga sukacita HUT ke-107 Yayasan Kanisius membuat setiap pribadi yang pernah belajar di Kanisius semakin bersyukur dan mencintai karya yang mulia ini. Para staf, guru-karyawan, donatur, dan pemerhati semakin menyadari bahwa karya di Yayasan ini adalah karya Allah sendiri, sehingga semakin hari semakin magis dalam pelayanan. Dari karya yang luhur ini, lahir para agen perubahan yang cerdas, mulia, peduli, serta menjadi pembawa garam dan terang dunia.   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Karya Pendidikan

Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual

Hari Jumat hingga Minggu, 19-21 September 2025, Studio Audio Visual – USD menyelenggarakan Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual bagi 20 guru terpilih (TK-SD-SMP) dari Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Sebagian besar peserta adalah guru-guru tetap yang masih muda. Pelatihan gelombang 3 ini terselenggara berkat kerja sama antara Universitas Sanata Dharma dan Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Pelatihan yang waktunya relatif singkat ini dilaksanakan di Studio Audio Visual-USD, Sinduharjo dan para peserta menginap di Kampoeng Media.   Dalam kata sambutannya, Ibu Nur Sukapti, Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, menyampaikan rasa terima kasih atas kemurahan hati Universitas Sanata Dharma yang mendukung kegiatan pelatihan gelombang 3 ini. Pembekalan ketrampilan ini sungguh berarti bagi para guru. Terbukti para alumni pelatihan gelombang 1 dan 2 sudah menghasilkan banyak media pembelajaran dan juga liputan-liputan audio visual yang bermanfaat untuk promosi Sekolah Kanisius dan juga bahan-bahan presentasi dalam seminar di luar negeri, termasuk Amerika Latin.   Selain mengucapkan “Selamat Datang” kepada para peserta, menyambung sambutan dari Ibu Nur Sukapti, Pater Yosephus Ispuroyanto Iswarahadi, S.J., Penanggungjawab Program, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membekali para guru dengan pengetahuan dan ketrampilan membuat media pembelajaran berbasis audio visual. Pada zaman ini para guru ditantang untuk bisa mengampu proses pembelajaran dengan menarik dan berkualitas. Hal ini sesuai dengan karakter generasi sekarang yang lebih mengutamakan perasaan daripada pemikiran. Feeling is first. Diharapkan bahwa dengan didampingi oleh para tutor yang berpengalaman para guru dapat mengikuti pelatihan ini dengan gembira dan menghasilkan media pembelajaran yang kreatif. Penanggungjawab materi pelatihan ini adalah Pater F.X. Murti Hadi Wijayanto, S.J. dan ia dibantu para pendamping antara lain Mas Niko, Mas Haryo, Mas Daniel, Mas Mantep, dan Mbak Kristy (Koordinator Pelatihan). Para peserta bersama-sama mempelajari dan mengolah materi: pembelajaran a la Montessori, prinsip-prinsip sinematografi, penulisan naskah, proses produksi, proses editing, dan evaluasi program. Pada materi pertama Pater Murti menegaskan bahwa pelatihan kali ini lebih menantang daripada pelatihan sebelumnya karena para peserta sudah mempunyai dasar keterampilan audio visual dan fokus pelatihan diarahkan pada kontennya. Konten yang diangkat kali ini adalah Model Pembelajaran Montessori. Oleh karena itu, 6 mahasiswi PGSD-USD (Sesilia, dkk) ikut menjelaskan bagaimana alat-alat pembelajaran a la Montessori dipergunakan.   Setelah mempelajari prinsip-prinsip sinematografi, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk menyusun naskah video instruksional tentang model pembelajaran Montessori. Pada hari Jumat pukul 09.30 naskah video yang sudah disusun dipresentasikan kepada Tutor Pendamping untuk dikoreksi. Setelah naskah diperbaiki, setiap kelompok melaksanakan produksi (syuting) di tiga lokasi yang berbeda (Studio Biru, Ruang Mawar, dan Wisma Teratai). Masing-masing anggota kelompok mendapatkan peran, misalnya menjadi penulis naskah, sutradara, penata kamera, pemain, dan editor. Waktu untuk produksi adalah Jumat 20 September 2025 pukul 10.00 – 18.00. Selama proses produksi setiap kelompok ditemani oleh seorang pendamping.     Pada petang harinya, setiap kelompok mulai mengerjakan editing. Tugas editing ini membutuhkan stamina yang prima karena harus memilih shot-shot yang begitu banyak dan disesuaikan kerangka film sebagaimana telah ditulis di dalam naskah. Dibutuhkan ketelitian untuk menyambung shot yang satu dengan shot berikutnya. Kemudian editor harus pandai-pandai menyelaraskan warna dan ritme sajian sesuai musik ilustrasi yang dipilih. Mengingat program video yang diproduksi adalah program instruksional yang materinya amat kaya, proses editing membutuhkan waktu lama. Setelah berjuang melawan rasa kantuk dan lelah, para peserta dapat menyelesaikan film mereka. Ada yang selesai pada pukul 01.00 WIB, ada yang selesai pada pukul 02.30 WIB dan bahkan pukul 03.30 WIB dini hari.   Pada hari ketiga, ketika hutang tidur belum tersembuhkan, para peserta mengadakan acara apresiasi dan evaluasi atas video yang telah diproduksi. Penayangan video dilaksanakan di Studio Biru dengan menggunakan layar lebar. Kelompok 1 menayangkan video dengan judul “Feli dan Manik-manik Emas”. Kelompok 2 menyanjikan video “Grammar Sense Game”, sedangkan video yang dihasilkan oleh Kelompok 3 berjudul “Serunya Mengenal Pecahan a la Montessori.” Setiap penayangan ditanggapi oleh peserta dari kelompok lain, kemudian kelompok pembuat menceritakan pengalaman berproduksi dan menanggapi komentar anggota kelompok lain. Pada bagian terakhir komentar disampaikan oleh para pendamping dan tutor. Proses evaluasi dan refleksi ini menjadi bagian penting dari proses learning by doing. Para peserta merasa sangat diperkaya dengan latihan selama 3 hari ini. Mereka merasa dibekali untuk melayani peserta didik dengan lebih baik. Para peserta mengakui bahwa proses pelatihan ini sangat menarik dan menambah pengalaman.   Sebelum acara penutupan, para peserta mengikuti Misa Syukur yang dipersembahkan oleh Pater Iswarahadi di Studio Biru. Dalam kata sambutan penutupan, Bapak Alex yang mewakili Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta sangat berterima kasih kepada Universitas Sanata Dharma dan Studio Audio Visual atas kesempatan pelatihan yang telah diberikan secara murah hati dan didampingi oleh para tutor/pendamping yang luar biasa. Bapak Alex juga memotivasi para peserta agar menggunakan keterampilan yang diperoleh untuk mendidik siswa-siswi generasi muda dengan lebih kreatif. Pelatihan semacam ini sangat penting, karena membekali para guru dengan ilmu perfilman yang berstandar internasional. Selain memberi apresiasi atas kreativitas, kerja keras, dan kerja tim yang telah dibuktikan oleh para peserta, Pater Iswarahadi menyerahkan sertifikat kepada semua peserta. Para guru dapat kembali ke sekolah masing-masing dengan kepala tegak dan semakin bersemangat untuk mengabdi negeri.     Kontributor: P. Yoseph Ispuroyanto, S.J.

Karya Pendidikan

Semangat Hijau dan Upaya Merawat Bumi

Sampah plastik sering dianggap masalah, namun di tangan siswa-siswi SMK Katolik St. Mikael Surakarta, sampah bisa berubah menjadi peluang. Dengan semangat belajar dan kreativitas, para siswa menjadikan daur ulang sebagai bagian dari pelajaran sehari-hari. Inilah wujud nyata kepedulian mereka dalam merawat bumi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.   Merangkai ilmu menjadi harapan bagi bumi Pada 11-14 Agustus 2025, para siswa kelas X SMK Mikael melaksanakan pembelajaran bertemakan Circular Economy. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui konsep ekonomi sirkular, yakni upaya memperpanjang masa pakai produk melalui prinsip daur ulang (recycle). Serangkaian kegiatan dimulai dari pemaparan konsep dasar Circular Economy oleh tim Recycle dari PT ATMI IGI. Pemaparan materi tersebut meliputi definisi, proses, dampak, dan rencana tindak lanjut kegiatan daur ulang. Antusiasme siswa terlihat jelas dalam sesi tanya jawab yang interaktif. Tim Recycle PT ATMI IGI pun juga turut memberi souvenir berupa gantungan kunci dari tutup botol yang didaur ulang membentuk logo SMK Mikael. Setelah sesi materi, Ibu Yanti selaku guru pengampu mata pelajaran IPAS memberikan tugas lanjutan kepada para siswa, yaitu mengumpulkan tutup botol sebanyak mungkin dalam kurun waktu dua minggu sebagai bentuk praktik nyata dari konsep yang telah dipelajari.   Tiba saatnya para siswa melaksanakan kegiatan daur ulang. Mereka sudah membawa tutup botol dari rumah kemudian dilakukan pembersihan dengan pencucian dan pemilahan berdasarkan warna hingga akhirnya dicacah menggunakan mesin crusher. Tak disangka, ternyata terdapat beberapa siswa yang membawa tutup botol berjumlah ribuan. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak sampah plastik yang belum terkelola dengan baik. Beberapa siswa mengatakan bahwa mereka mendapatkan tutup botol tersebut dari lingkungan masyarakat yang memiliki bank sampah. Dari 7 kelas yang mengumpulkan tutup botol, total terkumpul sejumlah 16 kg tutup botol.   SMK Katolik St. Mikael Surakarta menggaet PT ATMI IGI untuk berpartisipasi dalam memberikan edukasi Circular Economy dan fasilitas daur ulang plastik. Fasilitas tersebut mencakup dua mesin yaitu Manual Injection dan Small Press beserta 1 mold/cetakan untuk masing masing mesin. Didampingi oleh guru beserta tim recycle PT ATMI IGI, siswa/i berkesempatan untuk mempraktikkan proses daur ulang secara langsung. Mereka membuat gantungan kunci berbentuk logo SMK Mikael dengan menggunakan mesin press. Proses pencetakan tersebut memakan waktu 1 jam, hal ini dikarenakan cacahan tutup botol perlu untuk dilelehkan kemudian menunggu proses pendinginan. Sementara gantungan kunci di cetak, masing masing siswa secara bergiliran membuat manik-manik menggunakan mesin Manual Injection. Berbeda dengan mesin press yang membutuhkan waktu 1 jam untuk 1 produk, mesin Manual Injection hanya membutuhkan waktu dua menit untuk mencetak 1 set manik-manik. Hasil yang mereka cetak mempunyai corak warna yang sangat indah yang dipengaruhi oleh material tutup botol yang dilelehkan. Perpaduan dua warna berbeda menghasilkan gradasi warna yang memanjakan mata. Pada akhirnya manik-manik yang mereka cetak dapat dirangkai sehingga menjadi rosario, tasbih, gelang, maupun kalung.     Spiritualitas Ignatian dalam upaya merawat Bumi Kegiatan daur ulang plastik ini linear dengan nilai 4C yang ditanamkan kepada para siswa SMK Kolese Mikael. Competence, dengan kemampuan kompetensi di bidang teknik pemesinan siswa mampu membuat mold/cetakan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Compassion, membangun kesadaran dan kepedulian pentingnya menjaga Bumi dari pencemaran sampah. Conscience, mampu membedakan perilaku yang baik maupun buruk dan dampaknya bagi lingkungan sekitar. Commitment, janji untuk merawat alam demi keberlangsungan makhluk hidup. Hal tersebut pun selaras dengan Universal Apostolic Preferences (UAP) keempat tentang Merawat Rumah Kita Bersama dan mendukung program Sustainable Development Goals (SDG’S) nomor 4 tentang pendidikan berkualitas dan nomor 13 tentang Aksi Perubahan Iklim. Besar harapan agar kegiatan daur ulang ini dapat berkelanjutan dan bisa memberikan nilai lebih bagi SMK Mikael sebagai sekolah peduli lingkungan. Melalui kegiatan ini, para siswa SMK Katolik St. Mikael Surakarta tidak hanya belajar tentang konsep Circular Economy tetapi juga membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil di lingkungan sekolah. Dengan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai, mereka menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.     Kontributor: Fransiskus Marcelino Utama – Siswa SMK Katolik St. Mikael Surakarta

Karya Pendidikan

Melampaui Teknologi, Menemukan Makna

Bellarminus Day 2025: Mrican, 17 September 2025 — Dalam semangat syukur dan inspirasi iman, civitas akademika Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Komunitas Serikat Jesus Bellarminus merayakan Bellarminus Day 2025 dengan penuh sukacita di Kapel Bellarminus, Mrican.   Perayaan tahun ini terasa jauh lebih istimewa. Tidak hanya karena semangat Santo pelindung yang menyala, tetapi juga karena Kapel Bellarminus telah selesai direnovasi dan kini tampil lebih anggun, syahdu, serta mendukung suasana doa. Dalam Ekaristi yang meriah ini, turut dilakukan prosesi pemberkatan patung Santo Robertus Bellarminus. Diharapkan, kehadiran patung ini menjadi pengingat akan semangat cinta pada kebenaran, kesetiaan dalam pengajaran, dan pengabdian tanpa lelah dari St. Robertus bagi Gereja dan masyarakat.   Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rektor USD, Pater A. Bagus Laksana S.J., didampingi oleh sembilan Jesuit anggota Komunitas Bellarminus. Dalam homilinya, Pater Bagus menyandingkan dua tokoh kudus lintas generasi: St. Carlo Acutis—santo milenial—dan St. Robertus Bellarminus—kardinal, Jesuit, sekaligus ilmuwan. Meski hidup di zaman berbeda, keduanya sama-sama menanggapi panggilan Tuhan, mengejar kekudusan, dan memberi makna bagi sesama lewat zaman dan tantangan yang kurang lebih mirip yaitu sains-teknologi dan iman. Bellarminus menghadapi perdebatan kosmologi, sedangkan Acutis menghadapi era internet. Pater Bagus mengajak seluruh civitas akademika untuk meneladani mereka, yaitu menjadi kudus di zaman ini berarti menjadi kreatif dan bijak dalam memanfaatkan teknologi, terutama Artificial Intelligence (AI).   Semangat perayaan semakin diteguhkan melalui dua sambutan inspiratif. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Pengurus Yayasan Sanata Dharma, Pater C. Kuntoro Adi, S.J. Ia berharap kapel yang telah direnovasi ini dapat menjadi tempat perjumpaan yang akrab antara manusia dan Tuhan. Sambutan kedua adalah dari Pater G. Budi Subanar S.J. yang mewakili Komunitas Apostolik Kolese Santo Robertus Bellarminus. Ia menyampaikan sejarah menarik tentang Kapel dan Pastoran Bellarminus di mana keduanya tercatat pertama kali dalam katalog Serikat Jesus pada tahun 1961. Saat itu ada 10 Jesuit misionaris dan hanya satu dari Indonesia, Pater N. Driyarkara, S.J. Kini, situasinya terbalik, dari 10 Jesuit selebran, hanya ada satu misionaris luar negeri, Pater Spillane S.J. Pater Banar juga menyampaikan bahwa Pater F.A. Susilo, S.J. ditahbiskan di kapel ini pada tahun 1979, dan dalam dua tahun terakhir semangat menggali kembali warisan St. Robertus Bellarminus mulai hidup kembali di USD. Ia berharap semangat ini menjadi sumber inspirasi bagi seluruh civitas.    Setelah Ekaristi, suasana semakin semarak dalam acara ramah tamah yang dimulai dengan simbolisasi pemotongan tumpeng oleh Pater A. Hartana S.J., pemimpin proyek renovasi kapel. Halaman depan Kapel Bellarminus malam itu tampak memesona berkat pancaran cahaya dari lampu-lampu artistik yang menyentuh dinding putih dan kaca patri klasik, menciptakan kesan hangat dan sakral.   Kemeriahan semakin terasa lewat pertunjukan seni dan tari dari berbagai komunitas mahasiswa, mulai dari Komunitas Flobamora, Komunitas Mentawai, KMHD Swastikataruna, CANA Community, Jalinan Kasih Mahasiswa Katolik (JKMK), Komunitas Paingan (KOMPAI), hingga Forum Keluarga Muslim (FKM) Budi Utama. Perayaan Bellarminus Day 2025 ini menjadi momen reflektif sekaligus pengingat bersama, yaitu bahwa seluruh civitas akademika diajak menapaki jalan kekudusan di tengah dinamika zaman, khususnya dalam dunia pendidikan yang semakin menantang. Ad Maiorem Dei Gloriam.   Kontributor: Campus Ministry Universitas Sanata Dharma

Karya Pendidikan

Perjumpaan yang Menumbuhkan

Permulaan yang Dimulai Kembali Ignatian Student Leadership Forum (ISLF) kembali diselenggarakan pada tahun 2025 di Iloilo, Filipina setelah sempat terhenti sejak tahun 2018 akibat pandemi. Forum ini mempertemukan para pelajar dari sekolah Jesuit di sebagian wilayah Asia-Pasifik yakni, Filipina, Australia, Timor Leste, Makau, Taiwan, Hongkong, Kamboja, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Indonesia mengirim 15 orang dari 7 kolese sebagai perwakilan untuk mengikuti acara ini. Christopher Kana Cahyadi, Mikaela Calista Amara, Valencia Audra Sumito mewakili Kolese Gonzaga. Leonard Hazel Widjaja, Jovan Nugroho, Amazel Olavio Siagian mewakili Kolese Kanisius. William Nugroho Setiyo, Daniel Edhi Wicaksono, Bumi Praba Murti mewakili Kolese De Britto. Eugeneus Dimas Prameswardhana mewakili Kolese Mikael, Kevin Anthony Setiawan, Joanna Evanya Ozora Christine, Emanuella Kirana Rosari Lestari mewakili Kolese Loyola. Nathanel Satriya Genggam Darma dan Christopher Lebdo Kusumo mewakili Seminari Mertoyudan. Seluruh peserta dari Indonesia didampingi oleh Pater Baskoro Poedjinoegroho, S.J., Frater Klemens Yuris Widya Denanta, S.J., dan Ibu Maria Pramudita Wetty, M.Si.    Sebelum keberangkatan, Frater Yuris menemani seluruh peserta dari Indonesia mempersiapkan diri dengan memperdalam Ensiklik Laudato Si karya Paus Fransiskus agar siap berdinamika dalam ISLF. Setiap kolese mendapat bagian dari masing-masing bab Ensiklik untuk dipelajari lalu mempresentasikannya secara daring. Proses persiapan ini menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman tentang permasalahan ekologi sekaligus menghayati semangat Ignasian dalam melihat hubungan antara manusia, alam, dan Allah. Para peserta juga bertemu dengan Pater Baskoro Poedjinoegroho, S.J. di Kolese Kanisius. Dalam pertemuan tersebut, Pater Baskoro memberikan arahan sekaligus dorongan bagi para peserta untuk terlibat secara aktif selama forum seperti aktif bertanya, berpartisipasi dalam setiap sesi, dan tidak ragu untuk duduk di baris terdepan.   ISLF 2025 mengusung tema “Engaging the Youth to Engage the World”. Tema ini menjadi sebuah ajakan bagi kaum muda untuk berperan aktif dalam membangun dunia melalui semangat dialog dan kolaborasi lintas budaya. Dalam kegiatan ini para peserta dari berbagai negara diajak untuk mendalami isu ekologi, menjelajahi kekayaan budaya lokal, dan saling berbagi tradisi. ISLF 2025 mengusung nilai sosial dan budaya yang kuat. Jika kita menelusuri lebih dalam, seluruh rangkaian kegiatan ISLF 2025 sejatinya mengacu pada semangat dialog yang hidup. Dalam pembukaan ISLF ini, Frater Bien E. Cruz, S.J. mengajak peserta untuk menyadari peran kaum muda yang signifikan, bukan di masa depan saja, melainkan sejak dari saat ini. Semangat dialog juga tampak dalam proses pembuatan impact tree poster. Para peserta dipertemukan dalam kelompok balay. Di dalamnya, kami diajak untuk menuangkan ide dan gagasan satu sama lain serta mempresentasikannya dalam karya seni. Tidak hanya dalam sesi materi saja, semangat dialog juga terbangun melalui kegiatan cultural night, saat setiap negara menampilkan kebudayaannya masing-masing melalui games dari masing-masing negara yang membuka interaksi lintas budaya secara terbuka. Momen-momen inilah yang membuat dialog terasa hidup selama acara ini berlangsung.   Bila kita meneropong berbagai macam kegiatan yang ditawarkan dalam ISLF 2025, kita akan menemukan kesamaan nilai di dalamnya, yakni perjumpaan. Dalam konteks ini, perjumpaan tidak bisa dimaknai secara sempit sebagai ruang yang di dalamnya terdapat banyak orang. Arti perjumpaan dalam ISLF 2025 sangatlah luas. Peserta tidak hanya diajak untuk menjalin jejaring dengan masyarakat lokal maupun global, tetapi juga berjumpa dengan harta warisan Iloilo City, dengan warga lokal yang merespons masalah ekologi dengan membangun esplanade, bahkan berjumpa dengan dirinya sendiri.     Menemukan Makna Perjumpaan Dengan memasuki ruang perjumpaan, seseorang sedang diajak atau bahkan ditantang untuk menggunakan inderanya. Dalam setiap kegiatan yang ada selama ISLF, selalu ada momen ketika peserta melihat, mendengarkan, menyentuh atau meraba. Kedengarannya sederhana dan mudah diterapkan, namun, perjumpaan akan selalu diikuti dengan tantangan. Untuk masuk ke dalamnya, seseorang harus berani melangkah ke luar dari dirinya sendiri. Di luar diri sendiri, ada banyak hal yang kerap kali tidak kita inginkan.   Melihat realita bahwa dunia terus berkembang, kehadiran kaum muda dalam forum ISLF menjadi semakin penting. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai pribadi yang membawa pengalaman, pertanyaan, dan semangatnya masing-masing. Forum ini menjadi ruang belajar untuk menumbuhkan kepekaan terhadap realita yang lebih luas sekaligus melatih keberanian untuk terlibat secara aktif. Kehadiran kaum muda tidak terlepas dari tantangan yang ada seperti over screen time dan inferiority complex yang kerap membatasi keberanian mereka untuk hadir dan bersuara. Melalui dialog dan perjumpaan yang dialami, para peserta perlahan belajar untuk melampaui batas tersebut.   ISLF 2025 menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar forum kepemimpinan lintas negara. Selama beberapa hari, para peserta sungguh diajak untuk hidup dalam ruang dialog dan perjumpaan. Bukan hanya dengan orang-orang dari berbagai budaya, melainkan juga dengan lingkungan sekitar dan dengan diri mereka sendiri. Berbagai kegiatan mulai dari sesi refleksi, diskusi kelompok, cultural night, hingga games membentuk proses yang membangun dan memperkaya pengalaman para peserta. Di dalamnya, para peserta dapat menemukan arti keterbukaan, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan keindahan dalam keragaman. Pengalaman ini menumbuhkan kesadaran bahwa keterlibatan tidak selalu mulai dari hal besar, tetapi dari kesediaan untuk mendengar, hadir, dan tumbuh bersama. Semangat dan relasi yang lahir tidak padam begitu saja setelah acara ini berakhir. Pengalaman yang berharga ini juga dibagikan dan dihidupkan kembali di lingkungan masing-masing. Apa yang diperoleh dari ruang perjumpaan lintas budaya ini tidak berhenti di Iloilo saja, tetapi juga menjadi inspirasi untuk membangun dialog dan keterlibatan nyata.     Kontributor: Emanuella Kirana Rosari Lestari (Siswa SMA Kolese Loyola) & Nathanel Satriya Genggam Darma (Siswa Seminari St. Petrus Kanisius Mertoyudan)

Karya Pendidikan

Kanisius Belajar

Sharing Praktik PPR dan Bedah Buku Men and Women for Others Jumat, 10 Oktober 2025, keluarga besar Yayasan Kanisius Cabang Semarang dan sejumlah Yayasan Pendidikan Katolik di Kota Semarang mengikuti acara Kanisius Belajar: Sharing Praktik Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) dan Bedah Buku Men and Women for Others karya Pater Melkyor Pando, S.J., di KB-TK Kanisius Kurmosari. Acara ini diselenggarakan Yayasan Kanisius Cabang Semarang dalam rangka menyambut ulang tahun ke-107 Yayasan Pendidikan Kanisius.   Acara ini dibuka dengan materi penguatan PPR dari Ketua Yayasan Kanisius, Pater Heru Hendarto, S.J. Mantan Rektor Kolese Kanisius Jakarta ini mengajak para peserta untuk menyadari bahwa perutusan di karya Pendidikan Kanisius merupakan “Missio Dei” dan para guru adalah Collaboratores Missio Dei tersebut. Semua dipanggil untuk turut serta melakukan stewardship (merawat) karya ini. Seperti dalam Lukas 5:4, semua diundang Yesus untuk Duc in Altum atau bertolak ke tempat yang lebih dalam. Mendalam berelasi dengan Tuhan, mendalam dalam bidang yang diajarkan, dan mendalam melalui cura personalis-caring for the whole person terhadap setiap peserta didik.   Pedagogi Paradigma Ignatian di Tingkat Sekolah Yohana Rosana Meiwati, S.Pd, Kepala Sekolah SD Kanisius Sukorejo berbagi best practice PPR di lingkungan sekolahnya. Cura personalis mereka bangun sedemikian rupa mulai dari kepala sekolah dan para guru serta karyawan. Sekolah menjadi rumah bersama melalui dinamika bersama, baik doa, belajar, rekreasi, dan kegiatan menjaga kebersihan sekolah.   Praktik cura personalis terhadap anak pun dilakukan melalui aneka bentuk. Setiap siswa didampingi secara optimal sesuai bakat, minat, dan kemampuannya sehingga banyak dari siswa di sekolah ini yang berprestasi secara akademik, seni, olahraga, dan sebagainya. Para guru juga mendampingi beberapa siswa berkebutuhan khusus dengan tekun dan sabar sehingga anak-anak tersebut memiliki kepercayaan diri, bahkan ada anak tunadaksa yang menjadi juara dalam ajang paralimpik tingkat Provinsi Jawa Tengah. Lebih lanjut, cura personalis tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, melainkan juga sampai ke rumah orangtua. Home visit ketika ada bayi baru lahir menjadi cara para guru Kanisius untuk menyapa orang tua dan ikut memberi pendampingan.   Kepala Sekolah SMP Kanisius Argotiloso Sukorejo, Yohanes Martono, S.Pd. berbagi cerita praktik cura personalis melalui Canisian Angels (CA). Melalui CA, adik kelas mendapat pendampingan dari kakak kelas, mulai dari studi dan sejenisnya. Selain itu, terdapat kegiatan Kanisius Peduli, dimana para siswa menyisihkan uang saku untuk membantu teman yang kesulitan memiliki sepatu, tas, dan kebutuhan belajar lainnya. Siswa juga belajar menjadi penyiar radio melalui Radio Rehat, berkreasi melalui Mading Digital dan sebagainya. Semua itu dilakukan atas pendampingan para guru yang dengan berbagai cara memfasilitasi kebutuhan anak demi optimalnya perkembangan anak didik.   Men and Women for Others Pater Melkyor Pando, S.J. hadir sebagai penulis buku sekaligus pembicara dalam bedah buku berjudul, Men and Women for Others. Pater Melky sebagai skolastik yang pernah melaksanakan program formasi orientasi karya di Yayasan Kanisius Cabang Semarang, menyampaikan bahwa buku ini lahir dari ketergerakan hatinya melihat terbatasnya sumber-sumber mengenai kekayaan pendidikan Jesuit dalam bahasa Indonesia. Ia berharap, kehadiran buku ini dapat menambah khazanah pengetahuan bagi mereka yang ingin memperdalam keutamaan-keutamaan pendidikan Jesuit dan relevansinya di zaman ini.   Buku yang lahir dari doa dan refleksi yang tekun selama menjalani masa tersiat di Australia ini menampilkan pilar-pilar pokok pendidikan Jesuit sejak awal hingga kini. Buku yang sebagian besar sumbernya ini berasal dari dokumen-dokumen Serikat menegaskan, pendidikan adalah cara menyelamatkan jiwa-jiwa. Aneka best practices di dalam pendidikan Jesuit sepanjang sejarah menunjukkan, meski pendidikan terus mengalami perkembangan sesuai tuntutan zaman, inti dan semangatnya tetap sama, yakni demi membentuk pribadi-pribadi yang utuh sebab pendidikan Jesuit adalah perpaduan model pendidikan skolastik yang berfokus pada critical thinking dan juga humanisme (humaniora – kepekaan hati).   Di hadapan perubahan zaman yang cair ini, sebuah istilah yang Pater Melky ambil dari gagasan pemikir Zygmut Bauman, yakni era yang penuh ketidakpastian, terus berubah, dan ditandai dengan ketidakpastian permanen, model pendidikan Jesuit tetaplah relevan. Kesetiaan menghidupi visi pendidikan Jesuit yang menekankan 4C competence, compassion, commitment, and conscience menjadi kunci untuk membentuk pribadi-pribadi men and women for others di zaman ini.   Sesi bedah buku Men and Women for Others karya Pater Melkyor Pando, S.J. (Dokumentasi: Penulis)   Panggilan Zaman Bagi Bu Sindy, dosen pendidikan agama Katolik di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang hadir sebagai pengulas turut menegaskan, buku Pater Melky memberikan cara pandang dan semangat bahwa nilai-nilai dalam pendidikan a la Jesuit dapat menjadi oase di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan individualisme.   Nilai-nilai Pendidikan Jesuit itu menyalakan harapan bagi generasi Z dan Alpha yang cenderung haus akan makna di tengah kehidupan yang tidak pasti. Semangat refleksi, kecakapan intelektual, dan hati yang peka pada penderitaan sesama akan membantu manusia memukan makna (meaning making) di tengah kecemasan hidup yang kini terus menggerogoti kaum muda. Lebih lanjut, melalui semangat men and women for others, generasi di zaman ini dibantu untuk menemukan tujuan hidupnya, bahwa hidup bukan tentang aku saja, tetapi juga ada sesama di sekitarku yang perlu aku perhatikan.   Momen kebersamaan ini bertambah meriah dengan acara bagi-bagi hadiah dan makan siang bersama. Menariknya, meski hadiah dalam doorprize kali ini bukan untuk dibawa pulang oleh para guru ke rumahnya masing-masing, melainkan untuk menambah fasilitas di sekolah, para peserta tetap begitu antusias mengikutinya. Pada akhirnya, semoga momen belajar dan bersukacita bersama ini mendorong para pendidik di Kanisius untuk siap sedia menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam membentuk diri dan para murid yang dilayani menjadi men and women for others!   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.