Pilgrims on Christ’s Mission

Penjelajahan dengan Orang Muda

Penjelajahan dengan Orang Muda

Oleh-Oleh dari Chiang Rai

Pada 19-26 Desember 2022, perwakilan skolastik SJ di JCAP berkesempatan mengikuti workshop SBC (Scholastics and Brothers Circle) di Chiang Rai, Thailand. SBC edisi 2022 diadakan di Xavier Learning Community (XLC), sebuah tempat berudara sejuk yang menjadi rumah pendidikan khas Jesuit bagi orang muda di Thailand. Dalam SBC tersebut, sekitar 50 skolastik dari berbagai negara terlibat untuk saling berjumpa dan menimba inspirasi. Tema yang diangkat dalam SBC kali ini adalah Kerasulan Orang Muda dan Promosi Panggilan. Kami tidak bisa membawakan khanom jeen naam ngiaw, khao soi, jin tup atau makanan khas Thailand utara lainnya. Aneka makanan itu ya paling enak dinikmati di ‘habitatnya’ langsung. Namun demikian, semoga cerita singkat ini boleh menjadi oleh-oleh yang bisa dinikmati bersama. Gereja, Rumah bagi Orang Muda Kegiatan workshop dalam SBC dibuka dengan audiensi bersama Mgr. Silvio Siripong Charatsri, Uskup Keuskupan Chanthaburi. Meskipun keuskupannya berada cukup jauh dari Chiang Rai, beliau berkenan hadir karena sangat menaruh perhatian pada orang muda. Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Siripong mengatakan bahwa ada tiga hal yang hendaknya perlu disadari dalam diskusi yang terjadi. Pertama, orang muda sebagai bagian pokok dalam Gereja. Kedua, Gereja sebagai rumah bagi orang muda. Ketiga, membangun prakarsa untuk membuat Gereja terbuka bagi orang muda. Mgr. Siripong juga menekankan pentingnya para Jesuit untuk berakar dalam Kristus dan dengannya bertumbuh dalam iman. Hanya dengannya, kita dapat menemani orang muda di dalam karya-karya kerasulan kita. Untuk memperkaya diskusi, para skolastik juga diminta untuk membagikan pengalamannya dalam kerasulan orang muda di Provinsi masing-masing. Para skolastik Indonesia dan para skolastik dari berbagai Provinsi juga membagikan pengalaman kerasulan-kerasulan orang muda dalam konteks masing-masing. Presentasi terasa menarik karena kami semakin mengetahui prakarsa-prakarsa kreatif dari berbagai negara untuk lebih menyapa semakin banyak orang muda di tengah tantangan dan peluang yang ada. Energi orang muda makin terasa ketika diadakan presentasi budaya dari masing-masing negara dan perayaan natal bersama para siswa-siswi XLC. Mendengarkan dan Menjadi Teladan Kebijaksanaan Orang Muda Diskusi yang terjadi selama SBC menjadi semakin kontekstual karena menghadirkan berbagai narasumber. Salah satu yang inspiratif adalah hadirnya seorang imam diosesan dan beberapa kolaborator awam yang begitu menaruh perhatian pada kerasulan orang muda di Thailand dimana Katolik merupakan agama minoritas. Pada sesi lain, Mrs. Montira Hokjarean mengajak kami untuk menyadari pentingnya lebih banyak “mendengarkan” orang muda yang hidup di tengah situasi dunia dewasa ini. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, generasi muda menjadi lebih beragam dan unik. Oleh karena itu, mendengarkan menjadi kunci untuk memahami orang muda. Kehadiran para narasumber awam yang kompeten dalam dunia orang muda, membawa kami pada sebuah kesadaran bahwa generation gap dapat terjadi meskipun kerasulan orang muda ditangani oleh orang muda. Dalam diskusi dan perbincangan selanjutnya, para peserta SBC semakin menyadari bahwa para Jesuit diundang untuk terlibat dalam konteks kehidupan muda sebagai representasi Gereja. Dalam suatu diskusi, P Ted Gonzales, S.J., imam Jesuit dari Filipina, menyampaikan refleksinya bahwa orang muda pada dasarnya memerlukan teladan kebijaksanaan. Di situlah para Jesuit harus berperan di zaman ini. Sementara itu saudari Meechar Moppo, seorang murid XLC, memberikan konfirmasi bahwa yang orang muda paling butuhkan adalah para religius yang tak sekadar meminta mereka untuk membaca Kitab Suci dan menghadiri kelas katekismus. Orang muda butuh diajak dan diinspirasi ketika menghidupi iman dalam tindakan konkret. Dia berharap supaya para Jesuit menemani orang muda untuk menjadi men and women for and with others. Urgensi Promosi Panggilan Aspek Promosi Panggilan juga menjadi salah satu menu utama dalam workshop SBC. Dalam sharing pengalamannya, P Sarayuth Konsupap, S.J., seorang mam Jesuit muda dari Thailand jebolan STF Driyarkara yang lebih populer dengan sebutan “Romo Thep”, mengajak kami untuk merenungkan hidup orang muda dalam konteks Promosi Panggilan. Sebagai Jesuit kita masing-masing merupakan promotor panggilan dan oleh karena itu Promosi Panggilan yang terbaik adalah dengan kesaksian hidup kita sehari-hari sebagai Jesuit. Kami sungguh terkesan dengan cerita P Miguel Garaizábal, S.J. (Superior Regio Thailand) tentang bagaimana para Jesuit mengembangkan panggilan di Thailand dengan kesaksian hidup mereka. Menarik bahwa P Garaizábal dan Romo Thep merefleksikan panggilan di Thailand itu ibarat seekor gajah yang sedang mengandung. Lama sekali baru melahirkan, itupun hanya melahirkan satu. Pelayanan orang muda dan promosi panggilan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Sejalan dengan pelayanan orang muda, P Eric Escandor, S.J. sebagai Jesuit yang saat ini berkarya sebagai full-timer Promotor Panggilan (vocation promoter) bagi Provinsi Filipina mengatakan bahwa yang terpenting dalam promosi panggilan orang muda adalah menemani mereka untuk mengalami perjumpaan personal (personal encounter) dengan Allah sendiri. Pada akhirnya, pilihan menjadi Jesuit atau tidak merupakan buah perjumpaan itu. Apa yang ditegaskan oleh Romo Thep dan P Eric Escandor menggugah kami. Muncul pertanyaan yang menggugat kami, yaitu apakah aku selama ini sudah menjadi Promotor Panggilan melalui sikap dan cara bertindakku? Bukan Hanya di Indonesia SBC adalah kesempatan untuk mengalami perjumpaan dengan Jesuit dari berbagai negara dan latar belakang. Sepuluh hari kami merasakan apa yang disebut dengan Serikat Jesus Universal. Di tengah perbedaan yang ada, kami hadir di Chiang Rai dalam kesatuan dengan orang-orang yang menjiwai Latihan Rohani St. Ignatius Loyola dan menghidupi nilai-nilai keserikatan. Dalam sambutan penutup SBC 2022, P Tony Moreno, S.J., Presiden JCAP, memberi pesan bahwa, “Panggilan kita itu universal, tidak hanya terbatas dalam provinsi tempat asal masing-masing. Marilah kita mohon rahmat Roh Kudus supaya membesarkan hati siapapun untuk berani diutus ke luar dan ke dalam di tempat yang semakin membuahkan rahmat.” Kontributor: Frs. Andre Mantiri SJ, Robert Kalis Jati SJ, Ferry Setiawan SJ, Peter Seng Dan SJ

Penjelajahan dengan Orang Muda

Antara Doa dan Karya, Mana yang (Lebih) Baik?

Judul di atas dilontarkan kepada para partisipan Cafe Puna oleh moderator, Fr. Aman Aslam, seorang skolastik Jesuit dari Pakistan yang sedang studi filsafat di STF Driyarkara Jakarta. Judul itu tidak bermaksud mengajak partisipan untuk memilih salah satu dari keduanya. Pertanyaan tersebut mengantar para partisipan untuk masuk ke dalam topik bahasan Cafe Puna kali ini yang dibawakan oleh Fr. Yohanes Krisostomus Septian Kurniawan sebagai pemateri dan Diakon Antonius Siwi Dharmajati sebagai penanggap. Cafe Puna kali ini bertajuk Tegangan antara Doa dan Karya: Mana yang (lebih) baik? Setelah Sekian Lama Daring Untuk pertama kalinya, Cafe Puna diadakan secara luring lagi pada Kamis, 17 November 2022. Selain diadakan secara luring, juga dibuka Zoom bagi para partisipan daring. Ada sekitar 60 orang yang hadir secara luring dan ada sekitar 40 orang yang hadir secara daring. Cafe Puna yang diadakan satu kali dalam satu semester perkuliahan ini, dihadiri oleh beragam kalangan mulai dari umat lingkungan sekitar Paroki St. Bonaventura Pulomas Jakarta, beberapa teman MAGIS Jakarta, PERSINK KAJ, KMK KAJ, dan kerabat-kerabat Komunitas Skolastikat Unit Pulo Nangka. Cafe Puna diadakan sebagai forum untuk menimba bersama warisan rohani St. Ignatius yang tetap relevan hingga sekarang. Dalam sambutannya, P Guido Chrisna Hidayat menyampaikan bahwa Cafe Puna yang sudah dimulai sejak sekitar 10 tahun yang lalu menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu untuk belajar bersama mengenai Spiritualitas Ignatian. Cafe Puna ada untuk menyapa semakin banyak orang dan belajar bersama, bukan sekadar memaparkan materi saja. Manusia dalam Tegangan Topik mengenai “manusia dalam tegangan” merupakan pokok pemaparan Fr. Septian. Ia mengantar para partisipan dengan menyampaikan konteks masyarakat masa kini yang mengalami berbagai distraksi, seperti perfeksionisme, egoisme, serta kecanduan pada media dan internet. Beranjak dari konteks itu, Fr. Septian dengan sangat apik membagikan refleksi sekaligus pengalamannya dalam menghidupi tegangan doa dan karya ini. Pengalaman dan refleksinya juga merupakan cerminan beberapa kisah Ignatius mengalami tegangan, seperti saat Ignatius studi di Barcelona. Selain pilihan materi yang menarik, banyak partisipan tersapa dengan sense of humor yang Fr. Septian bawakan dalam menyampaikan materi. Selain itu, Diakon Siwi menggarisbawahi tiga pokok dalam kaitannya dengan pemaparan Fr. Septian. Pertama, pertanyaan tajuk Cafe Puna lebih bermaksud untuk memprovokasi para partisipan. Sebenarnya, keduanya, doa dan karya itu sama-sama baik. Kedua, doa dan karya itu harus dilakukan secara bersamaan seperti apa yang disebut sebagai simul contemplativus in actione. Karya tidak menggantikan doa dan doa tidak menggantikan karya. Keduanya diberi porsi yang seimbang. Ketiga, Diakon Siwi juga menyampaikan bahwa eksamen adalah satu dari sekian cara doa yang dapat membantu seseorang menemukan Tuhan dalam segala. Diakon Siwi menekankan bahwa status manusia adalah manusia dalam tegangan. Berlatih Eksamen Bersama Tidak hanya berhenti dalam pemaparan dan tanya jawab, pada akhir presentasi, semua partisipan berlatih eksamen bersama. Sekitar 10 menit, Fr. Septian memfasilitasi latihan eksamen ini untuk para partisipan yang hadir. Secara serempak, para partisipan dengan serius mempraktikkan eksamen ini. Selain itu, Cafe Puna ini diakhiri dengan ramah tamah di salah satu ruang di Unit Skolastikat Pulo Nangka. Akhir kata, semoga Cafe Puna dapat menjadi forum untuk menimba bersama spiritualitas Ignatian. Kontributor: Frater A.A. Ferry Setiawan, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Tebarkan Kepedulian, Ciptakan Kebersamaan

Tidak pernah terbersit sebelumnya di pikiran kami untuk berdinamika dan berproses bersama di Perkampungan Sosial Pingit, sebuah tempat yang namanya saja terdengar asing untuk kami. Namun, sepertinya memang Tuhan telah menyiapkan rencana yang luar biasa agar kami dapat melayani dan melakukan kegiatan yang bermanfaat di sana. Berawal dari tugas agama untuk melakukan bakti sosial yang diberikan oleh guru kami, akhirnya kami memulai diskusi untuk menentukan kegiatan apa yang sekiranya dapat kami lakukan sesuai dengan kapasitas kami. Pada awalnya, Pingit bukanlah sasaran pertama kami dalam melakukan kegiatan bakti sosial. Rencana awal yang telah kami sepakati adalah membagikan beberapa paket makanan dan minuman kepada tukang becak, pemulung, pengamen, dan pengemis di pinggir jalan sambil mengitari kota Jogja. Alasannya adalah karena kegiatan ini sederhana dan mudah untuk dilakukan. Namun, salah satu teman kelompok kami merasa bahwa kegiatan itu kurang meninggalkan kesan yang mendalam karena kami hanya berbagi saja tanpa mengetahui lebih dalam tentang kehidupan mereka. Kami pun akhirnya berdiskusi kembali, memilah dan memilih masukan serta pendapat yang ada, hingga akhirnya memutuskan untuk membuat kegiatan kecil-kecilan di sebuah komunitas anak pinggiran di kota Yogyakarta. Kegiatan ini sangat menarik bagi kami karena kami dapat lebih belajar mengenai kondisi dan kehidupan saudara-saudara kami di luar sana. Banyak sekali pertimbangan dan perdebatan dalam memilih tempat untuk kami melakukan bakti sosial ini. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk memilih Perkampungan Sosial Pingit sebagai tempat kami untuk berdinamika, berproses, dan berbagi. Setelah menentukan tempat ini, dua teman perwakilan melakukan survei langsung ke Perkampungan Sosial Pingit. Puji Tuhan, niat baik kami disambut baik oleh para frater, ketua RT, dan warga setempat. Setelah itu pun, masih banyak proses yang kami lalui, mulai dari mencari dana, menentukan kegiatan apa yang akan kami lakukan di sana, apa yang bisa kami bagikan kepada mereka, dan lain sebagainya. Waktu terus berjalan hingga sampailah pada hari di mana kami akan melaksanakan bakti sosial di Perkampungan Sosial Pingit, yakni pada Sabtu, 8 Oktober 2022. Kami berdinamika serta berproses bersama dengan kurang lebih 30 anak SD yang ada di sana. Kami mengadakan lomba kecil-kecilan mulai dari membuat name tag hingga bermain estafet karet agar kegiatan kami dapat lebih menyenangkan. Di akhir acara, kami melakukan sesi foto sebagai kenang-kenangan. Melihat mereka senang dalam berproses bersama kami, rasanya segala lelah yang kami rasakan menjadi terbayarkan. Kegiatan yang kami lakukan bisa terbilang kegiatan yang sederhana, namun mereka menghargai dan menikmati kesederhanaan itu. Kegiatan ini membuat kami sadar, bahwa setiap orang memiliki situasi yang berbeda-beda. Mereka yang mungkin kurang beruntung, tetapi selalu tersenyum walau tahu bahwa hidup ini berat. Ketika bertemu dengan mereka, terlintas di benak kami bahwa ada satu hal yang dapat kita lakukan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih menyenangkan, lebih menggembirakan, bahkan mulia. Hal itu adalah bersyukur. Apa yang kami lihat pada anak-anak tersebut membuat kami merasa tertampar dan akhirnya tersadar bahwa selama ini pola berpikir kami masih terlalu sempit. Kami menyadari bahwa seringkali kami terus-menerus mengeluh terhadap hidup yang kami jalani dan tidak mensyukuri limpahan berkat Allah. Berproses bersama mereka, akhirnya membuat kami mengubah pola pikir kami tentang bagaimana cara memaknai hidup. Jadi, jika ditanya pengalaman apa yang paling mengesankan dari kegiatan ini, kami rasa akan sulit untuk menjawabnya. Sebab, melaksanakan kegiatan bakti sosial di Pingit ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi kami semua. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan momen yang akan selalu kami ingat dan menjadi salah satu kenangan yang sulit untuk dilupakan. Kami juga sangat terkesan dengan para frater serta volunteer yang bersedia untuk bekerja sama serta dengan loyal membantu kami dalam mempersiapkan semua rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir acara ini. Antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan kami hingga akhir juga memiliki kesan yang luar biasa untuk kami. Atas kerja keras kami dan juga bantuan dari frater, volunteer, warga Pingit, dan tentunya juga dengan campur tangan Tuhan, acara yang kami buat dapat berjalan dengan lancar. “The most beautiful thing in life is when we are grateful for what we have without any regrets.” Kontributor: Zora, Lydia, Nathania, Dinda, Vania, Nania, Dela, Karin, dan Filia (Siswi-siswi Kelas XII MIPA 2 SMA Stella Duce 1 Yogyakarta)

Penjelajahan dengan Orang Muda

Show Your Fire, Take Your Desire

Lustrum IX Seminari Tinggi InterdioSesan San Giovanni XXIII Selasa, 11 Oktober 2022, pada hari raya Santo Yohanes XXIII, Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII merayakan Lustrum XI dengan tema Show Your Fire, Take Your Desire. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak; dan didampingi oleh Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF – Uskup Agung Samarinda; R.D. Dr. Alphonsus Tjatur Raharso, Pr. – Vikjen Keuskupan Malang; Romo Krispinus Cosmas Boli Tukan, MSF – Vikjen Keuskupan Banjarmasin dan semua staf Seminari Tinggi. Dengan tema Show Your Fire, Take Your Desire, Seminari ingin mengajak para frater untuk meyakini bahwa Allah yang memanggil untuk mengutus dan menggembalakan domba-dombaNya agar para domba selalu sehat serta menikmati hidup kekal. Perayaan ini juga mengingatkan tugas pelayanan imam agar mau berkorban demi segala perutusan yang diberikan oleh Bapak Uskup. Oleh karena itu, diperlukan kerendahan hati para pelayan umat agar domba-domba tidak lari, berkeliaran, bahkan dimangsa serigala. Mgr. Agustinus Agus sebagai selebran utama mengungkapkan dalam homilinya, “Kerendahan hati itu akan membuat nyaman hidup, sedangkan kesombongan hanya akan memunculkan banyak musuh. Contohnya saja misal imam yang menggunakan mimbar untuk mencemooh umatnya hanya akan membuat banyak musuh di sekitarnya. Kerendahan hati adalah kunci menjadi gembala baik yang akan dicintai umatnya.” Begitulah pesan Mgr. Agus untuk para frater di seminari. Serikat Jesus di seminari ini terlibat dalam pelayanan rohani para frater. Serikat Jesus mengutus dua imamnya, P. Basilius Soedibja, S.J. dan P. Herman Joseph Suhardiyanto, S.J. sebagai pembimbing rohani para frater. Serikat Jesus telah hadir bersama para frater interdiosesan selama 32 tahun. Dalam perayaan lustrum ini P. Soedibja berharap agar para frater setia dalam tugas dan pelayanannya serta hidup dalam imamat yang kokoh. Menjadi imam di zaman ini memang tidaklah mudah. Mereka tidak hanya memerlukan pengetahuan yang baik akan teologi, melainkan juga dibutuhkan semangat kerendahan hati seperti yang telah diutarakan oleh Bapak Uskup dalam homilinya. Perayaan ini merupakan perayaan puncak dengan rangkaian acara yang sudah terlaksana seperti aksi sosial donor darah, lomba mewarnai untuk anak-anak, workshop Pancasila, reuni alumni, ziarah ke makam pendiri, live in paroki, jalan sehat bersama umat dan juga penduduk sekitar, bazar murah, serta pameran lukisan. Fr Eduardus I Kadek Suryajaya, Pr, Ketua Panitia, di akhir sambutannya memohon doa agar setiap kegiatan yang ada selama Lustrum ini tidak hanya selesai sampai di sini melainkan terus membentuk karakter menjadi imam yang penuh integritas dan mau berkembang menghadapi zaman. Kontributor: P. Ignatius Windar Santoso, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

100 Tahun Kolsani: Terlibat dalam Ruang Publik

Menyongsong 100 Tahun Kolsani Pada 18 Februari 2023 mendatang Kolsani akan genap berusia 100 tahun. Perjalanan sejarah Kolese Ignatius Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari peran dan keterlibatannya, baik dalam konteks Gereja Lokal maupun dalam sejarah bangsa Indonesia terutama sebagai tempat formasi teologi bagi para frater Jesuit. Peringatan ini menjadi momen penting bagi Kolsani untuk menelusuri dan merefleksikan lagi jejak sejarah keterlibatan Kolsani dalam urusan-urusan publik. Pada peringatan 100 tahun ini, Kolsani hendak memaknai kembali keterlibatan yang dilakukan dalam ruang-ruang publik, terutama dalam upaya pembangunan refleksi teologis yang semakin kontekstual. Sejak semula telah disadari bahwa sejatinya kehadiran Kolsani bukan semata-mata untuk kepentingan Gereja, tetapi hadir secara luas untuk kepentingan publik. Dalam upaya untuk meneropong keterlibatan Kolsani dalam ruang publik, Kolsani menggunakan kerangka teologi publik sebagai kerangka merefleksikan proses pembangunan iman dan kehidupan bersama di bumi Nusantara ini. Peristiwa peringatan 100 tahun Kolsani ini menjadi sarana refleksi atas pengalaman masa lalu dan apa yang telah berjalan selama ini sehingga harapannya, Kolsani semakin mampu memberikan terobosan penting bagi Gereja Lokal dan bangsa ini di waktu mendatang. Harapan lainnya, Kolsani dapat sungguh-sungguh terlibat dalam segala urusan publik, bersama dengan pihak-pihak lain yang berkehendak baik, yang sama- sama mau memperjuangkan kesejahteraan bersama. Pembukaan Acara 100 Tahun Kolsani dan Talkshow Interaktif Pada 24 September 2022, acara 100 Tahun Kolsani resmi dibuka. Dalam acara ini, Pater Antonius Sumarwan, S.J. selaku ketua umum peringatan 100 Tahun Kolsani memberi gambaran singkat mengenai semangat dasar di balik perayaan 100 Tahun Kolsani dengan menjelaskan makna logo yang dipakai. Penjelasan Logo 100 Tahun Kolsani: Setelah pemaparan singkat dari Pater Marwan, S.J. itu, Pater Aria Dewanto, S.J. selaku Rektor Kolsani, membunyikan lonceng legendaris yang ada di Ruang Rekreasi Frater untuk menandai dibukanya rangkaian acara 100 Tahun Kolsani. Setelah pembukaan rangkaian kegiatan 100 Tahun Kolsani, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif bersama orang-orang muda yang menjadi kolaborator Kolsani. Banyak orang muda yang hadir dalam acara ini, mulai dari muda-mudi HKBP Kotabaru, muda-mudi Masjid Syuhada, OMK Kotabaru, muda-mudi Ahmadiyah, YIPC (Youth Interfaith Peace Camp), mahasiswa UIN Kalijaga, mahasiswa UKDW, volunteer Pingit dan Realino, dan lain sebagainya. Kurang lebih ada 100 orang muda berkumpul dan berpartisipasi dalam acara ini. Talkshow yang bertajuk “Orang Muda dalam Gerakan Sosial dan Dialog Lintas Iman” ini dimoderatri oleh Fr. Amadea Prajna Putra Mahardika, S.J. Dua sahabat dari YIPC, yakni Ahmad Daeng dan Riston Nainggolan berbagi pengalaman tentang gerakan orang muda dalam dialog lintas iman. Ahmad dan Riston memberikan penekanan penting bahwa dialog itu hanya mungkin ketika ada perjumpaan serta ada keberanian untuk bertanya secara jujur dan tulus. Hanya dalam cara seperti itu, proses untuk saling memahami akan dapat berjalan dan prasangka-prasangka akan bisa dihilangkan. Tak ketinggalan, kami juga mengundang teman-teman dari volunteer Pingit yang diwakili oleh Claudia Lado dan Andanta Anggitiarsa untuk memberikan sharing tentang pengalaman mereka dalam pendampingan sosial bagi anak-anak di Pingit. Kedua sahabat kita ini menegaskan bahwa segala aksi kemanusiaan bisa memberikan ruang makna dan motivasi bagi anak-anak muda untuk terus bertumbuh, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain yang membutuhkan. Pada akhir sesi, Pater Bambang Irawan, S.J. memberikan simpul penegasan supaya orang muda tidak cenderung “mendem ilmu” atau mabuk ilmu. Pater Bambang Irawan, S.J. mengajak orang muda untuk berani bermimpi dan membuat proyek kehidupannya sendiri. Rangkaian Acara 100 Tahun Kolsani Untuk memeriahkan acara 100 Tahun Kolsani, panitia telah menyiapkan acara-acara yang bisa diikuti oleh khalayak umum. Dalam bidang akademik, kami akan memulai penelitian tentang kehidupan orang-orang muda dalam gerakan sosial dan dialog lintas iman yang diteropong lewat kerangka teologi publik. Hasil penelitian ini akan menjadi bahan seminar pada bulan Maret 2023 mendatang. Dalam bidang sosial, kami akan mengadakan bakti sosial seperti kerja bakti bersama dan sembako murah yang kami tujukan kepada warga sekitar Kolsani. Kami akan menggandeng warga sekitar dan para pemuda di wilayah Kotabaru untuk menggarap acara ini. Harapannya, acara ini menjadi sarana untuk memperkuat jaringan relasi yang selama ini sudah ada. Bagi orang muda yang ingin mengembangkan kreativitasnya, ada juga lomba-lomba yang bisa diikuti seperti fotografi, desain poster, cover lagu, dan menulis cerpen. Pokoknya, jangan lupa daftarkan dirimu dan menangkan hadiah-hadiahnya! Dalam rangkaian perayaan ini, akan ada pula acara tahbisan imam di bulan Februari 2023 mendatang. Perayaan tahbisan ini menjadi ungkapan syukur Kolsani atas segala proses formasi yang telah dijalankan selama 100 tahun. Pada bulan April 2023 nanti, acara puncak perayaan 100 Tahun Kolsani akan diselenggarakan. Acara akan dimulai dengan misa syukur dan dilanjutkan dengan pentas kebudayaan dari para kolaborator Kolsani dan Serikat. Akhirnya, semoga perayaan 100 Tahun Kolsani ini menjadi ruang perjumpaan bagi kita semua untuk semakin mengakrabkan diri dan membuka ruang-ruang kolaborasi yang bisa kita tujukan bagi kebaikan Gereja serta bangsa dan negara ini. Kontributor: Yulius Suroso, S.J. – Skolastik Jesuit

Penjelajahan dengan Orang Muda

Rehat Sejenak, Ngobrol Bersama, agar Hidup Tidak Terlewat Begitu Saja

Setiap Jumat Podcast Podcast, Playable on Demand (POD) dan broadCAST, adalah salah satu media digital yang digandrungi oleh kaum muda saat ini. Kemudahan akses audio-video melalui berbagai aplikasi dan tersedianya obrolan dengan topik yang beragam membuat podcast menjadi pilihan yang nyaman dan menyenangkan, baik saat berpergian maupun saat menikmati waktu luang. Memanfaatkan media ini, Serikat Jesus Provinsi Indonesia kembali meneruskan proyek Setiap Jumat Podcast yang sudah diprakarsai sejak akhir tahun 2019. Setiap Jumat Podcast (SJP) mencoba melihat kembali pengalaman hidup sehari-hari dengan kacamata Spiritualitas Ignasian dan sedapat mungkin mengambil makna berupa konkretisasi (tips and tricks) yang bermanfaat. Berbeda dengan season sebelumnya, SJP Season 2 ini merupakan proyek kolaborasi antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan Komunitas MAGIS Indonesia dan para OMK Paroki Jesuit. Mempertimbangkan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, seluruh proses produksi SJP Season 2 ini dilakukan secara virtual dari masing-masing domisili anggota tim SJP yang tersebar-luas di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Kalimantan. Episode SJP Season 2 tayang dua minggu sekali setiap hari Jumat melalui berbagai platform, seperti Anchor, Spotify, dan aplikasi radio Katolikana & e-Katolik.  Walaupun mungkin terkesan berat, Spiritualitas Ignasian nyatanya sangat aplikatif membantu seseorang dalam memaknai peristiwa hidupnya sehari-hari. Dua puluh empat episode SJP Season 2 membahas berbagai fenomena yang juga menjadi keprihatinan Gereja, seperti toleransi akan keberagaman, kesehatan mental, panggilan, dan pilihan hidup. Untuk semakin memperkaya obrolan, SJP Season 2 telah melibatkan kurang lebih 17 kolaborator yang berasal dari Serikat Jesus dan berbagai komunitas awam sebagai narasumber. Pada 14-15 Mei 2022 di Bandung, Tim SJP mengadakan Malam Keakraban (Makrab) sekaligus Evaluasi Terakhir Season 2 ini. Perjumpaan tersebut merupakan kali pertama anggota tim SJP bertemu satu sama lain secara langsung setelah hampir satu tahun hanya dapat bertemu secara online. Acara makrab diawali dengan barbeque bersama dan kembali berkenalan. Pagi harinya, sebagian anggota Tim SJP berkesempatan mendaki Gunung Batu untuk menikmati terbitnya matahari dan menghirup udara segar Bandung. Acara dilanjutkan dengan evaluasi yang mencakup sharing dari masing-masing tim SJP yakni Pra-produksi, Penyiar, Audio Editor, dan DKV sosial media. Secara umum, setiap tim menyampaikan dinamika selama proses produksi, apa yang dapat dikembangkan dan apa yang perlu dipertahankan. Acara kemudian ditutup dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo Bambang Alfred Sipayung, SJ, Socius Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia.  Dalam evaluasi, disampaikan pula data statistik SJP Season 2 yang dapat diamati di aplikasi Spotify dan Instagram. Dari Spotify, dapat dilihat bahwa rata-rata pendengar adalah 237 orang dan rata-rata mendengarkan 80% dari setiap episodenya. Statistik di Instagram menunjukan bahwa pengikut akun @setiapjumatpodcast berusia 13 sampai lebih dari 65 tahun dengan 51% pengikut berusia antara 1 dan 34 tahun. Salah satu inovasi yang dilakukan tim DKV Sosmed adalah 5 IG Reels yang telah menjangkau 4298 akun Instagram. Statistik di Instagram dapat digunakan untuk mengenali profil pengikut akun @setiapjumatpodcast dan mengarahkan SJP di masa mendatang untuk menjangkau lebih banyak kalangan. Spotify dan Instagram menunjukkan data yang berbeda mengenai episode yang paling populer dalam SJP Season ini. Data Spotify menunjukan episode ke-8, ‘Memaknai Kegagalan dalam Perjuangan,” sebagai episode terpopuler dengan lebih dari 450 pendengar, sedangkan data Instagram menunjukan postingan episode ke-11, ‘Tuhan Memang Satu Kita yang Tak Sama,’ sebagai postingan yang mampu menjangkau hampir 2500 akun.  Terlepas dari data statistik yang diperoleh dari Spotify dan Instagram, Fr. Lambertus Alfred, SJ, anggota tim SJP Season 2, memiliki refleksi yang menyentuh dan cukup menggambarkan proses produksi SJP Season ini.  SETIAP JUMAT PODCAST “Acara di Bandung kemarin bagiku jadi satu monumen refleksi kolaborasi yang berharga: kolaborasi yang lebih dari sekadar pembagian kerja dan dikejar deadline bersama, yang meski diawali rasa pekewuh (ga enakan) tapi lalu dirawat dengan kesetiaan dan kemurahan hati. Terima kasih karena sudah boleh mengenal teman-teman baru (dan teman-teman lama), belajar tentang hal-hal baru (maupun yang tidak terlalu baru), dan terlebih karena boleh terus kagum pada bagaimana Tuhan bekerja lewat kehadiran teman-teman. Mohon maaf jika ada kesalahan, sampai jumpa di lain kesempatan!”(semoga besok-besok kita boleh rehat sejenak dan ngobrol bersama lagi) Mengukur keberhasilan SJP  Season 2 dengan manajemen modern dengan menggunakan ukuran seperti  Key Performance Indicator (KPI) tentu tidak bisa dilakukan. SJP Season 2 ini belum dirancang dengan kriteria seperti itu melainkan meletakkan sebuah upaya kerjasama membagikan refleksi tentang spiritualitas Ignatian. SJP Season 2 menjadi bukti nyata rahmat penyertaan Tuhan sehingga kolaborasi antar berbagai pihak sangat dapat dilakukan sekalipun di dalam masa pandemi yang penuh tantangan. Kontributor : Ariadne Mael – Alumni Komunitas Magis Jakarta

Penjelajahan dengan Orang Muda

Kaliankah “Creators of Hope” di Asia Pasifik?

Jaringan Rekonsiliasi dengan Seluruh Ciptaan dan Lingkungan Hidup Konferensi Jesuit Asia Pasifik (JCAP) ingin mencari orang-orang muda yang sedang mengerjakan proyek berwawasan lingkungan hidup di seluruh wilayah Asia Pasifik. Proyek tersebut memiliki dampak atau kontribusi signifikan bagi masyarakat luas dalam merespon krisis ekologi zaman ini. Sepuluh orang, dari rentang usia 18-25 tahun, akan dipilih dan diberikan masing-masing USD 2.000 (setara 30-an juta rupiah) yang dapat digunakan untuk membantu pengembangan kerja atau proyek mereka. Para “Pencipta Harapan” ini—serta kisah dan karya mereka—akan disorot dan dibagikan ke seluruh jaringan JCAP pada tahun 2022 dan 2023. Creators of Hope adalah proyek yang digagas oleh tim inti Rekonsiliasi dengan Seluruh Ciptaan dalam rangka memperingati Tahun Ignatian. Proyek ini bertujuan untuk menyoroti individu atau kelompok orang muda di seluruh Asia Pasifik yang mengaktualisasikan cinta mereka bagi semua ciptaan dan pelayanan bagi orang miskin. “Mereka adalah sumber inspirasi dan harapan bagi kaum muda lainnya dalam wilayah JCAP,” kata Pater Gabby Lamug-Nañawa, S.J., Koordinator Rekonsiliasi dengan Seluruh Ciptaan JCAP. “Orang bereaksi [terhadap krisis ekologis] dengan cara beragam, ada yang lantas depresi, cemas, atau marah. Banyak orang, terutama kaum muda, juga menjadi aktivis dengan cara yang berbeda. Tetapi yang ingin kami soroti adalah harapan, ” katanya. “Harapan terjadi melalui tindakan. Ketika seseorang mengatasi masalah ini dengan tindakan nyata, harapan muncul dalam diri mereka sendiri dan juga orang lain. Itulah yang ingin kami lakukan. Kami ingin menyoroti orang-orang muda yang sudah melakukan sesuatu untuk memberi harapan kepada orang lain.” Pencarian Creators of Hope dimulai pada bulan April ini. Siapa pun yang berusia 18-25 (sebelum 31 Juli 2022) dan saat ini tinggal di kawasan Asia Pasifik, tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, identitas budaya, orientasi seksual, atau disabilitas, dipersilakan untuk mendaftar. Mereka yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini,haruslah sedang mengerjakan proyek yang berwawasan lingkungan atau sedang menangani masalah ekologi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat, terutama masyarakat miskin. Proyek ini harus menunjukkan aspek seruan Paus Fransiskus dalam Laudato sí. Juga harus ada bukti dampak positif atau kontribusi kerja proyek bagi masyarakat. Kelompok atau organisasi kecil juga dipersilakan mendaftar, tetapi hanya satu orang yang mewakili atau menjadi “wajah” dari proyek tersebut. Nilai-nilai seperti kasih sayang, kemurahan hati, kreativitas, cinta akan ciptaan, dan pelayanan bagi orang miskin harus terlihat jelas dalam proyek dan di antara mereka yang terlibat. Sepuluh pemenang Creators of Hope yang terpilih akan diumumkan pada 29 Juli 2022 melalui website dan media sosial JCAP. Proyek ini diinspirasi oleh Greta Thunberg, seorang muda di lini depan advokasi iklim, yang mengatakan, “Kita tidak boleh membiarkan para penguasa menentukan apa itu harapan. Harapan tidaklah pasif. Harapan itu perlu tindakan. Dan harapan seringkali datang dari orang-orang biasa.” Informasi dan pembaruan lebih lanjut mengenai Creators of Hope dapat disimak melalui Facebook, Instagram, dan Twitter Diterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari artikel Searching for “Creators of Hope” in Asia Pacific

Penjelajahan dengan Orang Muda

Bahagia di Tengah Pandemi … Siapa Takut!!

“Be a Happy Jesuit!” Itulah salah satu pesan dari Pater Adolfo Nicolas dalam kunjungannya ke Provindo tahun 2009 lalu. Pesan tersebut menjadi sangat relevan khususnya dalam situasi berat pun terbatas seperti saat ini. Pandemi COVID 19 membatasi ruang gerak kita semua untuk beraktivitas di luar rumah dengan leluasa. Penerapan sistem lockdown bisa saja membuat kita jenuh apabila kita tidak menanggapinya secara kreatif. Di tengah keterbatasan ruang gerak dibanding sebelumnya, para novis Serikat Jesus tetap berusaha untuk kreatif dan bahagia. Ternyata kreativitas merupakan unsur yang paling penting. Tanpa kreativitas luas lahan dan rumah tidak akan ada artinya. Situasi pandemi yang membatasi ruang gerak ini  ternyata memberi rahmat juga. Kami justru semakin bisa belajar untuk memperkuat hidup komunitas, diskresi bersama, dan leadership lewat kegiatan-kegiatan luar biasa. Kami merayakan waktu jeda setelah program pengolahan hidup yang intens dengan camping tiga hari di lahan luas belakang novisiat. Semua memori keterampilan mendirikan tenda, memasak, dan membuat api unggun seolah-olah beradu untuk diekspresikan. Apalagi bahan masaknya adalah sayur-mayur panenan kebun sendiri. Panas terik di siang hari, ribuan bintang di malam hari, dan gelak tawa riuh menjadi penawar letih sekaligus obat paling mujarab. Ternyata healing lewat camping pun bisa dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal kita. Sukacita ini ditambah dengan kegiatan memancing ikan peliharaan di embung, mencangkul dan membuat bedeng sayur-mayur, memetik pete, dan bernyanyi bersama di sekitar api unggun. Sesekali ada kegiatan produktif lain yang menghibur seperti membuat pupuk kompos. Kegiatan-kegiatan tersebut terdengar asyik dan hebat, padahal banyak di antara kami yang baru pertama kali melakukannya. Bahkan kami belajar memasak yang direncanakan sebagai gulai ayam, meski hasilnya mungkin jauh dari gulai ayam. Membuat gulai ayam mulai dari memotong seekor ayam jago yang masih hidup ternyata tidaklah gampang. Ternyata tinggal memakan makanan siap santap itu lebih enak daripada harus menangkap, menyembelih, membersihkan bulu ayam, memotong daging ayam, hingga memberi racikan-racikan bumbu istimewa. Di lain hari ketika salah salah satu novis sempat terjangkit Covid-19, para novis harus melakukan lockdown di novisiat. Di suatu Sabtu sore tercetuslah ide untuk membuat acara Master Chef Novisiat (lomba masak). Jadilah hidangan ala Master Chef Novisiat yang dijuri oleh para pater. Para novis dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugas membuat nasi goreng spesial dan bakmi godog istimewa. Setelah berjibaku dengan bahan makanan dan alat masak, akhirnya tersaji juga Hidangan Istimewa Novisiat (HIN). Hasilnya ialah para pater nambah beberapa kali setelah menjuri setiap makanan. Sabtu malam itu diakhiri dengan kondisi perut kekenyangan dan hati yang gembira sehingga Covid pun tidak berani mendekat. Di tengah lockdown yang masih berlangsung, keterbatasan tidak menghentikan kreativitas para novis untuk menyulap ruang rekreasi menjadi bioskop yang megah dan tidak kalah dengan bioskop-bioskop terdekat. LCD memancarkan layar yang super lebar dan seperangkat sound system menyumbang suara menggelegar. Tidak lupa bidel refter (novis yang bertanggung jawab terhadap ruang makan dan dapur) dengan murah hati mempersiapkan pop corn ala novisiat dan juga kopi merek terkenal ala novisiat untuk menemani acara nonton bersama.Dalam refleksi kami, kegiatan kreatif ini juga menjadi sarana untuk mendalami dan mengimplementasikan UAP secara sederhana khususnya UAP 3 penjelajahan bersama kaum muda. Kepenatan yang muncul karena padatnya aktivitas harus ditanggapi dengan kreativitas dan bukannya mager. Tidak ada alasan minim fasilitas modern yang membenarkan minimnya kreativitas. Betapa aktivitas di luar ruangan yang kreatif-produktif itu tidak kalah membahagiakan. Bahkan ternyata beberapa di antara kami baru pertama kali belajar memasak, tinggal di alam terbuka selama beberapa hari, dan termasuk juga mencangkul tanah. Berjalan bersama (atau sebagai) orang muda menuntut kerendahan hati untuk terus menantang diri dan kreatif. Keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk bisa bahagia apabila kita mau dan mampu untuk menjadi kreatif. Melalui kreativitas kita bisa menjadikan hidup berkomunitas lebih berwarna. Kita juga bisa mengenal satu sama lain sebagai satu komunitas yang utuh, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada mengenal saudara sekomunitas secara mendalam. Keterbatasan juga memampukan kita untuk semakin membangun communal discernment secara kreatif dalam membuat keputusan yang magis. Kita juga bisa belajar leadership yang paling dasar, yaitu mampu mengadakan sesuatu secara kreatif dari ketiadaan mulai dari hal yang paling sederhana. Jadi, kalau kreativitas itu tidak dimulai dari diri sendiri, lalu dari siapa? Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Di lain hari ketika salah salah satu Novis sempat terjangkit Covid-19, para novis harus melakukan lockdown di novisiat. Di suatu Sabtu sore tercetuslah ide untuk membuat acara Master Chef Novisiat  (lomba masak). Jadilah hidangan ala Master Chef Novisiat yang dijuri oleh para pater. Para novis dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugas membuat nasi goreng spesial dan bakmi godhog istimewa. Setelah berjibaku dengan bahan makanan dan alat masak, akhirnya tersaji juga Hidangan Istimewa Novisiat (HIN). Sssstttttt, jangan bilang siapa-siapa ya kalau para pater sempat nambah beberapa kali lho setelah menjuri setiap makanan. Sabtu malam itu diakhiri dengan kondisi perut kekenyangan dan hati yang gembira sehingga Covid pun tidak berani mendekat. Di tengah lockdown yang masih berlangsung, keterbatasan tidak menghentikan kreativitas para Novis untuk menyulap ruang rekreasi menjadi bioskop yang megah dan tidak kalah dengan bioskop-bioskop terdekat. LCD memancarkan layar yang super lebar dan seperangkat sound system menyumbang suara menggelegar. Tidak lupa bidel refter (novis yang bertanggung jawab terhadap ruang makan dan dapur) dengan murah hati mempersiapkan pop corn a la novisiat dan juga kopi a la starb*cks novisiat untuk menemani acara nonton bersama. Kontributor : Alfonsus Ignatius Franky N., nS.J. – Ignatius Dio Ernanda J., nS.J. – Sirilus Hari Prasetyo, nS.J.