Pilgrims on Christ’s Mission

Penjelajahan dengan Orang Muda

Penjelajahan dengan Orang Muda

Si Kanan dan Si Kiri

Aku masih diam di sebuah kamar yang kecil, melihat awan dari kisi-kisi jendela ini. Aku lihat semua tampak biasa-biasa saja, tapi mengapa harus terkurung entah sampai kapan. Aku sekali-kali jadi iri dengan sepasang merpati yang kulihat pagi tadi. *** Minggu-minggu belakangan aku menuai banyak kabar tentang orang meninggal karena covid. Aku menjadi sangat cemas. Si Kiri hingar-bingar di kepalaku,  ”Jangan-jangan kamu terkena covid?” Suara itu sangat kasar mencobai diriku. Setelah selesai opera, suatu kebiasaan kerja tangan di novisiat, tubuhku mendadak meriang dan akhirnya jatuh sakit hingga harus bed rest. Setelah jalan dua hari kondisi tidak kunjung membaik.  “Kalau terkena  covid bisa mati kamu nanti!” berulang-ulang Si Kiri mengatakannya. Terbuktilah bahwa aku positif covid. Kiri menatapku ”Mengapa kamu harus terkena covid? Itu artinya kamu akan masuk dalam ketidakpastian. Siapa bisa tahu semuanya akan berakhir? Kau akan gagal mengerjakan apa yang telah kau bayangkan sebelumnya!”  Aku kembali memutar memori beberapa hari lalu. Temanku jatuh sakit entah karena apa, terbaring demam di kamarnya. Berita yang dengan gencar menyajikan kondisi pandemi ini, lalu-lalang dalam pikiranku. Data-data itu mengalir dan mulai membentuk mata rantai dalam kepalaku. Kiri tiba-tiba menyapaku ketika aku sedang diselimuti ketidakpastian “Kamu tenang aja, temanmu tidak akan terkena COVID, lagi pula tidak ada orang di sekitarmu yang positif.”  Bisikan Kanan berhembus kuat masuk ke telingaku “Kamu harus tetap hati-hati! Gunakanlah protokol kesehatan dengan baik. Siapa tahu dia positif dari orang yang positif tanpa gejala.” Aku berpikir bahwa jika aku harus menggunakan Pro-Kes berarti aku harus pakai masker. Kiri menepukku “Nah, kamu tidak usah pakai masker. Pakai masker itu sakit. Telingamu jadi merah karena terjepit. Pipi gatal-gatal, dan susah bernafas.” Betul juga itu, buat apa aku merepotkan diri. Aku pun memilih untuk tidak menggunakan masker dan beraktivitas seperti biasa, juga bergaul dengan mereka yang sakit. Aku tertarik kembali pada realitas saat ini ketika mendengar suara masjid yang begitu mantap mengundang orang untuk berdoa. Rasa sesal menetes di hatiku karena sikap sembrono itu. Pikiranku terbuka, kadang kala ada saat dimana aku perlu untuk mau repot dan bahkan mau untuk rugi, untuk memperjuangkan suatu hal yang lebih besar. Aku ingat dengan patronku yang mau memilih salib, padahal dengan sangat mudah, Ia mampu menghindari itu. Ia memilih salib itu untuk sesuatu yang sungguh besar dan penting. Aku sadar bahwa memilih yang sulit seperti Dia tidak akan membawaku pada kehancuran. Andai aku menyadarinya lebih awal. … Aku tidak pernah meminta sakit. Nyatanya sehat pun juga kudapatkan, tanpa merengek-rengek kepada Tuhan. Sambil merenung, Si Kanan mendekatiku, ”Jadi kalau kamu kena covid ya udah, nggak apa-apa. Banyak kok yang sembuh. Kamu masih muda, tenang aja. Pasti dirawat juga oleh formator. Tinggal isolasi doang.” Tepat katamu, aku bisa belajar untuk menjadi apa itu lepas bebas dan merdeka. Si Kiri bilang padaku, “Kamu tidak mungkin covid! Kamu itu kuat! Tidak perlu isolasi.” Benar juga, aku tidak mau dilihat lemah. “Lagi pula kalau kena covid kamu akan diasingkan dari komunitas. Teman-teman akan menjauhi kamu apalagi orang-orang yang paranoid dengan covid.” Aku jadi takut. Kanan menyentuh telingaku, sangat lembut katanya, “Kamu harus sadar bahwa ada banyak orang rentan di dekatmu. Kamu harus mau berkorban untuk isolasi dan terlihat lemah demi keselamatan yang lain. Isolasi itu tidak menakutkan. Ada yang akan selalu menemanimu. Perkataan itu membuatku mataku terbelalak. Hal itu menyentuhku hatiku beriringan dengan memori akan Yesus yang ingin aku ikuti. Aku jadi ingat bahwa hal itulah rahmat yang aku mohonkan, yaitu untuk menjadi sakit dan lemah seperti Dia dan mau berkorban demi kebaikan yang lain. *** Aku mulai batuk-batuk tapi Kiri tak kunjung pergi ”Haduh…tapi kenapa kau harus menanggung semuanya ini? Bukankah lebih baik sehat daripada sakit?” Iya juga, kenapa harus sakit. Aku dibuat oleh covid ini jadi mual-mual, pusing, susah tidur dan bawaannya lemas. Nafsu makanku hilang karena tidak bisa merasakan apapun daripadanya.  Aku memandang pohon kelapa yang bergerak diterpa angin. Saat itu Kanan datang ”Tenang dulu lah. Kau ini terlalu cepat-cepat memutuskan: sakit itu buruk. Tengok dengan mata, dengar dengan lembut, kesetiaan banyak orang dari komunitasmu sendiri, yang merawatmu dengan tulus dan total.” Aku lihat, bahkan mereka yang merawatku ’tidak takut’ bertanya dari dekat tentang kondisi tubuhku setiap harinya. Ada yang murah hati memasakkan makanan. Ada yang mengurusi obat-obatanku. Tak kurang juga ialah mereka yang penuh perhatian mendengarkan sharing kegelisahanku. Sakit ya dilalah malah mengantarku sadar: aku butuh orang lain. Aku ternyata terhubung dengan banyak orang. Ya.. aku melihat Allah bekerja dalam banyak pribadi. Pintu kamar diketuk. Aku menuju arah suara dan melihat makanan sudah ada di meja seolah menanti untuk dijamah. Aku duduk berhadapan dengan makan siangku seperti hari biasanya.  Namun tetap ada yang berubah dari kondisiku. Kiri menggodaku ”Ayo, mengeluh-lah. Kau tak bisa menikmati makanan. Kau tidak bisa lama beraktivitas. Suramilah mukamu itu, sebab kau sakit. Kasihan, kasihan… mencium saja pun sudah tidak bisa.” Ya, aku menyesal dengan semua konsekuensi atas sakit covid ini. Banyak dari ’kepunyaanku’ direnggut.  ”Berdoalah. Dengan jujur katakan semua kegelisahanmu. Dia mendengarkan, tetapi sekali lagi, kau mesti jujur. Bawa semua rasa-perasaanmu, apa adanya.” Kanan menanggapi. Selama itu, aku merasakan diajak lahir lagi bersama Yesus yang miskin dan dengan segala susah payah-Nya, berjaga bersama-Nya di padang gurung dan menerima ketaatan dari Bapa-Nya di Getzemani. Dengan kata lain, Tuhan ajak aku untuk untuk berjalan bersama-Nya persis di titik-titik yang paling tidak mengenakkan. *** Beberapa minggu aku terisolasi. Sekarang aku diajak kembali pada realitas formasiku. Aku mulai mengikuti segala macam rutinitas harian novisiat. Aku mampu menatap indahnya alam yang luas dan segala kesibukan yang ada di dalamnya. Aku bisa berjalan kemanapun dan saat aku melihat tempat itu, aku teringat kembali pengalaman beberapa minggu lalu. Saat itu Kiri menghampiri bersama hembusan angin yang menerpa rambutku “Gimana hidup sendirian dan mengurung diri selama berhari-hari, tidak enak kan? Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak usah karantina. Kasihan kamu kesepian!” Karantina itu menyebalkan. Aku tidak bisa leluasa beraktivitas.  Kanan mendengarku. “Kamu tidak kesepian kok. Coba kamu lihat lagi. Pasti ada banyak orang di sekitarmu. Ada yang selalu mendampingimu dan hadir dalam hal sederhana.” Ujarnya.  “Apakah mungkin dalam masa isolasi aku tetap bisa merasakan kehadiran orang lain? Ya nggak mungkinlah, isolasi kok ada

Penjelajahan dengan Orang Muda

Caring Belongs to Us

“Klonteng… klonteng… klonteng…” bel berbunyi menandakan jam opera dimulai. Seorang novis bergegas menuju ke papan opera untuk melihat jadwal opera hari itu. “Yah… Aku opera sendiri, di gang lagi. Tiap hari aja opera gang. Gimana sih bidelnya?” Itulah secuil litani sambat (Jw. keluhan) yang keluar. Dengan berat hati, dia mengambil gagang pel, ember, dan sapu, menuju ke gang novisiat dan mulai membersihkannya. Tanpa diduga, siang harinya Pater Magister menemuinya dan berkata, “Wah, gang novisiat jadi kinclong nih. Makasih ya!” Seketika itu juga rasa nggrundel (Jw. menggerutu) yang ada dalam hatinya sebelum opera tadi menjadi hilang. Rasa itu berubah menjadi sukacita dan kesadaran, “Oh ternyata, operaku berguna bagi orang lain.” Nah, contoh di atas adalah sebagian kecil dari kisah para novis yang ber-opera-ria. Apa sih opera itu? opera adalah kerja tangan untuk membersihkan atau merapikan ruangan atau bagian tertentu. Ada banyak bagian di rumah novisiat yang perlu dibersihkan. RUMAH KITA BERSAMA (OUR COMMON HOME) Apa itu rumah bagi Anda? Rumah adalah tempat tinggal kita, juga alam semesta. Banyak peristiwa terjadi di dalam rumah itu. Rumah kita bersama menjadi fokus Gereja akhir-akhir ini. Serikat Jesus melalui Universal Apostolic Preferences (UAP), juga menjadikan rumah kita sebagai salah satu fokus preferensi apostolis ini. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si mengungkapkan bahwa “Ibu bumi sedang menangis karena kerusakan yang kita buat melalui penggunaan tidak bertanggung jawab dan penyalahgunaan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Inilah mengapa planet bumi, yang kini semakin berbeban berat dan terabaikan, menjadi salah satu yang paling terabaikan dan teraniaya di antara orang miskin. Ia ‘merintih dalam keluh dan kesusahan’ (Roma 8:22).”  Kerusakan alam terjadi di sana-sini, kemunduran ekologis terjadi karena penggunaan yang tidak bertanggung jawab oleh manusia, seperti terjadi pembakaran hutan, alih fungsi lahan, dan perusakan lingkungan lainnya. Tindakan semena-mena dan tidak peduli itu berakar dari sikap mager (males gerak) atau bodo amat yang tercermin dalam tanggapan kita terhadap lingkungan di sekitar kita, seperti kebersihan kamar, keberadaan  sampah yang berserakan, atau lantai yang kusam dan berdebu. Gaya hidup inilah yang mesti kita perbarui. Kita harus memulai dari hal-hal kecil di rumah kita masing-masing. Pemahaman itulah yang membawa kami untuk juga fokus terhadap rumah kami, rumah novisiat ini.  Sebelum berangkat ke novisiat, rumah kami adalah tempat tinggal kami masing-masing. Akan tetapi kini, rumah kami adalah di Novisiat Girisonta. Rasa-rasanya, ungkapan hic et nunc tepat menggambarkan kesadaran itu. Hic et nunc berarti di sini dan saat ini. Kesadaran itulah yang mendasari kami dan juga para novis, bahwa sekarang rumah kami adalah di novisiat ini. Kesadaran itu juga membawa kami kepada suatu pemaknaan bahwa rumah novisiat ini tidak hanya terdiri dari “aku” saja, tapi terdiri dari “kami”. Banyak pribadi hadir di rumah novisiat ini, maka pemaknaan kata “bersama” berangkat dari pluralitas atau keberagaman ini. Pun kami juga sadar bahwa perlu ada hubungan timbal-balik antara rumah yang kami tinggali dengan kami yang sekarang tinggal di rumah ini. Maka, kesadaran dan pemahaman akan rumah kita bersama ini membawa kami pada suatu antusiasme untuk mengenal, merawat, dan pada akhirnya membangun suatu ekosistem kehidupan yang saling menghidupkan di novisiat ini.  Pengenalan Ada sebuah ungkapan yang sangat umum bagi kita semua, “tak kenal, maka tak sayang”. Begitu juga dengan rumah kita bersama, pengenalan itu sungguh dibutuhkan. Bagaimana kita mau merawat, memelihara, dan mencintai rumah kita, kalau kita belum mengenalnya? Suatu rahmat  yang patut disyukuri bahwa di novisiat, dalam masa pandemi, kami mendapat kesempatan untuk camping di dalam rumah. Sekalipun kegiatan ini sulit diadakan saat pandemi, kami berkesempatan mengalaminya di rumah kami bersama, novisiat. Adanya sawah dan lahan perkebunan yang cukup luas di novisiat menjadi tempat yang sangat cocok untuk camping. Camping ini diadakan dalam rangka mendalami UAP. Tepat memasuki poin ke-4 UAP di mana “merawat rumah kita bersama” itulah yang bergema dalam camping ini. Tinggal di sawah dan di kebun selama tiga hari dua malam sungguh menantang sekaligus menggembirakan. Makanan kami olah sendiri, dan begitu bahan makanan habis, apa yang tersedia di alam itulah yang kami makan. Daun pepaya, kangkung, tomat, bahkan juga ikan yang ada di kolam sawah, menjadi sasaran bahan makanan yang akan kami olah. Hal yang paling utama bukanlah nikmatnya masakan, melainkan kebersamaan untuk menikmati dan bersahabat dengan apa yang tersedia di alam. Mengambil dan memakan apa yang tersedia di alam bukan berarti memperdayakan alam. Melalui kegiatan yang sederhana, mengambil dan memakan, kami memulai sebuah proses pengenalan. Membiasakan diri untuk akrab dengan alam, membuat kami semakin mengenal dan bersahabat dengan lingkungan sekitar. Kesadaran-kesadaran baru seperti, “O… ini tho sawah, O… ini tho kebun, O… ini tho tanaman-tanaman sawah yang bisa dimasak, O… ini tho rasanya tinggal di alam lepas..!” dan “O…” lainnya, membuat kami semakin menyadari bahwa alam dan lingkungan telah senantiasa memberi kehidupan bagi kami dan kami pun bergantung padanya. Dengan menyadari hal itu, apakah kami hanya bisa diam saja terus diberi kehidupan, tanpa juga mau memberi kehidupan bagi alam? Mungkin kalau tidak ada camping ini, kami para novis tidak akan mengenal apa saja yang ada di sawah dan di kebun, serta bagaimana rasanya tinggal di sana. Lebih parah lagi kalau kami sampai tidak mengenali sawah dan kebun luas di novisiat. Suatu berkah pula bahwa magister kami, Pater Sunu, adalah Jesuit yang sungguh memberi perhatian khusus pada alam. Magister kami mempunyai perhatian khusus pada alam dan lingkungan sekitarnya. Sudah layak dan sepantasnya kalau para novisnya diajari untuk mempunyai perhatian dan minat pula  dalam merawat dan mengolah tanaman serta lingkungan sekitar. Dalam beberapa kesempatan, kami diajak oleh magister kami untuk  mengolah tanaman dan media tanamnya. Kami diajak untuk berkeliling ke sawah, melihat berbagai tanaman yang ada di sana, buah-buahan dan sayur-sayuran, seperti pepaya, stroberi, kangkung, buncis, tomat dan lain sebagainya. Di samping itu, kami juga mempunyai green house  yang menyimpan berbagai jenis sayuran. Setiap sore, pasti ada satu novis yang memanen sayuran di green house untuk dijadikan salad pada makan malam harinya.  Kami pun dikenalkan dan diajari cara membuat dan mengolah pupuk. Pupuk kompos dan hoagland (larutan unsur-unsur anorganik yang dipakai sebagai nutrisi tanaman), itulah yang telah mengisi dan memberi makanan sebagian besar tanaman sayur dan buah baik di sawah, maupun di green house. Dalam

Penjelajahan dengan Orang Muda

Sejalan dengan Gerak Serikat: Novis Belajar Universalitas Serikat

“Salah satu pokok yang paling penting bagi keberadaan Serikat bukan ada di rumah profes tetapi berada di jalan” Kata-kata Nadal tersebut bergema ketika kami membayangkan betapa Serikat tersebar secara global. Lima ratus tahun sesudahnya, kami yang memulai masa novisiat di Indonesia terpukau dengan Serikat Global lewat kegiatan-kegiatan yang kami ikuti secara live streaming. Mata, telinga, dan rasa kami diajak mengelilingi dunia, ketika kami melihat video Pater yang berkarya di JRS Afrika, sampai dengan doa yang dipimpin dengan bahasa Korea. Tidak hanya kegiatan menonton saja, akhirnya kami berpartisipasi dalam JCAP Novices Gathering (JNG) yang diadakan secara daring. Kami akan berbagi kisah dan perjalanan kami mencicipi universalitas Serikat.  Merayakan “Kekalahan” Pendiri Kita Satu minggu sebelum pembukaan tahun Ignatian pada bulan Mei 2021, kami fratres primi dan secundi diajak untuk membaca Autobiografi “Wasiat dan Petuah St. Ignatius Loyola”. Salah satu titik sentralnya adalah kekalahan Ignatius di Pamplona yang mengubah impian dan rencananya. Kemudian kami melakukan sharing tentang apa yang menjadi cannonball-moment dalam sejarah hidup kami. Dinamika ini dilengkapi dengan partisipasi secara live streaming acara pembukaan tahun Ignatian. Ada dua pesan Paus Fransiskus yang sangat mendalam: conversion is making Christ to be centered in our life and it is involved up and down, dan conversion is dialogue with God, ourselves, and others.  Bertitik tolak dari pesan Paus Fransiskus tersebut, dapat dirasakan bagaimana dinamika St. Ignatius yang pada awalnya memiliki ambisi untuk menyaingi St. Dominikus dan St. Fransiskus setelah membaca Flos Sanctorum, atau bagaimana ketika ia berjuang mati-matian untuk bisa berkarya di Yerusalem. Namun dari waktu ke waktu, ada pemurnian yang semakin mendalam. Ambisi dari St. Ignatius ini bisa merembet pada sebuah pertanyaan sebagai seorang novis: “Apakah mungkin seorang novis Jesuit mempunyai fiksasi akan masa depannya di Serikat?’ Cara unik pertobatan St. Ignatius melibatkan suatu petualangan, yang dia sendiri tidak tahu. Seorang yang berambisi untuk mengabdi Tuhan di Yerusalem pada akhir hidupnya harus terpaku pada satu meja dengan melakukan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di seluruh dunia. Inspirasi dari St. Ignatius ini seakan-akan memantik kesadaran bahwa berserah pada kehendak Allah dalam proses formasi adalah sebuah keharusan. Kami tidak tahu akan menjadi apa dan bagaimana proses pengabdian yang terbaik kepada Allah.  Tidak dapat dipungkiri bahwa berproses dengan penuh keterbukaan hati itu tidak selalu mudah. Akan tetapi ingatan akan kehangatan pertobatan menjadi sebuah kunci. Selalu ada kehangatan, cinta, pengampunan, dan pengampunan Tuhan atas kekelaman hidup sebelumnya. Inilah energi untuk terus mau berjuang dalam formasi.  Pesan sederhana Paus Fransiskus tersebut akhirnya membuat kami terus terbangun dari mimpi dan impian yang kurang tepat serta memunculkan kembali memori tentang dialog pertobatan. Terkadang, kami lebih suka merayakan kemenangan, tetapi perayaan kekalahan St. Ignatius memberi kami pelajaran tentang pertobatan.   Merasakan Kesatuan di Tengah Kesendirian Pada suatu sore Pater Magister mengajak kami untuk mengikuti doa bersama bagi Myanmar dan India yang diadakan bersama oleh JCAP (Jesuit Conference of Asia Pasific) dan JCSA (Jesuit Conference of South Asia). Pada saat itu, kudeta militer di Myanmar baru saja terjadi, sedangkan di India, virus Covid-19 sedang merajalela. Doa diadakan secara live melalui Zoom dan kami mengikutinya di Kapel Stanis menggunakan proyektor. Di lain kesempatan, kami juga mengikuti acara vigili St. Ignasius pada tanggal 30 Juli 2021.   Melalui kedua acara tersebut, kami diperkenalkan pada Serikat yang lebih luas dan global. Kami merasa berada dalam satu jaringan yang sama dengan mereka karena kami mengerti apa yang terjadi di negara-negara tersebut, apa yang menjadi ciri khas dari mereka dan karya Serikat macam apa yang ada disana. Doa bagi Myanmar dan India mengajak kami untuk menjadi pribadi yang memiliki empati, terutama bagi mereka yang tersingkir dan sedang dalam kesulitan besar. Saat mengikuti acara tersebut, kami ikut merasa sedih dengan kondisi yang terjadi di dua negara tersebut. Sempat ada perasaan useless karena tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi kami juga sadar bahwa memang tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa bagi kedua negara tersebut. Dalam acara doa vigili St. Ignatius, kesatuan hati dan budi sungguh kami rasakan. Bahkan beberapa dari kami sampai bergumam bahwa “ternyata, saya menjadi bagian konferensi ini”.  Rasa menjadi bagian dalam Serikat yang lebih luas menjadi sebuah penghiburan penting bagi beberapa di antara kami. Secara tidak terduga, dalam kurun waktu sebelumnya, beberapa dari kami juga terjangkit virus Covid 19 dan harus menjalani karantina. Rasa kesepian akut sempat menghinggapi kami siang dan malam selama karantina. Apalagi saat itu, walau sudah kembali ke komunitas besar, kami belum bisa sepenuhnya beraktivitas secara normal. Kadang muncul rasa takut menularkan virus ini kepada teman-teman lainnya.  Melalui doa vigili ini, kami merasakan kebersamaan sebagai satu konferensi. Kami bersyukur bahwa kami berada dalam sebuah konferensi yang amat beragam. Kebersamaan dalam doa tersebut menyadarkan bahwa kami tidak pernah sendirian dalam Serikat. Kami akan selalu bekerja bersama Serikat universal dimanapun kami berada, bahkan ketika kami bekerja sendirian.  Bagi kami inilah makna universalitas Serikat. Kami yakin bahwa kami akan terus berada dalam jaringan Serikat Jesus dimanapun kami berada, karena kita sudah dipersatukan oleh bahasa yang sama, yakni Latihan Rohani, Konstitusi dan Autobiografi. Mengalami Kebersamaan Novis Lintas Negara Pada tanggal 6 sampai 8 Oktober 2021, kami mengikuti acara Jesuit Novices Gathering (JNG)  yang dikemas secara virtual. Sebelumnya, para novis di setiap provinsi diminta untuk menyiapkan gambaran situasi riil novisiat lewat pembuatan presentasi atau video kreatif. Kami memulai persiapan JNG lewat pembuatan video perkenalan novisiat dan acara English Week. Menariknya, para patres Domus Patrum (DP) turut terlibat dan mendukung sepenuhnya program ini. Beberapa dari kami terlihat berjuang keras memaksa diri berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Seiring dengan berjalannya waktu, persiapan kami mengikuti JNG menjadi matang. Kami membuat video yang berisi empat tema berbeda: konteks, program, struktur, dan proses novisiat di Indonesia. Ada yang mengemas dalam bentuk mini talk show, one minute homily, dan presentasi.  Ketika pelaksanaan JNG, ada momen menarik. Saat itu ada seorang novis dari luar Indonesia yang bertanya kepada kami “What is your *blank*”. Kami kebingungan karena tidak bisa menangkap kata-kata yang diucapkan. Kami saling melihat satu sama lain. Kami menduga dan tidak berhasil menebaknya. Akhirnya Pater Magister novis tersebut berteriak di mic “ your happy moment!”. Satu ruangan serentak berbicara “Oh!” lalu, Pater Chris Dumadag tertawa sambil mengetik di

Penjelajahan dengan Orang Muda

Probasi Identik di Masa Penuh Harap Cemas

Novisiat adalah tempat di mana para novis mulai meniti jalan panggilan mereka sebagai Jesuit. Ada banyak istilah penyebutan untuk novisiat.  Salah satunya yang cukup sering digaungkan adalah rumah percobaan. Ignatius merancang sedemikian rupa sehingga dalam Konstitusi disebutkan ada enam bentuk probasi yang harus dialami oleh para novis. Keenam probasi tersebut adalah Latihan Rohani (probasi pertama dan utama), bekerja di rumah sakit, mengerjakan pekerjaan dalam rumah Serikat yang rendah dan hina, memberikan khotbah, dan mengajarkan agama. Novisiat didesain untuk suatu tujuan utama yakni menumbuhkan dan mengembangkan relasi personal mendalam dengan Allah. Relasi personal tersebut diperdalam melalui latihan-latihan rohani, hidup harian dan tentunya probasi. Probasi membantu para novis untuk memperdalam pengenalannya akan dirinya, Allah dan Serikat sehingga diharapkan melaluinya mereka dapat menemukan siapa diri mereka sebenarnya, motivasi panggilannya yang terdalam dan jawaban “ya” secara mantap dan bulat untuk mengikuti Tuhan melalui jalan panggilan di Serikat.  “Septima Probatio” Formasi novisiat tahun ini diawali dengan sebuah probasi yang tidak terduga. Kegembiraan yang seharusnya muncul di awal formasi, tidak tampak, tergantikan kecemasan di dalam ketidakpastian. Kedatangan novis primiyang baru bersamaan pula dengan meningkatnya penyebaran virus Covid-19 varian Delta. Protokol penerimaan novis baru pun dibuat.  Masing-masing kandidat melakukan tes swab sebelum masuk dan diadakannya masa isolasi mandiri di KSED Bandungan selama kurang lebih dua minggu. Tanpa diduga satu per satu kandidat bertumbangan terpapar Delta, demikian halnya dengan semua novis secundi yang berada di novisiat. Jumlah novis primi yang terpapar oleh Covid-19 berjumlah tujuh orang; satu novis primi sudah terkena di rumah, sisanya novis secundi. Novisiat dihadapkan pada situasi extraordinary dan sulit. Meskipun segala bentuk antisipasi sudah dirancang dan diaplikasikan dengan baik, sebaran virus tidak bisa dikendalikan dan dicegah. Terpaparnya para novis oleh virus Covid-19 membuka lembaran baru dalam sejarah novisiat. Momen penting dan bersejarah di mana Allah berkarya dalam setiap langkah, Dia selalu berkarya (God is always at work). Pandemi menjadi momen berahmat untuk kembali masuk ke dalam inti tujuan novisiat, yakni memperdalam relasi personal yang mendalam dengan Allah. Pandemi juga dalam arti tertentu merupakan probasi yang melengkapi dan menambahi enam probasi yang sudah ada. Para novis dan formator diundang untuk masuk ke kedalaman refleksi akan Allah yang senantiasa merenda sejarah keselamatan-Nya dalam sejarah.  Pandemi membuka ruang bagi para novis untuk merelakan diri menjalani probasi selama pandemi. Bagi mereka yang terpapar virus Covid-19 ataupun bagi yang tidak terpapar merasakan pula dampak yang tidak ringan. Mereka yang sakit bergulat dengan sakit, kerapuhan dan kesendirian selama masa isolasi sembari menanti dan berharap akan kesembuhan. Mereka yang tidak terpapar, penuh dengan kecemasan dan ketakutan “jangan-jangan aku terpapar” dan sebagainya. Mereka pun dipaksa untuk terus menerus berada di dalam kamar masing-masing. Bahkan, ketika turun dari Bandungan mereka masih harus menjalani lima hari IMUT (Isolasi Mandiri Untuk Transit) sebagai “Kartusian” di rumah retret. Tidak hanya para novis, para formator pun menjalani probasi karena terus diajak berpikir ulang setiap harinya dalam menentukan formasi di dalam hari-hari yang tidak pasti. Agenda pun menjadi sesuatu yang relatif. Yang lebih penting adalah kesehatan para novis yang terpapar dan yang belum terpapar. Tentulah, tentang kapan dan bagaimana memulai formasi bagi para novis menjadi tantangan yang tidak mudah karena start yang tidak bisa sama. Pengaturan kubikel1 dan dormit2 yang sebelumnya telah dibuat, diubah dan diatur ulang mulai dari awal. Maka, ungkapan pandemi Covid-19 menjadi probasi “ketujuh” di novisiat mendapatkan maknanya. Perbedaan probasi ini dari probasi-probasi yang lain terletak pada kenyataan bahwa itu semua di luar apa yang dapat ditanggung dan diantisipasi oleh manusia. Tidak pernah ada yang merencanakan bahkan menduga akan mengalami probasi Covid-19 ini. Namun, ternyata banyak yang justru menjadi kesamaan dan senada dengan probasi-probasi yang ada di novisiat yang direncanakan dan diatur sedemikian rupa oleh Serikat. Probasi Covid-19 menjadi ujian sekaligus pembuktian (verifikasi) bagi kemantapan panggilan mereka, apakah mereka menyerah hanya karena terpapar Covid-19 atau bisa bangkit.  Probasi Covid-19, bagi mereka yang terpapar maupun tidak, menempatkan mereka acapkali pada situasi batas dari diri mereka; kesepian, kesedihan, penderitaan, ketakberdayaan dan tanpa harapan pun muncul menjadi pergulatan sehari-hari. Relasi dengan Tuhan dalam doa pun sudah pasti berkembang dalam situasi yang tidak mudah ini. Bahkan, mereka menjadi semakin mampu merefleksikan kembali keberadaan mereka di hadapan Tuhan Sang Pencipta. Dalam kesendirian isolasi mandiri yang dijalani, mereka menjadi semakin mampu mengenali diri mereka sedikit demi sedikit dengan segala kerapuhan, kekuatan dan kerinduan terdalam mereka. Asas dan Dasar Pengalaman terbaring di ranjang karena positif virus Covid-19 tidak selamanya buruk, kusut dan menyedihkan. Seperti bingkisan yang terbalut kertas koran, ada cendera mata yang Tuhan titipkan kepada setiap orang yang menerimanya. Memang tidak dapat disangkal, disposisi batin pertama kali mendengar kabar kalau positif adalah tidak terima, kalut, kacau dsb. Namun, perlahan-lahan persepsi tersebut mulai berubah. Mengapa demikian?  Para novis primi yang kala itu sedang dalam masa kandidatur mengalami kedatangan saudara sakit. Semua panik dan was-was. Muncul pikiran jangan-jangan setelah dia, pasti aku juga ikut terjangkit. Ada pula yang merasa down menghadapi situasi tersebut. Dalam masa pemulihan isolasi mandiri pun juga bergulat dengan keadaan sakit. Mereka mengalami penciuman yang mulai menghilang, tidak bisa lagi membedakan mana bau wangi kulit jeruk dengan minyak kayu putih. Ketajaman lidah mereka diuji saat meminum minuman yang disediakan kala itu. Ada yang setelah mencicipinya mengatakan bahwa ini minuman teh oca, ada yang membantahnya dengan mengatakan bahwa itu air madu dan ada pula yang memberikan testimoni itu air setup. Semua testimoni tersebut dirasa masih kurang valid. Maka, setelah diklarifikasikan kepada perawat ternyata tidak diduga sama sekali oleh sekalian para penyintas Covid-19 bahwa minuman tersebut adalah “air teh obat tapak liman” yang merupakan minuman favorit salah satu romo di Girisonta. Untungnya, nasib hoki masih melindungi salah seorang novis yang sudah menghabiskan dua gelas sebab menurutnya itu teh oca.   Sebagaimana dalam Asas dan Dasar Latihan Rohani nomor 23 yang menjadi gerbang awal memasuki Latihan Rohani, demikian pula probasi Covid-19 ini menjadi Asas dan Dasar (gerbang) untuk masuk ke dalam minggu kedua dan terutama minggu ketiga, yakni pengalaman salib (disalib bersama Yesus) hingga akhirnya pengalaman bangkit bersama Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Dikatakan sebagai gerbang karena probasi ini mengawali probasi pertama bagi Novis Primi dan sekaligus menjadi bentuk pengejawantahan Kontemplasi Ad Amorem bagi

Penjelajahan dengan Orang Muda

Formasi Novisiat Serikat Jesus: Penantang dan Pengarung Zaman

PENGANTAR Memasuki tahun ketiga pandemi Covid-19, dunia semakin beradaptasi. Perubahan demi perubahan dan berbagai macam penyesuaian dilakukan. Berbagai usaha untuk menjaga roda kehidupan berputar, senantiasa dievaluasi dan diperbarui oleh setiap pihak. Gereja Katolik Indonesia menjadi salah satu pihak yang ikut berjuang dalam proses perubahan dan penyesuaian ini. Misa-misa di paroki dibatasi dan dilakukan secara daring. Sekolah-sekolah katolik harus memutar otak agar pendidikan karakter para murid tetap terjaga dalam situasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kunjungan ke karya-karya sosial tak seluwes dulu. Mobilitas fisik umat katolik menjadi terbatas. Semua bagian Gereja, dari pendidikan, paroki hingga sosial terdampak dan harus melakukan banyak perubahan. Lalu, bagaimana dengan bagian formasi?  Atau lebih spesifik lagi, formasi para novis Serikat Jesus Provinsi Indonesia? Perubahan dan penyesuaian semacam apa yang telah mereka lakukan? Apakah ini semua akan berdampak pada kualitas para Jesuit muda? Kami akan memberikan gambaran umum mengenai seluk-beluk formasi Jesuit pada tahap novisiat di situasi Covid-19. Sebagai novis, kami merasa bersyukur dapat memberikan gambaran sederhana mengenai segala perubahan dan penyesuaian yang kami alami di tengah pandemi Covid-19. Kami berharap agar pembaca sekalian, sembari membaca, sesekali berhenti dan memejamkan mata sejenak untuk merasakan sensasi hidup di novisiat. Pastikan Anda duduk di tempat yang nyaman dan bersiaplah untuk kami bawa ke ‘dunia lain’.  KAWAH CANDRADIMUKA Novisiat Serikat Jesus Indonesia terletak di daerah Ungaran, Kabupaten Semarang. Novisiat yang dikenal dengan nama Novisiat St. Stanislaus, Girisonta yang sudah ada sejak tahun 1931 ini, terus berdiri dengan kokoh sebagai kawah Candradimuka bagi para Putra Ignatius. Dalam rentang waktu itu, Novisiat Serikat Jesus telah menjadi saksi sejarah yang panjang, sembari melewati berbagai macam tantangan zaman. Setiap tantangan yang dilalui, telah, sedang, dan akan selalu menghadirkan warna formasi yang unik.  Namun, apakah itu mengubah kualitas para Putra Ignatius yang digemblengnya? Tentu tidak. Setiap tantangan zaman yang hadir justru dijadikan sebuah kesempatan berharga untuk semakin membentuk diri terdalam setiap Jesuit. Sepanjang 90 tahun kiprahnya, Novisiat Serikat Jesus semakin membuktikan dirinya sebagai ‘penantang’ dan ‘pengarung’ zaman yang tak gentar menghadapi tantangan yang menghampirinya. Seluruh proses penyesuaian formasi dan tantangan yang menyertai justru dijadikan kesempatan untuk menciptakan banyak pengalaman formasi yang baru.  DOMUS PROBATIONIS (RUMAH PERCOBAAN) Novisiat merupakan waktu penyemaian paling awal benih-benih panggilan para Jesuit muda. Dalam masa novisiat ini, para novis dibimbing dan dibentuk oleh Allah, melalui berbagai macam percobaan dan pengalaman yang diberikan oleh Serikat. Tujuan dari percobaan dan pengalaman itu adalah untuk menguji dan memeriksa keberadaan panggilan Allah serta kedewasaan dan kemerdekaan para novis untuk mengikuti Allah dalam Serikat. Dan para novis memang sungguh-sungguh dicoba untuk menunjukkan keaslian motivasi mereka dalam menanggapi panggilan Allah. MEN OF SPIRITUAL EXERCISES Di novisiat, para novis diajak untuk mengalami Allah secara personal melalui berbagai macam kegiatan. Salah satunya dan yang menempati tempat paling utama dalam formasi para novis adalah Latihan Rohani 30 Hari. Latihan Rohani sebagai kharisma Serikat dan titik awal pembinaan, menjadi sarana yang membantu para novis untuk menyadari dirinya sebagai pendosa yang senantiasa dikasihi oleh Yesus secara personal, sama seperti yang dialami St. Ignatius Loyola dulu. Kesadaran ini mendorong para novis untuk menanggapi cinta Yesus dengan meneladani-Nya dalam segala kondisi, bahkan yang tersulit sekalipun. Percobaan-percobaan lain yang dijalani para novis menjadi sarana untuk memperkuat relasi personal dengan Yesus yang terjadi dalam Latihan Rohani. Dari segala macam gelar atau julukan yang disematkan pada Jesuit, manusia Latihan Rohani adalah julukan yang paling tepat. IDENTITY, MISSION, COMMUNITY Kegiatan harian novisiat memang padat, dimulai dari pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Secara umum kegiatan hariannya adalah doa pribadi (dua kali sehari, masing-masing satu jam), sarapan, kelas, opera (kerja tangan), eksamen (pemeriksaan batin), siesta (tidur siang), bacaan rohani, Ekaristi, studi pribadi, persiapan doa, eksamen lalu tidur malam. Melalui kegiatan harian ini, para novis dididik dan dibentuk dalam aspek kerohanian, komunitas, rasa memiliki, dan kerasulan.  Probasi atau percobaan yang dijalani oleh para novis menjadi salah satu dasar pembentukan cara bertindak Serikat sebagai cara hidup mereka. Berbagai macam aspek ke-Jesuitan  ditanamkan melalui probasi-probasi ini, seperti kerohanian, kerasulan, hingga komunitas. Dalam menghadapi berbagai macam probasi, para novis akan langsung berhadapan dengan diri mereka sendiri dan melihat siapa mereka sesungguhnya. Ini semua nantinya akan menentukan identitas, perutusan, dan komunitas mereka sebagai seorang Jesuit sejati.  BERJASA TANPA TANDA JASA Proses formasi di novisiat melibatkan banyak pribadi yang hadir sebagai formator (pembimbing) untuk membina dan membimbing para novis. Dari sekian banyak pribadi yang hadir, Allah merupakan formator utama bagi para novis, melalui sarana-sarana manusiawi yang menunjang. Formator kedua adalah para novis sendiri. Dengan kedewasaan dan kebebasan yang bertanggung jawab, para novis belajar untuk berani memutuskan, menjalani, dan menghidupi pilihan-pilihannya, yang akan membentuk identitas ke-Jesuitan mereka. Formator ketiga adalah para Jesuit yang ditugaskan di novisiat untuk menemani para novis, seperti Magister dan Socius Magister. Kehadiran mereka menjadi sarana bagi Allah dan Serikat untuk hadir secara langsung menemani dan membimbing para novis. Dari para formator Jesuit inilah para novis dapat melihat dan belajar menghidupi cara bertindak Serikat yang nyata.  Namun, formator tidaklah sebatas para Jesuit saja. Para karyawan kompleks novisiat, bahkan orang-orang luar pun dapat hadir sebagai formator yang membantu pembinaan para novis. Percobaan yang dijalani para novis mengharuskan mereka untuk berjumpa dengan masyarakat luar. Perjumpaan-perjumpaan ini membantu para novis menyadari realitas dunia luar yang terjadi. Seluruh bekal dari pembinaan yang dijalani akan menjadi berarti ketika para novis mampu mengejawantahkannya dalam kehidupan setelah di novisiat nanti.  NO MANUAL BOOK Formasi tidaklah didasarkan pada manual book perakitan pesawat, yang langkah demi langkahnya mutlak diikuti. Jika tidak sesuai, maka gagal terbang. Novisiat bukanlah tempat perakitan pesawat. Jawaban berbeda pasti akan didapat jika seseorang bertanya kepada beberapa Jesuit mengenai pengalaman mereka ber-novisiat, sekalipun berada dalam satu angkatan. Formasi dapat berjalan secara unik, seturut dengan apa yang dirasa lebih membantu  pribadi menemukan kehendak Allah dengan melihat gerak dari Roh Allah, Ini yang menjadi kunci dalam formasi Serikat Jesus. Kesadaran bahwa setiap Jesuit yang dibina itu unik. Pada situasi normal, probasi yang diberikan kepada para novis adalah Latihan Rohani, Eksperimen Dalam Rumah, Eksperimen Luar Rumah, peregrinasi (berziarah  tanpa bekal selama sepuluh hari), dan probasi hidup harian seperti berkomunitas, memimpin ibadat, hingga tanggung jawab tugas rumah. Dalam proses menghidupi setiap probasi itu, para

Karya Pendidikan, Penjelajahan dengan Orang Muda

Penggalakkan PjBL Merdeka Belajar!

PjBL (Project Based Learning) merupakan salah satu pendekatan atau metode pembelajaran yang sedang dikembangkan untuk mewujudkan Merdeka Belajar. Salah satu sekolah yang sudah menerapkan metode PjBL ini adalah SD Kanisius Kenalan, Magelang sejak tahun 2011. Penerapan ini menarik inisiatif Lembaga Kupuku Indonesia untuk mengadakan workshop dengan tema Project Based Learning Berbasis Kearifan Lokal, dalam kerja sama dengan Global Compact Network Indonesia (IGCN) dan Yayasan Kanisius Cabang Magelang. Kegiatan ini diselenggarakan dalam dua sesi, yaitu pada Sabtu, 19 Maret 2022 dan Sabtu, 26 Maret 2022, dengan dua tema yang saling berkorelasi satu sama lain. Tujuan workshop ini adalah untuk mengembangkan kapasitas kepala sekolah, guru, dan orang tua dalam mendidik anak. Kurang lebih ada 700 orang yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan orang tua dari berbagai jenjang pendidikan yang mendaftar dan mengikuti via Zoom dan Youtube Channel.  Dalam workshop sesi pertama, Bapak Yosef Onesimus Maryono, S.Pd., Kepala Sekolah dan Praktisi PjBL SDK Kenalan Magelang, mengisahkan bahwa SDK Kenalan yang berdiri sejak tahun 1930 sempat terancam ditutup oleh Yayasan karena semakin menurunnya jumlah murid. Para guru pun mencari cara agar SD ini tetap bertahan, salah satunya dengan melakukan upaya pendidikan yang memerdekakan anak. Akhirnya pada tahun 2007 diciptakanlah Komunitas Republik Anak Kenalan (RAK) yang diimajinasikan seperti lembaga pemerintahan Indonesia. Komunitas ini memiliki presiden, wakil presiden, dan para menteri yang dijabat oleh anak-anak SDK Kenalan. Rado (kelas V) sebagai presiden dan Dimas (kelas V) sebagai wakil presiden periode Januari-Juni 2022 bersama menteri-menterinya belajar berorganisasi dengan berbagai aktivitas dan pilihan minat. Ibu Vincentia Orisa Ratih Prastiwi, S. Pd., guru kelas V dan guru pendamping Republik Anak Kenalan (RAK), menyampaikan bahwa RAK menghidupi dan memperjuangkan nilai cinta kasih, kebersamaan, kesetaraan, kedisiplinan, ketekunan, kemerdekaan, totalitas, dan kebenaran. Dinamika kegiatan RAK adalah pemilu, rapat kabinet, forum anak, kegiatan rutin, dan pengembangan diri sehingga proses pembelajaran menjadi lebih berpusat pada anak. RAK mempermudah implementasi PjBL di SD Kanisius Kenalan. Selain itu, guru memiliki kemerdekaan dalam mengintegrasikan kurikulum nasional dengan tema-tema kontekstual yang dekat dengan alam, sosial, dan budaya sebagai sumber belajar.  Narasumber Dr. Elih Sudiapermana M. Pd. sangat mengapresiasi dan mendukung program-program kegiatan berbasis project yang memerdekakan guru dan anak seperti yang telah dilakukan oleh SD Kanisius Kenalan, Magelang. Beliau menyampaikan bahwa penguatan materi bisa dilakukan tanpa harus melalui banyak ceramah “transfer of knowledge,” namun guru harus lebih mendorong anak untuk ceria dalam mengikuti pembelajaran, komunikatif, kolaboratif, inovatif, rasa ingin tahu yang banyak, berusaha mencari pemecahan masalah, serta mau belajar mandiri berkelanjutan.”  Workshop sesi kedua dengan topik Implementasi Project Based Learning yang Kontekstual menghadirkan dua narasumber, yaitu Bapak Yosef Onesimus Maryono, S. Pd dan Ibu Agustina Prima Susanti, S. Pd. Dalam sesi ini mereka membagikan program Niti Belik Berkahing Khalik atau disingkat Tilik Belik (menengok belik) sebagai salah satu program kegiatan SD Kanisius Kenalan yang memanfaatkan momentum hari Air Sedunia (22 Maret 2022). Melalui Tilik Belik, anak-anak belajar untuk mengorganisasi komunitas dan dirinya sendiri. Kegiatan tilik belik bertujuan agar anak mengetahui keadaan sumber mata air, keluasan belik, debit air, kebersihan belik, mengetahui pemanfaatan sumber mata air oleh masyarakat sekitar, dan menghargai air (valuing water). Anak diajak melakukan perjalanan (ekspedisi) melihat dan mengenali belik dan memberikan pemahaman bahwa air adalah ibu kehidupan, yang menciptakan, dan memberikan kehidupan bagi makhluk hidup. Di mana ada air, di situ ada kehidupan.  Tindak lanjut dari kegiatan webinar ini adalah dibuatnya whatsapp group (WAG) oleh tim Kupuku Indonesia untuk memfasilitasi para peserta yang semakin bersemangat dalam upaya mengimplementasikan pendekatan PjBL di sekolah masing-masing di bawah Yayasan Kanisius Cabang Magelang (YKCM). Kontributor : Agust Marwanto – YKC Magelang

Penjelajahan dengan Orang Muda

Temu Orang Muda Sahabat Jesuit

Seperti telah kita ketahui bersama, salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangka merayakan 50 tahun Provinsi Indonesia Serikat Jesus adalah refleksi bersama terkait karya-karya kerasulan Provindo. Pada bulan November ini, kita merefleksikan karya Provindo dalam mendampingi orang muda. Ini sesuai dengan Preferensi Kerasulan Universal yang ketiga yaitu menemani kaum muda dalam menciptakan masa depan yang penuh harapan.  Keterlibatan Jesuit Indonesia dalam Formasi Orang Muda Seperti di belahan bumi yang lain, pelayanan Jesuit di Indonesia sangat terkait dengan formasi orang muda. Formasi orang muda ini menjadi salah satu aspek pelayanan Jesuit melalui karya pendidikan, paroki, dan kategorial. Secara khusus Jesuit Indonesia terlibat dalam pelayanan formasi orang muda melalui karya-karya pendidikan menengah dan tinggi, mempersiapkan mereka menjadi man and women for and with others. Selain bekerja di lembaga pendidikan yang dimiliki dan dikelola oleh Provindo, Jesuit Indonesia juga bekerja pada Yayasan Strada di Keuskupan Agung Jakarta dan Yayasan Kanisius di Keuskupan Agung Semarang. Tidak hanya orang muda yang terkait dengan sekolah-sekolah Jesuit saja, Jesuit di Indonesia juga terlibat dalam formasi orang muda yang sedang belajar di perguruan tinggi negeri atau swasta melalui pelayanan paroki-paroki mahasiswa di Depok, Jakarta, Yogyakarta, dan Surakarta.  Karya paroki merupakan sebuah pelayanan terhadap umat dengan rentang usia yang sangat beragam, dari anak-anak hingga lansia. Keterlibatan para pastor paroki Jesuit dalam formasi orang muda di paroki terwujud dalam pelayanan dan pendampingan terhadap Orang Muda Katolik (OMK). Satu lagi keterlibatan Jesuit Indonesia dalam formasi orang muda yang perlu direfleksikan adalah pendampingan Jesuit Indonesia kepada kelompok Magis. Magis merupakan kelompok orang muda. Ada yang masih kuliah, tetapi juga cukup banyak yang sudah bekerja. Mereka mencoba memperdalam spiritualitas Ignasian dan mempraktekannya dalam hidup sehari-hari. Saat ini, kelompok Magis berkembang di Jakarta dan Yogyakarta. Mendengarkan Cerita Orang Muda Pater Arturo Sosa, dalam refleksi yang tertuang dalam Berjalan Bersama Ignatius mengatakan bahwa syarat untuk keberhasilan proses pendampingan orang muda adalah jika orang dewasa mau mendengarkan mereka. Sesuai dengan anjuran Pater Jendral, bentuk webinar yang dilaksanakan pada tanggal 11 November 2021 ini adalah mendengarkan orang muda yang telah didampingi oleh para Jesuit. Ada empat pertanyaan yang mematik refleksi bersama mereka ini.  (a) Bagaimana selama ini orang-orang muda ini bekerja sama dengan para Jesuit? (b) Dari pengalaman bekerja bersama dengan para Jesuit, spiritualitas Ignasian apa yang terpancarkan? (c) Dari spiritualitas Ignasian tersebut, apa yang dipakai dalam hidup? (d) Apa harapan Anda sebagai orang muda terhadap para Jesuit untuk 5-10 tahun ke depan? Dipandu oleh moderator Frater Antonius Septian Marhenanto, S.J., webinar diawali dengan sharing dari tiga orang muda: Stella Vania (OMK paroki Kotabaru), Hendrikus Handoko (Campus Ministry Universitas Sanata Dharma), dan Herman Cahyono (Komunitas Magis). Vania yang sangat aktif di Paroki Kotabaru Yogyakarta sejak misdinar mensharingkan pengalamannya yang selalu mendapat tantangan dari para Jesuit. Henrikus, saat ini menjadi ketua Komunitas Kana di Sanata Dharma, memiliki pengalaman kebebasan (kepercayaan) dalam bekerja bersama dengan para Jesuit. Herman Cahyono, yang mengenyam pendidikan menengah di SMA Loyola dan pendidikan tinggi di Universitas Sanata Dharma, mensharingkan pengalaman ketertarikannya dengan spiritualitas Ignasian yang akhirnya terpenuhi melalui komunitas Magis. Herman menggali inspirasi kepemimpinan Ignasian dan menerapkannya dalam dunia kerja. Apa harapan mereka terhadap para Jesuit? Hendrikus berharap bahwa Jesuit bisa lebih luas dan lebih giat lagi dalam memperkenalkan spiritual Ignatian. Hendrikus baru kenal Jesuit ketika melakukan studi di Yogyakarta. Menurut Vania, keterlibatannya di paroki lebih pada pekerjaan yang terkait dengan liturgi atau kegiatan paroki lainnya. Vania berharap ada kegiatan pendalaman spiritualitas Ignasian bagi para pelayan dan aktivis paroki. Jangan sampai banyak orang bekerja di paroki yang dikelola oleh Jesuit tetapi tidak mengenal spiritualitas Ignasian. Kerinduan agar Jesuit memperluas upaya pengenalan spiritualitas Ignasian ini juga disampaikan oleh beberapa peserta webinar. Webinar ini tidak hanya mendengarkan pengalaman dari narasumber yang diundang. Seluruh peserta dibagi dalam kelompok-kelompok untuk saling berbagi terkait dengan empat pertanyaan pemantik di atas. Sharing kelompok kecil ini dipandu oleh teman-teman dari komunitas Magis. Pengalaman didampingi untuk melakukan pemeriksaan batin, journaling, self awareness, dan cura personalis banyak disharingkan dalam kelompok. Pertemuan ini diakhiri dengan peneguhan oleh Pater Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur, S.J. yang saat ini bertugas sebagai pastor paroki mahasiswa di Yogyakarta. Pater Effendi mengajak orang muda menyediakan diri bersama para Jesuit berjuang bagi Gereja di Indonesia. Selain itu, beliau meminta bantuan kepada orang muda untuk mau memperkenalkan spiritualitas Ignasian kepada orang-orang muda yang lain. Catatan Akhir Fokus webinar ini adalah mendengarkan cerita orang muda. Hal ini sudah berjalan sangat baik. Semua orang muda peserta webinar mendapat kesempatan untuk berbagi. Namun fokus ini menghilangkan aspek informasi yaitu pemaparan keterlibatan Provindo dalam formasi terhadap orang muda. Beberapa peserta menantikan informasi ini ditambah dengan refleksi Provindo terkait hal ini. Semoga ada kesempatan di lain waktu.  Kontributor : Agustinus Eko Budi Santoso, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

JCAP Novices Gathering : Celebrating Companionship with Ignatius

Untuk pertama kalinya, para Novis Serikat Jesus yang berada dalam konferensi Asia Pasifik (Jesuit Conference of Asia Pacific/JCAP) berkumpul bersama dalam suatu ruang pertemuan. Kegiatan yang bertajuk “JCAP Novices Gathering” ini diadakan secara daring melalui Zoom pada 6-8 Oktober 2021. Tema pertemuan ini adalah “Journeying with The Pilgrim: Celebrating Our Companionship with Ignatius.” Ada 6 Novisiat yang berpartisipasi: Novisiat Sacred Heart Filipina, Novisiat Sacred Heart Vietnam, Novisiat Santo Stanislaus Kostka Indonesia, Novisiat Santo Stanislaus Kostka Korea, Novisiat Manresa Australia, Novisiat Manresa Timor Leste, dan Novisiat Maria della Strada Myanmar. Ada beberapa novisiat yang bernuansa internasional karena para novisnya berasal dari beberapa negara. Misalnya: Novisiat Sacred Heart Filipina yang terdiri novis dari Filipina, Jepang, Cina, dan Malaysia-Singapura; juga Novisiat Maria della Strada Myanmar yang terdiri novis dari Myanmar, Kamboja dan Thailand. Synodality and Poverty, Conversion and Discernment Acara ini diawali dengan sambutan dari Pater Antonio Moreno, S.J. (Presiden JCAP). Secara khusus Pater Toni mengajak para novis untuk mensyukuri rahmat dari pandemi corona yang telah mengumpulkan enam novisiat di JCAP dalam satu ruang daring ini. Beliau mengungkapkan bahwa Serikat saat ini sedang melakukan suatu perjalanan bersama-sama, di bawah bimbingan Roh Kudus, untuk mengimplementasikan Universal Apostolic Preferences. Hal ini seirama dengan gerak Gereja Universal untuk berjalan bersama (synodality). Pater Toni juga mengajak para novis untuk terus mendalami dan berlatih menghidupi kaul kemiskinan sebagaimana yang disampaikan oleh Pater Jenderal dalam suratnya mengenai kemiskinan Serikat. Para Novis juga berkesempatan mendengarkan pengajaran dari Pater Ramon Bautista, S.J. tentang pertobatan dan diskresi. Di hari pertama, Pater Ramon mengajak kita untuk mendalami makna pertobatan khususnya yang terjadi juga pada Santo Ignatius Loyola. Pertobatan adalah metanoia (perubahan total pikiran dan hati untuk menjauh dari dosa dan menuju pada Allah). Ada empat dimensi pertobatan yaitu intelektual, moral, afektif, dan religius. Pertobatan juga menuntut kemauan untuk terus mengonfrontasi diri dengan jujur, menemukan dan memperjuangkan kebenaran sejati, serta kerendahan hati untuk terus mengosongkan diri. Di hari kedua, Pater Ramon menjelaskan tentang diskresi. Diskresi adalah rahmat dan seni untuk mencari dan menemukan Allah dalam kehidupan kita. Butuh keterbukaan hati atas apa yang dikomunikasikan Allah kepada kita serta menjaga harmoni dengan Roh Kudus yang menuntun kita. Pater Jose Cecilio Magadia, S.J. (Regional Assistant for Asia Pacific) berkenan juga untuk menyapa para novis. Ada tiga kata kunci dalam sapaannya: probation, work as a team, dan internationality. Novisiat adalah tempat probasi untuk terus meneguhkan, dalam doa, panggilan Allah bagi masing-masing pribadi dan bukan menjadi ajang pembuktian diri. Para novis juga diajak untuk terus mengasah kerjasama sebagai tim serta semangat internasional.  Pada pertemuan ini, setiap novisiat berkesempatan untuk membagikan kehidupan sehari-hari mereka dalam bentuk presentasi, narasi, foto, maupun video. Karena tidak ada novis di Novisiat Korea, maka Pater Magisternya sendirilah, Pater Hyung-Cul Kim, S.J., yang mempresentasikan kehidupan novisiat di sana. Friendship, Freedom, Frontier Di hari terakhir, Jumat, 8 Oktober 2021, para novis dari masing-masing novisiat membagikan buah-buah yang didapatkan dalam pertemuan ini. Buah-buah yang dibagikan merupakan rangkuman dari percakapan rohani yang dilakukan setiap malam di masing-masing Novisiat. Di hari ini para novis juga berkesempatan untuk berdialog dengan Pater Mark Ravizza, S.J. (General’s Delegate for Formation). Secara khusus beliau mengajak para novis untuk bersukacita dan menemukan kemerdekaan batin dalam menjalani formasi. Beliau juga mengajak para novis untuk berdoa bagi seluruh novis di dunia dan untuk beberapa negara yang mengalami krisis panggilan. Pater Jenderal, Pater Arturo Sosa, S.J., juga berkesempatan untuk menyapa para novis lewat video. Beliau mengungkapkan tiga hal penting yang harus dipegang dan diperjuangkan sebagai novis, yaitu friendship, freedom, dan frontier.  Akhirnya JCAP Novices Gathering ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi Syukur yang dipimpin oleh Pater R.B. Riyo Mursanto, S.J. (JCAP Delegate for Formation). Yang menarik adalah doa umat dibacakan secara bergantian dengan bahasa dari masing-masing negara di mana para novis berasal. Pater Riyo dalam homilinya menegaskan pentingnya conversion, courage, dan commitment dalam menjalani proses formasi dalam Serikat Jesus.Bagi Novisiat Santo Stanislaus Kostka Indonesia, acara JCAP Novices Gathering ini menjadi kesempatan untuk merayakan keberagaman dan sukacita panggilan sebagai novis Serikat Jesus. Selain menjadi kesempatan untuk mendengarkan pesan dan pengajaran dari para Jesuit senior, acara ini juga menjadi ajang bagi para novis untuk saling mengenal satu sama lain sebagai satu kesatuan Serikat Jesus Universal, khususnya dalam konferensi Asia Pasifik ini. Kontributor : Stefanus Dominico, nSJ – Novisiat Girisonta