Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

Seminaris dan Pandemi

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama 1 tahun. Dan seperti yang kita lihat hampir seluruh aspek kehidupan mau tidak mau harus beradaptasi dengan kondisi ini. Salah satunya adalah dunia pendidikan, para siswa terpaksa melakukan pembelajaran dari rumah dengan tetap didampingi para guru melalui daring. Hal ini pun dirasakan oleh para seminaris, yang biasanya mereka belajar, berdoa, berdiskusi dan berdiskresi bersama di asrama, terpaksa mereka lakukan semua itu di rumah. Apa saja tantangan yang mereka hadapi selama melakukan pembelajaran di rumah saja? Bagaimanakah mereka merefleksikannya? Berikut adalah cerita para seminaris dalam menghadapi belajar dalam kondisi seperti ini. Bahagia itu mudah Rafaelo Dergio Augusto Novaro Rangkuty Seminari Menengah Wacana Bhakti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan kegiatan belajar dari rumah masing-masing termasuk saya yang melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh ini dari seminari. Sebagai seorang seminaris banyak suka-duka ataupun makna pengalaman yang saya alami selama PJJ. PJJ ini mengajarkan saya untuk bisa beradaptasi karena hal ini adalah hal yang baru bagi saya. Selama PJJ, waktu sekolah menjadi lebih singkat dan PJJ juga tidak membuat panggilan saya menurun, melainkan memiliki banyak waktu, saya mempunyai quality time tersendiri dengan Tuhan. Dengan memiliki banyak waktu saya bisa berkomunikasi dengan Tuhan dengan curhat dengan-Nya. PJJ ini mengajarkan saya untuk bisa mencari kebahagiaan dengan Tuhan di tengah keterbatasan, karena sesungguhnya bahagia itu sederhana. PJJ Siapa takut? Aloysius Gonzaga Rikito Teguh Santosa Seminari Menengah Wacana Bhakti Seminari Menengah Wacana BhaktiPembelajaran Jarak Jauh atau PJJ memang merepotkan, terutama di seminari. PJJ sangat mengandalkan komputer dan internet, tetapi di satu sisi, jadwal penggunaan komputer dan internet di Seminari terbatas. Sehingga terkadang saya merasa kesulitan. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Apakah saya akan mengeluh? Sebagai seorang siswa dan seminaris, saya diajak untuk tidak mengeluh. Saya harus tetap bersemangat dan berusaha semaksimal mungkin menghadapi tantangan PJJ ini. Karena saya percaya bahwa Tuhan selalu menyertai saya sepanjang hidup saya dan Tuhan tidak akan memberi tantangan yang melebihi kekuatan saya. Semoga saya semakin dikuatkan dalam menjalani tantangan PJJ ini. Seminari Mengubah Diri Juan Carlo Suban Mukin Seminari Menengah Mertoyudan Hidup di Seminari adalah suatu rahmat yang sangat saya syukuri. Saya telah dibimbing selama kurang lebih tiga setengah tahun oleh para staf Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan Magelang. Berbekal benih yang bernama “panggilan”, saya menyerahkan diri agar “disemai” dan dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Percaya diri, tahan banting, dan berkehendak yang kuat, serta banyak hal lainnya dilatih di Seminari. Nilai yang ditanamkan nampak utopis namun dilatih lewat berbagai aktivitas yang sederhana. Perayaan Ekaristi, Kegiatan Belajar Mengajar, dan ekstrakurikuler adalah beberapa rutinitas dari sekian banyak aktivitas yang menanamkan nilai-nilai tersebut. Di Seminari, saya diajak untuk menyadari dan menerima kekurangan diri melalui correctio fraterna (saling memberi apresiasi atau masukan/sumbangan rohani pada teman se-komunitas). Saya jadi memahami bahwa selalu saja ada orang yang tidak cocok atau tidak suka dengan saya. Namun demikian, bukanya mewek atau cengeng melainkan saya berusaha lebih adaptif terhadap situasi, terbuka terhadap masukan yang ada dan tetap menjadi pribadi yang autentik. Saya diundang untuk terus berubah menjadi yang terbaik versi diri saya. Saya yang dulu bukan saya yang sekarang. Saya yang sekarang mempersiapkan diri untuk masa mendatang. Kini “benih” yang sudah dan terus ditumbuh-kembangkan diuji oleh pandemi Covid-19. Saya adalah salah seorang penyintasnya. Kesetiaan terhadap formasi diuji Ketika saya berada di rumah apalagi ketika terjangkit Covid-19. Segala kondisi dan keterbatasan tidak dapat terus-terusan menjadi alasan untuk mengeluh. Usaha untuk menjadi setia, dipadukan dengan pertolongan rahmat melalui doa senantiasa digaungkan. Hanya doa dan usaha yang bisa dilakukan di saat seperti ini untuk setia pada pembentukan diri. Sisanya biarlah kehendak Tuhan yang terjadi. PENGKONDISIAN (HARUSNYA) BERBUAH DALAM KESADARAN Christofer Edgar Liauwnardo Seminari Menengah Mertoyudan Siapa bilang Formasi Jarak Jauh (FJJ) enggak formatif? Formasi formal di Seminari itu penuh “pengkondisian” yang semakin dirunut semakin berkesan dan membekas. Ada jadwal harian, peraturan, kegiatan komunitas, dan aneka dinamika bersama yang ngangenin. Di rumah, pengkondisian itu berubah bentuk menjadi kontrol pribadi. Alih-alih didesak oleh pengkondisian, aku malah merasa didesak oleh kesadaran penuh untuk mempertahankan tradisi dan pengembangan diri secara holistik. Contohnya, di tengah persiapan Ujian Sekolah, aku mencoba tetap melakukan bacaan rohani di sore hari—salah satu jadwal harian seminaris, karena memang itu sarana baik untuk menegaskan identitasku sebagai calon imam. Kontrol yang lemah hanya akan menghasilkan kebiasaan yang terpaksa dan kurang mengakar. Kontrol internal itulah yang coba kuolah lebih jauh di rumah, tanpa ada penilaian pamong, tanpa dilihat orang lain, seolah-olah melakukan segala-galanya tersembunyi. Bagaimanapun, formasi di rumah—jika dimanfaatkan secara sungguh—bisa menguji benih-benih panggilan dan keutamaan ke arah yang lebih murni. Tentulah bukan pelaksanaan secara idealis dan naif yang diharapkan, melainkan cukup kegiatan formatif yang memang berakar dari kesadaran itu—kalau aku baru memilih bacaan rohani. Sudah saatnya bagi para seminaris untuk mempraktikkan secara proporsional hasil pengkondisian di Seminari dalam pergumulan konkrit di rumah. Kalau toh rumahku juga formatif, kenapa engga? #

Karya Pendidikan

Discerning Habit

“Siang malam kuselalu menatap layar terpaku untuk online online online online jari dan keyboard beradu pasang earphone dengar lagu aku online online online online”. Potongan lirik Saykoji (2010) ini terasa sangat dekat dengan hidup harian seminaris Seminari Menengah Mertoyudan saat ini. Sudah setahun pandemi tak kunjung sirna. Setelah libur Natal 2020 yang lalu, para seminaris menjalani Formasi Jarak Jauh (FJJ) dari rumah. Semuanya gagap dan bingung bersikap. Pertanyaan besarnya: apa bentuk program pembinaan yang cocok di tengah pandemi? Semua program kini berbasis virtual. Tak ada pendampingan tatap muka langsung apalagi pengawasan dari kepamongan. Kami merefleksikan bahwa FJJ menjadi momen uji dan pemurnian yang nyata. Justru dalam kebebasan inilah, apakah para seminaris tetap dapat merawat kebiasaan yang sudah baik selama ini dan mampu membuat pilihan formatif bagi hidup dan panggilannya? Never stop learning, because life never stops teaching. Belum lama ini kami mengadakan rekoleksi bertema “Homo Digitalis: Aku Terkoneksi maka Aku Ada”. Rekoleksi ini dimulai dengan webinar tentang media sosial. Seminaris tidak kami minta mematikan HP. Sebaliknya, para seminaris kami ajak untuk mengidentifikasi konten yang sering diakses, unggahan atau komentar di akun medsos mereka lalu merefleksikannya. Bagaimana intensitasnya, apa yang dominan di akses ketika browsing, bagaimana bahasa chat yang digunakan, dst. Lewat pintu inilah kami menjadi partner diskresi sekaligus sahabat seperjalanan di tengah FJJ yang tidak pasti ini. Saya merefleksikan bahwa sudah saatnya para seminaris diajak untuk dapat menghidupi “tegangan” (tension) di tengah kemajuan teknologi komunikasi ini. Tidak menjauhkan diri atau “anti” teknologi. Dibutuhkan pembiasaan dan kemampuan untuk mengambil jarak. Ada satu seminaris yang pernah kami minta untuk tidak mengakses medsos-nya selama 30 hari. Ia sangat gelisah dan bergumul. Namun, dari situ ia belajar untuk mampu mengambil jarak, tidak lekat (addict) dan mampu menggunakannya secara proporsional. Selanjutnya para seminaris perlu ditemani untuk mengenali gerak-gerak batin seraya berani memilih di tengah kompleksitas dunia digital: beragam narasi, bombardir informasi, pornografi, cyber bullying, dst. Film dokumenter Netflix, the Social Dilemma (2020) dengan ciamik memberi gambaran betapa algoritma dan AI memengaruhi para pengguna media sosial dengan cara tak terbayangkan. Tidak diragukan lagi bahwa distraksi terbesar FJJ yang dialami Generasi Z ini adalah sentuhan dengan gawai, apalagi bagi seminaris yang selama di asrama tidak diperbolehkan membawa HP. Kini mereka bisa bebas menggunakan gawai untuk mengakses apapun di dalam genggamannya. Bagaimanapun situasinya, rumah-rumah pembinaan calon imam tetap harus berjalan seiring dengan lahirnya aneka tantangan di tengah arus zaman. Model “parenting” gaya baru dan pendampingan sinergis bersama orang tua juga sangat penting. Di tengah kebebasan pilihannya, tentu ada ekses bagi ruang untuk jatuh sekaligus tumbuh. Di sinilah tugas kepamongan untuk menemani para seminaris secara merdeka dalam proses refleksi, memberi kepercayaan yang disertai nilai tanggungjawab, serta mengembangkan kebiasaan diskresi (discerning habit). Jika seorang seminaris tumbuh berkembang kita apresiasi dan didukung. Sebaliknya, jika seorang seminaris terjatuh, kita ingatkan dengan kasih (tulus) dan membantunya bangkit. Kita mohon rahmat agar Sang Guru menunjukkan jalan-jalan terbaik pendampingan sehingga dapat membentuk para calon Gembala Gereja masa depan sebagai: men of discernment (bdk. RFIS, Pedoman Pembinaan Hidup Imamat di Indonesia, no. 100). Kontributor: P. Paulus Prabowo, S.J. Pamong Medan Utama Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mertoyudan

Karya Pendidikan

“Thinking Differently, Serve Lovely”Live In Ekskursi SMA Kolese Loyola

Seorang pejuang pembaharu dunia hendaknya memiliki kematangan dan keluasan pandangan sosial. Secara emosional para pejuang harus mampu melihat suatu masalah secara utuh dan memiliki kontrol yang baik dalam mengendalikan kondisi yang kritis. Akan tetapi dalam pembelajaran online, bagaimana implementasi formasi pendidikan karakter di Kolese Jesuit bagi para siswi-siswa? Dari latar belakang inilah, SMA Kolese Loyola membuat inovasi, agar formasi pendidikan karakter tetap dapat dilakukan dan tetap memperhatikan protokol kesehatan demi kesejahteraan bersama. Maka diselenggarakanlah dua kegiatan dalam format daring, yaitu: (1) Live in daring bagi kelas X dengan tema “Think Different”; dan (2) Ekskursi daring bagi kelas XI dengan tema “Melayani dengan kasih”. Dalam konteks live in daring, tema “Think Different”  merupakan salah satu terjemahan dari semangat Ignasian  untuk senantiasa memiliki keluasan pengetahuan dan menjadi berkat bagi sesama. Think different dimaknai sebagai usaha mencari kedalaman pengetahuan, sehingga menjadi sumber kebahagiaan bagi sesama. Kebahagiaan dalam arti memberi semangat baru, melalui kehadiran kita di tengah-tengah keluarga. Live in daring  ini mengajak para siswa menyelami potensi keluarga mereka, di mana keluarga menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan-kebiasan, nilai-nilai agama, penalaran berpikir dan intuisi dari seorang anak. Siswa akan menemukan banyak informasi dari keluarga yang sifatnya tidak tertulis namun diyakini kebenarannya. Selain itu, siswa diharapkan juga bisa menemukan banyak pengalaman penggunaan panca indera sebagai penumbuh potensi anggota keluarga. Live in daring diselenggarakan selama lima hari. Alur hari pertama mengambil tema Healthy Family. Para siswa diajak untuk mencari data tentang kesehatan keluarga, pola hidup, pola makan, dan kebiasaan hidup sehat keluarga. Upaya mencari data hidup sehat dan merancang proyek hidup sehat yang kontekstual bersama keluarga, misalnya: makan bersama empat sehat lima sempurna, rekreasi bersama, cerita bersama, atau olahraga. Hari kedua Best Family Vocation menjadi fokus bersama dan diimplementasikan dalam ragam bentuk kegiatan seperti: para siswa mengikuti pekerjaan orang tua, mencari data terkait pekerjaan orang tua dan latar belakang keluarga, pendidikan, hingga rintisan karir.  Hari ketiga, tema Fire God diarahkan agar para siswa  mencari data agama, kepercayaan, atau spiritualitas keluarga yang menjadi kekhasan dari keluarga. Mengapa keluarga memilih agama atau kepercayaan tertentu, dan bagaimana keluarga membangun toleransi dengan keluarga yang berbeda. Sebagai aksi nyata, para siswa merancang sebuah proyek kegiatan rohani bersama keluarga. Hari keempat mengangkat tema Paradise Family. Para siswa didampingi untuk melihat apa yang sedang diharapkan atau dibutuhkan ada dalam keluarga. Lalu mereka membuat sebuah rancangan perwujudan dalam sebuah desain kegiatan tertulis dengan dua tujuan, yaitu: mempererat relasi antar anggota keluarga dan membuat salah satu sudut ruangan menjadi lebih nyaman bagi keluarga. Umumnya membuat candle light dinner, cooking challenge, tik tok family, mendesain ulang ruang tamu, mendesain ulang ruang makan, mendesain ulang ruang garasi. Puncak live in daring ditutup dengan “Niatan Konstruktif” dengan tujuan mencari bentuk kebiasaan positif yang bisa dilatihkan dalam kegiatan harian di keluarga, lalu disatukan dengan perayaan Ekaristi bersama. Kegiatan kedua ialah Ekskursi daring bagi para siswi-siswa kelas XI. Ekskursi tahun 2021 kali ini dilakukan di rumah masing-masing, dan kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Rekoleksi Kelas XI yang dilakukan pada bulan Maret 2021. Fokus dari kegiatan Rekoleksi Kelas XIrekoleksi kelas XI adalah pengembangan diri bersama anggota komunitas kelas, sedangkan fokus kegiatan ekskursi ialah melakukan aksi nyata kepada orang lain yang membutuhkan di luar komunitas kelas dan di luar SMA Kolese Loyola. Kegiatan ekskursi sangat penting untuk pengembangan nilai compassion siswi-siswa kepada sesama. Mereka dihadapkan pada realita kehidupan yang mungkin belum pernah dijumpai dalam rutinitas harian. Mereka diharapkan akan menjadi semakin peka dengan penderitaan orang lain, dan akhirnya mereka diharapkan melakukan aksi nyata sesuai dengan karakter kelasnya masing-masing. Aksi yang dilakukan adalah hasil diskusi dan diskresi dari komunitas kelas bersama wali kelasnya, sehingga setiap kelas memiliki dinamika yang berbeda-beda.  Dari kegiatan Live in daring kelas X dan Ekskursi kelas XI, para siswa dan orang tua yang terlibat sungguh merasakan kehadiran dan karya Allah yang menyertai dan melindungi mereka di tengah segala keraguan dan ketakutan di masa pandemi. Bagaimana mengenali jejak-jejak karya Allah, bekerja dengan mengikuti cara Allah, dan bersama dengan banyak orang yang berkehendak baik. St. Ignatius Loyola menyebutkan dalam Latihan Rohani bahwa cinta harus lebih diwujudkan dalam tindakan nyata daripada dalam ungkapan kata-kata. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengatakan bahwa kita perlu memperdalam dan memperluas cara pandang kita, menempatkan iman, keadilan dan solidaritas dengan yang miskin, serta tersingkir sebagai unsur sentral dari perutusan kita mengenai rekonsiliasi. Semoga kegiatan Live in daring dan Ekskursi ini mampu mengobarkan semangat mereka untuk menjadi saluran berkat untuk sesama, to be “Men and Women for and with others”. AMDG Kontributor: Pak Kriswan dan Pak Anton – SMA Kolese Loyola

Karya Pendidikan

Ignite: Menyalakan Hidup! Ngurupke Urip!

Situasi pandemi memaksa kita untuk menyesuaikan diri, berpikir kreatif untuk menemukan peluang-peluang ruang formatif proses pembelajaran bagi para siswa dan guru serta karyawan di institusi pendidikan termasuk SMA Kolese Loyola. Dengan keyakinan bahwa kita dapat menemukan Allah dan berjumpa dengan-Nya secara personal melalui dunia virtual, maka kami memberanikan diri untuk mengadakan retret online bagi para siswa kelas XII. Retret daring kali ini dirancang sedemikian rupa agar menyentuh dinamika kehidupan siswa siswi, yang dibagi dalam tiga bagian, yaitu: (1) bagaimana mereka merasa dicintai oleh keluarga; (2) bagaimana mereka merasa dicintai oleh teman dan komunitas kelas; dan (3) mengkonfirmasi diri untuk siap menjadi pribadi yang mandiri dan siap diutus. Banyak strategi yang kami buat supaya nuansa retret benar-benar bisa dihadirkan dalam suasana online dalam rumah masing-masing. Kehadiran orang tua dalam retret ini sangat dibutuhkan, karena siswa-siswi semua ada dirumah masing-masing, maka kami mengajak keterlibatan orang tua siswa dalam retret ini. Kehadiran orang tua siswa dalam retret yang dilakukan SMA Kolese Loyola agar para peserta melihat “histeriogenesis” masing-masing dalam keluarga melalui colloquium / percakapan rohani. Salah satu siswa mengungkapkan bahwa colloquium menjadi pengalaman yang meneguhkan dirinya. Hasil refleksi dari anak tentang keluarga sungguh sangat menjadikan mereka pribadi yang sungguh dicintai dalam keluarga dan akan selalu mengingat kebaikan orang tua.   Dari pengalaman yang sudah terjadi, retret daring ternyata membawa rahmatnya tersendiri. Relasi antar siswa di dalam kelas justru terasa lebih dekat, sehingga mendukung untuk saling terbuka, bercanda, dan merefleksikan pengalaman hidup di dalam keterbatasan. Seorang guru pendamping mengatakan, “Dalam retret ini saya belajar bagaimana melihat sungguh karya Allah dalam refleksi para siswa perwalian yang berusaha keras mengamati gerak batinnya di tengah keramaian rumah, dan bergulat mengatasi godaan digital dan gempuran media sosial”. Retret daring SMA Kolese Loyola diakhiri dengan pemberian kembali bekal 4C (Competence, Conscience, Compassion, dan Commitment) dari sekolah yang telah tertanam pada diri siswa. Harapannya, ketika para siswa sudah lulus dan berada di masyarakat, nilai tersebut selalu diingat dan sadar akan kasih Tuhan. Rasa syukur atas retret daring ini ditutup dengan perayaan ekaristi. Selain itu, kehadiran orang tua dalam Ekaristi penutupan, serta sharing pengalaman mereka dalam mendampingi putra-putri sungguh menjadi pengalaman yang mendalam bagi anak-anak semua. Benang merah retret pun dapat dirasakan oleh anak-anak secara mendalam, sehingga mereka memiliki semangat baru dalam hidup sebagai individu dan masyarakat. Di sanalah Allah yang secara personal sungguh dirasakan kehadiran-Nya dalam perjumpaan, dan tetap berkarya di dalam proses retret daring.  Semoga komitmen yang dibangun untuk menjadi pribadi yang mandiri serta memiliki hidup yang lebih bermakna bagi diri sendiri & orang lain (ngurupke urip) terus tertanam di hati setiap peserta. Kontributor: Tim Retret SMA Kolese Loyola – Riki, Dewi, Ningsih, Yoas

Karya Pendidikan

UAP Kolese Mikael: Antara Being dan Doing

Pada tanggal 4-6 Februari 2020, perwakilan unit-unit kerja yang bernaung di bawah Kolese Mikael, Surakarta berkumpul bersama di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten untuk membahas implementasi Universal Apostolic Preferences (UAP). Unit usaha yang hadir dalam pertemuan ini diwakili oleh direktur PT. ATMI Solo, PT. ATMI IGI, PT. AKE, PT. ADE, dan staf pelatihan ATMI Bizdec. Sementara itu, unit edukasi diwakili kepala sekolah SMK Mikael dan direktur Politeknik ATMI. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Yayasan Karya Bakti Surakarta, Ignatian Center, dan anggota-anggota residensi ATMI. Pada kesempatan kali ini, Pater A. Suyadi, SJ dan Pater Joseph Situmorang, SJ, selaku tim implementasi UAP, menemani proses dinamika tersebut. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, Kolese Mikael berusaha untuk memahami dan mempelajari hal apa yang harus dilakukan agar UAP dapat dijalankan di setiap unit Kolese. Proses selama tiga hari dua malam ini bisa dikatakan sebagai workshop. Para peserta yang ikut dalam acara ini dilatih sehingga dapat menjadi penggerak-penggerak implementasi di setiap unit karya. Dalam pengantar awal, Pater Suyadi mengatakan bahwa proses perencanaan implementasi ini tidak bisa hanya berhenti di pertemuan tiga hari dua malam. Proses implementasi harus dilakukan melalui proses diskresi dan pertimbangan terus-menerus. Lebih lanjut, Pater Suyadi mengajak para peserta menemukan being yang dilanjutkan doing. Pada hari pertama dan kedua pertemuan, para peserta diajak untuk melakukan percakapan rohani. Ada dua kali percakapan rohani. Percakapan rohani pertama dilakukan untuk menemukan panggilan pribadi macam apa guna menjawab empat poin UAP. Para peserta diminta untuk melepaskan diri sejenak dari “embel-embelnya”, entah sebagai kepala sekolah, direktur, dll. Harapan dan pengalaman pribadi setiap peserta menjadi tekanan utama dalam refleksi dan percakapan rohani.  Pada percakapan rohani kedua, panggilan-panggilan pribadi diinventarisasi dan diendapkan hingga menemukan spirit utama, yang pada akhirnya dapat dihidupi oleh Kolese Mikael. Dengan kata lain, implementasi UAP diharapkan dapat dihidupi dari dalam hati masing-masing orang dan bukan sekedar mencocok-cocokkan dengan rencana kerja yang sudah ada. Ada gerak yang berasal dari dalam menuju ke institusi. Pater Suyadi juga mengharapkan bahwa UAP bukan dilihat sebagai program kerja semata, tetapi lebih sebagai spirit yang dipeluk dan dihidupi. Dengan kata lain, UAP diharapkan dapat menginspirasi para peserta untuk menemukan being dari Kolese Mikael. Setelah dua hari berkutat pada spirit dan kedalaman pribadi atau institusi. Hari terakhir, para peserta diajak untuk mulai merencanakan doing. Dengan kemampuannya di bidang manajemen, Pater Joseph memberikan gambaran singkat dan poin-poin yang bisa dilakukan sehingga program-program implementasi UAP dapat berjalan serta termonitor dengan baik. Dalam diskusi-diskusi singkat yang terjadi, para peserta terlihat antusias merancang hal-hal apa saja yang sekiranya bisa dilakukan di tingkat Kolese. Pertemuan tiga hari dua malam ini merupakan langkah awal bagi Kolese Mikael untuk berproses dan menjawab panggilan UAP. Momen ini benar-benar menjadi kesempatan berharga bagi setiap peserta untuk merasakan tuntunan Roh Allah sendiri, yang menunjukkan arah gerak Kolese Mikael ke depannya. Roh ini menjiwai, mendorong para Jesuit, dan rekan-rekan awam untuk berjalan bersama melalui upaya edukasi dan produksi di Kolese Mikael. Dengan demikian, semakin banyak orang dapat menemukan Allah, martabat kaum miskin semakin terangkat, bumi semakin layak menjadi “rumah bersama”, dan masa depan kaum muda semakin cerah. Menemukan dan mengikuti gerakan Roh itu sendiri tetap menjadi tantangan. Orang-orang yang berkarya di Kolese Mikael sudah terbiasa membuat dan menjalankan program kerja. Secara manajemen pun Kolese Mikael memiliki orang-orang yang mumpuni. Akan tetapi, tidak selalu mudah menemukan Roh di balik setiap program yang dijalankan, tanpa muncul kecenderungan untuk serta-merta berpikir dan bertindak secara praktis. Jebakan untuk terburu-buru merumuskan doing itu selalu ada. Demikian pula, proses belajar juga terus berlangsung demi dapat membuat suatu program kerja yang sungguh-sungguh memiliki Roh. Untuk bisa menemukan roh itu, akhirnya kami harus kembali melihat lagi raison d’être yang membentuk Kolese Mikael menjadi being. Menemukan being adalah titik tolak merumuskan dan melakukan doing yang dijiwai oleh Roh. Selama delapan bulan ke depan, hingga bulan Oktober 2021, Kolese Mikael masih diajak untuk merumuskan being dan doing secara lebih konkrit. Rumusan tersebut juga masih perlu diimplementasikan ke unit karya masing-masing dengan segala kekhasannya. Dengan demikian, proses implementasi UAP masih belum selesai dan akan terus berjalan. Pada akhirnya, UAP kiranya memang tidak dimaksudkan untuk segera selesai dengan segala program kerja dan produk yang sudah jadi. Sesuai semangatnya, UAP diharapkan terus menjadi tuntunan dalam ongoing mission Kolese Mikael dengan segala inovasi dan pelayanannya. Foto-foto dokumentasi oleh Ardi, SJ dan Dodo, SJ Kontributor tulisan: Barry Ekaputra, SJ dan Mathando Hinganaday, SJ

Karya Pendidikan

Yayasan Kanisius Peduli Pada Bencana Banjir Semarang

Hujan deras pada Hari Rabu, 24 Februari 2021 merendam sebagian Kota Semarang. Hujan terus berlangsung kurang lebih selama tiga hari hingga hari Jumat, 26 Februari 2021. Di beberapa titik, jalanan terendam banjir sehingga kendaraan bermotor tidak bisa lalu lalang di atasnya. Ini adalah banjir kedua setelah beberapa minggu sebelumnya banjir juga merendam Kota Semarang. Curah hujan yang tinggi menyebabkan beberapa daerah yang rendah dan rawan banjir dengan cepat terendam, juga disebabkan pompa air yang tidak berfungsi optimal pada saat hujan turun dengan derasnya. Beberapa rumah guru, karyawan dan murid-murid Kanisius Cabang Semarang juga terkena banjir. Sebelumnya, pada saat terjadi banjir pada pertengahan Februari, Yayasan Kanisius Cabang Semarang bergerak membantu korban banjir. Sekolah-sekolah Kanisius Cabang Semarang, di Rayon Kota dan Rayon Timur (Kudus, Pati, Juwana, Jepara) turut membantu korban terdampak banjir bahkan juga mendirikan posko bantuan.  Belum selesai kasus guru, keluarga guru, siswa, keluarga siswa yang terpapar Covid-19 hingga meninggal dunia, bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor datang dan menyasar ke rumah siswa dan guru Kanisius di Kota Semarang pada hari Sabtu, 6 Februari 2021. Bencana banjir ini sampai menewaskan kakak kandung salah satu siswi  SD Kanisius Lamper Tengah, Semarang. Berita duka tersebut beredar di media sosial hingga memunculkan ide di WA grup Rescue Team yang berisi para murid SD Kanisius Kurmosari. Dalam grup WA tersebut, ada seorang murid yang menuliskan pesan, “Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu teman-teman, Bu?” Pesan singkat ini seolah menampar kami para guru yang mendampingi mereka. Anak kecil ini memiliki empati yang begitu besar hingga ia menawarkan diri untuk membantu sesamanya. Kami tidak berpikir sampai sejauh itu untuk melakukan sesuatu bagi para korban banjir. Kami hanya heran dan sibuk menilai kinerja pemerintah dengan membaca komentar-komentar yang ada di media sosial. Tapi di satu sisi kami juga bangga bahwa nilai Kanisius yaitu peduli, yang kami tanamkan selama ini menumbuhkan  ide dan kepedulian murid disaat bencana banjir Semarang. Ide murid tersebut kami tindak lanjuti ke kelompok Kepala Sekolah Rayon Kota Semarang dan terbentuk Tim Peduli Korban Bencana. Tim ini dibentuk sebagai aksi cepat tanggap terhadap kebutuhan komunitas Kanisius saat terjadi bencana dan pandemi. Dari proses penggalangan dana dan bantuan yang dilakukan, terkumpul terkumpul paket beras, mie instan, telur, gula, serta bahan untuk kebersihan. Semua bantuan tersebut dibuatkan paket sembako untuk 250-an korban yang terdampak banjir Semarang. Tim ini akan terus bekerja dan akan melebarkan cakupan sasaran yang pada awalnya hanya untuk Kanisius Rayon Kota Semarang menjadi Kanisius Cabang Semarang. Semoga bantuan dana/barang dari donatur dan pemerhati Kanisius terus mengalir. Kontributor: K. Ika Wardhani S.Psi – Kepala Sekolah SD Kanisius Kurmosari, Semarang

Karya Pendidikan, Penjelajahan dengan Orang Muda

Gonzaga Virtual Festival: Karena Berhenti Bukan Pilihan

Jiwa muda yang penuh semangat dan kreativitas, tentunya tak boleh mati karena pandemi Covid-19. Hal inilah yang dihidupi oleh kawula muda SMA Kolese Gonzaga sejak awal pandemi. Kegiatan-kegiatan tahunan yang direncanakan terus diproses persiapannya, sebagai ekspresi harapan dan optimisme bahwa kondisi akan segera membaik. SMA Kolese Gonzaga setiap tahunnya menggelar berbagai kegiatan, salah satunya Gonzaga Festival yang merupakan kegiatan ekspresi dan kompetisi, serta kolaborasi yang mengasah berbagai keterampilan seperti leadership, entrepreneurship,  manajemen, organisasi, komunikasi, dan kerja sama. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan di bulan Oktober setiap tahunnya tertunda akibat pandemi. Meskipun kepanitiaan Gonzaga Festival 2020 sudah terbentuk dan siap bekerja sebelum pandemi.  Sembari penuh harap menunggu kondisi membaik, siswa-siswi beserta para guru SMA Kolese Gonzaga menggelar acara-acara pra-Gonzaga Festival yang memotivasi dan memberi pencerahan. Beberapa diantaranya ialah  webinar “Pendidikan di Tengah Pandemi” bersama Nadira Nuraini Afifa pada 28 Agustus 2020 dan webinar “Mental Health: Self Acceptance” bersama Meira Anastasia pada 26 September 2020. Kedua webinar tersebut masih dapat diakses di kanal resmi YouTube Gonzaga Festival.  Penderita Covid-19 terus bertambah hingga Agustus 2020. Situasi ini membuat siswa-siswi beserta para guru kembali berpikir, masih relevankah kegiatan Gonzaga Festival dilangsungkan? Atau perlukah melakukan adaptasi kegiatan sesuai kondisi saat ini? Berbagai pertimbangan dan pemikiran membawa komunitas SMA Kolese Gonzaga pada proses diskresi yang menghasilkan keputusan untuk tetap melaksanakan Gonzaga Festival dalam bentuk Gonzaga Virtual Festival atau GVF.  Dengan spirit “Berhenti Bukan Pilihan” yang merupakan pengejawantahan dari semangat para Jesuit yaitu Magis dan Ingenuitas (kreatif dan adaptif),  akhirnya SMA Kolese Gonzaga menyelenggarakan GVF pada tanggal 19-23 Januari 2021. Jarak tidak lagi menjadi halangan dalam GVF karena peserta bisa hadir secara virtual, sehingga peserta dari luar Jakarta, diantaranya dari Semarang, Sidoarjo-Jawa Timur, Bali, dan kota-kota lainnya, dapat mengikuti acara ini. Keterampilan menggunakan teknologi sungguh dibutuhkan untuk mengelola acara ini. Sehingga walaupun acaranya diadakan secara virtual, namun hasilnya tidak abal-abal.  Beberapa perlombaan yang biasa dilaksanakan secara offline, seperti english debate, cerdas cermat, solo dance, solo vokal, ternyata dengan beberapa adaptasi dapat dilaksanakan juga secara virtual. Ada beberapa kategori lomba, yaitu  kategori SMP,  SMA, dan Umum. Di masa pandemi, ketika pembelajaran dan kegiatan siswa-siswi diikuti dari rumah saja, beberapa hobi berkembang. Perkembangan hobi baru ini melahirkan beberapa kegiatan dalam GVF seperti lomba desain grafis, lomba fotografi, lomba rias wajah (make up) karakter, dan cooking workshop bersama Stefani Horison. E-sport seperti Valorant, PUBG, FIFA, Mobile Legends, dalam pandangan orang muda, bisa menjadi suatu hiburan yang ketika dikelola dengan bijaksana sebenarnya memiliki nilai-nilai pembelajaran. Workshop musik bersama Febrian Nindyo (HIVI) dan webinar entrepreneurship bersama Roni Pramaditia (Lawless Burger) disambut secara antusias oleh para peserta. Peran anak muda dalam dunia perfilman masa kini, semakin nampak dan menginspirasi. Ide-ide segar, idealis, tanpa tendensi, serta potensi-potensi sineas muda perlu digali dan diekspresikan dalam karya. Sinezaga (Sinematografi Gonzaga) Film Festival yang dikenal dengan SFF, tahun ini menjadi bagian dari GVF. Ajang ini  diikuti oleh tim dari SMA Kolese Loyola Semarang, SMAN 1 Tangerang Selatan, SMKN 1 Mas Ubud Bali, SMA Negeri 48 Jakarta, SMA Kolese Kanisius, dan SMA Kolese Gonzaga, serta Seminari Menengah Wacana Bhakti. Film-film ini sangat menarik dan dapat dinikmati di kanal YouTube Gonzaga Festival. Masing-masing memiliki keunikan, sangat kontekstual dengan kondisi masa kini, dan membawa pesan-pesan moral.  Sebagai sebuah selebrasi atas kebersamaan jiwa-jiwa muda dalam kolaborasi maupun kompetisi yang menghidupi semangat berprestasi dan berkreasi, GVF ditutup dengan sebuah tayangan live streaming Closing Gonzaga Virtual Festival. Nama para juara diumumkan dan keindahan musik serta gerak yang tercipta dari ketekunan geladi para siswa-siswi SMA Kolese Gonzaga ditampilkan. Dalam closing ini dihadirkan juga bintang tamu yang saat ini mencuri perhatian anak muda, yang dengan berani membuat sesuatu yang berbeda untuk go internasional yaitu Reality Club dan Ardhito Pramono. Penggalan syair lagu “Fine Today” dari Ardhito yang berbunyi We will find a way menjadi harapan kami. Semoga tayangan via kanal YouTube Gonzaga Festival yang disaksikan ribuan penonton ini memberi inspirasi bahwa masih terbuka jalan untuk berbuat sesuatu di tengah himpitan dan keterbatasan yang kita hadapi. Ada keyakinan bahwa saat ini, hari ini, semua tetap baik adanya asal kita memaknai dan mengisinya dalam semangat kebaikan itu. Unite to Ignite atau “Bersatu Untuk Menyala” menjadi tagline dalam Gonzaga Virtual Festival. Komunitas SMA Kolese Gonzaga mengharapkan pengalaman GVF ini merupakan tanda bersatu untuk menyalakan harapan bagi orang – orang di sekitar kami. Pandemi memang menjadi rintangan tetapi kami merasa bahwa berhenti bukanlah pilihan dan kami memilih untuk menyalakan harapan. Semoga GVF ini menjadi api yang memantik api-api lain. A fire that kindles other fires. Kontributor: Gabriella Kristalinawati S.Pd., M.Si. (Humas SMA Kolese Gonzaga)

Karya Pendidikan

SEMANGAT MAGIS SISWA KOLESE

Pandemi Covid-19 sudah dan masih memberikan tantangan bagi para pemimpin, tak terkecuali para ketua OSIS di kolese-kolese milik atau yang dikelola oleh Serikat Jesus. Kegiatan siswa seperti pentas seni, malam budaya, festival musik dan berbagai event seru yang sudah menjadi bagian tradisi di kolese, praktis terhimpit oleh penerapan protokol pencegahan penyebaran Covid-19. Semua yang duduk di posisi pengurus OSIS merasakan kebingungan dan kesulitan merealisasikan program yang sudah dirancang dan bahkan sudah dinanti-nantikan para siswa. Berangkat dari kebuntuan tersebut munculah ide di antara para pengurus osis kolese membuat forum pertemuan virtual untuk saling berbagi rasa dan curah gagasan untuk menemukan solusi. Forum sharing dan diskusi antara pengurus OSIS kolese ini dimulai awal Mei 2020. Setelah dua kali diadakan, diskusi-diskusi diantara para siswa memunculkan inisiatif untuk membuat program kerja lintas kolese.  “Pandemi ternyata memicu kreativitas teman-teman pengurus OSIS kolese. Bahkan tak disangka pandemi membuat kami terhubung satu sama lain, walau berbeda kota. Berawal dari forum diskusi dan sharing anak OSIS dari sekolah kolese yang sama-sama sulit merealisasikan program, akhirnya kami malah bisa sepakat untuk membuat acara bersama yang melibatkan teman-teman kolese seluruh Indonesia melalui sarana-sarana digital” ujar Cio salah satu Presidium De Britto dan pengurus kegiatan antar kolese ini. Dari diskusi dalam forum tersebut, para pengurus OSIS kolese sepakat berkolaborasi mengadakan tiga program kegiatan antar kolese, yakni  yaitu FPK (Forum Pelajar Kolese), KGT (Kolese Got Talent), Lobis (Lowongan Bisnis). Kegiatan yang disebut terakhir tersebut selain bertujuan menyalurkan kreativitas dan daya imajinasi siswa kolese, juga mempunyai tujuan charity. Siswa kolese diundang ikut lomba design kaos. Design kaos yang terpilih oleh juri dicetak dan dipasarkan melalui instagram Lobis kolese. Tujuh puluh sampai serratus persen hasil penjualannya akan disumbangkan buat Kolese Le Cocq di Nabire Papua.  Program kedua adalah Forum Pelajar Kolese (FPK). Kegiatan ini merupakan forum diskusi anak-anak kolese di Indonesia yang dilakukan secara daring dengan sarana Google Meet. Peserta yang mengikuti FPK ini kurang lebih sekitar 260 anak. Vannes Wijaya dari Kolese Kanisius menjadi koordinator kegiatan ini dengan dibantu 50 orang anak dari masing-masing pengurus OSIS kolese-kolese. Dalam forum diskusi atau ngobrol bersama ini antar anak-anak kolese di Indonesia saling berbagi tentang berbagai topik bahasan mulai dari pertanyaan atau asumsi tentang sekolah kolese yang ada di Indonesia, pola belajar anak-anak kolese dan masalah-masalah sosial yang ada di masa-masa pandemi. Forum diskusi seperti ini dirasakan berkesan dan bermanfaat oleh teman-teman antar kolese. Selain memperkaya perspektif, kita juga bisa menambah teman, menambah pengalaman, memperkuat rasa persaudaraan antar kolese, meskipun terpisahkan jarak dan situasi yang tidak memungkinkan pertemuan fisik. Sementara itu, KGT adalah program kompetisi bakat-bakat para siswa kolese. Program ini menjadi ruang para siswa menampilkan bakat dan kemampuannya di bidang seni, bernyanyi, bermain musik, maupun cipta lagu. Para peserta, baik individu maupun kelompok (max 5 orang) diminta mem-posting video bakat di akun instagram. Selanjutnya, tim juri yang terdiri dari para guru antar kolese melakukan penialian dan mentoring. Setelah melaui berbagai tahapan seleksi dan kompetisi, Agnelica Bunga Maharani (SMA Gonzaga) meraih juara pertama dan Ryan Ferdinand Hujadi (SMA Gonzaga) meraih juara kedua. Sementara untuk juara ketiga diberikan kepada tim dari SMA Kolese De Britto yang terdiri dari Nikolas Arembha, Rangga Hardianto, dan Arlo Mardylan. Aksi-aksi teman-teman kolese tersebut bisa di lihat di Instagram kgt20_, Meskipun berbagai acara kolaborasi sudah terlaksana, namun api semangat kolaborasi masih terus menyala. Hal ini terbukti dari lahirnya lanjutan karya kolaborasi dari para juara KGT yang dipublikasi di akun IG TV @kgt20_ pada pertengahan November ini. Para pemenang KGT mempersiapkan video cover lagu berjudul “Evaluasi” sebagai friendly reminder bagi teman-teman kolese yang akhir November ini mengawali masa Penilaian Akhir Semester (PAS). Bahkan menurut panitia, para juara KGT 20 ini  sedang dalam proses mempersiapkan karya original kolaborasinya. Kita tunggu karya kolaborasi selanjutnya. Di balik hasil yang terlihat oleh teman-teman yang berpartisipasi dalam ketiga kegiatan dari Forum Komunikasi OSIS Kolese (FKOK), para pengurus OSIS banyak belajar satu sama lain dalam merealisasikan seluruh kegiatan ini. Walaupun diinspirasikan oleh nilai-nilai Kolese Serikat Jesuit yang sama, setiap OSIS memiliki cara bekerja yang berbeda-beda sesuai dengan ciri khas masing-masing kolese. perbedaan tersebut menuntut para pengurus untuk beradaptasi dan lebih terbuka dengan satu sama lain. Kegiatan sekolah masing-masing yang terus berjalan seperti biasa menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi kendala-kendala yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan. Meskipun begitu, kendala-kendala itu menjadi saat bagi para pengurus OSIS untuk mencari jalan keluar bersama meskipun terpisah oleh jarak yang jauh.. Kepanitiaan yang dijalankan bersama dalam FKOK mempererat rasa kekeluargaan antara sesame pengurus OSIS kolese yang diteruskan setelah seluruh kegiatan selesai dilaksanakan. Pada 28 Oktober 2020, Sembilan orang siswa dari 8 kolese di Indonesia, menjadi pembicara dalam webinar yang diselenggarakan leh Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI).   Mereka menyampaikan sudut pandang mereka terhadap persatuan di Indonesia. Pertemuan persiapan antara kesembilan pembicara bisa berjalan lancar berkat pengalaman kerjasama dalam Forum Komunikasi OSIS sebelumnya. Rasa canggung dan salah paham bisa dihindari. Perundingan dan pembicaraan mengalir dengan semangat persatuan dan  kekeluargaan antar kolese. Hasilnya ialah suatu webinar yang menarik pemuda dan pemudi lain untuk ikut mendengarkan. dengan saling mendengarkan dan bersama berbincang mengenai kesatuan dan persatuan Indonesia sebagai pelajar dalam generasi Z. . Mungkin hal-hal tersebut di atas tidak akan pernah terjadi tanpa semangat magis yang menyala dalam hati siswa-siswa kolese. , Inilah pengalaman persaudaraan kami pelajar Kolese Indonesia di masa pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19. Apa kisah persaudaraan dan kolaborasimu? Satu hal yang perlu diingat dalam benak “KOLESE BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN.” AMDG ! Dinarasikan oleh:             (Martinus Yunaiko, Koordinator Presidium De Britto dan pengurus FKOK) (Genesius Bagas Waradana/XI MIPA 1) (Enjie Serafin B. / XI IPA 2 (Kolese Gonzaga))