Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama 1 tahun. Dan seperti yang kita lihat hampir seluruh aspek kehidupan mau tidak mau harus beradaptasi dengan kondisi ini. Salah satunya adalah dunia pendidikan, para siswa terpaksa melakukan pembelajaran dari rumah dengan tetap didampingi para guru melalui daring. Hal ini pun dirasakan oleh para seminaris, yang biasanya mereka belajar, berdoa, berdiskusi dan berdiskresi bersama di asrama, terpaksa mereka lakukan semua itu di rumah.

Apa saja tantangan yang mereka hadapi selama melakukan pembelajaran di rumah saja? Bagaimanakah mereka merefleksikannya? Berikut adalah cerita para seminaris dalam menghadapi belajar dalam kondisi seperti ini.

Bahagia itu mudah

Rafaelo Dergio Augusto Novaro Rangkuty

Seminari Menengah Wacana Bhakti

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan kegiatan belajar dari rumah masing-masing termasuk saya yang melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh ini dari seminari. Sebagai seorang seminaris banyak suka-duka ataupun makna pengalaman yang saya alami selama PJJ. PJJ ini mengajarkan saya untuk bisa beradaptasi karena hal ini adalah hal yang baru bagi saya. Selama PJJ, waktu sekolah menjadi lebih singkat dan PJJ juga tidak membuat panggilan saya menurun, melainkan memiliki banyak waktu, saya mempunyai quality time tersendiri dengan Tuhan. Dengan memiliki banyak waktu saya bisa berkomunikasi dengan Tuhan dengan curhat dengan-Nya. PJJ ini mengajarkan saya untuk bisa mencari kebahagiaan dengan Tuhan di tengah keterbatasan, karena sesungguhnya bahagia itu sederhana.

PJJ Siapa takut?

Aloysius Gonzaga Rikito Teguh Santosa

Seminari Menengah Wacana Bhakti

Seminari Menengah Wacana BhaktiPembelajaran Jarak Jauh atau PJJ memang merepotkan, terutama di seminari. PJJ sangat mengandalkan komputer dan internet, tetapi di satu sisi, jadwal penggunaan komputer dan internet di Seminari terbatas. Sehingga terkadang saya merasa kesulitan. Tetapi apa yang bisa saya lakukan? Apakah saya akan mengeluh? Sebagai seorang siswa dan seminaris, saya diajak untuk tidak mengeluh. Saya harus tetap bersemangat dan berusaha semaksimal mungkin menghadapi tantangan PJJ ini. Karena saya percaya bahwa Tuhan selalu menyertai saya sepanjang hidup saya dan Tuhan tidak akan memberi tantangan yang melebihi kekuatan saya. Semoga saya semakin dikuatkan dalam menjalani tantangan PJJ ini.

Seminari Mengubah Diri

Juan Carlo Suban Mukin

Seminari Menengah Mertoyudan

Hidup di Seminari adalah suatu rahmat yang sangat saya syukuri. Saya telah dibimbing selama kurang lebih tiga setengah tahun oleh para staf Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan Magelang. Berbekal benih yang bernama “panggilan”, saya menyerahkan diri agar “disemai” dan dibentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Percaya diri, tahan banting, dan berkehendak yang kuat, serta banyak hal lainnya dilatih di Seminari. Nilai yang ditanamkan nampak utopis namun dilatih lewat berbagai aktivitas yang sederhana. Perayaan Ekaristi, Kegiatan Belajar Mengajar, dan ekstrakurikuler adalah beberapa rutinitas dari sekian banyak aktivitas yang menanamkan nilai-nilai tersebut.

Di Seminari, saya diajak untuk menyadari dan menerima kekurangan diri melalui correctio fraterna (saling memberi apresiasi atau masukan/sumbangan rohani pada teman se-komunitas). Saya jadi memahami bahwa selalu saja ada orang yang tidak cocok atau tidak suka dengan saya. Namun demikian, bukanya mewek atau cengeng melainkan saya berusaha lebih adaptif terhadap situasi, terbuka terhadap masukan yang ada dan tetap menjadi pribadi yang autentik. Saya diundang untuk terus berubah menjadi yang terbaik versi diri saya.

Saya yang dulu bukan saya yang sekarang. Saya yang sekarang mempersiapkan diri untuk masa mendatang. Kini “benih” yang sudah dan terus ditumbuh-kembangkan diuji oleh pandemi Covid-19. Saya adalah salah seorang penyintasnya. Kesetiaan terhadap formasi diuji Ketika saya berada di rumah apalagi ketika terjangkit Covid-19. Segala kondisi dan keterbatasan tidak dapat terus-terusan menjadi alasan untuk mengeluh. Usaha untuk menjadi setia, dipadukan dengan pertolongan rahmat melalui doa senantiasa digaungkan. Hanya doa dan usaha yang bisa dilakukan di saat seperti ini untuk setia pada pembentukan diri. Sisanya biarlah kehendak Tuhan yang terjadi.

PENGKONDISIAN (HARUSNYA) BERBUAH DALAM KESADARAN

Christofer Edgar Liauwnardo

Seminari Menengah Mertoyudan

Siapa bilang Formasi Jarak Jauh (FJJ) enggak formatif?

Formasi formal di Seminari itu penuh “pengkondisian” yang semakin dirunut semakin berkesan dan membekas. Ada jadwal harian, peraturan, kegiatan komunitas, dan aneka dinamika bersama yang ngangenin. Di rumah, pengkondisian itu berubah bentuk menjadi kontrol pribadi. Alih-alih didesak oleh pengkondisian, aku malah merasa didesak oleh kesadaran penuh untuk mempertahankan tradisi dan pengembangan diri secara holistik. Contohnya, di tengah persiapan Ujian Sekolah, aku mencoba tetap melakukan bacaan rohani di sore hari—salah satu jadwal harian seminaris, karena memang itu sarana baik untuk menegaskan identitasku sebagai calon imam.

Kontrol yang lemah hanya akan menghasilkan kebiasaan yang terpaksa dan kurang mengakar. Kontrol internal itulah yang coba kuolah lebih jauh di rumah, tanpa ada penilaian pamong, tanpa dilihat orang lain, seolah-olah melakukan segala-galanya tersembunyi. Bagaimanapun, formasi di rumah—jika dimanfaatkan secara sungguh—bisa menguji benih-benih panggilan dan keutamaan ke arah yang lebih murni. Tentulah bukan pelaksanaan secara idealis dan naif yang diharapkan, melainkan cukup kegiatan formatif yang memang berakar dari kesadaran itu—kalau aku baru memilih bacaan rohani. Sudah saatnya bagi para seminaris untuk mempraktikkan secara proporsional hasil pengkondisian di Seminari dalam pergumulan konkrit di rumah. Kalau toh rumahku juga formatif, kenapa engga? #