UAP Kolese Mikael: Antara Being dan Doing

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Pada tanggal 4-6 Februari 2020, perwakilan unit-unit kerja yang bernaung di bawah Kolese Mikael, Surakarta berkumpul bersama di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten untuk membahas implementasi Universal Apostolic Preferences (UAP). Unit usaha yang hadir dalam pertemuan ini diwakili oleh direktur PT. ATMI Solo, PT. ATMI IGI, PT. AKE, PT. ADE, dan staf pelatihan ATMI Bizdec. Sementara itu, unit edukasi diwakili kepala sekolah SMK Mikael dan direktur Politeknik ATMI. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Yayasan Karya Bakti Surakarta, Ignatian Center, dan anggota-anggota residensi ATMI.

Pada kesempatan kali ini, Pater A. Suyadi, SJ dan Pater Joseph Situmorang, SJ, selaku tim implementasi UAP, menemani proses dinamika tersebut. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, Kolese Mikael berusaha untuk memahami dan mempelajari hal apa yang harus dilakukan agar UAP dapat dijalankan di setiap unit Kolese.

Proses selama tiga hari dua malam ini bisa dikatakan sebagai workshop. Para peserta yang ikut dalam acara ini dilatih sehingga dapat menjadi penggerak-penggerak implementasi di setiap unit karya. Dalam pengantar awal, Pater Suyadi mengatakan bahwa proses perencanaan implementasi ini tidak bisa hanya berhenti di pertemuan tiga hari dua malam. Proses implementasi harus dilakukan melalui proses diskresi dan pertimbangan terus-menerus. Lebih lanjut, Pater Suyadi mengajak para peserta menemukan being yang dilanjutkan doing.

Romo Suyadi menyampaikan presentasi dalam pertemuan pembahasan UAP Kolese Mikael di Rumah Retret Panti Semedi, Sangkalputung, Klaten (5/2/2021).

Pada hari pertama dan kedua pertemuan, para peserta diajak untuk melakukan percakapan rohani. Ada dua kali percakapan rohani. Percakapan rohani pertama dilakukan untuk menemukan panggilan pribadi macam apa guna menjawab empat poin UAP. Para peserta diminta untuk melepaskan diri sejenak dari “embel-embelnya”, entah sebagai kepala sekolah, direktur, dll. Harapan dan pengalaman pribadi setiap peserta menjadi tekanan utama dalam refleksi dan percakapan rohani. 

Pada percakapan rohani kedua, panggilan-panggilan pribadi diinventarisasi dan diendapkan hingga menemukan spirit utama, yang pada akhirnya dapat dihidupi oleh Kolese Mikael. Dengan kata lain, implementasi UAP diharapkan dapat dihidupi dari dalam hati masing-masing orang dan bukan sekedar mencocok-cocokkan dengan rencana kerja yang sudah ada. Ada gerak yang berasal dari dalam menuju ke institusi. Pater Suyadi juga mengharapkan bahwa UAP bukan dilihat sebagai program kerja semata, tetapi lebih sebagai spirit yang dipeluk dan dihidupi. Dengan kata lain, UAP diharapkan dapat menginspirasi para peserta untuk menemukan being dari Kolese Mikael.

Setelah dua hari berkutat pada spirit dan kedalaman pribadi atau institusi. Hari terakhir, para peserta diajak untuk mulai merencanakan doing. Dengan kemampuannya di bidang manajemen, Pater Joseph memberikan gambaran singkat dan poin-poin yang bisa dilakukan sehingga program-program implementasi UAP dapat berjalan serta termonitor dengan baik. Dalam diskusi-diskusi singkat yang terjadi, para peserta terlihat antusias merancang hal-hal apa saja yang sekiranya bisa dilakukan di tingkat Kolese.

Pertemuan tiga hari dua malam ini merupakan langkah awal bagi Kolese Mikael untuk berproses dan menjawab panggilan UAP. Momen ini benar-benar menjadi kesempatan berharga bagi setiap peserta untuk merasakan tuntunan Roh Allah sendiri, yang menunjukkan arah gerak Kolese Mikael ke depannya. Roh ini menjiwai, mendorong para Jesuit, dan rekan-rekan awam untuk berjalan bersama melalui upaya edukasi dan produksi di Kolese Mikael. Dengan demikian, semakin banyak orang dapat menemukan Allah, martabat kaum miskin semakin terangkat, bumi semakin layak menjadi “rumah bersama”, dan masa depan kaum muda semakin cerah.

Bapak Albertus Murdianto, Kepala SMK Mikael, mempresentasikan hasil diskusi kelompok.

Menemukan dan mengikuti gerakan Roh itu sendiri tetap menjadi tantangan. Orang-orang yang berkarya di Kolese Mikael sudah terbiasa membuat dan menjalankan program kerja. Secara manajemen pun Kolese Mikael memiliki orang-orang yang mumpuni. Akan tetapi, tidak selalu mudah menemukan Roh di balik setiap program yang dijalankan, tanpa muncul kecenderungan untuk serta-merta berpikir dan bertindak secara praktis. Jebakan untuk terburu-buru merumuskan doing itu selalu ada.

Demikian pula, proses belajar juga terus berlangsung demi dapat membuat suatu program kerja yang sungguh-sungguh memiliki Roh. Untuk bisa menemukan roh itu, akhirnya kami harus kembali melihat lagi raison d’être yang membentuk Kolese Mikael menjadi being. Menemukan being adalah titik tolak merumuskan dan melakukan doing yang dijiwai oleh Roh.

Selama delapan bulan ke depan, hingga bulan Oktober 2021, Kolese Mikael masih diajak untuk merumuskan being dan doing secara lebih konkrit. Rumusan tersebut juga masih perlu diimplementasikan ke unit karya masing-masing dengan segala kekhasannya. Dengan demikian, proses implementasi UAP masih belum selesai dan akan terus berjalan. Pada akhirnya, UAP kiranya memang tidak dimaksudkan untuk segera selesai dengan segala program kerja dan produk yang sudah jadi. Sesuai semangatnya, UAP diharapkan terus menjadi tuntunan dalam ongoing mission Kolese Mikael dengan segala inovasi dan pelayanannya.

Foto-foto dokumentasi oleh Ardi, SJ dan Dodo, SJ

Kontributor tulisan: Barry Ekaputra, SJ dan Mathando Hinganaday, SJ