Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

“Siang malam kuselalu menatap layar terpaku untuk online online online online jari dan keyboard beradu pasang earphone dengar lagu aku online online online online”. Potongan lirik Saykoji (2010) ini terasa sangat dekat dengan hidup harian seminaris Seminari Menengah Mertoyudan saat ini.

Sudah setahun pandemi tak kunjung sirna. Setelah libur Natal 2020 yang lalu, para seminaris menjalani Formasi Jarak Jauh (FJJ) dari rumah. Semuanya gagap dan bingung bersikap. Pertanyaan besarnya: apa bentuk program pembinaan yang cocok di tengah pandemi? Semua program kini berbasis virtual. Tak ada pendampingan tatap muka langsung apalagi pengawasan dari kepamongan. Kami merefleksikan bahwa FJJ menjadi momen uji dan pemurnian yang nyata. Justru dalam kebebasan inilah, apakah para seminaris tetap dapat merawat kebiasaan yang sudah baik selama ini dan mampu membuat pilihan formatif bagi hidup dan panggilannya? Never stop learning, because life never stops teaching.

Belum lama ini kami mengadakan rekoleksi bertema “Homo Digitalis: Aku Terkoneksi maka Aku Ada”. Rekoleksi ini dimulai dengan webinar tentang media sosial. Seminaris tidak kami minta mematikan HP. Sebaliknya, para seminaris kami ajak untuk mengidentifikasi konten yang sering diakses, unggahan atau komentar di akun medsos mereka lalu merefleksikannya. Bagaimana intensitasnya, apa yang dominan di akses ketika browsing, bagaimana bahasa chat yang digunakan, dst. Lewat pintu inilah kami menjadi partner diskresi sekaligus sahabat seperjalanan di tengah FJJ yang tidak pasti ini. Saya merefleksikan bahwa sudah saatnya para seminaris diajak untuk dapat menghidupi “tegangan” (tension) di tengah kemajuan teknologi komunikasi ini. Tidak menjauhkan diri atau “anti” teknologi. Dibutuhkan pembiasaan dan kemampuan untuk mengambil jarak. Ada satu seminaris yang pernah kami minta untuk tidak mengakses medsos-nya selama 30 hari. Ia sangat gelisah dan bergumul. Namun, dari situ ia belajar untuk mampu mengambil jarak, tidak lekat (addict) dan mampu menggunakannya secara proporsional. Selanjutnya para seminaris perlu ditemani untuk mengenali gerak-gerak batin seraya berani memilih di tengah kompleksitas dunia digital: beragam narasi, bombardir informasi, pornografi, cyber bullying, dst.

Film dokumenter Netflix, the Social Dilemma (2020) dengan ciamik memberi gambaran betapa algoritma dan AI memengaruhi para pengguna media sosial dengan cara tak terbayangkan. Tidak diragukan lagi bahwa distraksi terbesar FJJ yang dialami Generasi Z ini adalah sentuhan dengan gawai, apalagi bagi seminaris yang selama di asrama tidak diperbolehkan membawa HP. Kini mereka bisa bebas menggunakan gawai untuk mengakses apapun di dalam genggamannya. Bagaimanapun situasinya, rumah-rumah pembinaan calon imam tetap harus berjalan seiring dengan lahirnya aneka tantangan di tengah arus zaman. Model “parenting” gaya baru dan pendampingan sinergis bersama orang tua juga sangat penting.

Di tengah kebebasan pilihannya, tentu ada ekses bagi ruang untuk jatuh sekaligus tumbuh. Di sinilah tugas kepamongan untuk menemani para seminaris secara merdeka dalam proses refleksi, memberi kepercayaan yang disertai nilai tanggungjawab, serta mengembangkan kebiasaan diskresi (discerning habit). Jika seorang seminaris tumbuh berkembang kita apresiasi dan didukung. Sebaliknya, jika seorang seminaris terjatuh, kita ingatkan dengan kasih (tulus) dan membantunya bangkit. Kita mohon rahmat agar Sang Guru menunjukkan jalan-jalan terbaik pendampingan sehingga dapat membentuk para calon Gembala Gereja masa depan sebagai: men of discernment (bdk. RFIS, Pedoman Pembinaan Hidup Imamat di Indonesia, no. 100).

Kontributor:

P. Paulus Prabowo, S.J.

Pamong Medan Utama Seminari Menengah St. Petrus Canisius, Mertoyudan