Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Pelayanan Spiritualitas

LRP: Berkatilah Seluruh Pribadiku, untuk menjadi pemberi Kedamaian-Mu

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 menyebabkan banyak negara melakukan lock down termasuk Indonesia. Kota dan provinsi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dalam situasi pandemi ini, sebagian besar orang merasa tidak pasti akan masa depannya. Beberapa teman saya pun telah kehilangan pekerjaan karena imbas pandemi. Ruang gerak menjadi terbatas. Untuk mencegah penularan Covid-19, banyak aktivitas pelayanan terpaksa dihentikan. Hal ini membuat saya gelisah. Setiap bangun pagi saya berdoa kepada Tuhan supaya diberikan kesempatan untuk menjadi pembawa terang dan damai bagi sesama. “Dewi, apakah berminat menjadi Fasilitator Latihan Rohani Pertama (LRP),” demikian pesan WA dari Romo Marwan pada akhir bulan April 2020. Romo Marwan bersama beberapa rekan Jesuit berencana menyelenggarakan program LRP yang akan dilaksanakan secara online. Saya langsung mengiyakan tawaran itu. Bekal pengalaman mengikuti LRP pada 2015 dan pengulangannya pada 2016 membuat saya merasa mampu menjadi fasilitator. LPR pertama kali saya ikuti pada saat Romo Marwan sedang menjalani tersiat di Melbourne. Dia belajar LRP dari Michael Hansen, SJ, dan mengajak beberapa teman di Paroki Blok Q, Jakarta, untuk mengikuti LRP ini. Karena posisi pemberi LRP dan peserta berjauhan, bimbingan dilakukan secara online melalui WhatsApp Grup (WAG). Kelompok mengadakan percakapan rohani dengan bertemu langsung, namun pengalaman doa dibagikan juga lewat WAG dan email. Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa cara ini akan dilakukan kembali lima tahun setelah saya mengikutinya. Kali ini saya bukan lagi peserta, melainkan pemberi atau fasiliator LRP. Nyali saya sempat ciut melihat mayoritas rekan fasilitator lain adalah para romo dan frater Jesuit.  Mereka pasti lebih mumpuni dan memiliki pengalaman lebih banyak tentang Latihan Rohani. “Aduh, saya ini lagi ngapain sih? Bagaimana kalau nanti kelompok tidak komit dalam pertemuan percakapan rohani? Bagaimana kalau nanti ada yang mundur?” demikian seribu bayangan menakutkan melintas di benak saya. Namun saya terus melangkah maju terutama setelah mengikuti pertemuan pembekalan dan perutusan Fasilitator LRP Season 1. Di situ saya mendapat peneguhan melalui Meditasi Perutusan. Saya memilih perikop dari Injil Matius (9:36-38) tentang Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan melihat banyak orang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Kepada para murid Yesus berkata, “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Merenungkan kata-kata ini, saya merasa dipanggil oleh Tuhan sendiri untuk melayani melalui LRP. Kelompok saya terdiri dari 5 perempuan dengan usia yang tidak terpaut jauh. Kelompok ini cukup solid dan semuanya berkomitmen tinggi dalam pertemuan kelompok yang dilaksanakan melalui zoom meeting setiap hari Minggu. Saya selalu mendoakan “Berkat Perutusan” yang wajib didoakan sebelum memulai percakapan rohani. “Berkatilah seluruh pribadiku, untuk menjadi pemberi kedamaian-Mu,” itulah sebagian kalimat yang paling mengesan bagi saya dari doa ini. Dengan doa ini, saya menjadi percaya diri dan merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap perkataan dan tindakan saat mendampingi kelompok. Kami menjadi teman seperjalanan yang saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain. Kelompok masih tetap ada sampai saat ini meskipun LRP Season 1 sudah selesai. “Dewi, saya mau mengajak beberapa Fasilitator menjadi pengurus LRP, apakah kamu berminat?” begitu WA dari Romo Marwan setelah LRP Season 1 selesai. Romo mengajak saya dan beberapa rekan fasilitator untuk menjadi Pengurus LRP. Dengan adanya kepengurusan, program LRP season berikutnya diharapkan lebih lancar. Tawaran langsung saya iyakan juga ketika Romo Marwan meminta saya menjadi Pengurus bidang Pendampingan dan Pengembangan Fasilitator. Pada Season 2 saya memang memutuskan untuk libur dari peran fasilitator dulu. Sebagai orang introvert, saya perlu perjuangan besar mendampingi orang-orang yang belum saya kenal. Saat menjadi fasiliator, energi saya habis terkuras dan saya merasa kurang produktif. Dengan mengambil peran menjadi Pengurus yang bekerja di belakang layar, saya pikir saya dapat lebih produktif. Awalnya tidak mudah juga menjalani peran sebagai pengurus. Tim masih berproses dan saya belum mempunyai gambaran yang jelas apa yang mesti saya kerjakan. Masing-masing pengurus hanya diberi tahu area bidang yang mesti kami tangani, namun uraian tugas mesti dicari sendiri sambil berproses. Selain itu, karena ini adalah program yang dilaksanakan secara online, saya pun mesti belajar menggunakan aplikasi baru seperti Zoom meeting dan Google sheet. Saya perlu berjuang mengalahkan kecenderungan resisten dalam mempelajari program internet. Belajarnya mesti satu per satu dan diulang ulang supaya paham. Hal ini cukup menyita waktu. Sebagai Pengurus Bidang Pendampingan dan Pengembangan Fasilitator, saya berusaha mengenal para fasilitator dan rajin menyapa mereka. Setiap minggu saya mengirimkan pesan kepada mereka entah untuk sekedar menyapa, maupun mengingatkan tugas yang harus mereka lakukan, mendengarkan kesulitan mereka dan memberikan solusinya. Semua dilakukan melalui pesan WA. Meskipun sudah ada WAG fasilitator di mana pesan dan panduan tentang tugas fasilitator disampaikan, tidak semua pesan terbaca semua fasiliator. Dan di situlah saya berperan. Dalam tim Pendampingan dan Pengembangan Fasilitator sebenarnya saya memiliki rekan kerja. Namun karena ada kesalahpahaman informasi, kerjasama kami kurang bagus dan saya lebih banyak bekerja sendiri. Hal ini menjadi tambahan tantangan bagi saya dalam melaksanakan tugas. Saya pun sempat merasa sendirian. Namun saya percaya ini bagian dari proses yang Tuhan rencanakan dan Dia tidak pernah membiarkan sendiri. Selalu ada pertolongan dari pihak lain yang membantu saya menyelesaikan tugas yang harus saya kerjakan. Pada LRP Season 3, tugas saya semakin jelas terutama ketika Romo Marwan mengajak anggota tim Pengurus merumuskan job description masing-masing bidang dan rencana kerjanya. Kali ini saya juga mendapat rekan kerja yang baru, yaitu Frater Craver Swandono SJ. Sempat merasa pesimis jangan-jangan yang terjadi nanti seperti yang dulu juga. Namun Frater Craver mengambil inisiatif lebih dulu dengan mengkontak saya dan bertanya apa yang bisa dilakukan. Saya merasa banyak dibantu oleh Frater Craver. Kerja sama kami solid dan kami tidak sungkan mendiskusikan kesulitan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tugas. Di sini saya mendapat energi yang lebih besar karena bekerja lebih efektif dan bersyukur melihat program pendampingan fasilitator bisa berjalan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Saat ini pandemi masih belum berlalu. Saya bersyukur diberi kesempatan melayani melalui Program LRP dan ini merupakan jawaban doa saya kepada Tuhan. Ketika saya mengatakan “ya” terhadap tawaran dari Tuhan ini, memang banyak tantangan yang harus saya hadapi. Namun, saya percaya Tuhan selalu menyediakan jalan keluarnya; saya tinggal meminta saja. Dan saya sugguh mengalami bahwa Tuhan memang menyediakan apa yang saya butuhkan. Relasi saya dengan Tuhan

Pelayanan Masyarakat

Stand with Rm. Stan Swamy, SJ

Pembela hak asasi manusia Rm. Stan Swamy, SJ telah ditahan oleh Badan Investigasi Nasional (NIA) India karena diduga memiliki hubungan dengan Maois. Rm. Stan, yang berusia 83 tahun dan dalam kesehatan yang buruk, telah bekerja sangat keras untuk orang-orang yang terpinggirkan, tertindas, dan rentan lainnya, terutama masyarakat adat di Jharkhand selama beberapa dekade. “Kami terkejut dan kecewa mengetahui bahwa Rm. Stan Swamy SJ, yang telah bekerja sepanjang hidupnya untuk mengangkat orang-orang yang tertindas dan rentan lainnya, telah ditahan oleh NIA,” kata Rm. George Pattery SJ, Presiden Jesuit Conference of South Asia (JCSA), dalam surat terbuka tertanggal 9 Oktober menuntut pembebasan segera Rm. Stan. Sekretariat Keadilan Sosial dan Ekologi Serikat Jesus (SJES) di Roma juga telah menyatakan dukungannya. Sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs webnya mengatakan: “Kami, sebagai Jesuit yang terlibat dalam dunia pendidikan, peduli dan membela hak-hak orang miskin dan tersingkir di seluruh dunia. Kami bersolidaritas dengan Stan dan pembela hak asasi manusia lainnya di India serta mengutuk keras penangkapan Rm. Stan Swamy. Kami juga menuntut pembebasannya segera, dan menentang penangkapan sewenang-wenang warga negara yang taat hukum dan tidak bersalah. “ Rm. Stan telah diinterogasi beberapa kali selama lebih dari 15 jam oleh NIA di kediaman Jesuit di Bagaicha, Ranchi pada Juli dan Agustus lalu. Penangkapannya pada 8 Oktober diduga terkait dengan kasus kontroversial Bhima Koregaon – Elgar Parishad di mana para penyelidik mengklaim bahwa para perusuh terinspirasi oleh orasi yang menghasut dan pernyataan yang provokatif dari Romo Stan. Rm. Stan membantah keras tuduhan yang mengaitkannya dengan Kelompok Maois dan percaya kalau ia ditangkap karena perbedaan pendapatnya dengan beberapa kebijakan pemerintah. Dalam video yang dibuat sebelum penangkapannya, Rm. Stan menyatakan, “Apa yang terjadi pada saya sangatlah biasa. Banyak aktivis, pengacara, penulis, jurnalis, pemimpin mahasiswa, penyair, cendekiawan, dan lainnya yang juga membela hak-hak Adivasis, Dalit, dan mengungkapkan perbedaan pendapat mereka telah menjadi sasaran pemerintah. ” Rm. Stan selalu setia menangani berbagai masalah komunitas Adivasi tentang hak atas tanah, hak hutan, hak buruh, dan representasi anggota komunitas di negara bagian Jharkhand. Ia pernah bersikap vokal ketika ribuan Adivasis muda ditangkap tanpa pandang bulu karena di-cap ekstremis “Naxals” oleh lembaga investigasi. Rm. Stan juga mengajukan petisi ke Pengadilan Tinggi Jharkhand melawan kebijakan pemerintah serta meminta semua tahanan tersebut dibebaskan, serta menjalankan pelaksanaan persidangan secepat mungkin. Dalam keterangan persnya, Jesuit Conference of South Asia menyebutkan bahwa sangat menyedihkan pria lanjut usia itu dibawa dari kediamannya di Ranchi ke Mumbai walaupun ada arahan dari pemerintah Jharkhand bahwa mereka yang berusia di atas 60 tahun tidak boleh bepergian keluar rumah karena pandemi Covid-19. Rm. Stan telah menginformasikan kepada para pejabat bahwa ia tidak dalam kondisi baik untuk melakukan perjalanan lama dan jauh mengingat usianya yang sudah lanjut dan situasi pandemi ini. Ia juga menyatakan bersedia ditanyai melalui konferensi video. Rm. Stan akhirnya dibawa ke Pengadilan Sesi di Mumbai dan kemudian dipenjarakan di Taloja. Jesuit Conference of South Asia (JCSA) menyatakan pada Senin, 12 Oktober yang lalu menjadi Hari Solidaritas Nasional untuk Rm. Stan. JCSA juga telah membuat situs web dan petisi untuk pembebasan Rm. Stan yang dapat ditandatangani di sini. Jesuits in South Asia (JCSA)

Obituary

RIP P. STEFANUS BAGUS ARIS RUDIYANTO, S.J.

Pater Bagus Aris adalah seorang Jesuit muda yang ramah, ceria, dan senang berolah raga. Diantara teman-teman seangkatannya, dia mudah dikenali secara fisik karena bentuk tubuhnya yang gemuk. Ia menjalani tugas perutusan yang belum begitu panjang dengan penuh kesungguhan dan pengabdian. Pater Jenderal Serikat Jesus bahkan sudah memutuskan untuk mengundang P. Bagus Aris mengucapkan kaul akhimya dalam Serikat Jesus. Pengucapan kaul akhir direncanakan dilakukan di Purbayan bersama dengan beberapa Jesuit lainnya pada 1 Januari 2021. Dilahirkan di Klaten pada 16 Agustus 1980 dari pasangan suami istri Bapak Y. Harjomartana dan Ibu Clara Suparmi Pademo,  Pater Bagus Aris menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di desa kelahirannya, Trunuh-Klaten. Pendidikan dasar (1986-1992) ia tempuh di SD Trunuh 1 dan pendidikan menengah/SMP (1992-1995) ia tempuh di SMP Pangudi Luhur, Wedi, Klaten. Setelah lulus SMP, ia melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Mertoyudan (1995-1999). Setelah pendidikan di Seminari Mertoyudan, ia mendaftar ke Novisiat St. Stanislaus Kostka dan diterima. Ia masuk Novisiat SJ Girisonta pada 1 Juli 1999. Dua tahun kemudian Frater Bagus Aris mengucapkan Kaul Pertama pada 3 Juli 2001 sebagai skolastik Serikat Jesus. Usai formasi Novisiat, ia diutus menjalani formasi Filsafat di STF Driyarkara Jakarta (2001-2005). Selesai formasi Filsafat, oleh Serikat Frater Bagus Aris ditugasi menempuh formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) selama dua tahun di Seminari Mertoyudan (2005-2007) sebagai sub-moderator. Setelah itu, ia ditugasi untuk melanjutkan ke tahap formasi Teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti (FTW) -Universitas Sanata Dharrna, Yogyakarta (2007-2010). Setelah formasi Teologi, ia ditahbiskan Diakon oleh Bapak Uskup Ignatius Suharyo pada 10 April 2010 di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan. Tiga bulan kemudian, 28 Juli 2010, ia menerima tahbisan Imam di Yogyakarta dari tangan Bapak Uskup Ignatius Suharyo di Gereja St. Antonius Padua, Yogyakarta. Pater Bagus Aris baru dua tahun lalu selesai menjalani  formasi akhir dalam Serikat Jesus (tersiat) di Kolese Stanislaus, Girisonta , tepatnya 24 Januari – 31 Juli 2018 di bawah bimbingan Pater Laurentius Priyo Poedjiono, S.J. Sejak Kamis 24 September 2020, P. Bagus Aris menjalani perawatan di RS. Panti Rapih. Setelah beberapa hari, ia kemudian harus masuk ICU karena mengeluh  kesulitan  bernafas. Kondisinya kian hari makin melemah dan akhirnya  pada jam 09.15 meninggal dunia karena komplikasi jantung dan paru-paru, bukan karena Covid-19. Riwayat Pelayanan dan Karya Pater Bagus Aris, S.J. Kerasulan Mahasiswa Yogyakarta  (2010-2016) Pastor Rekan Paroki St. Yusup, Wonogiri (2016-2018) Pastor Kepala Paroki St. Antonius Padua, Surakarta (2018-wafatnya)

Pelayanan Spiritualitas

TAHUN IGNATIAN (20 Mei 2021 – 31 Juli 2022)

Saudara-saudara yang terkasih, Pada tahun 1521, ketika Ignatius sedang berada di rumah keluarganya di Loyola karena luka yang menghancurkan kakinya pada pertempuran Pamplona, Tuhan menuntun pertobatannya dan menempatkannya di jalan menuju Manresa. Bersama dengan sahabat-sahabat kita dan seluruh Gereja, Serikat universal ingin mengingat momen istimewa ketika Roh Kudus mengilhami Ignatius Loyola dalam keputusannya untuk mengikuti Kristus, dan untuk memperdalam pemahaman kita tentang cara ziarah ini guna “mengambil buah” darinya. Untuk tujuan ini, tahun Ignasian akan dibuka pada tanggal 20 Mei 2021 (peringatan luka-luka di Pamplona). Berakhir pada tanggal 31 Juli 2022. Sementara itu, tanggal 12 Maret 2022 akan menjadi pusatnya, yang menandai peringatan 400 tahun kanonisasi Santo Ignatius dan Santo Fransiskus Xaverius, Santo Teresa Avila, Santo Isidorus Pekerja dan Santo Philipus Neri. Juga merupakan niat saya untuk memanggil Kongregasi Prokurator ke-71 dalam waktu biasa. Ini akan berlangsung di Loyola (Spanyol), tanggal 16 dan 22 Mei 2022. Kegiatan ini akan didahului dengan delapan hari Latihan Rohani untuk para peserta Kongregasi. Saya mengundangkan kepada serikat secara resmi Kongregasi Prokurator ke-71 pada 15 Januari 2021 sehingga pada 15 Desember 2021, Kongregasi Provinsial dapat diselesaikan. Adalah keinginan saya bahwa di tahun Ignasian ini kita akan mendengarkan lagi Tuhan yang memanggil kita, dan kita akan membiarkan Dia bekerja dalam pertobatan kita, dengan terang pengalaman pribadi Ignatius. Selama masa pemulihannya di Loyola (1521-1522) dalam Autobiografi, Ignatius menceritakan kepada kita bahwa, ‘saudara laki-lakinya dan semua yang lain di rumah tahu, tampak dari perubahan di luar, bahwa ada perubahan di dalam jiwanya.'(Auto 10) ‘Mereka curiga bahwa dia ingin membuat perubahan yang sangat hebat.’ Sudah sejak di Manresa Ignatius bertanya, ‘Hidup baru macam apakah yang aku mulai sekarang ini?’ (auto 21) Lalu, selanjutnya dalam Autobiografi, Ignatius mengakui hal ini, mengatakan bahwa ia datang untuk melihat ‘semuanya dengan cara baru.’ (auto 30). Preferensi RasuliUniversal (2019-2029) telah mengkonfirmasi panggilan kita kepada pertobatan pribadi, komunitas, dan kelembagaan kita, yang semua itu diperlukan untuk lebih besarnya kerohanian dan kebebasan apostolis kita serta kemampuan kita beradaptasi. Mari kita ambil kesempatan ini untuk membiarkan Tuhan mentransformasi perutusan hidup kita, sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika Ignatius tiba di Manresa, ia berhasrat untuk berziarah ke Tanah Suci, Ignatius melakukan perjalanan rohani dari orang yang bertobat, dari orang yang mencari Tuhan. Ini juga berlaku bagi kita hari ini. Karena itu, motto perayaan kita adalah, “Melihat segala sesuatu baru dalam Kristus”. Ini menggarisbawahi bahwa tahun ini juga merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk ‘diperbarui’ oleh Tuhan sendiri. Latihan Rohani yang disusun oleh Peziarah akan menjadi salah satu buah terpenting dari pertobatannya yang berkelanjutan, warisan bagi seluruh umat manusia, sarana istimewa untuk menunjukkan jalan kepada Tuhan. Seperti yang ditekankan Paus Fransiskus ketika ia mengkonfirmasi Preferensi Rasuli Universal, “mereka menerimanya sebagai kondisi fundamental relasi para Jesuit dengan Tuhan, kehidupan doa pribadi dan komunitas serta diskresi.” Kemiskinan yang mulai dipraktikkan Ignatius, juga persahabatan pribadinya dengan orang miskin dan bantuan yang ia tawarkan kepada mereka, adalah salah satu tanda besar dari perubahan dalam hidupnya. Saya yakin bahwa ini adalah salah satu panggilan paling mendesak bagi Serikat Jesus di zaman ini; ini adalah undangan yang jelas bagi kita untuk mendekat kepada cara hidup Tuhan sendiri. Oleh karena itu, tahun Ignasian 2021-2022, akan menjadi kesempatan istimewa bagi kita untuk mendengar seruan orang miskin, orang-orang yang tersingkirkan, dan mereka yang martabatnya tidak dihormati, dalam semua keadaan sosial dan budaya yang beragam di mana kita hidup dan bekerja. Ini adalah suatu cara mendengarkan yang menggerakkan hati kita dan mendorong kita untuk semakin dekat kepada orang miskin, berjalan bersama mereka dalam mencari keadilan dan rekonsiliasi. Dimensi pertobatan kita yang diundangkan oleh Roh Kudus untuk kita jalani tahun ini, adalah untuk mengetahui secara umum bagaimana kita dapat memperdalam kaul kemiskinan kita. Dengan cara ini kita dapat mendekati cara hidup yang diinginkan Ignatius dan sahabat-sahabat pertama, dalam kesetiaan pada karisma yang mereka terima, yang dikehendaki oleh Serikat kita. Serikat Jesus kembali ke asalnya pada pengalaman-pengalaman Ignasian, yang akan kita panggil kembali di tahun Ignasian (2021-2022). Ini memberi kita kesempatan yang baik untuk menggali akar spiritual kita, sumber spiritual yang memberi makan dan memelihara kita dalam begitu banyak cara dan tempat yang berbeda. Memperdalam dan memperbarui kebebasan batin dan semangat magis akan membuka kita pada perspektif baru dan memperkayanya. Ini bisa berasal dari pendampingan orang-orang muda, dari harapan yang mendorong kita untuk berpartisipasi dalam upaya kolektif yang berupaya menyembuhkan derita lingkungan hidup dan mempersiapkan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang. Saya mendorong semua Konferensi-konferensi, Provinsi-provinsi dan Regio-regio, bekerja sedekat mungkin dengan para sahabat kita dalam perutusan, untuk mengenang dengan antusias pertobatan dari Pendiri kita, “Padre Maestro Ignacio”. Sekali lagi, manfaat dari kegiatan ini akan memberi kita semua kesempatan untuk mengenal, untuk mencintai dan mengikuti Tuhan dalam segalanya. Dari Kuria kami akan mendukung upaya ini, terutama melalui komisi yang telah saya buat untuk tujuan ini. Sebagaimana pada Bapa Ignatius, semoga Bunda kita menjadi penuntun kita di jalan pertobatan ini. Semoga kita diilhami untuk memiliki keterbukaan hati yang kita butuhkan untuk menerima Roh Kudus yang hendak memberi kita keberanian yang ajaib. Roma, 27 September 2019Peringatan Bulla Regimini militantis EcclesiaeArturo Sosa, S.J.Superior General *diterjemahkan oleh P. Dominico Savio Octariano W, SJ

Formasi Iman

MERAYAKAN KESETIAAN ALLAH: 60 Tahun dalam Serikat Jesus Rm. Udyasusanta, SJ

Pada Senin, 7 September 2020, Komunitas St. Stanislaus Girisonta merayakan pesta 60 Tahun dalam Serikat Jesus bagi Rm. Udyasusanta, SJ. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Superior komunitas, Rm. M. Yumartana, SJ dan Rm. Udyasusanta, SJ sebagai konselebran di Kapel Emaus. Dalam kotbah, Rm. Udyasusanta memberikan refleksi tentang kesetiaan Allah. Baginya, 60 tahun dalam Serikat Jesus merupakan rasa syukur mendalam karena “jumlah tahun-tahun itu adalah bukti atas kesetiaan yang pantas disyukuri, bukan kesetian kita atas panggilan kita, melainkan kesetiaan Tuhan yang tetap memanggil kita, tetap menerima kita meskipun kita lemah dan rapuh. Saya bersyukur dan bangga atas Serikat Jesus, tetapi saya sulit membayangkan apakah Serikat Jesus bangga atas keanggotaan saya. Mungkin banyak kecewa dan malu, dalam perjalanan hidup saya dalam berserikat dari komunitas ke komunitas. Tetapi saya sadari Tuhan begitu baik dan tetap memanggil dan menerima saya.” Rm. Udya kemudian menambahkan, “Kesetiaan Tuhan dapat saya rasakan bersama komunitas-komunitas yang saya lewati dalam perjalanan perutusan, khususnya Girisonta, yang menjadi komunitas di mana saya tinggal paling lama.” Rm. Udya resmi menjadi penghuni Emaus sebagai pendoa bagi serikat sejak 2017. Ia sebelumya tinggal di Domus Patrum selama 5 tahun dan berkarya sebagai sub minister Emaus selama 13 tahun. Ketika mendapat tugas menjadi pendoa bagi Serikat dan Gereja, Rm. Udya berucap “Wah…ini akan menjadi pendoa profesional, bagaimana ya caranya?” Saat itu, Rm. Udya banyak membaca buku tentang cara-cara berdoa yang efektif dan mencoba mempraktikkan. Namun, saat itu, ia sendiri belum menemukan metode yang paling tepat, sebagai cara berdoa yang pas. Kemudian Rm. Udya kembali mengenang lagi 60 tahun lalu saat masih novis dan didampingi oleh Rm. Soemarno, SJ. Beliau saat itu memberi puncta kepada para novis. Saat itu ada novis yang mengeluh sulit menjalankan meditasi dan dengan entengnya beliau menjawab “Nek ora iso meditasi, sembahyang tesbèh wae” Kalau tidak bisa meditasi, berdoa rosario saja. Para novis spontan menertawakan jawaban tersebut karena pasti tidak disetujui Rm. Jonckbloedt, SJ, Magister saat itu. Namun bagi Rm. Udya, itulah yang mengena, dan dilakukannya ketika mencari-cari bentuk doa ketika di Emaus. Inilah bentuk doa yang diras pas baginya dan membuatnya mantap dan bertekun untuk berdoa melalui perantaraan Bunda Maria dalam doa rosario. Rm. Udya berterima kasih atas Serikat dan komunitas yang telah memestakannya. Ia merasa gembira berada di Komunitas Emaus karena dipenuhi segala kebutuhan jasmani dan rohani, dimanjakan. Namun ia dapat menjamin kesetiaannya dalam berdoa untuk Serikat dan Gereja.

Pelayanan Gereja

94 Tahun Gereja Kotabaru: Aksi, Refleksi, dan Bertanggung Jawab

Sabtu, 26 September 2020, Gereja Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta merayakan ulang tahun ke-94, dengan tema “Aksi, Refleksi, dan Bertanggung Jawab”. Acara diawali dengan Perayaan Ekaristi pukul 16.30 WIB dan dilanjutkan dengan perayaan malam puncak pukul 19.00 WIB. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini umat hanya mampu mengikuti seluruh rangkaian acara melalui live streaming dari kanal YouTube Santo Antonius Kotabaru. Namun, hal itu tidak menyurutkan antusiasme para umat dan semangat pelayanan para panitia dalam menyelenggarakan perayaan pesta ulang tahun ini. Perayaan pesta ulang tahun ke-94 ini diawali dengan video slide show selama kurang lebih tiga menit yang menampilkan foto-foto Gereja Kotabaru tempo dulu. Selesai pemutaran, Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh empat romo, yakni Rm. Macarius Maharsono, SJ, Rm. Floribertus Hasto R., SJ, Rm. Mario Tomi, SJ, Rm. Thomas, SJ dan Diakon Pieter Dolle pun dimulai. Seperti biasa, misa diawali dengan lagu pembuka, tanda salib dan sapaan singkat yang pada kesempatan ini disampaikan oleh Romo Mahar. Kemudian dilanjutkan dengan bacaan pertama dari Flp 2: 1-5 oleh lektor, bacaan injil dari Mat 21: 28-32, dan homili oleh Rm. Hasto. Dalam homilinya, Rm. Hasto mengajak umat untuk merefleksikan bacaan injil hari itu. Beliau mengatakan “kita harus berani untuk meneliti dan memeriksa diri kita secara sungguh, serta mau untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Yesus tidak pernah menuntut kesempurnaan dari para umatnya. Banyak murid Yesus yang melakukan kesalahan namun berani untuk kembali kepada Yesus dan bertobat. Itulah yang diinginkan Yesus dari umat-umatnya.” Hal inilah yang tampak pada Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta yang pada usianya ke-36 menyebut dirinya sebagai “Gereja Terbuka”. Maksudnya adalah gereja harus bisa menjadi pintu rumah Bapa yang selalu terbuka kepada umat yang datang untuk mencari Allah dan memperluas pelayanannya. Hal ini pun terbukti hingga sekarang. Banyak dari para pengurus atau tim pelayanan Gereja Kotabaru yang berasal dari berbagai Gereja. Gagasan ini dicetuskan oleh Rm. Wiryapranata kala itu yang ternyata sejalan dengan gagasan dari Paus Fransiskus. Bagi beliau menjadi umat katolik yang baik bukanlah seseorang yang taat mengikuti segala bentuk pertemuan iman di gereja atau mengikuti misa sebanyak enam kali pada masa itu, melainkan dengan menghayati imannya secara konkret dalam kehidupan bermasyarakat. “Keberanian untuk berubah tidak ditentukan oleh usia melainkan Roh Kudus yang berkarya dalam hati seseorang,” lanjut Rm. Hasto untuk mengakhiri homilinya. Perayaan Ekaristi pun berjalan khidmat hingga akhir dan ditutup dengan pengumuman dari perwakilan mudika mengenai acara malam puncak HUT Gereja. Selang satu setengah jam, kanal YouTube Gereja Santo Antonius Kotabaru kembali memulai siaran langsung Malam Puncak. Acara dibuka dengan sambutan dari Severina Jenita atau yang kerap disapa Kak Jeje, selaku pembawa acara pada malam hari ini. Kemudian dilanjutkan dengan video storytelling dari beberapa umat, pengumuman lomba-lomba yang telah diadakan, dan selingan lagu. Melalui video yang ditampilkan, umat diajak untuk bersama sama merefleksikan kembali segala tindakan yang dilakukan sehari-hari, melalui berbagai kisah yang diperankan oleh tokoh. Dengan berbagai latar belakang dan keresahan yang dialami tokoh dalam visualisasi, diharapkan dapat menjangkau berbagai lapisan umat, dari anak-anak, orang muda, hingga dewasa, dengan berbagai permasalahan yang banyak dijumpai. Di penghujung acara ditampilkan video koor virtual dari perwakilan lingkungan dan ucapan selamat dari para romo serta harapan bagi umat maupun gereja. Tak hanya itu, para umat pun banyak yang mengirimkan ucapan selamat yang dibacakan oleh MC, sebelum akhirnya ia pamit undur diri dan menutup acara. Maria Ludwina & Maria Angelique

Karya Pendidikan

TETAP BERKARYA DAN BERSYUKUR DI TENGAH PANDEMI

“Ketika Mas Yanto (Suyanto—ketua panitia Michael Day 2020) bertanya kepada saya, ‘Apakah Michael Day nanti akan ada misa?’, saya menjawab, ‘Ada!’” Demikian Pater V. Istanto Pramuja, SJ membuka homili dalam perayaan Ekaristi Michael Day 2020 di Kolese Mikael Surakarta. Bagi beliau, perayaan Ekaristi Michael Day 2020 memperlihatkan masih adanya suatu kegiatan yang dapat dilakukan bersama pada masa pandemi seperti saat ini. Dan, kegiatan bersama itu merupakan ungkapan iman seluruh warga Kolese Mikael. Perayaan Ekaristi yang diselenggarakan pada hari Selasa, 29 September 2020 lalu merupakan puncak dari rangkaian kegiatan dalam rangka Michael Day 2020. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh lima imam yang berkarya di Kolese Mikael, yaitu PP. V. Istanto Pramuja, SJ; T. Agus Sriyono, SJ; Andreas Sugijopranoto, SJ; R. Mathando Hinganaday, SJ; dengan selebran utama Pater F. Kristino Mari Asisi, SJ. Mengambil tema “Tetap Berkarya dan Bersyukur di Tengah Pandemi”, perayaan tahunan ini dijalankan dengan protokol kesehatan, baik pembatasan jumlah peserta kegiatan, keharusan menjaga jarak, memakai masker, maupun penggunaan QR code bagi umat untuk mengakses teks perayaan Ekaristi. Dekorasi altar yang didominasi buah-buahan dan sayur-mayur untuk menyimbolkan ungkapan syukur dan persembahan warga kolese kepada Tuhan. Ungkapan syukur itu diperjelas Pater Istanto di dalam homilinya, mulai dari bersyukur karena tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di kolese hingga masih adanya pesanan untuk dikerjakan oleh ATMI. Sebelum perayaan puncak, kegembiraan Michael Day telah dimulai dengan penyelenggaraan lomba-lomba online. Sebut saja, misalnya, lomba membuat backdrop acara dan fotografi untuk warga kolese, serta mewarnai untuk anak-anak pegawai kolese. Rangkaian lomba tersebut masih disambung dengan Hari Alumni. Di dalam acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 September 2020 malam itu, beberapa perwakilan dari Ikatan Keluarga Alumni Kolese Mikael (IKAMI) berbagi pengalaman mengenai jatuh bangun mereka di dunia kerja. Selain itu, mereka juga menceritakan pengalaman bekerja sama dengan almamater mereka tercinta, khususnya dalam menerima siswa atau mahasiswa magang. Perayaan Michael Day 2020 tetap terasa khidmat di dalam kesederhanaannya. Di dalam perayaan ini, harap-cemas karena pandemi dilebur dalam rasa syukur kepada Tuhan dan komitmen untuk tetap melayani sesama. Rafael Mathando Hinganaday, SJ

Karya Pendidikan

Technical Competence is My Life

Sabtu 26 September 2020 menjadi hari yang membahagiakan bagai teman-teman mahasiswa ATMI Angkatan 50. Setelah menjalani studi selama tiga tahun di ATMI, mereka akhirnya lulus dan diwisuda dengan gelar ahli madya. Mereka yang diwisuda berjumlah 146 orang yang berasal dari tiga program studi yaitu, Teknik Mesin Industri, Teknik Mekatronika, dan Perancangan Manufaktur. Acara wisuda berlangsung dari pukul 8.00 hingga pukul 11.00 siang. Beda dari tahun-tahun sebelumnya, wisuda kali ini dilakukan dengan metode drive thru. Hal ini mengingat pandemi COVID-19 masih melanda dunia sekarang ini. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, para mahasiswa yang diwisuda hadir secara bergantian dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Live streaming wisuda juga ditayangkan melalui kanal Youtube untuk mengakomodasi para sahabat dan kerabat yang tidak bisa hadir pada momen bersejarah itu. Selain menayangkan proses wisuda, panitia wisuda juga memperlihatkan tugas akhir para wisudawan di sela-sela proses wisuda. Sama seperti wisuda pada umumnya, para wisudawan tetap menggunakan toga dari rumah. Selain itu, para orangtua juga hadir memberikan dukungan bagi buah hati mereka. Meskipun tidak bisa ikut menemani di atas panggung, para orangtua tetap terlihat bahagia menunggu anak-anak mereka di dalam kendaraan. Wajah semringah dan lega terlihat dengan jelas pada wajah orang tua. Dalam sambutan yang disampaikan perwakilan mahasiswa, Alloysius Rizky Susetya mengatakan, “kekecewaan karena tidak bisa merayakan wisuda secara meriah tentu ada. Akan tetapi, kekecewaan tersebut tidak menutupi rasa syukur yang begitu besar karena bisa menikmati kelulusan.” Selain itu, Alloysius menambahkan bahwa dirinya merasa bersyukur bahwa di masa-masa mendekati terselesaikannya masa studi yang diwarnai pandemi, ATMI tetap mengusahakan kompetensi yang terbaik bagi para mahasiswanya. Meskipun ada perubahan dalam sistim pembelajaran, kualitas lulusan ATMI tetap dijaga sebaik mungkin. Hal ini sejalan dengan yang diharapkan oleh Rm. T. Agus Sriyono, SJ, selaku direktur Politeknik ATMI Surakarta. Rm. Agus dalam sambutan wisuda mengatakan bahwa kompetensi adalah hal yang dicari dan didapatkan oleh para lulusan selama menjalani studi di ATMI. Kompetensi tersebut adalah fondasi bagi perjalanan hidup dan karier selanjutnya. Tidak hanya itu, karakter-karakter yang diolah dan didapatkan selama di ATMI juga harus terus diperjuangkan. Sesuai dengan misinya, ATMI berharap bahwa para lulusannya dapat langsung mendapatkan lapangan pekerjaan setelah menyelesaikan masa studi. Setelah didaftar, data menunjukkan bahwa 83% mahasiswa yang diwisuda ini memutuskan untuk bekerja di berbagai perusahaan, 7% ingin memulai usaha mandiri, dan 10% melanjutkan jalur akademis. Pandemi memang membuat penyerapan tenaga kerja berjalan lebih lambat, namun syukur bahwa ATMI masih bisa membantu para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan dan mengarahkan langkah ke depan. Selain itu, dalam wisuda ini pula, ATMI Surakarta secara resmi mengumumkan bahwa di tahun ajaran baru mendatang satu program studi baru, yakni Sarjana Terapan Mekatronika (Program 4 tahun) akan mulai dibuka. Hal ini menjadi kegembiraan tersendiri dan suatu kehormatan bagi keluarga besar Politeknik ATMI Surakarta. Meskipun wisuda Angkatan 50 ini berjalan secara berbeda dan sederhana, tetapi makna, kegembiraan, dan rasa syukur dapat terlihat dengan jelas di wajah para panitia, mahasiswa, maupun keluarga. Wisuda bukan hanya menandakan kelulusan, tetapi juga sebuah perutusan untuk menjalankan tugas yang lebih besar. Keberhasilan sebuah institusi pendidikan dilihat dari para lulusannya. Semoga Angkatan 50 yang memiliki moto, “Technical Competence is My Life”, dapat sungguh menunjukkan kompetensinya di dunia kerja demi kesejahteraan bersama. Mari kita dukung para wisudawan dalam doa-doa kita. Barry Ekaputra, SJ