MEMAHAMI DAN MENGALAMI

Pada 9-14 Januari 2020 para skolastik tingkat satu Kolese Hermanum Jakarta mengikuti kursus Analisis Sosial (ansos). Kegiatan ini didampingi oleh Rm. Angga Indraswara, SJ dan dua mahasiswi dari Universitas Sanata Dharma (USD).
0. Kawah Ijen

Pada 9-14 Januari 2020 para skolastik tingkat satu Kolese Hermanum Jakarta mengikuti kursus Analisis Sosial (ansos). Kegiatan ini didampingi oleh Rm. Angga Indraswara, SJ dan dua mahasiswi dari Universitas Sanata Dharma (USD).
Pada hari pertama, Rm. Kristiono Puspo, SJ, direktur Lembaga Daya Dharma (LDD) memfasilitasi tempat live in, serta memberikan pengantar mengenai sejarah, latar belakang, tujuan, dan rencana LDD ke depan. Ia pun meminta kepada para Frater dan Bruder tingkat satu ini untuk sungguh-sungguh “mengalami” kegiatan ini dengan semangat jiwa besar dan hati rela berkorban; sebagai Jesuit on Mission.
Rm. Angga dalam pengantarnya mengatakan bahwa momen live in hendaknya dilihat dalam kacamata Latihan Rohani, khususnya peristiwa inkarnasi. Senses setiap pribadi yang menjalani ansos harus dihidupkan agar sungguh hadir dan merasakan kehidupan orang-orang dijumpai secara utuh. Harapannya, para Frater dan Bruder dapat melihat dan memandang dunia lewat kacamata Allah sendiri.
Sebagai pemateri bahan-bahan ansos, Rm. Angga memberikan beberapa riset terbaru terkait kemiskinan baik di Indonesia maupun dunia internasional. Ia juga memaparkan konsep-konsep dasar ansos yang bisa kami gunakan ketika terjun ke tempat live in.
Pada hari kedua, 10 Januari 2019, setelah berkumpul di Katedral pukul 08.00 WIB, para Frater dan Bruder diantar oleh karyawan LDD menuju ke tempat live in masing-masing. Fr. Anes dan Fr. Pup mendapat tempat di Rawa Elok, Kapuk Muara. Br. Sigit dan Fr. Yuris di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bantar Gebang, Bekasi. Fr. Septian dan Fr. Kefas di Muara Angke. Sedangkan Frs. Upet, Teilhard, Alfred dan Egi di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.
Kegiatan live in berlangsung selama tiga hari, yakni pada 10-12 Januari. Di Kapuk Muara, Fr. Anes bekerja sebagai penjaga warung makan di sebuah perumahan buruh. Fr. Pup bekerja sebagai buruh penempel sandal di sebuah rumah warga. Di Muara Angke, Fr. Septian bekerja sebagai buruh pemotongan ikan. Fr. Kefas bekerja sebagai pengupas kulit kerang.
Di TPS Bantar Gebang, Fr. Yuris dan Br. Sigit tinggal di kantor sekretariat Persatuan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI). Mereka menemani dan mewawancarai orang-orang yang ada di sekitar sana. Frs. Alfred, Upet, Egi dan Teilhard tinggal di Muara Baru. Fr. Teilhard bekerja sebagai buruh kebersihan di Mall. Fr. Upet bekerja sebagai kenek angkot. Fr. Egi bekerja sebagai buruh di bengkel kapal Muara Baru dan Frater Alfred bekerja sebagai buruh kebersihan di sebuah apartemen di Muara Baru.
Pada hari kelima, Senin, 13 Januari 2020 semua skolastik tingkat I yang didampingi Rm. Angga, dan dua mahasiswi USD berkumpul di Unit Johar Baru untuk membagikan pengalaman live in. Dalam kesempatan tersebut, Rm. Angga juga memberikan pengarahan serta petunjuk-petunjuk penting dalam penulisan laporan hasil ansos. Di hari terakhir, Selasa, 14 Januari 2020, pukul 08.00 WIB para frater dan bruder kembali berkumpul bersama Rm. Angga untuk membaca dan mengevaluasi laporan yang telah dibuat.
Rm. Angga memberikan beberapa masukan penting terhadap laporan-laporan yang sudah dibuat. Para frater dan bruder juga saling memberi masukkan terhadap tulisan teman-temannya. Berbekal evaluasi dan masukkan-masukkan tersebut, para frater dan bruder kembali lagi ke unit masing-masing untuk menyelesaikan tulisan-tulisan mereka.
Pada sore hari, para frater dan bruder berkumpul kembali. Ibu Karlina Supelli yang kebetulan hadir juga ikut memberikan tanggapan dan masukkan terkait tulisan-tulisan yang dihasilkan. Ada banyak hal menarik yang didapatkan dari tulisan atas kegiatan ini. Misalnya, Fr. Pup dari Thailand menemukan keluarga yang hidup miskin karena ketiadaan pilihan lain yang lebih baik. Fr. Egi menemukan wajah kemiskinan yang terjadi karena pola hidup masyarakat yang konsumtif. Fr. Alfred menemukan potret masyarakat yang nampaknya makmur namun sebenarnya rawan digusur. Hidup ketiadaan kepastian hukum atas tempat tinggal dan properti yang dimiliki dan masih banyak lagi.
Singkatnya, ada banyak penemuan di luar dugaan terkait wajah-wajah kemiskinan di tempat live in masing-masing. Realitas ini setidaknya membuka mata para frater dan bruder bahwa kemiskinan yang terjadi di masyarakat sangat amat beragam dan kompleks bentuk dan latar belakangnya. Untuk memahami dan menemukannya, dibutuhkan kemauan untuk terjun ke lapangan karena realitas konkret memang tidak selalu sama dengan segala apa yang dipikirkan.
Rangkaian kegiatan ansos ini ditutup dengan ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Angga. Dalam homilinya, Rm. Angga berharap bahwa dengan pengalaman ini para frater dan bruder mau membuka mata, melihat realitas kehidupan masyarakat di lapangan. Para frater dan bruder hendaknya sungguh mau berkotor tangan dengan terjun ke masyarakat sebagaimana Yesus yang mampu memahami setiap permasalahan sampai ke akar-akarnya lewat pelbagai perjumpaan personal dengan masyarakat. Harapannya, dengan kemendalaman pemahaman akan realitas objektif di lapangan tersebut, solusi-solusi yang ditawarkan sungguh-sungguh berdaya ubah sesuai kebutuhan masyarakat, bukan hanya berdasarkan konsep yang dipikirkan.

Engelbertus Viktor Daki, SJ

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *