Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Karya Pendidikan

Indahnya Toleransi di Kanisius Jimbaran

Selasa, 26 April 2022, pukul 16.30 WIB di TK/SD Kanisius Jimbaran, siswa-siswi  mulai berkumpul untuk mengikuti buka puasa bersama. Kegiatan ini merupakan program rutin TK/SD Kanisius Jimbaran yang dilaksanakan setahun sekali. Buka puasa bersama ini merupakan salah satu aksi nyata sebagai wujud untuk meningkatkan toleransi beragama di sekolah ini. Perwujudan toleransi ini diberikan sebagai bentuk dukungan bagi siswa-siswi TK/SD Kanisius Jimbaran  yang  75% menganut agama Islam di mana pada bulan ini mereka wajib melaksanakan ibadah puasa. Kegiatan buka puasa bersama ini didukung oleh Komite Sekolah, pemerhati pendidikan di sekitar sekolah, tokoh masyarakat sekitar, bapak ibu guru, serta orangtua siswa. Dalam pelaksanaan buka puasa tahun ini, para guru dan orang tua siswa bekerja sama mempersiapkan tempat, takjil, dan menu buka puasa. Kerjasama di antara para guru dan orang tua siswa dilakukan dengan cara memasak bersama mempersiapkan takjil dan menu buka puasa. Sebelum buka puasa dimulai, para siswa mendapatkan siraman rohani dari tokoh masyarakat muslim. Sebagai pembicara, kami dibantu oleh Bapak Takur untuk mendampingi siswa-siswi. Di dalam siraman rohani tersebut Bapak Takur menanamkan mutlaknya toleransi antarteman di TK/SD Kanisius Jimbaran serta mengajak para siswa untuk melantunkan doa-doa Islami. Bapak Takur juga menyampaikan makna puasa yang sebenarnya kepada para siswa sehingga mereka dapat lebih mendalami arti puasa. Dalam rangkaian kegiatan buka puasa ini, sekolah juga memberikan santunan kepada beberapa siswa yang yatim piatu. Kegiatan buka puasa ini mendapatkan apresiasi dari Komite Sekolah dan masyarakat sekitar. Mereka berharap agar ke depan, acara semacam ini dapat terus dilaksanakan sebagai bentuk toleransi dan persaudaraan di TK/SD Kanisius Jimbaran. Kontributor : Margarita Imma Chrismasari – SDK Jimbaran

Karya Pendidikan

Kunjungan Asisten Jendral ke SMA Kolese Loyola

Pada hari Rabu, 20 April 2022, P Jose Cecilio Magadia, S.J. berkunjung ke SMA Kolese Loyola dalam rangka visitasi karya Jesuit Provindo. Kunjungan tersebut diisi dengan kegiatan bincang-bincang dengan perwakilan siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Bertempat di Ruang Cinema SMA Kolese Loyola, Asisten Jenderal Jesuit yang akrab dipanggil Father Jojo menyapa tiga puluh orang perwakilan guru dan tenaga kependidikan dengan ucapan “Selamat pagi.” Keramahan Father Jojo ini cukup mencairkan suasana. Acara diawali dengan doa pembukaan yaitu doa mohon terang Roh Kudus yang didoakan bersama-sama dalam bahasa Inggris, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Pater Antonius Vico Christiawan, S.J. selaku kepala sekolah. Ketika ditanya apa yang diharapkan dari audiensi berdurasi sekitar satu jam ini, Father Jojo menjawab “I want to listen.” Father Jojo ingin mendengarkan kisah orang-orang yang ikut terlibat dalam karya Jesuit Provindo. Dengan mendengar cerita atau sharing dari para siswa, guru, dan tenaga kependidikan, beliau memiliki banyak informasi mulai dari bidang kurikulum, bidang kelengkapan pendidikan, bidang data dan informasi, dan bidang kepamongan.  Sharing dari bidang kurikulum diwakili oleh Bapak Yohanes Wahyudi Utomo (Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum). Beliau menyampaikan bahwa proses kegiatan belajar dan mengajar di SMA Kolese Loyola mampu beradaptasi dengan cepat di masa pandemi melalui Loyola Online Class (LOC), bahkan berinovasi menciptakan Kelas Penelitian. Sharing dari bidang kelengkapan pendidikan diwakili oleh Ibu Chika Anindya Nurlaksita (staf perpustakaan) yang menceritakan tentang pengalaman menggembirakan sekaligus menantang dalam memberikan layanan e-library, promosi perpustakaan, maupun seminar literasi. Sharing selanjutnya datang dari bidang Data dan Informasi yang diwakili oleh Ibu Lidia Vrima Kartika (Pusat Informasi Beasiswa dan Studi Lanjut/PIBSL) dan Bapak Edi Asmanto (wakil kepala sekolah Bidang Data dan Informasi). Dalam sharingnya, Ibu Lidia menyampaikan tentang kegiatan Bursa Informasi Pendidikan Tinggi (BIDikTi). Ada setidaknya 30 perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri serta sekolah kedinasan yang telah bekerja sama dengan SMA Kolese Loyola. Bidang kepamongan juga membagikan pengalaman dan perjuangan menjadi wali kelas di era pandemi yang diwakili oleh Ibu Veronika Dewi Aristiya, berbagai kegiatan Organisasi Hobi (OH) oleh Bapak Joseph Army Sadhyoko, dan pelayanan Campus Ministry  oleh Ibu Carolina Yuni Rahastri Kusumarani. Tak kalah seru, Father Jojo juga disambut dengan gegap gempita dan keceriaan para siswa. Father Jojo duduk di hadapan siswa dan siswi perwakilan kelas X, XI, dan Dewan Keluarga Kolese Loyola (DKKL, atau OSIS di sekolah lain) dan mendengarkan sharing dari mereka. Ruang Cinema SMA Kolese Loyola  awalnya dipenuhi dengan bisik-bisik gugup para siswa. Sharing pengalaman di depan seorang Asisten Jenderal ternyata memang menimbulkan kegugupan tersendiri bagi siswa. Namun tak lama berubah menjadi cerah oleh tawa. Keterbukaan hati dan keramahan Father Jojo sungguh meringankan hati para siswa. Ada delapan dari dua puluh sembilan perwakilan siswa yang dapat membagikan pengalaman mereka dalam berdinamika di SMA Kolese Loyola. Kisah yang dibagikan oleh para siswa terkait kegiatan DKKL, pengalaman berefleksi dan belajar secara online maupun offline, pengalaman hidup rohani yang dilanjutkan dengan sharing dari siswa beragama non-Katolik tentang keberagaman agama di Loyola, serta pengalaman-pengalaman lain. Sharing  para siswa dan siswi yang dikemas secara unik, lugu, dan sungguh mencerminkan sudut pandang mereka sebagai remaja yang belajar dan berproses, mampu memberikan warna tersendiri dalam sesi audiensi itu. Di akhir sesi bersama para siswa, Father Jojo menunjukkan apresiasinya atas sharing mereka dan mengutarakan kebahagiaannya karena anak-anak berproses dan belajar di Loyola dengan gembira. Para siswa pun menyambut apresiasi Father Jojo dengan tepuk tangan yang hangat. Acara visitasi Father Jojo ini diselenggarakan juga dengan protokol kesehatan covid-19 sesuai anjuran pemerintah. Acara ini ditutup dengan foto bersama. Pater J. Moerti Yoedho Koesoemo, S.J., sebagai Ketua Yayasan Loyola, memberikan kenang-kenangan pada Father Jojo berupa hiasan dinding dengan gambar Wayang Bima, putra kedua Pandawa, sebagai penanda budaya khas Indonesia. Kontributor : Wening dan Monica – SMA Kolese Loyola

Provindo

Belajar dari Kiprah Jesuit Provindo dalam Reformasi 1998

Tragedi kemanusiaan pada peristiwa Reformasi 1998 memanggil para Jesuit untuk turut bergerak dan berjalan bersama orang muda.  Kaderisasi mahasiswa, formasi humaniora, dan eksperimen sosial merupakan beberapa sarana yang dipakai. Proses tersebut membuat para Jesuit belajar bahwa masa depan orang muda ditentukan salah satunya oleh harapan mereka. Kita semua diundang untuk peka mendengarkan “panggilan Raja Abadi” yang menjadi harapan orang muda pada zaman ini dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.  Paragraf di atas merupakan gagasan utama hasil penelitian yang dipresentasikan pada Seri Webinar VI 50 tahun berdirinya Provindo. Webinar tersebut diselenggarakan pada hari Minggu, 3 April 2022 pukul 19.30-21.45 WIB. Webinar yang dimoderatori oleh Ibu Sri Palupi ini dihadiri oleh 125 peserta.  Webinar dimulai dengan pemaparan hasil penelitian mengenai keterlibatan Jesuit Provindo dalam peristiwa Reformasi 1998. Pater Mutiara Andalas, S.J. membukanya dengan memberikan kerangka umum. Pemaparan inti dari para presentator webinar dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama dimulai oleh Fr. Antonius Bagas, S.J. dengan menjelaskan peran kaderisasi mahasiswa dan formasi humaniora bagi orang muda pada tahun 90an, khususnya kiprah formasi mahasiswa oleh Pater Ismartono, S.J. di Wisma SJ Depok dan (Alm.) Pater Adi Wardaya, S.J. di Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta.  Di sesi kedua, Fr. Engelbertus Viktor, S.J. menjelaskan peran ISJ sebagai sarana bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk learning by experience. Metode ini memungkinkan banyak orang muda untuk terlibat dan mengalami perjumpaan langsung dengan realitas ‘rakyat tersalib” (kemiskinan, penderitaan, dan kemalangan). Dalam konteks berjalan bersama orang muda, kehadiran ikon sebagai perwujudan harapan disadari sangatlah penting. Ikon memberi dan menjaga nyala api harapan, bahwa di tengah situasi yang rumit dan tidak kondusif, selalu masih ada ruang untuk berharap dan berbuat sesuatu yang berdampak dan berdaya guna bagi diri sendiri dan sesama. Fr. T.B. Pramudita, S.J. sebagai presentator ketiga memaparkan instrumen formasi seorang Jesuit dan buah-buah pendampingan bagi para awam. Salah satu instrumen formasi yang paling sering disebut dalam proses penelitian adalah “Meditasi Panggilan Raja.”  Selain itu, formasi sosial seperti Analisis Sosial di Novisiat, turut membakar nyala api keterlibatan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang tidak bersalah dalam peristiwa Reformasi 1998.  Setelah pemaparan hasil penelitian, Pater Paulus Wiryono, S.J. memberikan tanggapannya guna mengkritisi, memperluas, dan memperdalam pemaparan presentator. Pater Wiryono memberikan pemaknaan mengenai resonansi, yaitu getaran sebaran image dan pesan-pesan individu, komunitas, atau intuisi yang dipantulkan oleh sistem-sistem sosial yang memiliki nada perjuangan yang sama.  Webinar semakin diperkaya oleh sharing personal dari Ibu Maria Sumarsih dan Ibu Karlina Supelli. Dengan berkaca-kaca, Ibu Sumarsih menceritakan bagaimana pengalamannya ditemani oleh beberapa figur Jesuit dalam peristiwa Semanggi I yang menewaskan Wawan, putranya. Pengalaman kehadiran dan ditemani oleh para Jesuit memberi kesan mendalam bagi Ibu Sumarsih. Ibu Karlina memberikan beberapa catatan kritis dan menceritakan betapa tingginya komitmen para Jesuit yang ia jumpai dalam peristiwa Reformasi 1998. Sharing dari Ibu Sumarsih dan Ibu Karlina turut memicu diskusi para peserta. Ada yang menanyakan hal-hal informatif mengenai peristiwa Reformasi 1998, keterlibatan figur tertentu, hingga relevansi hasil presentasi untuk zaman ini.  Akhirnya diskusi ditutup dengan refleksi yang dibungkus dalam perspektif salah satu poin UAP “Berjalan bersama Orang Muda.” Keterlibatan Jesuit Provindo dalam Reformasi 1998 menunjukkan salah satunya komitmen pendampingan dan pelayanan untuk orang muda. Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam bukunya Berjalan bersama Ignatius menyampaikan bahwa “…faktor kuncinya adalah kita harus selalu hadir. Untuk melakukan ini, pertama-tama kita harus dekat dengan mereka (orang muda). Dan kedekatan itu hanya akan ada, manakala ada perjumpaan personal dan (dilakukan) melalui tradisi Serikat dalam pendampingan, yakni cura personalis.” Para presentator merefleksikan bahwa Jesuit tidak perlu menunggu momen seperti Reformasi 1998 untuk melakukan penjelajahan bersama orang muda. Jesuit Provindo diundang untuk mendayagunakan karya-karya yang ada seperti kolese-kolese, universitas, kampus mahasiswa, pelayanan pastoral OMK, dan Yayasan Strada-Kanisius untuk bersama orang muda mewujudkan masa depan yang penuh dengan harapan.  Melalui karya-karya tersebutlah kita dipanggil oleh “Sang Raja Abadi” untuk terus peka dan tidak tuli mendengarkan harapan orang muda saat ini. Harapan orang muda untuk mewujudkan perubahan perlu dipupuk melalui solidaritas berjejaring, difasilitasi melalui eksperimen sosial dan humaniora, serta dikobarkan melalui figur inspiratif. Kontributor : Thomas Becket Pramudita Praba Astu, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Kaliankah “Creators of Hope” di Asia Pasifik?

Jaringan Rekonsiliasi dengan Seluruh Ciptaan dan Lingkungan Hidup Konferensi Jesuit Asia Pasifik (JCAP) ingin mencari orang-orang muda yang sedang mengerjakan proyek berwawasan lingkungan hidup di seluruh wilayah Asia Pasifik. Proyek tersebut memiliki dampak atau kontribusi signifikan bagi masyarakat luas dalam merespon krisis ekologi zaman ini. Sepuluh orang, dari rentang usia 18-25 tahun, akan dipilih dan diberikan masing-masing USD 2.000 (setara 30-an juta rupiah) yang dapat digunakan untuk membantu pengembangan kerja atau proyek mereka. Para “Pencipta Harapan” ini—serta kisah dan karya mereka—akan disorot dan dibagikan ke seluruh jaringan JCAP pada tahun 2022 dan 2023. Creators of Hope adalah proyek yang digagas oleh tim inti Rekonsiliasi dengan Seluruh Ciptaan dalam rangka memperingati Tahun Ignatian. Proyek ini bertujuan untuk menyoroti individu atau kelompok orang muda di seluruh Asia Pasifik yang mengaktualisasikan cinta mereka bagi semua ciptaan dan pelayanan bagi orang miskin. “Mereka adalah sumber inspirasi dan harapan bagi kaum muda lainnya dalam wilayah JCAP,” kata Pater Gabby Lamug-Nañawa, S.J., Koordinator Rekonsiliasi dengan Seluruh Ciptaan JCAP. “Orang bereaksi [terhadap krisis ekologis] dengan cara beragam, ada yang lantas depresi, cemas, atau marah. Banyak orang, terutama kaum muda, juga menjadi aktivis dengan cara yang berbeda. Tetapi yang ingin kami soroti adalah harapan, ” katanya. “Harapan terjadi melalui tindakan. Ketika seseorang mengatasi masalah ini dengan tindakan nyata, harapan muncul dalam diri mereka sendiri dan juga orang lain. Itulah yang ingin kami lakukan. Kami ingin menyoroti orang-orang muda yang sudah melakukan sesuatu untuk memberi harapan kepada orang lain.” Pencarian Creators of Hope dimulai pada bulan April ini. Siapa pun yang berusia 18-25 (sebelum 31 Juli 2022) dan saat ini tinggal di kawasan Asia Pasifik, tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, identitas budaya, orientasi seksual, atau disabilitas, dipersilakan untuk mendaftar. Mereka yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini,haruslah sedang mengerjakan proyek yang berwawasan lingkungan atau sedang menangani masalah ekologi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat, terutama masyarakat miskin. Proyek ini harus menunjukkan aspek seruan Paus Fransiskus dalam Laudato sí. Juga harus ada bukti dampak positif atau kontribusi kerja proyek bagi masyarakat. Kelompok atau organisasi kecil juga dipersilakan mendaftar, tetapi hanya satu orang yang mewakili atau menjadi “wajah” dari proyek tersebut. Nilai-nilai seperti kasih sayang, kemurahan hati, kreativitas, cinta akan ciptaan, dan pelayanan bagi orang miskin harus terlihat jelas dalam proyek dan di antara mereka yang terlibat. Sepuluh pemenang Creators of Hope yang terpilih akan diumumkan pada 29 Juli 2022 melalui website dan media sosial JCAP. Proyek ini diinspirasi oleh Greta Thunberg, seorang muda di lini depan advokasi iklim, yang mengatakan, “Kita tidak boleh membiarkan para penguasa menentukan apa itu harapan. Harapan tidaklah pasif. Harapan itu perlu tindakan. Dan harapan seringkali datang dari orang-orang biasa.” Informasi dan pembaruan lebih lanjut mengenai Creators of Hope dapat disimak melalui Facebook, Instagram, dan Twitter Diterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari artikel Searching for “Creators of Hope” in Asia Pacific

Kuria Roma

Seri Video Berjalan Bersama Ignatius Episode 8 : Menemani Orang-orang Muda Membangun Masa Depan yang Berpengharapan

Rekan-rekan muda yang terkasih, Serikat Jesus dan semua orang yang imannya diinspirasi oleh spiritualitas Ignasian membutuhkan bantuan kalian. Serikat Jesus telah menerima panggilan Tuhan untuk menemani kalian, para orang muda, membantu menciptakan masa depan yang penuh harapan. Menemani bukanlah berarti memimpin atau membimbing. Namun lebih bermakna mengidentifikasi melalui perasaan orang lain dan berbagi anugerah yang telah Serikat terima demi mencapai tujuan bersama, yaitu menciptakan masa depan yang penuh harapan. Itulah mengapa Serikat ingin membagikan iman, tantangan, dan spiritualitas bersama orang muda. Serikat memerlukan bantuan kalian untuk menanggapi panggilan Tuhan ini. Serikat membutuhkan kegigihan, kekuatan, dan kemampuan kalian untuk bermimpi besar, serta semangat kalian lewat hal yang paling menyentuh hati kalian. Serikat membutuhkan pandangan-pandangan kalian yang menolak kemapanan dan berani mempertanyakan segala hal yang tampaknya sudah mapan bagi generasi tua. Serikat memerlukan kemampuan kalian yang merasa marah melihat ketidakadilan. Serikat memerlukan kesiapsediaan kalian untuk bersungguh-sungguh menciptakan dunia yang lebih adil, bersahabat, dan ramah bagi semua ciptaan. Serikat memerlukan bantuan kalian dengan segala kegelisahan dan tantangan-tantangan kalian. Serikat membutuhkan iman kalian yang hidup dan penuh sukacita sehingga kita bisa semakin beriman mendalam pada Yesus Kristus serta berdiri teguh di bawah panji-Nya.  Serikat memahami bahwa untuk menemani kalian secara memadai, Serikat harus berakar pada Kristus Yesus dan memiliki hati yang mau terus belajar tentang realitas hidup yang paling mempengaruhi kalian, kebutuhan dan keraguan terbesar kalian, serta passion yang paling memberi kalian energi. Oleh karena itu, Serikat membutuhkan bantuan kalian supaya dapat melanjutkan komitmennya untuk menciptakan ruang-ruang yang aman bagi tumbuh-kembang jasmani dan rohani, demi solidaritas dan dedikasi. Serikat memerlukan ruang di mana fokus utamanya adalah kepedulian bagi sesama sebagaimana yang telah dilakukan Yesus, yaitu menghapus segala bentuk kekerasan, terutama kepada mereka yang paling rentan.  Serikat hendak menawarkan sarana berupa Latihan Rohani dan discernment. sebab Serikat yakin bahwa sarana tersebut, ketika berada di tangan orang muda, akan semakin memampukan mereka untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang diwahyukan kepada kita melalui Yesus dan untuk mengenali serta memilih segala hal yang membawa kepada kerajaan-Nya. Rekan-rekan muda yang terkasih, Serikat memerlukan bantuan kalian untuk “melihat segala sesuatu secara baru dalam Kristus” sehingga kita bisa secara bersama-sama menciptakan masa depan yang penuh harapan. Apakah kalian siap dan bersedia untuk berjalan bersama Serikat Jesus? Kami mengajak Anda sekalian untuk berdoa, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas, menggunakan poin doa pada bagian akhir bab delapan dari buku Berjalan bersama Ignatius yang ditulis oleh Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. (Lihat: Berjalan Bersama Ignatius karangan Arturo Sosa, S.J. terbitan P.T. Kanisius dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia, 2021 hlm. 246 – 247).

Tahbisan

“Berdamailah Dengan Pembimbing Tesis Kalian!”

Reportase Tahbisan Diakon 2022 “Terimalah Injil Yesus Kristus ini dan berusahalah supaya apa yang Anda bacakan, Anda percayai; yang Anda percayai, Anda ajarkan; yang Anda ajarkan, Anda laksanakan.” Demikianlah amanat integritas dari Bapak Uskup Mgr Robertus Rubiyatmoko kepada keempat frater ketika menerimakan tahbisan Diakon yang diadakan pada tanggal 5 Mei 2022 di Gereja St. Antonius Padua – Kotabaru, Yogyakarta.  Mereka yang menerima tahbisan Diakon adalah: Fr. Yohanes Harry Kristanto, S.J., Fr Yohanes Deodatus, S.J., Fr. Fransiskus Asisi Wylly Suhendra, S.J. Tahbisan Diakon tahun 2022 terasa istimewa karena bersama ketiga frater Jesuit, ditahbiskan juga satu frater dari Keuskupan Agung Merauke (KAMe) Fr. Stefanus Mahuze, Pr yang selama ini tinggal di Kolese St. Ignatius (Kolsani) sambil menempuh studi teologi di FTW-USD.  Perayaan Ekaristi tahbisan diakon mengambil tema: “Jadikanlah Kami Pelayan Damai”. Dalam khotbahnya, seperti biasa Mgr. Rubiyatmoko melakukan dialog dengan keempat frater tentang apa makna tema tahbisan yang telah mereka pilih. Bagi keempat frater, tema tersebut dipilih karena kata “damai” ternyata dekat dengan perjalanan panggilan mereka. Damai adalah sesuatu yang senantiasa dirindukan karena damai adalah Kristus. Dalam kesempatan itu, para frater sungguh berharap agar dapat menghadirkan damai, baik damai bagi diri sendiri, keluarga, orang lain dan masyarakat.   Tidak ada perutusan baru yang diberikan oleh Pater Provinsial kepada para diakon baru. Sebagai pesan penutup Pater Provinsial memberikan perintah kepada mereka untuk menyelesaikan studinya sebagai bentuk konkrit atas tema tahbisan yang mereka pilih “Berdamailah dengan pembimbing tesis kalian! Berdamailah dengan buku-buku teologi!”. Sementara itu, Pastor John Kandam, sebagai perwakilan dari Keuskupan Agung Merauke (KAMe) mengucapkan rasa syukur dan terimakasih atas tambahan satu tenaga lagi bagi keuskupannnya. Menurut Pastor John, KAMe sekarang sedang mempersiapkan tenaga pastoral yang berkualitas untuk berkarya di Papua Selatan. Ia berharap Kolsani selalu terbuka dan tidak bosan bila ada anggota KAMe yang mau belajar disitu.  Meskipun berlangsung secara terbatas, perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon berlangsung secara khidmat dan lancar. Banyak umat dan nostri yang ikut terlibat melalui live streaming yang disiarkan secara langsung via kanal Youtube Jesuit Indonesia dan Komsos Gereja Kotabaru. Setelah perayaan Ekaristi, para diakon baru, Bapak Uskup, Pater Provinsial, keluarga dan tamu diundang untuk beramah tamah di Kolsani.  Tahbisan Diakon sudah selesai dilaksanakan. Kini para diakon kembali ke Kolsani untuk segera menyelesaikan studi teologi mereka. Kita dukung dan doakan mereka agar sungguh menjadi Pelayan Damai dalam persiapan mereka menyambut tahbisan Imamat kelak! Kontributor : Fr. Andreas Aryono Mantiri, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Bahagia di Tengah Pandemi … Siapa Takut!!

“Be a Happy Jesuit!” Itulah salah satu pesan dari Pater Adolfo Nicolas dalam kunjungannya ke Provindo tahun 2009 lalu. Pesan tersebut menjadi sangat relevan khususnya dalam situasi berat pun terbatas seperti saat ini. Pandemi COVID 19 membatasi ruang gerak kita semua untuk beraktivitas di luar rumah dengan leluasa. Penerapan sistem lockdown bisa saja membuat kita jenuh apabila kita tidak menanggapinya secara kreatif. Di tengah keterbatasan ruang gerak dibanding sebelumnya, para novis Serikat Jesus tetap berusaha untuk kreatif dan bahagia. Ternyata kreativitas merupakan unsur yang paling penting. Tanpa kreativitas luas lahan dan rumah tidak akan ada artinya. Situasi pandemi yang membatasi ruang gerak ini  ternyata memberi rahmat juga. Kami justru semakin bisa belajar untuk memperkuat hidup komunitas, diskresi bersama, dan leadership lewat kegiatan-kegiatan luar biasa. Kami merayakan waktu jeda setelah program pengolahan hidup yang intens dengan camping tiga hari di lahan luas belakang novisiat. Semua memori keterampilan mendirikan tenda, memasak, dan membuat api unggun seolah-olah beradu untuk diekspresikan. Apalagi bahan masaknya adalah sayur-mayur panenan kebun sendiri. Panas terik di siang hari, ribuan bintang di malam hari, dan gelak tawa riuh menjadi penawar letih sekaligus obat paling mujarab. Ternyata healing lewat camping pun bisa dilakukan tidak jauh dari tempat tinggal kita. Sukacita ini ditambah dengan kegiatan memancing ikan peliharaan di embung, mencangkul dan membuat bedeng sayur-mayur, memetik pete, dan bernyanyi bersama di sekitar api unggun. Sesekali ada kegiatan produktif lain yang menghibur seperti membuat pupuk kompos. Kegiatan-kegiatan tersebut terdengar asyik dan hebat, padahal banyak di antara kami yang baru pertama kali melakukannya. Bahkan kami belajar memasak yang direncanakan sebagai gulai ayam, meski hasilnya mungkin jauh dari gulai ayam. Membuat gulai ayam mulai dari memotong seekor ayam jago yang masih hidup ternyata tidaklah gampang. Ternyata tinggal memakan makanan siap santap itu lebih enak daripada harus menangkap, menyembelih, membersihkan bulu ayam, memotong daging ayam, hingga memberi racikan-racikan bumbu istimewa. Di lain hari ketika salah salah satu novis sempat terjangkit Covid-19, para novis harus melakukan lockdown di novisiat. Di suatu Sabtu sore tercetuslah ide untuk membuat acara Master Chef Novisiat (lomba masak). Jadilah hidangan ala Master Chef Novisiat yang dijuri oleh para pater. Para novis dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugas membuat nasi goreng spesial dan bakmi godog istimewa. Setelah berjibaku dengan bahan makanan dan alat masak, akhirnya tersaji juga Hidangan Istimewa Novisiat (HIN). Hasilnya ialah para pater nambah beberapa kali setelah menjuri setiap makanan. Sabtu malam itu diakhiri dengan kondisi perut kekenyangan dan hati yang gembira sehingga Covid pun tidak berani mendekat. Di tengah lockdown yang masih berlangsung, keterbatasan tidak menghentikan kreativitas para novis untuk menyulap ruang rekreasi menjadi bioskop yang megah dan tidak kalah dengan bioskop-bioskop terdekat. LCD memancarkan layar yang super lebar dan seperangkat sound system menyumbang suara menggelegar. Tidak lupa bidel refter (novis yang bertanggung jawab terhadap ruang makan dan dapur) dengan murah hati mempersiapkan pop corn ala novisiat dan juga kopi merek terkenal ala novisiat untuk menemani acara nonton bersama.Dalam refleksi kami, kegiatan kreatif ini juga menjadi sarana untuk mendalami dan mengimplementasikan UAP secara sederhana khususnya UAP 3 penjelajahan bersama kaum muda. Kepenatan yang muncul karena padatnya aktivitas harus ditanggapi dengan kreativitas dan bukannya mager. Tidak ada alasan minim fasilitas modern yang membenarkan minimnya kreativitas. Betapa aktivitas di luar ruangan yang kreatif-produktif itu tidak kalah membahagiakan. Bahkan ternyata beberapa di antara kami baru pertama kali belajar memasak, tinggal di alam terbuka selama beberapa hari, dan termasuk juga mencangkul tanah. Berjalan bersama (atau sebagai) orang muda menuntut kerendahan hati untuk terus menantang diri dan kreatif. Keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk bisa bahagia apabila kita mau dan mampu untuk menjadi kreatif. Melalui kreativitas kita bisa menjadikan hidup berkomunitas lebih berwarna. Kita juga bisa mengenal satu sama lain sebagai satu komunitas yang utuh, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada mengenal saudara sekomunitas secara mendalam. Keterbatasan juga memampukan kita untuk semakin membangun communal discernment secara kreatif dalam membuat keputusan yang magis. Kita juga bisa belajar leadership yang paling dasar, yaitu mampu mengadakan sesuatu secara kreatif dari ketiadaan mulai dari hal yang paling sederhana. Jadi, kalau kreativitas itu tidak dimulai dari diri sendiri, lalu dari siapa? Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Di lain hari ketika salah salah satu Novis sempat terjangkit Covid-19, para novis harus melakukan lockdown di novisiat. Di suatu Sabtu sore tercetuslah ide untuk membuat acara Master Chef Novisiat  (lomba masak). Jadilah hidangan ala Master Chef Novisiat yang dijuri oleh para pater. Para novis dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tugas membuat nasi goreng spesial dan bakmi godhog istimewa. Setelah berjibaku dengan bahan makanan dan alat masak, akhirnya tersaji juga Hidangan Istimewa Novisiat (HIN). Sssstttttt, jangan bilang siapa-siapa ya kalau para pater sempat nambah beberapa kali lho setelah menjuri setiap makanan. Sabtu malam itu diakhiri dengan kondisi perut kekenyangan dan hati yang gembira sehingga Covid pun tidak berani mendekat. Di tengah lockdown yang masih berlangsung, keterbatasan tidak menghentikan kreativitas para Novis untuk menyulap ruang rekreasi menjadi bioskop yang megah dan tidak kalah dengan bioskop-bioskop terdekat. LCD memancarkan layar yang super lebar dan seperangkat sound system menyumbang suara menggelegar. Tidak lupa bidel refter (novis yang bertanggung jawab terhadap ruang makan dan dapur) dengan murah hati mempersiapkan pop corn a la novisiat dan juga kopi a la starb*cks novisiat untuk menemani acara nonton bersama. Kontributor : Alfonsus Ignatius Franky N., nS.J. – Ignatius Dio Ernanda J., nS.J. – Sirilus Hari Prasetyo, nS.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Si Kanan dan Si Kiri

Aku masih diam di sebuah kamar yang kecil, melihat awan dari kisi-kisi jendela ini. Aku lihat semua tampak biasa-biasa saja, tapi mengapa harus terkurung entah sampai kapan. Aku sekali-kali jadi iri dengan sepasang merpati yang kulihat pagi tadi. *** Minggu-minggu belakangan aku menuai banyak kabar tentang orang meninggal karena covid. Aku menjadi sangat cemas. Si Kiri hingar-bingar di kepalaku,  ”Jangan-jangan kamu terkena covid?” Suara itu sangat kasar mencobai diriku. Setelah selesai opera, suatu kebiasaan kerja tangan di novisiat, tubuhku mendadak meriang dan akhirnya jatuh sakit hingga harus bed rest. Setelah jalan dua hari kondisi tidak kunjung membaik.  “Kalau terkena  covid bisa mati kamu nanti!” berulang-ulang Si Kiri mengatakannya. Terbuktilah bahwa aku positif covid. Kiri menatapku ”Mengapa kamu harus terkena covid? Itu artinya kamu akan masuk dalam ketidakpastian. Siapa bisa tahu semuanya akan berakhir? Kau akan gagal mengerjakan apa yang telah kau bayangkan sebelumnya!”  Aku kembali memutar memori beberapa hari lalu. Temanku jatuh sakit entah karena apa, terbaring demam di kamarnya. Berita yang dengan gencar menyajikan kondisi pandemi ini, lalu-lalang dalam pikiranku. Data-data itu mengalir dan mulai membentuk mata rantai dalam kepalaku. Kiri tiba-tiba menyapaku ketika aku sedang diselimuti ketidakpastian “Kamu tenang aja, temanmu tidak akan terkena COVID, lagi pula tidak ada orang di sekitarmu yang positif.”  Bisikan Kanan berhembus kuat masuk ke telingaku “Kamu harus tetap hati-hati! Gunakanlah protokol kesehatan dengan baik. Siapa tahu dia positif dari orang yang positif tanpa gejala.” Aku berpikir bahwa jika aku harus menggunakan Pro-Kes berarti aku harus pakai masker. Kiri menepukku “Nah, kamu tidak usah pakai masker. Pakai masker itu sakit. Telingamu jadi merah karena terjepit. Pipi gatal-gatal, dan susah bernafas.” Betul juga itu, buat apa aku merepotkan diri. Aku pun memilih untuk tidak menggunakan masker dan beraktivitas seperti biasa, juga bergaul dengan mereka yang sakit. Aku tertarik kembali pada realitas saat ini ketika mendengar suara masjid yang begitu mantap mengundang orang untuk berdoa. Rasa sesal menetes di hatiku karena sikap sembrono itu. Pikiranku terbuka, kadang kala ada saat dimana aku perlu untuk mau repot dan bahkan mau untuk rugi, untuk memperjuangkan suatu hal yang lebih besar. Aku ingat dengan patronku yang mau memilih salib, padahal dengan sangat mudah, Ia mampu menghindari itu. Ia memilih salib itu untuk sesuatu yang sungguh besar dan penting. Aku sadar bahwa memilih yang sulit seperti Dia tidak akan membawaku pada kehancuran. Andai aku menyadarinya lebih awal. … Aku tidak pernah meminta sakit. Nyatanya sehat pun juga kudapatkan, tanpa merengek-rengek kepada Tuhan. Sambil merenung, Si Kanan mendekatiku, ”Jadi kalau kamu kena covid ya udah, nggak apa-apa. Banyak kok yang sembuh. Kamu masih muda, tenang aja. Pasti dirawat juga oleh formator. Tinggal isolasi doang.” Tepat katamu, aku bisa belajar untuk menjadi apa itu lepas bebas dan merdeka. Si Kiri bilang padaku, “Kamu tidak mungkin covid! Kamu itu kuat! Tidak perlu isolasi.” Benar juga, aku tidak mau dilihat lemah. “Lagi pula kalau kena covid kamu akan diasingkan dari komunitas. Teman-teman akan menjauhi kamu apalagi orang-orang yang paranoid dengan covid.” Aku jadi takut. Kanan menyentuh telingaku, sangat lembut katanya, “Kamu harus sadar bahwa ada banyak orang rentan di dekatmu. Kamu harus mau berkorban untuk isolasi dan terlihat lemah demi keselamatan yang lain. Isolasi itu tidak menakutkan. Ada yang akan selalu menemanimu. Perkataan itu membuatku mataku terbelalak. Hal itu menyentuhku hatiku beriringan dengan memori akan Yesus yang ingin aku ikuti. Aku jadi ingat bahwa hal itulah rahmat yang aku mohonkan, yaitu untuk menjadi sakit dan lemah seperti Dia dan mau berkorban demi kebaikan yang lain. *** Aku mulai batuk-batuk tapi Kiri tak kunjung pergi ”Haduh…tapi kenapa kau harus menanggung semuanya ini? Bukankah lebih baik sehat daripada sakit?” Iya juga, kenapa harus sakit. Aku dibuat oleh covid ini jadi mual-mual, pusing, susah tidur dan bawaannya lemas. Nafsu makanku hilang karena tidak bisa merasakan apapun daripadanya.  Aku memandang pohon kelapa yang bergerak diterpa angin. Saat itu Kanan datang ”Tenang dulu lah. Kau ini terlalu cepat-cepat memutuskan: sakit itu buruk. Tengok dengan mata, dengar dengan lembut, kesetiaan banyak orang dari komunitasmu sendiri, yang merawatmu dengan tulus dan total.” Aku lihat, bahkan mereka yang merawatku ’tidak takut’ bertanya dari dekat tentang kondisi tubuhku setiap harinya. Ada yang murah hati memasakkan makanan. Ada yang mengurusi obat-obatanku. Tak kurang juga ialah mereka yang penuh perhatian mendengarkan sharing kegelisahanku. Sakit ya dilalah malah mengantarku sadar: aku butuh orang lain. Aku ternyata terhubung dengan banyak orang. Ya.. aku melihat Allah bekerja dalam banyak pribadi. Pintu kamar diketuk. Aku menuju arah suara dan melihat makanan sudah ada di meja seolah menanti untuk dijamah. Aku duduk berhadapan dengan makan siangku seperti hari biasanya.  Namun tetap ada yang berubah dari kondisiku. Kiri menggodaku ”Ayo, mengeluh-lah. Kau tak bisa menikmati makanan. Kau tidak bisa lama beraktivitas. Suramilah mukamu itu, sebab kau sakit. Kasihan, kasihan… mencium saja pun sudah tidak bisa.” Ya, aku menyesal dengan semua konsekuensi atas sakit covid ini. Banyak dari ’kepunyaanku’ direnggut.  ”Berdoalah. Dengan jujur katakan semua kegelisahanmu. Dia mendengarkan, tetapi sekali lagi, kau mesti jujur. Bawa semua rasa-perasaanmu, apa adanya.” Kanan menanggapi. Selama itu, aku merasakan diajak lahir lagi bersama Yesus yang miskin dan dengan segala susah payah-Nya, berjaga bersama-Nya di padang gurung dan menerima ketaatan dari Bapa-Nya di Getzemani. Dengan kata lain, Tuhan ajak aku untuk untuk berjalan bersama-Nya persis di titik-titik yang paling tidak mengenakkan. *** Beberapa minggu aku terisolasi. Sekarang aku diajak kembali pada realitas formasiku. Aku mulai mengikuti segala macam rutinitas harian novisiat. Aku mampu menatap indahnya alam yang luas dan segala kesibukan yang ada di dalamnya. Aku bisa berjalan kemanapun dan saat aku melihat tempat itu, aku teringat kembali pengalaman beberapa minggu lalu. Saat itu Kiri menghampiri bersama hembusan angin yang menerpa rambutku “Gimana hidup sendirian dan mengurung diri selama berhari-hari, tidak enak kan? Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak usah karantina. Kasihan kamu kesepian!” Karantina itu menyebalkan. Aku tidak bisa leluasa beraktivitas.  Kanan mendengarku. “Kamu tidak kesepian kok. Coba kamu lihat lagi. Pasti ada banyak orang di sekitarmu. Ada yang selalu mendampingimu dan hadir dalam hal sederhana.” Ujarnya.  “Apakah mungkin dalam masa isolasi aku tetap bisa merasakan kehadiran orang lain? Ya nggak mungkinlah, isolasi kok ada