Belajar dari Kiprah Jesuit Provindo dalam Reformasi 1998

Date

Tragedi kemanusiaan pada peristiwa Reformasi 1998 memanggil para Jesuit untuk turut bergerak dan berjalan bersama orang muda.  Kaderisasi mahasiswa, formasi humaniora, dan eksperimen sosial merupakan beberapa sarana yang dipakai. Proses tersebut membuat para Jesuit belajar bahwa masa depan orang muda ditentukan salah satunya oleh harapan mereka. Kita semua diundang untuk peka mendengarkan “panggilan Raja Abadi” yang menjadi harapan orang muda pada zaman ini dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik. 

Paragraf di atas merupakan gagasan utama hasil penelitian yang dipresentasikan pada Seri Webinar VI 50 tahun berdirinya Provindo. Webinar tersebut diselenggarakan pada hari Minggu, 3 April 2022 pukul 19.30-21.45 WIB. Webinar yang dimoderatori oleh Ibu Sri Palupi ini dihadiri oleh 125 peserta. 

Webinar dimulai dengan pemaparan hasil penelitian mengenai keterlibatan Jesuit Provindo dalam peristiwa Reformasi 1998. Pater Mutiara Andalas, S.J. membukanya dengan memberikan kerangka umum. Pemaparan inti dari para presentator webinar dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama dimulai oleh Fr. Antonius Bagas, S.J. dengan menjelaskan peran kaderisasi mahasiswa dan formasi humaniora bagi orang muda pada tahun 90an, khususnya kiprah formasi mahasiswa oleh Pater Ismartono, S.J. di Wisma SJ Depok dan (Alm.) Pater Adi Wardaya, S.J. di Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. 

Di sesi kedua, Fr. Engelbertus Viktor, S.J. menjelaskan peran ISJ sebagai sarana bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk learning by experience. Metode ini memungkinkan banyak orang muda untuk terlibat dan mengalami perjumpaan langsung dengan realitas ‘rakyat tersalib” (kemiskinan, penderitaan, dan kemalangan). Dalam konteks berjalan bersama orang muda, kehadiran ikon sebagai perwujudan harapan disadari sangatlah penting. Ikon memberi dan menjaga nyala api harapan, bahwa di tengah situasi yang rumit dan tidak kondusif, selalu masih ada ruang untuk berharap dan berbuat sesuatu yang berdampak dan berdaya guna bagi diri sendiri dan sesama.

Beberapa Jesuit dan awam yang bergabung dalam webinar.

Fr. T.B. Pramudita, S.J. sebagai presentator ketiga memaparkan instrumen formasi seorang Jesuit dan buah-buah pendampingan bagi para awam. Salah satu instrumen formasi yang paling sering disebut dalam proses penelitian adalah “Meditasi Panggilan Raja.”  Selain itu, formasi sosial seperti Analisis Sosial di Novisiat, turut membakar nyala api keterlibatan dalam menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang tidak bersalah dalam peristiwa Reformasi 1998. 

Setelah pemaparan hasil penelitian, Pater Paulus Wiryono, S.J. memberikan tanggapannya guna mengkritisi, memperluas, dan memperdalam pemaparan presentator. Pater Wiryono memberikan pemaknaan mengenai resonansi, yaitu getaran sebaran image dan pesan-pesan individu, komunitas, atau intuisi yang dipantulkan oleh sistem-sistem sosial yang memiliki nada perjuangan yang sama. 

Webinar semakin diperkaya oleh sharing personal dari Ibu Maria Sumarsih dan Ibu Karlina Supelli. Dengan berkaca-kaca, Ibu Sumarsih menceritakan bagaimana pengalamannya ditemani oleh beberapa figur Jesuit dalam peristiwa Semanggi I yang menewaskan Wawan, putranya. Pengalaman kehadiran dan ditemani oleh para Jesuit memberi kesan mendalam bagi Ibu Sumarsih. Ibu Karlina memberikan beberapa catatan kritis dan menceritakan betapa tingginya komitmen para Jesuit yang ia jumpai dalam peristiwa Reformasi 1998. Sharing dari Ibu Sumarsih dan Ibu Karlina turut memicu diskusi para peserta. Ada yang menanyakan hal-hal informatif mengenai peristiwa Reformasi 1998, keterlibatan figur tertentu, hingga relevansi hasil presentasi untuk zaman ini. 

Akhirnya diskusi ditutup dengan refleksi yang dibungkus dalam perspektif salah satu poin UAP “Berjalan bersama Orang Muda.” Keterlibatan Jesuit Provindo dalam Reformasi 1998 menunjukkan salah satunya komitmen pendampingan dan pelayanan untuk orang muda. Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. dalam bukunya Berjalan bersama Ignatius menyampaikan bahwa “…faktor kuncinya adalah kita harus selalu hadir. Untuk melakukan ini, pertama-tama kita harus dekat dengan mereka (orang muda). Dan kedekatan itu hanya akan ada, manakala ada perjumpaan personal dan (dilakukan) melalui tradisi Serikat dalam pendampingan, yakni cura personalis.”

Para presentator merefleksikan bahwa Jesuit tidak perlu menunggu momen seperti Reformasi 1998 untuk melakukan penjelajahan bersama orang muda. Jesuit Provindo diundang untuk mendayagunakan karya-karya yang ada seperti kolese-kolese, universitas, kampus mahasiswa, pelayanan pastoral OMK, dan Yayasan Strada-Kanisius untuk bersama orang muda mewujudkan masa depan yang penuh dengan harapan. 

Melalui karya-karya tersebutlah kita dipanggil oleh “Sang Raja Abadi” untuk terus peka dan tidak tuli mendengarkan harapan orang muda saat ini. Harapan orang muda untuk mewujudkan perubahan perlu dipupuk melalui solidaritas berjejaring, difasilitasi melalui eksperimen sosial dan humaniora, serta dikobarkan melalui figur inspiratif.

Kontributor : Thomas Becket Pramudita Praba Astu, S.J.

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.