Pilgrims on Christ’s Mission

Kisah dan Refleksi Karya
dalam Semangat IGNATIAN

Epifani di Ujung Timur

Sedikit Ketersingkapan atas Kompleksitas Papua Liburan semester teologi tahun pertama ini membawa perutusan yang tak terduga untukku: program Immersion ke luar Pulau Jawa. Karena jumlah skolastik tingkat satu teologi di Kolsani (Kolese St. Ignatius, Yogyakarta) hanya tiga orang, program yang sedianya baru diterapkan pada tahun 2027 ini pun dimajukan sebagai ganti Bulan Imamat. Awalnya, sejujur-jujurnya, ada rasa gentar di hati. Kabar angin tentang Papua yang tidak aman sempat membuatku enggan. Kontras rasanya melihat dua rekanku yang begitu gembira berbelanja perlengkapan tourney untuk masuk ke pedalaman Kalimantan. Alih-alih antusias, aku lebih sering menyendiri, memohon rahmat agar dikaruniai semangat misionaris seperti Fransiskus Xaverius.   Di penghujung tenggat pengumpulan tugas akhir yang kuunggah ke surel dosen, aku akhirnya bisa berserah. Sabtu, 3 Januari 2026, perjalananku dimulai. Rentetan penundaan penerbangan di Yogyakarta dan Makassar seolah menguji kesabaranku. Namun, tempaan probatio sejak masa novisiat membantuku mengubah keluhan menjadi momen eksplorasi: mencicipi Coto Makassar hingga perjumpaan tak terduga dengan Pater Sudriyanto, S.J., dan seorang guru SMA Adhi Luhur di bandara.     Setibanya di Nabire, Gereja kebetulan sedang merayakan Epifani. Momen ini menjadi sangat mengena bagiku. Epifani mengisahkan kedatangan para Majus dari Timur yang mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Namun, esensi terdalam dari perayaan ini adalah sebuah ketersingkapan. Allah yang adalah Sang Raja dan Penguasa semesta ternyata menyingkapkan diri-Nya dengan menjelma menjadi manusia yang rentan.   Di tanah ini, aku pun mengalami ‘epifani’-ku sendiri. Papua yang selama ini hanya berputar di awang-awang kepalaku sebagai konsep wilayah yang jauh dan rawan, seketika tersingkap menjadi sebuah realitas yang begitu manusiawi dan nyata. Ketersingkapan realitas itu diawali oleh hangatnya persaudaraan dalam Serikat Jesus. Aku disambut dan dijemput oleh Pater Purwantoro, S.J., Pater Adi Bangkit, S.J., serta para Jesuit senior di Wisma SJ. Aku juga mengunjungi Paroki Kristus Sahabat Kita dan SMA Adhi Luhur. Menyaksikan karya para Jesuit perintis di tempat ini, aku berkontemplasi betapa gigihnya mereka dalam menanamkan benih iman, harapan, dan kasih.   Perjalanan sesungguhnya berlanjut lewat jalur darat selama delapan jam menuju Waghete di ketinggian 2.000 mdpl dekat Danau Tigi. Aku tidak sendiri menuju Waghete, melainkan ditemani volunteer baru yang bersemangat belajar, seorang umat, dan driver handal dari Toraja. Di pastoran Paroki Yohanes Pemandi, Pater Peter Devantara, S.J., dan dua volunteer menyambut kami. Tugas di Waghete membawaku pada keseharian yang sangat praktis, jauh dari teori ilmu teologi. Di asrama, aku menjadi ‘bapak asrama’.’ Ada sukacita tersendiri saat menemani anak-anak memotong rumput ilalang, hingga mereka dengan bangga menuliskan namaku di buku examen harian mereka.   Tantangan terbesarku adalah mengutak-atik mesin filter air Reverse Osmosis (RO) dan membenahi jalur pipa tandon yang pecah. Ketika air kembali mengalir jernih, sorak gembira anak-anak menjadi penghiburan rohani yang tak ternilai. Allah sungguh tersingkap dalam hal-hal harian yang sederhana.   Selain urusan rumah, aku juga mengajar di SD Stasi Yaba, Yagu, dan Kigou. Berbekal teriakan “Mei Sekolah!” (Ayo Sekolah!), kami mengajak anak-anak belajar calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sederhana. Di bilik kelas inilah aku terbentur pada realitas struktural. Jika para Majus mempersembahkan emas kepada Sang Raja, di sini aku melihat ironi yang menyesakkan: anak-anak Papua ini berdiri di atas tanah yang kaya akan emas, namun mereka berjalan tanpa alas kaki. Absennya tenaga pendidik membuatku sadar bahwa pendidikan di sini bukan tertinggal, melainkan ditinggalkan.     Merujuk pada ulasan “The failure of education in Papua’s highlands” di situs Inside Indonesia, hancurnya sistem pendidikan di pedalaman Papua justru terjadi ketika kebijakan otonomi khusus menyerahkan wewenang kepada pejabat daerah, yang memicu pemekaran wilayah administratif tak terkendali tanpa diimbangi dengan kapasitas manajemen lokal. Akibatnya, sistem sekolah yang dahulunya sempat berjalan baik secara swadaya di bawah naungan gereja dan misionaris perlahan terfragmentasi hingga akhirnya terbengkalai dan ditinggalkan. Meskipun demikian, sebagai sebuah kemungkinan alternatif lain, barangkali pendidikan formal memang belum menjadi prioritas di Papua untuk saat ini.   Dalam situasi yang serba kompleks ini, Gereja Waghete hadir bukan untuk memaksakan perubahan instan atau menggantikan peran guru seutuhnya. Kehadiran ini merupakan wujud nyata Gereja yang menghidupi preferential option for the poor—memihak kepada mereka yang rentan dan dirampas hak-haknya.   Tiga minggu berlalu teramat cepat. Perpisahan diwarnai rasa haru yang mendalam. Di Stasi Meyepa, seorang bapak bahkan memberiku seekor ayam sebagai wujud terima kasih. Aku kembali ke Jawa pada tanggal 28 Januari, tepat ketika Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Thomas Aquinas, pelindung para teolog dan pelajar Katolik. Sebuah penutup yang begitu puitis bagi langkahku berikutnya. Pengalaman immersion di Waghete pada akhirnya bukan sekadar jeda studi, melainkan bentuk latihan berteologi kontekstual secara nyata.   Sumber: Bobby Anderson. (2013, 29 September). “The failure of education in Papua’s highlands”. dari https://www.insideindonesia.org/archive/articles/the-failure-of-education-in-papua-s-highlands.     Kontributor: Sch. Y.K. Septian Kurniawan, S.J.

Read More »

Menempa Pemimpin Ignatian

LKI 2026 SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville Dalam upaya menyiapkan kader pemimpin muda yang berintegritas dan berjiwa pelayanan, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville kembali menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan Ignatian (LKI) 2026. Kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses pembinaan calon presidium OSIS, sekaligus ruang pembelajaran intensif untuk menumbuhkan kepemimpinan yang reflektif, disiplin, dan peka terhadap sesama.   LKI 2026 dilaksanakan selama tiga hari, dari Kamis hingga Sabtu, 22–24 Januari 2026, bertempat di Gereja Stasi Santo Yosep Samabusa. Seluruh rangkaian kegiatan diikuti oleh para calon presidium terpilih dengan pendampingan para imam dan guru. Peserta tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga diajak mengalami secara langsung proses pembentukan karakter melalui latihan, refleksi, dan hidup bersama.     Kepemimpinan Ignatian sebagai Dasar Pembinaan LKI 2026 disusun berdasarkan semangat kepemimpinan Ignatian yang menekankan kesadaran diri, kebebasan batin, dan keberanian mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal posisi, melainkan panggilan untuk melayani dan bertanggung jawab.   Melalui sesi pengantar dan latihan, peserta menggali pokok-pokok kepemimpinan Ignatian, termasuk pentingnya refleksi, kepekaan terhadap situasi sekitar, serta kemampuan membedakan mana yang baik dan lebih baik (magis). Proses ini diperkaya dengan latihan konkret agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi sungguh dihidupi.   Disiplin adalah Kunci Utama Salah satu fokus utama LKI 2026 adalah pembentukan disiplin yang berkelanjutan. Peserta dilatih untuk mengelola waktu secara bertanggung jawab, setia pada tugas-tugas kecil, serta berani menerima konsekuensi atas pelanggaran. Latihan ini mencerminkan pemahaman bahwa kepemimpinan sejati dibangun melalui kesetiaan pada hal-hal sederhana.   Peserta juga diajak keluar dari zona nyaman melalui latihan yang sengaja dirancang “tidak nyaman.” Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan daya juang, ketangguhan, serta kepekaan terhadap penderitaan orang lain.     Belajar Mengelola Aturan dan Konflik Dalam dinamika komunitas sekolah, pemimpin tidak terlepas dari aturan dan konflik. Karena itu, LKI 2026 membekali peserta dengan pemahaman mendalam tentang tata tertib sekolah melalui simulasi kasus. Peserta diajak menyadari bahwa aturan bukan alat pengekangan, melainkan sarana untuk menjaga keteraturan dan keadilan.   Selain itu, peserta dilatih untuk mengingatkan teman sebaya dan menengahi konflik dengan pendekatan komunikasi tanpa kekerasan (non-violent communication). Melalui presentasi dan latihan, peserta belajar menyampaikan pendapat, kritik, dan teguran secara tegas namun tetap menghargai martabat sesama.   Merancang Kegiatan dan Mengelola Keberagaman Sebagai calon pemimpin organisasi siswa, peserta juga dibekali keterampilan praktis dalam merancang dan melaksanakan kegiatan. Mereka diajak memahami tahapan perencanaan, mulai dari perumusan ide, penyusunan proposal, hingga pelaksanaan dan evaluasi.   Dalam latihan ini, peserta diminta menyusun proposal kegiatan yang realistis, inovatif, kreatif, serta inklusif dengan melibatkan keberagaman suku dan budaya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat sekolah sebagai komunitas belajar yang menghargai perbedaan.   Mengenali Diri dan Sesama sebagai Dasar Kepemimpinan Kesadaran diri menjadi bagian penting dalam LKI 2026. Melalui kegiatan outbound, pengisian kuesioner, refleksi pribadi, dan sharing kelompok, peserta diajak mengenali kapasitas diri dan teman secara jujur dan terbuka.   Dari proses tersebut, peserta kemudian menentukan pasangan calon ketua dan wakil ketua presidium secara objektif. Tahapan ini diakhiri dengan pemungutan suara untuk memilih tiga pasangan calon yang akan melanjutkan proses kampanye.     Menumbuhkan Pemimpin yang Melayani Melalui Latihan Kepemimpinan Ignatian 2026, SMA YPPK Adhi Luhur Kolese Le Cocq d’Armandville menegaskan komitmennya untuk menciptakan pemimpin muda yang tidak hanya cakap secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman rohani, integritas pribadi, kepekaan sosial, serta semangat melayani. LKI menjadi ruang pembelajaran penting untuk menempa karakter agar para siswa mampu memaknai kepemimpinan sebagai panggilan untuk hadir, peduli, dan bertanggung jawab bagi sesama.   Merumuskan Visi dan Misi yang Bermakna Tahap akhir LKI 2026 difokuskan pada perumusan visi dan misi. Peserta diajak berdiskusi dalam tim untuk menyusun visi dan misi yang tidak hanya menarik, tetapi juga berakar pada kebutuhan nyata komunitas sekolah. Proses pendampingan intensif dilakukan agar visi-misi yang dihasilkan mencerminkan semangat pelayanan, keberpihakan pada kebaikan bersama, serta nilai-nilai Ignatian.   Ritme Kegiatan yang Seimbang Seluruh rangkaian LKI 2026 dirancang seimbang antara aktivitas fisik, intelektual, sosial, dan spiritual. Setiap hari diisi dengan olahraga pagi, sesi pelatihan, refleksi harian melalui Examen, doa malam, dan diakhiri dengan istirahat. Kegiatan ditutup dengan perayaan Ekaristi sebagai ungkapan syukur atas seluruh proses.       Kontributor: Reinaldo Rahawarin

Read More »

Memeluk Hening, Merajut Persaudaraan

Examen Conscientiae Menjelang Prapaskah 2026 Masa Prapaskah sering kali dipandang sebagai perjalanan personal antara manusia dengan Penciptanya. Namun, dalam terang Surat Gembala 2026, kita diingatkan bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada kesalehan diri sendiri. Prapaskah adalah undangan untuk meruntuhkan tembok ego demi membangun jembatan persaudaraan. Di SMP Kanisius Kalasan, Yogyakarta, persiapan ini dimulai dari tempat yang paling sunyi dalam pengolahan batin atau Examen Conscientiae.   SMP Kanisius Kalasan telah membangun ritme spiritual yang konsisten. Setiap Senin hingga Rabu, suasana kelas berubah menjadi hening menjelang akhir pembelajaran untuk refleksi secara mandiri. Hal ini menuntut kesadaran pribadi untuk sesaat meninggalkan riuhnya proses pembelajaran. Didampingi guru yang mengajar di jam terakhir, para murid diajak menoleh sejenak ke belakang, melihat jejak Tuhan dalam tawa, kesulitan, bahkan rasa bosan selama belajar. Namun, ritme ini mencapai puncaknya di akhir pekan.   Setiap hari Kamis, para murid melangkah bersama menuju Gereja. Di sana mereka mempraktikkan Examen yang dipandu oleh Bapak/Ibu guru secara bergantian. Keheningan komunal di Gereja ini menciptakan ikatan persaudaraan yang unik. Para murid belajar bahwa meski Harapan utama dari pembiasaan ini adalah agar murid semakin mampu mendengarkan suara Tuhan yang menuntun pada penguasaan diri yang baik. Mengapa penguasaan diri itu penting dalam konteks persaudaraan? Karena tanpa penguasaan diri, kebersamaan akan mudah retak oleh ego.       Seorang murid yang mampu mengolah batinnya akan lebih bijak dalam bertutur kata, lebih sabar dalam perbedaan, dan lebih rendah hati untuk meminta maaf. Inilah wujud nyata dari tagline “Karakter Hebat, Prestasi Dapat.” Karakter hebat bukan hanya soal integritas pribadi, tetapi juga soal kemampuan untuk hidup rukun dan berkolaborasi. Prestasi yang optimal akan lebih mudah tercapai dalam lingkungan yang penuh dukungan dan persaudaraan yang tulus.   Selaras dengan pesan Surat Gembala 2026 Keuskupan Agung Semarang, kita diajak untuk menjadi saksi-saksi persaudaraan di tengah dunia yang kian terfragmentasi. Melalui rangkaian refleksi ini, para murid dilatih untuk tidak hanya fokus pada “aku,” tetapi beralih menjadi “kita.”   Masa Prapaskah 2026 menjadi momentum untuk mengubah hasil refleksi dan renungan pagi menjadi aksi nyata. Jika dalam pengolahan batin seorang murid menyadari ia telah melukai hati temannya, maka Prapaskah adalah waktu untuk rekonsiliasi. Talenta yang ditemukan melalui keheningan batin akan menjadi berkat bagi persaudaraan di lingkungan sekolah dan masyarakat.   Melalui pembiasaan Examen Conscientiae dan renungan pagi, SMP Kanisius Kalasan sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara spiritual dan sosial. Karakter hebat yang kita impikan adalah karakter yang mampu merangkul sesama sebagai saudara.   Mari memasuki Prapaskah 2026 dengan tekad baru bahwa setiap doa dan hening yang kita lakukan akan berbuah pada kasih yang nyata. Karena pada akhirnya, prestasi tertinggi seorang manusia adalah saat ia mampu menjadi berkat bagi sesamanya.       Kontributor: Heffi Widyaningrum, S.Pd.Si – Guru SMP Kanisius Kalasan

Read More »

Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri

Imlek 2577 di Kanisius Pati Hembusan angin pagi membawa aroma kue keranjang dan jeruk mandarin, berpadu dengan tawa riang anak-anak yang memenuhi halaman SMP Kanisius Pati, Jawa Tengah. Jumat, 13 Februari 2026 lalu, keluarga besar Kanisius Pati merayakan Tahun Baru Imlek 2577—Tahun Kuda Api—dalam suasana hangat, semarak, dan penuh makna.   Perayaan ini menyatukan siswa-siswi dari KB-TK Kanisius Pati, SD Kanisius Pati, SMP Kanisius Juwana, SMP Kanisius Kudus, serta SMA Kanisius Yos Soedarso Pati. Dengan mengusung tema “Kisah Menyatu, Berkah Menghampiri”, acara ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan perjumpaan lintas usia dan tradisi yang memperkuat nilai-nilai pendidikan Ignasian: magis, cura personalis, dan men for others.   Hadir pula perwakilan utusan Plt. Bupati Pati dan Kodim Pati membuka kegiatan dengan pesan tentang toleransi dan persatuan. Sch. Viktor Daki, S.J., serta Pak Petrus Marjono selaku perwakilan Yayasan Kanisius Cabang Semarang turut memberikan sambutan yang meneguhkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman budaya Indonesia.     Pawai Harmoni: Merah, Emas, dan Gamelan Jawa Tepat pukul 08.00 WIB, suara genderang dan sorak semangat menandai dimulainya pawai pembuka. Gelombang warna merah dan emas mengalir indah di sepanjang barisan. Spanduk bertuliskan “Gong Xi Fa Cai” dan tema perayaan dibawa dengan bangga oleh perwakilan siswa SMA Kanisius Yos Soedarso Pati.   Anak-anak KB-TK, didampingi kakak-kakak siswa/i SMA yang penuh perhatian, tampil menggemaskan dalam balutan kostum bernuansa Imlek. Marching band dari SMP Kanisius Juwana tampil energik dengan irama dinamis, disusul barisan siswa SD dan SMP yang melangkah percaya diri. Pawai ditutup dengan alunan gamelan dari SMP Kanisius Pati, sentuhan khas budaya Jawa yang menyatu harmonis dengan nuansa Tionghoa.   Perpaduan lentera merah dan suara gong menciptakan perpaduan budaya yang memikat. Simbol-simbol Imlek—warna merah sebagai lambang keberuntungan dan api sebagai energi pembaruan—berpadu dengan filosofi harmoni dalam tradisi Jawa. Rute pawai mengitari Jalan P. Sudirman, Jalan Kamandowo, Jalan K.H. Wachid Hasyim, hingga Jalan Dr. Sutomo sebelum kembali ke kompleks sekolah. Di akhir perjalanan, para siswa menerima angpao simbolis berisi pesan motivasi untuk giat belajar di Tahun Cerdas.   Seperti ungkapan salah satu peserta, “Pawai ini seperti perjalanan bersama, di mana kami belajar menghargai perbedaan dan menemukan kegembiraan dalam setiap langkah.”     Harmoni Musik dan Barongsai yang Menggetarkan Kemegahan berlanjut saat marching band SMP Kanisius Juwana mengambil alih panggung. Dengan seragam biru yang mencolok dan formasi rapi, mereka membawakan medley lagu Imlek seperti “Gong Xi Gong Xi” dalam aransemen modern. Dentuman drum mengingatkan pada petasan tradisional yang melambangkan pengusiran energi negatif dan penyambutan keberuntungan baru.   Suasana semakin memuncak ketika barongsai dari SMP Kanisius Kudus tampil memukau. Gerakan akrobatik yang lincah, iringan genderang yang menggelegar, serta interaksi hangat dengan anak-anak kecil menciptakan atmosfer penuh kegembiraan. Tradisi pembagian angpao kepada barongsai pun menjadi momen yang dinanti—simbol rasa syukur dan harapan baik di tahun yang baru.   Penampilan band dari berbagai unit sekolah, mulai dari SD-SMA Kanisius, turut menambah warna. Lagu-lagu yang dibawakan menghadirkan harmoni yang menyatukan hati, memperlihatkan bahwa seni adalah bahasa universal yang melampaui sekat budaya.   Fashion Show Cici-Koko: Tradisi Bertemu Kreativitas Puncak acara hadir dalam fashion show cici-koko yang memikat perhatian. Para perwakilan siswa berjalan percaya diri di atas karpet merah, mengenakan busana tradisional Tionghoa yang dipadukan dengan sentuhan batik Nusantara.   Anak-anak KB-TK tampil ceria dalam kostum mini merah-emas yang melambangkan kelimpahan dan kebahagiaan. Siswa/i SD tampil anggun dengan aksesori bak putri kerajaan. Remaja SMP menghadirkan desain dinamis penuh energi, sementara siswa/i SMA menampilkan sentuhan elegan dengan syal sutra dan detail modern yang berkelas.   Sorot mata guru, orang tua, dan tamu undangan tak lepas dari panggung. Di sekitar panggung, bazar makanan dan kerajinan tangan siswa menambah semarak. Aroma kue keranjang yang lengket—simbol rezeki yang “melekat”—bercampur dengan semangat kewirausahaan dan kreativitas anak-anak.   Fashion show ini menjadi jendela pembelajaran budaya yang menyenangkan. Para pelajar tidak hanya mengenakan busana tradisi, tetapi juga memahami makna dan sejarah di baliknya.     Menemukan Tuhan dalam Kebudayaan Menjelang siang, acara ditutup dengan doa bersama yang mengingatkan seluruh peserta untuk finding God in all things—menemukan Tuhan dalam segala hal, termasuk dalam keberagaman budaya. Perayaan ini menjadi ruang refleksi bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan warna yang memperindah kehidupan bersama.   Simbolisme Imlek tentang kebersamaan, harapan, dan rasa syukur selaras dengan semangat pendidikan Kanisius: membentuk pribadi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.   Perayaan Imlek 2577 ini berakhir dengan sukses. Namun, lebih dari itu, perayaan kebudayaan ini meninggalkan jejak hangat di hati setiap peserta, seperti benang emas yang mempererat keluarga besar Kanisius. Dalam kebersamaan yang tulus, kisah pun menyatu dan berkah benar-benar menghampiri.     Kontributor: Arianti Novitasari – Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia

Read More »

Belajar Imamat di Pedalaman

Immersion Para Frater Skolastik Kolese Santo Ignatius (KOLSANI) Pada 3-31 Januari 2026, kami, tiga teologan tingkat 1 Kolsani (SS. Alfred, Kefas, dan Septian K.) menjalani program Immersion di Paroki Santa Maria – Botong, Kalimantan Barat dan Paroki Santo Yohanes Pemandi – Waghete, Papua Tengah. Program Immersion Kolsani adalah bagian dari program formasi yang baru untuk mendukung pemantapan pilihan hidup imamat Jesuit bagi para frater di Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta, salah satu rumah formasi bagi para calon imam Serikat Jesus sebelum mereka menerima tahbisan kelak. Seperti namanya (immersion = mencelupkan), tujuan utama dari program ini adalah agar para frater dapat masuk dan mengalami langsung kehidupan imam Jesuit yang khas secara lebih mendalam di tempat mereka berkarya, terutama dalam konteks pelayanan pastoral paroki di luar Jawa.   Pada umumnya, bulan Imamat (Arrupe Month) menjadi kegiatan rutin di bulan Januari bagi para frater teologan tahun pertama di Kolsani. Akan tetapi, tahun ini bulan Imamat akan ditunda hingga tahun depan, sehingga kami mendapat kesempatan untuk menjalani immersion terlebih dahulu sebelum tahun depan menjalani bulan Imamat. Penundaan itu kiranya membuat pengalaman ini menjadi lebih menarik karena sebelum belajar tentang kekhasan imamat Jesuit secara teoretis, kami justru mendapat kesempatan untuk mengalaminya secara langsung di tempat immersion kami masing-masing.     Tantangan dan warna pengalaman yang berbeda menyambut kami di tempat immersion masing-masing. Di Paroki Botong, saya dan Sch. Alfred merasakan perjalanan ke stasi sebagai salah satu tantangan terbesar. Jarak dari paroki yang berada di Desa Kualan Hulu ke stasi yang berada di Desa Kualan Tengah memang tidak sangat jauh untuk ukuran pada umumnya. Namun, medan yang sebagian besar berupa jalan tanah yang berlumpur dan tidak rata menjadikan perjalanan yang normalnya ditempuh selama satu jam pada praktiknya kami tempuh dalam durasi dua hingga tiga kali lebih lama. Kami bahkan pernah menghabiskan waktu hampir enam jam hanya untuk pulang dari stasi karena kondisi jalan yang semakin licin akibat diguyur hujan semalaman. Kami merasa tenaga imam atau pelayan pastoral di sana sebagian besar habis di jalan karena kondisi medan yang demikian. Tentunya, anggaran perbaikan kendaraan juga menguras keuangan cukup banyak.       Berbeda dengan tantangan di Kalimantan, Sch. Septian di Paroki Waghete menemukan variasi tantangan, salah satunya adalah pendidikan formal yang tidak berjalan dengan baik. Guru yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta sering tidak hadir sehingga mengakibatkan anak-anak tidak mendapat akses pendidikan dengan semestinya. Anak-anak juga tidak mengenal cara untuk merawat diri. Untuk itu, Paroki Waghete mendatangkan guru sukarelawan untuk membantu mengajar membaca, menulis, dan berhitung serta menyediakan makanan bergizi seperti telur rebus maupun susu di sekolah yang berada di keempat stasi, yakni Yaba, Kigo, Yagu, dan Meyepa. Paroki juga menyediakan asrama bagi anak-anak SMP yang berasal dari pedalaman. Selain itu, faktor keamanan juga menjadi tantangan bagi para guru sukarelawan ketika hendak mengajar di stasi-stasi.     Di tengah berbagai tantangan yang ada, kami di Botong ataupun Waghete juga menjumpai semangat para pastor paroki yang terus berusaha mencari cara untuk melayani umatnya dengan maksimal. Di Botong, kami berjumpa dengan pastor paroki yang terus berusaha melampaui batas-batas fisiknya untuk bisa berkeliling dan mengunjungi umat di stasi-stasi setiap bulan. Di Waghete, kami berjumpa dengan pastor paroki yang juga memperjuangkan pendidikan umatnya selain juga menjalankan tugas pelayanan sakramental di stasi-stasi.   Pada akhirnya, kami kembali ke komunitas kami di Kolsani, Yogyakarta, dengan konsolasi. Immersion di tempat-tempat pedalaman ini mengajak kami untuk berefleksi tentang kekhasan imamat Jesuit melalui pengalaman hidup bersama para imam dengan segala perjuangan mereka di tempat-tempat sulit.     Dari satu bulan hidup bersama mereka, kami belajar bahwa setidaknya dari pengalaman terbatas ini, kekhasan imamat Jesuit tetap berakar pada semangat Latihan Rohani. Kami berjumpa dengan para imam yang mendengar dan sedang menjawab panggilan Raja abadi untuk bersusah payah bersama-Nya dalam konteks yang berbeda di dua tempat yang berbeda pula. Bagi kami, pengalaman ini juga menjadi undangan untuk terus berusaha mendengarkan panggilan Raja Abadi itu dan terus berjuang untuk menjawab panggilan-Nya.     Kontributor: Sch. Daud Kefas Raditya, S.J.

Read More »

Menemukan Damai di Tengah Ketidakpastian

Refleksi Pertemuan Magis Asia Pacific 2025 Mendapat kesempatan untuk mewakili Magis Indonesia di pertemuan Magis Asia Pacific 2025 adalah suatu berkat besar yang Tuhan berikan untukku. Sebelum kabar ini aku terima, aku sedang berada di momen desolasi namun Tuhan hadir melalui perantara Pater Koko untuk memberi tahu bahwa aku salah satu yang akan mewakili Magis Indonesia. Pada saat itu aku merasa Tuhan memberiku hadiah besar atas kesabaran dan keihklasanku menerima kejadian yang aku alami akhir-khir ini. Menyambut kabar itu dengan gembira aku mempersiapkannya dari awal dengan tim Magis Indonesia. Kami kooperatif dalam membantu sama lain selama masa persiapan dan semua dipermudah dengan urusan kami masing-masing baik itu urusan pekerjaan di kantor, pengurusan visa, dan berbagai koordinasi lain. Ketika semuanya sudah siap aku mulai memberitahukan kepada orang tua dan beberapa teman terdekatku untuk memohon doa mereka selama aku 10 hari di Taiwan. Mereka semua juga menyambut kabar ini dengan sukacita dan ikut mendoakan perjalananku.   Hari pun tiba saat kami sampai di Taiwan disambut dengan cuaca dingin, mendung, dan sedikit hujan. Kami dijemput oleh panitia di Bandara dan diajak menggunakan MRT hingga sampai di venue pertama yaitu Sekolah St. Ignatius Loyola. Aku sekamar dengan perwakilan Magis Jepang dan Magis Singapore. Kegiatan pun dimulai dengan berkumpul di aula sekolah dan bertemu dengan beberapa perwakilan dari negara lain. Kami bisa saling mengenal menambah relasi pertemanan baru dan bertukar informasi dengan budaya negara kami masing-masing. Total kurang lebih ada 11 negara. Kegiatan berikutnya diisi dengan materi yang diberikan oleh perwakilan imam, refleksi pribadi, sharing dalam kelompok, misa harian dan sampailah pada kegiatan inti yaitu Magis Experiment.     Dalam Magis Experiment ini aku memilih melayani kaum marginal pada urutan pertamaku dan aku ditempatkan sesuai dengan kelompok yang aku pilih. Kelompokku didampingi koordinator, seorang imam, dan beberapa teman dari Magis Singapura, Korea, dan Filipina. Sebelum kami melakukan kegiatan Magis Experiment, kami diminta untuk menulis beberapa ketakutan dan aku menulis ketakutanku adalah kendala bahasa jika berkomunikasi langsung dengan para tuna wisma dan akan tempat tinggal selama kegiatan. Pada hari pertama, kami diajak untuk mengunjungi salah satu NGO dan kami dibantu oleh salah satu pendamping kami dalam menerjemahkan bahasa Mandarin ke bahasa Inggris. Ternyata ketakutanku mulai memudar karena kami bisa memahami selama kami berkomunikasi dan pesannya dapat kami terima dengan baik. Kami diajak berkeliling ke beberapa tempat dengan mengunjungi salah satu kuil bersejarah sambil menikmati jalanan dan kota Taiwan. Hal ini terasa istimewa karena ini adalah kunjungan pertamaku ke Taiwan. Malamnya kami menyiapkan makanan untuk diberikan kepada para tuna wisma di pinggir stasiun.   Malam itu kami keluar naik MRT kemudian berjalan kaki untuk menemui beberapa tuna wisma. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditemani imam pendamping. Selama aku memberikan makanan dan sedikit berkomunikasi dengan mereka, aku merasa Tuhan hadir dengan mengingatkanku akan kenyamanan rumah yang aku miliki. Punya kamar, ruangan hangat, punya tempat tidur tidak kedinginan dan tidak kehujanan tetapi mereka tidur hanya beralaskan kardus dan payung sebagai pelindung hujan. Aku merasa tersentuh ketika mereka merasa sukacita akan kehadiran kami membawa sedikit makanan. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas tempat tinggal yang aku miliki dan keluarga masih utuh setia mendampingiku.   Pada hari berikutnya, kami diajak ke sebuah pelabuhan untuk bertemu dengan beberapa nelayan dan pekerja home care di Taiwan. Semua yang kami temui adalah pekerja Indonesia dan aku senang bisa bertegur sapa dengan mereka. Sebagai seorang nelayan yang tidurnya hanya di kapal, jauh dari keluarga di Indonesia dan pulang setelah beberapa bulan mengingatkanku akan pekerjaan dan kenyamanan yang aku miliki saat ini. Kadang aku mengeluhkan pekerjaan dan ternyata itu tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku sempat mengobrol juga dengan salah satu pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja mengurus lansia. Ia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil berusia 2 tahun di Indonesia untuk bekerja di Taiwan mencari nafkah. Namun dia punya cita-cita untuk menyekolahkan anaknya di Taiwan agar bisa menjadi guru mandarin di Indonesia. Hal itu menyentuhku akan cinta seorang Ibu untuk anaknya. Setelah selesai berbincang-bincang, kami semua makan malam bersama dengan tema makanan Indonesia dan teman-temanku dari negara lain menyukai makanan tempe. Para pekerja migranlah yang menyiapkan dan memasak makan malam untuk kami semua. Kekeluargaan sangat terasa dalam momen ini.     Tak terasa dua malam Magis Experiment yang kami jalani bisa kami lalui. Ternyata semua ketakutanku yang aku sempat tulis di awal tidak terjadi. Tuhan menyertaiku menyelesaikan tugas ini dengan banyak berkat, seperti kekeluargaan dalam kelompok, relasiku dengan orang-orang yang aku jumpai, dan kenyamanan dalam tempat tinggal, makanan, kebutuhan lainnya semua dicukupkan. Tuhan benar-benar hadir dalam tiap waktu yang aku lalui hingga bisa memiliki pengalaman spiritual selama Magis Experiment ini. Banyak cinta yang aku terima dan bisa aku bagikan lagi ke orang lain saat kembali ke Indonesia. Aku semakin terpanggil untuk melayani kaum marginal. Aku semakin bisa merasakan nilai-nilai yang Tuhan kehendaki dalam hidup pelayananku. Waktu 10 hari sebagai seorang peziarah di Taiwan tidak terasa aku lalui. Ada momen di mana aku merindukan orang tua, tempat tinggal, kebiasaan yang aku lakukan di rumah tapi berkat Tuhan, aku bisa lalui. Aku belajar untuk rendah hati dan menikmati momen saat ini.     Semua pengalaman selama mengikuti Magis Asia Pacific adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tempat-tempat di Taiwan yang aku kunjungi, makanan, cuaca, teman-teman Magis dari berbagai negara, panitia Magis Taiwan yang selalu siap membantu, pelayanan yang diberikan panitia. Secara keseluruhan, acara terasa mudah dan lancar. Aku pulang ke Indonesia membawa semangat Magis yang baru dan ada perasaan damai dalam hati yang aku rasakan. Aku merasa momen desolasiku sebelum pergi disembuhkan melalui kegiatan ini. Aku merasa lebih tenang dan mulai bisa melepaskan pelan-pelan ketakutanku dengan bisa melihat kehadiran Tuhan dalam momen keheningan yang aku rasakan.   Kontributor: Magdalena Prita – Delegasi Magis Indonesia

Read More »

Menemukan Tuhan dalam Keheningan

Perjalanan Sahabat Ignatian Bongsari Finding God in all things. Inilah salah satu kutipan dari St. Ignatius Loyola yang senantiasa dijalani oleh para Sahabat Ignatian di Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang. Menemukan Tuhan di dalam segala hal, termasuk dalam keheningan sekalipun.   Dari total 32 peserta, terdapat 16 peserta yang berhasil menjaga komitmen untuk mengikuti dan menyelesaikan program kegiatan Ignatian Remaja 2025. Mereka adalah para remaja dari lingkup paroki Bongsari dan wilayah Panjangan yang berusia 17-21 tahun. Mereka telah menjalani proses belajar dan pendampingan rohani mulai dari bulan Mei sampai Desember 2025.   Selama tujuh bulan tersebut, para Ignatian Remaja atau yang disebut sebagai tim Salmeron, belajar mengenai spiritualitas Ignatian serta mengenal diri sendiri melalui buku The 7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey). Mereka juga diajarkan untuk mendengar suara Tuhan melalui latihan meditasi serta doa hening.   Dalam proses pendampingan, pada awalnya banyak dari tim Salmeron yang merasa kesulitan menjalani doa hening. Beberapa dari mereka kesulitan untuk fokus berdoa akibat suhu ruang yang terasa panas atau adanya suara-suara di sekitar ruang doa. Ada pula yang masih kesulitan untuk menjaga tubuh pada posisi yang sama selama sesi doa, entah karena pegal atau kesemutan.   Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, pendamping tim Salmeron memberikan pesan bahwa hal tersebut memang perlu dirasakan karena pengalaman-pengalaman itu membuktikan bahwa mereka menyadari keadaan mereka pada saat melakukan doa. Doa hening mengajarkan mereka untuk membangun kesadaran akan situasi dan kondisi diri pada saat itu.     Selain belajar meditasi dan doa hening, tim Salmeron juga diajak oleh Pater Agustinus Sarwanto, S.J. untuk melihat dan merenungkan kehidupan pribadi. Topik yang sering diangkat adalah tentang ketakutan. Pater Sarwanto sempat memberikan materi ini dengan membahas tiga ketakutan yang umum dirasakan banyak orang, yaitu fear of missing out (FOMO), fear of people’s opinion, dan you only live once (YOLO).   Kemudian Pater Sarwanto memberikan pertanyaan reflektif pada tim Salmeron, yaitu apa saja ketakutan yang muncul dari dalam dan luar diriku? Dari pertanyaan tersebut, muncul jawaban yang dominan dari para peserta yaitu ketakutan akan masa depan.   Setelah menjalani beberapa pertemuan dan retret pertama di Rumah Retret KSED, para peserta merasakan beberapa perubahan di dalam hidup mereka. Berbagai ketakutan yang pernah mereka rasakan sebelumnya sudah bisa mereka hadapi dengan keberanian. Mereka lebih mudah untuk memasrahkan hasil akhirnya pada Tuhan setelah mengusahakan semuanya dengan maksimal.   Puncak perjalanan adalah Retret Ignatian di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten pada 12-14 Desember 2025. Dalam retret ini, mereka menerapkan segala ilmu yang telah mereka pelajari dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, khususnya mengenai doa hening. Pater Sarwanto meminta tim Salmeron untuk melakukan self-guided retreat dimana mereka menjalani retret pribadi selama tiga hari dalam situasi hening, tanpa komunikasi verbal dengan orang lain selain hal mendesak.     Pasca puncak kegiatan Ignatian Remaja, buah-buah dari segala usaha yang dilakukan para pendamping serta tim Salmeron dapat dirasakan oleh banyak pihak. Mereka terlibat aktif dalam kegiatan menggereja dan Orang Muda Katolik (OMK). Dampak yang baik ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditularkan pada generasi berikutnya agar kehidupan dalam Gereja dapat berkembang dan terus berlangsung.   Kontributor: Anastasia Adristri – Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang

Read More »

Pesta Umat yang Menghidupkan Kembali Sejarah

Amazing Race Gedangan: Halaman Gedung Bintang Laut Gereja Katolik St. Yusuf Gedangan pagi itu berbeda dari biasanya. Umat berbondong-bondong berkumpul dengan aneka atribut unik, mulai pakaian adat hingga kostum menarik lainnya. Mereka bersiap mengikuti Amazing Race, sebuah acara jalan sehat sambil menelisik kembali sejarah Gereja Katolik St. Yusuf Gedangan yang merupakan salah satu rangkaian acara menuju 150 Tahun Pemberkatan Gereja Gedangan pada 12 Desember 2025 lalu.   Pada awalnya, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada September 2025. Meski persiapannya sudah matang dan umat sudah begitu bersemangat, situasi sosial politik ternyata tidak kondusif sehingga panitia memutuskan menunda acara ini. Akhirnya, pada Jumat pagi, 16 Januari 2026, acara ini dapat dilaksanakan. Meski tahun telah berganti, semangat dan gairah untuk bergerak dan belajar bersama melalui Amazing Race tetap sama.   Menjelang dini hari tanggal 16 Januari lalu, umat dan panitia harap-harap cemas. Cuaca sulit diprediksi karena Kota Semarang setiap hari diguyur hujan. Pepatah Gusti Allah mBoten Sare meyakinkan para panitia dan umat bahwa cuaca akan baik selama acara. Benar saja, cuaca selama pelaksanaan Amazing Race sejuk, tidak sepanas biasanya, tetapi juga tidak mendung. Pas untuk berolahraga!     Mengenal Sejarah Pekikan yel-yel dari seratus sembilan puluhan peserta yang terbagi dalam 18 kelompok di depan Gedung Bintang Laut membuka semarak Amazing Race Gedangan. Dari depan Gedung Bintang Laut, setiap kelompok melewati sejumlah rute yang berbeda dengan beberapa pos yang sama, di mana masing-masing pos menawarkan keseruannya sendiri.   Pos “memecahkan kode” yang dibuat dalam bentuk sandi Morse bertujuan untuk mengundang umat memahami bahwa iman menjangkau semua bangsa manusia, termasuk yang memiliki cara dan bahasa komunikasi yang berbeda. Pos “menyusun puzzle” agar utuh membuat peserta menyusun puzzle foto Gereja Gedangan pada tahun 1900-an untuk menyadarkan umat bahwa berdirinya Gereja Gedangan yang megah adalah bagian dari kepingan-kepingan usaha berbagai pihak dan karya Allah sendiri.   Tempat-Tempat Bersejarah Karena Amazing Race adalah sarana umat untuk mengenal lebih dekat histori Gereja Katolik Gedangan, pos yang dituju merupakan tempat bersejarah dan erat kaitannya dengan perkembangan iman dan pembangunan Gereja Katolik Gedangan.   Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang dikenal sebagai Gereja Blenduk, adalah salah satu posnya. Di bangunan gereja yang berdiri kokoh dengan kubah merah dan dinding putih menjulang ini, umat Katolik awal di Semarang merayakan Ekaristi.   Taman Srigunting No. 5-6 ini pernah menjadi gereja sekaligus tempat tinggal para imam, di mana lantai satu menjadi tempat peribadatan dan lantai dua menjadi rumah tinggal. Saat ini, bangunan tersebut menjadi salah satu destinasi wajib karena di sana rutin diadakan pameran karya seni rupa kontemporer dan kini ditempati oleh PT EMKL Marabunta.   Lokasi Gereja Katolik St. Yusuf, Gedangan yang kini berada, diusahakan oleh seorang imam diosesan dari Belanda, Romo J. Lijnen, Pr. Ia membeli lahan yang lebih strategis yang dulunya adalah kebun pisang.   Dua tempat lain yang menjadi pos permainan adalah Teater Oudetrap dan Rumah Akar. Oudetrap Theatre merupakan sebuah ruang untuk seni pertunjukan atau teater, sekaligus salah satu gedung cagar budaya bernuansa bangunan Belanda di kawasan Kota Lama Semarang yang difungsikan sebagai galeri kesenian dan kebudayaan. Kedua bangunan ini, gedung teater dan Rumah Akar, memang tidak memiliki kaitan langsung dengan perkembangan Gereja Gedangan, akan tetapi tempat-tempat ini adalah bagian dari saksi sejarah perkembangan dan pertumbuhan iman Katolik di Gedangan, tempat umat tinggal, dan para misionaris menjalankan karya luhur mereka.     Kembali ke Rumah Setelah lelah menyusuri gedung dan lokasi bersejarah di Kota Lama, semua peserta dan panitia berkumpul di dalam Gereja Gedangan. Ternyata, meski telah lama menjadi umat Gedangan, tidak semua umat mengenal dengan baik sejarah gerejanya. Amazing Race menjadi jalan bagi umat untuk semakin mengenal dan merasakan jejak-jejak perkembangan dan pertumbuhan iman Katolik yang berawal dari kawasan pusat Kota Lama Semarang. Bukankah untuk mengenal dan dekat, umat perlu menelusuri sendiri tempat-tempat bersejarah gereja mereka sendiri?   Pesta Umat Rangkaian Amazing Race dilanjutkan dengan lomba yel-yel antarkelompok. Semua kelompok mencoba menampilkan aneka yel-yel terbaik mereka, lengkap dengan gerakannya. Lingkungan Benedictus Banjarsari dan Marta Mlayu Darat yang lebih dominan diisi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu menampilkan yel-yel unik disertai gerakan atraktif yang begitu menghibur. Hadiah-hadiah yang dibagikan dalam doorprize berasal dari kalangan umat sendiri yang dengan penuh sukacita dan rela hati berbagi. Pengumuman juara Amazing Race menjadi penutup rangkaian keseruan pesta umat ini.     Mimpi yang Jadi Kenyataan Siang itu umat Gedangan pulang dengan penuh kegembiraan. Mimpi untuk jalan sehat sambil belajar sejarah yang sudah dinantikan sejak tahun 2025, kini sudah jadi kenyataan. Ini adalah pesta umat, pesta bersama. Tuhan sudah menyelenggarakan waktu yang tepat. Ini menjadi pegangan bagi semua, bahwa Tuhan selalu punya rancangan yang terbaik bagi umat-Nya.   Akhirnya, melalui Amazing Race, jalan sehat dan napak tilas sejarah Gedangan, semua umat semakin mantap untuk melangkah bersama, memeluk, dan mencintai gereja dan sejarahnya. Sejarah Gereja Katolik Gedangan dan sejarah Kota Lama Semarang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Dari sudut-sudut Kota Lama itulah iman Katolik di Semarang ini bertumbuh dan berkembang hingga sampai pada generasi sekarang ini.   Semoga, lewat momen bersejarah ini, Amazing Race: Napak Tilas Sejarah dan Perkembangan Iman Katolik, setiap pribadi umat Katolik di Gedangan khususnya semakin mantap menjadi penopang iman dan cinta bagi satu sama lain, sebagaimana tiang-tiang gereja yang menopang Gereja Gedangan yang gagah dan megah.     Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Read More »

Merawat Tradisi, Merayakan Kebersamaan di Borobudur

Harmoni Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola, Semarang Balkondes Ngadiraharjo, Borobudur, Magelang (16/11/2025) – Kelompok musik gamelan modern dari SMA Kolese Loyola Semarang, yang dikenal sebagai Gamelan Soepra (Gamsoep), baru saja menorehkan pengalaman berharga dengan tampil memukau sebagai bintang penutup dalam rangkaian acara “ANGKRINGAN BOROBUDUR: Nglaras Raga, Nglaras Rasa, Nglaras Wirama” yang diselenggarakan oleh LONGRUNRANGERS, sebuah komunitas lari yang didirikan pada tahun 2018. Panggung utama yang berlokasi di Balkondes Ngadiraharjo ini menjadi saksi perpaduan antara semangat olahraga, perjalanan, dan ekspresi seni budaya di kawasan yang dikelilingi pemandangan indah.   Maraton Persiapan dan Puncak Acara Persiapan telah dilakukan oleh tim Gamsoep dua bulan sebelum acara, yaitu sejak bulan September. Walaupun ada berbagai tugas dan ulangan yang menanti, kami tetap menyempatkan waktu untuk latihan rutin pada sela-sela jam istirahat dan jam ekstra Soepra. Seluruh anggota Gamsoep sangat bersemangat berlatih dan menghafalkan sepuluh lagu yang akan ditampilkan dengan harapan dapat menampilkan yang terbaik pada waktu pelaksanaan acara.   Perjalanan tim Gamsoep dimulai pada Minggu pagi, tepat pukul 06.00 WIB. Rombongan yang menggunakan bus tiba di Balkondes Ngadiraharjo sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah perjalanan panjang, kami langsung melakukan check sound untuk memastikan setiap instrumen siap. Sesi check sound berlangsung hingga pukul 12.30 WIB.   Usai santap siang dan rias wajah, suasana venue di Ngadiraharjo sudah ramai menyambut puncak acara. Pukul 18.00 WIB, acara Angkringan Borobudur resmi dibuka, menampilkan berbagai talenta pendukung, mulai dari band hingga tarian.   Puncak yang paling dinantikan, yakni penampilan Gamelan Soepra, tiba menjelang akhir rangkaian acara. Tepat pukul 20.30 WIB, Gamsoep mengambil alih panggung dan bertindak sebagai penampil sebelum penutupan. Selama satu jam penuh, Gamsoep sukses menyajikan sepuluh lagu dengan aransemen gamelan yang inovatif dan enerjik.     Pada acara Angkringan Borobudur ini, Gamsoep membawakan 10 lagu hits lintas genre yang digubah ulang, termasuk: Anoman Obong, Kala Cinta Menggoda, Selalu Ada di Nadi, Can’t Take My Eyes Off of You, Final Countdown, Rungkad, Gethuk, Jogja Istimewa, Bendera, dan Laskar Pelangi.   Perpaduan unik antara gamelan dengan lagu-lagu bersemangat ini sukses membuktikan bahwa musik tradisional mampu beradaptasi dan menjadikannya penutup yang sempurna untuk perayaan acara. Malam itu ditutup dengan momen kebersamaan yang hangat. Para pemain Gamsoep, penonton, pelari yang baru menyelesaikan acara lari, dan grup musik Alfakustik berbaur menjadi satu, menari dan bernyanyi bersama. Momen ini sukses merayakan semangat kebersamaan dan seni yang inklusif.     Eksplorasi Candi dan Pulang ke Semarang Keesokan harinya, para anggota Gamsoep melakukan perjalanan wisata budaya. Setelah check out dari Balkondes pada pukul 09.00 WIB, kami segera berangkat menuju kompleks Candi Borobudur. Ditemani oleh pemandu wisata, kami melakukan kunjungan ke museum sebelum menapaki anak tangga dan mencapai puncak candi. Di museum, kami belajar sejarah, menemukan fakta menarik terkait pelajaran hidup seperti hukum Karma, mekanisme pembangunan Candi Borobudur, dan mematahkan mitos-mitos mengenai Candi Borobudur.   Kami mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga pada sesi ini. Baru setelah itu, kami mendaki ke puncak Candi, memahami makna dan nilai yang ada secara langsung, serta ikut menjaga dan menghormati adat-istiadat yang berlaku. Kunjungan ke situs warisan dunia ini menjadi sesi cool down dan refleksi atas warisan budaya yang telah direpresentasikan di atas panggung. Tidak hanya itu, perjalanan ini juga turut memupuk dan mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangga terhadap keragaman budaya Indonesia di dalam diri kami sebagai generasi muda.   Tepat pukul 12.00 WIB, rombongan Gamsoep bertolak kembali ke Semarang. Suasana di dalam bus sepanjang perjalanan pulang dipenuhi gelak tawa dan kebersamaan yang erat. Seluruh anggota tim sepakat bahwa kunjungan kerja sekaligus wisata ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.     Gamelan Soepra di Tengah Modernisasi Penampilan Gamelan Soepra, yang memadukan gamelan dengan lagu-lagu hits lintas genre, telah membuktikan bahwa seni tradisi tidaklah kaku dan tak lekang oleh waktu. Sebagai generasi muda yang memiliki minat dalam bermusik, kami para anggota Gamelan Soepra sangat bangga dan senang dapat tampil menjadi perantara yang membawa gamelan ke ranah musik modern dan populer. Kami pun turut bersyukur atas respons positif para penonton yang turut menari dan bernyanyi bersama dalam penampilan Soepra.   Ke depan, kami berharap agar Gamelan Soepra dapat menjadi wadah yang tepat dan suportif bagi banyak orang di masa depan untuk menghargai dan mempelajari seni tradisi gamelan, serta mengembangkan talenta bermusik. Dari semua latihan dan penampilan tadi, kami berharap senantiasa dapat menciptakan semangat kolaborasi dan kebersamaan dari para pemain dan juga penonton. Semoga Gamelan Soepra semakin dapat berkolaborasi dan berjejaring dengan berbagai komunitas dan acara-acara lainnya untuk menyebarkan semangat kebersamaan, bermusik, berkolaborasi, dan berbudaya kepada khalayak umum yang lebih luas.       Kontributor: Felicia Edita Arga & Jason Alexander Cahyadi Santoso – SMA Kolese Loyola

Read More »

Pabrik Roti Tuhan

Roti sourdough adalah sejenis roti yang proses pembuatannya memanfaatkan ragi alami yang terbentuk dari campuran air dan tepung. Tidak seperti jenis roti lainnya yang relatif lebih mudah dibuat karena menggunakan ragi instan, roti sourdough ini lebih sulit karena membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Namun jika berhasil, roti ini memberikan rasa yang unik serta khasiat kesehatan yang lebih banyak dibandingkan roti-roti lainnya.   Pada Minggu, 28 Desember 2025, di Kapel Kolese Hermanum, Johar Baru, Sch. Alfa Almakios Dwi Prawira Leton mengikrarkan Kaul Pertama-nya di dalam Serikat Jesus. Ia menyusul kesembilan teman angkatan novisiatnya yang sudah mengucapkan Kaul Pertama di Kapel La Storta, Girisonta enam bulan sebelumnya. Misa Kaul Pertama Sch. Alfa dipimpin secara konselebran dengan selebran utama P Benediktus Hari Juliawan, S.J., didampingi oleh P Augustinus Setyo Wibowo, S.J., Rektor Kolese Hermanum dan P Dominico Savio Octariano Widiantoro, S.J., Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka. Para skolastik Kolese Hermanum beserta keluarga Sch. Alfa juga ikut serta dalam misa tersebut. Di dalam homilinya, Pater Provincial memberikan analogi menarik yang membandingkan proses formasi dengan pembuatan roti sourdough. “Bagaikan membuat roti sourdough yang membutuhkan kesabaran, waktu yang lama, serta ketelitian, begitu pula proses formasi yang harus dijalankan seorang Jesuit,” ucap Pater Benny, panggilan akrabnya, sembari mengingat pengalamannya belajar membuat roti sourdough.     Setelah melewati masa penundaan pengucapan kaul dengan perasaan harap-harap cemas, Sch. Alfa akhirnya diperkenankan untuk mengikrarkan janjinya untuk hidup murni, taat, dan miskin. Ia juga berjanji untuk masuk ke Serikat Jesus dan hidup seturut Konstitusi Serikat Jesus. Kaul pertama di dalam Serikat Jesus itu unik karena langsung bersifat kekal. Kaul dalam ordo atau kongregasi lain bersifat sementara, sehingga setiap anggotanya harus membuat surat lamaran pembaruan kaul kepada pimpinan setiap tahun sampai diperkenankan untuk mengucapkan kaul kekal. Seorang Jesuit tidak perlu membuat surat lamaran setiap tahun. Namun, dari pihak Serikat, Serikat belum menerima kaul pertama ini karena kaul ditujukan langsung kepada Allah. Baru setelah melewati proses formasi yang lebih panjang, setelah Serikat yakin bahwa memang Jesuit ini layak untuk menjadi bagian dari Serikat Jesus secara defintif, Serikat akan mengundang Jesuit tersebut untuk kaul akhir. Pada saat kaul akhir, Serikat Jesus menerima secara penuh anggotanya.   Di zaman modern ini, tiga kaul yang diucapkan oleh seorang Jesuit mungkin membuat orang menjadi bertanya-tanya, “Buat apa hidup miskin, murni, dan taat? Bukannya hidup itu harus bebas, kaya, dan nikmat?” “Apakah mengucapkan kaul itu masih relevan di tengah dunia yang menawarkan berbagai macam hal?” Bagi Serikat Jesus, kaul-kaul yang diucapkan oleh para anggotanya justru menjadi semakin relevan dan profetis. Para Jesuit berani mengambil sebuah sikap serta nilai yang diyakini dapat membawa diri mereka sekaligus orang lain pada sebuah kedalaman. Di kala banyak orang memperebutkan materi dan kekuasaan demi kepentingan diri, lewat kaul kemiskinan seorang Jesuit dipanggil untuk menyadari bahwa harta duniawi adalah milik Tuhan sendiri yang harus dijadikan sarana untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Kaul kemurnian tidak melarang para Jesuit untuk merasakan cinta. Sebaliknya, cinta menjadi dasar dari kaul kemurnian. Lewat cinta, timbulah hasrat untuk memberikan diri dalam pelayanan secara penuh. Ketaatan tidak menjadikan seorang Jesuit seperti sebuah robot yang tidak bisa berpikir. Justru lewat ketaatan, seorang Jesuit diajak untuk hidup secara kreatif dan setia (creative fidelity).     Seperti analogi roti sourdough di atas, kaul-kaul itu bagaikan tepung dan air. Bahan-bahannya sudah tersedia. Tinggal bagaimana bahan-bahan tersebut mau diolah supaya dapat menghasilkan ragi yang baik. Seorang Jesuit diajak untuk mengolah dirinya terus-menerus lewat kaul-kaulnya. Jika dapat diolah dengan baik, Jesuit tersebut dapat memberikan khasiat dan manfaat yang banyak bagi keselamatan jiwa-jiwa, seperti roti sourdough.   Apakah kaul menjadikan seorang Jesuit suci? Tentu tidak. Kenyataannya, pergulatan dan pergumulan terjadi di sana-sini. Namun, setidaknya kaul-kaul memberikan dasar sekaligus orientasi kehidupan yang hendak dicapai oleh Jesuit. Pada akhirnya, yang paling penting adalah memohon rahmat kepada Tuhan agar membimbing setiap Jesuit dalam menghidupi kaul. Dalam salah satu bagian rumusan kaul pertama, ada kalimat indah yang bunyinya, “Dan sebagaimana Engkau berkenan menganugerahkan untuk mengingini dan mempersembahkan ini, juga menganugerahkan rahmat selimpah-limpahnya untuk melaksanakannya.” Semoga Tuhan yang sudah memulai berkenan untuk menyelesaikannya.     Kontributor: Sch. Adrianus Raditya I., S.J.

Read More »

Program Tersiat Serikat Jesus Provinsi Indonesia 2026

Dalam Serikat Jesus, formasi tersiat adalah periode formasi ketiga dan terakhir sebelum seorang Jesuit mengucapkan kaul akhir. Setelah bertahun-tahun studi dan berkarya, para Jesuit yang menjalani formasi tersiat diajak kembali mencecap sumber-sumber utama Serikat Jesus, termasuk kehidupan Santo Ignatius, Latihan Rohani, dan sejarah Serikat Jesus. Selama periode ini, para tersiaris merenungkan panggilan mereka, hubungan mereka dengan Tuhan, dan pengalaman dalam karya pelayanan. Mereka juga sejenak undur diri, berdoa, dan merenungkan perjalanan pribadi mereka. Para tertian berbagi refleksi mereka dan menerima bimbingan rohani dari Direktur Program Tersiat. Tahun ini, program tersiat Provinsi Indonesia, yang berlangsung dari Januari hingga Juli, diikuti 8 imam dari negara lain, termasuk India, Italia,  Malaysia, dan Amerika Serikat, dan akan didampingi oleh Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J.   Berikut profil delapan Jesuit yang mengikuti Program Tersiat 2026 Provinsi Indonesia: P. Sujay Daniel D.G., S.J. Bangalore, Karnataka, India – 09 Januari 1982 Pater Sujay, S.J. ditahbiskan pada 1 Desember 2016. Ia pernah berkarya dalam pengelolaan pendidikan dan asrama pendampingan komunitas marjinal (Siddi), pelayanan pastoral kaum muda, serta formasi calon imam, sambil menempuh studi doktoral Neurosains yang memperkaya pendekatan pendampingannya dengan perspektif ilmiah.   Saya berharap dapat memberikan diri dengan tulus kepada Tuhan. Setelah itu, apapun yang terjadi, terjadilah!!!     P. Martinus Dam Febrianto, S.J. Lampung, Indonesia – 17 Februari 1981 Pater Dam, S.J. yang ditahbiskan pada 19 Agustus 2021, berkarya bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia dalam pelayanan bagi pengungsi dengan memberikan dukungan emosional dan pemenuhan kebutuhan dasar. Sejak 2022 menjabat sebagai Direktur Nasional JRS Indonesia sambil tetap terlibat langsung dalam pendampingan di berbagai wilayah.   Saya ingin sepenuhnya menyerahkan diri kepada Tuhan, secara bebas dan jujur, membiarkan diri dibentuk, ditantang, dan diperbarui. Di luar itu, saya hanya ingin menikmati momen syukur ini!     P. Parthasarathi N, S.J. Chennai, India – 22 April 1986 Ditahbiskan pada 26 Agustus 2017, Pater Sarathi, S.J. menekuni karya pastoral dan kerasulan orang muda melalui pelayanan paroki, serta pendampingan komunitas. Selain itu, ia juga terlibat dalam AICUF Tamil Nadu (Perkumpulan Universitas Katolik Seluruh India), pengembangan karya digital dan pembelajaran global Jesuit, sembari menjalani studi doktoral di bidang Manajemen dengan fokus kewirausahaan sosial.   Saya ingin semakin mendengarkan panggilan Allah, orang-orang yang tersisih, terutama kaum muda, dan diri sendiri dalam terang iman, demi keterbukaan yang lebih besar pada perutusan universal Serikat dan Gereja.     P. Luigi Territo, S.J. Genova (Italia) – 27 April 1980 Ditahbiskan pada 22 Februari 2020, Pater Luigi, S.J. berkarya dalam pendampingan rohani, formasi calon imam, dan dunia akademik di Italia Selatan. Ia melayani sebagai pembimbing rohani di sekolah menengah di Naples, formator di Seminari Tinggi Pontifikal Antar-regio Campania, serta dosen teologi di Fakultas Kepausan di Naples, Italia, dengan subjek Trinitas dan dialog dengan Islam.   Saya ingin berhenti sejenak dan kembali kepada Tuhan untuk berada bersama-Nya sebagai seorang novis.     P. Joseph Koczera, S.J. New Bedford, Massachusetts, USA – 27 Mei 1980 Dari tahun 2009 hingga 2012, sebagai TOKer, Pater Joseph, S.J. mengajar filsafat di Universitas St. Joseph, Philadelphia (AS). Setelah ditahbiskan imam, ia menyelesaikan studi doktoral teologi di Centre Sèvres di Paris, dan sejak 2023 mengajar di Pontificia Università Gregoriana, Roma. Ia juga bekerja paruh waktu di paroki-paroki di Kanada, Prancis, dan Italia, serta bertanggung jawab mereksa Gereja Paroki Sant’Antonio Abate all’Esquilino, sebuah gereja kecil di Roma.   Saya berharap cinta saya kepada Allah semakin bertumbuh dan sebagai Jesuit saya makin mampu menjawab panggilan untuk melayani-Nya secara tulus, melalui keinginan mengikuti Latihan Rohani secara penuh sebagai pembaruan pengalaman Retret Agung yang terakhir saya jalani lebih dari dua puluh tahun lalu saat masih novis.     P. Rafael Mathando Hinganaday, S.J. Jakarta, Indonesia – 13 November 1988 Pater Rafael, S.J. memulai pelayanan apostoliknya di Kolese Mikael Surakarta, kemudian melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Trisakti sambil menjadi ekonom Kolese Hermanum. Selain itu, ia bekerja sebagai anggota staf Yayasan Dana Pensiun (Yadapen), Semarang.   Saya ingin semakin bertumbuh dan menjadi seorang Jesuit yang mencintai Allah, Serikat Jesus, Gereja, dan karya di manapun saya ditugaskan.     P. Philipus Bagus Widyawan, S.J. Klaten, Indonesia – 18 November 1990 Segera setelah ditahbiskan imam, Pater Bagus, S.J. ditugaskan ke Paroki Santa Maria Bunda Allah di Botong, Keuskupan Ketapang, Kalimantan. Di sana, ia melakukan pelayanan paroki, pendampingan iman di kelompok-kelompok komunitas setempat.   Saya ingin semakin mencintai Serikat Jesus dan menjadi lebih siap diutus ke manapun sebagai seorang Jesuit untuk melayani Gereja.     P. Leslie Joseph Bingkasan, S.J. Sabah, Malaysia Pater Leslie, S.J. adalah Jesuit dari Regio Malaysia–Singapura. Beberapa kenangan terindahnya sebagai Jesuit adalah ketika ia menjalani pelayanan paroki, baik selama masa diakonat di Sabah maupun dalam karya pastoralnya saat ini. Sejak 2021, ia bertugas di Paroki St. Ignatius, Singapura, dan sejak 2023 menjadi pastor rekan. Keragaman demografis paroki yang tinggi menunjukkan kepadanya bahwa tidak ada pendekatan seragam dalam pelayanan. Hal ini memberikan ruang konkret baginya untuk menghidupi semangat lepas bebas Ignasian.   Saya berharap semakin terbantu untuk mengintegrasikan pengalaman hidup Jesuit dan pelayanan pastoral yang telah dijalani selama bertahun-tahun sehingga hidup dan panggilan saya sebagai Jesuit kembali disegarkan.     Kontributor: Tim Komunikator Jesuit Indonesia & Ha Wahyaka

Read More »

MAGIS Movement, Gerakan Bersama Orang Muda

Refleksi atas pertemuan MAGIS Think In Meeting di Roma, Italia.   Pada awal Januari 2026, Kuria Roma menjadi ruang perjumpaan dan diskresi bagi para koordinator Pelayanan Orang Muda Serikat Jesus dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan yang dikenal sebagai MAGIS Think In Meeting ini menghimpun para koordinator pendamping orang muda tingkat konferensi dari: Eropa, Afrika dan Madagaskar, Asia Pasifik, Asia Selatan, Amerika Utara, dan Amerika Latin (yang diwakili oleh masing-masing Presiden Konferensi), bersama tim dari MAGIS Digital Home–India, serta perwakilan Kuria Roma.   Mereka yang hadir bukanlah para pemimpin karya besar seperti pendidikan atau sosial, melainkan para pendamping yang sehari-hari bergumul dekat dengan realitas hidup orang muda. Yang menyatukan mereka adalah kepedulian bersama, yaitu bagaimana menemani orang muda dewasa di dunia yang dinamis, rapuh sekaligus penuh energi, tetapi juga sarat kebingungan dan pencarian makna.   Membaca Tanda Zaman Bersama Orang Muda Dalam sambutannya, Pater Jenderal Arturo Sosa mengajak peserta untuk berangkat dari realitas konkret dunia hari ini. Ia mengisahkan bagaimana sebuah artikel di harian El País berbicara tentang fenomena yang menarik: mengapa masih ada orang muda yang kembali percaya di tengah krisis. Konteksnya adalah Eropa sekuler, tempat banyak penopang hidup—rumah, pekerjaan, keluarga, kesehatan, ketenteraman, dan rasa aman—mengalami keruntuhan, sehingga melahirkan krisis makna. Dari situ, Pater Jenderal menawarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi para pendamping orang muda: Apakah kita melihat tanda-tanda meningkatnya ketertarikan pada kehidupan batin dan spiritualitas? Apakah ini terjadi di mana-mana, atau hanya fenomena pasca-sekularisasi? Apakah pencarian makna hidup berkaitan erat dengan spiritualitas?   Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi nada dasar refleksi selama pertemuan bahwa pelayanan orang muda dewasa tidak bisa dilepaskan dari konteks global yang ditandai oleh ketidakpastian, konflik, ketimpangan, serta perubahan besar dalam dunia digital dan teknologi.     MAGIS: Gerakan Universal, Bukan Sekadar Global Pertemuan ini berangkat dari keyakinan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah kairos, waktu rahmat, bagi pertumbuhan MAGIS. Seperti ditegaskan Pater Jenderal, MAGIS telah berkembang secara kreatif di berbagai belahan dunia, dari bawah ke atas, dengan aneka wajah dan pendekatan kontekstual. Dalam refleksinya, ia mengajak peserta untuk membedakan dua istilah yang tampak mirip namun sarat makna: global dan universal. Mungkin mudah menyebut MAGIS sebagai gerakan global, tetapi dalam terang kharisma Ignatian, istilah universal jauh lebih tepat. Gereja, kristianistas, dan Serikat Jesus sejak awal memahami diri sebagai universal, bukan global. Globalisasi kerap mengarah pada penyeragaman dan pemusatan kuasa; universalisme justru berangkat dari perbedaan, menghormatinya, dan melihatnya sebagai kekayaan bersama. Dengan menggunakan gambaran tubuh, Pater Jenderal menegaskan bahwa tubuh membutuhkan keragaman organ agar dapat hidup. Tubuh yang homogen tidak memiliki kehidupan. Demikian pula MAGIS: bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman yang memberi daya hidup.   Selama pertemuan, para koordinator mendengarkan laporan dari enam konferensi. Meskipun konteksnya sangat beragam, benang merahnya jelas: orang muda dewasa sedang bergulat dengan kompleksitas hidup yang semakin besar. Mobilitas geografis dan sosial sering membawa peluang, tetapi juga kesepian. Kepercayaan pada institusi melemah. Di banyak tempat, kerinduan akan perubahan mendorong keterlibatan sosial dan politik, namun sering tanpa pendampingan diskretif yang memadai. Pandemi COVID-19 meninggalkan luka mendalam, khususnya dalam kesehatan mental. Maka semakin jelas bahwa orang muda tidak hanya membutuhkan kegiatan, melainkan pendampingan, komunitas, relasi yang mendalam, dan ruang aman untuk bertumbuh.   MAGIS sebagai Cara Hidup Salah satu rumusan yang paling mengena selama pertemuan adalah definisi ini, yaitu MAGIS adalah sebuah “cara hidup” yang dihayati orang muda melalui pengalaman dan proses yang berakar pada spiritualitas Ignatian. MAGIS bukan sekadar acara atau pertemuan, melainkan proses yang dihidupi dalam komunitas, idealnya bersama orang muda sebagai rekan seperjalanan dan dalam kebersamaan. Unsur-unsur kuncinya meliputi: doa, perjumpaan dengan realitas, berbagi dalam kelompok, formasi, dan semakin mengenal hati Yesus. Di sini, diskresi panggilan hidup mendapat tempat penting—bukan sebagai rekrutmen, melainkan sebagai pendampingan orang muda untuk menemukan arah hidup mereka di hadapan Allah.   Digital: Medan Baru Perutusan Pertemuan ini juga menyoroti tantangan dan peluang besar dunia digital. Pater Jenderal mengingatkan bahwa dunia digital adalah ruang yang penuh energi dan potensi, namun tidak bebas dari bahaya. Ia mengutip pandangan Paus Leo XIV yang menyebut dunia digital sebagai peluang sekaligus tantangan utama untuk menghadirkan sukacita Injil di dunia yang terluka.   Pengalaman MAGIS Digital Home di Asia Selatan menjadi tanda harapan: ruang digital yang aman, kreatif, dan lintas budaya, dengan ribuan peserta dan tema-tema relevan seperti kesehatan mental, ekologi, karier, dan seni. Dari pengalaman ini, gerakan MAGIS kini sedang menyiapkan langkah baru: pengembangan platform digital yang lebih terintegrasi yang akan diluncurkan saat MAGIS Korea 2027.   MAGIS Korea 2027 dipandang bukan sekadar peristiwa, melainkan tonggak penting bagi MAGIS sebagai gerakan universal orang muda dewasa. Persiapan menuju ke sana mencakup seleksi dan pembinaan peziarah, formasi kepemimpinan, serta keterkaitan nyata dengan komunitas lokal agar dampaknya berkelanjutan.   Para koordinator sepakat untuk memperkuat jejaring lintas konferensi, berbagi sumber daya, dan terus berdiskresi bersama: Apa dan Bagaimana MAGIS semakin dihayati sebagai sebuah gerakan?     Berjalan Bersama dalam Harapan Dalam terang bacaan Kitab Suci dan spiritualitas Ignatian, Pater Jenderal mengingatkan kembali Prinsip dan Dasar, yaitu beriman kepada Yesus Kristus dan saling mengasihi. Dari sanalah diskresi roh menemukan pijakannya. Seperti Yesus yang memulai pelayanan-Nya di masa sulit, demikian pula kita dipanggil untuk berani melayani di batas-batas rapuh kehidupan manusia.   Pertemuan ini ditutup dengan sebuah pertanyaan doa yang sederhana namun mendalam: Di manakah aku menemukan harapan dalam semua ini? Dengan mendengarkan Roh, realitas orang muda, dan satu sama lain, MAGIS melangkah ke depan—sebagai jalan hidup, gerakan universal, dan ungkapan kasih Allah yang terus bekerja di hati orang muda zaman ini.     Kontributor: P. Alexander Koko Siswijayanto, S.J.

Read More »

Porseni Kolese Gonzaga Merajut Komunitas Lintas Angkatan

VERA AMICITIA EST INTER BONOS: Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Kolese Gonzaga 2025 telah berlangsung dengan semangat penuh sukacita dan persaudaraan. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Porseni tahun ini dihelat dengan satu misi mulia, yaitu menjadi laboratorium hidup untuk memperkuat ikatan komunitas lintas angkatan di antara siswa kelas X, XI, dan XII. Melalui berbagai aktivitas yang dirancang, semangat “Vera Amicitia Est Inter Bonos” menjadi napas yang menghidupi seluruh rangkaian acara.   Struktur Komunitas dalam “House” Jesuit Untuk mencapai tujuan itu, siswa tidak berlomba sebagai perwakilan kelas atau angkatan, tetapi terbagi dalam sepuluh kelompok besar bernama “House.” Setiap House, yang beranggotakan sekitar 90 siswa campuran dari semua tingkat, mengambil nama dari para Santo Jesuit yang menginspirasi, seperti Fransiskus Xaverius, Petrus Faber, Petrus Claver, Edmund Campion, Joseph Pignatelli, Alfonsus Rodrigues, Johannes Bergman, Fransiskus Borgias, Paulus Miki, dan Stanislaus Kostka. Struktur ini memaksa interaksi dan kolaborasi, di mana setiap poin yang diraih anggota memperkuat posisi House-nya, mendidik mereka tentang arti solidaritas yang melampaui batas teman sekelas.     Pembelajaran Holistik di Luar Ruang Kelas Selama Porseni, ruang kelas dikosongkan dan seluruh area sekolah berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Beragam aktivitas dirancang untuk menjangkau beragam minat dan bakat. Di lapangan, semangat sportivitas berkobar dalam lomba basket, voli, dan mini soccer. Di lobi, ketenangan dan strategi diuji dalam pertandingan catur. Sementara itu, keberanian menghadapi tantangan fisik ditunjukkan di area panjat dinding (wall climbing).   Kreativitas juga mendapat panggung utama. Di taman belakang sekolah, digelar lomba memasak yang unik, di mana peserta tidak hanya dinilai dari rasa hidangan, tetapi juga dari presentasi yang mengaitkan masakannya dengan negara asal Santo pelindung House mereka. Di sepanjang pagar sekolah, jiwa seni diekspresikan melalui lomba mural. Para peserta melukiskan simbol-simbol kehidupan dan pelayanan Santo mereka, seperti mural Petrus Claver yang menggambarkannya sebagai servant of the slaves lengkap dengan perahu budak dan simbol kebebasan di lautan luas. Kedua lomba ini menekankan pada proses kreatif dan reflektif, bukan sekadar hasil akhir.     “Gonzaga Got Talent” Sekolah meyakini bahwa setiap siswa adalah karya unik dengan talentanya masing-masing. Untuk memastikan tidak ada bakat yang terlewat, Porseni menyelenggarakan “Gonzaga Got Talent” melalui aplikasi rekaman online “A-Luigi.” Setiap siswa wajib merekam dan mengunggah kebolehannya, mulai dari menyanyi, memainkan berbagai alat musik (piano, violin, gitar, drum, dll), menari, membaca puisi, hingga sulap dan melukis.   Proses kurasi oleh para guru juri membuka banyak kejutan. Bakat-bakat tersembunyi terungkap, misalnya siswa yang pendiam ternyata memiliki suara emas, siswi yang anggun ternyata adalah penggebuk drum yang handal, atau tutor matematika yang serius ternyata piawai dalam seni pertunjukan. Dari semua rekaman, dipilih 10 terbaik per kategori untuk tampil secara langsung di depan seluruh komunitas. Momen ini menjadi perayaan yang sangat personal dan hangat, di mana setiap keunikan diakui dan diapresiasi.     Mempertajam Pikiran dan Semangat Tim: Cerdas Cermat dan Lomba Kelompok Tahun ini, Porseni juga menghadirkan dimensi baru, yaitu lomba cerdas cermat matematika dan pengetahuan umum antar House. Babak penyisihan dan final disaksikan wajib oleh seluruh komunitas, menciptakan atmosfer intelektual yang bersemangat. Saat soal matematika dipecahkan, tak hanya peserta, para penonton pun ikut menghitung dan bersorak kegirangan. Lomba pengetahuan umum dirancang untuk memacu rasa ingin tahu siswa tentang dunia, budaya, dan istilah-istilah umum.     Dinamika kelompok semakin terasah dalam lomba vokal grup dan band. Dengan waktu latihan yang terbatas, siswa lintas angkatan harus cepat beradaptasi dan berkolaborasi. Mereka membawakan lagu wajib serta lagu pilihan. Harmoni yang indah tercipta bukan hanya dari nada, tetapi juga dari proses bekerja sama itu sendiri. Selain itu, acara perkenalan maskot setiap House menjadi momen edukasi yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu, di mana perwakilan harus mendalami dan mempresentasikan riwayat hidup, perjuangan, serta nilai-nilai Santo pelindung mereka dengan kostum yang kreatif.   Puncak Kebersamaan di Christmas Vigil Concert Mengalir dari semangat Porseni, komunitas Gonzaga mengakhiri semester dengan Christmas Vigil Concert di gedung Ciputra Artpreneur. Konser ini adalah puncak ungkapan syukur dan ruang kontemplasi menyambut Natal. Gonzaga Big Band Orchestra (GBBO) membawakan “Carol of The Bells” dengan penuh energi, diiringi oleh Paduan Suara “Suara Gonzaga” (Surga) yang menyanyikan lagu-lagu Natal dari berbagai penjuru dunia seperti Polandia, Jerman, dan Filipina. Kehadiran Pater Emanuel Baskoro Poedjinoegroho, S.J. (Pater Superior), Bapak Corneiles Tedjo Endriyarto (Ketua Yayasan Wacana Bhakti), perwakilan alumni (Ikagona), serta orang tua siswa, menunjukkan lingkaran komunitas yang luas dan solid. Pater Eduard Calistus Ratu Dopo, S.J., M.Ed., Kepala Sekolah sekaligus pelatih, menyanyikan dua lagu sebagai bentuk terima kasih tulus kepada semua pihak.     Dari Kompetisi Menuju Komunitas Acara Porseni ditutup dengan pengumuman juara umum, yang tahun ini diraih oleh House Edmund Campion. Namun, kemenangan sejati terletak pada proses yang telah dilalui. Setiap siswa belajar menjadi pemimpin dan pelayan melalui kepanitiaan, mengalami langsung arti kerja sama lintas angkatan, dan belajar mensyukuri baik talenta sendiri maupun kelebihan orang lain.   Seperti ungkapan dari karya Cicero dalam bukunya berjudul De Amicitia, Porseni Kolese Gonzaga 2025 berhasil menjadi wadah nyata untuk menumbuhkan “persahabatan sejati.” Dalam semangat Ignasian, kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan (competence), tetapi lebih penting lagi membangun kepedulian (care) dan hati yang tulus (conscience). Semoga ikatan yang terjalin ini menguatkan komunitas Gonzaga untuk menyambut Tuhan dengan pertobatan dan mewujudkan niat baik di tahun baru. AMDG.   Kontributor: Gabriella Kristalinawati, S.Pd., M.Si.

Read More »

Yang Pernah Jatuh Akan Berdiri Lagi

Perjalanan 30 kilometer yang biasanya ditempuh dalam satu jam, berubah menjadi petualangan empat jam penuh perjuangan. Sebanyak 50 Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah utara Keuskupan Ketapang harus berjibaku melintasi jalan berlumpur licin untuk mencapai Paroki St. Maria Botong di pedalaman Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi sebuah ziarah iman yang konkret untuk menyambut Hari Orang Muda Katolik Sedunia.   Perjuangan dalam Empat Jam Perjalanan Ketika melihat jadwal keberangkatan para OMK Regio Utara Keuskupan Ketapang dari Balai Berkuak menuju Gereja St. Maria Paroki Botong, Kualan Hulu pada 22 November 2025, pandangan mata saya langsung berpindah melihat gumpalan awan menghitam di siang menjelang sore hari. Benar saja, hujan deras mengubah jalan tanah menjadi medan licin seperti dilumuri minyak.   Dengan mengendarai sepeda motor, 50 OMK beserta para pendamping: Pater Alle, Pr (Moderator OMK Regio Utara), Sr. Regina, RGS, Fr. Sandro, Pr, dan Fr. Donatus, Pr, berangkat menempuh perjalanan. Jalan yang dilalui bukanlah jalan biasa, namun medan berlumpur, licin, dan terjal sangat menguji kesabaran sekaligus keberanian mereka. Perjalanan selama kurang lebih empat jam menjadi pengalaman yang menguras tenaga, namun justru memperlihatkan semangat pantang menyerah dan solidaritas yang kuat di antara mereka.     Di sela-sela perjalanan, mereka tetap menemukan ruang untuk berbagi sukacita. Beberapa dari mereka merekam vlog sederhana, menangkap kesan spontan yang lahir dari pengalaman di lapangan. “Sangat seru guys!” ungkap Okra, OMK Paroki Balai Semandang dengan antusias.   “Jatuh guys, jalannya ekstrem sekali. Salah satu penumpangnya yang jatuh. Gimana? Histeris?” Lalu, jawab salah satu OMK Paroki St. Maria Botong yang hendak pulang dari Balai Berkuak ke Botong, yang sempat jatuh, “Ya‚ biasa saja‚ (jalanan) tidak sebagus di hilir‚ jadi, ya, jangan berekspektasi lebih.” Balas vlogger tersebut, “Mantap. Memang mental pejuang!”   Ketika harus melewati kubangan lumpur yang dalam, mereka saling mengingatkan untuk tetap waspada dan tenang. Dalam situasi-situasi sulit, kerja sama dan kepedulian satu sama lain menjadi kunci. Ada yang hampir terjatuh, ada motor yang sempat terperosok, namun selalu ada tangan yang sigap membantu. Pengalaman ini tidak hanya menjadi kisah perjalanan fisik, tetapi juga pembelajaran nyata tentang kebersamaan, kepercayaan, dan semangat melayani.   Sukacita di Tempat Tujuan Minggu, 23 November 2025, adalah hari istimewa yang memuat dua hal yang patut disyukuri sebagai komunitas Gereja Katolik, yaitu Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam sekaligus Hari Orang Muda Katolik Sedunia. Sementara di banyak tempat perayaan mungkin berlangsung meriah, Paroki Botong merayakannya dengan cara berbeda tetapi tak kalah mendalam, untuk sungguh-sungguh mengenang Yesus sebagai Raja yang berjuang, berjerih payah, dan rela berkorban.     Keselamatan fisik seluruh rombongan hingga tiba di tujuan adalah rahmat pertama yang nyata. Sukacita lain terpancar dari komunitas Paroki St. Maria Botong. Dikunjungi oleh orang-orang muda Katolik dari beragam paroki di daerah hilir menjadi rahmat konsolasi bahwa orang-orang yang berada di daerah hulu tetap menjadi satu tubuh persaudaraan di dalam Tuhan. Sayur pakis, sayur rebung bambu, sayur concong (keong sungai), sayur nangka atau gori, dan ikan sungai Kualan Hulu menjadi pelengkap khas, sederhana, namun tetap menghangatkan perjamuan dan perjumpaan para orang muda Katolik.   Belajar dari Perjuangan Empat Jam Perjalanan Cuaca malam yang sejuk selepas hujan menyelimuti perjumpaan OMK Regio Utara di Dangau St. Yusuf, Botong. Di tengah perbukitan Kalimantan Barat, para OMK saling berkenalan, berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman peziarahan mereka menyusuri jalanan pedalaman yang penuh tantangan. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, perjumpaan ini menjadi ruang pembelajaran iman untuk menyadari kehadiran Tuhan yang setia menyertai umat-Nya, bahkan di jalan-jalan yang licin, berlumpur, dan jauh dari kenyamanan.     Ronald, Ketua OMK Regio Utara, menegaskan bahwa kondisi jalanan pedalaman menuju Paroki Botong yang berlumpur dan sulit dilalui merupakan realitas harian umat setempat. Bagi mereka yang tinggal di wilayah hilir dengan akses jalan yang lebih baik, pengalaman ini menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap empati dan belajar untuk refleksi diri. “Jalanan pedalaman ini menjadi guru kehidupan kita sebagai komunitas Orang Muda Katolik,” ungkapnya. Melalui kebersamaan dan semangat saling menolong, para OMK belajar bahwa setiap tantangan dapat dilalui ketika mereka saling tolong menolong sebagai sebuah komunitas yang peduli dan berpengharapan.   Dari Katekese hingga Aksi Nyata Dengan sederhana dan mengena, Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. atau akrab disapa Pater Wawan, Pastor Kepala Paroki Botong, membagikan renungan mendalam dalam perayaan Ekaristi hari itu. Ia menguraikan makna memberi kesaksian iman dalam kehidupan melalui lima bentuk kesaksian yang dapat diwujudkan setiap orang beriman: Kesaksian Hidup (Martyria per Vitam) Kesaksian Pewartaan Injil (Kerygma) Kesaksian Kasih-Sosial (Diakonia) Kesaksian Persekutuan (Koinonia) Kesaksian Pengorbanan (Martyria per Sanguinem)     Katekese ini langsung diwujudkan dalam aksi nyata Kesaksian Pelayanan Kasih (diakonia). Usai misa, dengan semangat gotong royong, para OMK terjun ke jalanan berlumpur. Berbekal karung dan ember, mereka mengumpulkan batu-batu sungai, memikulnya, dan menimbunnya di titik-titik yang paling licin. Batu-batu itu, meski kecil, menjadi “batu penjuru” yang memperkuat landasan jalan bagi warga sekitar.     Setiap Peran Bermakna dalam Perjalanan Bersama Perjalanan melewati jalanan berlumpur liat menuju Paroki St. Maria Botong yang licin seperti berminyak karena hujan mengajarkan tentang “Je dia tau mananjung, manunggu huma (yang tidak dapat berjalan, menunggu rumah).”     Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap orang dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan perannya. Ada yang mendorong motor di jalan berlumpur, ada yang memasak untuk keluarga, ada yang mengumpulkan batu, dan ada pula yang memikulnya demi perbaikan jalan. Kontribusi setiap orang, sekecil apa pun itu, tetaplah bernilai. Peran yang berbeda-beda itu kemudian dipersatukan oleh semangat yang sama, yaitu bekerja untuk kebaikan bersama.   Refleksi ini juga mengingatkan bahwa setiap orang menjalani panggilan dan tantangan hidup masing-masing. Di tengah perbedaan tersebut, kita diajak untuk tidak menyerah. Layaknya Yesus sang Raja yang memilih jalan kerendahan hati dan pengorbanan, kita diajak untuk terus berjalan bersama, membangun harapan, dan menghadirkan dampak nyata bagi sesama dan masyarakat luas.   Kontributor: F. Nicolaus David Kristianto, S.J.

Read More »

Mencari Rumah Institusional bagi Aspirasi Politik Warga Muda Jakarta

Penelitian PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus) mengungkap sebuah paradoks dalam relasi antara warga muda dan kehidupan politik. Di satu sisi, minat politik dan partisipasi sipil bernilai sosial-kolektif mereka tinggi. Di sisi lain, ikatan institusional mereka seolah terputus dengan mekanisme formal, baik komunitas dan organisasi sosial, terlebih kelompok politik.   Paradoks inilah yang dipaparkan dalam laporan riset PRAKSIS bertajuk “Aspirasi Tanpa Institusi: Dinamika dan Alasan Ke-(tidak)-terlibatan Politik Warga Muda Jakarta” dan dipresentasikan dalam acara Youth Political Dialogue yang diselenggarakan PRAKSIS pada Sabtu, 13 Desember 2025. Dialog ini mewadahi perjumpaan data dan pengalaman praktis lintas perspektif yang melibatkan institusi politik, entitas ekonomi dan privat, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.     Upaya memahami dan memetakan ke-(tidak)-terlibatan politik warga muda melalui penelitian ini merupakan pencarian lanjutan PRAKSIS atas demokrasi yang memajukan kebaikan bersama. Warga muda yang dimaksud di sini bukan mereka yang sudah menjadi elit politik, anggota partai, atau pun aktivis, melainkan warga muda kebanyakan, anak-anak muda yang menjalani kehidupan sehari-hari di tengah tekanan ekonomi, di tengah persoalan sosial, dan perkara politik di tengah demokrasi Indonesia.   Fenomena itu dipetakan dan dipahami melalui survei representatif terhadap 400 responden usia 16-30 tahun di seluruh wilayah DKI Jakarta, dan dilanjutkan diskusi kelompok terfokus bersama 26 orang peserta. Berikutnya, temuan-temuan empiris dipahami dalam kerangka historis-struktural yang membentuk konfigurasi politik dimana warga muda tinggal.   Hasil Penelitian PRAKSIS Penelitian PRAKSIS ini dipaparkan oleh Pater Angga Indraswara, S.J. bersama dua peneliti PRAKSIS, Andi Suryadi dan Maria Rosiana Sedjahtera. Hasilnya memperlihatkan tiga pola utama. Pertama, warga muda Jakarta hampir seluruhnya aktif dalam aktivitas sosial seperti mendukung produk lokal, terlibat dalam isu lingkungan, ikut komunitas kreatif, serta mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan atau minimalis. Sejumlah isu publik juga menjadi perhatian mereka, terutama pengangguran dan lapangan kerja, korupsi dan nepotisme, kenaikan biaya hidup, dan pendidikan.     Keaktifan dalam aktivitas sosial disertai tingginya kepedulian, minat, dan diskursus politik dalam kehidupan keseharian, khususnya melalui media sosial. Di sini, media sosial menjadi sumber pengetahuan politik utama mereka, diikuti media massa, dan lembaga pendidikan.   Kendati demikian, kedua, hampir semua tidak terikat atau terafiliasi dengan institusi politik, tidak berhubungan dengan perwakilan politik, tidak aktif dalam gerakan atau forum-forum politik. Bahkan, mayoritas menjadi relawan dalam komunitas atau organisasi sosial-keagamaan juga tidak.   Lebih lanjut, sebagian besar warga muda Jakarta mengakui tidak pernah menyampaikan opini politiknya di media sosial dan konvensional. Lebih dari separuh mereka juga merasa kecewa terhadap politik, di mana sebagiannya sampai ke level muak. Dalam sentimen negatif yang kuat ini, ketiga, mereka memilih dalam pemilihan umum (Pemilu) sebagai bentuk keterlibatan politik yang paling mungkin, jelas, dan aman untuk dilakukan.   Dari hasil FGD terlihat bahwa ketiga pola tersebut didorong oleh tiga faktor utama. Pertama, sumber daya ekonomi yang terbatas membuat keterlibatan substantif dalam kehidupan politik dianggap sebagai suatu kemewahan. Kedua, akses kanal institusional-formal yang sulit memunculkan rasa tidak berdaya terhadap efektivitas partisipasi dalam urusan politik. Ketiga, tingginya risiko berpolitik membuat keterlibatan tereduksi ke dalam bentuk minimal seperti voting dan partisipasi di ruang digital, yang juga mulai sudah tidak aman.     Institusi Jumpa Generasi Temuan penelitian PRAKSIS lalu ditanggapi dari ragam sudut pandang ahli. Dimulai dari Arya Bima, Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, yang memandang temuan-temuan tersebut sangat penting untuk memahami dinamika relasi antara institusi dan generasi. Ungkap Arya, “konteks dan konten yang dialami anak muda hari ini penting untuk memprediksi keterlibatan anak muda di masa depan dalam politik.” Pemahaman atas realitas kehidupan mereka tidak dapat dipisahkan dari keakraban dengan dunia digital dan berkembangnya pengutamaan atas nilai-nilai kebebasan.   Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, melanjutkan dengan melihat hasil penelitian PRAKSIS sebagai dering panggilan kesadaran untuk menempatkan partisipasi politik warga muda dalam bagian utama strategi ekonomi berkelanjutan. “Kalau kita tidak meng-address isu partisipasi politik anak muda dan aspirasi mereka tidak tercapai, itu akan sangat negatif dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegasnya. Memperkuat kapasitas mereka untuk berpartisipasi mesti dimulai dari menciptakan lapangan pekerjaan yang luas, sehingga kebijakan-kebijakan sungguh menyasar sumber kekecewaan dan frustasi mereka.   Menyambung, Bivitri Susanti, pakar hukum tata negara, menilai hasil penelitian PRAKSIS mengonfirmasi refleksinya tentang masyarakat sipil yang disibukkan dengan reformasi institusional sampai-sampai abai terhadap peran aktor politik formal dan warga. Akibatnya, “pendidikan kewargaan kita sebenarnya masih belum bisa keluar dari apa yang selama berpuluh-puluh tahun dipupuk oleh Orde Baru,” tandas Bivitri. Karena itu, tambahnya, penting untuk “menumbuhkan nilai-nilai keadilan,” dan “membangun gerakan sosial yang saling terkoneksi.”   Melanjutkan Bivitri, anggota Dewan Penasihat Jaringan Gusdurian, Inayah Wahid memandang penelitian PRAKSIS sebagai penegasan atas fenomena dan pola yang gejalanya berkembang selama ini. Bagi Inayah, tekanan yang dialami generasi hari ini lebih besar karena batas yang membingkai kehidupan mereka juga lebih besar, terutama dengan berkembangnya dunia digital. Ungkapnya, “mereka lahir dari begitu banyak trauma, dari trauma kesehatan mental, trauma gerakan, trauma ketidakadilan.” Tidak mengherankan lalu, jika warga muda memprioritaskan keadilan melalui cara-cara mereka sendiri, misalnya, dengan humor politik. Demi memperluas keterlibatan, organisasi masyarakat, terutama agama, dapat mengambil peran yang signifikan dalam mengatasi rasa trauma dan ketakutan di kalangan warga muda.     Terakhir, Presiden Direktur Kearney, Shirley Santoso, memberi penekanan pada pentingnya penelitian PRAKSIS untuk merangkul anak muda yang akan melanjutkan estafet masa depan. Menurutnya, “gerakan anak muda itu benar-benar mendorong perubahan bagi demokrasi.” Sebagai generasi yang sangat praktikal, mereka membutuhkan basis komunitas yang memungkinkan ide dan nilai dapat tersalurkan. Hal ini menentukan kualitas demokrasi, yang pada gilirannya menjadi penjelas arah kemajuan bangsa.   Sebaliknya, sebagaimana disorot PRAKSIS, mobilisasi yang disertai tindak kekerasan adalah muara dari tata kelembagaan politik yang tidak memberikan kanal institusional bagi warga yang tak berdaya. Dalam tekanan ekonomi terus-menerus, absennya mekanisme timbal-balik antara negara dan warga tak berdaya ini membuat mereka tumpah ruah ke jalan untuk mengungkapkan aspirasi yang telah berubah menjadi frustasi.   Bersama Merawat Masa Depan Demokrasi Sebagai langkah preventif atas risiko demokrasi, PRAKSIS kemudian menawarkan dua rekomendasi yang saling menegaskan demi memperluas dan memperdalam keterlibatan politik warga muda. Selain realitas empiris, rekomendasi ini didasarkan pada prinsip penghargaan atas martabat manusia dalam upaya memajukan kebaikan bersama.     Oleh karena itu, kanal partisipasi perlu diperluas dengan mengembangkan model pemerintahan partisipatif

Read More »

HUT ke-150 Tahun pemberkatan Gedung Gereja St. Yusup, Gedangan

Dari Blenduk ke Gedangan: Pada Jumat, 12 Desember 2025, Gereja Katolik St. Yusup Gedangan merayakan sebuah puncak sejarah: 150 tahun pemberkatan gedung gereja bergaya neogotik yang megah. Perayaan yang dihadiri oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan sejumlah imam dan biarawan-biarawati, bukan sekadar pesta ulang tahun bangunan. Ini adalah perayaan syukur atas perjalanan iman yang telah mengalirkan kehidupan, pengharapan, dan pendidikan bagi banyak generasi.   Embrio Iman dan Pendidikan di Tanah Jawa Sebelum gedung kokoh berdiri, umat Katolik Gedangan telah berkumpul sejak 217 tahun lalu, merayakan Ekaristi di Gereja Blenduk yang merupakan gereja Protestan Gereformeerd. Perjalanan dimulai dari rumah sederhana yang dibeli Pater Lambertus Prinsen, Pr (kini menjadi Semarang Art Gallery), yang kemudian dilanjutkan dengan pembelian sebidang kebun pisang untuk lokasi gereja saat ini oleh Pater J. Lijnen (yang kelak menjadi Monsinyur). Pembangunan Gereja St. Yusup Gedangan yang dimulai pada 1 Oktober 1870, kemudian diresmikan pada 12 Desember 1875.     Di bawah asuhan Serikat Jesus sejak 1877, Gedangan bertransformasi menjadi “lokakarya iman dan budaya”. Tempat ini menjadi sekolah bagi misionaris Eropa untuk mendalami budaya dan bahasa Jawa sebelum melanjutkan karya. Dari ruang diskusi dan persiapan di Gedangan inilah, mimpi besar tentang pusat pendidikan dan iman di Muntilan yang dicita-citakan oleh Pater van Lith, S.J. dan Pater Hoevenaars, S.J. dimatangkan. Lebih dari itu, Gedangan menjadi titik tolak misi ke berbagai penjuru Nusantara seperti Flores, Maluku, dan Papua. Gereja Gedangan layaknya embrio yang melahirkan tidak hanya paroki, tetapi juga sistem pendidikan Katolik dan pewartaan yang kontekstual di Jawa.   Merayakan Akar, Menghidupi Masa Kini Perayaan 150 tahun ini disiapkan dengan serangkaian kegiatan selama setahun, mulai dari jelajah sejarah, rekoleksi, hingga kegiatan sosial, yang melibatkan seluruh unsur umat, mulai dari anak-anak hingga lansia. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan, mulai dari Launching Rangkaian Acara, Sayembara Desain Logo dan Merchandise HUT, Buka Puasa Pasar Tiban, Talkshow Pasar Tiban, Minggu Panggilan dan Café Gedangan, Jelajah Gereja St. Yusup Gedangan, Misa Novena, Rekoleksi Ignatian, Audisi Gedangan’s Got Talent, Donor Darah, Ziarah Gua Maria Blitar, Mini Talk Show Sejarah Gereja Gedangan, Perayaan Puncak, dan Amazing Race sebagai penutup pada 16 Januari 2026 nanti.   Dalam perayaan Ekaristi puncak, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. mengingatkan bahwa gereja ini berdiri karena kesetiaan Allah dan ketaatan, serta cinta para perintis dan umat yang bahu-membahu. Mereka adalah “rekan kerja Allah” yang menjadikan bangunan ini hidup.   Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Jesuit Indonesia, menegaskan bahwa perayaan ini adalah pesta iman leluhur. Di Gedanganlah, pada 1896, Pater Hebrans dengan haru menyaksikan pembaptisan anak-anak pribumi Jawa, layaknya sebuah momen kemenangan kasih yang inklusif. Dari Gedangan, iman kemudian menyebar ke Ambarawa, Solo, dan daerah lainnya di Jawa Tengah.   Panggilan untuk Terus Mengalirkan Kasih Kini, dengan 3.387 umat yang tersebar di 11 wilayah, Gereja Gedangan menghadapi zaman baru. Tema perayaan, “Gereja St. Yusup Gedangan Berziarah Mengarungi Zaman dalam Pengharapan”, adalah kompas untuk masa depan. Gereja Gedangan dipanggil untuk terus berbenah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi teladan konkret yang membawa sukacita Injil.   Sebagaimana St. Yusup, sang pelindung, yang kuat dalam keheningan, taat, dan bekerja untuk kebaikan banyak orang, Gereja Gedangan diingatkan untuk tetap menjadi oase pengharapan di tengah teriknya tantangan zaman. Gereja Gedangan adalah saksi bahwa dari sebuah sebidang tanah berisi kebun pisang, kasih Allah dapat bertumbuh, mengalir, dan menghidupi banyak orang.     Perayaan 150 tahun ini adalah pengingat bagi kita semua tentang kekuatan akar sejarah, ketekunan dalam pendidikan, dan panggilan bersama untuk terus menjadi saluran kasih yang relevan bagi dunia masa kini. Dari Gedangan, kita belajar bahwa warisan terbesar adalah iman yang hidup, yang berziarah, dan yang berbuah bagi sesama.   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Read More »

Sukacita Sejati di Cafe Puna

Memetik Buah Discernment: Pada hari Kamis, 27 November 2025, komunitas Serikat Jesus (SJ) Pulo Nangka kembali menyelenggarakan acara Cafe Puna. Ruang belajar bersama yang terbuka untuk umum ini berlangsung pukul 19.30–21.00 WIB dan dihadiri secara luring maupun daring oleh umat paroki, kelompok kategorial, serta peserta dari beragam latar belakang usia dan profesi.   Pertemuan edisi ini mengangkat tema “The Fruits of Discernment: True Joy in Living God’s Will”, yang diambil dari bagian ketiga buku Discerning the Will of God: An Ignatian Guide to Christian Decision Making karya P. Timothy M. Gallagher, O.M.V. Tema ini sekaligus menutup rangkaian pembahasan buku tersebut, setelah peserta diajak mendalami disposisi dan proses discernment pada dua pertemuan sebelumnya. Melalui tema penutup ini, para peserta diajak untuk melihat bahwa discernment bukan sekadar metode mengambil keputusan, melainkan sebuah cara hidup yang menuntun seseorang untuk semakin selaras dengan kehendak Allah dan mengalami sukacita sejati.     Sebagai narasumber utama, hadir dua frater dari Komunitas SJ Pulo Nangka, yaitu Frater Wishal, S.J. dan Frater Yuhan, S.J. Dalam pemaparannya, Frater Wishal mengawali dengan menjelaskan pentingnya discernment sebagai landasan dalam mengambil keputusan hidup. Melalui proses ini, seseorang diajak untuk mengenali pilihan-pilihan yang selaras dengan kehendak Tuhan, yang pada gilirannya menumbuhkan kejernihan batin, kedamaian hati, dan pertumbuhan rohani.   Merujuk pada tulisan Gallagher, Frater Wishal menjabarkan tiga tanda penting dari discernment yang sejati, yaitu: rasa damai (bukan kesenangan sesaat, melainkan kejernihan batin yang mendalam atau inner clarity), konsolasi, dan rasa terpenuhi atau ditemukan (being found). Ia mengilustrasikannya dengan pengalaman Santo Ignatius Loyola, yang justru menemukan kekosongan dalam imajinasi tentang kejayaan duniawi, sementara refleksi atas hidup para kudus membawanya pada kedamaian dan arah hidup yang baru.     Frater Yuhan Felip, S.J. kemudian melengkapi pemaparan tersebut dengan menekankan bahwa discernment merupakan bagian dari hidup sehari-hari yang tak terpisahkan. Ia menggambarkannya sebagai “rumah” di saat keraguan, batu pijakan untuk sebuah keputusan berharga, dan yang terpenting, sebagai “a way of living”. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati akan dicapai karena melalui discernment, seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan.   Pater Widy, S.J. menanggapi pertanyaan dalam sesi tanya jawab Acara Cafe Puna. (Dokumentasi: Penulis)   Sesi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab interaktif yang dipandu oleh Pater Guido Chrisna Hidayat, S.J. dan Pater Widyarsono, S.J. Beragam pertanyaan yang mengalir, baik dari peserta luring maupun daring, mencerminkan antusiasme dan ketertarikan yang luas terhadap topik ini. Partisipasi aktif dari peserta muda hingga senior menunjukkan bahwa tema discernment tetap relevan bagi berbagai lapisan usia dan pengalaman rohani.     Sebagai penutup acara, para peserta diajak untuk hening sejenak merefleksikan gerak batin yang muncul selama sesi berlangsung. Suasana kemudian berlanjut menjadi obrolan ringan dan hangat sembari menikmati hidangan kecil di ruang makan. Melalui Cafe Puna, komunitas SJ Pulo Nangka terus berupaya menghadirkan ruang yang edukatif, reflektif, dan inspiratif, sekaligus membangun jejaring yang lebih luas dengan akademisi, umat beriman, dan masyarakat umum.   Kontributor: Sch. Sirilus Hari Prasetyo, S.J. – Humas Cafe Puna

Read More »

Kolaborasi Generasi untuk Masa Depan Desain Indonesia

WOODFEST 2025: WOODFEST 2025 menandai sebuah tonggak baru. Untuk pertama kalinya, acara yang telah diselenggarakan ketiga kalinya ini digelar di luar kampus SMK PIKA Semarang, bertempat di Marina Convention Center. Perpindahan ini bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi sebuah pernyataan: WOODFEST telah matang menjadi sebuah platform publik yang siap menjangkau khalayak yang lebih luas dari kalangan industri, akademisi, dan masyarakat.   Tahun ini, partisipasi melonjak dengan kehadiran lebih dari 30 brand, mulai dari produsen furnitur ekspor, kontraktor interior, hingga sekolah dan universitas dengan fokus pada kayu, desain, dan arsitektur. WOODFEST 2025 membuktikan diri bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi sebagai ekosistem untuk bertukar ide, inovasi, dan lahirnya kolaborasi baru. Antusiasme publik pun luar biasa. Lebih dari 2.400 pengunjung memadati venue selama tiga hari, menegaskan bahwa Semarang memiliki potensi kuat menjadi pusat pertemuan industri kayu dan desain kreatif di Indonesia.     Namun, capaian terpenting WOODFEST 2025 justru terletak pada kolaborasi yang terjalin di balik panggung. Panitia pelaksana yang terdiri dari alumni PIKA (KAPIKA) bekerja berdampingan dengan para siswa/i SMK PIKA. Para siswa tidak hanya membantu, mereka juga mengalami langsung proses perancangan dan manajemen event industri nyata mulai dari komunikasi dengan ekshibitor, logistik, hingga interaksi dengan pengunjung. Inilah inti dari WOODFEST: ia adalah medium pendidikan yang hidup, tempat transfer ilmu dan pembentukan karakter profesional terjadi secara langsung.   Rangkaian seminar tematik memperkaya wawasan peserta dengan pembahasan mulai dari keberlanjutan material, inovasi desain, hingga tantangan regulasi internasional seperti EUDR (European Union Deforestation Regulation).     WOODFEST 2025 juga diwarnai oleh kehadiran istimewa Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Kehadiran Beliau mengingatkan kita pada akar spiritual PIKA—sebuah karya pendidikan yang dirintis Bruder Joseph Haeken, S.J. dan Bruder Paul Wiederkehr, S.J. Semangat Ignasian akan kedisiplinan, refleksi, dan pelayanan bagi sesama menjadi fondasi yang membuat kesuksesan ini bermakna lebih dalam. Pada akhirnya, WOODFEST 2025 adalah perwujudan nyata dari semangat Ad Maiorem Dei Gloriam, sebuah karya untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar yang membawa dampak bagi masyarakat.   Sebagai Ketua Panitia, saya menyaksikan sendiri komunitas KAPIKA yang bukan sekadar jejaring nostalgia, melainkan sebuah kekuatan hidup yang bergerak aktif. Kolaborasi dengan adik-adik siswa/i SMK PIKA adalah investasi yang tak ternilai untuk kesinambungan generasi. Keberhasilan WOODFEST 2025 membuktikan bahwa PIKA telah melahirkan manusia-manusia kreatif, tangguh, dan siap berkarya untuk Indonesia.   WOODFEST 2025 bukanlah garis akhir, melainkan awal dari sebuah babak yang lebih besar. Semoga semangat kolaborasi dan kreativitas ini terus berkobar, berlipat ganda, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan dan industri Indonesia.     Kontributor: Johanes Chaesario Octavianus – Ketua Panitia Pelaksana WOODFEST 2025

Read More »

Yayasan Kanisius yang Cerdas, Aman, dan Peduli

107 Tahun Menyalakan Api: Selasa, 21 Oktober 2025, keluarga besar Yayasan Kanisius merayakan HUT ke-107. Perayaan misi yang dirintis oleh seorang misionaris Jesuit asal Belanda, Pater Van Lith, menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama hampir satu abad lebih ini. Tema Cerdas, Aman, dan Peduli merangkum arah gerak ke depan Yayasan sampai menyambut usia yang ke-110 di tahun 2028 nanti.   Acara puncak HUT ke-107 Yayasan Kanisius dirayakan dengan Ekaristi di setiap cabang. Cabang Yogyakarta merayakan syukur ini di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bercela, Nanggulan, dipimpin oleh Pater Martinus Suharianto, Pr (Pastor Paroki Nanggulan), Pater Heru Hendarto, S.J., selaku Ketua Yayasan, dan Pater Surya Awangga, S.J. Sementara itu, Cabang Semarang merayakannya dengan Ekaristi di Paroki Karangpanas, Semarang. Perayaan dipimpin oleh Pastor Paroki Karangpanas, Pater Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr., dan Bendahara Yayasan Pater Aria Dewanto, S.J.     Kanisius Masa Kini Saat ini, Yayasan Kanisius menaungi 186 sekolah; mulai dari Daycare, KB-TK, SD, SMP, SMA, SMK, dengan 1.322 guru-karyawan, dan 17.892 siswa-siswi yang tersebar di empat cabang: Semarang, Yogyakarta, Magelang, dan Surakarta. Pada satu periode, yayasan yang lahir pada 21 Oktober 1918 ini pernah mendidik lebih dari 35.000 siswa di 350 sekolah di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Seiring perkembangannya dan berbagai tantangan pada beberapa dekade terakhir, jumlah tersebut perlahan-lahan menurun. Berhadapan dengan aneka tantangan ini, Yayasan Kanisius terus berbenah diri.   Belajar di Zaman yang Cair Dalam merayakan HUT ke-107, Yayasan terus memfasilitasi para guru dan murid untuk menambah wawasan dan keterampilan baru. Pada 10 Oktober 2025 di KB-TK Kurmosari, sejumlah guru di Yayasan Kanisius Cabang Semarang dan beberapa Yayasan Pendidikan Katolik di Semarang mengikuti acara Kanisius Belajar: Sharing Praktek PPR dan bedah buku “Men and Women for Others,” karya Pater Melkyor Pando, S.J.   Melalui sharing best practice PPR, Kepala Sekolah SMP Kanisius Argotiloso Sukorejo, Yohanes Martono, S.Pd. dan Kepala Sekolah SD Kanisius Sanjaya Sukorejo, Yohana Rosana Meiwati, S.Pd., mengungkapkan bagaimana cura personalis telah membuat sekolah menjadi rumah bagi semua. Relasi antara kepala sekolah dan guru-karyawan semakin erat, para murid pun semakin berkembang sesuai dengan bakat dan keistimewaannya, dan orang tua pun makin tersapa.   Sementara itu, dalam pemaparan mengenai bukunya, Pater Melkyor Pando menegaskan bahwa visi pendidikan Jesuit tetaplah relevan di zaman yang cair ini (penuh ketidakpastian, terus berubah, dan bahkan ditandai dengan ketidakpastian permanen). Kesetiaan untuk menanamkan 4C (competence, compassion, commitment, conscience) menjadi kunci untuk membentuk pribadi-pribadi “Men and Women for Others” di zaman ini.   Pada waktu yang hampir bersamaan, Jumat-Sabtu, 10-11 Oktober 2025 di Wisma Salam, 28 guru Yayasan Kanisius dari Cabang Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Pembelajaran Mendalam. Kegiatan ini membahas pemanfaatan AI untuk Implementasi Deep Learning melalui Contextual Project-Based Learning yang berorientasi SDG’s, bersama Pater A.P. Danang Bramasti, S.J. dan Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. (Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).   Ignatian Parenting dan Safeguarding SD Kanisius Girisonta pun turut mengadakan Ignatian Parenting pada Jumat, 17 Oktober 2025 lalu. Melalui tema “Menjadi Orangtua Bijak di Era Digital”, para orang tua diajak untuk bermitra dengan sekolah dalam membimbing anak-anak di tengah tantangan perkembangan dunia digital. Selain itu, sosialisasi dan pelatihan safeguarding kini telah selesai dilaksanakan bagi setiap guru di seluruh cabang. Sosialisasi yang telah berlanjut kepada anak-anak dan orang tua ini pun diharapkan menjadikan sekolah-sekolah Kanisius tempat yang aman untuk anak bertumbuh-kembang. Ini menjadi salah satu nilai plus sekolah Kanisius, selain mendidik generasi muda yang cerdas dan peduli terhadap sesama dan sekitarnya.   Cincin Emas Pesta Perak Sukacita HUT Kanisius kali ini terasa istimewa karena terdapat empat guru di Kanisius Semarang yang telah 25 tahun lebih mengabdi. Yayasan Kanisius Cabang Semarang memberikan cincin emas sebagai bentuk apresiasi kepada mereka yang telah membentuk generasi muda dengan teladan, ketekunan, dan kasih. Mereka adalah: Ibu Ika Purbiantari, S.Pd., Kepala SMP Kanisius Raden Patah, yang menekankan toleransi beragama sebagai fondasi pendidikan di sekolah multikultural. Ibu Tutik Supriyanti, S.E., Guru TK Kanisius Kaliwinong, yang membimbing anak-anak dengan pendekatan holistik meski dengan fasilitas sederhana. Bapak Agustinus Suwasma, S.Pd., yang aktif mengintegrasikan nilai Bhinneka Tunggal Ika melalui kegiatan budaya seperti barongsai. Bapak Felix Yanik Sargunadi, Staf Kantor Pusat Yayasan Kanisius, yang aktif di balik operasional kantor. Bu Rini Kusumawati, S.Pd. selaku Kepala Cabang Semarang dalam sambutannya menyampaikan, “Meski harga emas saat ini sedang naik drastis, Yayasan tetap berkomitmen penuh untuk memberikan cincin emas kepada para guru. Ini adalah tanda kepedulian dan cinta Yayasan terhadap setiap pribadi yang penuh loyalitas dan totalitas dalam memberikan diri.”     Menjadi Men and Women for Others Sebagaimana dalam sambutannya, Ketua Yayasan Kanisius, Pater Heru Hendarto S.J., mengundang setiap pribadi untuk menggarap kecerdasan secara menyeluruh, meliputi kecerdasan hidup, emosi, rohani, dan skill, sehingga setiap orang menjadi nyaman dengan diri sendiri dan sesama, saling menghargai dan menghormati. Semua pribadi diajak untuk peduli pada sesama, mereka yang berkekurangan, pada alam dan segalanya, sebab setiap pribadi dilahirkan dan dibentuk untuk menjadi manusia yang peduli. Be Men and Women for Others!   Semoga sukacita HUT ke-107 Yayasan Kanisius membuat setiap pribadi yang pernah belajar di Kanisius semakin bersyukur dan mencintai karya yang mulia ini. Para staf, guru-karyawan, donatur, dan pemerhati semakin menyadari bahwa karya di Yayasan ini adalah karya Allah sendiri, sehingga semakin hari semakin magis dalam pelayanan. Dari karya yang luhur ini, lahir para agen perubahan yang cerdas, mulia, peduli, serta menjadi pembawa garam dan terang dunia.   Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

Read More »

Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual

Hari Jumat hingga Minggu, 19-21 September 2025, Studio Audio Visual – USD menyelenggarakan Pelatihan Media Pembelajaran Berbasis Audio-Visual bagi 20 guru terpilih (TK-SD-SMP) dari Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Sebagian besar peserta adalah guru-guru tetap yang masih muda. Pelatihan gelombang 3 ini terselenggara berkat kerja sama antara Universitas Sanata Dharma dan Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta. Pelatihan yang waktunya relatif singkat ini dilaksanakan di Studio Audio Visual-USD, Sinduharjo dan para peserta menginap di Kampoeng Media.   Dalam kata sambutannya, Ibu Nur Sukapti, Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta, menyampaikan rasa terima kasih atas kemurahan hati Universitas Sanata Dharma yang mendukung kegiatan pelatihan gelombang 3 ini. Pembekalan ketrampilan ini sungguh berarti bagi para guru. Terbukti para alumni pelatihan gelombang 1 dan 2 sudah menghasilkan banyak media pembelajaran dan juga liputan-liputan audio visual yang bermanfaat untuk promosi Sekolah Kanisius dan juga bahan-bahan presentasi dalam seminar di luar negeri, termasuk Amerika Latin.   Selain mengucapkan “Selamat Datang” kepada para peserta, menyambung sambutan dari Ibu Nur Sukapti, Pater Yosephus Ispuroyanto Iswarahadi, S.J., Penanggungjawab Program, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membekali para guru dengan pengetahuan dan ketrampilan membuat media pembelajaran berbasis audio visual. Pada zaman ini para guru ditantang untuk bisa mengampu proses pembelajaran dengan menarik dan berkualitas. Hal ini sesuai dengan karakter generasi sekarang yang lebih mengutamakan perasaan daripada pemikiran. Feeling is first. Diharapkan bahwa dengan didampingi oleh para tutor yang berpengalaman para guru dapat mengikuti pelatihan ini dengan gembira dan menghasilkan media pembelajaran yang kreatif. Penanggungjawab materi pelatihan ini adalah Pater F.X. Murti Hadi Wijayanto, S.J. dan ia dibantu para pendamping antara lain Mas Niko, Mas Haryo, Mas Daniel, Mas Mantep, dan Mbak Kristy (Koordinator Pelatihan). Para peserta bersama-sama mempelajari dan mengolah materi: pembelajaran a la Montessori, prinsip-prinsip sinematografi, penulisan naskah, proses produksi, proses editing, dan evaluasi program. Pada materi pertama Pater Murti menegaskan bahwa pelatihan kali ini lebih menantang daripada pelatihan sebelumnya karena para peserta sudah mempunyai dasar keterampilan audio visual dan fokus pelatihan diarahkan pada kontennya. Konten yang diangkat kali ini adalah Model Pembelajaran Montessori. Oleh karena itu, 6 mahasiswi PGSD-USD (Sesilia, dkk) ikut menjelaskan bagaimana alat-alat pembelajaran a la Montessori dipergunakan.   Setelah mempelajari prinsip-prinsip sinematografi, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk menyusun naskah video instruksional tentang model pembelajaran Montessori. Pada hari Jumat pukul 09.30 naskah video yang sudah disusun dipresentasikan kepada Tutor Pendamping untuk dikoreksi. Setelah naskah diperbaiki, setiap kelompok melaksanakan produksi (syuting) di tiga lokasi yang berbeda (Studio Biru, Ruang Mawar, dan Wisma Teratai). Masing-masing anggota kelompok mendapatkan peran, misalnya menjadi penulis naskah, sutradara, penata kamera, pemain, dan editor. Waktu untuk produksi adalah Jumat 20 September 2025 pukul 10.00 – 18.00. Selama proses produksi setiap kelompok ditemani oleh seorang pendamping.     Pada petang harinya, setiap kelompok mulai mengerjakan editing. Tugas editing ini membutuhkan stamina yang prima karena harus memilih shot-shot yang begitu banyak dan disesuaikan kerangka film sebagaimana telah ditulis di dalam naskah. Dibutuhkan ketelitian untuk menyambung shot yang satu dengan shot berikutnya. Kemudian editor harus pandai-pandai menyelaraskan warna dan ritme sajian sesuai musik ilustrasi yang dipilih. Mengingat program video yang diproduksi adalah program instruksional yang materinya amat kaya, proses editing membutuhkan waktu lama. Setelah berjuang melawan rasa kantuk dan lelah, para peserta dapat menyelesaikan film mereka. Ada yang selesai pada pukul 01.00 WIB, ada yang selesai pada pukul 02.30 WIB dan bahkan pukul 03.30 WIB dini hari.   Pada hari ketiga, ketika hutang tidur belum tersembuhkan, para peserta mengadakan acara apresiasi dan evaluasi atas video yang telah diproduksi. Penayangan video dilaksanakan di Studio Biru dengan menggunakan layar lebar. Kelompok 1 menayangkan video dengan judul “Feli dan Manik-manik Emas”. Kelompok 2 menyanjikan video “Grammar Sense Game”, sedangkan video yang dihasilkan oleh Kelompok 3 berjudul “Serunya Mengenal Pecahan a la Montessori.” Setiap penayangan ditanggapi oleh peserta dari kelompok lain, kemudian kelompok pembuat menceritakan pengalaman berproduksi dan menanggapi komentar anggota kelompok lain. Pada bagian terakhir komentar disampaikan oleh para pendamping dan tutor. Proses evaluasi dan refleksi ini menjadi bagian penting dari proses learning by doing. Para peserta merasa sangat diperkaya dengan latihan selama 3 hari ini. Mereka merasa dibekali untuk melayani peserta didik dengan lebih baik. Para peserta mengakui bahwa proses pelatihan ini sangat menarik dan menambah pengalaman.   Sebelum acara penutupan, para peserta mengikuti Misa Syukur yang dipersembahkan oleh Pater Iswarahadi di Studio Biru. Dalam kata sambutan penutupan, Bapak Alex yang mewakili Direktur Yayasan Kanisius Cabang Yogyakarta sangat berterima kasih kepada Universitas Sanata Dharma dan Studio Audio Visual atas kesempatan pelatihan yang telah diberikan secara murah hati dan didampingi oleh para tutor/pendamping yang luar biasa. Bapak Alex juga memotivasi para peserta agar menggunakan keterampilan yang diperoleh untuk mendidik siswa-siswi generasi muda dengan lebih kreatif. Pelatihan semacam ini sangat penting, karena membekali para guru dengan ilmu perfilman yang berstandar internasional. Selain memberi apresiasi atas kreativitas, kerja keras, dan kerja tim yang telah dibuktikan oleh para peserta, Pater Iswarahadi menyerahkan sertifikat kepada semua peserta. Para guru dapat kembali ke sekolah masing-masing dengan kepala tegak dan semakin bersemangat untuk mengabdi negeri.     Kontributor: P. Yoseph Ispuroyanto, S.J.

Read More »

Semangat Hijau dan Upaya Merawat Bumi

Sampah plastik sering dianggap masalah, namun di tangan siswa-siswi SMK Katolik St. Mikael Surakarta, sampah bisa berubah menjadi peluang. Dengan semangat belajar dan kreativitas, para siswa menjadikan daur ulang sebagai bagian dari pelajaran sehari-hari. Inilah wujud nyata kepedulian mereka dalam merawat bumi untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.   Merangkai ilmu menjadi harapan bagi bumi Pada 11-14 Agustus 2025, para siswa kelas X SMK Mikael melaksanakan pembelajaran bertemakan Circular Economy. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui konsep ekonomi sirkular, yakni upaya memperpanjang masa pakai produk melalui prinsip daur ulang (recycle). Serangkaian kegiatan dimulai dari pemaparan konsep dasar Circular Economy oleh tim Recycle dari PT ATMI IGI. Pemaparan materi tersebut meliputi definisi, proses, dampak, dan rencana tindak lanjut kegiatan daur ulang. Antusiasme siswa terlihat jelas dalam sesi tanya jawab yang interaktif. Tim Recycle PT ATMI IGI pun juga turut memberi souvenir berupa gantungan kunci dari tutup botol yang didaur ulang membentuk logo SMK Mikael. Setelah sesi materi, Ibu Yanti selaku guru pengampu mata pelajaran IPAS memberikan tugas lanjutan kepada para siswa, yaitu mengumpulkan tutup botol sebanyak mungkin dalam kurun waktu dua minggu sebagai bentuk praktik nyata dari konsep yang telah dipelajari.   Tiba saatnya para siswa melaksanakan kegiatan daur ulang. Mereka sudah membawa tutup botol dari rumah kemudian dilakukan pembersihan dengan pencucian dan pemilahan berdasarkan warna hingga akhirnya dicacah menggunakan mesin crusher. Tak disangka, ternyata terdapat beberapa siswa yang membawa tutup botol berjumlah ribuan. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak sampah plastik yang belum terkelola dengan baik. Beberapa siswa mengatakan bahwa mereka mendapatkan tutup botol tersebut dari lingkungan masyarakat yang memiliki bank sampah. Dari 7 kelas yang mengumpulkan tutup botol, total terkumpul sejumlah 16 kg tutup botol.   SMK Katolik St. Mikael Surakarta menggaet PT ATMI IGI untuk berpartisipasi dalam memberikan edukasi Circular Economy dan fasilitas daur ulang plastik. Fasilitas tersebut mencakup dua mesin yaitu Manual Injection dan Small Press beserta 1 mold/cetakan untuk masing masing mesin. Didampingi oleh guru beserta tim recycle PT ATMI IGI, siswa/i berkesempatan untuk mempraktikkan proses daur ulang secara langsung. Mereka membuat gantungan kunci berbentuk logo SMK Mikael dengan menggunakan mesin press. Proses pencetakan tersebut memakan waktu 1 jam, hal ini dikarenakan cacahan tutup botol perlu untuk dilelehkan kemudian menunggu proses pendinginan. Sementara gantungan kunci di cetak, masing masing siswa secara bergiliran membuat manik-manik menggunakan mesin Manual Injection. Berbeda dengan mesin press yang membutuhkan waktu 1 jam untuk 1 produk, mesin Manual Injection hanya membutuhkan waktu dua menit untuk mencetak 1 set manik-manik. Hasil yang mereka cetak mempunyai corak warna yang sangat indah yang dipengaruhi oleh material tutup botol yang dilelehkan. Perpaduan dua warna berbeda menghasilkan gradasi warna yang memanjakan mata. Pada akhirnya manik-manik yang mereka cetak dapat dirangkai sehingga menjadi rosario, tasbih, gelang, maupun kalung.     Spiritualitas Ignatian dalam upaya merawat Bumi Kegiatan daur ulang plastik ini linear dengan nilai 4C yang ditanamkan kepada para siswa SMK Kolese Mikael. Competence, dengan kemampuan kompetensi di bidang teknik pemesinan siswa mampu membuat mold/cetakan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Compassion, membangun kesadaran dan kepedulian pentingnya menjaga Bumi dari pencemaran sampah. Conscience, mampu membedakan perilaku yang baik maupun buruk dan dampaknya bagi lingkungan sekitar. Commitment, janji untuk merawat alam demi keberlangsungan makhluk hidup. Hal tersebut pun selaras dengan Universal Apostolic Preferences (UAP) keempat tentang Merawat Rumah Kita Bersama dan mendukung program Sustainable Development Goals (SDG’S) nomor 4 tentang pendidikan berkualitas dan nomor 13 tentang Aksi Perubahan Iklim. Besar harapan agar kegiatan daur ulang ini dapat berkelanjutan dan bisa memberikan nilai lebih bagi SMK Mikael sebagai sekolah peduli lingkungan. Melalui kegiatan ini, para siswa SMK Katolik St. Mikael Surakarta tidak hanya belajar tentang konsep Circular Economy tetapi juga membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil di lingkungan sekolah. Dengan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai, mereka menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.     Kontributor: Fransiskus Marcelino Utama – Siswa SMK Katolik St. Mikael Surakarta

Read More »