Perjalanan 30 kilometer yang biasanya ditempuh dalam satu jam, berubah menjadi petualangan empat jam penuh perjuangan. Sebanyak 50 Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah utara Keuskupan Ketapang harus berjibaku melintasi jalan berlumpur licin untuk mencapai Paroki St. Maria Botong di pedalaman Kalimantan Barat. Ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi sebuah ziarah iman yang konkret untuk menyambut Hari Orang Muda Katolik Sedunia.
Perjuangan dalam Empat Jam Perjalanan
Ketika melihat jadwal keberangkatan para OMK Regio Utara Keuskupan Ketapang dari Balai Berkuak menuju Gereja St. Maria Paroki Botong, Kualan Hulu pada 22 November 2025, pandangan mata saya langsung berpindah melihat gumpalan awan menghitam di siang menjelang sore hari. Benar saja, hujan deras mengubah jalan tanah menjadi medan licin seperti dilumuri minyak.
Dengan mengendarai sepeda motor, 50 OMK beserta para pendamping: Pater Alle, Pr (Moderator OMK Regio Utara), Sr. Regina, RGS, Fr. Sandro, Pr, dan Fr. Donatus, Pr, berangkat menempuh perjalanan. Jalan yang dilalui bukanlah jalan biasa, namun medan berlumpur, licin, dan terjal sangat menguji kesabaran sekaligus keberanian mereka. Perjalanan selama kurang lebih empat jam menjadi pengalaman yang menguras tenaga, namun justru memperlihatkan semangat pantang menyerah dan solidaritas yang kuat di antara mereka.

Di sela-sela perjalanan, mereka tetap menemukan ruang untuk berbagi sukacita. Beberapa dari mereka merekam vlog sederhana, menangkap kesan spontan yang lahir dari pengalaman di lapangan. “Sangat seru guys!” ungkap Okra, OMK Paroki Balai Semandang dengan antusias.
“Jatuh guys, jalannya ekstrem sekali. Salah satu penumpangnya yang jatuh. Gimana? Histeris?” Lalu, jawab salah satu OMK Paroki St. Maria Botong yang hendak pulang dari Balai Berkuak ke Botong, yang sempat jatuh, “Ya‚ biasa saja‚ (jalanan) tidak sebagus di hilir‚ jadi, ya, jangan berekspektasi lebih.” Balas vlogger tersebut, “Mantap. Memang mental pejuang!”
Ketika harus melewati kubangan lumpur yang dalam, mereka saling mengingatkan untuk tetap waspada dan tenang. Dalam situasi-situasi sulit, kerja sama dan kepedulian satu sama lain menjadi kunci. Ada yang hampir terjatuh, ada motor yang sempat terperosok, namun selalu ada tangan yang sigap membantu. Pengalaman ini tidak hanya menjadi kisah perjalanan fisik, tetapi juga pembelajaran nyata tentang kebersamaan, kepercayaan, dan semangat melayani.
Sukacita di Tempat Tujuan
Minggu, 23 November 2025, adalah hari istimewa yang memuat dua hal yang patut disyukuri sebagai komunitas Gereja Katolik, yaitu Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam sekaligus Hari Orang Muda Katolik Sedunia. Sementara di banyak tempat perayaan mungkin berlangsung meriah, Paroki Botong merayakannya dengan cara berbeda tetapi tak kalah mendalam, untuk sungguh-sungguh mengenang Yesus sebagai Raja yang berjuang, berjerih payah, dan rela berkorban.

Keselamatan fisik seluruh rombongan hingga tiba di tujuan adalah rahmat pertama yang nyata. Sukacita lain terpancar dari komunitas Paroki St. Maria Botong. Dikunjungi oleh orang-orang muda Katolik dari beragam paroki di daerah hilir menjadi rahmat konsolasi bahwa orang-orang yang berada di daerah hulu tetap menjadi satu tubuh persaudaraan di dalam Tuhan. Sayur pakis, sayur rebung bambu, sayur concong (keong sungai), sayur nangka atau gori, dan ikan sungai Kualan Hulu menjadi pelengkap khas, sederhana, namun tetap menghangatkan perjamuan dan perjumpaan para orang muda Katolik.
Belajar dari Perjuangan Empat Jam Perjalanan
Cuaca malam yang sejuk selepas hujan menyelimuti perjumpaan OMK Regio Utara di Dangau St. Yusuf, Botong. Di tengah perbukitan Kalimantan Barat, para OMK saling berkenalan, berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman peziarahan mereka menyusuri jalanan pedalaman yang penuh tantangan. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, perjumpaan ini menjadi ruang pembelajaran iman untuk menyadari kehadiran Tuhan yang setia menyertai umat-Nya, bahkan di jalan-jalan yang licin, berlumpur, dan jauh dari kenyamanan.

Ronald, Ketua OMK Regio Utara, menegaskan bahwa kondisi jalanan pedalaman menuju Paroki Botong yang berlumpur dan sulit dilalui merupakan realitas harian umat setempat. Bagi mereka yang tinggal di wilayah hilir dengan akses jalan yang lebih baik, pengalaman ini menjadi sarana untuk menumbuhkan sikap empati dan belajar untuk refleksi diri. “Jalanan pedalaman ini menjadi guru kehidupan kita sebagai komunitas Orang Muda Katolik,” ungkapnya. Melalui kebersamaan dan semangat saling menolong, para OMK belajar bahwa setiap tantangan dapat dilalui ketika mereka saling tolong menolong sebagai sebuah komunitas yang peduli dan berpengharapan.
Dari Katekese hingga Aksi Nyata
Dengan sederhana dan mengena, Pater Philipus Bagus Widyawan, S.J. atau akrab disapa Pater Wawan, Pastor Kepala Paroki Botong, membagikan renungan mendalam dalam perayaan Ekaristi hari itu. Ia menguraikan makna memberi kesaksian iman dalam kehidupan melalui lima bentuk kesaksian yang dapat diwujudkan setiap orang beriman:
- Kesaksian Hidup (Martyria per Vitam)
- Kesaksian Pewartaan Injil (Kerygma)
- Kesaksian Kasih-Sosial (Diakonia)
- Kesaksian Persekutuan (Koinonia)
- Kesaksian Pengorbanan (Martyria per Sanguinem)

Katekese ini langsung diwujudkan dalam aksi nyata Kesaksian Pelayanan Kasih (diakonia). Usai misa, dengan semangat gotong royong, para OMK terjun ke jalanan berlumpur. Berbekal karung dan ember, mereka mengumpulkan batu-batu sungai, memikulnya, dan menimbunnya di titik-titik yang paling licin. Batu-batu itu, meski kecil, menjadi “batu penjuru” yang memperkuat landasan jalan bagi warga sekitar.

Setiap Peran Bermakna dalam Perjalanan Bersama
Perjalanan melewati jalanan berlumpur liat menuju Paroki St. Maria Botong yang licin seperti berminyak karena hujan mengajarkan tentang “Je dia tau mananjung, manunggu huma (yang tidak dapat berjalan, menunggu rumah).”

Pengalaman ini menegaskan bahwa setiap orang dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan perannya. Ada yang mendorong motor di jalan berlumpur, ada yang memasak untuk keluarga, ada yang mengumpulkan batu, dan ada pula yang memikulnya demi perbaikan jalan. Kontribusi setiap orang, sekecil apa pun itu, tetaplah bernilai. Peran yang berbeda-beda itu kemudian dipersatukan oleh semangat yang sama, yaitu bekerja untuk kebaikan bersama.
Refleksi ini juga mengingatkan bahwa setiap orang menjalani panggilan dan tantangan hidup masing-masing. Di tengah perbedaan tersebut, kita diajak untuk tidak menyerah. Layaknya Yesus sang Raja yang memilih jalan kerendahan hati dan pengorbanan, kita diajak untuk terus berjalan bersama, membangun harapan, dan menghadirkan dampak nyata bagi sesama dan masyarakat luas.
Kontributor: F. Nicolaus David Kristianto, S.J.

