Pilgrims on Christ’s Mission

Pabrik Roti Tuhan

Date

Roti sourdough adalah sejenis roti yang proses pembuatannya memanfaatkan ragi alami yang terbentuk dari campuran air dan tepung. Tidak seperti jenis roti lainnya yang relatif lebih mudah dibuat karena menggunakan ragi instan, roti sourdough ini lebih sulit karena membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Namun jika berhasil, roti ini memberikan rasa yang unik serta khasiat kesehatan yang lebih banyak dibandingkan roti-roti lainnya.

 

Pada Minggu, 28 Desember 2025, di Kapel Kolese Hermanum, Johar Baru, Sch. Alfa Almakios Dwi Prawira Leton mengikrarkan Kaul Pertama-nya di dalam Serikat Jesus. Ia menyusul kesembilan teman angkatan novisiatnya yang sudah mengucapkan Kaul Pertama di Kapel La Storta, Girisonta enam bulan sebelumnya. Misa Kaul Pertama Sch. Alfa dipimpin secara konselebran dengan selebran utama P Benediktus Hari Juliawan, S.J., didampingi oleh P Augustinus Setyo Wibowo, S.J., Rektor Kolese Hermanum dan P Dominico Savio Octariano Widiantoro, S.J., Magister Novisiat St. Stanislaus Kostka. Para skolastik Kolese Hermanum beserta keluarga Sch. Alfa juga ikut serta dalam misa tersebut. Di dalam homilinya, Pater Provincial memberikan analogi menarik yang membandingkan proses formasi dengan pembuatan roti sourdough. “Bagaikan membuat roti sourdough yang membutuhkan kesabaran, waktu yang lama, serta ketelitian, begitu pula proses formasi yang harus dijalankan seorang Jesuit,” ucap Pater Benny, panggilan akrabnya, sembari mengingat pengalamannya belajar membuat roti sourdough.

 

Foto bersama Sch. Alfa Almakios Dwi Prawira Leton, keluarga, Pater Setyo Wibowo, S.J., Pater Provincial, dan Pater Dominico Savio Octariano Widiantoro, S.J.(Dokumentasi: Penulis)

 

Setelah melewati masa penundaan pengucapan kaul dengan perasaan harap-harap cemas, Sch. Alfa akhirnya diperkenankan untuk mengikrarkan janjinya untuk hidup murni, taat, dan miskin. Ia juga berjanji untuk masuk ke Serikat Jesus dan hidup seturut Konstitusi Serikat Jesus. Kaul pertama di dalam Serikat Jesus itu unik karena langsung bersifat kekal. Kaul dalam ordo atau kongregasi lain bersifat sementara, sehingga setiap anggotanya harus membuat surat lamaran pembaruan kaul kepada pimpinan setiap tahun sampai diperkenankan untuk mengucapkan kaul kekal. Seorang Jesuit tidak perlu membuat surat lamaran setiap tahun. Namun, dari pihak Serikat, Serikat belum menerima kaul pertama ini karena kaul ditujukan langsung kepada Allah. Baru setelah melewati proses formasi yang lebih panjang, setelah Serikat yakin bahwa memang Jesuit ini layak untuk menjadi bagian dari Serikat Jesus secara defintif, Serikat akan mengundang Jesuit tersebut untuk kaul akhir. Pada saat kaul akhir, Serikat Jesus menerima secara penuh anggotanya.

 

Di zaman modern ini, tiga kaul yang diucapkan oleh seorang Jesuit mungkin membuat orang menjadi bertanya-tanya, “Buat apa hidup miskin, murni, dan taat? Bukannya hidup itu harus bebas, kaya, dan nikmat?” “Apakah mengucapkan kaul itu masih relevan di tengah dunia yang menawarkan berbagai macam hal?” Bagi Serikat Jesus, kaul-kaul yang diucapkan oleh para anggotanya justru menjadi semakin relevan dan profetis. Para Jesuit berani mengambil sebuah sikap serta nilai yang diyakini dapat membawa diri mereka sekaligus orang lain pada sebuah kedalaman. Di kala banyak orang memperebutkan materi dan kekuasaan demi kepentingan diri, lewat kaul kemiskinan seorang Jesuit dipanggil untuk menyadari bahwa harta duniawi adalah milik Tuhan sendiri yang harus dijadikan sarana untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Kaul kemurnian tidak melarang para Jesuit untuk merasakan cinta. Sebaliknya, cinta menjadi dasar dari kaul kemurnian. Lewat cinta, timbulah hasrat untuk memberikan diri dalam pelayanan secara penuh. Ketaatan tidak menjadikan seorang Jesuit seperti sebuah robot yang tidak bisa berpikir. Justru lewat ketaatan, seorang Jesuit diajak untuk hidup secara kreatif dan setia (creative fidelity).

 

Sch. Alfa Almakios Dwi Prawira Leton, S.J. bersama para frater Skolastik dari Kolese Hermanum, Jakarta. (Dokumentasi: Penulis)

 

Seperti analogi roti sourdough di atas, kaul-kaul itu bagaikan tepung dan air. Bahan-bahannya sudah tersedia. Tinggal bagaimana bahan-bahan tersebut mau diolah supaya dapat menghasilkan ragi yang baik. Seorang Jesuit diajak untuk mengolah dirinya terus-menerus lewat kaul-kaulnya. Jika dapat diolah dengan baik, Jesuit tersebut dapat memberikan khasiat dan manfaat yang banyak bagi keselamatan jiwa-jiwa, seperti roti sourdough.

 

Apakah kaul menjadikan seorang Jesuit suci? Tentu tidak. Kenyataannya, pergulatan dan pergumulan terjadi di sana-sini. Namun, setidaknya kaul-kaul memberikan dasar sekaligus orientasi kehidupan yang hendak dicapai oleh Jesuit. Pada akhirnya, yang paling penting adalah memohon rahmat kepada Tuhan agar membimbing setiap Jesuit dalam menghidupi kaul. Dalam salah satu bagian rumusan kaul pertama, ada kalimat indah yang bunyinya, “Dan sebagaimana Engkau berkenan menganugerahkan untuk mengingini dan mempersembahkan ini, juga menganugerahkan rahmat selimpah-limpahnya untuk melaksanakannya.” Semoga Tuhan yang sudah memulai berkenan untuk menyelesaikannya.

 

 

Kontributor: Sch. Adrianus Raditya I., S.J.

More
articles