Pilgrims on Christ’s Mission

Menemukan Damai di Tengah Ketidakpastian

Date

Refleksi Pertemuan Magis Asia Pacific 2025

Mendapat kesempatan untuk mewakili Magis Indonesia di pertemuan Magis Asia Pacific 2025 adalah suatu berkat besar yang Tuhan berikan untukku. Sebelum kabar ini aku terima, aku sedang berada di momen desolasi namun Tuhan hadir melalui perantara Pater Koko untuk memberi tahu bahwa aku salah satu yang akan mewakili Magis Indonesia. Pada saat itu aku merasa Tuhan memberiku hadiah besar atas kesabaran dan keihklasanku menerima kejadian yang aku alami akhir-khir ini. Menyambut kabar itu dengan gembira aku mempersiapkannya dari awal dengan tim Magis Indonesia. Kami kooperatif dalam membantu sama lain selama masa persiapan dan semua dipermudah dengan urusan kami masing-masing baik itu urusan pekerjaan di kantor, pengurusan visa, dan berbagai koordinasi lain. Ketika semuanya sudah siap aku mulai memberitahukan kepada orang tua dan beberapa teman terdekatku untuk memohon doa mereka selama aku 10 hari di Taiwan. Mereka semua juga menyambut kabar ini dengan sukacita dan ikut mendoakan perjalananku.

 

Hari pun tiba saat kami sampai di Taiwan disambut dengan cuaca dingin, mendung, dan sedikit hujan. Kami dijemput oleh panitia di Bandara dan diajak menggunakan MRT hingga sampai di venue pertama yaitu Sekolah St. Ignatius Loyola. Aku sekamar dengan perwakilan Magis Jepang dan Magis Singapore. Kegiatan pun dimulai dengan berkumpul di aula sekolah dan bertemu dengan beberapa perwakilan dari negara lain. Kami bisa saling mengenal menambah relasi pertemanan baru dan bertukar informasi dengan budaya negara kami masing-masing. Total kurang lebih ada 11 negara. Kegiatan berikutnya diisi dengan materi yang diberikan oleh perwakilan imam, refleksi pribadi, sharing dalam kelompok, misa harian dan sampailah pada kegiatan inti yaitu Magis Experiment.

 

Pengalaman melayani kaum marginal. (Dokumentasi: Penulis)

 

Dalam Magis Experiment ini aku memilih melayani kaum marginal pada urutan pertamaku dan aku ditempatkan sesuai dengan kelompok yang aku pilih. Kelompokku didampingi koordinator, seorang imam, dan beberapa teman dari Magis Singapura, Korea, dan Filipina. Sebelum kami melakukan kegiatan Magis Experiment, kami diminta untuk menulis beberapa ketakutan dan aku menulis ketakutanku adalah kendala bahasa jika berkomunikasi langsung dengan para tuna wisma dan akan tempat tinggal selama kegiatan. Pada hari pertama, kami diajak untuk mengunjungi salah satu NGO dan kami dibantu oleh salah satu pendamping kami dalam menerjemahkan bahasa Mandarin ke bahasa Inggris. Ternyata ketakutanku mulai memudar karena kami bisa memahami selama kami berkomunikasi dan pesannya dapat kami terima dengan baik. Kami diajak berkeliling ke beberapa tempat dengan mengunjungi salah satu kuil bersejarah sambil menikmati jalanan dan kota Taiwan. Hal ini terasa istimewa karena ini adalah kunjungan pertamaku ke Taiwan. Malamnya kami menyiapkan makanan untuk diberikan kepada para tuna wisma di pinggir stasiun.

Kebersamaan para peserta dalam kegiatan Magis Asia Pasific 2026. (Dokumentasi: Penulis)

 

Malam itu kami keluar naik MRT kemudian berjalan kaki untuk menemui beberapa tuna wisma. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan ditemani imam pendamping. Selama aku memberikan makanan dan sedikit berkomunikasi dengan mereka, aku merasa Tuhan hadir dengan mengingatkanku akan kenyamanan rumah yang aku miliki. Punya kamar, ruangan hangat, punya tempat tidur tidak kedinginan dan tidak kehujanan tetapi mereka tidur hanya beralaskan kardus dan payung sebagai pelindung hujan. Aku merasa tersentuh ketika mereka merasa sukacita akan kehadiran kami membawa sedikit makanan. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas tempat tinggal yang aku miliki dan keluarga masih utuh setia mendampingiku.

 

Pada hari berikutnya, kami diajak ke sebuah pelabuhan untuk bertemu dengan beberapa nelayan dan pekerja home care di Taiwan. Semua yang kami temui adalah pekerja Indonesia dan aku senang bisa bertegur sapa dengan mereka. Sebagai seorang nelayan yang tidurnya hanya di kapal, jauh dari keluarga di Indonesia dan pulang setelah beberapa bulan mengingatkanku akan pekerjaan dan kenyamanan yang aku miliki saat ini. Kadang aku mengeluhkan pekerjaan dan ternyata itu tidak sebanding dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku sempat mengobrol juga dengan salah satu pekerja migran perempuan Indonesia yang bekerja mengurus lansia. Ia harus meninggalkan anaknya yang masih kecil berusia 2 tahun di Indonesia untuk bekerja di Taiwan mencari nafkah. Namun dia punya cita-cita untuk menyekolahkan anaknya di Taiwan agar bisa menjadi guru mandarin di Indonesia. Hal itu menyentuhku akan cinta seorang Ibu untuk anaknya. Setelah selesai berbincang-bincang, kami semua makan malam bersama dengan tema makanan Indonesia dan teman-temanku dari negara lain menyukai makanan tempe. Para pekerja migranlah yang menyiapkan dan memasak makan malam untuk kami semua. Kekeluargaan sangat terasa dalam momen ini.

 

Para peserta berfoto bersama dalam pertemuan Magis Asia Pacific 2025 di Taiwan. (Dokumentasi: Penulis)

 

Tak terasa dua malam Magis Experiment yang kami jalani bisa kami lalui. Ternyata semua ketakutanku yang aku sempat tulis di awal tidak terjadi. Tuhan menyertaiku menyelesaikan tugas ini dengan banyak berkat, seperti kekeluargaan dalam kelompok, relasiku dengan orang-orang yang aku jumpai, dan kenyamanan dalam tempat tinggal, makanan, kebutuhan lainnya semua dicukupkan. Tuhan benar-benar hadir dalam tiap waktu yang aku lalui hingga bisa memiliki pengalaman spiritual selama Magis Experiment ini. Banyak cinta yang aku terima dan bisa aku bagikan lagi ke orang lain saat kembali ke Indonesia. Aku semakin terpanggil untuk melayani kaum marginal. Aku semakin bisa merasakan nilai-nilai yang Tuhan kehendaki dalam hidup pelayananku. Waktu 10 hari sebagai seorang peziarah di Taiwan tidak terasa aku lalui. Ada momen di mana aku merindukan orang tua, tempat tinggal, kebiasaan yang aku lakukan di rumah tapi berkat Tuhan, aku bisa lalui. Aku belajar untuk rendah hati dan menikmati momen saat ini.

 

Para peserta Magis Asia Pasific 2026 berfoto bersama setelah melakukan kegiatan eksperimen. (Dokumentasi: Penulis)

 

Semua pengalaman selama mengikuti Magis Asia Pacific adalah pengalaman yang tak terlupakan. Tempat-tempat di Taiwan yang aku kunjungi, makanan, cuaca, teman-teman Magis dari berbagai negara, panitia Magis Taiwan yang selalu siap membantu, pelayanan yang diberikan panitia. Secara keseluruhan, acara terasa mudah dan lancar. Aku pulang ke Indonesia membawa semangat Magis yang baru dan ada perasaan damai dalam hati yang aku rasakan. Aku merasa momen desolasiku sebelum pergi disembuhkan melalui kegiatan ini. Aku merasa lebih tenang dan mulai bisa melepaskan pelan-pelan ketakutanku dengan bisa melihat kehadiran Tuhan dalam momen keheningan yang aku rasakan.

 

Kontributor: Magdalena Prita – Delegasi Magis Indonesia

More
articles