Pilgrims on Christ’s Mission

HUT ke-150 Tahun pemberkatan Gedung Gereja St. Yusup, Gedangan

Date

Dari Blenduk ke Gedangan:

Pada Jumat, 12 Desember 2025, Gereja Katolik St. Yusup Gedangan merayakan sebuah puncak sejarah: 150 tahun pemberkatan gedung gereja bergaya neogotik yang megah. Perayaan yang dihadiri oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan sejumlah imam dan biarawan-biarawati, bukan sekadar pesta ulang tahun bangunan. Ini adalah perayaan syukur atas perjalanan iman yang telah mengalirkan kehidupan, pengharapan, dan pendidikan bagi banyak generasi.

 

Embrio Iman dan Pendidikan di Tanah Jawa
Sebelum gedung kokoh berdiri, umat Katolik Gedangan telah berkumpul sejak 217 tahun lalu, merayakan Ekaristi di Gereja Blenduk yang merupakan gereja Protestan Gereformeerd. Perjalanan dimulai dari rumah sederhana yang dibeli Pater Lambertus Prinsen, Pr (kini menjadi Semarang Art Gallery), yang kemudian dilanjutkan dengan pembelian sebidang kebun pisang untuk lokasi gereja saat ini oleh Pater J. Lijnen (yang kelak menjadi Monsinyur). Pembangunan Gereja St. Yusup Gedangan yang dimulai pada 1 Oktober 1870, kemudian diresmikan pada 12 Desember 1875.

 

Visalisasi kedatangan Pater Lambertus Prinsen, Pr di Semarang yang dibawakan oleh para guru dan siswa SMP Kanisius Raden Patah, sebagai pembuka perayaan Ekaristi Puncak. (Dokumentasi: Penulis)

 

Di bawah asuhan Serikat Jesus sejak 1877, Gedangan bertransformasi menjadi “lokakarya iman dan budaya”. Tempat ini menjadi sekolah bagi misionaris Eropa untuk mendalami budaya dan bahasa Jawa sebelum melanjutkan karya. Dari ruang diskusi dan persiapan di Gedangan inilah, mimpi besar tentang pusat pendidikan dan iman di Muntilan yang dicita-citakan oleh Pater van Lith, S.J. dan Pater Hoevenaars, S.J. dimatangkan. Lebih dari itu, Gedangan menjadi titik tolak misi ke berbagai penjuru Nusantara seperti Flores, Maluku, dan Papua. Gereja Gedangan layaknya embrio yang melahirkan tidak hanya paroki, tetapi juga sistem pendidikan Katolik dan pewartaan yang kontekstual di Jawa.

 

Merayakan Akar, Menghidupi Masa Kini
Perayaan 150 tahun ini disiapkan dengan serangkaian kegiatan selama setahun, mulai dari jelajah sejarah, rekoleksi, hingga kegiatan sosial, yang melibatkan seluruh unsur umat, mulai dari anak-anak hingga lansia. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan, mulai dari Launching Rangkaian Acara, Sayembara Desain Logo dan Merchandise HUT, Buka Puasa Pasar Tiban, Talkshow Pasar Tiban, Minggu Panggilan dan Café Gedangan, Jelajah Gereja St. Yusup Gedangan, Misa Novena, Rekoleksi Ignatian, Audisi Gedangan’s Got Talent, Donor Darah, Ziarah Gua Maria Blitar, Mini Talk Show Sejarah Gereja Gedangan, Perayaan Puncak, dan Amazing Race sebagai penutup pada 16 Januari 2026 nanti.

 

Perayaan Ekaristi Puncak 150 Tahun Pemberkatan Gedung Gereja Gedangan. (Dokumentasi: Tim Dokumentasi Panitia HUT ke 150 Tahun Pemberkatan Gedung Gereja Gedangan)

Dalam perayaan Ekaristi puncak, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. mengingatkan bahwa gereja ini berdiri karena kesetiaan Allah dan ketaatan, serta cinta para perintis dan umat yang bahu-membahu. Mereka adalah “rekan kerja Allah” yang menjadikan bangunan ini hidup.

 

Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., Provinsial Jesuit Indonesia, menegaskan bahwa perayaan ini adalah pesta iman leluhur. Di Gedanganlah, pada 1896, Pater Hebrans dengan haru menyaksikan pembaptisan anak-anak pribumi Jawa, layaknya sebuah momen kemenangan kasih yang inklusif. Dari Gedangan, iman kemudian menyebar ke Ambarawa, Solo, dan daerah lainnya di Jawa Tengah.

 

Panggilan untuk Terus Mengalirkan Kasih
Kini, dengan 3.387 umat yang tersebar di 11 wilayah, Gereja Gedangan menghadapi zaman baru. Tema perayaan, “Gereja St. Yusup Gedangan Berziarah Mengarungi Zaman dalam Pengharapan”, adalah kompas untuk masa depan. Gereja Gedangan dipanggil untuk terus berbenah, hadir di tengah masyarakat, dan menjadi teladan konkret yang membawa sukacita Injil.

 

Sebagaimana St. Yusup, sang pelindung, yang kuat dalam keheningan, taat, dan bekerja untuk kebaikan banyak orang, Gereja Gedangan diingatkan untuk tetap menjadi oase pengharapan di tengah teriknya tantangan zaman. Gereja Gedangan adalah saksi bahwa dari sebuah sebidang tanah berisi kebun pisang, kasih Allah dapat bertumbuh, mengalir, dan menghidupi banyak orang.

 

Suasana sukacita dalam kegiatan ramah tamah setelah Perayaan Ekaristi Puncak. (Dokumentasi: Penulis)

 

Perayaan 150 tahun ini adalah pengingat bagi kita semua tentang kekuatan akar sejarah, ketekunan dalam pendidikan, dan panggilan bersama untuk terus menjadi saluran kasih yang relevan bagi dunia masa kini. Dari Gedangan, kita belajar bahwa warisan terbesar adalah iman yang hidup, yang berziarah, dan yang berbuah bagi sesama.

 

Kontributor: Sch. Engelbertus Viktor Daki, S.J.

More
articles