Pilgrims on Christ’s Mission

Porseni Kolese Gonzaga Merajut Komunitas Lintas Angkatan

Date

VERA AMICITIA EST INTER BONOS:

Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Kolese Gonzaga 2025 telah berlangsung dengan semangat penuh sukacita dan persaudaraan. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Porseni tahun ini dihelat dengan satu misi mulia, yaitu menjadi laboratorium hidup untuk memperkuat ikatan komunitas lintas angkatan di antara siswa kelas X, XI, dan XII. Melalui berbagai aktivitas yang dirancang, semangat “Vera Amicitia Est Inter Bonos” menjadi napas yang menghidupi seluruh rangkaian acara.

 

Struktur Komunitas dalam “House” Jesuit
Untuk mencapai tujuan itu, siswa tidak berlomba sebagai perwakilan kelas atau angkatan, tetapi terbagi dalam sepuluh kelompok besar bernama “House.” Setiap House, yang beranggotakan sekitar 90 siswa campuran dari semua tingkat, mengambil nama dari para Santo Jesuit yang menginspirasi, seperti Fransiskus Xaverius, Petrus Faber, Petrus Claver, Edmund Campion, Joseph Pignatelli, Alfonsus Rodrigues, Johannes Bergman, Fransiskus Borgias, Paulus Miki, dan Stanislaus Kostka. Struktur ini memaksa interaksi dan kolaborasi, di mana setiap poin yang diraih anggota memperkuat posisi House-nya, mendidik mereka tentang arti solidaritas yang melampaui batas teman sekelas.

 

Lomba memasak Porseni Kolese Gonzaga. (Dokumentasi: Penulis)

 

Pembelajaran Holistik di Luar Ruang Kelas
Selama Porseni, ruang kelas dikosongkan dan seluruh area sekolah berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Beragam aktivitas dirancang untuk menjangkau beragam minat dan bakat. Di lapangan, semangat sportivitas berkobar dalam lomba basket, voli, dan mini soccer. Di lobi, ketenangan dan strategi diuji dalam pertandingan catur. Sementara itu, keberanian menghadapi tantangan fisik ditunjukkan di area panjat dinding (wall climbing).

 

Kreativitas juga mendapat panggung utama. Di taman belakang sekolah, digelar lomba memasak yang unik, di mana peserta tidak hanya dinilai dari rasa hidangan, tetapi juga dari presentasi yang mengaitkan masakannya dengan negara asal Santo pelindung House mereka. Di sepanjang pagar sekolah, jiwa seni diekspresikan melalui lomba mural. Para peserta melukiskan simbol-simbol kehidupan dan pelayanan Santo mereka, seperti mural Petrus Claver yang menggambarkannya sebagai servant of the slaves lengkap dengan perahu budak dan simbol kebebasan di lautan luas. Kedua lomba ini menekankan pada proses kreatif dan reflektif, bukan sekadar hasil akhir.

 

Lomba mural Porseni Kolese Gonzaga. (Dokumentasi: Penulis)

 

“Gonzaga Got Talent”
Sekolah meyakini bahwa setiap siswa adalah karya unik dengan talentanya masing-masing. Untuk memastikan tidak ada bakat yang terlewat, Porseni menyelenggarakan “Gonzaga Got Talent” melalui aplikasi rekaman online “A-Luigi.” Setiap siswa wajib merekam dan mengunggah kebolehannya, mulai dari menyanyi, memainkan berbagai alat musik (piano, violin, gitar, drum, dll), menari, membaca puisi, hingga sulap dan melukis.

 

Proses kurasi oleh para guru juri membuka banyak kejutan. Bakat-bakat tersembunyi terungkap, misalnya siswa yang pendiam ternyata memiliki suara emas, siswi yang anggun ternyata adalah penggebuk drum yang handal, atau tutor matematika yang serius ternyata piawai dalam seni pertunjukan. Dari semua rekaman, dipilih 10 terbaik per kategori untuk tampil secara langsung di depan seluruh komunitas. Momen ini menjadi perayaan yang sangat personal dan hangat, di mana setiap keunikan diakui dan diapresiasi.

 

“Gonzaga Got Talent” Porseni Kolese Gonzaga. (Dokumentasi: Penulis)

 

Mempertajam Pikiran dan Semangat Tim: Cerdas Cermat dan Lomba Kelompok
Tahun ini, Porseni juga menghadirkan dimensi baru, yaitu lomba cerdas cermat matematika dan pengetahuan umum antar House. Babak penyisihan dan final disaksikan wajib oleh seluruh komunitas, menciptakan atmosfer intelektual yang bersemangat. Saat soal matematika dipecahkan, tak hanya peserta, para penonton pun ikut menghitung dan bersorak kegirangan. Lomba pengetahuan umum dirancang untuk memacu rasa ingin tahu siswa tentang dunia, budaya, dan istilah-istilah umum.

 

Lomba cerdas cermat Porseni Kolese Gonzaga. (Dokumentasi: Penulis)

 

Dinamika kelompok semakin terasah dalam lomba vokal grup dan band. Dengan waktu latihan yang terbatas, siswa lintas angkatan harus cepat beradaptasi dan berkolaborasi. Mereka membawakan lagu wajib serta lagu pilihan. Harmoni yang indah tercipta bukan hanya dari nada, tetapi juga dari proses bekerja sama itu sendiri. Selain itu, acara perkenalan maskot setiap House menjadi momen edukasi yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu, di mana perwakilan harus mendalami dan mempresentasikan riwayat hidup, perjuangan, serta nilai-nilai Santo pelindung mereka dengan kostum yang kreatif.

 

Puncak Kebersamaan di Christmas Vigil Concert
Mengalir dari semangat Porseni, komunitas Gonzaga mengakhiri semester dengan Christmas Vigil Concert di gedung Ciputra Artpreneur. Konser ini adalah puncak ungkapan syukur dan ruang kontemplasi menyambut Natal. Gonzaga Big Band Orchestra (GBBO) membawakan “Carol of The Bells” dengan penuh energi, diiringi oleh Paduan Suara “Suara Gonzaga” (Surga) yang menyanyikan lagu-lagu Natal dari berbagai penjuru dunia seperti Polandia, Jerman, dan Filipina. Kehadiran Pater Emanuel Baskoro Poedjinoegroho, S.J. (Pater Superior), Bapak Corneiles Tedjo Endriyarto (Ketua Yayasan Wacana Bhakti), perwakilan alumni (Ikagona), serta orang tua siswa, menunjukkan lingkaran komunitas yang luas dan solid. Pater Eduard Calistus Ratu Dopo, S.J., M.Ed., Kepala Sekolah sekaligus pelatih, menyanyikan dua lagu sebagai bentuk terima kasih tulus kepada semua pihak.

 

Christmas Vigili Concert. (Dokumentasi: Penulis)

 

Dari Kompetisi Menuju Komunitas
Acara Porseni ditutup dengan pengumuman juara umum, yang tahun ini diraih oleh House Edmund Campion. Namun, kemenangan sejati terletak pada proses yang telah dilalui. Setiap siswa belajar menjadi pemimpin dan pelayan melalui kepanitiaan, mengalami langsung arti kerja sama lintas angkatan, dan belajar mensyukuri baik talenta sendiri maupun kelebihan orang lain.

 

Seperti ungkapan dari karya Cicero dalam bukunya berjudul De Amicitia, Porseni Kolese Gonzaga 2025 berhasil menjadi wadah nyata untuk menumbuhkan “persahabatan sejati.” Dalam semangat Ignasian, kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan (competence), tetapi lebih penting lagi membangun kepedulian (care) dan hati yang tulus (conscience). Semoga ikatan yang terjalin ini menguatkan komunitas Gonzaga untuk menyambut Tuhan dengan pertobatan dan mewujudkan niat baik di tahun baru. AMDG.

 

Kontributor: Gabriella Kristalinawati, S.Pd., M.Si.

More
articles