Perjalanan Sahabat Ignatian Bongsari
Finding God in all things. Inilah salah satu kutipan dari St. Ignatius Loyola yang senantiasa dijalani oleh para Sahabat Ignatian di Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang. Menemukan Tuhan di dalam segala hal, termasuk dalam keheningan sekalipun.
Dari total 32 peserta, terdapat 16 peserta yang berhasil menjaga komitmen untuk mengikuti dan menyelesaikan program kegiatan Ignatian Remaja 2025. Mereka adalah para remaja dari lingkup paroki Bongsari dan wilayah Panjangan yang berusia 17-21 tahun. Mereka telah menjalani proses belajar dan pendampingan rohani mulai dari bulan Mei sampai Desember 2025.
Selama tujuh bulan tersebut, para Ignatian Remaja atau yang disebut sebagai tim Salmeron, belajar mengenai spiritualitas Ignatian serta mengenal diri sendiri melalui buku The 7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey). Mereka juga diajarkan untuk mendengar suara Tuhan melalui latihan meditasi serta doa hening.
Dalam proses pendampingan, pada awalnya banyak dari tim Salmeron yang merasa kesulitan menjalani doa hening. Beberapa dari mereka kesulitan untuk fokus berdoa akibat suhu ruang yang terasa panas atau adanya suara-suara di sekitar ruang doa. Ada pula yang masih kesulitan untuk menjaga tubuh pada posisi yang sama selama sesi doa, entah karena pegal atau kesemutan.
Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, pendamping tim Salmeron memberikan pesan bahwa hal tersebut memang perlu dirasakan karena pengalaman-pengalaman itu membuktikan bahwa mereka menyadari keadaan mereka pada saat melakukan doa. Doa hening mengajarkan mereka untuk membangun kesadaran akan situasi dan kondisi diri pada saat itu.

Selain belajar meditasi dan doa hening, tim Salmeron juga diajak oleh Pater Agustinus Sarwanto, S.J. untuk melihat dan merenungkan kehidupan pribadi. Topik yang sering diangkat adalah tentang ketakutan. Pater Sarwanto sempat memberikan materi ini dengan membahas tiga ketakutan yang umum dirasakan banyak orang, yaitu fear of missing out (FOMO), fear of people’s opinion, dan you only live once (YOLO).
Kemudian Pater Sarwanto memberikan pertanyaan reflektif pada tim Salmeron, yaitu apa saja ketakutan yang muncul dari dalam dan luar diriku? Dari pertanyaan tersebut, muncul jawaban yang dominan dari para peserta yaitu ketakutan akan masa depan.
Setelah menjalani beberapa pertemuan dan retret pertama di Rumah Retret KSED, para peserta merasakan beberapa perubahan di dalam hidup mereka. Berbagai ketakutan yang pernah mereka rasakan sebelumnya sudah bisa mereka hadapi dengan keberanian. Mereka lebih mudah untuk memasrahkan hasil akhirnya pada Tuhan setelah mengusahakan semuanya dengan maksimal.
Puncak perjalanan adalah Retret Ignatian di Rumah Retret Panti Semedi, Klaten pada 12-14 Desember 2025. Dalam retret ini, mereka menerapkan segala ilmu yang telah mereka pelajari dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, khususnya mengenai doa hening. Pater Sarwanto meminta tim Salmeron untuk melakukan self-guided retreat dimana mereka menjalani retret pribadi selama tiga hari dalam situasi hening, tanpa komunikasi verbal dengan orang lain selain hal mendesak.

Pasca puncak kegiatan Ignatian Remaja, buah-buah dari segala usaha yang dilakukan para pendamping serta tim Salmeron dapat dirasakan oleh banyak pihak. Mereka terlibat aktif dalam kegiatan menggereja dan Orang Muda Katolik (OMK). Dampak yang baik ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditularkan pada generasi berikutnya agar kehidupan dalam Gereja dapat berkembang dan terus berlangsung.
Kontributor: Anastasia Adristri – Paroki St. Theresia Bongsari, Semarang

