Refleksi atas pertemuan MAGIS Think In Meeting di Roma, Italia.
Pada awal Januari 2026, Kuria Roma menjadi ruang perjumpaan dan diskresi bagi para koordinator Pelayanan Orang Muda Serikat Jesus dari berbagai penjuru dunia. Pertemuan yang dikenal sebagai MAGIS Think In Meeting ini menghimpun para koordinator pendamping orang muda tingkat konferensi dari: Eropa, Afrika dan Madagaskar, Asia Pasifik, Asia Selatan, Amerika Utara, dan Amerika Latin (yang diwakili oleh masing-masing Presiden Konferensi), bersama tim dari MAGIS Digital Home–India, serta perwakilan Kuria Roma.
Mereka yang hadir bukanlah para pemimpin karya besar seperti pendidikan atau sosial, melainkan para pendamping yang sehari-hari bergumul dekat dengan realitas hidup orang muda. Yang menyatukan mereka adalah kepedulian bersama, yaitu bagaimana menemani orang muda dewasa di dunia yang dinamis, rapuh sekaligus penuh energi, tetapi juga sarat kebingungan dan pencarian makna.
Membaca Tanda Zaman Bersama Orang Muda
Dalam sambutannya, Pater Jenderal Arturo Sosa mengajak peserta untuk berangkat dari realitas konkret dunia hari ini. Ia mengisahkan bagaimana sebuah artikel di harian El País berbicara tentang fenomena yang menarik: mengapa masih ada orang muda yang kembali percaya di tengah krisis. Konteksnya adalah Eropa sekuler, tempat banyak penopang hidup—rumah, pekerjaan, keluarga, kesehatan, ketenteraman, dan rasa aman—mengalami keruntuhan, sehingga melahirkan krisis makna. Dari situ, Pater Jenderal menawarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi para pendamping orang muda:
Apakah kita melihat tanda-tanda meningkatnya ketertarikan pada kehidupan batin dan spiritualitas?
Apakah ini terjadi di mana-mana, atau hanya fenomena pasca-sekularisasi?
Apakah pencarian makna hidup berkaitan erat dengan spiritualitas?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi nada dasar refleksi selama pertemuan bahwa pelayanan orang muda dewasa tidak bisa dilepaskan dari konteks global yang ditandai oleh ketidakpastian, konflik, ketimpangan, serta perubahan besar dalam dunia digital dan teknologi.

MAGIS: Gerakan Universal, Bukan Sekadar Global
Pertemuan ini berangkat dari keyakinan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah kairos, waktu rahmat, bagi pertumbuhan MAGIS. Seperti ditegaskan Pater Jenderal, MAGIS telah berkembang secara kreatif di berbagai belahan dunia, dari bawah ke atas, dengan aneka wajah dan pendekatan kontekstual. Dalam refleksinya, ia mengajak peserta untuk membedakan dua istilah yang tampak mirip namun sarat makna: global dan universal. Mungkin mudah menyebut MAGIS sebagai gerakan global, tetapi dalam terang kharisma Ignatian, istilah universal jauh lebih tepat. Gereja, kristianistas, dan Serikat Jesus sejak awal memahami diri sebagai universal, bukan global. Globalisasi kerap mengarah pada penyeragaman dan pemusatan kuasa; universalisme justru berangkat dari perbedaan, menghormatinya, dan melihatnya sebagai kekayaan bersama. Dengan menggunakan gambaran tubuh, Pater Jenderal menegaskan bahwa tubuh membutuhkan keragaman organ agar dapat hidup. Tubuh yang homogen tidak memiliki kehidupan. Demikian pula MAGIS: bukan keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman yang memberi daya hidup.
Selama pertemuan, para koordinator mendengarkan laporan dari enam konferensi. Meskipun konteksnya sangat beragam, benang merahnya jelas: orang muda dewasa sedang bergulat dengan kompleksitas hidup yang semakin besar. Mobilitas geografis dan sosial sering membawa peluang, tetapi juga kesepian. Kepercayaan pada institusi melemah. Di banyak tempat, kerinduan akan perubahan mendorong keterlibatan sosial dan politik, namun sering tanpa pendampingan diskretif yang memadai. Pandemi COVID-19 meninggalkan luka mendalam, khususnya dalam kesehatan mental. Maka semakin jelas bahwa orang muda tidak hanya membutuhkan kegiatan, melainkan pendampingan, komunitas, relasi yang mendalam, dan ruang aman untuk bertumbuh.
MAGIS sebagai Cara Hidup
Salah satu rumusan yang paling mengena selama pertemuan adalah definisi ini, yaitu MAGIS adalah sebuah “cara hidup” yang dihayati orang muda melalui pengalaman dan proses yang berakar pada spiritualitas Ignatian. MAGIS bukan sekadar acara atau pertemuan, melainkan proses yang dihidupi dalam komunitas, idealnya bersama orang muda sebagai rekan seperjalanan dan dalam kebersamaan. Unsur-unsur kuncinya meliputi: doa, perjumpaan dengan realitas, berbagi dalam kelompok, formasi, dan semakin mengenal hati Yesus. Di sini, diskresi panggilan hidup mendapat tempat penting—bukan sebagai rekrutmen, melainkan sebagai pendampingan orang muda untuk menemukan arah hidup mereka di hadapan Allah.
Digital: Medan Baru Perutusan
Pertemuan ini juga menyoroti tantangan dan peluang besar dunia digital. Pater Jenderal mengingatkan bahwa dunia digital adalah ruang yang penuh energi dan potensi, namun tidak bebas dari bahaya. Ia mengutip pandangan Paus Leo XIV yang menyebut dunia digital sebagai peluang sekaligus tantangan utama untuk menghadirkan sukacita Injil di dunia yang terluka.
Pengalaman MAGIS Digital Home di Asia Selatan menjadi tanda harapan: ruang digital yang aman, kreatif, dan lintas budaya, dengan ribuan peserta dan tema-tema relevan seperti kesehatan mental, ekologi, karier, dan seni. Dari pengalaman ini, gerakan MAGIS kini sedang menyiapkan langkah baru: pengembangan platform digital yang lebih terintegrasi yang akan diluncurkan saat MAGIS Korea 2027.
MAGIS Korea 2027 dipandang bukan sekadar peristiwa, melainkan tonggak penting bagi MAGIS sebagai gerakan universal orang muda dewasa. Persiapan menuju ke sana mencakup seleksi dan pembinaan peziarah, formasi kepemimpinan, serta keterkaitan nyata dengan komunitas lokal agar dampaknya berkelanjutan.
Para koordinator sepakat untuk memperkuat jejaring lintas konferensi, berbagi sumber daya, dan terus berdiskresi bersama: Apa dan Bagaimana MAGIS semakin dihayati sebagai sebuah gerakan?

Berjalan Bersama dalam Harapan
Dalam terang bacaan Kitab Suci dan spiritualitas Ignatian, Pater Jenderal mengingatkan kembali Prinsip dan Dasar, yaitu beriman kepada Yesus Kristus dan saling mengasihi. Dari sanalah diskresi roh menemukan pijakannya. Seperti Yesus yang memulai pelayanan-Nya di masa sulit, demikian pula kita dipanggil untuk berani melayani di batas-batas rapuh kehidupan manusia.
Pertemuan ini ditutup dengan sebuah pertanyaan doa yang sederhana namun mendalam:
Di manakah aku menemukan harapan dalam semua ini?
Dengan mendengarkan Roh, realitas orang muda, dan satu sama lain, MAGIS melangkah ke depan—sebagai jalan hidup, gerakan universal, dan ungkapan kasih Allah yang terus bekerja di hati orang muda zaman ini.
Kontributor: P. Alexander Koko Siswijayanto, S.J.

