Pilgrims on Christ’s Mission

Pelayanan Gereja

Mensyukuri Rahmat Panggilan

13 Juni 2021 merupakan hari yang istimewa bagi Gereja Santo Robertus Bellarminus – Cililitan. Dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir baru kali ini ada enam belas orang imam yang berkonselebrasi dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Robertus Bellarminus – Cililitan. Mereka adalah para imam Ordo Salib Suci, imam Keuskupan Agung Jakarta, imam Salesian, dan imam Serikat Jesus. Imam-imam yang berasal dari Bandung, Cirebon, Cigugur, dan Jakarta, bersama-sama merayakan “Misa Perdana” Romo Thomas Tjatur Herianto, OSC. Romo Thomas Tjatur Herianto, OSC adalah putra asli Paroki Cililitan. Dia adalah anak keempat dari pasangan Bapak Petrus Tumin dan Ibu Cisilia Surati. Pada 26 Mei 2021 bersama dengan lima Frater Diakon yang lain, Frater Diakon Thomas Tjatur Herianto, OSC menerima tahbisan Imam dari tangan Bapa Uskup Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC di Gereja Katedral St. Petrus – Bandung. Umat Paroki Cililitan sangat bersyukur karena meskipun tergolong paroki kecil di Keuskupan Agung Jakarta tetapi cukup banyak menyumbangkan para imam bagi pelayanan Gereja. Dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir Paroki Cililitan sudah menyumbangkan enam imam yang ditahbiskan hampir setiap lima tahun, yaitu Romo Adi Prasojo, Pr (tahbisan 2005); Romo Putranto, Pr (tahbisan 2006); Romo Agung, SDB (tahbisan 2007); Romo Kristiono Puspo, SJ (tahbisan 2010); Romo Windar Santoso, SJ (tahbisan 2013) dan Romo Tjatur, OSC (tahbisan 2021).  Bagaimana dengan ke depan? Hingga tahun 2021 ini masih ada beberapa calon imam yang sedang dalam masa formasi, yaitu Fr. Wahyu, SJ (Skolastik filosofan tk IV); Fr. Agung, Pr (Frater Dioses Bandung, tk I); Bima (calon novis SX 2021); Deo dan Christian (Seminaris Seminari Wacana Bhakti). Jika Tuhan menghendaki, dalam beberapa tahun ke depan dan di setiap 5 tahun masih akan ada umat Paroki Cililitan yang ditahbiskan menjadi Imam. Namun demikian, kita semua senantiasa memohon rahmat panggilan dan sementara itu juga senantiasa berdoa memohon rahmat sukacita pelayanan bagi para imam. Kontributor : KOMSOS Paroki Cililitan.

Pelayanan Gereja

Pesta Nama Santo Antonius Padua

Setiap tanggal 13 Juni Gereja Katolik memperingati Santo Antonius Padua. Santo Antonius Padua merupakan Santo Pelindung Gereja Kotabaru, Yogyakarta. Perayaan Ekaristi Pesta Nama Santo Antonius Padua dilaksanakan pada Minggu, 13 Juni 2021 pukul 09.30 WIB. Rm. Thomas Septi Widhiyudana, S.J. dan Rm. Macarius Maharsono Probho, S.J. memimpin perayaan yang terlaksana dengan khidmat dan penuh suka cita. Lagu Santo Antonius yang dinyanyikan dengan riang oleh teman-teman OMK Kotabaru menjadi lagu pembuka perayaan ini. Mengingat masa pandemi yang belum usai, Gereja terpaksa membatasi jumlah umat yang mengikuti perayaan penting ini. Dalam homilinya, Rm Mahar mengajak umat untuk melakukan dua hal. Pertama, berterima kasih kepada Santo Antonius Padua karena telah senantiasa melindungi, menolong, dan mendampingi umat Paroki Kotabaru. Kedua, beliau juga mengajak umat untuk mengamati dan mengambil buah dari bacaan Injil perayaan itu yaitu bagaimana firman Tuhan hidup dan bekerja dalam hidup kita, serta bagaimana tidak semua cara Tuhan bekerja itu bisa dilihat tetapi selalu bisa dinikmati. Mari merayakan pesta nama Santo Antonius Padua dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Doakanlah kami pada Bapa, ya Santo Antonius. Kontributor : Maria Ludwina & Jessica Juliani

Pelayanan Gereja

Ayo Nandur

“Ayo Nandur” merupakan slogan dari panitia Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup, Paroki St. Yusuf Ambarawa dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup pada tanggal 5 Juni 2021. Pada kesempatan ini, panitia mengajak anak-anak hingga orang tua untuk bercocok tanam, misalnya tanaman boga di rumah maupun pohon Sengon. Panitia menyediakan bibit tanaman lombok, terong, tomat, papaya, jeruk, dan markisa. Dana penyediaan bibit-bibit tersebut diperoleh dari dana paroki dan hasil usaha menjual minyak jelantah.  Sebagian umat memberi sumbangan berupa bibit bunga telang, bibit jipang, dan sereh juga beberapa botol eco enzyme. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Semarang juga memberi lima puluh bibit aneka buah dan tujuh puluh lima bibit pohon Sengon. SMK SPP Kanisius Ambarawa tak kalah andil dengan memberi sekitar dua ratus bibit lombok dan terong. Pembagian bibit-bibit tersebut dilakukan dalam empat kesempatan. Pertama, pembagian bibit kepada umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja St. Yusuf Ambarawa pada  Sabtu 5 Juni 2021 sore. Kedua, kepada umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja St. Yusuf Ambarawa Minggu 6 Juni 2021 pagi. Ketiga, kepada anak-anak penerima komuni pertama di Gereja St.Yusuf Ambarawa yang berjumlah 104 anak  pada Minggu, 6 Juni siang. Bibit tersebut sekaligus sebagai souvenir perayaan itu. Keempat, kepada umat di wilayah Gedong dan Banyubiru pada hari Minggu 6 Juni 2021. Kontributor : Sigit Widisana, S.J. – Paroki Ambarawa

Pelayanan Spiritualitas

Ignatian Life

Dalam rangka bulan Ignatian 2021, Serikat Jesus Provinsi Indonesia bersama teman-teman Christian Life Community (CLC) mengadakan proyek bersama yang diberi nama Ignatian Life Project. Teman-teman CLC akan membagikan kisah dan refleksi atas hidup mereka dalam terang Spiritualitas Ignatian. Pengalaman hidup mereka seperti menjalankan bisnis, hidup berkeluarga, dan membangun relasi sejati itu akan dibingkai dalam 12 titik peziarahan St. Ignatius, yaitu dari Pamplona sampai Loyola.  Tentang CLC Christian Life Community adalah komunitas kristiani yang mengakarkan cara hidupnya pada semangat St. Ignatius Loyola, seorang ksatria yang pulih dari luka dalam peperangan dan kemudian mendapatkan rahmat pertobatan yang luar biasa. Pengalaman mistik St. Ignatius yang bergulat dengan imannya justru menuntunnya pada pemberian diri secara total kepada Kristus di dunia ini. Setelah pertobatannya, Ignatius berusaha membantu banyak orang untuk mengalami perjumpaan personal dengan Tuhan lewat percakapan rohani maupun tindakan amal kasih kepada sesama. Ignatius kemudian menuliskan metode rohani untuk mengalami perjumpaan yang personal dan pengabdian diri secara penuh kepada Allah dalam buku Latihan Rohani.  Pada tahun 1563 di Roma, seorang Jesuit muda bernama Yohanes Leunis, mendirikan CLC sebagai wadah untuk orang-orang muda dalam memaknai hidupnya berdasarkan nilai-nilai kristiani. Mereka diajak untuk merefleksikan kehidupan mereka sehari-hari (persoalan dalam keluarga, pekerjaan, Gereja, dan berbagai hal lainnya) dengan terang Latihan Rohani. Setiap anggota CLC diajak untuk mendasarkan cara hidupnya pada spiritualitas, komunitas, dan pelayanan. Seperti yang tertuang dalam Prinsip Umum CLC nomor 8, setiap anggota CLC mengusahakan dirinya agar menjalankan misinya. “Sebagai anggota umat Allah, kita menerima tugas perutusan menjadi saksi Kristus dengan seluruh sikap hidup, perkataan serta perbuatan di antara sesama manusia. Kita menyatukan diri kita dengan tugas perutusan-Nya untuk membawa kabar gembira kepada orang miskin, mewartakan kemerdekaan bagi para tawanan dan penglihatan baru bagi orang buta, membebaskan mereka yang tertindas dan mewartakan tahun kemurahan Allah”. Ignatian Life Project Ignatian Life project merupakan sebuah usaha untuk membagikan cara hidup sehari-hari berdasarkan semangat Ignatian. Di dalamnya akan disajikan kisah-kisah para anggota CLC sebagai orang-orang zaman ini yang terus bergumul dan menimba inspirasi dari St. Ignatius dalam seluk beluk kehidupan mereka. Menurut mereka, Ignatius adalah sosok yang pernah mempunyai  “idola yg toxic”, pernah “bucin dan baperan”, dan mampu “move on”, dan mengarahkan hidupnya kepada Allah dalam cinta.  Teman-teman CLC juga mencoba untuk merefleksikan pengalaman mereka dalam membangun relasi persahabatan seturut pengalaman Ignatius. Mereka diajak untuk membangun hidup yang penuh komitmen satu sama lain sehingga persahabatan mereka tidak melulu merugikan atau hanya ingin untungnya saja. Dalam kisah yang akan dibagikan nanti setiap orang juga mengutarakan kisahnya mendapatkan kacamata baru dalam Kristus. Kaca mata baru ini berupa munculnya kesadaran untuk berubah, kesadaran untuk mengusahakan dirinya menjadi lebih baik dan juga kesediaan untuk melakukan perubahan.  Project ini dikoordinasi oleh Rius dan Ibra, anggota CLC Bandung. Script project ini dibuat oleh RD Rusbani Setyawan. Sebagai salah satu koordinator, Ibra melihat proyek ini sebagai kesempatan dan tantangan untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam membagikan kekayaan Spiritualitas Ignatian.  “Ternyata tidak mudah untuk menyelaraskan frekuensi dan gagasan…merasanya sih masih muda tapi ketika ketemu yang muda beneran ternyata seleranya beda. Semoga ini menjadi kesempatan yang sungguh baik untuk memberikan diri agar sama-sama tumbuh dan expand the boundaries” demikian kesan Ibra. Mari kita saksikan kisah-kisah mereka dalam platform media sosial Jesuit Indonesia dan CLC Indonesia selama bulan Juli 2021. Semoga kisah-kisah mereka menginspirasikan kita untuk berani melakukan perubahan seturut Injil dengan berakar pada Latihan Rohani. Kontributor : Ignatius Windar Santoso, S.J.

Pelayanan Gereja

Krisma di Paroki St. Yusuf Ambarawa

Paroki St. Yusuf Ambarawa menyelenggarakan misa Krisma sesudah tertunda di tahun 2020 dengan protokol kesehatan yang ketat pada Sabtu, 8 Mei 2021 di SMP Pangudi Luhur, Ambarawa. Pemberian sakramen Krisma dilakukan dalam beberapa sesi, yaitu pukul 10.00 WIB oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan sore hari pukul 16.00 WIB oleh Vikjen Keuskupan Agung Semarang, Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto. Sedangkan pada Minggu, 9 Mei 2021, Romo Vikjen memberikan sakramen Krisma pukul 08.00 dan 11.00 WIB. Jumlah krismawan-krismawati adalah 308 orang. Kontributor: Sigit Widisana, S. J.

Feature

MARIA DELLA STRADA : Mendekatkan kepada Sang Putera, menyatukan kepada Allah Bapa (Bagian 1)

Oleh: L. A. Sardi S. J. Tulisan ini menyajikan penjelasan tentang Maria della Strada dalam hubungannya dengan hidup rohani St. Ignatius Loyola. Perjalanan rohani St. Ignatius diwarnai oleh kehadiran Bunda Maria; mulai dari awal pertobatannya hingga saat terakhir ketika berada di Roma. Maria della Strada (bahasa Italia) berarti Maria Sang Jalan atau Maria pelindung jalan. Gagasannya adalah bahwa Maria melindungi jalan-jalan kota Roma. Tetapi akhirnya juga berarti melindungi ‘pejalan’, ‘peziarah’, atau orang-orang yang melewati jalan itu sehari-hari. Gagasan lain adalah tentang harapan bahwa orang-orang bisa berhenti sejenak di tengah-tengah perjalanan lalu berdoa sebentar di kapel itu. Pemahaman lain, dalam praktik sehari-hari, orang-orang katolik Italia seringkali sebelum bepergian  jauh (menggunakan mobil, bus, atau angkutan umum lainnya) selalu berdoa “Maria della Strada, doakanlah kami.” Dalam hal ini, “Maria della Strada” juga bisa diartikan sebagai “Maria pelindung orang-orang yang sedang di jalan (dalam perjalanan), doakanlah kami.” Pemaknaan-pemaknaan ungkapan tersebut mau menunjuk kebenaran bahwa Bunda Maria menyertai perjalanan. Bila ungkapan tersebut kita gunakan untuk memahami pengalaman rohani St. Ignatius, yang menyebut diri sebagai peziarah, akan menjelaskan kenyataan bahwa St. Ignatius merasakan disertai, dikuatkan, dijaga, dan dibimbing dalam peziarahan hidupnya.     Itulah mengapa selanjutnya, peranan Maria terus disadari sebagaimana nampak misalnya dalam rumusan doa persembahan penting dalam Latihan Rohani, “O, Tuhan semesta abadi, dengan kurnia dan pertolongan-Mu, kuhaturkan persembahanku di Kebaikan-Mu yang tak terhingga, di hadapan Bunda-Mu teramat mulia dan sekalian Santo-santa istana surga …” (Latihan Rohani 98); dan ada dalam pengucapan kaul para jesuit, “… berkaul kepada keagungan Ilahi-Mu di hadapan Perawan Tersuci Maria dan segenap penghuni surga, …” (Konstitusi S. J., 527). Mau ditegaskan bahwa sejak awal pertobatannya, saat berziarah jalan kaki tanpa bekal ke Yerusalem maupun dalam mengemban pemerintahan Serikat dan karya-karyanya Ignatius mengalami dukungan Bunda Maria. Ibarat dalam perjalanan, Maria selalu di jalan yang ditempuh Ignatius. Dalam tradisi katolik keluarga Loyola, Ignatius sendiri sudah melihat kehadiran Maria sejak kecil. Di rumahnya ada gambar Maria menerima kabar gembira yang dibawa oleh kakak ipar, Magdalena Arraoz. Gambar ini pemberian dari ratu Elisabeth Katolik oleh karena kedekatan Magdalena dengan sang ratu. Suku bangsa Bask sendiri memiliki tenmpat peziarahan Maria Arranzazu, ke sana pertama kali Ignatius mengawali peziarahannya setelah bertobat. Tidak jauh dari rumah Ignatius ada tempat doa yang bernama Ermita Nuestra Señora de Olatz. Maria della Strada1 Bisa kita ketahui riwayat Maria della Strada menjadi pelindung Serikat Yesus dan selanjutnya disebarluaskan oleh para jesuit di banyak tempat. Riwayat tersebut pertama-tama terkait dengan kedatangan Ignatius dan sahabat- sahabatnya dalam mempersembahkan diri kepada Gereja di bawah Paus di Roma yang juga merupakan asal usul kelahiran Serikat Yesus. Maria della Strada adalah gambar Maria yang pertama kali dihormati di dalam Serikat Yesus yang baru lahir. Lebih daripada itu Maria della Strada diperingati secara liturgis oleh Serikat Yesus pada tanggal 24 Mei. Peringatan liturgis ini merupakan kesempatan    rohani bagi para jesuit dan banyak rekannya untuk menyadari bahwa mereka itu hidup sebagai peziarah seperti diinspirasikan oleh St. Ignatius Loyola, sang peziarah dalam Tuhan. Tercatat bahwa keberadaan Maria della Strada dimulai pada tahun 425. Pada tahun itu keluarga Astalli yang membangun tempat suci Bunda Maria di kota tua Roma. Bunda Maria yang ditempatkan di situs tersebut disebut “Madonna degli Astalli”. Selanjutnya di tempat doa yang didirikan oleh keluarga Astalli ini dipasang gambar Madona della Strada atau Maria della Strada hasil karya anonim dari seni aliran roma antara abad XV dan XVI. Ignatius dan teman-temannya tiba ketika tempat suci Bunda Maria itu sudah menjadi Maria della Strada. Mereka dikenal oleh banyak orang karena semangat merasul dan karya-karyanya, kendati belum merupakan Serikat yang disetujui Paus. Ignatius dan teman-temannya tinggal dekat Maria della Strada dan sering berkotbah dan merayakan ekaristi di gereja Maria della Strada. Setelah Serikat disahkan oleh Paus Paulus III pada tahun 1540, gereja Maria della Strada diserahkan kepada Serikat Yesus oleh Paus yang sama pada bulan Februari 1541. Pedro Codacio, seorang imam diocesan yang bergabung dengan Serikat Yesus dan merupakan jesuit Italia pertama ditugaskan untuk bekerja di Gereja tersebut. Pada tahun 1568, Kardinal Alessandro Farnese memulai membangun Gereja Gesú di Roma, sebagai gereja induk para Jesuit. Ketika gereja Maria della Strada dirobohkan, selanjutnya gambar Maria della Strada ditempatkan dalam salah satu kapel Gereja Gesú. Sejak itu sampai sekarang di dalam gereja del Gesú terdapat kapel Maria della Strada. Mulai tahun 1551 Gereja del Gesú menjadi tempat keberadaan Jendral Serikat hingga Serikat dibubarkan pada tahun 1773. Penempatan Maria della Strada dalam konteks ke-jesuitan bisa diterangkan dari sisi inspirasi strategis yang meriwayatkan kerohanian Serikat Yesus yang diwariskan oleh St. Ignatius. Gereja Gesú dibangun dan dipersembahkan untuk Bapa, Santa Maria dan Yesus. Dalam Gereja Gesú María della Strada ditempatkan di antara dua altar, yaitu altar St. Ignatius dan altar besar Nama Yesus. Penempatan demikian ini mau menegaskan peranan Santa Maria dalam peziarahan untuk didekatkan kepada Yesus Sang Putera dan disatukan kepada Bapa. Setidaknya demikian yang terjadi pada St. Ignatius dan demikian diharapkan dialami oleh para jesuit dan rekan-rekan kerjanya: Didekatkan dengan Sang Putera, disatukan dengan Allah Bapa. Selain itu penempatan Maria della Strada juga bisa dijelaskan dengan arsitektur Gereja Gesú beserta ikon-ikonnya. Dalam keutuhan arsitektur dan ikon-ikon yang ada di Gereja Gesú mau ditunjukkan gagasan penting tentang triple coloqui atau wawancara tiga pribadi yang diajarkan oleh St. Ignatius dalam Latihan Rohani atau sering disebut Retret Agung atau Retret Sebulan2. Dalam Latihan Rohani St. Ignatius menganjurkan supaya terkait dengan permohonan- permohonan penting dan istimewa, melakukan doa triple coloqui atau wawancara dengan tiga pribadi. Mohon kepada Maria supaya mendapatkan rahmat dari Sang Putera dan Tuhannya; mohon kepada Sang Putera supaya Ia memperolehkan rahmat yang dimohon: mohon yang sama kepada Bapa agar Bapa sendiri mengabulkan rahmat yang dimohon (Bdk. Latihan Rohani 147). Pada tahun 1638 Maria della Strada diresmikan secara kanonis dan makin dihormati oleh banyak pengunjung. Penghormatan ini mendorong Paus Leo XIII pada tahun 1890 menetapkan pesta liturgis Maria della Strada pada tiap 24 Mei kepada Serikat Yesus. Melalui banyak jesuit di seluruh dunia Serikat Yesus menyebarkan pesta liturgis ini dengan membagikan inspirasi rohaninya. Tidak sedikit kapel, tempat di lingkungan Serikat atau kelompok karya yang selanjutnya menggunakan nama Maria della Strada. Saya

Karya Pendidikan

Yayasan Kanisius Cabang Surakarta: Pendidikan Kontekstual Refleksi Berbagi Saat Bencana

Rasa duka mendalam  terjadi saat bencana Siklon Tropis Seroja yang membuat banjir bandang melanda daerah Nusa Tenggara Timur hari Minggu, 4 April 2021. Kepedulian atas peristiwa ini datang dari berbagai pihak yang memberikan bantuan secara moral maupun material. Doa, ungkapan bela rasa, dan bantuan yang lain menjadi wujud rasa persaudaraan pada saudara-saudari yang baru terkena musibah. Menarasikan Konteks Bencana Yayasan Kanisius Cabang Surakarta melalui ajakan Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta, Romo Joseph M.M.T. Situmorang, S.J. mengajak komunitas sekolah baik guru, karyawan, maupun siswa ikut peduli membantu saudara-saudari di NTT yang sedang mengalami musibah dengan doa dan dana. Tidak menjadi soal berapa dana yang diperoleh namun yang penting kerelaan membantu secara ikhlas dan sukarela. Dana disalurkan melalui Yayasan KARINAKAS Keuskupan Agung Semarang. Dalam konteks pendidikan, Romo Joseph mengajak 40 sekolah yang ada di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta selain membangun rasa solidaritas juga mengedukasi para siswa tentang badai (siklon) Seroja yang menyebabkan banjir dan tanah longsor di NTT. Edukasi dilakukan agar para siswa mengetahui penyebab, proses terjadinya badai, gejala yang perlu diamati, dampak yang terjadi serta meminimalisasi dampak resiko bencana di masa depan.. Edukasi yang bisa dilakukan para guru pada siswa dapat dilakukan dengan mencari referensi dari sarana-sarana internet (Google, Youtube dll). Edukasi dapat dilakukan secara kreatif dan disesuaikan dengan situasi, kondisi dan daya tangkap para siswa. Yayasan berharap dengan belajar dari bencana ini, insan Kanisius dapat mengembangkan pengetahuan (kognitif), hati (afektif), dan tergerak memiliki solidaritas untuk mengulurkan tangan membantu dana bagi yang sedang terkena bencana (konasi/psikomotorik). Konteks, refleksi, dan aksi yang dilakukan merupakan pendidikan kontekstual dan komprehensif seturut Paradigma Pedagogi Reflektif ( PPR).  Edukasi bencana: Refleksi dan Aksi Edukasi pendidikan kontekstual saat bencana menjadi bagian keterlibatan guru mendidik para siswa masuk ke dalam “laboratorium masyarakat.” Guru mendidik para siswa untuk membiasakan mengamati, berempati, beraksi dan ikut merasakan bela rasa dalam menyikapi adanya bencana. Dalam pendidikan refleksi ini, sangat penting campur tangan orang tua untuk mendampingi dan menjadi pembimbing sikap empati anak agar di tengah pandemi anak ikut merasakan derita yang dialami saudara-saudari yang lain.  Pendidikan reflektif menjadi bagian pembentukan karakter para siswa agar memahami situasi yang dialami oleh orang lain di tengah hidup masyarakat.  Menanggapi sekolah-sekolah Kanisius memberikan pendidikan kebencanaan dengan mengembangkan literasi bencana berupa berita-berita dari media online, tayangan televisi, portal-portal berita, dan pemberian tugas bagi siswa yang bertujuan memberikan pemahaman pentingnya mengetahui sebab terjadinya badai Seroja, dampak, dan sikap kehati-hatian jika terjadi bencana serupa. Informasi dan penjelasan  dari BMKG yang ditayangkan televisi juga menjadi bahan edukasi.  Di sisi lain, untuk membangun solidaritas melalui pengumpulan dana SMK Kanisius dan SD Kanisius Keprabon 2 membagikan video Friends Are Family yang berisi sikap peduli siswa-siswi di suatu kelas yang memberi bantuan temannya yang tidak membawa bekal makan saat istirahat. Video ini sebagai sarana menggugah empati para siswa untuk menyisihkan uang saku yang tidak dikeluarkan karena pembelajaran di rumah atau meminta orang tua untuk membantu berdonasi tanpa melihat nominalnya. Gerakan bersama sekolah yang melibatkan guru,  siswa, orang tua, komite sekolah, dan pihak-pihak yang peduli pendidikan, serta umat dan masyarakat merupakan bentuk pendidikan kontekstual yang memberikan arti lebih pada edukasi, refleksi, dan berbagi terutama dalam pendidikan para siswa. Menggalang Dana Lewat Bazar Salah satu cara yang dilakukan SD Kanisius Wonogiri dalam menanggapi ajakan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta dalam penggalangan dana dilakukan dengan cara bazar dan live music. Siswa-siswi yang bisa memainkan keyboard dan alat musik bersama guru, komite sekolah, umat dan masyarakat sekitar bersama-sama menggalang dana dengan gembira dan ikhlas sambil bernyanyi dan membeli aneka makanan dan stand yang disediakan sekolah, orang tua, komite, dan masyarakat. Hasil yang diperoleh dalam penggalangan dana di SD Kanisius Wonogiri diinformasikan melalui Instagram sebagai bentuk ucapan terima kasih bagi yang sudah berkenan membantu. Pada akhir pengumpulan dana, 30 April 2021, Yayasan Kanisius Cabang Surakarta berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 39.072.500,00. Dana tersebut ditransfer kepada Yayasan KARINA KAS yang akan disalurkan melalui Jaringan CARITAS untuk NTT. Dana sudah diterima disertai ucapan terima kasih dari pengelola Yayasan KARINA KAS. Semoga pola pendidikan kontekstual reflektif saat berbagi ini menjadi sarana insan pendidikan Kanisius, khususnya para siswa Kanisius, untuk semakin memiliki hati yang peduli. Semoga Kanisius semakin di hati anak-anak Indonesia. Kontributor: F.X. Juli Pramana – Guru dan Kepala SMK Kanisius Surakarta

Pelayanan Gereja

“Ah, nasi bungkus lagi”

Ungkapan tersebut dapat memiliki makna berbeda ketika disampaikan oleh seseorang dalam situasi yang berbeda pula. Mungkin hal itu menjadi ungkapan kekecewaan ketika nasi bungkus itu diterima oleh seorang anak yang terbiasa makan KFC, McD, burger, pizza atau makanan cepat saji lainnya. Meskipun sama-sama terbeli, namun konotasi nasi bungkus bagi mereka adalah makanan murahan dan tidak enak. Sebaliknya, ungkapan tersebut dapat menjadi ungkapan syukur ketika nasi bungkus itu diterima oleh seorang anak yang sedang membantu kedua orang tuanya mencari nafkah. Gerakan Berbagi Nasi Jakarta Selama bulan Ramadhan, Gerakan Berbagi Nasi Jakarta dijalankan melalui jalur koordinasi dengan Kecamatan, Kelurahan, RW, dan RT setempat. Dalam salah satu kesempatan, pada 6 Mei 2021 yang lalu, umat Paroki St. Robertus Bellarminus-Cililitan bergabung dengan rekan-rekan LMK, Pengurus RT-RW, ibu-ibu PKK serta ibu-ibu Kader RW 01 Kelurahan Kramat Jati bersama-sama menjalankan Gerakan Berbagi Nasi Jakarta. Meski sejak siang hingga sore hari diguyur hujan, namun hal itu tidak mengendorkan semangat untuk berbagi. Tepat pada pukul 16.30 WIB, bertempat di depan Mushola Al-Huda, ibu-ibu mulai menghentikan sepeda motor atau pejalan kaki yang lewat di Jalan Kelapa Gading III. Tidak semua kendaraan bermotor yang lewat dihentikan., Pilihan dijatuhkan pada mereka yang berprofesi sebagai ojek online atau mereka yang menggunakan masker dengan benar. Begitu pula dengan beberapa pemulung yang lewat.  Hanya yang bermasker yang dihentikan. Pada awalnya mereka sedikit bingung karena dihentikan di antara kerumunan. Namun saat disodorkan dan menerima nasi bungkus, yang terdengar adalah ucapan terima kasih dan terlihat pula gurat senyuman dibalik masker yang dikenakannya. Sukacita berbagi Sekitar 200-an nasi bungkus selesai dibagikan saat menjelang adzan Maghrib sebagai tanda berbuka puasa. Ada canda tawa, ada rasa lega dan ada pula sukacita sepanjang waktu membagikan nasi yang diiringi gerimis kecil. Keterlibatan umat Paroki St. Robertus Bellarminus – Cililitan sore itu, menjadi hal yang tidak biasa.  Biasanya kami hanya bisa mengucapkan selamat berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi kali ini kami juga mengucapkan selamat berbuka puasa. Sukacita, keakraban, silaturahmi, serta kebersamaan dalam keragaman inilah yang dirasakan. Dan di balik itu semua, kita senantiasa  sadar bahwa “sebungkus nasi tidak akan mengubah kehidupan mereka, tapi sebungkus nasi dapat mengajarkan pada kita cara bersyukur dan lebih peka terhadap sesama.” (Slogan Gerakan Berbagi Nasi Jakarta) Kontributor : KOMSOS Paroki Cililitan.