MARIA DELLA STRADA : Mendekatkan kepada Sang Putera, menyatukan kepada Allah Bapa (Bagian 1)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Oleh: L. A. Sardi S. J.

Tulisan ini menyajikan penjelasan tentang Maria della Strada dalam hubungannya dengan hidup rohani St. Ignatius Loyola. Perjalanan rohani St. Ignatius diwarnai oleh kehadiran Bunda Maria; mulai dari awal pertobatannya hingga saat terakhir ketika berada di Roma. Maria della Strada (bahasa Italia) berarti Maria Sang Jalan atau Maria pelindung jalan. Gagasannya adalah bahwa Maria melindungi jalan-jalan kota Roma. Tetapi akhirnya juga berarti melindungi ‘pejalan’, ‘peziarah’, atau orang-orang yang melewati jalan itu sehari-hari.

Gagasan lain adalah tentang harapan bahwa orang-orang bisa berhenti sejenak di tengah-tengah perjalanan lalu berdoa sebentar di kapel itu. Pemahaman lain, dalam praktik sehari-hari, orang-orang katolik Italia seringkali sebelum bepergian  jauh (menggunakan mobil, bus, atau angkutan umum lainnya) selalu berdoa “Maria della Strada, doakanlah kami.” Dalam hal ini, “Maria della Strada” juga bisa diartikan sebagai “Maria pelindung orang-orang yang sedang di jalan (dalam perjalanan), doakanlah kami.” Pemaknaan-pemaknaan ungkapan tersebut mau menunjuk kebenaran bahwa Bunda Maria menyertai perjalanan. Bila ungkapan tersebut kita gunakan untuk memahami pengalaman rohani St. Ignatius, yang menyebut diri sebagai peziarah, akan menjelaskan kenyataan bahwa St. Ignatius merasakan disertai, dikuatkan, dijaga, dan dibimbing dalam peziarahan hidupnya.    

Itulah mengapa selanjutnya, peranan Maria terus disadari sebagaimana nampak misalnya dalam rumusan doa persembahan penting dalam Latihan Rohani, “O, Tuhan semesta abadi, dengan kurnia dan pertolongan-Mu, kuhaturkan persembahanku di Kebaikan-Mu yang tak terhingga, di hadapan Bunda-Mu teramat mulia dan sekalian Santo-santa istana surga …” (Latihan Rohani 98); dan ada dalam pengucapan kaul para jesuit, “… berkaul kepada keagungan Ilahi-Mu di hadapan Perawan Tersuci Maria dan segenap penghuni surga, …” (Konstitusi S. J., 527). Mau ditegaskan bahwa sejak awal pertobatannya, saat berziarah jalan kaki tanpa bekal ke Yerusalem maupun dalam mengemban pemerintahan Serikat dan karya-karyanya Ignatius mengalami dukungan Bunda Maria.

Ibarat dalam perjalanan, Maria selalu di jalan yang ditempuh Ignatius. Dalam tradisi katolik keluarga Loyola, Ignatius sendiri sudah melihat kehadiran Maria sejak kecil. Di rumahnya ada gambar Maria menerima kabar gembira yang dibawa oleh kakak ipar, Magdalena Arraoz. Gambar ini pemberian dari ratu Elisabeth Katolik oleh karena kedekatan Magdalena dengan sang ratu. Suku bangsa Bask sendiri memiliki tenmpat peziarahan Maria Arranzazu, ke sana pertama kali Ignatius mengawali peziarahannya setelah bertobat. Tidak jauh dari rumah Ignatius ada tempat doa yang bernama Ermita Nuestra Señora de Olatz.

  1. Maria della Strada1

Bisa kita ketahui riwayat Maria della Strada menjadi pelindung Serikat Yesus dan selanjutnya disebarluaskan oleh para jesuit di banyak tempat. Riwayat tersebut pertama-tama terkait dengan kedatangan Ignatius dan sahabat- sahabatnya dalam mempersembahkan diri kepada Gereja di bawah Paus di Roma yang juga merupakan asal usul kelahiran Serikat Yesus. Maria della Strada adalah gambar Maria yang pertama kali dihormati di dalam Serikat Yesus yang baru lahir. Lebih daripada itu Maria della Strada diperingati secara liturgis oleh Serikat Yesus pada tanggal 24 Mei. Peringatan liturgis ini merupakan kesempatan    rohani bagi para jesuit dan banyak rekannya untuk menyadari bahwa mereka itu hidup sebagai peziarah seperti diinspirasikan oleh St. Ignatius Loyola, sang peziarah dalam Tuhan.

Tercatat bahwa keberadaan Maria della Strada dimulai pada tahun 425. Pada tahun itu keluarga Astalli yang membangun tempat suci Bunda Maria di kota tua Roma. Bunda Maria yang ditempatkan di situs tersebut disebut “Madonna degli Astalli”. Selanjutnya di tempat doa yang didirikan oleh keluarga Astalli ini dipasang gambar Madona della Strada atau Maria della Strada hasil karya anonim dari seni aliran roma antara abad XV dan XVI.

Ignatius dan teman-temannya tiba ketika tempat suci Bunda Maria itu sudah menjadi Maria della Strada. Mereka dikenal oleh banyak orang karena semangat merasul dan karya-karyanya, kendati belum merupakan Serikat yang disetujui Paus. Ignatius dan teman-temannya tinggal dekat Maria della Strada dan sering berkotbah dan merayakan ekaristi di gereja Maria della Strada. Setelah Serikat disahkan oleh Paus Paulus III pada tahun 1540, gereja Maria della Strada diserahkan kepada Serikat Yesus oleh Paus yang sama pada bulan Februari 1541.

Pedro Codacio, seorang imam diocesan yang bergabung dengan Serikat Yesus dan merupakan jesuit Italia pertama ditugaskan untuk bekerja di Gereja tersebut. Pada tahun 1568, Kardinal Alessandro Farnese memulai membangun Gereja Gesú di Roma, sebagai gereja induk para Jesuit. Ketika gereja Maria della Strada dirobohkan, selanjutnya gambar Maria della Strada ditempatkan dalam salah satu kapel Gereja Gesú. Sejak itu sampai sekarang di dalam gereja del Gesú terdapat kapel Maria della Strada. Mulai tahun 1551 Gereja del Gesú menjadi tempat keberadaan Jendral Serikat hingga Serikat dibubarkan pada tahun 1773.

Penempatan Maria della Strada dalam konteks ke-jesuitan bisa diterangkan dari sisi inspirasi strategis yang meriwayatkan kerohanian Serikat Yesus yang diwariskan oleh St. Ignatius. Gereja Gesú dibangun dan dipersembahkan untuk Bapa, Santa Maria dan Yesus. Dalam Gereja Gesú María della Strada ditempatkan di antara dua altar, yaitu altar St. Ignatius dan altar besar Nama Yesus.

Penempatan demikian ini mau menegaskan peranan Santa Maria dalam peziarahan untuk didekatkan kepada Yesus Sang Putera dan disatukan kepada Bapa. Setidaknya demikian yang terjadi pada St. Ignatius dan demikian diharapkan dialami oleh para jesuit dan rekan-rekan kerjanya: Didekatkan dengan Sang Putera, disatukan dengan Allah Bapa.

Selain itu penempatan Maria della Strada juga bisa dijelaskan dengan arsitektur Gereja Gesú beserta ikon-ikonnya. Dalam keutuhan arsitektur dan ikon-ikon yang ada di Gereja Gesú mau ditunjukkan gagasan penting tentang triple coloqui atau wawancara tiga pribadi yang diajarkan oleh St. Ignatius dalam Latihan Rohani atau sering disebut Retret Agung atau Retret Sebulan2. Dalam Latihan Rohani St. Ignatius menganjurkan supaya terkait dengan permohonan-

permohonan penting dan istimewa, melakukan doa triple coloqui atau wawancara dengan tiga pribadi. Mohon kepada Maria supaya mendapatkan rahmat dari Sang Putera dan Tuhannya; mohon kepada Sang Putera supaya Ia memperolehkan rahmat yang dimohon: mohon yang sama kepada Bapa agar Bapa sendiri mengabulkan rahmat yang dimohon (Bdk. Latihan Rohani 147).

Pada tahun 1638 Maria della Strada diresmikan secara kanonis dan makin dihormati oleh banyak pengunjung. Penghormatan ini mendorong Paus Leo XIII pada tahun 1890 menetapkan pesta liturgis Maria della Strada pada tiap 24 Mei kepada Serikat Yesus. Melalui banyak jesuit di seluruh dunia Serikat Yesus menyebarkan pesta liturgis ini dengan membagikan inspirasi rohaninya. Tidak sedikit kapel, tempat di lingkungan Serikat atau kelompok karya yang selanjutnya menggunakan nama Maria della Strada. Saya masih ingat di Seminari Mertoyudan ada satu kapel yang bernama kapel Maria della Strada. Di Jakarta, Tangerang dan Bekasi sudah ribuan anak mendengar dan menyebut nama Maria della Strada karena mengalami pendidikan di bawah Yayasan Strada.

  1. Kehadiran Maria dalam perjalanan rohani St. Ignatius Loyola

Seperti telah disebut di atas, Maria della Strada memiliki sejarah keberadaannya. Sejak abad ke XVI makna dan inspirasi keberadaan Maria della Strada melekat dengan kisah kerohanian St. Ignatius Loyola. Peranan Bunda Maria dalam hidup Ignatius terutama terkait dengan pertobatan dan perjalanan pembentukan kerohaniannya.3 Berikut ini disampaikan jejak-jejak peranan kehadiran Bunda Maria dalam perjalanan rohani Ignatius sebagai peziarah di samping Maria della Strada yang sudah dipaparkan di atas: Loyola, Arranzazu, Montserrat dan la Storta.4

  1. Loyola: awal pertobatan5

St. Ignatius dilahirkan di Loyola. Tetapi bagi Ignatius, Loyola bukan hanya menandai kelahirannya dari rahim ibu dan keluarga Loyola. Loyola bagi Ignatius adalah tempat dan saat dilahirkan kembali dalam arti bertobat dan mengarahkan dan mengorientasikan hidupnya untuk Sang Raja Abadi mengikuti teladan para kudus. Sebelumnya Ignatius adalah seorang tentara dengan cinta-cinta tinggi, mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengabdi sang raja duniawi dengan ambisi menjadi orang ternama di lingkungan kerajaan Spanyol. Tetapi Allah juga bekerja dan punya rencana. Melalui pengaruh bacaan dua buku Hidup Kristus (Vita Christi) dan Kehidupan Para Kudus (Flos Sanctorum) Ignatius berubah pikiran dan rencana. Ignatius menemukan Sang Raja Abadi, yaitu Allah dan Ignatius ingin mengabdi-Nya sebagai tentaranya seperti para kudus.

Pada momen-momen ini Bunda Maria hadir dalam sebuah penampakan. Muncul dalam penampakan. Bunda Maria hadir bersama kanak-kanak Yesus. Visiun ini dimaknai sebagai peneguhan atas kesadaran baru; meneguhkan kelahiran kembali untuk lebih mengikuti dan mengabdi Tuhan seturut teladan para kudus. Ignatius mengalami hiburan rohani dan dikuatkan membayangkan rencana baru. Keluarga Ignatius sendiri memiliki gambar Maria menerima kabar gembira dari malaekat Tuhan. Tidak jauh dari rumahnya ada tempat doa la Ermita Nuestra Señora de Olatz (Tempat Doa Bunda Maria Olatz), satu dari beberapa tempat doa di wilayah tinggal Ignatius. Ignatius kecil sering berdoa di tempat ini.

Selain itu, di Loyola di awal ketersentuhannya oleh bacaan rohani, Ignatius dalam rangka memelihara suasana rohani alam batinnya menyalin kata-kata Yesus dan Maria. Kata-kata Yesus ditulis dengan tinta merah dan kata-kata Maria ditulis dalam tinta biru.

  1. Aránzazu: mohon kekuatan dalam kaul kemurnian

Ignatius meninggalkan Loyola dengan semangat baru dan rahmat pertobatan. Ignatius keluar dari Loyola sebagai seorang peniten. Dengan mengingat teladan dan inspirasi para kudus Ignatius berketetapan melakukan peziarahan ke Yerusalam sebagai bagian dari tapa denda atas dosa-dosanya (the penitential pilgrimage). Pikiran dan hatinya dipenuhi oleh ideal tapa denda dan matiraga sebagai cara menyucikan diri dan menyukakan hati Tuhan. Dalam suasana  rohani demikian itu Ignatius pergi ke Aránzazu artinya dia – dalam hal ini Maria – yang datang dari semak berduri), tempat ziarah Maria untuk orang-orang  Bask. Di Aránzazu Ignatius mengucapkan kaul kemurnian dengan maksud supaya kemurnian terjaga terus. Autobiografi mencatat bahwa Ignatius di Aránzazu untuk memohon kekuatan baru untuk perjalanannya (Autob. 13).

Demikian penting pengalaman ini sehingga 32 tahun kemudian ketika bercerita kepada temannya masih diingat dengan segar, terutama pengalaman memohon  pertolongan Bunda Maria untuk rencana hidup baru.6

  1. Montserrat: penyerahan diri dan memulai hidup baru7

Pada waktu Ignatius datang ke Montserrat, tempat tersebut sudah menjadi tempat ziarah Maria yang terkenal. Tempat ziarah Maria yang pada mulanya hanya dikunjungi oleh orang.orang Catalan (Barcelona) sudah menjadi peziarahan Gereja dan semakin terkenal luas, baik oleh karena patung Maria hitam yang ada di sana maupun keberadaan biara benediktin yang berperan dalam pembaharuan kerohanian Gereja. Ignatius berada di tempat tersebut selama tiga hari. Di Montserrat Ignatius mengakukan dosa-dosa dan mendapat bimbingan rohani dari seorang rahib benediktin, Juan Chanones. Kepada pembimbing inilah pertama kali Ignatius menceritakan rencana dan pengalaman rohaninya.

Ignatius melakukan doa sepanjang malam di hadapan Maria di gereja biara Montiserrat. Kadang berdiri dan kadang berlutut. Tepatnya dilakukan pada malam menjaeang hari raya Maria menerima kabar gembira, 25 Maret 1523.

Peristiwa berjaga semalam ini menandai perubahan mendalam cara hidupnya.8 Ignatius berketetapan untuk memulai hidup sebagai peziarah miskin. Ignatius mengenakan “senjata dan pakaian Kristus.” Ditinggalkan pakaian, pedang, dan kuda. Pedang diserahkan kepada petugas sakristi, kuda ditinggalkan di biara, dan pakaian diberikan kepada orang miskin. Langkah-langkah hidup baru mulai nyata. Dari Montserrat Ignatius mengenakan pakaian karung dan mengemis. Bunda Maria menjadi peneguhan sekaligus tempat menyerahkan diri dan mohon perlindungan jalan hidup baru.

  1. Monmartre: berkaul bersama teman-temannya

Dari Loyola, Montserrat melalui Barcelona Ignatius berziarah ke Yerusalem. Perjalanan ziarah ke Yerusalem telah memperkaya dirinya dengan kesadaran baru, bukan hanya peziarahan jalan kaki dengan mengemis, tetapi juga peziarahan ke kedalam batin hidupnya dan peizarahan membantu keselamatan sesama. Bahkan rencana ziarah ke Yerusalem yang semula dimaksudkan sebagai bagian dari penitensi dosa-dosa masa lalu berkembang menjadi rencana menetap di sana untuk merasul. Ignatius bisa sampai ke Yerusalem dan merasa demikian bahagia, tetapi gagal untuk menetap di sana Rencana baru yang muncul adalah studi, supaya semakin bisa membantu sesama. Rencana studi ini semakin diteguhkan oleh beberapa pengalaman dilarangnya mengajar dan memberi katekese serta membimbing orang karena belum belajar teologi. Akhirnya Ignatius belajar teologi di Paris dan di sana mendapat teman-teman baru. Dua teman pertama adalah Santo Fransiskus Xaverius dan Santo Petrus Faber. Mereka adalah tiga orang pertama dalam Serikat Yesus. Selanjutnya mendapat empat teman lainnya. Ignatius bersama 6 temannya Ignatius berkaul di Montmartre.

Dipilih tanggal 15 Agustus, hari Raya Maria diangkat ke Surga. Isi kaul mereka adalah kemiskinan dan berziarah bersama ke Yerusalem. Kaul untuk berziarah bersama ke tanah suci dan Yerusalem itu memiliki catatan bahwa bila tidak bisa mememenuhinya mereka akan mempersembahkan diri kepada Gereja di bawah Paus di Roma. Begitulah yang terjadi Ignatius dan teman-teman tidak berhasil berziarah bersama ke Yerusalem dan sebagai gantinya menemukan Yerusalem baru, yaitu Roma. Di sana Serikat dilahirkan dan disetujui. Serikat yang lahir di Roma ini memiliki cikal bakal di Montmartre ketika kelompok tujuh orang yang disatukan oleh inspirasi rohani rasuli dan cita-cita bersama berkaul bersama. Kalau dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus. Seakan mau menegaskan juga ketika sudah bersama teman-temannya, Bunda Maria menyertai perjalanan Ignatius.

  1. La Storta: ditempatkan di samping Yesus

Pada tahun 1535 Ignatius meninggalkan Paris untuk berkunjung ke Loyola. Pada tahun 1536 enam teman Ignatius yang berada di Paris mendapat tiga tambahan teman. Mereka menjadi sembilan dan Ignatius menyebut mereka “Sembilan sahabat saya dalam Tuhan.” Sembilan orang itu berjalan kaki dari Paris menuju Venesia dan bertemu Ignatius di Venesia yang juga berjalan kaki dari Spanyol. Pada tahun 1537, tepatnya tanggal 24 Juni mereka ditahbiskan. Seperti saya sebut sebelumnya mereka tidak berhasil berziarah bersama ke Yerusalem. Para imam lulusan Universitas Paris itu mempersembahkan diri kepada Paus. Mereka berjalan dalam kelompok.

Dalam perjalanan menuju Roma, Ignatius bersama Petrus Faber dan Diego Lainez. Kira-kira 15 km dari Roma, Ignatius berhenti sesaat di sebuah kapel, la Storta. Di tempat ini Ignatius mengalami penampakkan Kristus yang sedang memanggul salib di pundak-Nya. Didengarnya dari Allah Bapa yang berada di dekat Yesus yang memanggul salib itu kata-kata ini, “Aku ingin Engkau memilih orang ini menjadi pelayan-Mu.” Dan Yesus menerima Ignatius dan berkata, ”Aku ingin engkau melayani Kami.” Peristiwa ini sering dijelaskan dengan mengingat kerinduan Ignatius untuk ditempatkan di samping Yesus Sang Putera. Ignatius memohon rahmat tersebut terus menerus melalui Bunda Maria. Penampakan Yesus yang memanggul salib di la Storta ini dimaknai sebagai dikabulkannya permohonan Ignatius. Dan itu terjadi ketika Ignatius sudah bersama teman- temannya. Artinya, makna disatukan dengan Kristus yang tersalib juga berlaku bagi teman-teman Ignatius dan selanjutnya para jesuit maupun siapa saja yang mau meneladan St. Ignatius.

Demikian terang benderang peranan kehadiran Bunda Maria dalam perjalanan St. Ignatius dan selanjutnya Ignatus bersama teman-temannya. Bila dicermati secara teliti, peranan Maria hadir nyata dalam pelbagai situasi. Selain menjadi peneguh dan penopang kekuatan, Maria juga dirasakan menginspirasi oleh karena Maria hadir menyertai seluruh perjalanan hidup Yesus. Dalam perjalanan rohani St. Ignatius, Maria bukan hanya perantara permohonan tetapi juga teladan kedekatan dengan Yesus. Dan untuk itu St. Ignatius memohon kedekatan yang sama: didekatkan dengan Yesus dan disatukan dengan Bapa dalam perziarahan peristiwa hidup.

Catatan Kaki:

1http://forosdelavirgen.org/96/nuestra-senora-del-camino-madonna-della-strada-italia-24-de-mayo/ dan http://www.acodesi.org.co/es/index.php?option=com_content&view=article&id=1091%3A24-de-mayo-fiesta-de-nuestra-senora-del-camino&Itemid=156

2 Latihan Rohani 30 hari atau Retret Agung dilakukan setidaknya dua kali selama hidup oleh para jesuit. Yang pertama dilakukan di Novisiat (pembinaan awal dan dasar dari seorang jesuit). Yang kedua dilaksanakan pada saat tersiat (pembinaan formal yang terakhir dan dilaksanakan setelah belasan berada dalam Serikat Yesus). Retret Agung ini merupakan cara untuk menyerap warisan rohani St. Ignatius dan retret ini diulang oleh para jesuit dalam retret tahunan selama 8 hari.

3 Pedro Arrupe, “Maria Madre de la Compañía de Jesús”, en Comisión Liturgica de la Compañía de Jesús, Semblanzas Espirituales de los Santos y Beatos de la Compañía de Jesús, Madrid: Eapsa, 1974, 77.

4 Bdk. Simon Decloux, Nuestra Señora en la Espiritualidad Ignaciana, CIS – Centrum Ignatianum Spiritualitatis, 19 (1988), 19-54.

5 “Pampelona – Loyola”, dalam Luis Goncalves da Camara, S. J., Wasiat dan Petuah St. Ignatius, (Terjemahan oleh Tom Jacobs S. J.), Yogyakarta:Kanisius, 1996, no. 1-11.

6 Simon Decloux, ibid., 27

7 Wasiat dan Petuah St. Ignatius, no. 13-18.

8 C. E. O`Neill, “Devoción a Maria”, Diccionario Histórico de la Compañía de Jesús, II, Madrid/Roma: Universidad Pontificia Comillas/Institutum Historicum S.I., 2001, 1104.

Sumber Foto: Our Lady of the Way, Late medieval mural Church of the Gesù, Rome (https://www.americamagazine.org/faith/2009/12/21/dramatic-restoration-madonna-della-strada)