Pilgrims on Christ’s Mission

Kuria Roma

Sang Pendoa

Homili P Peter Hans Kolvenbach (30 November 1928 – 26 November 2016), Jesuit Belanda-Jenderal Serikat Jesus ke-29, pada Pesta Santo Ignatius di Gereja Gesu, Roma 31 Juli 2002 Merayakan pesta Santo Ignatius hari ini bersama dan di dalam Gereja, membuat kita sangat menyadari bahwa pribadi yang kita rayakan ini bukan saja seorang santo besar tetapi juga santo yang terkadang tampak sedikit misterius. Kemisteriusan ini mencakup hidup doanya. Sejak pertobatannya, Ignatius benar-benar seorang pendoa. Sumber kehidupan apostoliknya adalah perayaan Ekaristi yang sungguh-sungguh setiap hari. Sakramen cinta kasih terbesar inilah – sebagaimana ia sebut sebagai liturgi ilahi – mengilhami seluruh aktivitas hidup dan perutusannya. Dalam persatuan dengan Gereja, ia rajin mendoakan brevir dan secara khusus memuliakan Santa Perawan, mendaraskan doa-doa ofisi, dan dengan rosario di tangan, ia merenungkan misteri hidupnya. Ia berdialog dengan setiap pribadi Tritunggal selama jam-jam doa dan dengan setia melakukan pemeriksaan batin. Semua ini tidaklah ia lakukan sebagai teknik meningkatkan kualitas moral hidupnya, tetapi semata-mata demi menjaga pandangannya ke hadirat Tuhan dalam segala hal. Jadi, ia melulu mengambil keputusan di hadapan Tuhan atau lebih tepatnya di dalam Tuhan. Setiap keputusan dalam hidupnya selalu didahului, diliputi, dan diperluas dalam doa. Ignatius tidak mau melakukan apa pun selain yang tampak baik dan bermanfaat di dalam Tuhan, dan – menurut penilaian Yesus (misteri hidup yang tak henti-hentinya ia renungkan) – demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Dari semua hal yang terjadi seolah-olah Ignatius menganggap bahwa setiap ungkapan doa – baik doa lisan yang sederhana, pemeriksaan batin yang sangat rendah hati, perenungan yang mendalam akan misteri Kristus, maupun bacaan rohani tentang peristiwa-peristiwa dalam hidupnya – dapat menjadi sangat mistis. Benar-benar dikuasai oleh Roh di mana kita hanya bisa berdoa “abba Bapa.” Ignatius belajar bahwa kehidupan doa dalam kebangkitan Kristus bukanlah semata-mata usaha manusia tetapi pertama-tama adalah karunia Roh. Ia sendiri mengakui bahwa Tuhan bertindak sebagaimana seorang guru terhadap muridnya: dia mengajar. Namun Ignatius yang sama ini, seorang pendoa dan sangat mengerti bagaimana hidup dalam Roh, sering mengingatkan agar doa tidak diukur melulu berdasarkan panjangnya doa. Ia pun tidak ragu-ragu mengatakan bahwa seperempat jam sudah cukup bagi orang berdosa untuk dipersatukan dengan Tuhan dalam doa. Meskipun sebagai pendoa yang tekun, Ignatius bersikeras menggarisbawahi bahwa manusia tidak melayani Tuhan hanya melalui doa. Tulisnya, jika Tuhan memiliki hak untuk memiliki kita selengkap mungkin dan jika hanya ada doa untuk melayani-Nya, maka setiap doa akan terlalu pendek dan waktu 24 jam sehari tidaklah cukup. Tuhan terkadang dilayani dengan lebih baik melalui perjumpaan selain dengan doa dan kontemplasi. Ignatius menasihati agar kita membatasi waktu doa. Ia tidak bermaksud mencemooh doa melainkan untuk menempatkannya dalam keintiman dengan Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa kita bisa berjumpa dengan Tuhan melalui doa khusuk, namun Ia juga bisa kita jumpai dalam kesibukan kita melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Dengan cara ini Ignatius dengan cermat mengikuti Kristus, di mana untuk hidup dalam keintiman penuh kasih dengan Bapa-Nya, mengambil keadaan manusiawi kita dan menghayatinya, baik dalam kontemplasi maupun tindakan, dalam doa maupun derma. Ignatius terus-menerus menyebutkan intimitas dengan Tuhan sebagai penopang hasrat kita dalam mencari dan menemukan Dia serta mencintai dan melayani Dia dalam segala hal. Tidak diragukan lagi bahwa Ignatius memohon doa dari para pendoa, seperti juga kita saat ini, yang diutus ke jantung dunia untuk mewartakan kabar baik tentang Kristus. Tetapi daripada menghabiskan waktu untuk berkanjang dalam doa panjang, ia lebih meminta kita mewujudkan intimitas kita dengan Tuhan, baik dalam doa maupun dalam semua aktivitas kerasulan kita. Semoga Ekaristi ini menyatukan kita dalam tindakan dan kontemplasi dengan Dia yang menjadi roti Hidup dan piala keselamatan kita. Diterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari artikel The Man of Prayer https://ignatius500.global/2022/06/11/the-man-of-prayer/ 

Kuria Roma

Seri Video Berjalan Bersama Ignatius Episode 10 : Pendidikan Jesuit Sumber Kemerdekaan dan Pengharapan

Cinta diungkapkan dan ditunjukkan melalui beragam cara. Salah satunya dengan pendidikan. Mendidik berarti mencintai. Mendidik berarti mencintai dengan rasa hormat terhadap mereka yang berada di hadapan kita, menjunjung martabat mereka, dan memastikan bahwa mereka memiliki alat yang sesuai untuk menemukan segala potensi dalam diri mereka. Setiap kali kita mendidik, kita harus dapat menunjukkan kepercayaan kita terhadap kemampuan setiap orang untuk belajar dan percaya bahwa apa yang mereka terima kelak dapat digunakan untuk mensejahterakan hidup mereka sendiri, keluarga, dan masyarakat.  Setiap hari, ribuan orang, laki-laki dan perempuan di mana hidup iman mereka terinspirasi semangat Ignasian, awam dan biarawan/biarawati, termasuk para Jesuit, serta banyak orang lain yang memiliki kehendak baik, memperbarui komitmen mereka terhadap pendidikan sebagai cara pemberian hidup dalam realitas yang sangat beragam. Mereka semua memupuk semangat kerja sama demi impian Tuhan bagi kemanusiaan. Semoga kita tidak akan pernah berhenti berterima kasih kepada mereka semua yang telah bekerja sama dengan cara yang berbeda-beda dalam tugas besar mencintai sesama melalui pendidikan. Melalui pendidikan, Serikat bersama seluruh keluarga Ignasian berkomitmen terhadap kemendalaman spiritual dan intelektual menuju terwujudnya masyarakat yang lebih adil dan manusiawi, dimana persaudaraan, dialog, solidaritas, budaya perjumpaan, keterpaduan ekologi, keadilan sosial dan perdamaian, dan semua nilai seturut injil yang semakin dinyatakan dari hari ke hari dimanapun aktivitas pendidikan yang diilhami semangat Ignasian dilaksanakan. Serikat menghendaki kerja sama dalam bidang formasi manusia yang integral, yang mengembangkan anugerah dan talenta khusus dan menempatkan semua itu secara murah hati sebagai pelayanan bagi sesama, menjadi orang yang sensitif terhadap realitas dan mampu mendiskresikan apa yang paling mendukung bagi terwujudnya kebaikan, baik kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain; pendek kata, menjadi manusia bagi manusia lain dan menjadi saudara bagi sesama.  Saya mengajak Saudara sekalian untuk bekerja sama dengan Serikat dalam pelayanan pendidikan di seluruh dunia. Saya mengajak Saudara semua untuk fokus terutama pada pendidikan bagi orang-orang yang paling miskin dan paling rapuh, mereka yang sering terbuang dari sistem pendidikan formal. Tantangannya memang sangatlah besar tetapi dengan kemurahan hati, dimungkinkan lebih banyak orang dapat mengakses pendidikan yang berkualitas dan layak mereka dapatkan. Apakah Saudara sekalian berani memberikan talenta dengan penuh komitmen?  Kami mengajak Saudara sekalian untuk berdoa, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas, menggunakan poin doa pada bagian akhir bab sepuluh dari buku Berjalan bersama Ignatius yang ditulis oleh Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. (Lihat: Berjalan Bersama Ignatius karangan Arturo Sosa, S.J. terbitan P.T. Kanisius dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia, 2021 hlm. 296 – 297).

Provindo

Menggali Kelanjutan Kisah: Misi Para Jesuit di Luar Jawa Abad ke-19

Serikat Jesus Provinsi Indonesia tahun ini merayakan 50 tahun pendiriannya sebagai provinsi. S Kurang lebih seabad sebelumnya para misionaris dari Provinsi Belanda sudah mendahului hadir di Indonesia. Selama dasawarsa-dasawarsa tersebut, sejarah kehadiran para Jesuit di Nusantara berkelindan dengan sejarah perkembangan Gereja Indonesia sendiri.  Atas undangan Vikaris Apostolik Batavia Mgr. P. Vrancken, dua Jesuit Belanda pertama menjejakan kaki di Batavia pada tanggal 9 Juli 1859. Setelah mereka, datanglah menyusul para misionaris Jesuit lain yang tak sampai sepuluh tahun kemudian telah menyebar ke berbagai penjuru nusantara. Menariknya, sebelum awal abad XX, Jawa bukanlah fokus misi Jesuit. Para misionaris Jesuit ini justru membanting tulang di wilayah nusantara yaitu dari Sumatera sampai Kei dan dari Sulawesi sampai Flores Mereka mewartakan Yesus Kristus kepada masyarakat dari beragam suku dan bahasa. Masa inilah yang ditilik oleh Fr. Kefas, Fr. Tete, Pater Dam, dan Pater Hasto sebagai sebuah masa yang jarang diketahui oleh khalayak umum mengingat sudah begitu melekatnya identitas SJ sebagai “Serikat Jawa”. Tilikan tersebut dituangkan dalam webinar “Menggali Kisah: Misi Para Jesuit di Luar Jawa Abad ke-19” pada 12 Juni 2022 kemarin yang dipandu oleh Ketua Museum KAJ Ibu Susyana Suwadie.  Luasnya wilayah misi membentangkan luasnya ragam kisah para Jesuit pula. Di Sumatra, perhatian khusus diberikan pada para buruh migran pada waktu itu yang banyak berasal dari India (di Medan) dan Tionghoa (di Sungai Selan, Bangka). Di pucuk Sumatra, yaitu Aceh yang sedang dilanda perang, para Jesuit memberikan reksa rohani sebagai pastor-tentara. Di Kalimantan, para Jesuit berkarya di antara masyarakat Dayak dengan membangun gereja dan mengajarkan cara-cara pertanian. Di wilayah Minahasa, tantangan terbesar yang dihadapi para Jesuit adalah relasi dengan pemerintah kolonial yang tidak mudah dan gesekan dengan misi Protestan yang sudah hadir terlebih dahulu. Sebaliknya, di Kendari dan Kei, kegiatan misi justru sangat didukung oleh pemerintah kolonial tetapi mendapat tantangan dari raja-raja setempat yang sudah memeluk Islam. Di wilayah Flores dan Timor para Jesuit menikmati hasil manis dari misi yaitu banyaknya jumlah baptisan. Akan tetapi, pada akhirnya Serikat Jesus justru berani melepaskan wilayah tersebut pada saat “buah telah siap dipanen” dan dengan besar hati menyerahkannya pada para pater SVD untuk melanjutkan karya baik di sana. Para Jesuit menyadari bahwa mereka hanyalah para pekerja dan bukannya pemilik kebun anggur. Walau beragam, kisah-kisah para Jesuit ini menunjukkan dedikasi dan perjuangan yang luar biasa bagi perkembangan Gereja di Nusantara dan turut membentuk wajah Gereja Indonesia saat ini. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk memusatkan diri di Jawa yang waktu itu jauh dari gambaran zona nyaman dan sama artinya dengan memasuki ketidakpastian.  Narasi tersebut ditanggapi oleh Sdr. Frangky Wullur, jurnalis Berita Manado yang punya minat pada sejarah Gereja di Minahasa dan Pater A. Eddy Kristianto, OFM, dosen Sejarah Gereja di STF Driyarkara. Pater Eddy, selain memberikan berbagai catatan kritis secara akademik, juga melihat bahwa presentasi tersebut mengambil sikap kesejarahan yang tepat, yaitu tidak hanya mengagungkan masa lalu tetapi menjadi bagian dari cara merumuskan diri untuk langkah laku selanjutnya. Tanggapan Pater Provinsial juga semakin membadankan refleksi keberlanjutan kisah dengan menjelaskan arah perutusan Provindo.  Dengan kembali menilik kisah-kisah mereka, terutama pada peringatan lima puluh tahun sebagai provinsi, Provinsi Indonesia Serikat Jesus di zaman ini masih terus dapat menimba semangat pada para pendahulu. Dengan permohonan agar para Jesuit Indonesia sekarang kembali diminta kehadirannya di tempat-tempat yang dulu telah ditinggalkan, kiranya kisah para pendahulu ini dapat memberi inspirasi ketika kembali ke wilayah yang sama. Kisah di masa lalu masih belum selesai dan sekarang masih akan berlanjut. Akhir kata, dengan bahasa Pater Eddy, kita bisa memandang para Jesuit pendahulu kita tersebut sebagai mereka yang telah menunjukkan “kegigihan, keuletan, pengerahan daya-daya manusiawi setinggi mungkin yang dibalut dengan idealitas, dan mimpi-mimpi luhur mulia tentang totalitas melayani Gereja dengan menyebarkan Injil…” Kontributor : Daud Kefas Raditya, S.J. dan Teilhard A. Soesilo, S.J.

Formasi Iman

Menyambut Anggota Keluarga yang Baru

Tanggal 15 Juni 2022 adalah hari yang istimewa bagi Komunitas Novisiat St. Stanislaus Kostka Girisonta dan juga bagi Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Tujuh pemuda datang ke Novisiat dan memulai peziarahan formasi awal mereka dalam Serikat Jesus. Mereka bertujuh datang dan diantar oleh beberapa anggota keluarga mereka. Sukacita kehadiran mereka juga menjadi kesempatan bagi kami, para novis, untuk berlatih melayani dengan sepenuh hati. Harapannya, anggota keluarga baru kami dapat cepat kerasan dan nyaman dalam rumah barunya sehingga mendukung tekad bulat mereka untuk mengabdi Allah dalam Serikat Jesus. Sukacita dalam penyambutan mereka juga tidak bisa dilepaskan dari perhatian pada situasi pandemi covid yang masih tidak menentu. Meskipun keadaan pandemi tidak separah dan setinggi masa-masa sebelumnya, kami tetap menerapkan protokol kesehatan dalam acara tersebut. Protokol ini diterapkan dengan semangat untuk melindungi dan menjaga kesehatan keluarga novis baru lebih daripada kesehatan kami sendiri, walaupun kesehatan kami juga sama pentingnya. Kami berusaha agar semua keluarga yang mengantar dan juga kami tidak beresiko terpapar mengingat kami datang dari berbagai tempat. Kiranya pengalaman acara serupa di tahun sebelumnya menjadi pembelajaran yang penting bagi kami. Namun, apakah dengan adanya protokol covid ini menjadi hal yang mempersempit dan membatasi ruang interaksi kami dengan novis baru dan keluarganya, juga novis baru dan keluarganya dengan lingkungan novisiat? Tentunya tidak. Semua anggota komunitas novisiat terlibat untuk menyambut. Bahkan anggota keluarga para novis baru diberi kesempatan untuk berkeliling di kompleks Novisiat. Semua tampak antusias dan gembira. Ada keluarga yang sungguh tertarik dengan tanam-menanam, menanyakan berbagai hal mengenai tanaman-tanaman yang diolah di sawah, green house, dan kebun, bahkan ada yang memetik dan meminta beberapa tanaman novisiat untuk dibawa pulang. Ada keluarga yang sungguh terkesan dengan area dalam novisiat, melihat kebun dan halaman dalam, bahkan karena melihat sekilas kerapian kamar tidur (dormit) dan ruang kubikel (ruang komunitas basis) yang digunakan oleh para novis. Masing-masing keluarga mempunyai kesannya masing-masing dalam berkeliling area novisiat. Acara penyambutan ditutup dengan perjumpaan novis baru beserta keluarga dengan Pater Magister dan Socius Magister. Kesempatan menyambut kedatangan para novis baru ini menjadi kesempatan berharga dalam membangun persaudaraan sebagai satu keluarga dalam Serikat Jesus. Anggota keluarga baru yang kami dapatkan bukan hanya para novis baru tetapi juga keluarga mereka. Dengan semakin saling mengenal, entah itu pribadi maupun tempat, harapannya kami dapat saling mendukung proses menjesuit dan pengabdian kepada Allah. Kontributor : Agustinus Satria Bagus D.S., nS.J.

Formasi Iman

Pelayanan yang Membuahkan Persahabatan

Tujuh orang novis mengikrarkan kaul pertama mereka di dalam Serikat Jesus, setelah menjalani formasi novisiat selama dua tahun, pada Sabtu, 25 Juni 2022. Para kaules mengikrarkan kaul-kaulnya dalam perayaan ekaristi yang dihadiri oleh keluarga kaules, nostri, dan para skolastik baru dari Myanmar, Pakistan, dan Thailand. Perayaan Ekaristi ini dipimpin langsung Pater Provinsial Benny didampingi oleh Pater Magister Sunu dan Pater Superior Yumartana. Gelora semangat perayaan ini didukung pula oleh koor dari siswa-siswi SD Kanisius Girisonta yang menyanyikan lagu-lagu perayaan ekaristi dengan merdu dan indah.  Kamulah Sahabat-sahabat-Ku. Itulah tema yang dipilih oleh Frs. Andre, Michael, Neno, Feliks, Petrus, Hari, dan Yohan untuk kesempatan berharga ini. Mereka bertujuh merefleksikan bahwa “… kami bukanlah manusia-manusia ampuh. Namun sekuntum lembut panggilan-Nya telah menjadi curahan kasih yang amat besar, semerbak di hati kami hingga kami tak mengingini apapun lagi selain penyerahan diri di tangan-Nya. Melalui lembaran ini, kami hendak berbagi tentang segenggam harum manis cinta Tuhan bagi kami, sahabat-sahabat-Nya yang rapuh ini. … Dia menyebut kami sahabat. Banyak kerapuhan, pergulatan dan ketidak-ampuhan kami diterima dan diampuni. Hingga kami pun bisa bersahabat dengan diri kami apa adanya. Serikat Jesus telah menjadi sahabat kami juga. Kami dibantu dan didukung mendiskresikan inti panggilan kami untuk mengabdi Dia lebih sungguh dalam segala. … kami mantap berlantang merdu mengungkapkan janji setia kami kepada Yesus sahabat kami yang tergantung di Salib. Kasih seorang sahabat yang memberikan nyawa-Nya ini, kami mohonkan mewujud pula di dalam perjalanan kami menghayati hidup kaul bersama Dia.” Dalam homilinya, Pater Benny juga mengingatkan pentingnya persahabatan dalam hidup menjesuit. Hanya sahabat kita yang bisa menanggung kerapuhan kita. Beberapa probasi selama di Novisiat telah menjadi miniatur sekaligus bukti kebenarannya. Setelah perayaan Ekaristi para skolastik baru mendapat kesempatan untuk bertemu dengan keluarga mereka, melepas rindu, dan bergembira bersama. Banyak rasa syukur yang muncul karena peristiwa hari ini. Bagi kami para novis, kesempatan ini menjadi latihan bagi kami untuk melayani kaules sebagaimana mereka telah terlebih dahulu melayani kami. Harapannya, kami dapat terus saling melayani dan menghidupi semangat pelayanan ini dalam tugas perutusan selanjutnya. Kehadiran para skolastik dari Myanmar, Pakistan, dan Thailand juga memberi suasana baru dan menambah wawasan universalitas Serikat bagi kami para novis. Kami senang bisa saling mengenal dan bercerita satu sama lain. Meskipun sesekali terkendala bahasa, kami tetap berusaha saling menghormati dan melayani. Sesekali kami saling menertawakan meskipun kami tidak paham apa yang kami tertawakan. Kami bersyukur karena sebagai tuan rumah kami mendapat kesempatan untuk melayani mereka dan mengembangkan hospitalitas kami. Kelancaran acara dan persahabatan dalam perjumpaan-perjumpaan baru yang menggembirakan menjadi buah dari pelayanan, proses memberikan diri untuk orang lain (for others). Ketika orang mampu melayani dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati maka orang di sekitarnya pun merasakan buah sukacita. Dari pengalaman ini, ternyata, pelayanan membuahkan sukacita baik bagi yang dilayani maupun yang melayani. Tentunya mengembangkan semangat pelayanan seperti ini tidak hanya diperlukan dalam acara-acara penting dan besar saja tetapi juga harus membadan dalam pilihan tindakan hidup sehari-hari. Kontributor : Christoforus Kevin Hary Hanggara, nS.J.

Karya Pendidikan

SMA Kolese Loyola Juara ICYSS

Gisela Valeriena Bara dan Maria Rosari Yenas kembali mempersembahkan prestasi bagi SMA Kolese Loyola. Gisela dan Maria berhasil merebut peringkat pertama (Gold Medal) dalam kompetisi riset pelajar tingkat Internasional bertajuk International Conference of Young Social Scientists (ICYSS) di bidang sejarah (History). Kompetisi ICYSS digelar di Belgrade, Serbia secara daring pada 19-23 Mei 2022. Kedua siswi kelas XI yang aktif dalam Organisasi Hobi Riset Pelajar ini, sukses mengangkat riset sejarah dengan judul “Lumpia Semarang Guides Peace: A Result of Creative Minorities Acculturation against Ethnic Intolerance in Kampung Brondongan, 1870-2017.” Riset tersebut di bawah pendampingan guru sejarah Bapak Joseph Army Sadhyoko. “Riset ini meneliti asal muasal lumpia Semarang yang berasal dari Kampung Brondongan sekaligus mengingatkan kembali makna keberadaan lumpia bagi masyarakat Semarang. Lumpia Semarang tidak hanya sekadar makanan ringan (snack) yang dikemas menjadi oleh-oleh belaka, akan tetapi dibaliknya terkandung pula makna historis tentang perdamaian, kerukunan, dan semangat pantang menyerah yang terwariskan hingga saat ini.

Pelayanan Gereja

Tilik Bongsari Lagi

Pandemi Covid-19 yang menimpa negara-negara di seluruh dunia tentu membawa perubahan situasi dan kebiasaan. Awalnya, masyarakat perlu membiasakan diri untuk bekerja dan belajar dari rumah dan melakukan komunikasi secara online. Kini, setelah situasi berangsur membaik, OMK Paroki Santa Theresia Bongsari berupaya untuk mengembalikan gelora anak muda untuk kembali mengikuti kegiatan dan bertemu secara fisik di gereja.  OMK berhasil mengorganisasi EKM untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda pada Oktober 2021. Setelah EKM ini, setelah Misa Kenaikan Tuhan ke Surga 26 Mei 2022, para OMK dari lingkungan dan wilayah bersama pendamping berkumpul di Aula Theresia. Berawal dari sapa-menyapa dan berkenalan satu sama lain muncullah niat untuk mengadakan beberapa kegiatan. Pater Eduardus Didik Cahyono, S.J. selaku Pastor Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa Gereja akan selalu mendukung anak-anak muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan. Melalui kegiatan ini, anak muda juga dapat menanamkan sikap tanggung jawab atas apa yang telah mereka inisiasi dan lakukan. Kegiatan ini membawa sebuah benih refleksi bahwa memang tidak mudah mengembalikan semangat anak muda untuk kembali aktif dalam kegiatan-kegiatan di gereja setelah pandemi. Diperlukan pendekatan untuk merangkul mereka sehingga menggugah dan menghidupkan semangat untuk terlibat yang menular kepada anak muda lainnya. Kontributor : OMK Paroki Santa Theresia Bongsari

Penjelajahan dengan Orang Muda

Rehat Sejenak, Ngobrol Bersama, agar Hidup Tidak Terlewat Begitu Saja

Setiap Jumat Podcast Podcast, Playable on Demand (POD) dan broadCAST, adalah salah satu media digital yang digandrungi oleh kaum muda saat ini. Kemudahan akses audio-video melalui berbagai aplikasi dan tersedianya obrolan dengan topik yang beragam membuat podcast menjadi pilihan yang nyaman dan menyenangkan, baik saat berpergian maupun saat menikmati waktu luang. Memanfaatkan media ini, Serikat Jesus Provinsi Indonesia kembali meneruskan proyek Setiap Jumat Podcast yang sudah diprakarsai sejak akhir tahun 2019. Setiap Jumat Podcast (SJP) mencoba melihat kembali pengalaman hidup sehari-hari dengan kacamata Spiritualitas Ignasian dan sedapat mungkin mengambil makna berupa konkretisasi (tips and tricks) yang bermanfaat. Berbeda dengan season sebelumnya, SJP Season 2 ini merupakan proyek kolaborasi antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia dengan Komunitas MAGIS Indonesia dan para OMK Paroki Jesuit. Mempertimbangkan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, seluruh proses produksi SJP Season 2 ini dilakukan secara virtual dari masing-masing domisili anggota tim SJP yang tersebar-luas di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Kalimantan. Episode SJP Season 2 tayang dua minggu sekali setiap hari Jumat melalui berbagai platform, seperti Anchor, Spotify, dan aplikasi radio Katolikana & e-Katolik.  Walaupun mungkin terkesan berat, Spiritualitas Ignasian nyatanya sangat aplikatif membantu seseorang dalam memaknai peristiwa hidupnya sehari-hari. Dua puluh empat episode SJP Season 2 membahas berbagai fenomena yang juga menjadi keprihatinan Gereja, seperti toleransi akan keberagaman, kesehatan mental, panggilan, dan pilihan hidup. Untuk semakin memperkaya obrolan, SJP Season 2 telah melibatkan kurang lebih 17 kolaborator yang berasal dari Serikat Jesus dan berbagai komunitas awam sebagai narasumber. Pada 14-15 Mei 2022 di Bandung, Tim SJP mengadakan Malam Keakraban (Makrab) sekaligus Evaluasi Terakhir Season 2 ini. Perjumpaan tersebut merupakan kali pertama anggota tim SJP bertemu satu sama lain secara langsung setelah hampir satu tahun hanya dapat bertemu secara online. Acara makrab diawali dengan barbeque bersama dan kembali berkenalan. Pagi harinya, sebagian anggota Tim SJP berkesempatan mendaki Gunung Batu untuk menikmati terbitnya matahari dan menghirup udara segar Bandung. Acara dilanjutkan dengan evaluasi yang mencakup sharing dari masing-masing tim SJP yakni Pra-produksi, Penyiar, Audio Editor, dan DKV sosial media. Secara umum, setiap tim menyampaikan dinamika selama proses produksi, apa yang dapat dikembangkan dan apa yang perlu dipertahankan. Acara kemudian ditutup dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo Bambang Alfred Sipayung, SJ, Socius Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia.  Dalam evaluasi, disampaikan pula data statistik SJP Season 2 yang dapat diamati di aplikasi Spotify dan Instagram. Dari Spotify, dapat dilihat bahwa rata-rata pendengar adalah 237 orang dan rata-rata mendengarkan 80% dari setiap episodenya. Statistik di Instagram menunjukan bahwa pengikut akun @setiapjumatpodcast berusia 13 sampai lebih dari 65 tahun dengan 51% pengikut berusia antara 1 dan 34 tahun. Salah satu inovasi yang dilakukan tim DKV Sosmed adalah 5 IG Reels yang telah menjangkau 4298 akun Instagram. Statistik di Instagram dapat digunakan untuk mengenali profil pengikut akun @setiapjumatpodcast dan mengarahkan SJP di masa mendatang untuk menjangkau lebih banyak kalangan. Spotify dan Instagram menunjukkan data yang berbeda mengenai episode yang paling populer dalam SJP Season ini. Data Spotify menunjukan episode ke-8, ‘Memaknai Kegagalan dalam Perjuangan,” sebagai episode terpopuler dengan lebih dari 450 pendengar, sedangkan data Instagram menunjukan postingan episode ke-11, ‘Tuhan Memang Satu Kita yang Tak Sama,’ sebagai postingan yang mampu menjangkau hampir 2500 akun.  Terlepas dari data statistik yang diperoleh dari Spotify dan Instagram, Fr. Lambertus Alfred, SJ, anggota tim SJP Season 2, memiliki refleksi yang menyentuh dan cukup menggambarkan proses produksi SJP Season ini.  SETIAP JUMAT PODCAST “Acara di Bandung kemarin bagiku jadi satu monumen refleksi kolaborasi yang berharga: kolaborasi yang lebih dari sekadar pembagian kerja dan dikejar deadline bersama, yang meski diawali rasa pekewuh (ga enakan) tapi lalu dirawat dengan kesetiaan dan kemurahan hati. Terima kasih karena sudah boleh mengenal teman-teman baru (dan teman-teman lama), belajar tentang hal-hal baru (maupun yang tidak terlalu baru), dan terlebih karena boleh terus kagum pada bagaimana Tuhan bekerja lewat kehadiran teman-teman. Mohon maaf jika ada kesalahan, sampai jumpa di lain kesempatan!”(semoga besok-besok kita boleh rehat sejenak dan ngobrol bersama lagi) Mengukur keberhasilan SJP  Season 2 dengan manajemen modern dengan menggunakan ukuran seperti  Key Performance Indicator (KPI) tentu tidak bisa dilakukan. SJP Season 2 ini belum dirancang dengan kriteria seperti itu melainkan meletakkan sebuah upaya kerjasama membagikan refleksi tentang spiritualitas Ignatian. SJP Season 2 menjadi bukti nyata rahmat penyertaan Tuhan sehingga kolaborasi antar berbagai pihak sangat dapat dilakukan sekalipun di dalam masa pandemi yang penuh tantangan. Kontributor : Ariadne Mael – Alumni Komunitas Magis Jakarta