Sang Pendoa

Date

Homili P Peter Hans Kolvenbach (30 November 1928 – 26 November 2016), Jesuit Belanda-Jenderal Serikat Jesus ke-29, pada Pesta Santo Ignatius di Gereja Gesu, Roma 31 Juli 2002

Merayakan pesta Santo Ignatius hari ini bersama dan di dalam Gereja, membuat kita sangat menyadari bahwa pribadi yang kita rayakan ini bukan saja seorang santo besar tetapi juga santo yang terkadang tampak sedikit misterius. Kemisteriusan ini mencakup hidup doanya. Sejak pertobatannya, Ignatius benar-benar seorang pendoa. Sumber kehidupan apostoliknya adalah perayaan Ekaristi yang sungguh-sungguh setiap hari. Sakramen cinta kasih terbesar inilah – sebagaimana ia sebut sebagai liturgi ilahi – mengilhami seluruh aktivitas hidup dan perutusannya. Dalam persatuan dengan Gereja, ia rajin mendoakan brevir dan secara khusus memuliakan Santa Perawan, mendaraskan doa-doa ofisi, dan dengan rosario di tangan, ia merenungkan misteri hidupnya. Ia berdialog dengan setiap pribadi Tritunggal selama jam-jam doa dan dengan setia melakukan pemeriksaan batin. Semua ini tidaklah ia lakukan sebagai teknik meningkatkan kualitas moral hidupnya, tetapi semata-mata demi menjaga pandangannya ke hadirat Tuhan dalam segala hal. Jadi, ia melulu mengambil keputusan di hadapan Tuhan atau lebih tepatnya di dalam Tuhan. Setiap keputusan dalam hidupnya selalu didahului, diliputi, dan diperluas dalam doa.

Ignatius tidak mau melakukan apa pun selain yang tampak baik dan bermanfaat di dalam Tuhan, dan – menurut penilaian Yesus (misteri hidup yang tak henti-hentinya ia renungkan) – demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Dari semua hal yang terjadi seolah-olah Ignatius menganggap bahwa setiap ungkapan doa – baik doa lisan yang sederhana, pemeriksaan batin yang sangat rendah hati, perenungan yang mendalam akan misteri Kristus, maupun bacaan rohani tentang peristiwa-peristiwa dalam hidupnya – dapat menjadi sangat mistis. Benar-benar dikuasai oleh Roh di mana kita hanya bisa berdoa “abba Bapa.” Ignatius belajar bahwa kehidupan doa dalam kebangkitan Kristus bukanlah semata-mata usaha manusia tetapi pertama-tama adalah karunia Roh. Ia sendiri mengakui bahwa Tuhan bertindak sebagaimana seorang guru terhadap muridnya: dia mengajar.

Namun Ignatius yang sama ini, seorang pendoa dan sangat mengerti bagaimana hidup dalam Roh, sering mengingatkan agar doa tidak diukur melulu berdasarkan panjangnya doa. Ia pun tidak ragu-ragu mengatakan bahwa seperempat jam sudah cukup bagi orang berdosa untuk dipersatukan dengan Tuhan dalam doa. Meskipun sebagai pendoa yang tekun, Ignatius bersikeras menggarisbawahi bahwa manusia tidak melayani Tuhan hanya melalui doa. Tulisnya, jika Tuhan memiliki hak untuk memiliki kita selengkap mungkin dan jika hanya ada doa untuk melayani-Nya, maka setiap doa akan terlalu pendek dan waktu 24 jam sehari tidaklah cukup. Tuhan terkadang dilayani dengan lebih baik melalui perjumpaan selain dengan doa dan kontemplasi.

Ignatius menasihati agar kita membatasi waktu doa. Ia tidak bermaksud mencemooh doa melainkan untuk menempatkannya dalam keintiman dengan Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa kita bisa berjumpa dengan Tuhan melalui doa khusuk, namun Ia juga bisa kita jumpai dalam kesibukan kita melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Dengan cara ini Ignatius dengan cermat mengikuti Kristus, di mana untuk hidup dalam keintiman penuh kasih dengan Bapa-Nya, mengambil keadaan manusiawi kita dan menghayatinya, baik dalam kontemplasi maupun tindakan, dalam doa maupun derma. Ignatius terus-menerus menyebutkan intimitas dengan Tuhan sebagai penopang hasrat kita dalam mencari dan menemukan Dia serta mencintai dan melayani Dia dalam segala hal. Tidak diragukan lagi bahwa Ignatius memohon doa dari para pendoa, seperti juga kita saat ini, yang diutus ke jantung dunia untuk mewartakan kabar baik tentang Kristus. Tetapi daripada menghabiskan waktu untuk berkanjang dalam doa panjang, ia lebih meminta kita mewujudkan intimitas kita dengan Tuhan, baik dalam doa maupun dalam semua aktivitas kerasulan kita. Semoga Ekaristi ini menyatukan kita dalam tindakan dan kontemplasi dengan Dia yang menjadi roti Hidup dan piala keselamatan kita.

Diterjemahkan oleh Herman Wahyaka dari artikel The Man of Prayer https://ignatius500.global/2022/06/11/the-man-of-prayer/ 

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.