Pilgrims on Christ’s Mission

Feature

Saat Allah Meruntuhkan Menara Babel Pribadi

Tujuh tahun yang lalu, saat sedang melaksanakan tugas Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Wilhelmus Arare, Keuskupan Agung Merauke (KAMe), saya menyaksikan sendiri kondisi medan dan fasilitas pastoral yang serba terbatas. Meskipun saya anak asli Papua, situasi keterbatasan di pedalaman Kabupaten Mappi ini sungguh mengganggu nurani. Peristiwa yang paling terasa kuat dalam kenangan adalah situasi pendidikan di wilayah pelayanan paroki ini. Paroki Wilhelmus Arare memiliki dua puluh stasi yang saling terhubung dengan sungai Yuliana. Di setiap stasi, terdapat bangunan sekolah dasar dan rumah guru tetapi bangunan-bangunan itu kosong tanpa ada aktivitas belajar dan dibiarkan lapuk tanpa guru. Setiap kali berkunjung, saya berjumpa dengan anak-anak usia sekolah yang bersemangat untuk belajar di sekolah. Mereka selalu antusias untuk diajak belajar dan bermain bersama. Perjumpaan tersebut menjadi situasi berahmat di mana hati saya tergerak untuk melakukan sesuatu demi pengembangan sumber daya manusia anak-anak di pedalaman. Pengalaman pastoral di pedalaman memupuk kerinduan untuk menemami anak-anak Papua, belajar dengan penuh semangat menuju masa depan yang lebih baik daripada hari ini. Tantangan selama di medan pastoral justru menjadi kesempatan berahmat yang mendorong saya untuk memohon pertolongan dari Allah. Setelah menyelesaikan Tahun Orientasi Pastoral (TOP), Mgr. Nicholaus Adi Saputra MSC (sekarang Uskup Emeritus KAMe) mengutus saya untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Sanata Dharma (USD) – Yogyakarta dan akan tinggal di rumah studi Jesuit, Kolese St. Ignatius – Kotabaru. Memasuki tahun ajaran 2018/2019, secara resmi saya diterima sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma dan sebagai anggota komunitas Kolese St. Ignatius (Kolsani). Saya tidak pernah membayangkan akan diutus untuk belajar dan tinggal bersama para Jesuit yang saya kenal sebagai perintis misi di Indonesia Timur dan model pedagoginya terkenal hebat. Perlahan-lahan saya mulai menyadari bahwa pergumulan selama masa TOP kini sedang dijawab oleh Allah. Hal itu terlihat semakin jelas, para formator Kolsani memberi kesempatan bagi saya untuk melaksanakan ad extra bersama kelompok mahasiswa/i dari Kab. Mappi – Papua yang dipersiapkan untuk menjadi guru yang bermutu. Kegelisahan yang tertumpuk sebelumnya dapat saya luapkan saat ikut mendampingi mereka di Student Residence USD, Paingan. Pengalaman studi selama di kampus, di Kolsani, maupun di lapangan, selalu saling berkaitan dan memberikan peluang seluas-luasnya bagi saya untuk memikirkan model pedagogi yang kontekstual bagi generasi muda Papua. Dengan berdiskusi bersama teman-teman skolastik, para romo, dan pemerhati pendidikan, saya akhirnya memberanikan diri untuk mengaplikasikan pergumulan TOP dalam tesis S2. Meski terlihat mulus dan menyenangkan, itu tidak berarti bahwa selama studi saya tidak mengalami kegagalan. Saya pernah gagal dalam ujian Universum dan ujian Ad Audiendas. Pengalaman gagal tersebut saya syukuri sebagai cannonball moment. Patut saya akui bahwa selama ini saya belum pernah mengalami kegagalan dalam hal akademik dan selalu berusaha mendapat nilai yang baik. Akan tetapi ketika saya mengalami kegagalan itu, apalagi setiap kali mendaraskan doa Tahun Ignasian dalam Ekaristi, Allah menunjukkan kepada saya bahwa selama ini saya sedang membangun “menara kesombongan.” Sebagai seorang calon imam diosesan yang dididik oleh Jesuit, saya menampilkan diri sebagai teologan yang kerap memamerkan kesombongan intelektual, kesombongan apostolis, dan kesombongan rohani. Saya merasa diri sebagai yang “mahal” karena dididik oleh Jesuit. Sebagaimana yang dialami St. Ignatius, kegagalan yang saya alami telah merobohkan semua kebanggaan diri yang tidak saya sadari selama ini. Meskipun hancur berkeping-keping, Allah tidak membiarkan saya larut dalam perasaan malu dan bersalah yang berlebihan. Diriku kembali dibentuk oleh Allah menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam hidup doa, studi, komunitas, dan kerasulan. Atas seluruh pengalaman itu, saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. Dia telah memanggilku untuk mengikuti-Nya, Dia pula yang akan menunjukkan jalan untuk tetap ada di jalan panggilan ini. Melalui pergulatan dan pengalaman di Kolsani, Allah telah mendidik saya menjadi pribadi yang mencintai Dia dan mengabdi-Nya dengan lepas bebas. Saya bersyukur atas persahabatan dan pengalaman di Kolsani. Kontributor: Diakon Steve Mahuse, Pr, adalah seorang calon imam dari Keuskupan Agung Merauke yang ditahbiskan diakon pada tanggal 5 Mei 2022 dan sekarang berdomisili di Keuskupan Agung Merauke.

Karya Pendidikan

Staying Apart, Always Together

Perayaan Lustrum VII Tepat pada 3 November 2022, SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti memperingati Lustrum VII. Kedua institusi yang berada di bawah naungan Yayasan Wacana Bhakti ini terus membuktikan diri sebagai tempat jiwa-jiwa muda ditempa dan didampingi untuk menemukan jati diri. SMA Kolese Gonzaga konsisten mengamalkan cita-cita luhur untuk menemani dan menempa kaum muda agar dapat menjadi “manusia-manusia susila terpelajar”. Di sisi lain, Seminari Wacana Bhakti pun konsisten mengamalkan cita-cita luhur untuk mendampingi orang-orang muda yang hendak “menanggapi panggilan suci” dan “menjadi abdi di ladang Ilahi”. Kiprah selama 35 tahun inilah yang layak disyukuri melalui rangkaian perayaan Lustrum VII yang diadakan di kompleks Jalan Pejaten Barat 10 A ini. Staying Apart, Always Together Tema yang dipilih untuk membingkai Perayaan Lustrum VII ini ialah “Staying Apart, Always Together”. Tema ini tidak lepas dari konteks pandemi yang lekat dengan Perayaan Lustrum SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Menengah Wacana Bhakti. Kebijakan physical distancing di masa pandemi membatasi interaksi antar manusia secara langsung. Walaupun segenap komunitas Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti sedang terpisah (staying apart), hal tersebut tidak selamanya buruk. Pandemi Covid-19 pun memberi arti baru dari kebersamaan (togetherness). Alih-alih mengutamakan kebersamaan secara fisik, kebersamaan dapat dihadirkan di tengah masyarakat dengan cara berbeda. Esensi kebersamaan tidak lagi mengutamakan kontak fisik, melainkan solidaritas dan persahabatan. Selain rasa syukur dan suka cita, perayaan Lustrum VII SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti juga berangkat dari keprihatinan yang masih melekat dalam diri setiap orang, terutama sebagai dampak pandemi. Masih membekas dalam benak mereka rasanya kehilangan orang-orang yang dikasihi karena Covid-19 ini. Masih terasa dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia dampak ekonomi yang belum kian pulih setelah porak poranda diterjang badai pandemi. Maka dari itu, alih-alih berpusat pada selebrasi dan perayaannya semata, Lustrum VII diperingati secara sederhana namun sarat makna. Alih-alih tenggelam dalam selebrasi, Lustrum VII hendak dirayakan dengan pertama-tama memperhitungkan dampaknya bagi sesama yang membutuhkan. Compassion Month Rangkaian kegiatan Lustrum VII SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti dimulai dengan kegiatan Compassion Month. Intensinya, siswa/i diundang untuk dapat memberikan diri. Ada tiga rangkaian kegiatan yang terdapat di dalamnya, yaitu Gonzcare, Gonzgive, dan Gonzteach. Melalui Gonzcare, siswa/i diundang untuk dapat merawat tempat yang mereka sebut sebagai “rumah kedua” dengan membersihkan kompleks SMA Kolese Gonzaga. Melalui Gonzgive, siswa/i diajak untuk melakukan bakti sosial bagi orang-orang sederhana yang mereka temui di jalanan. Akhirnya, melalui Gonzteach, siswa/i diundang untuk memberikan sekaligus melatih diri menyalurkan ilmu mereka dengan mengajar murid-murid Sekolah Dasar di Perhimpunan Vincentius Jakarta dan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Gonzaga Lustrum Festival Berbeda dengan Gonzaga Festival yang lazimnya diadakan setiap tahun, Gonzaga Festival tahun ini diadakan dalam rangka perayaan Lustrum. Selain ada tambahan kata “Lustrum” pada nama acara ini, Gonzaga Lustrum Festival GLF) juga mengangkat narasi 35 tahun berdirinya SMA Kolese Gonzaga. Hal inilah yang tampak dalam rangkaian terakhir acara GLF, yaitu performing arts. Selain menjadi ajang menunjukkan bakat serta kebolehan yang dimiliki, siswa/i juga diundang untuk mengenal, mencecap, sembari merefleksikan sejarah serta jatuh-bangun berdirinya SMA Kolese Gonzaga. Melalui kegiatan ini, harapannya, rasa cinta siswa/i Kolese Gonzaga atas almamaternya semakin mengakar. Gonzaga Lustrum Care Selain berorientasi pada selebrasi, acara Lustrum VII juga menjadi ajang untuk bersyukur, pertama-tama atas kesehatan yang dimiliki. Konteks inilah yang membuat Gonzaga Lustrum Care diadakan. Dua tahun ada dalam masa pandemi menyadarkan betapa pentingnya merawat kesehatan, khususnya seluruh anggota komunitas SMA Kolese Gonzaga. Terdapat dua bentuk acara yang diadakan di dalamnya, yaitu fun bike/fun walk dan donor darah. Parade Budaya Indonesia Rangkaian perayaan Lustrum juga menjadi kesempatan berharga untuk mensyukuri kebudayaan Indonesia. Acara ini diadakan bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda. Acara khusus dalam parade Budaya Indonesia ini adalah parade busana. Seluruh anggota Komunitas Gonzaga wajib mengenakan busana daerah yang berasal dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Pemakaian pakaian daerah ini pun dilombakan. Semakin unik pakaian yang digunakan akan semakin besar peluang yang bersangkutan untuk meraih juara. Penerbitan Buku “Puspadanta Gonzaga” dan Seminar Pendidikan Selain kegiatan dalam bidang humaniora, Lustrum ini juga dirayakan dengan kegiatan dalam bidang akademik. Setelah mengalami pendampingan intensif selama beberapa bulan, siswa/i SMA Kolese Gonzaga berhasil membuat bunga rampai tulisan dan menjadikannya sebuah buku. Judul buku tersebut ialah “Puspadanta Gonzaga”—Gading Berukir Gonzaga. Dalam buku ini tertuang pemikiran kritis, ketajaman argumentasi, dan kedalaman refleksi kawula muda Gonzaga. Selain menulis buku, perayaan Lustrum dalam bidang akademik juga diisi dengan Seminar Kebangsaan dan Seminar Pendidikan. Misa Puncak Lustrum VII Perayaan Lustrum VII ditutup dengan Ekaristi Puncak Lustrum VII. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Bapak Kardinal Ignatius Suharyo. Adapun, para imam yang menjadi konselebran ialah Pater Provinsial, Benedictus Hari Juliawan, SJ, Pater Rektor Seminari Wacana Bhakti, B. Ardi Dharmawan, dan Pater Kepala SMA Gonzaga, Paulus Andri Astanto, SJ. Rangkaian perayaan Lustrum VII ini juga menjadi kesempatan untuk bersyukur atas 35 tahun penyertaan Tuhan atas institusi sembari memohon rahmat agar Tuhan senantiasa menyertai dalam perjalanan tahun-tahun ke depan. Api yang Membawa Terang Akhirnya, rangkaian Perayaan Lustrum VII, ini menjadi kesempatan bagi SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti untuk kembali kepada raison d’etre berdirinya kedua institusi tersebut. Seperti St.Aloysius Gonzaga yang tidak tinggal diam di hadapan krisis sosial yang ada di sekitarnya, semoga SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti juga dapat menjadi penyuluh lilin harapan, yang nyalanya berpendar di tengah dunia dan siap dibagikan kepada sesama. Dalam sebuah dokumen berjudul Ignatian Pedagogy: A Practical Approach, Pater Peter Hans-Kolvenbach pernah menulis demikian, “…our goal as educators [is] to form men and women of competence, conscience, and compassionate commitment…..” Sekalipun konteks dunia sarat perubahan, semoga semangat untuk mengedepankan terbentuknya pemimpin-pemimpin masa depan yang berhati nurani, berbela rasa, dapat diandalkan, dan berkomitmen tetap menjadi roh yang menggerakkan perjalanan sejarah SMA Kolese Gonzaga dan Seminari Wacana Bhakti. Kontributor: Fr. Gregorius Agung Satriyo Wibisono, S.J. – Sub Moderator SMA Kolese Gonzaga

Karya Pendidikan

Menyatukan Energi Kebersamaan

Sabtu, 12 November 2022, para dosen, tenaga pendidikan/tendik, mahasiswa dan purnakarya Universitas Sanata Dharma melakukan ziarah ke Makam Maria Ratu Damai Girisonta dan Gua Maria Kerep Ambarawa. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis ke-67 Sanata Dharma. Rombongan yang terdiri atas 158 orang peziarah berangkat dari Kampus II Mrican menggunakan 5 bus. Sesampai di makam Maria Ratu Damai Girisonta, para peziarah mengikuti misa yang dipersembahkan secara konselebrasi. Rektor USD, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. menjadi selebran utama, didampingi para konselebran diantaranya Pater Prof. Dr. Paulus Suparno, SJ, M.S.T. (rektor USD periode 2001-2006), Pater Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyatamtama, SJ (rektor USD periode 2006-2014) dan Pater Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ., Ph.D. (Yayasan Sanata Dharma). Dalam homilinya, Rektor USD menyampaikan bahwa Sanata Dharma ada, bertahan, dan terus maju karena dukungan dari semua anggota keluarga besar, termasuk para pendahulu. Ziarah di tempat suci para Jesuit ini memberi energi tersendiri bagi keluarga besar USD. “Kita ingin membangun jaringan persekutuan rohani yang selalu mengingatkan kita pada semangat Sanata Dharma di tengah berbagai situasi dan tantangan yang kita hadapi. Hari ini kita pantas bersyukur karena kebersamaan yang kita bangun dalam persekutuan, memberi energi dalam melanjutkan peziarahan keluarga besar USD,” ungkapnya. Selesai misa, para peziarah melakukan tabur bunga dan doa di pemakaman Maria Ratu Damai, khususnya di makam para Pater, Bruder, dan Frater yang pernah berkarya di Sanata Dharma. Usai doa dan tabur bunga, dilaksanakan acara wawanhati dengan para imam yang pernah berkarya menjadi Rektor di Sanata Dharma, yaitu Pater Paul dan Pater Wiryono. Acara wawanhati dipandu oleh Ketua Dies Natalis ke-67 sekaligus Wakil Rektor IV USD, Caecilia Tutyandari, Ph.D. Dalam acara yang penuh keakraban tersebut, diundang pula Pater Bagus dan Pater Pitoyo untuk mendampingi di atas panggung. Pater Wiryono yang melayani sebagai rektor dua periode menyampaikan kesannya tentang Sanata Dharma, “Kesan utama tentang Sanata Dharma justru saat menjadi Provinsial, yaitu mengutus para Jesuit yang akan berkarya Sanata Dharma. Salah satu bagian tugas itu adalah menyiapkan seorang frater untuk melayani di Timor Leste di masa-masa penuh kegentingan. Dan sekarang, frater itu menjadi rektor di Sanata Dharma,” ungkapnya penuh canda sambil menunjuk Pater Bagus yang dimaksudkan. Tuhan, dalam refleksi Pater Wiryono, selalu menempatkannya dalam mempersiapkan para pemimpin di masa-masa krisis, untuk meneruskan karya Jesuit agar mampu bertahan dan berkembang di masa yang akan datang. Senada dengan Pater Wiryono, Pater Paul yang pernah menjabat sebagai rektor pada periode sebelumnya menyampaikan bahwa menjadi seorang rektor di Universitas Sanata Dharma adalah tugas pelayanan yang diberikan Allah baginya. “Saya diutus untuk melayani Sanata Dharma. Saya bertugas membantu dosen dan karyawan melayani para mahasiswa. Bisa melayani itu kalau kenal dan dekat. Maka saya sering bertemu membentuk paguyuban-paguyuban yang sudah dirintis sejak masa Pater Sastro. Modal saya dalam melayani hanya menyediakan telinga dan hati untuk mendengar semua hal, termasuk kritik dari mereka yang mungkin berseberangan,” paparnya. Acara wawanhati berlangsung dengan akrab diselingi canda dan tawa. Meski demikian, percakapan dan refleksi mendalam yang dibagikan membuat acara ini tidak kehilangan maknanya sebagai rangkaian peziarahan dalam rangka menyambut ulang tahun Sanata Dharma. Wawanhati ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada para rektor yang pernah berkarya di Sanata Dharma serta donasi yang diserahkan kepada komunitas Jesuit St. Stanislaus Girisonta. Pater Petrus Pramudyarkara Witonowarso, SJ, Minister Komunitas Kolese St. Stanislaus, dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasihnya kepada keluarga besar Sanata Dharma. “Mewakili para Jesuit yang ada di komunitas Girisonta, saya mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar Sanata Dharma atas kunjungan dan kemurahan hati Anda semua. Saya berharap sebagai universitas Jesuit, Sanata Dharma terus berkarya membangun masa depan penuh harapan bagi orang-orang muda,” ungkapnya. Selepas kegiatan ziarah dan wawanhati di Girisonta, rombongan bertolak menuju ke Gua Maria Kerep Ambarawa. Rangkaian kegiatan ziarah keluarga ini, meskipun dipersiapkan secara singkat dan dilaksanakan dengan sederhana, namun membawa kesan yang mendalam bagi para peserta. Seperti yang diungkap oleh salah seorang peserta, Drs. R.H. Dj. Sinurat, M.A, seorang dosen purnakarya. “Kami sungguh menikmati acara ziarah hari ini. Hormon-hormon kebahagiaan muncul, imunitas meningkat. Isi wawanhati para Pater sungguh bermakna. Caranya ‘sersan’, serius tapi santai dan humoris. Ziarah ini terasa sebagai retret singkat,” ungkapnya. Kontributor: Antonius Febri Harsanto, S.Sos – HUMAS USD

Penjelajahan dengan Orang Muda

Antara Doa dan Karya, Mana yang (Lebih) Baik?

Judul di atas dilontarkan kepada para partisipan Cafe Puna oleh moderator, Fr. Aman Aslam, seorang skolastik Jesuit dari Pakistan yang sedang studi filsafat di STF Driyarkara Jakarta. Judul itu tidak bermaksud mengajak partisipan untuk memilih salah satu dari keduanya. Pertanyaan tersebut mengantar para partisipan untuk masuk ke dalam topik bahasan Cafe Puna kali ini yang dibawakan oleh Fr. Yohanes Krisostomus Septian Kurniawan sebagai pemateri dan Diakon Antonius Siwi Dharmajati sebagai penanggap. Cafe Puna kali ini bertajuk Tegangan antara Doa dan Karya: Mana yang (lebih) baik? Setelah Sekian Lama Daring Untuk pertama kalinya, Cafe Puna diadakan secara luring lagi pada Kamis, 17 November 2022. Selain diadakan secara luring, juga dibuka Zoom bagi para partisipan daring. Ada sekitar 60 orang yang hadir secara luring dan ada sekitar 40 orang yang hadir secara daring. Cafe Puna yang diadakan satu kali dalam satu semester perkuliahan ini, dihadiri oleh beragam kalangan mulai dari umat lingkungan sekitar Paroki St. Bonaventura Pulomas Jakarta, beberapa teman MAGIS Jakarta, PERSINK KAJ, KMK KAJ, dan kerabat-kerabat Komunitas Skolastikat Unit Pulo Nangka. Cafe Puna diadakan sebagai forum untuk menimba bersama warisan rohani St. Ignatius yang tetap relevan hingga sekarang. Dalam sambutannya, P Guido Chrisna Hidayat menyampaikan bahwa Cafe Puna yang sudah dimulai sejak sekitar 10 tahun yang lalu menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu untuk belajar bersama mengenai Spiritualitas Ignatian. Cafe Puna ada untuk menyapa semakin banyak orang dan belajar bersama, bukan sekadar memaparkan materi saja. Manusia dalam Tegangan Topik mengenai “manusia dalam tegangan” merupakan pokok pemaparan Fr. Septian. Ia mengantar para partisipan dengan menyampaikan konteks masyarakat masa kini yang mengalami berbagai distraksi, seperti perfeksionisme, egoisme, serta kecanduan pada media dan internet. Beranjak dari konteks itu, Fr. Septian dengan sangat apik membagikan refleksi sekaligus pengalamannya dalam menghidupi tegangan doa dan karya ini. Pengalaman dan refleksinya juga merupakan cerminan beberapa kisah Ignatius mengalami tegangan, seperti saat Ignatius studi di Barcelona. Selain pilihan materi yang menarik, banyak partisipan tersapa dengan sense of humor yang Fr. Septian bawakan dalam menyampaikan materi. Selain itu, Diakon Siwi menggarisbawahi tiga pokok dalam kaitannya dengan pemaparan Fr. Septian. Pertama, pertanyaan tajuk Cafe Puna lebih bermaksud untuk memprovokasi para partisipan. Sebenarnya, keduanya, doa dan karya itu sama-sama baik. Kedua, doa dan karya itu harus dilakukan secara bersamaan seperti apa yang disebut sebagai simul contemplativus in actione. Karya tidak menggantikan doa dan doa tidak menggantikan karya. Keduanya diberi porsi yang seimbang. Ketiga, Diakon Siwi juga menyampaikan bahwa eksamen adalah satu dari sekian cara doa yang dapat membantu seseorang menemukan Tuhan dalam segala. Diakon Siwi menekankan bahwa status manusia adalah manusia dalam tegangan. Berlatih Eksamen Bersama Tidak hanya berhenti dalam pemaparan dan tanya jawab, pada akhir presentasi, semua partisipan berlatih eksamen bersama. Sekitar 10 menit, Fr. Septian memfasilitasi latihan eksamen ini untuk para partisipan yang hadir. Secara serempak, para partisipan dengan serius mempraktikkan eksamen ini. Selain itu, Cafe Puna ini diakhiri dengan ramah tamah di salah satu ruang di Unit Skolastikat Pulo Nangka. Akhir kata, semoga Cafe Puna dapat menjadi forum untuk menimba bersama spiritualitas Ignatian. Kontributor: Frater A.A. Ferry Setiawan, S.J.

Kuria Roma

Peran Perempuan Bersama Serikat

Salah satu prakarsa yang dilakukan Komisi Perempuan Serikat Jesus (lih. artikel yang dipublikasi pada 25 Oktober – Highlithing the Role of Women in Strengthening Mission) adalah menyusun sebuah survei global. Dalam artikel ini direktur survei menerangkan tentang tujuan, metode, dan keadaan terkini proyek tersebut. Anggota tim survei berasal dari Institut Kebudayaan Filipina – Universitas Ateneo de Manila, Filipina. Mereka ditugaskan oleh Kuria Jenderalat SJ untuk mendukung tujuan penelitian Komisi 10 (terdiri atas 10 anggota) tentang Peran dan Tanggung Jawab Perempuan dalam Serikat Jesus atau disingkat Komisi Perempuan. Ini dibentuk untuk melacak, mendokumentasikan, memperbarui, dan merekomendasikan kepada Pater Jenderal tentang pelaksanaan Dekret 14 (Jesuit dan Kedudukan Perempuan dalam Gereja dan Masyarakat Luas) yang dipromulgasikan dalam Kongregasi Jenderal (KJ) 34 pada tahun 1995. Tim ini dibentuk pada Maret 2022 oleh Komisi Perempuan agar bersama-sama merancang dan melakukan survei global untuk menentukan keterlibatan, peran, dan tanggung jawab perempuan dalam struktur Serikat Jesus. Survei ini terdiri atas lima bagian. Bagian pertama berisi pertanyaan-pertanyaan seputar profil sosio-demografi responden dan ini memiliki tiga bagian yang relevan dengan tujuan survei, yaitu: (1) persepsi tentang peran dan tanggung jawab perempuan dalam Serikat Jesus; (2) bagaimana hal ini diterjemahkan ke dalam praktik cara berproses dalam Serikat; dan (3) memberikan rekomendasi untuk mendukung keterlibatan lebih lanjut perempuan dalam Serikat. Sedangkan pada bagian terakhir berupa beberapa pertanyaan terbuka tentang bagaimana para responden mendefinisikan kesetaraan peran laki-laki dan perempuan, isu gender yang paling relevan bagi perempuan, jenis bantuan yang dibutuhkan perempuan dari Serikat, dan daya upaya apa yang perlu dilakukan oleh Serikat untuk melaksanakan Dekret 14. Prasarana survei ini merupakan hasil kerja sama yang kuat antara Komisi Perempuan dan seluruh tim peneliti, mulai dari menyusun pertanyaan yang sesuai hingga memvalidasi terjemahan ke dalam empat bahasa (Inggris, Spanyol, Portugis, dan Perancis). Survei awal dilaksanakan dari 6 September hingga 7 Oktober 2022. Dari 192 target responden di enam Konferensi, 141 merespon survei dan menunjukkan tingkat respon hingga 73,44%. Dari survei awal ini dapat dilihat bahwa secara keseluruhan para responden merasa bahwa Serikat Jesus termasuk sebagai lembaga yang responsif dalam menanggapi isu gender dan inklusif. Peran perempuan dalam Serikat dianggap penting dan signifikan, tetapi responden tidak setuju bahwa laki-laki dan Jesuit selalu lebih cocok bekerja dan memimpin lembaga-lembaga karya Jesuit. Selain itu, beberapa perempuan masih merasakan tetap adanya sikap dominasi dan pandangan yang merendahkan perempuan. Tim peneliti dan Komisi Perempuan akan melaksanakan survei secara penuh pada November 2022 sampai Februari 2023 dengan melibatkan minimal 1.440 responden di enam Konferensi Jesuit yang meliputi sektor karya kerasulan pendidikan, sosial, spiritual, dan lainnya. Dengan dukungan dari Kuria Roma, Asistensi, dan semua lembaga Jesuit dan rekan berkarya terkait lainnya, diharapkan dapat diperoleh wawasan dan data penting untuk membantu Komisi membuat rekomendasi yang tepat dan revolusioner (mengapa tidak?) bagi Serikat Jesus untuk melaksanakan deklarasi profetis seperti diserukan dalam Dekret 14 KJ 34. * Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel The Women’s Participation in The Jesuit World – A Global Survey. Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo, pada tanggal 11 November 2022

Pelayanan Spiritualitas

Ziarah dalam Gelisah

Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertajuk Ziarah dalam Gelisah yang kelima dan keenam kembali digelar pada Jumat, 11 dan 18 November 2022. Webinar buah kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Yayasan Basis, dan beberapa karya Jesuit ini cukup menarik minat para pecinta Spiritualitas Ignatian. Berdamai dengan Diri: Membuka Diri, Belajar Tanpa Henti Seri kelima webinar ini diselenggarakan secara hybrid di Aula Lantai 5 Perkumpulan Strada, Jl. Gunung Sahari No. 88, Jakarta Pusat, pada Jumat, 11 November 2022 dengan tema Berdamai dengan Diri: Membuka Diri, Belajar Tanpa Henti. Narasumber kali ini adalah Pater Odemus Bei Witono, S.J. Pada kesempatan ini, Pater Bei menyampaikan bahwa mendalami semangat Ignatian dalam pendidikan orang muda adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Serikat Jesus. Ada tiga fokus yang disampaikan Pater Bei. Pertama, kekhasan Pedagogi Ignatian. Kedua, bagaimana penerapan pedagogi Ignatian dalam pendidikan orang-orang muda termasuk di lembaga-lembaga pendidikan. Ketiga, terkait dengan cara atau metode Pedagogi Ignatian yang membantu perkembangan orang muda secara utuh dalam dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Dalam pemaparannya, Pater Bei menjelaskan bahwa membuka diri dan belajar tanpa henti mungkin seperti utopia karena sangat tidak mungkin bila kita belajar terus-menerus tanpa henti. Akan tetapi, hati yang penuh sukacita dan semangat yang berkobar-kobar, seperti yang dialami St. Ignatius, akan menggerakkan kita untuk belajar terus-menerus tanpa henti. Ignasius membayangkan bagaimana manusia diselamatkan sejak ia jatuh pada dosa pertama. Dosa itu membuat relasi dunia dengan Tuhan terputus tetapi justru dalam peristiwa ini Tuhan hadir untuk menyelamatkan. Tuhan “memilih” profesinya sebagai guru karena Dia ingin hadir dengan cara mencerdaskan kehidupan umat manusia. Rupanya ini ditangkap oleh Ignatius sebagai cara menolong jiwa-jiwa lewat pendidikan. Dia hadir dalam kehidupan ini meski bukan berarti kehadiran Tuhan itu disambut gembira oleh seluruh umat. Meskipun demikian dalam asas dan dasar disebutkan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Allah. Peristiwa inkarnasi atau kisah penjelmaan menjadi sapaan yang sangat personal yang ditunjukkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita patut bersyukur, bergembira, dan bersukacita. Hati yang terbuka itu seperti oase, mata air yang tidak pernah menjadi kering. Berbicara tentang orang muda berarti berbicara tentang orientasi hidup. Menurut Pedro Arrupe manusia bagi dan bersama sesama berarti semakin orang itu cerdas semakin orang itu punya orientasi hidup yang jelas. Semakin seseorang itu terpelajar dan menjadi manusia bagi sesamanya maka hidupnya semakin bermakna. Artinya, kita tidak pernah berhenti untuk belajar karena kalau kita berhenti belajar kita akan ketinggalan dan kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Tantangannya adalah bagaimana membangun pondasi itu dalam diri orang-orang muda penerus masa depan. Dalam pendidikan Ignatian, kuncinya adalah cura personalis, AMDG, kesatuan hati dan budi menemukan Tuhan dalam segala. Kalau kita bisa menjadi Leader and Agent of Change, maka seseorang yang tadinya bukan apa-apa akan menjadi luar biasa, karena disapa satu persatu. Kita bisa belajar bagaimana Yesus mengenali seluruh muridnya termasuk kita. AMDG merupakan kunci bagaimana kita belajar tanpa henti. Ada tiga dasar, yaitu pertama manusia terus berproses, kedua belajar pada Yesus yang senantiasa menunjukkan pada kita jalan keselamatan seperti yang dilakukan oleh Ignasius dalam buku latihan rohani, dan ketiga sekolah-sekolah, termasuk sekolah Katolik, mengisi hal-hal yang baik bagi masyarakat dan bagi sesama. Masyarakat berubah dan kita terus ingin memberikan sesuatu, maka kata kunci terakhir adalah menjadi excellent. Pendidikan Ignasian mengarahkan kita untuk menjadi excellent. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Bei. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Lantai 5 Kantor Strada Pusat, Jl. Gunung Sahari No. 88, Jakarta Pusat, menyimak dengan sungguh-sungguh dan secara aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, dalam pendidikan, apa yang membedakan pendidikan dengan Pedagogi Ignatian dengan pendidikan pada umumnya? Pater Bei memberikan tanggapan dari pengalaman pribadinya. Ketika berumur 10 tahun, waktu pulang sekolah, ia kaget karena rumah sudah dibongkar orang, rata dengan tanah. Terlihat ibunya menangis di balik tumpukan batu bata. Kebahagiaan tercabik-cabik, rasanya marah besar. Cukup lama ia berproses dan berdamai dengan diri sendiri. Bagaimana bisa mengampuni orang yang menggusur rumah. Pater Bei dapat memaafkan orang yang menggusur rumahnya setelah menjadi imam dan melakukan Latihan Rohani. Latihan Rohani dilakukan oleh sekolah yang menerapkan Pedagogi Ignatian. Dalam Latihan Rohani, kita diajarkan tentang asas dan dasar, panggilan Raja, dan kerendahan hati. Guru-guru, karyawan, serta murid-murid yang sudah terbiasa dengan Latihan Rohani, pastinya juga bisa mengampuni orang yang barangkali menyakiti hati dan perasaan kita. Latihan Rohani adalah pergulatan Ignatius sendiri. Kita melihat bagaimana ia meredam seluruh emosi dan cita-citanya hingga akhirnya mampu berdiskresi untuk memutuskan cara mengikuti Tuhan. Sekolah dengan Pedagogi Ignatian tampak dalam nilai-nilai dasar yang ada di sekolah, seperti kejujuran, kedisiplinan, dan keunggulan. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai Ignatian yang diperjuangkan berdasarkan Latihan Rohani. Belajar tanpa henti bukanlah sesuatu yang tidak nyata atau sesuatu yang mustahil jika kita memiliki cita-cita, niat baik, dan peduli sesama. Kita tetap bisa belajar tanpa henti memaknai hari-hari yang kita lalui dan kita gunakan untuk menjadi berkat bagi sesama yang kita layani, menjadi berkat kemajuan kita semua. Untuk menjadi lebih baik, belajar tanpa henti tidak akan pernah sia-sia. Membuka hati adalah prasyarat untuk belajar tanpa henti. Semoga ini menjadi semangat kita demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan. Berdamai dengan Diri: Iman yang Naif tapi Benar Pada Jumat, 25 November 2022 sore, rangkaian Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertema Ziarah dalam Gelisah kembali berlanjut. Bertempat di Gereja Paroki St. Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, topik yang diangkat dalam acara ini adalah “Iman yang Naif tapi Benar: Mengenal Maria dan Spiritualitas Jalan Hati dalam Tradisi Ignatian. Kali ini Pater G.P. Sindhunata, S.J., penulis dan penyunting tiga buku yang menjadi bahan utama acara ini, menjadi narasumbernya. Acara ini dihadiri sekitar 100 audiens secara langsung di tempat atau on the spot serta disaksikan pula oleh ribuan lainnya secara daring. Selain menjabarkan isi buku yang ditulisnya, Pater Sindhu juga membagikan beberapa pengalaman pribadinya dalam beriman. Ia menegaskan bahwa iman seringkali tidak dapat diukur dengan logika dan nalar, sehingga terkesan naif. Akan tetapi, iman selalu dapat dirasakan kebenarannya melalui hati. Para Jesuit, termasuk St. Ignatius sendiri, selalu dipanggil untuk menghayati spiritualitasnya lewat jalan hati. Tak mengherankan bila Paus Pius IX menugaskan Serikat Jesus untuk mempromosikan Devosi kepada Hati Kudus

Provindo

Kunjungan yang Tak Terlupakan ke Pakistan

“Yakin??? Semoga tetap selamat!” Inilah yang dikatakan beberapa orang kepada kami sebelum terbang ke Lahore. Sebagai tetangga Afghanistan dan pendukung “undang-undang penistaan agama” yang keras, Pakistan memiliki reputasi yang menakutkan bagi para wisatawan. Dengan mencoba mengesampingkan citra tersebut, pada 30 Oktober hingga 6 November 2022, saya bersama PP Tony Moreno, S.J. dan Kuntoro Adi, S.J. mengunjungi Pakistan sebagai bagian dari proses diskresi peralihan Misi Pakistan dari Provinsi Sri Lanka ke Provinsi Indonesia dan JCAP. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Loyola Hall, Lahore, rumah para Jesuit di Pakistan. Kami disambut oleh P Juan Carlos, superior misi, P Noel Ajanthan, direktur rumah kandidat, dan S Petras George, seorang TOKer. Mereka adalah para Jesuit yang berada di Pakistan saat ini. Satu komunitas yang terdiri atas Jesuit asal Peru, Sri Lanka, dan Pakistan sendiri. Selain mereka, Pakistan memiliki lima orang skolastik yang sedang belajar di Indonesia, dua skolastik sedang dalam Program Juniorate di Sri Lanka, satu Novis di UK, dan satu imam di Roma. Untuk sebuah negara di mana jumlah Katolik hanya kurang dari 1% total populasi, ini menunjukkan adanya panggilan yang sedang tumbuh. Kehadiran Jesuit di Lahore dimulai pada tahun 1961 ketika P Alphonsus Schockaert, Jesuit Belgia yang bekerja di Darjeeling, untuk memulai karya misi Jesuit di kota tersebut. Setelah itu datang bergabung P H. Schultz, misionaris Jerman di Poona, P Robert Bütler, seorang misionaris Swiss di India, dan F de Meyer, bruder Jesuit asal Belgia. Ini merupakan periode ketiga kehadiran Jesuit di Pakistan. Periode pertama yaitu atas undangan Kaisar Akbar dari Dinasti Mughal (1579-1760) dan periode kedua ketika Jesuit bekerja di Karachi dan Hyderabad (1860-1935). Dalam periode-periode yang berbeda itu, karya-karya yang ditampilkan secara dominan adalah karya-karya di bidang dialog antaragama, pendidikan, dan pembinaan kaum awam. Saat ini para Jesuit Pakistan menjalankan berbagai program pembinaan religius dan awam di Loyola Hall. Tempat ini menjadi pusat yang menarik banyak cendekiawan muslim untuk berkunjung dan melakukan penelitian di perpustakaan serta mengadakan seminar-seminar. Loyola Hall dikenal sebagai ruang netral di mana setiap orang dapat merasa aman dan terdorong untuk mengungkapkan pikiran mereka. Kami mendengar kesaksian ini di suatu sore dengan banyak jamuan chai atau teh susu untuk para pemimpin dari beberapa tarekat religius. Di tempat ini, mereka menemukan rumah untuk pertumbuhan iman. Mereka juga mengungkapkan sebuah harapan agar lebih banyak Jesuit yang dapat memberikan retret, kursus spiritualitas dan pembinaan, dan bimbingan spiritual. Harapan senada ternyata juga digaungkan oleh Uskup Agung Sebastian Francis Shaw, OFM dari Keuskupan Agung Lahore ketika kami mengunjunginya. Para seminaris diosesan membutuhkan pembinaan yang berkualitas, baik secara intelektual maupun spiritual. Mereka percaya, para Jesuit dapat memberikan banyak hal dalam bidang-bidang tersebut. Di luar tembok Loyola Hall, para Jesuit menjalankan dua sekolah menengah dan satu Taman Kanak-kanak. Kami bertemu dengan para guru dan para siswa di ruang kelas mereka. Di sekolah ini banyak siswa Muslim dan Katolik. Mereka datang didorong oleh pendidikan yang berkualitas dan biaya terjangkau. Mayoritas siswa berasal dari keluarga pra-sejahtera dan sekolah disubsidi secara besar-besaran oleh misi. Karena kenyataannya, orang-orang Katolik di negara itu terpinggirkan secara ekonomi. Banyak anak yang buta huruf di sana karena akses ke sekolah negeri sangat kecil. Pemerintah menerapkan sistem kuota untuk kaum minoritas. Sementara itu di Pakistan, tidak ada Universitas Katolik selain sejumlah kecil sekolah pra-universitas. Dengan demikian, mobilitas sosial menjadi tidak mungkin dan pendidikan formal yang berkualitas hanyalah milik orang-orang yang mampu saja. Permohonan yang sama ternyata juga ditekankan oleh Uskup Agung Benny Travas dari Keuskupan Agung Karachi dan Uskup Samson Shukardin, OFM dari Keuskupan Hyderabad dalam suatu pertemuan saat kami mengunjungi mereka. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi berbagai model pemandangan, mulai dari hiruk pikuk kota besar seperti Lahore dan Karachi, hingga gurun tandus yang mengelilingi Hyderabad. Juga komunitas yang luar biasa, hasil perpaduan dari berbagai kelompok etnis, terlihat dari wajah dan kostum mereka, melukiskan gambaran warna-warni dari bangsa multikultural. Sepanjang perjalanan kami merasa sangat aman, lepas dari ketakutan saat awal. Kepandaian orang-orangnya benar-benar luar biasa dan kehangatan mereka dengan cepat menghilangkan kekhawatiran awal yang kami alami sebelum kedatangan. Faktanya, P Juan Carlos, seorang misionaris Pakistan selama sepuluh tahun dan seorang veteran misi di Chad di Afrika Tengah, merasa lebih aman di Pakistan daripada di negara asalnya Peru. Kami benar-benar mendapat pengalaman visitasi yang tak terlupakan. Semoga ini akan membuka pintu baru untuk keterlibatan kita lebih lanjut. Kontributor: P Benedictus Hari Juliawan, S.J.

Penjelajahan dengan Orang Muda

Tebarkan Kepedulian, Ciptakan Kebersamaan

Tidak pernah terbersit sebelumnya di pikiran kami untuk berdinamika dan berproses bersama di Perkampungan Sosial Pingit, sebuah tempat yang namanya saja terdengar asing untuk kami. Namun, sepertinya memang Tuhan telah menyiapkan rencana yang luar biasa agar kami dapat melayani dan melakukan kegiatan yang bermanfaat di sana. Berawal dari tugas agama untuk melakukan bakti sosial yang diberikan oleh guru kami, akhirnya kami memulai diskusi untuk menentukan kegiatan apa yang sekiranya dapat kami lakukan sesuai dengan kapasitas kami. Pada awalnya, Pingit bukanlah sasaran pertama kami dalam melakukan kegiatan bakti sosial. Rencana awal yang telah kami sepakati adalah membagikan beberapa paket makanan dan minuman kepada tukang becak, pemulung, pengamen, dan pengemis di pinggir jalan sambil mengitari kota Jogja. Alasannya adalah karena kegiatan ini sederhana dan mudah untuk dilakukan. Namun, salah satu teman kelompok kami merasa bahwa kegiatan itu kurang meninggalkan kesan yang mendalam karena kami hanya berbagi saja tanpa mengetahui lebih dalam tentang kehidupan mereka. Kami pun akhirnya berdiskusi kembali, memilah dan memilih masukan serta pendapat yang ada, hingga akhirnya memutuskan untuk membuat kegiatan kecil-kecilan di sebuah komunitas anak pinggiran di kota Yogyakarta. Kegiatan ini sangat menarik bagi kami karena kami dapat lebih belajar mengenai kondisi dan kehidupan saudara-saudara kami di luar sana. Banyak sekali pertimbangan dan perdebatan dalam memilih tempat untuk kami melakukan bakti sosial ini. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk memilih Perkampungan Sosial Pingit sebagai tempat kami untuk berdinamika, berproses, dan berbagi. Setelah menentukan tempat ini, dua teman perwakilan melakukan survei langsung ke Perkampungan Sosial Pingit. Puji Tuhan, niat baik kami disambut baik oleh para frater, ketua RT, dan warga setempat. Setelah itu pun, masih banyak proses yang kami lalui, mulai dari mencari dana, menentukan kegiatan apa yang akan kami lakukan di sana, apa yang bisa kami bagikan kepada mereka, dan lain sebagainya. Waktu terus berjalan hingga sampailah pada hari di mana kami akan melaksanakan bakti sosial di Perkampungan Sosial Pingit, yakni pada Sabtu, 8 Oktober 2022. Kami berdinamika serta berproses bersama dengan kurang lebih 30 anak SD yang ada di sana. Kami mengadakan lomba kecil-kecilan mulai dari membuat name tag hingga bermain estafet karet agar kegiatan kami dapat lebih menyenangkan. Di akhir acara, kami melakukan sesi foto sebagai kenang-kenangan. Melihat mereka senang dalam berproses bersama kami, rasanya segala lelah yang kami rasakan menjadi terbayarkan. Kegiatan yang kami lakukan bisa terbilang kegiatan yang sederhana, namun mereka menghargai dan menikmati kesederhanaan itu. Kegiatan ini membuat kami sadar, bahwa setiap orang memiliki situasi yang berbeda-beda. Mereka yang mungkin kurang beruntung, tetapi selalu tersenyum walau tahu bahwa hidup ini berat. Ketika bertemu dengan mereka, terlintas di benak kami bahwa ada satu hal yang dapat kita lakukan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih menyenangkan, lebih menggembirakan, bahkan mulia. Hal itu adalah bersyukur. Apa yang kami lihat pada anak-anak tersebut membuat kami merasa tertampar dan akhirnya tersadar bahwa selama ini pola berpikir kami masih terlalu sempit. Kami menyadari bahwa seringkali kami terus-menerus mengeluh terhadap hidup yang kami jalani dan tidak mensyukuri limpahan berkat Allah. Berproses bersama mereka, akhirnya membuat kami mengubah pola pikir kami tentang bagaimana cara memaknai hidup. Jadi, jika ditanya pengalaman apa yang paling mengesankan dari kegiatan ini, kami rasa akan sulit untuk menjawabnya. Sebab, melaksanakan kegiatan bakti sosial di Pingit ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi kami semua. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan momen yang akan selalu kami ingat dan menjadi salah satu kenangan yang sulit untuk dilupakan. Kami juga sangat terkesan dengan para frater serta volunteer yang bersedia untuk bekerja sama serta dengan loyal membantu kami dalam mempersiapkan semua rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir acara ini. Antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan kami hingga akhir juga memiliki kesan yang luar biasa untuk kami. Atas kerja keras kami dan juga bantuan dari frater, volunteer, warga Pingit, dan tentunya juga dengan campur tangan Tuhan, acara yang kami buat dapat berjalan dengan lancar. “The most beautiful thing in life is when we are grateful for what we have without any regrets.” Kontributor: Zora, Lydia, Nathania, Dinda, Vania, Nania, Dela, Karin, dan Filia (Siswi-siswi Kelas XII MIPA 2 SMA Stella Duce 1 Yogyakarta)