Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Provindo

Tak Kenal Lelah dan Menyerah Walau Susah

Setiap tahun seluruh anggota Jesuit Indonesia biasanya berkumpul dalam acara Forum Provinsi. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan setiap bulan Juli secara tatap muka. Akan tetapi karena kondisi pandemi COVID 19 yang masih belum dapat teratasi dengan baik, kegiatan ini dilaksanakan secara daring untuk kedua kalinya. Forum provinsi tahun ini dilaksanakan pada 26-27 Juli 2021 melalui platform Zoom.   Selain para nostri yang bertugas di Indonesia, para nostri yang mendapat perutusan di luar negeri juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Beberapa di antaranya datang dari Italia, Perancis, Roma, Amerika Serikat, Spanyol, Australia, Myanmar, Thailand, Filipina, Kamboja, Inggris, Taiwan, Jepang, dan Belanda. Walaupun dilaksanakan secara daring, ternyata kegiatan ini tidak menyurutkan semangat para sahabat dalam Tuhan untuk berbagi cerita dan saling menyapa di sela-sela istirahat.   Hari pertama Forum Provinsi diawali dengan ibadat pembuka oleh para frater di Kolese Hermanum Jakarta. Kemudian, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. melanjutkannya dengan memaparkan De Statu (Status atau Situasi) Provinsi. Pater Advent Novianto, S.J. yang pada saat itu masih menjalani program tersiat di Girisonta memoderatori acara di hari pertama ini. Pater Beni memaparkan situasi terbaru dari provinsi, kegiatan-kegiatan besar, dan arah provinsi ke depannya. Dua topik mencolok di dalam De Statu tahun ini adalah kemendesakan perhatian bagi Promosi Panggilan dan Formasi bagi Awam. Selain itu Pater Provinsial terus mendorong terwujudnya proses implementasi Universal Apostolic Preferences (UAP) dalam karya dan tumbuhnya geliat sukacita menyambut Tahun Ignasian yang mendorong untuk terus melihat segala sesuatunya baru dalam Kristus. Para nostri juga diajak untuk ikut serta merefleksikan apakah provinsi sudah menjawab panggilan Allah secara konkret di Indonesia ini serta pertobatan apa yang dibutuhkan provinsi agar semakin dapat menjawab kehendak Allah. Seluruh nostri diajak untuk melakukan percakapan rohani antar sahabat lewat dua pertanyaan tersebut. Ada yang melakukannya secara luring di komunitas masing-masing. Ada pula yang melakukannya secara daring melalui fasilitas breakout room. Sesi terakhir pertemuan di hari pertama ini adalah sesi tanya-jawab antara para nostri dengan Provinsial.   Di hari kedua Forum Provinsi, giliran Pater Heri Setyawan, S.J., tersiaris lainnya, memoderatori pertemuan. Pada kesempatan ini para Nostri lebih banyak mendengarkan sharing dari beberapa karya Provindo, yaitu karya pendidikan di SMA Kolese De Britto, Kolese Le Cocq d’Armandville, SMA Kolese Gonzaga, dan SMK Mikael. Ada banyak kreativitas dan inovasi demi pelayanan pendidikan yang terdampak pandemi. Sharing dari perwakilan gugus karya pendidikan ini dilanjutkan oleh sharing dari gugus karya pelayanan Gereja. Para Nostri yang berkarya di Paroki HSPMTB Tangerang, Paroki St. Theresia Bongsari, dan Paroki Kampung Sawah unjuk gigi membagikan kisah pelayanan kepada umat di tengah pandemi ini. Sebagai sharing pamungkas, para Nostri yang berkarya di Pulau Kalimantan menyulut kobaran api pengabdian kepada Allah khususnya dalam situasi yang tidak mudah. Bukan hanya susah karena pandemi tetapi juga karena infrastruktur dan fasilitas yang masih sangat terbatas. Akhirnya berkat dari Pater Provinsial mengiringi laju kreativitas dan totalitas dalam pelayanan selanjutnya. AMDG!   Kontributor : Tim Komunikator Provindo

Provindo

Menemukan Tuhan dalam Ketidakberdayaan

Gelombang kedua pandemi Covid-19 kali ini menghantam tanpa ampun, lebih parah daripada gelombang pertama dulu. Hampir tiap hari kita mendengar kabar kepergian orang-orang yang kita kenal bahkan anggota keluarga sendiri. Saya yakin banyak saudara-saudari yang pernah merasakan kunjungan virus ini. Pemerintah kewalahan, orang-orang panik karena rumah sakit penuh sementara antrean oksigen mengular panjang. Bisnis besar maupun kecil terpaksa berhenti sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan dan nafkahnya. Dalam situasi ini, doa-doa kita pun seolah berlalu tanpa jawaban. Rasanya, kita sungguh-sungguh tak berdaya. Hari pesta St. Ignatius Loyola kali ini berlangsung di tengah memburuknya situasi pandemi. Kira-kira nasihat apakah yang akan diberikan oleh St Ignatius kepada kita? Kebetulan, Tahun Ignasian saat ini memang dipersembahkan untuk mengenang salah satu momen paling gelap dalam hidupnya yaitu peristiwa remuknya kaki Inigo muda dalam peperangan di Pamplona yang menjadi titik balik pertobatannya. Luka dan cacat di kaki itu tak seremuk egonya dan tak sehancur masa depannya sebagai ksatria. Hidup dan karir yang ia bangun sedemikian rapi dan penuh ambisi telah hancur berantakan. Masa depannya suram. Dalam saat-saat tak berdaya seperti itu, sang Peziarah tidak lari atau menyingkirkan emosi-emosi negatif yang dirasakannya. Malahan, ia mengakrabinya sambil memperhatikan gelombang emosi yang mengombang-ambingkannya. Memang di rumah kakaknya tempat ia dirawat, tidak banyak hiburan lain yang bisa mengalihkan perhatiannya, tetapi hebatnya ia juga tidak berusaha lari dari kenyataan remuk itu. Sesudahnya, St. Ignatius baru sadar, itulah satu-satunya cara untuk menyingkap lapisan-lapisan makna di dalamnya dan mendapatkan manfaat. Inilah nasihatnya yang pertama. Nasihat yang kedua berhubungan dengan kemampuan St Ignatius melewati saat-saat gelap tersebut. Di masa mudanya, Inigo kerap digambarkan sebagai orang yang keras kepala, jumawa, dan berambisi besar. Di balik sifat-sifat yang tampaknya kerdil itu, tersembunyi karakter yang kuat dengan daya tahan yang luar biasa kukuh. Saat perang di Pamplona, ia tetap maju menghadang pasukan Prancis yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada pasukan Kastilia yang ia bela. Padahal kakaknya sendiri, Martin Garcia, sudah lari tunggang langgang sejak awal. Mungkin ia nekat dan ngawur, tapi kualitas manusiawi macam itu rupanya mengantar St. Ignatius melewati saat-saat sulit dalam hidupnya. Jangan meremehkan daya-daya manusiawi kita sendiri, termasuk rahmat yang tersembunyi di baliknya. Bersyukurlah selalu atas rahmat dalam diri kita.  Yang ketiga, salah satu slogan Jesuit yang terkenal adalah “Jadilah orang bagi sesama” atau “be men and women for others”. Bergelimang dalam rasa sedih dan tak berdaya lama-lama bisa terasa “nyaman” karena tanpa sadar kita menempatkan diri sebagai pusat dari segala penderitaan di dunia ini. Dalam ketidakberdayaan, kita sering mengira diri kitalah orang paling sengsara di dunia. Semua orang harus jatuh kasihan pada kita sekaligus tidak ada orang yang bisa menolong kita. Tapi bagaimana kalau kita yang menolong orang lain? Saat ini banyak orang yang sangat membutuhkan bantuan. Ikut jaringan doa daring bagi korban pandemi, merawat anggota keluarga yang harus isoman, mengumpulkan dan membagi makanan siap saji kepada lingkungan yang membutuhkan, atau menjadi relawan di pusat vaksinasi atau puskesmas, semuanya ini bisa membantu kita untuk tidak sibuk dengan diri sendiri.  Pada akhirnya, Tuhan hadir dalam segala situasi, juga dalam penderitaan. Pandemi ini menawarkan kesempatan berjumpa dengan Tuhan, di dalam pergumulan batin kita dan di antara orang-orang yang kita jumpai. Kita hanya perlu mengakrabi emosi-emosi negatif yang membungkus maksud Tuhan, yakin dengan rahmat dan daya manusiawi yang kita punya, dan membiarkan orang lain menjadi pusat hidup kita. Selamat Pesta St. Ignatius Loyola. 31 Juli 2021, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J.

Obituary

Selamat Jalan, Pater Andreas Yuniko Poerdianto, S.J.

Pater Andreas Yuniko Poerdianto, S.J. meninggal dunia pada hari Kamis, 29 Juli 2021, pukul 07.45 WIB, di Rumah Sakit Santa  Elisabeth, Semarang dalam usia 53 tahun. Pater Andre lahir di Situbondo, Jawa Timur pada 22 Juni 1968 dari pasangan  Bapak Markus Antonius Maspoer dan Ibu Agustine Trisye Maspoer.  Beliau menempuh pendidikan dasar di SDK Situbondo (1976– 1981), kemudian melanjutkan pendidikan menengah di SMPK  Situbondo (1981–1984) dan SMAN 2 Situbondo (1984–1987). Dua  tahun setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Institut Teknologi  Surabaya (ITS) dari tahun 1989 hingga 1995.   Setelah 5 tahun bekerja dan menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Jesus dan memulai jalan panggilannya sebagai seorang Jesuit pada  1 Juli 2000 di Novisiat Santo Stanislaus, Girisonta. Seusai menjalani masa novisiat selama dua  tahun, kemudian Frater Andre diperkenankan mengucapkan Kaul Pertama pada 2 Juli 2002  dan melanjutkan masa formasinya sebagai skolastik Serikat Jesus. Sebagai formasi lanjutan  setelah novisiat, Frater Andre ditugaskan ke Manila, Filipina untuk menjalani masa Juniorat di  Arrupe International Resicence. Satu tahun kemudian, ia melanjutkan masa formasinya dengan  studi Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta selama empat tahun (2003–2007).   Selesai formasi Filsafat, Frater Andre diutus menempuh formasi Tahap Orientasi Kerasulan  (TOK) selama dua tahun yaitu di Program Studi Pendidikan Agama Katolik (PENDIKKAT)  Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (2007) dan di Misi Pakistan (2008) sebagai dosen  spiritualitas. Selesai TOK, Frater Andre ditugasi untuk melanjutkan formasinya ke tahap  berikutnya, yaitu studi teologi di Jesuit Theological College, Melbourne, Australia (2009– 2013). Setelah menyelesaikan formasi Teologi, ia menerima tahbisan sebagai Diakon dari  tangan Mgr. Gregory O’Kelly, S.J. pada 24 November 2012 di Australia, tepatnya di Xavier College, Victoria. Kemudian pada 25 Juli 2013, ia menerima tahbisan Imam di Yogyakarta  dari tangan Uskup Agung Semarang, Bapak Uskup Johannes Pujasumarta, di Gereja Santo Antonius Padua, Yogyakarta.   Pater Andre telah menjalani masa formasi akhir dalam Serikat Jesus (tersiat) di Kolese  Stanislaus, Girisonta, pada 24 Januari 2017 sampai 28 Juli 2017 di bawah bimbingan Pater  Laurentius Priyo Poedjiono, S.J. Kemudian, sejak selesai tersiat, Pater Andre bertugas dan  tinggal di Kolese Stanilaus, Girisonta.  Riwayat Pelayanan dan Karya Pater Andreas Yuniko Poerdianto, S.J. setelah Tahbisan Tugas di Misi Pakistan, antara lain sebagai Direktur  Formasi para Kandidat SJ, Asisten Moderator  Sekolah-sekolah Katolik di Pakistan, Fasilitator  Magis Pakistan, Pembimbing Retret dan tugas  pastoral lainnya, penulis pada SL News Lahore, Pakistan  2013-2017 Socius Magiste Novis  Girisonta 2017 – 2019 Minister Komunitas Kolese Santo Stanislaus Kostka Girisonta 2017 – 2019 Asisten Minister Wisma Emaus Girisonta 2019 – 2021 Ekonom Komunitas Kolese Santo Stanislaus Girisonta 2020 – 2021 Konsultor Superior Komunitas Kolese Santo Stanislaus Kostka Girisonta 2018 – 2021 Setelah harapannya untuk kembali bertugas di Misi Pakistan tidak bisa terlaksana, sebenarnya ia sudah menerima penugasan sebagai Pastor Rekan Paroki Ekspatriat Santo Petrus Kanisius  di Jakarta. Namun Tuhan memiliki rencana lain. Pada hari Jumat, 16 Juli 2021, Pater Andre  harus dirawat di Rumah Sakit Santa Elisabeth, Semarang karena keluhan dan positif terinfeksi  Covid-19. Keadaannya terus memburuk sehingga ia harus dirawat di ICU Isolasi RS Santa  Elisabeth sampai hari ini dan akhirnya Tuhan berkenan memanggilnya.   Pemakaman  Ibadat Pelepasan Jenazah dilaksanakan di Ruang Jenazah RS Santa Elisabeth pada hari Kamis  29 Juli 2021 kurang lebih pukul 11.30 WIB. Selanjutnya Pater Andreas Yuniko Poerdianto,  S.J. akan dimakamkan pada hari yang sama, Kamis 29 Juli 2021 di Taman Makam Ratu Damai,  Girisonta, Bergas, Ungaran sesuai protokol Covid 19. 

Provindo

Kaul Pertama Serikat Jesus : Bersama Yesus

Serikat Jesus Indonesia dengan gembira menyambut empat skolastik baru pada Rabu, 23 Juni yang lalu. Mereka mengikrarkan Kaul Pertama dalam Serikat Jesus untuk hidup suci, miskin dan taat di Kapel St. Ignatius, Novisiat St. Stanislaus Kostka, Girisonta. Keempat skolastik baru tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia: Albertus Aryo Anindito dari Paroki St. Joseph, Tegal, Jawa Tengah; Alexius Aji Pradana dari Paroki Kristus Raja, Sumatera Selatan; Leander Emanuel Arya Wikan Prabantara dari Paroki St. Barnabas, Tangerang Selatan, Jakarta; dan Mikael Tri Karitasanto dari Paroki St. John Maria Vianney, Kebumen. Pater Provinsial, P. Benedictus Hari Juliawan, SJ, setelah pengikraran kaul memberikan mereka tugas perutusan perdana yaitu studi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta.  Perayaan Ekaristi Kaul Pertama ini dipimpin oleh Pater Provinsial bersama Pater Magister Novis, P. Agustinus “Nano” Setyodarmono SJ dan P. Petrus Sunu Hardiyanta SJ. Perayaan Ekaristi juga dilakukan terbatas, karena situasi pandemi yang semakin parah, yaitu hanya dihadiri oleh komunitas Novisiat dan para tersiaris. Keluarga dalam acara ini diundang secara daring, yaitu melalui zoom. Walaupun demikian, hal tersebut tidak mengurangi doa dan dukungan dari banyak pihak. Orang tua, saudara, teman, dan para Jesuit lainnya masih bisa berpartisipasi dalam Ekaristi secara virtual. Di akhir misa, setiap orangtua skolastik baru berbagi kegembiraan, harapan, dan doa untuk perjalanan putra mereka masing-masing sebagai Jesuit agar menjadi imam yang pantas bagi Gereja Indonesia. Momen ini menjadi momen yang sangat mengharukan bagi orangtua maupun para skolastik baru.  Dalam homilinya, Pater Provinsial bersyukur karena keempat skolastik ini telah mendapatkan rahmat “self-knowing” selama menjalani masa Novisiat mereka. Pengenalan akan diri sendiri merupakan harta karun yang dapat membebaskan kita masing-masing untuk mengikuti dan melayani Kristus dengan lebih bebas dan penuh sebagai seorang Jesuit,” katanya. Namun, dia melanjutkan, “kita memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat; oleh karena itu, kita harus terus mengolahnya dengan setia.” Pater Provinsial juga berterima kasih kepada Rm Nano selaku Magister Novis yang setia menemani dan membimbing mereka dengan kesabaran dan kemurahan hati. “Formasi Jesuit itu selalu pribadi dan integral. Ini tentu saja beda dengan memproduksi sesuatu secara masal di pabrik atau di bengkel,” tambahnya.  Tema Kaul yang diambil oleh para skolastik baru ini adalah “Bersama Yesus”, sebuah tema yang mengekspresikan disposisi mereka sebagai Jesuit yang siap diutus untuk ikut serta bersama Kristus melayani untuk dunia. Tema ini terinspirasi dari visi St. Ignatius Loyola yang bergema di hati mereka: “barangsiapa mau ikut Aku dalam usaha itu, harus bersusah payah bersama Aku supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan (LR 95).” Di akhir Misa, Fr. Alex memberikan sebuah sambutan. Ia mengatakan tema tersebut ingin mengungkapkan betapa diri mereka rapuh, sehingga tidak mampu berdiri sendiri. Namun, kasih karunia Tuhan selalu menaungi dan memberikan kekuatan sehingga mereka berani mencari dan akhirnya bersedia mengikuti panggilan Tuhan. Kontributor : Alexander Hendra Dwi Asmara, S.J.

Feature

Maria Della Strada : Mendekatkan kepada Sang Putera, menyatukan kepada Allah Bapa (bagian 2)

3. Kedekatan dengan Tuhan Yesus Dalam Latihan Rohani, ketika menyampaikan bahan peremenungan tentang penampakan Yesus yang bangkit, St. Ignatius menyajikan bahan pertama “Penampakan kepada Bunda Maria” (Latihan Rohani 219-226, 299). Dikatakan bahwa meskipun tidak ditulis dalam Kitab Suci St. Ignatius mengajak dengan akal sehat meyakininya. Artinya, kalau kepada banyak orang lain saja menampakkannya apalagi kepada Bunda Maria. Mau dikatakan bahwa kedekatan Maria dalam hidup Yesus dan di jalan salib dan di bawah salib juga mengantar ke penampakan kemuliaan. Lagi, digarisbawi kedekatan Maria dengan Yesus. Peristiwa-peristiwa yang mengisahkan kehadiran Maria dalam perjalanan rohani St. Ignatius adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika Ignatius menjalani peziarahan. Peziarahan yang semula adalah peziarahan fisik dan bentuk dari penitensi perjalanan pertobatan berkembang menjadi peziarahan dalam Tuhan dan peziarahan merasul bersama teman-temannya. Kenyataan bahwa Maria demikian dekat dengan Yesus, sejak misteri kelahiran hingga di bawah salib, membuat St. Ignatius dalam perjalanan rohaninya selalu mendekatkan diri pada Maria. Kerinduan Ignatius untuk makin mengenal, makin mencintai dan makin mengikuti Yesus9 diwujudkan dengan selalu mohon dan mendekatkan diri pada Maria. Kebenaran peranan Maria mendekatkan St. Ignatius dan teman-temannya pada Yesus menjadikan Ignatius tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa Maria dalah Bunda Serikat.10 Dalam hidup rohani St. Ignatius, Bunda Maria tidak pernah hadir berdiri sendiri. Bunda Maria selalu muncul bersama dengan Yesus atau setidaknya dalam konteks St. Ignatius mau mengikuti lebih dekat Tuhan Yesus. Selanjutnya ketika sebagai Jendral Serikat menimbang-nimbang aturan kemiskinan Serikat Yesus sebagai bagian cara hidup mengikuti Yesus, St. Ignatius merayakan ekaristi Bunda Maria.11 Terkait dengan demikian mencolok kehadiran Bunda Maria dalam perjalanan rohani St. Ignatius, dalam hal ini kita tidak perlu ragu meneladannya karena konteks dan maknanya mendekatkan kepada Yesus. Dalam bahasa Konsili Vatikan II Bunda Maria selalu muncul dalam terang karya Tuhan Yesus.12 Hal tersebut juga tidak sulit diterangkan karena Bunda Maria mendalami kedekatan dengan Yesus sejak dini. Sementara orang sering mengatakan bahwa Maria sebelum menerima Yesus dalam rahim fisiknya sudah lebih dulu menyambut dalam rahim imannya. Berbahagia dan bersyukurlah kita dan mari terus meneladan Bunda Maria dan tidak berhenti memohon untuk didekatkan dengan Yesus. 4. Berjalan bersama Bunda Maria Maria della Strada. Maria melindungi orang yang sedang melakukan perjalanan. Maria menyertai kita yang sedang berjalan dari peristiwa hidup yang satu ke peristiwa hidup lainnya. Pada saatnya kebenaran penyertaan Bunda Maria menjadikan kita berjalan bersamanya. Memperhatikan yang terjadi sebelum Ignatius dan teman-temannya tiba di Roma dan menghormati Maria della Strada dan memperhatikan ke depan setelah Serikat hidup dan menjalankan kerasulannya, sekarang kita bisa memahami mengapa figur Maria della Strada cocok untuk mengungkapan kehidupan dan kerohanian Ignatius dan teman-teman. Figur tersebut selain mengingatkan peranan Maria dalam perjalanan rohani Ignatius juga mengingatkan bahwa kita semua sedang dalam perjalanan dengan seluruh peristiwa dan situasi hidup kita. Muara dari peziarahan itu adalah makin didekatkan dengan Yesus dan disatuan dengan Allah Bapa. Manakala kita bingung di tengah belantara peristiwa dan aneka situasi hidup sehari-hari, kehadiran Maria della Strada mengundang kita untuk sejenak hening menimba kekuatan, memetik inspirasi maupun mohon diterangi. Atau ketika pada suatu saat merasa demikian bahagia, misalnya karena suatu keberhasilan, kita diajak untuk bersyukur dengan mengangkat jiwa kepada Tuhan, memuliakannya seperti dalam Kidung Magnificatnya (Lukas 1, 46-55). Selangkah lebih maju, lebih daripada mengalami didampingi Bunda Maria, entah sebarapa ukuran dan kualitasnya, pada gilirannya kita sendiri juga mesti berjiwa besar dan murah hati untuk menjadi teman perjalanan peziarahan banyak orang. Dengan sejenak mengingat sejarah, bukankah kehadiran Yayasan Strada selama ini melalui para guru, karyawan dan para jesuit    yang terlibat dari waktu ke waktu, serta orang tua murid dan banyak siswa merupakan sebuah perjalanan pedagogis bersama Bunda Maria? Dengan sejenak  hening mengingat inspirasi Maria della Strada khususnya, serta kehadiran Bunda Maria dalam sejarah rohani St. Ignatius, kita diajak untuk mensyukuri karya Tuhan dan merasakan dalam-dalam rasa syukur penuh kerendahan hati betapa Tuhan berkenan melibatkan kita dalam karya-Nya. Untuk membantu memperhatikan pengalaman dan pembelajaran dalam setiap peristiwa, St. Ignatius mewariskan doa pemeriksaan kesadaran. Ini merupakan cara doa yang dinamis dan relevan dalam perjalanan hidup dari peristiwa ke peristiwa. Doa yang intinya mendekatkan diri dengan kehadiran Tuhan dalam peristiwa hidup harian ini memiliki tujuan untuk selalu memurnikan hati, mengembangkan kebijaksanaan hidup serta menyatukan selalu dengan kehadiran dan karya Tuhan. Memurnikan hati muncul dari pengalaman men-check motivasi-motivasi yang menyertai peristiwa-peristiwa hidup di dalamnnya kita melibatkan diri. Mengembangkan kebijaksanaan lahir sebagai buah pembelajaran dari setiap keputusan yang kita ambil setiap hari. Kesatuan dengan karya Tuhan karena dengan doa ini kita menghadirkan dan menempatkan diri dalam Tuhan yang terus hadir dan bekerja untuk kita. 5. Penutup : La Señora del Camino Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip lirik lagu bahasa Spanyol, La Señora del Camino (Maria della Strada) yang ditulis oleh seorang jesuit Colombia, Luis Sarasa S.J.13 Lirik lagu ini menghadirkan secara ringkas makna Maria della Strada dan kerinduan kita semua untuk didekatkan kepada Yesus dan disatukan dengan Bapa dalam hidup dan karya. Dengan begitu hidup ini menjadi lebih bermakna, baik bagi diri sendiri maupun sesama. Señora del Camino (Bunda penopang jalan) muéstrame la vía (tunjukkan kepadaku jalan) para llegar al Padre (untuk sampai kepada Bapa) al lado de tu Hijo (berada di samping Puteramu) Señora del Camino (Bunda penopang jalan) en mi oración te pido (dalam doaku, kumohon) que no me dejes nunca, (jangan pernah tinggalkan daku,) me siento como un niño. (kumerasa bagai seorang anak.) Dame tu luz para avanzar (Berikan terangmu untuk melangkah maju) y en la noche oscura guíame. (dan di malam gelap, bimbinglah aku.) Hazme transparente (Jadikan aku terbuka) como fue tu vientre (seperti rahim kandungmu) para dar a luz la vida. (untuk melahirkan kehidupan.) Ponme con tu Hijo, (Tempatkan aku bersama Puteramu) Señora del Camino. (Bunda Maria, Bunda penopang jalan.) Kontributor : L. A. Sardi S. J. – Roma, 24 Mei 2021 Referensi : 9 Permohonan “Minggu Kedua” dalam Latihan Rohani St. Ignatius: “Pengertian yang mendalam tentang Tuhan yang telah menjadi manusia bagiku, agar lebih mencintai lebih dalam dan mengikuti-Nya lebih dekat” (Latihan Rohani 104). 10 Pedro Arrupe Arrupe dengan mengingat ungkapan St. Stanislus Kostka “Maria Bunda Tuhan adalah bundaku” menunjukkan bahwa ungkapan tersebut menjelaskan pengalaman dan keyakinan semua anggota Serikat

Prompang

Membangun Kultur Promosi Panggilan: Rangkaian Tiga Seri Temu Promotor Panggilan

Situasi zaman sekarang menawarkan banyak pilihan jalan hidup bagi orang-orang muda untuk melayani Tuhan. Panggilan hidup religius, sebagai suster, bruder, imam atau anggota institut sekuler, menjadi salah satu diantara panggilan pelayanan itu. Dalam konteks keragaman panggilan pelayanan hidup ini, muncul keprihatinan mengenai panggilan hidup dalam tarekat religius atau panggilan imamat dalam Gereja. Tim Promosi Panggilan Serikat Jesus Provindo mengorganisasi acara berbagi suka duka bersama-sama para religius dari berbagi tempat di Indonesia dalam mempromosikan panggilan religius. Acara yang diberi judul Temu Virtual Promotor Panggilan dibagi ke dalam tiga seri yang berlangsung pada tanggal 22 April, 27 Mei, dan 30 Juni 2021 secara virtual melalui akun ZOOM. Pada pertemuan pertama, tak kurang dari 150 religius dari aneka Lembaga Hidup Bakti (LHB) dan keuskupan yang bergabung.  Pada pertemuan pertama, Rm. Ag. Setyodarmono, Magister Novisiat Serikat Jesus di Girisonta, membagikan spiritualitas promosi panggilan. Beliau mengambil Yohanes Pembaptis sebagai teladan promosi panggilan. Yohanes mendampingi dan menuntun dua orang muda, Andreas dan Yohanes anak Zebedeus, agar sampai pada Yesus. Oleh karena itu, seorang promotor panggilan pertama-tama bukan “menjual” kongregasi atau keuskupannya dengan satu atau dua pertemuan dan mengharapkan akan ada banyak orang muda bergabung, melainkan ia mendampingi orang untuk mengenal dan berelasi dengan Yesus. Sesudah orang memiliki relasi dengan Yesus, baru panggilan hidup religius dapat ditawarkan.  Pertemuan kedua mulai masuk pada pedoman-pedoman yang lebih praktis. Kali ini Rm. Nano masih menjadi pemateri dengan membagikan saripati surat Pater Jenderal Arturo Sosa tanggal 12 April 2021 tentang membangun budaya promosi panggilan. Terdapat sepuluh pedoman yang kemudian diolah menjadi tabel dengan rinciannya. Tabel tersebut diusulkan dapat menjadi bahan diskusi di LHB atau keuskupan masing-masing sehingga gerak promosi panggilan dapat lebih efektif.  Dalam ruang bersama, banyak terjadi diskusi antara Rm. Nano dengan para peserta. Semua peserta dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh fasilitator skolastik atau romo Jesuit. Di dalam kelompok, materi pertemuan dibahas bersama. Para peserta saling berbagi pengalaman dalam mempromosikan panggilan religius. Pertemuan kelompok kecil menjadi ruang untuk saling memperkaya dan menguatkan satu sama lain.  Pertemuan ketiga menjadi kesempatan bagi LHB dan keuskupan lain untuk membagikan budaya promosi panggilan yang hidup dalam tarekat dan keuskupan mereka.. Kelompok imam diosesan diwakili oleh Keuskupan Agung Semarang dengan pembicara Rm. Y. Gunawan, Pr dan Rm. F. X. Sukendar, Pr. Kelompok religius wanita diwakili oleh Tarekat Carolus Borromeus dengan pembicara Sr. Thresmiati, CB dan kelompok religius pria diwakili Ordo Praedicatorum dengan pembicara Fr. Robertus Silveriano Ferry, OP. Pada akhir acara, Rm. Paul Prabowo, selaku koordinator Tim Promosi Panggilan SJ, menutup  seluruh rangkaian acara dengan refleksi bahwa promosi panggilan adalah menemani orang muda mengenali diri mereka sendiri, mengajak mereka mendengarkan kehendak Tuhan, syukur-syukur berjumpa dengan Tuhan, dan membiarkan hidup mereka diubah. Hidup yang diubah ini harapannya kemudian mengarah pada menanggapi panggilan dari Tuhan bagi diri mereka. Para promotor panggilan, termasuk kita semua sebagai Jesuit, diundang menjadi jembatan atau teman orang muda dalam berdiskresi dan Tuhan sendiri yang akan memanggil dengan cara-Nya. Kontributor : Teilhard Soesilo, S.J. – Prompang SJ

Feature

Sebuah Kontemplasi Pertobatan dan Percakapan Imajiner di Awal Tahun Ignatian : Rencana Ignatius

Ketika pandemi Covid-19 masih terus menghantui bumi, Tuhan Allah tidak pernah jeda membaca dan mendengarkan kiriman permohonan doa umat manusia. Hanya di hari Sabtu ia sengaja melepas lelah, membiarkan beberapa pesan dan permohonan dalam status ‘belum dibaca.’ Waktu jeda ini biasa dipakai untuk berjalan-jalan di taman firdaus pagi hari.  Pada saat makan siang, biasanya Tuhan Allah mengundang para kudus makan bersama. Dari yang sudah-sudah, tidak ada perbincangan yang serius, biasanya ngobrol santai tentang cuaca, binatang unik, atau hal-hal lucu di surga.  Yang tampak cukup serius hanya soal candaan statistik penghuni neraka yang konon menyerupai statistik pasien Covid-19 di bumi. Tapi sabtu itu agak berbeda. Para kudus yang diundang waktu itu semua Jesuit, yaitu Xaverius dan Faber. Tuhan Allah membuka makan siang langsung dengan pertanyaan, layaknya mengawali rapat kabinet.   “Ini saya tidak mengerti. Bapa kalian, kok mengajukan cuti sebagai pendoa tetap di surga. Iya… Ignatius mengajukan permohonan kembali turun ke bumi satu tahun atau kalau boleh sampai akhir masa pandemi Covid-19.”  “Tuhan Allah, memang pada waktu itu Bapa Ignatius pernah berseloroh kadang kakinya gatel. Pengen peregrinasi lagi, tapi pakai rute jalan-jalan Asia. Alasannya, kulinarinya macem-macem. Gitu.”  Faber hanya senyum-senyum ketika melihat Xaverius baru saja, tanpa sadar, mengungkapkan keinginannya melihat Jepang.   “Faber kamu tahu sesuatu tentang rencana Ignatius ini?” “Wahh… duh. Hamba kurang tahu Tuhan Allah. Kebetulan kami tidak pernah membicarakan rencana ini. Tapi dugaan saya Bapa Ignatius agak bosan saja di sini. Bagi seorang yang lahir untuk berjuang seperti dia, kebahagiaan dan kenyamanan tentulah terasa bagai siksaan.”  “Ah bisa jadi dia tergoda kemuliaan digital Tuhan Allah,” sahut Xaverius.  “Apa itu” “Ini pikiran manusiawi saya saja Tuhan Allah. Tahun ini kan genap 500 tahun sejak pertobatannya di Pamplona. Kebetulan, saya juga sering mendapat cerita dari bumi bahwa sejak pandemi Covid-19, Latihan Rohani dan Spiritualitas Ignatian, justru laris. Retret online laris dibanjiri umat dan anak muda. Para Jesuit juga giat sekali mempromosikan doa yang diajarkan Bapa Ignatius, yaitu eksamen, kontemplasi, percakapan rohani, dan lain sebagainya. Mungkin bapa Ignatius hanya ingin sekadar merasakan rasa bangga atas semua itu.”  “Atau juga Bapa Ignatius sekadar pengen aplicatio sensuum, coba-coba seperasaan dengan teman-teman Jesuit yang sering harus berdiskresi di tengah rasanya nunggu notifikasi WA. Ikut menelisik jenis gerak batin baru: desonan. Semacam sensasi hybrid desolasi dan konsolasi yang ditandai rasa-perasaan yang pada saat bersamaan sekaligus ngarep rame dan sepi kudos, likes, loves, fyp, emoticon di hape dan hati mereka. Konon desonan ini yang kadang terasa mengecoh, terasa dekat-sekaligus jauh dari Allah.” “Jadi menurut kalian, Bapa Ignatius itu seperti ingin refreshing dan riset di bumi?”  Faber maupun Xavier terbahak bersama. Percakapan tentang permohonan Ignatius lalu beralih ke topik seputar cuaca yang tidak menentu, rahmat-rahmat unik yang dimohon para Jesuit, teka-teki berimbangnya jumlah orang miskin dan kaya yang tembus masuk surga sejak pandemi, tebak-tebak kembang-ciutnya harapan kaum muda setelah pandemi di bumi berlalu.  Malam hari Tuhan Allah bermenung. “Apa yang kurang dari surgaku ini, hingga Ignatius tidak kerasan? Dialah influencer andal yang sukses mempersuasi umat menginginkan tempat ini. Apa kata warga surgaku kalau mereka tahu Ignatius malah ingin kembali ke bumi?”  Pertanyaan dan praanggapan itu Tuhan Allah bawa sambil membaca lagi isi surat permohonan Ignatius kembali turun ke bumi setelah 500 tahun pertobatannya. “Tuhan Allah, saya mohon diizinkan turun ke bumi. Saya hanya ingin lebih memahami apa yang terjadi di dunia dan pada saudara-saudara saya di Serikat. Belakangan ini, jumlah mereka di seluruh bumi terus berkurang 300 per tahun. Pun pula beberapa kali saya berjumpa saudara-saudara saya se-Serikat yang ternyata masih muda di sini atau di api penyucian. Secara unik, grafik statistik Jesuit yang langsung lolos ke sini juga rasanya berbanding terbalik dengan grafik lingkar perut mereka. Yang transit jauh lebih tinggi. Tanpa mengakrabi dunia lagi, rasanya saya sulit membantu tugas Tuhan Allah menjawab doa-doa yang dikirim umat bumi dengan tepat, arif dan bijaksana, lebih doa-doa kawan saya yang saat ini duduk sebagai superior seperti yang dulu saya jalani.” “Dengan kalimat apa, rencana ini perlu Aku tanggapi?” Kontributor : Adi Bangkit, S.J.

Karya Pendidikan

Catatan Reflektif Pandemi sebagai Cannonball Moments : Upgrading Guru

Bagi banyak guru pandemi Covid-19 menjadi Cannonball Moments (momen bola meriam) yang menggetarkan. Pembelajaran daring -disertai luring-  harus dilakukan oleh para guru. Kesiapan diri untuk melayani, mengajar, melaksanakan tugas pokok guru, dan mendidik para murid dengan  jaringan internet di era digital, menyebabkan “letusan atau dentuman” bagi jiwa bersamaan dengan rasa takut karena ancaman virus corona. Momen bola meriam yang dialami St. Ignatius Loyola, dalam gradasi kehancuran yang berbeda, menjadi catatan sejarah hidup sekaligus inspirasi bagi guru untuk terus bertumbuh dalam pelayanan kepada Allah. Sementara St. Ignatius mengalami momen meriam di medan perang, para guru mengalami momen meriam di medan pandemi dan model pembelajaran baru.  Mengidentifikasi bola meriam Ignatius Loyola mengalami cedera patah kaki pada tahun 1521 karena terkena bola meriam dalam Pertempuran di Pamplona. Ingin rasanya Ignatius pulih dan berjuang untuk menang. Akan tetapi dalam proses pemulihan Ignatius justru mendapatkan pencerahan setelah berdiam diri dalam hening seraya membaca buku tentang Kristus dan orang kudus yang pada akhirnya membawanya pada pertobatan. Momen bola meriam merupakan  pengalaman yang menghentikan cara hidup lama dan (memaksa) mengajak  untuk hidup dengan cara baru. Di sekolah-sekolah, para guru mengalami “momen bola meriam”. Rasa cemas dan khawatir menghampiri. Para guru juga merasakan “sakit” karena ketidaksiapan untuk menyesuaikan pola pembelajaran reguler dengan daring, serta persoalan dampak pandemi baik di sekolah, di rumah, maupun di tengah masyarakat serta merasakan apa yang dialami siswa-siswi beserta keluarganya. Kurva penyebaran virus yang melonjak menimbulkan kekhawatiran dalam kurun waktu yang lama. Kabar menyedihkan karena ada yang sakit dan dipanggil Tuhan turut serta menghimpit dan menyesakkan.  Semangat mengupgrade diri Dalam refleksi saya, konteks guru saat ini adalah menghadapi tantangan zaman : pandemi dan pembelajaran daring. Yayasan Kanisius Cabang Surakarta bekerja sama dengan Percetakan Kanisius dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengadakan Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia pada tanggal 24 – 25 Juni 2021. Ibu Brigida Intan Printina M.Pd. dan Tim menjadi narasumber pelatihan ini. Ini merupakan  tawaran untuk mengubah cara hidup (pembelajaran) konvensional menjadi cara hidup baru yang sesuai dengan situasi zaman. Pelatihan diikuti oleh para guru Kanisius Cabang Surakarta yang berjumlah 319 orang dan berada di Kota Surakarta, Klaten, Boyolali, Wonogiri, dan Karanganyar.  Kemauan para guru untuk terus berubah dari metode pembelajaran lama ke cara pembelajaran baru adalah peletup. Sedangkan modal dan daya juang agar membawa hasil (pertobatan), memperoleh pengalaman dan kebermaknaan adalah buah yang ingin diusahakan dan dibagikan kepada para murid. Dalam kesempatan pelatihan itu,  saya menangkap dan merefleksikan bahwa materi tentang apersepsi yang diberikan oleh narasumber mirip dengan “momen bola meriam”: medan pertempuran sesuai jamannya, Ada semangat lebih untuk mengubah diri dan membuahkan pertobatan dan untuk meninggalkan cara lama serta mengenakan cara (hidup) baru dalam mendidik para murid Upgrading guru: mengupgrade insani (brainware) di samping mengupgrade hardware dan software di era komunikasi digital.  Para guru senantiasa perlu memperbaharui diri menghidupkan semangat refleksi seperti yang diwariskan oleh St. Ignatius dari Loyola. Paradigma Pedagogi Ignatian (PPI) atau Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) menjadi acuan bagi para guru berusaha untuk menguasai kompetensi teknis dan memanfaatkan teknologi informasi komunikasi.  Catatan benang merah “momen bola meriam“ dan memperbaharui diri dan refleksi  Frater Amadea, yang menjadi Koordinator Pelatihan dan host webinar bahwa para guru dipaksa untuk mengikuti pelatihan ini. Paksaan ini bagi saya merupakan momen ledakan meriam yang tidak bisa dihindari oleh para guru saat ini.  Kepala Yayasan Kanisius Cabang, Rm. Joseph Situmorang, mengatakan hal yang senada dalam sambutannya. Pandemi memaksa para guru mengubah cara pembelajaran konvensial ke cara pembelajaran baru. Multimedia merupakan salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan dewasa ini dan tetap akan relevan bahkan jika pandemi ini berlalu.Romo Joseph mengajak setiap guru untuk senantiasa memperbaharui diri yang merupakan semangat Ignatian yang dilatihkan dalam PPI atau PPR. bu Intan, mengajak para guru untuk meningkatkan nilai proses pembelajaran. Harapannya hal ini dapat memberikan motivasi dan ketertarikan peserta didik. Dalam paparannya Ibu Intan, sebagai dosen yang mendampingi para mahasiswa dengan model pembelajaran PPR, mengingatkan pemanfaatan sarana aplikasi multimedia para guru bisa memberikan pendampingan reflektif bagi para siswa. Para guru dapat memberikan materi yang memotivasi dan kutipan  yang reflektif sebagai bagian dalam pewarisan nilai-nilai reflektif bagi para siswa. Bersama St. Ignatius mendampingi para murid Momen bola meriam adalah pengalaman yang memaksa untuk melakukan perubahan dengan cara menghentikan cara  hidup lama. Upgrading guru Kanisius dengan mengikuti pelatihan merupakan ajakan untuk menapaki cara (hidup) pembelajaran yang baru. Jika dihubungkan dengan PPR, pembentukan karakter peserta didik tetap menjadi aspek penting yang harus diusahakan agar setiap peserta didik mampu berpikir secara reflektif. Pemanfaatan sarana multimedia yang tetap memasukkan nilai-nilai reflektif  dalam pembelajaran menjadi cara setiap guru untuk berjalan bersama St. Ignatius dalam mendampingi para murid. Dengan melakukan refleksi, para murid dapat menimbang dan memaknai pengalaman hidupnya dalam usaha untuk menemukan dirinya secara otentik. Dengan cara refleksi para murid  dapat mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan martabatnya sebagai ciptaan Allah. Paradigma Pedagogi Reflektif yang didukung sarana pembelajaran yang kekinian diharapkan mampu mengajak siswa untuk mengalami proses perubahan. Dengan demikian setiap peserta didik juga diajak untuk mampu memaknai pandemi sebagai medan pertempuran dengan tetap memiliki daya juang “Ignatian” dalamkonteks pengenalan diri sendiri dan kemampuan menanggapi sapaan Allah. Kontributor : FX Juli Pramana – Kepala Sekolah SMK Kanisius Surakarta