Membangun Kultur Promosi Panggilan: Rangkaian Tiga Seri Temu Promotor Panggilan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Situasi zaman sekarang menawarkan banyak pilihan jalan hidup bagi orang-orang muda untuk melayani Tuhan. Panggilan hidup religius, sebagai suster, bruder, imam atau anggota institut sekuler, menjadi salah satu diantara panggilan pelayanan itu. Dalam konteks keragaman panggilan pelayanan hidup ini, muncul keprihatinan mengenai panggilan hidup dalam tarekat religius atau panggilan imamat dalam Gereja. Tim Promosi Panggilan Serikat Jesus Provindo mengorganisasi acara berbagi suka duka bersama-sama para religius dari berbagi tempat di Indonesia dalam mempromosikan panggilan religius. Acara yang diberi judul Temu Virtual Promotor Panggilan dibagi ke dalam tiga seri yang berlangsung pada tanggal 22 April, 27 Mei, dan 30 Juni 2021 secara virtual melalui akun ZOOM. Pada pertemuan pertama, tak kurang dari 150 religius dari aneka Lembaga Hidup Bakti (LHB) dan keuskupan yang bergabung. 

Pada pertemuan pertama, Rm. Ag. Setyodarmono, Magister Novisiat Serikat Jesus di Girisonta, membagikan spiritualitas promosi panggilan. Beliau mengambil Yohanes Pembaptis sebagai teladan promosi panggilan. Yohanes mendampingi dan menuntun dua orang muda, Andreas dan Yohanes anak Zebedeus, agar sampai pada Yesus. Oleh karena itu, seorang promotor panggilan pertama-tama bukan “menjual” kongregasi atau keuskupannya dengan satu atau dua pertemuan dan mengharapkan akan ada banyak orang muda bergabung, melainkan ia mendampingi orang untuk mengenal dan berelasi dengan Yesus. Sesudah orang memiliki relasi dengan Yesus, baru panggilan hidup religius dapat ditawarkan. 

Pertemuan kedua mulai masuk pada pedoman-pedoman yang lebih praktis. Kali ini Rm. Nano masih menjadi pemateri dengan membagikan saripati surat Pater Jenderal Arturo Sosa tanggal 12 April 2021 tentang membangun budaya promosi panggilan. Terdapat sepuluh pedoman yang kemudian diolah menjadi tabel dengan rinciannya. Tabel tersebut diusulkan dapat menjadi bahan diskusi di LHB atau keuskupan masing-masing sehingga gerak promosi panggilan dapat lebih efektif. 

Dalam ruang bersama, banyak terjadi diskusi antara Rm. Nano dengan para peserta. Semua peserta dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh fasilitator skolastik atau romo Jesuit. Di dalam kelompok, materi pertemuan dibahas bersama. Para peserta saling berbagi pengalaman dalam mempromosikan panggilan religius. Pertemuan kelompok kecil menjadi ruang untuk saling memperkaya dan menguatkan satu sama lain. 

Pertemuan ketiga menjadi kesempatan bagi LHB dan keuskupan lain untuk membagikan budaya promosi panggilan yang hidup dalam tarekat dan keuskupan mereka.. Kelompok imam diosesan diwakili oleh Keuskupan Agung Semarang dengan pembicara Rm. Y. Gunawan, Pr dan Rm. F. X. Sukendar, Pr. Kelompok religius wanita diwakili oleh Tarekat Carolus Borromeus dengan pembicara Sr. Thresmiati, CB dan kelompok religius pria diwakili Ordo Praedicatorum dengan pembicara Fr. Robertus Silveriano Ferry, OP.

Pada akhir acara, Rm. Paul Prabowo, selaku koordinator Tim Promosi Panggilan SJ, menutup  seluruh rangkaian acara dengan refleksi bahwa promosi panggilan adalah menemani orang muda mengenali diri mereka sendiri, mengajak mereka mendengarkan kehendak Tuhan, syukur-syukur berjumpa dengan Tuhan, dan membiarkan hidup mereka diubah. Hidup yang diubah ini harapannya kemudian mengarah pada menanggapi panggilan dari Tuhan bagi diri mereka. Para promotor panggilan, termasuk kita semua sebagai Jesuit, diundang menjadi jembatan atau teman orang muda dalam berdiskresi dan Tuhan sendiri yang akan memanggil dengan cara-Nya.

Kontributor : Teilhard Soesilo, S.J. – Prompang SJ