Maria Della Strada : Mendekatkan kepada Sang Putera, menyatukan kepada Allah Bapa (bagian 2)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

3. Kedekatan dengan Tuhan Yesus

Dalam Latihan Rohani, ketika menyampaikan bahan peremenungan tentang penampakan Yesus yang bangkit, St. Ignatius menyajikan bahan pertama “Penampakan kepada Bunda Maria” (Latihan Rohani 219-226, 299). Dikatakan bahwa meskipun tidak ditulis dalam Kitab Suci St. Ignatius mengajak dengan akal sehat meyakininya. Artinya, kalau kepada banyak orang lain saja menampakkannya apalagi kepada Bunda Maria. Mau dikatakan bahwa kedekatan Maria dalam hidup Yesus dan di jalan salib dan di bawah salib juga mengantar ke penampakan kemuliaan. Lagi, digarisbawi kedekatan Maria dengan Yesus.

Peristiwa-peristiwa yang mengisahkan kehadiran Maria dalam perjalanan rohani St. Ignatius adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika Ignatius menjalani peziarahan. Peziarahan yang semula adalah peziarahan fisik dan bentuk dari penitensi perjalanan pertobatan berkembang menjadi peziarahan dalam Tuhan dan peziarahan merasul bersama teman-temannya. Kenyataan bahwa Maria demikian dekat dengan Yesus, sejak misteri kelahiran hingga di bawah salib, membuat St. Ignatius dalam perjalanan rohaninya selalu mendekatkan diri pada Maria. Kerinduan Ignatius untuk makin mengenal, makin mencintai dan makin mengikuti Yesus9 diwujudkan dengan selalu mohon dan mendekatkan diri pada Maria. Kebenaran peranan Maria mendekatkan St. Ignatius dan teman-temannya pada Yesus menjadikan Ignatius tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa Maria dalah Bunda Serikat.10

Dalam hidup rohani St. Ignatius, Bunda Maria tidak pernah hadir berdiri sendiri. Bunda Maria selalu muncul bersama dengan Yesus atau setidaknya dalam konteks St. Ignatius mau mengikuti lebih dekat Tuhan Yesus. Selanjutnya ketika sebagai Jendral Serikat menimbang-nimbang aturan kemiskinan Serikat Yesus sebagai bagian cara hidup mengikuti Yesus, St. Ignatius merayakan ekaristi Bunda Maria.11

Terkait dengan demikian mencolok kehadiran Bunda Maria dalam perjalanan rohani St. Ignatius, dalam hal ini kita tidak perlu ragu meneladannya karena konteks dan maknanya mendekatkan kepada Yesus. Dalam bahasa Konsili Vatikan II Bunda Maria selalu muncul dalam terang karya Tuhan Yesus.12 Hal tersebut juga tidak sulit diterangkan karena Bunda Maria mendalami kedekatan dengan Yesus sejak dini. Sementara orang sering mengatakan bahwa Maria sebelum menerima Yesus dalam rahim fisiknya sudah lebih dulu menyambut dalam rahim imannya. Berbahagia dan bersyukurlah kita dan mari terus meneladan Bunda Maria dan tidak berhenti memohon untuk didekatkan dengan Yesus.

4. Berjalan bersama Bunda Maria

Maria della Strada. Maria melindungi orang yang sedang melakukan perjalanan. Maria menyertai kita yang sedang berjalan dari peristiwa hidup yang satu ke peristiwa hidup lainnya. Pada saatnya kebenaran penyertaan Bunda Maria menjadikan kita berjalan bersamanya.

Memperhatikan yang terjadi sebelum Ignatius dan teman-temannya tiba di Roma dan menghormati Maria della Strada dan memperhatikan ke depan setelah Serikat hidup dan menjalankan kerasulannya, sekarang kita bisa memahami mengapa figur Maria della Strada cocok untuk mengungkapan kehidupan dan kerohanian Ignatius dan teman-teman. Figur tersebut selain mengingatkan peranan Maria dalam perjalanan rohani Ignatius juga mengingatkan bahwa kita semua sedang dalam perjalanan dengan seluruh peristiwa dan situasi hidup kita. Muara dari peziarahan itu adalah makin didekatkan dengan Yesus dan disatuan dengan Allah Bapa. Manakala kita bingung di tengah belantara peristiwa dan aneka situasi hidup sehari-hari, kehadiran Maria della Strada mengundang kita untuk sejenak hening menimba kekuatan, memetik inspirasi maupun mohon diterangi. Atau ketika pada suatu saat merasa demikian bahagia, misalnya karena suatu keberhasilan, kita diajak untuk bersyukur dengan mengangkat jiwa kepada Tuhan, memuliakannya seperti dalam Kidung Magnificatnya (Lukas 1, 46-55).

Selangkah lebih maju, lebih daripada mengalami didampingi Bunda Maria, entah sebarapa ukuran dan kualitasnya, pada gilirannya kita sendiri juga mesti berjiwa besar dan murah hati untuk menjadi teman perjalanan peziarahan banyak orang. Dengan sejenak mengingat sejarah, bukankah kehadiran Yayasan Strada selama ini melalui para guru, karyawan dan para jesuit    yang terlibat dari waktu ke waktu, serta orang tua murid dan banyak siswa merupakan sebuah perjalanan pedagogis bersama Bunda Maria? Dengan sejenak  hening mengingat inspirasi Maria della Strada khususnya, serta kehadiran Bunda Maria dalam sejarah rohani St. Ignatius, kita diajak untuk mensyukuri karya Tuhan dan merasakan dalam-dalam rasa syukur penuh kerendahan hati betapa Tuhan berkenan melibatkan kita dalam karya-Nya.

Untuk membantu memperhatikan pengalaman dan pembelajaran dalam setiap peristiwa, St. Ignatius mewariskan doa pemeriksaan kesadaran. Ini merupakan cara doa yang dinamis dan relevan dalam perjalanan hidup dari peristiwa ke peristiwa. Doa yang intinya mendekatkan diri dengan kehadiran Tuhan dalam peristiwa hidup harian ini memiliki tujuan untuk selalu memurnikan hati, mengembangkan kebijaksanaan hidup serta menyatukan selalu dengan kehadiran dan karya Tuhan. Memurnikan hati muncul dari pengalaman men-check motivasi-motivasi yang menyertai peristiwa-peristiwa hidup di dalamnnya kita melibatkan diri. Mengembangkan kebijaksanaan lahir sebagai buah pembelajaran dari setiap keputusan yang kita ambil setiap hari.

Kesatuan dengan karya Tuhan karena dengan doa ini kita menghadirkan dan menempatkan diri dalam Tuhan yang terus hadir dan bekerja untuk kita.

5. Penutup : La Señora del Camino

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip lirik lagu bahasa Spanyol, La Señora del Camino (Maria della Strada) yang ditulis oleh seorang jesuit Colombia, Luis Sarasa S.J.13 Lirik lagu ini menghadirkan secara ringkas makna Maria della Strada dan kerinduan kita semua untuk didekatkan kepada Yesus dan disatukan dengan Bapa dalam hidup dan karya. Dengan begitu hidup ini menjadi lebih bermakna, baik bagi diri sendiri maupun sesama.

Señora del Camino (Bunda penopang jalan)

muéstrame la vía (tunjukkan kepadaku jalan)

para llegar al Padre (untuk sampai kepada Bapa)

al lado de tu Hijo (berada di samping Puteramu)

Señora del Camino (Bunda penopang jalan)

en mi oración te pido (dalam doaku, kumohon)

que no me dejes nunca, (jangan pernah tinggalkan daku,)

me siento como un niño. (kumerasa bagai seorang anak.)

Dame tu luz para avanzar (Berikan terangmu untuk melangkah maju)

y en la noche oscura guíame. (dan di malam gelap, bimbinglah aku.)

Hazme transparente (Jadikan aku terbuka)

como fue tu vientre (seperti rahim kandungmu)

para dar a luz la vida. (untuk melahirkan kehidupan.)

Ponme con tu Hijo, (Tempatkan aku bersama Puteramu)

Señora del Camino. (Bunda Maria, Bunda penopang jalan.)

Kontributor : L. A. Sardi S. J. – Roma, 24 Mei 2021

Referensi :

9 Permohonan “Minggu Kedua” dalam Latihan Rohani St. Ignatius: “Pengertian yang mendalam tentang Tuhan yang telah menjadi manusia bagiku, agar lebih mencintai lebih dalam dan mengikuti-Nya lebih dekat” (Latihan Rohani 104).

10 Pedro Arrupe Arrupe dengan mengingat ungkapan St. Stanislus Kostka “Maria Bunda Tuhan adalah bundaku” menunjukkan bahwa ungkapan tersebut menjelaskan pengalaman dan keyakinan semua anggota Serikat tentang peranan Bunda Maria. Selanjutnya dikutip ekshortasi St.

Petrus Canisius dari De cultu Beatae Virginis: “Omnes de Societate singularem habuerunt et habere debent devotionem erga Mariam matrem nostrum … nulla mater fecundior, felicior, fidelior…, nula enim tan sancta, pulchra, speciosa, ornate et plene donis Spiritus Sancti” (Pedro Arrupe, ibid., hlm. 77)

11 Pedro Arrupe, ibid., hlm. 79.

12 Lumen Gentium, no. 62