Sebuah Kontemplasi Pertobatan dan Percakapan Imajiner di Awal Tahun Ignatian : Rencana Ignatius

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Ketika pandemi Covid-19 masih terus menghantui bumi, Tuhan Allah tidak pernah jeda membaca dan mendengarkan kiriman permohonan doa umat manusia. Hanya di hari Sabtu ia sengaja melepas lelah, membiarkan beberapa pesan dan permohonan dalam status ‘belum dibaca.’ Waktu jeda ini biasa dipakai untuk berjalan-jalan di taman firdaus pagi hari. 

Pada saat makan siang, biasanya Tuhan Allah mengundang para kudus makan bersama. Dari yang sudah-sudah, tidak ada perbincangan yang serius, biasanya ngobrol santai tentang cuaca, binatang unik, atau hal-hal lucu di surga. 

Yang tampak cukup serius hanya soal candaan statistik penghuni neraka yang konon menyerupai statistik pasien Covid-19 di bumi. Tapi sabtu itu agak berbeda. Para kudus yang diundang waktu itu semua Jesuit, yaitu Xaverius dan Faber. Tuhan Allah membuka makan siang langsung dengan pertanyaan, layaknya mengawali rapat kabinet.  

“Ini saya tidak mengerti. Bapa kalian, kok mengajukan cuti sebagai pendoa tetap di surga. Iya… Ignatius mengajukan permohonan kembali turun ke bumi satu tahun atau kalau boleh sampai akhir masa pandemi Covid-19.” 

“Tuhan Allah, memang pada waktu itu Bapa Ignatius pernah berseloroh kadang kakinya gatel. Pengen peregrinasi lagi, tapi pakai rute jalan-jalan Asia. Alasannya, kulinarinya macem-macem. Gitu.” 

Faber hanya senyum-senyum ketika melihat Xaverius baru saja, tanpa sadar, mengungkapkan keinginannya melihat Jepang.  

“Faber kamu tahu sesuatu tentang rencana Ignatius ini?”

“Wahh… duh. Hamba kurang tahu Tuhan Allah. Kebetulan kami tidak pernah membicarakan rencana ini. Tapi dugaan saya Bapa Ignatius agak bosan saja di sini. Bagi seorang yang lahir untuk berjuang seperti dia, kebahagiaan dan kenyamanan tentulah terasa bagai siksaan.” 

“Ah bisa jadi dia tergoda kemuliaan digital Tuhan Allah,” sahut Xaverius. 

“Apa itu”

“Ini pikiran manusiawi saya saja Tuhan Allah. Tahun ini kan genap 500 tahun sejak pertobatannya di Pamplona. Kebetulan, saya juga sering mendapat cerita dari bumi bahwa sejak pandemi Covid-19, Latihan Rohani dan Spiritualitas Ignatian, justru laris. Retret online laris dibanjiri umat dan anak muda. Para Jesuit juga giat sekali mempromosikan doa yang diajarkan Bapa Ignatius, yaitu eksamen, kontemplasi, percakapan rohani, dan lain sebagainya. Mungkin bapa Ignatius hanya ingin sekadar merasakan rasa bangga atas semua itu.” 

“Atau juga Bapa Ignatius sekadar pengen aplicatio sensuum, coba-coba seperasaan dengan teman-teman Jesuit yang sering harus berdiskresi di tengah rasanya nunggu notifikasi WA. Ikut menelisik jenis gerak batin baru: desonan. Semacam sensasi hybrid desolasi dan konsolasi yang ditandai rasa-perasaan yang pada saat bersamaan sekaligus ngarep rame dan sepi kudos, likes, loves, fyp, emoticon di hape dan hati mereka. Konon desonan ini yang kadang terasa mengecoh, terasa dekat-sekaligus jauh dari Allah.”

“Jadi menurut kalian, Bapa Ignatius itu seperti ingin refreshing dan riset di bumi?” 

Faber maupun Xavier terbahak bersama. Percakapan tentang permohonan Ignatius lalu beralih ke topik seputar cuaca yang tidak menentu, rahmat-rahmat unik yang dimohon para Jesuit, teka-teki berimbangnya jumlah orang miskin dan kaya yang tembus masuk surga sejak pandemi, tebak-tebak kembang-ciutnya harapan kaum muda setelah pandemi di bumi berlalu.

 Malam hari Tuhan Allah bermenung. “Apa yang kurang dari surgaku ini, hingga Ignatius tidak kerasan? Dialah influencer andal yang sukses mempersuasi umat menginginkan tempat ini. Apa kata warga surgaku kalau mereka tahu Ignatius malah ingin kembali ke bumi?” 

Pertanyaan dan praanggapan itu Tuhan Allah bawa sambil membaca lagi isi surat permohonan Ignatius kembali turun ke bumi setelah 500 tahun pertobatannya.

Tuhan Allah, saya mohon diizinkan turun ke bumi. Saya hanya ingin lebih memahami apa yang terjadi di dunia dan pada saudara-saudara saya di Serikat. Belakangan ini, jumlah mereka di seluruh bumi terus berkurang 300 per tahun. Pun pula beberapa kali saya berjumpa saudara-saudara saya se-Serikat yang ternyata masih muda di sini atau di api penyucian. Secara unik, grafik statistik Jesuit yang langsung lolos ke sini juga rasanya berbanding terbalik dengan grafik lingkar perut mereka. Yang transit jauh lebih tinggi. Tanpa mengakrabi dunia lagi, rasanya saya sulit membantu tugas Tuhan Allah menjawab doa-doa yang dikirim umat bumi dengan tepat, arif dan bijaksana, lebih doa-doa kawan saya yang saat ini duduk sebagai superior seperti yang dulu saya jalani.”

“Dengan kalimat apa, rencana ini perlu Aku tanggapi?”

Kontributor : Adi Bangkit, S.J.