Menemukan Tuhan dalam Ketidakberdayaan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on email
Share on print
Share on telegram

Gelombang kedua pandemi Covid-19 kali ini menghantam tanpa ampun, lebih parah daripada gelombang pertama dulu. Hampir tiap hari kita mendengar kabar kepergian orang-orang yang kita kenal bahkan anggota keluarga sendiri. Saya yakin banyak saudara-saudari yang pernah merasakan kunjungan virus ini. Pemerintah kewalahan, orang-orang panik karena rumah sakit penuh sementara antrean oksigen mengular panjang. Bisnis besar maupun kecil terpaksa berhenti sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan dan nafkahnya. Dalam situasi ini, doa-doa kita pun seolah berlalu tanpa jawaban. Rasanya, kita sungguh-sungguh tak berdaya.

Hari pesta St. Ignatius Loyola kali ini berlangsung di tengah memburuknya situasi pandemi. Kira-kira nasihat apakah yang akan diberikan oleh St Ignatius kepada kita? Kebetulan, Tahun Ignasian saat ini memang dipersembahkan untuk mengenang salah satu momen paling gelap dalam hidupnya yaitu peristiwa remuknya kaki Inigo muda dalam peperangan di Pamplona yang menjadi titik balik pertobatannya. Luka dan cacat di kaki itu tak seremuk egonya dan tak sehancur masa depannya sebagai ksatria. Hidup dan karir yang ia bangun sedemikian rapi dan penuh ambisi telah hancur berantakan. Masa depannya suram.

Dalam saat-saat tak berdaya seperti itu, sang Peziarah tidak lari atau menyingkirkan emosi-emosi negatif yang dirasakannya. Malahan, ia mengakrabinya sambil memperhatikan gelombang emosi yang mengombang-ambingkannya. Memang di rumah kakaknya tempat ia dirawat, tidak banyak hiburan lain yang bisa mengalihkan perhatiannya, tetapi hebatnya ia juga tidak berusaha lari dari kenyataan remuk itu. Sesudahnya, St. Ignatius baru sadar, itulah satu-satunya cara untuk menyingkap lapisan-lapisan makna di dalamnya dan mendapatkan manfaat. Inilah nasihatnya yang pertama.

Nasihat yang kedua berhubungan dengan kemampuan St Ignatius melewati saat-saat gelap tersebut. Di masa mudanya, Inigo kerap digambarkan sebagai orang yang keras kepala, jumawa, dan berambisi besar. Di balik sifat-sifat yang tampaknya kerdil itu, tersembunyi karakter yang kuat dengan daya tahan yang luar biasa kukuh. Saat perang di Pamplona, ia tetap maju menghadang pasukan Prancis yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada pasukan Kastilia yang ia bela. Padahal kakaknya sendiri, Martin Garcia, sudah lari tunggang langgang sejak awal. Mungkin ia nekat dan ngawur, tapi kualitas manusiawi macam itu rupanya mengantar St. Ignatius melewati saat-saat sulit dalam hidupnya. Jangan meremehkan daya-daya manusiawi kita sendiri, termasuk rahmat yang tersembunyi di baliknya. Bersyukurlah selalu atas rahmat dalam diri kita. 

Yang ketiga, salah satu slogan Jesuit yang terkenal adalah “Jadilah orang bagi sesama” atau “be men and women for others”. Bergelimang dalam rasa sedih dan tak berdaya lama-lama bisa terasa “nyaman” karena tanpa sadar kita menempatkan diri sebagai pusat dari segala penderitaan di dunia ini. Dalam ketidakberdayaan, kita sering mengira diri kitalah orang paling sengsara di dunia. Semua orang harus jatuh kasihan pada kita sekaligus tidak ada orang yang bisa menolong kita. Tapi bagaimana kalau kita yang menolong orang lain? Saat ini banyak orang yang sangat membutuhkan bantuan. Ikut jaringan doa daring bagi korban pandemi, merawat anggota keluarga yang harus isoman, mengumpulkan dan membagi makanan siap saji kepada lingkungan yang membutuhkan, atau menjadi relawan di pusat vaksinasi atau puskesmas, semuanya ini bisa membantu kita untuk tidak sibuk dengan diri sendiri. 

Pada akhirnya, Tuhan hadir dalam segala situasi, juga dalam penderitaan. Pandemi ini menawarkan kesempatan berjumpa dengan Tuhan, di dalam pergumulan batin kita dan di antara orang-orang yang kita jumpai. Kita hanya perlu mengakrabi emosi-emosi negatif yang membungkus maksud Tuhan, yakin dengan rahmat dan daya manusiawi yang kita punya, dan membiarkan orang lain menjadi pusat hidup kita.

Selamat Pesta St. Ignatius Loyola.

31 Juli 2021,

Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J.