Pilgrims on Christ’s Mission

Author name: Komunikator Serikat Jesus

Feature

Hidup adalah Pesta harus Dirayakan!!

Single parent, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. Pasanganku seorang eksekutif muda yang bekerja di luar negeri. Kami menikah bulan Februari tahun 2004. Setelah sebulan menikah, ia kembali lagi ke luar negeri untuk bekerja dan aku sudah hamil. Namun setelah beberapa bulan, aku kehilangan kontak dengan dia dan keluarganya walaupun sebenarnya tidak ada masalah di antara kami. Akhirnya aku memutuskan untuk fokus pada kehamilanku. Aku menukar kemarahan dan kejengkelanku untuk menyiapkan kelahiran dengan terus berdoa agar diberi kekuatan dan memaafkan yang sudah terjadi. Aku memutuskan untuk melahirkan di Jogja, di kota kelahiranku, ditemani oleh kedua orang tuaku. Dan anakku pun lahir ke dunia, seorang bayi laki-laki tampan yang kunanti selama ini. Setelah tiga bulan menemani bayi mungilku, aku kembali mengadu nasib ke Jakarta dan kembali menjadi wartawan. Anakku kutitipkan kepada kedua orang tuaku di Jogja. Selama tujuh tahun, dengan naik pesawat atau juga kereta api kelas ekonomi, setiap akhir pekan aku pulang pergi Jakarta-Jogja untuk menemui buah hatiku. Saat bertemu dengan anakku, rasanya semua rasa lelah karena perjalanan, bekerja, dan kuliah terbayarkan.   Aku sering meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk membawa anakku ke Jakarta dan  tinggal bersama denganku namun mereka tidak pernah memperbolehkannya karena aku belum memiliki tempat tinggal sendiri. Suatu hari ada seorang teman menawariku apartemennya yang akan ia jual karena tidak cukup luas untuk ditinggali bersama keluarganya. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli apartemen itu. Aku pun kembali meminta izin kepada orang tua untuk membawa anakku tinggal di Jakarta, namun tetap saja tidak diperbolehkan karena aku belum memiliki pasangan. Di umurnya yang menginjak tujuh tahun, anakku belum bisa membaca dan menulis sampai orang tuaku bingung mengatasinya. Akhirnya aku meminta izin kembali untuk membawa anakku tinggal bersamaku di Jakarta agar aku bisa mengajarinya membaca dan menulis. Kali ini mereka mengizinkannya. Dalam waktu sebulan anakku sudah bisa membaca dan menulis. Bukan hal yang mudah menjadi seorang single parent. Ada banyak tantangan yang harus dilalui. Salah satunya adalah ketika anak baru berusia tiga tahun, ia bertanya, “Aku gak punya ayah ya?” Hal yang berat untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi ketika dia masih kecil. Namun aku mencoba jujur dari awal untuk menceritakan bagaimana kondisi sebenarnya. Selain itu, ada rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika menatap anak yang melihat temannya dijemput atau bermain dengan ayahnya. Anakku sepertinya merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Namun aku selalu berusaha untuk mengajak dia bermain atau melakukan sesuatu untuk mengalihkan kerinduannya kepada sosok ayah.  Tantangan tidak hanya datang dari anakku saja, namun juga dari orang-orang sekitar. Terlepas dari semua itu aku memiliki prinsip bahwa segala sesuatu hal yang dibicarakan di belakangku aku anggap tidak ada. Jika memang membutuhkan penjelasan atau tidak nyaman denganku silakan berbicara langsung di depanku. Toh, sampai berapa lama mereka akan bertahan dan membicarakan aku. Dan aku beruntung berada di lingkunganku yang respek dengan kondisiku sebagai seorang single parent. Ketika aku mendaftarkan dia sekolah, aku menceritakan statusku yang single parent dan meminta pihak sekolah untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap anakku. Dan aku mengajarkan ke anakku bahwa proses dan kejujuran dalam mengerjakan sesuatu lebih penting daripada hasil. Nah, waktu itu anakku mendapatkan nilai 2,5 untuk ulangan matematikanya. Saat aku tanya, ia jawab bahwa itu sudah naik karena sebelumnya hanya mendapat nilai 2 dan bahkan temannya ada yang mendapat nilai di bawahnya. Ia menggarisbawahi bahwa ia telah mengerjakan ulangan dengan jujur. Menurutku jawabannya keren meskipun dalam hati  aku merasa geli.  Sejak ia masih kecil aku selalu berpesan kepadanya bahwa sekolah menyenangkan atau tidak menyenangkan tergantung bagaimana kita menikmati dan menjalaninya. Karena di sekolah bukan bagaimana kita mencari nilai, tidak harus pintar di pelajaran ini atau itu. Yang terpenting adalah kita bisa menikmati proses belajar, berteman, dan membentuk karakter. Dari situ, ia mulai menentukan sendiri di mana ia akan bersekolah dan mengurus sendiri semua kebutuhan untuk mendaftar sekolah. Dalam hal pendidikan iman Katolik, aku merasa belum begitu maksimal dalam mendampingi anakku. Sejak kecil dia didampingi oleh orangtuaku, diajak ke gereja, diajari berdoa secara Katolik, dan juga bersekolah di sekolah Katolik. Dan ini menjadi PR besar untuk mengajak anak berdiskusi mengenai agama, kemanusiaan, dan berbuat baik. Sejauh ini aku menanamkan hal baik untuk anakku dan dia mau menerima walaupun terkadang kami harus beradu pendapat. Proses menjadi orang tua bukanlah menjadi hal yang mudah karena harus terus-menerus belajar. Cara mendampingi anak pun akan berubah sejalan dengan tahap pertumbuhan mereka. Ketika masih kecil, kita mungkin bisa mendikte mereka, namun ketika mereka menjadi remaja, maka kita belajar untuk menjadi teman mereka. Dan keluarga kudus merupakan sebuah gambaran perjalanan hidup yang penuh kepasrahan yang bukan berarti lemah dan tidak melakukan apa-apa. Mampu pasrah untuk kemudian bangkit kembali. Ini seperti kisah Bunda Maria yang dalam kondisi hamil harus berjalan jauh ditemani Yusuf suaminya. Mereka ditolak di penginapan dan akhirnya Maria harus melahirkan di kandang. Sebuah kepasrahan yang luar biasa yang dimiliki oleh Bunda Maria dan Yusuf. Mereka percaya bahwa ini jalan yang harus mereka tempuh. Yesus lahir di kandang namun kelahirannya disambut para malaikat dan gembala. Seperti halnya hidup, apapun yang menimpa kita, baik suka maupun duka, patutlah untuk dirayakan. Emmy Kuswandhani – Single Mother

Feature

They are CHOSEN by God to be BROKEN

Lahir dan tumbuh dalam keluarga serba kecukupan membuat saya menjadi pribadi yang selalu nyaman dengan fasilitas dan cenderung sombong secara internal. Kenyamanan karena semua fasilitas tersedia ternyata tidak memuaskan hati. Akhirnya semua berubah ketika orang tua memutuskan berpisah. Mama, saya, dan kedua adik saya diusir dari rumah. Papa juga pernah melakukan kekerasan fisik dan mental kepadaku. Semua itu membuat saya menyimpan benci dan dendam yang sangat dalam, terutama dengan pengusiran yang papa lakukan. Sejak itu, kehidupan saya berubah 180 derajat. Berpindah-pindah rumah kontrakan, makan seadanya, dan sering mendapat teguran dari sekolah karena menunggak SPP. Setelah perpisahan itu, mama juga jarang di rumah. Mama akan berangkat pagi untuk bekerja dan kembali pada malam hari. Ketika kami berada di sekolah, mama akan menitipkan adik bungsuku pada tetangga. Di satu sisi, hal ini membuatku kecewa dengan mama. Namun dengan kondisi seperti itu, mama masih tetap mengajak kami untuk pergi ke gereja setiap hari Minggu, mengunjungi pastoran, dan memberikan sumbangan kepada anak-anak panti asuhan. Lambat laun, saya menemukan kebahagiaan pada komunitas suster-suster sepuh di paroki. Sukacita, kesederhanaan, dan keramahan mereka membuat saya ingin menjadi seperti mereka. Inilah salah satu motivasi awal saya menjadi biarawati, yaitu rasa bahagia. Perlahan saya juga merasa hidup saya diubah menjadi pribadi pemaaf, murah hati, dan sederhana. Selain itu, saya mendapat rahmat terbesar dalam diri ketika bisa merasakan cinta dan pengorbanan yang Tuhan berikan kepada saya. Saya tidak lagi menyesal dengan keluarga yang saya miliki, tetapi justru rasa syukur. Mama dan kedua adik merestui apa yang saya inginkan. Saya juga bisa merasakan kehadiran doa dan dukungan dari mereka. Syukur kepada Allah, tiga bulan sebelum mengucapkan kaul perdana, mama memutuskan untuk bergabung dalam komunitas TOC (Third Order of Carmelite). Di usianya yang sekarang, mama masih bisa membagi waktunya bagi keluarga dan komunitas. Tentu saja, hal ini menjadi salah satu penguat panggilan saya. Refleksi atas Keluarga Kudus juga membantu saya untuk semakin mampu menemukan rahmat dalam situasi yang kurang ideal itu. Keluarga kudus harus kita teladani sebagai umat Kristiani. They are CHOSEN by God in order to be BROKEN for the perfection of God’s love. Saya rasa, kita semua juga punya “KE-BROKEN-AN” masing-masing; BROKEN FAMILY, INTELLECTUAL, BROKENNESS, MORAL BROKENNESS, EMOTIONAL BROKENNESS, CHARACTER BROKENNESS, ECONOMICAL BROKENNESS, SOCIAL BROKENNESS, SPIRITUAL BROKENNESS, CULTURAL BROKENNESS, dan lain sebagainya. All of us are BROKEN, and yet CHOSEN by the Lord. Sr. Yohana Evita Veron Silaban, CAE – Komunitas Napoli, Italia

Feature

Keluarga Kudus itu seperti Puzzle

Aku lahir di sebuah keluarga kecil sebagai anak tunggal. Tahun 2005 bapak mulai berubah sikapnya dan berakhir dengan meninggalkan rumah. Akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai dan aku tinggal bersama ibu di Bekasi. Setelah bapak pergi aku merasa seperti mati rasa, karena aku tidak bisa mengetahui perasaan yang sedang kurasakan. Ibu menjadi satu-satunya orang tempat aku bergantung. Beliau berusaha mengajariku berdoa, tapi aku tak pernah mau. Ibu juga konsisten mengajakku ke gereja walaupun aku sering menolak. Beliau tidak pernah menyerah mengajakku agar aku ke gereja. Beliau yang mencukupi segala kebutuhan dan memperjuangkan hidup yang layak untukku selama ini. Aku tahu, beliau mengalami pergulatan yang amat panjang. Namun di satu sisi aku merasa kesepian karena ibu jarang sekali menemaniku dengan ritme kerjanya yang berangkat pagi pulang malam. Untuk mengurangi rasa sepiku ini aku lebih sering main bareng teman-teman, terkadang aku main juga ke rumah mereka. Ketika menjumpai keluarga temanku yang utuh, aku selalu bingung saat bertemu dengan seorang bapak. Ada rasa canggung, apa yang harus aku lakukan dan menentukan topik pembicaraan ketika aku bertemu dengan ayah dari teman-temanku. Mungkin karena aku dekat dengan ibu menjadikanku tidak begitu canggung ketika bertemu dengan ibu teman-temanku. Walaupun aku dibesarkan oleh single parent, namun aku bangga dengan ibuku. Beliau selalu berjuang yang terbaik untuk anaknya dan aku bangga kami bisa sampai di tahap ini. Dan aku sudah bisa menerima perpisahan orang tuaku. Bisa saja kalau mereka tidak berpisah aku tidak akan menjadi seseorang seperti sekarang ini. Beliau memberi kebebasan penuh kepadaku untuk menentukan jalan hidup. Beliau selalu mendukungku. Demikian pula keluarga besar ibuku. Tantanganku dalam menjalani pilihanku ini tidak berasal dari ibu atau keluarga besar ibuku, namun dari keluarga besar bapak. Mereka mengekang dan tidak mendukungku masuk ke novisiat. Menurutku keluarga kudus tidak tunggal seperti ayah yang menggambarkan figur Yusuf atau ibu yang menggambarkan figur Maria. Mungkin karena aku tidak memiliki figur ayah. Aku bisa menemukan figur Maria di sosok ibu, nenek, tante, atau sosok perempuan yang dekat denganku. Sosok-sosok ini saling melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain sehingga membentuk figur Maria yang sempurna. Begitu pula figur Yusuf, bisa kudapatkan dari sosok laki-laki yang ada di sekitarku, yaitu kakek, om, pakde, pendamping rohani, dan lainnya. Dalam bayanganku, keluarga kudus itu tidak tunggal, namun seperti puzzle yang dirangkai membentuk keluarga kudus yang sebenarnya. Fr. Daud Kefas Raditya, S.J. – Skolastik Jesuit

Feature

Keluargaku Melengkapiku

Ibu meninggal karena sakit ketika aku masih kelas V SD. Sejak itu aku hanya memiliki ayah dan kakak yang tinggal satu rumah denganku. Dalam keseharian, ayah atau kakak yang membuat makanan dan terkadang makanan ini bisa bertahan sampai 3 hari. Ayah adalah yang paling berperan besar dalam keluarga dan mencukupi kebutuhan kami sehari-hari. Beliau menanggung beban keluarga yang berat sebagai orang tua tunggal. Awal aku kehilangan ibu, aku kesulitan untuk menerimanya bahkan sampai SMP masih sering teringat ibu. Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menerima keadaan dan menganggap keluargaku utuh. Utuh bukan dalam arti jumlah, tetapi utuh dalam arti kondisi dan suasana. Ketika masuk Seminari, aku sudah bisa menerima keadaan dan mensyukurinya. Yang datang menjengukku adalah kakak dan ayah, namun aku tetap sangat mensyukurinya. Sedari kecil aku sudah diperkenalkan iman katolik oleh keluarga. Ibu mengenalkannya dengan mengajakku ikut doa lingkungan dan ayah mengajak latihan koor lingkungan. Ketika bulan Mei dan Oktober, aku sering diajak untuk rosario bersama dan mengikuti misa mingguan dan harian. Ketika ibu sudah tiada, yang membimbingku hanya satu orang. Ayahku menjadi sekaligus ayah dan ibu untukku dan kakakku. Saat aku di rumah, ayah selalu mengingatkanku untuk berefleksi. Ini membuatku tergerak untuk rajin berefleksi. Salah satunya dengan merefleksikan peran Keluarga Kudus Nazaret. Meskipun Keluarga kudus Nazaret terdiri atas ayah, ibu, dan anak. sementara keluargaku yang tanpa ibu, aku dibantu untuk lebih memahami bahwa keluarga kudus tidak hanya soal jumlah orang yang ada di dalamnya, namun bagaimana perannya untuk melengkapi hidupku. Seperti ayahku yang menjadi sosok ayah sekaligus ibu bagi keluarga kami. Ayah yang mencukupi kebutuhan kami dan memperhatikan kami seperti layaknya ibu. Itu semua sudah cukup. Yohanes Robiyantoro – Seminari Mertoyudan

Feature

Penerimaan dalam Keluargaku

Aku lahir di sebuah keluarga dengan empat orang anak. Ketika berusia 4 tahun, ibuku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gegar otak dan tak lama kemudian meninggal. Sejak ibu meninggal, bapak mengambil alih semua peran ibu. Beliau yang mengatur ekonomi keluarga. Keluarga kami juga dibantu oleh saudara-saudara lainnya karena bapak tidak bekerja. Dalam perkembangan pertumbuhanku, terkadang aku merasa mengapa aku berbeda dengan yang lainnya. Mereka memiliki ibu yang menjaga dan mengantarkan anak-anaknya, mengapa ibuku tidak ada. Bahkan ketika masuk Seminari, teman-temanku datang bersama dengan orang tua utuh sedangkan aku hanya datang dengan bapak saja. Sempat muncul pemikiran mungkin enak ya punya keluarga yang utuh, tapi mau bagaimana lagi aku harus menerima kondisi keluargaku. Di Seminari, aku dibantu untuk mengolah semua keresahan dan ketidakberdayaanku dalam menerima kondisi keluargaku. Namun dalam menghayati panggilanku di Seminari, tak lepas juga dari tantangan. Salah satunya ketika mengikuti retret yang bertema keluarga. Saat aku diminta untuk membayangkan orang tua, yang terlintas di pikiranku hanya bapak, dan aku selalu mencari-cari di mana sosok ibuku. Hal ini yang terkadang membuat aku sedih. Aku terbantu banyak menghidupi situasi ini lewat refleksi atas Keluarga Kudus. Keluarga kudus menurutku bukan hanya keluarga yang suci, namun keluarga yang mau dan mampu menerima kehadiran, kekurangan, serta situasi anggota keluarga itu. Polycarpus Benny Wijaya – Seminari Mertoyudan

Feature

Pendampingan Anak dengan Kasus Kehamilan yang Tidak Direncanakan

Dalam catatan tahunan, pada tahun 2019 Komnas Perempuan menemukan 23.126 kasus pernikahan anak dan jumlah ini naik hampir tiga kali lipat pada 2020, yaitu 64.211 kasus. Pernikahan anak terjadi setelah anak mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Di Shelter Gembala Baik, jumlah kasus kehamilan tidak direncanakan pada usia anak selalu ada bahkan konsultasi tentang kasus ini selama masa pandemi cenderung meningkat. Yang mendesak bagi pendampingan ibu-ibu muda ini adalah agar mereka mampu menerima situasi dan keadaan sehingga mereka dapat mencintai diri dan janin dalam kandungannya. Penerimaan kehamilan yang tidak direncanakan memerlukan waktu yang cukup panjang. Mereka yang sudah dapat menerima kehamilannya biasanya lebih mudah untuk diajak berpikir bagaimana memenuhi hak-hak janin dalam kandungan mereka dan bagaimana menjaga kesehatan diri dan janinnya.  Mengutip Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” Anak disebut sebagai pribadi yang rentan karena secara fisik, psikologis, spiritual, sosial, dan ekonomi karena mereka masih bergantung kepada orang dewasa. Kehamilan pada usia ini memberi risiko ganda, baik bagi ibu maupun janinnya. Paus Fransiskus dalam seruan apostolik Amoris Laetitia. Ia mengatakan bahwa setiap hidup baru memungkinkan kita untuk menemukan dimensi kasih yang cuma-cuma dan yang tidak pernah berhenti membuat takjub. Inilah keindahan dikasihi lebih dahulu: anak-anak telah dikasihi sebelum mereka dilahirkan.” (KWI, 2017). Dimensi ini tidak mudah ditemukan pada kehamilan tidak direncanakan yang dialami oleh seorang anak. Bagi mereka yang mengalami keadaan ini menimbulkan penderitaan fisik, psikis, dan sosial yang berat sehingga mereka membutuhkan pendampingan.  Penerimaan dari keluarga sangat berarti bagi para calon ibu muda. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus bahwa jika seorang anak lahir ke dunia dalam situasi yang tidak diinginkan, para orang tua dan seluruh anggota keluarganya harus melakukan segala upaya untuk menerima anak tersebut sebagai karunia dari Allah dan memikul tanggung jawab untuk menerima anak-anak ini dengan keterbukaan dan kasih sayang. Sebab ketika berbicara tentang anak yang lahir ke dunia, maka tidak ada pengorbanan orang dewasa yang dianggap terlalu besar atau terlalu mahal jika ini dimaksudkan agar sang anak tidak pernah berpikir bahwa ia adalah suatu kesalahan atau bahwa ia tidak berharga yang justru meninggalkan luka-luka kehidupan karena keangkuhan manusia (KWI, 2017). Keluarga-keluarga yang mengalami kehamilan pada anak-anak di bawah umur, yang seharusnya menjadi garda terdepan, seringkali mengalami kesulitan dalam menghadapi situasi ini. Dengan demikian, keluarga pun memerlukan pendampingan agar mampu bersama-sama mendampingi dan menerima anak-anak mereka yang tengah hamil.  Misi dari pelayanan Gembala Baik adalah rekonsiliasi. Para peserta program akan diajak untuk dapat berdamai dengan diri, keluarga, dan Tuhan. Dalam pendampingan spiritual para peserta program diajak untuk mengalami Tuhan Yang Maha Baik, Tuhan yang senantiasa terbuka bagi mereka yang mau datang bahkan dengan segala cacat-celanya. Untuk itu perlu diciptakan waktu dan suasana doa yang baik. Untuk sementara waktu para peserta program diajak menarik diri dari hiruk pikuk keseharian agar mereka lebih mudah mengalami kehadiran dan belas kasih Tuhan. Peserta program diajak untuk mengalami dan menyadari bahwa masing-masing adalah pribadi yang berharga. Input tentang gender diberikan agar mereka mengetahui, menyadari, dan mensyukuri keadaan mereka sebagai seorang perempuan berharga. Mereka juga diajari cara melindungi diri dari kekerasan yang mungkin mengancam mereka dan agar berani bersuara ketika mereka mengalami kekerasan. Selama pendampingan, para peserta program diberi layanan psikologi oleh lembaga psikologi Wiloka. Tidak mudah untuk dapat mengajak ibu-ibu muda ini untuk dapat mengalami kehadiran Tuhan dalam situasi seperti ini. Emosi yang tidak stabil, ups and downs, memberi tantangan tersendiri. Yang dilakukan dalam pendampingan adalah menerima apapun keadaan mereka. Sikap-sikap dalam mendampingi juga menjadi penting. Idealnya, mendampingi anak yang mengalami kehamilan tidak direncanakan tidak bisa disambi, mesti fokus dan sepenuh hati. Hal ini akan sangat dirasakan oleh mereka terutama yang dilayani di shelter. Mereka dibantu untuk mengalami kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari.  Selain  pendampingan spiritual dan psikologis, para peserta program juga dibantu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan meliputi pemeriksaan dan input-input terkait kehamilan dan merawat anak mereka kelak. Dalam parenting yang tak kalah penting adalah pengetahuan dan kesadaran akan hak-hak anak, kedudukan anak, dan perlindungan anak sehingga di akhir masa pendampingan. Mereka diharapkan mampu memutuskan dengan bijaksana dan bertanggung jawab mengenai pengasuhan anak mereka. Apapun yang akan mereka putuskan haruslah “demi kepentingan anak,” maka keputusan-keputusan ini pun seringkali tidak mudah karena baik ibu maupun anak yang baru lahir masih sama-sama sebagai anak. Untuk itu, pendampingan harus dilakukan dalam konteks keluarga.  Kontributor : Sr. Theresia Nia, RGS – Koordinator Pelayanan Anak dan Remaja

Feature

Mengenal Single Parents

Sebagai seorang yang masih single dan belum menjadi seorang parent, saya sering bertanya-tanya, apa yang menyebabkan seseorang memilih untuk menjadi seorang single parent. Dalam banyak kisah, ada pasangan-pasangan yang memutuskan untuk berpisah, bercerai secara resmi, atau ada orang-orang yang meninggalkan pasangan dan anak-anaknya. Sebagai seorang Katolik yang meyakini bahwa pernikahan yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia, awalnya saya gagal paham, mengapa orang memutuskan untuk berpisah. Rasa penasaran dan ketidakpahaman saya itu menimbulkan pertanyaan lain tentang dampak single parenting bagi anak-anaknya. Hal ini membawa saya melakukan penelitian tentang isu ini dan melibatkan diri dalam komunitas single parents Indonesia in motion (SPINMOTION) sejak tahun 2015.  Single Parent: Apa dan Bagaimana Single parent adalah sebuah kondisi di mana seseorang mengasuh anak tanpa pasangan. Single parenting bisa terjadi karena berbagai hal, yakni adanya perceraian secara legal (cerai hidup), meninggalnya salah satu orang tua (cerai mati), adanya perpisahan (tanpa cerai resmi), penelantaran (salah satu pasangan meninggalkan keluarga), seseorang yang memilih tidak menikah setelah mengalami kehamilan tidak dikehendaki, adopsi anak oleh seseorang yang belum atau tidak menikah, atau inseminasi pada ibu tunggal. Sekitar dua tahun lalu, ada anggota baru di SPINMOTION dengan kriteria berbeda. Ia masih terikat dalam pernikahan resmi, namun ia menjadi “orang tua tunggal” dalam keluarga karena pasangan tidak bisa berfungsi optimal, misalnya karena mengalami penyakit kronis tertentu, gangguan mental, maupun disabilitas lainnya. Dari pengalaman saya menemani komunitas SPINMOTION, sebetulnya tidak ada satu orang pun yang secara sepenuh hati dengan sukarela dan sukacita memilih menjadi seorang single parent. Perpisahan seringkali menjadi pilihan terakhir yang harus diambil karena relasi yang terjalin justru merugikan salah satu atau kedua belah pihak.  Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terdapat 3,97 juta atau 1,46% penduduk Indonesia yang memiliki status pernikahan cerai hidup hingga akhir Juni 2021. Dalam masa pandemi Covid-19, kasus kekerasan dalam rumah tangga mengalami peningkatan, dan kasus perceraian pun meningkat. Selain itu, angka kematian sebagai dampak langsung dari pandemi Covid-19 juga menambah jumlah single parents di Indonesia.  Terdapat berbagai konsekuensi dan dampak dari kondisi seseorang sebagai single parent. Dampak emosional seperti kesepian, minder, tidak berdaya kebingungan identitas mungkin terjadi akibat perubahan status menjadi single parent. Masih ada dampak finansial dan sosial terkait dengan status hidup dan relasinya dengan anak. Stigma, diskriminasi, dan penolakan sering dialami oleh para single parents, bahkan terkadang dari orang terdekat mereka. Salah satu single mother pernah berbicara pada saya demikian, “Ketika suami saya meninggal, saya baru tahu bahwa saya juga terkonfirmasi positif HIV. Kalau boleh jujur, hal yang paling berat buat saya bukan status HIV positif, tapi kenyataan bahwa saya sekarang berstatus sebagai ibu tunggal. Saya harus apa-apa sendiri sekarang. Biasanya kan ada suami untuk berbagi keluh kesah, berbincang, apalagi soal anak, tapi sekarang saya harus pikir sendiri apa yang harus saya lakukan,” Di sisi lain, ada dampak berupa peningkatan kerentanan anak, dengan orang tua tunggal.   Hal ini terkait masalah emosi, pendidikan dan prestasi, kesehatan, pekerjaan dan ekonomi, relasi dengan orang lain, serta masalah dalam perilaku. Anak-anak dalam keluarga dengan orang tua tunggal bisa jadi kurang memiliki pengalaman untuk menjalin kedekatan maupun memperoleh kontrol dari sosok laki-laki dewasa dan perempuan dewasa sekaligus. Hal ini dapat berdampak pada bagaimana persepsi mereka hingga dewasa kelak.  Tidak bisa dipungkiri, praktik pengasuhan single parents mengalami banyak tantangan. Single parents harus menjalani peran ganda sebagai ayah dan ibu sekaligus, sebagai pencari nafkah serta mengurus rumah dan mengasuh anak. Konsekuensinya, waktu untuk menjalin kedekatan maupun untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak bisa jadi kurang. Beberapa single parent yang berpisah atau cerai hidup kadang juga kesulitan untuk menjelaskan ke anak tentang kondisi pernikahan kedua orang tuanya, terlebih jika masih tersisa konflik di antara mereka. Co-parenting atau mengasuh bersama bisa jadi pilihan, namun kenyataannya seringkali tidak semudah itu. Opsi lain yang sering dijalankan oleh para single parents adalah bekerja sama dengan keluarga besar untuk mengasuh anak. Co-parenting maupun pengasuhan oleh keluarga besar mengalami tantangan yang sama, yakni konsistensi. Dari mini riset yang saya lakukan pada 2018, ibu tunggal, terlebih yang bercerai dengan suaminya, cenderung mengasuh anaknya dengan kehangatan yang tinggi. Kehangatan yang tinggi ini menimbulkan kepercayaan dan kelekatan anak terhadap ibu. Akibatnya, ada anak yang enggan menuruti orang lain selain ibu, dan anak menunjukkan sikap protektif pada ibu. Di sisi lain, single parents rentan melakukan praktik pengasuhan yang inefektif, misalnya dengan menakut-nakuti atau mengancam anak, bahkan melakukan kekerasan fisik dan verbal pada anak. Hal semacam ini umumnya terjadi karena kelelahan yang dialami single parents dalam menjalankan tanggung jawabnya. Permasalahan dalam pengasuhan juga umumnya muncul lagi ketika ayah maupun ibu memiliki pasangan baru.  Single Parents dan Pendidikan Iman Dalam pengalaman saya menemani para single parents, ketika mengalami masa-masa sulit maupun ketika sudah menjadi single parents, umumnya mereka melakukan upaya untuk semakin dekat pada Tuhan. Bagi para ibu tunggal, umumnya mereka mengenalkan sosok Tuhan dan tokoh agama sebagai sosok ayah yang bisa dijadikan sandaran sekaligus panutan. Meski demikian, beberapa single parents merasa kesulitan untuk mengajarkan hal ini pada anak-anak mereka. Dalam banyak kasus, kesulitan tersebut berkaitan dengan kondisi para single parents yang juga mengalami pergulatan iman dalam diri mereka. Tantangan ini biasanya coba diatasi dengan melibatkan orang lain dalam pendidikan iman anak. Keterlibatan dan dukungan dari orang lain adalah salah satu kebutuhan utama bagi seorang single parent. Dukungan emosional berupa penguatan, apresiasi, penerimaan, orang-orang yang bersedia mendengarkan keluh kesah, tempat berbagi saran dan informasi, serta perasaan senasib sepenanggungan adalah hal-hal yang bisa membantu para single parents berfungsi lebih optimal. Di tengah kenyataan bahwa keluarga mereka tidak lagi utuh, kehadiran komunitas dapat menjadi keluarga baru bagi single parents. Kenyataan ini menjadi undangan bagi Gereja untuk menampilkan wajah Allah yang penuh kasih dan kerahiman-Nya yang memancar bagi semua orang, termasuk para single parents. Kontributor : Stella Vania Puspitasari, M.Psi. – Psikolog

Karya Pendidikan

Kekhasan Kopkar Mamona

Selain aspek ekonomi dan sosial,  Koperasi Karyawan MAMONA YKC Surakarta menghidupi jiwa ekonomi dan koperasi dengan ditunjuknya Penasihat Rohani. Biasanya dalam struktur pengelolaan koperasi terdapat  Pengurus dan Pengawas sebagai pengelola. Namun di Kopkar MAMONA selain pengurus dan pengawas terdapat pula Penasehat Teknis dan Penasehat Rohani. Penasehat teknis memberi pertimbangan bagi anggota, pengurus, dan pengawas dalam mengambil keputusan “ekonomi,” sedangkan penasehat rohani memberi pertimbangan “moral, hati nurani” dalam  pengambilan keputusan  bagi anggota, pengurus dan pengawas dari sisi pandang rohani. Saat ini Koperasi Karyawan MAMONA beranggotakan 331 orang dengan aset yang sudah cukup besar, lebih kurang mencapai 5,6 milyar rupiah. Persoalan yang kini dihadapi oleh Kopkar MAMONA adalah membangun jejaring dan lebih mentransformasikan jiwa ekonomi dan sosial koperasi kepada semakin banyak orang selain pada anggota. Kontributor : F.X. Juli Pramana – SMK Kanisius Surakarta