They are CHOSEN by God to be BROKEN

Date

Lahir dan tumbuh dalam keluarga serba kecukupan membuat saya menjadi pribadi yang selalu nyaman dengan fasilitas dan cenderung sombong secara internal. Kenyamanan karena semua fasilitas tersedia ternyata tidak memuaskan hati. Akhirnya semua berubah ketika orang tua memutuskan berpisah. Mama, saya, dan kedua adik saya diusir dari rumah. Papa juga pernah melakukan kekerasan fisik dan mental kepadaku. Semua itu membuat saya menyimpan benci dan dendam yang sangat dalam, terutama dengan pengusiran yang papa lakukan. Sejak itu, kehidupan saya berubah 180 derajat. Berpindah-pindah rumah kontrakan, makan seadanya, dan sering mendapat teguran dari sekolah karena menunggak SPP.

Setelah perpisahan itu, mama juga jarang di rumah. Mama akan berangkat pagi untuk bekerja dan kembali pada malam hari. Ketika kami berada di sekolah, mama akan menitipkan adik bungsuku pada tetangga. Di satu sisi, hal ini membuatku kecewa dengan mama. Namun dengan kondisi seperti itu, mama masih tetap mengajak kami untuk pergi ke gereja setiap hari Minggu, mengunjungi pastoran, dan memberikan sumbangan kepada anak-anak panti asuhan.

Lambat laun, saya menemukan kebahagiaan pada komunitas suster-suster sepuh di paroki. Sukacita, kesederhanaan, dan keramahan mereka membuat saya ingin menjadi seperti mereka. Inilah salah satu motivasi awal saya menjadi biarawati, yaitu rasa bahagia. Perlahan saya juga merasa hidup saya diubah menjadi pribadi pemaaf, murah hati, dan sederhana. Selain itu, saya mendapat rahmat terbesar dalam diri ketika bisa merasakan cinta dan pengorbanan yang Tuhan berikan kepada saya. Saya tidak lagi menyesal dengan keluarga yang saya miliki, tetapi justru rasa syukur. Mama dan kedua adik merestui apa yang saya inginkan. Saya juga bisa merasakan kehadiran doa dan dukungan dari mereka. Syukur kepada Allah, tiga bulan sebelum mengucapkan kaul perdana, mama memutuskan untuk bergabung dalam komunitas TOC (Third Order of Carmelite). Di usianya yang sekarang, mama masih bisa membagi waktunya bagi keluarga dan komunitas. Tentu saja, hal ini menjadi salah satu penguat panggilan saya.

Refleksi atas Keluarga Kudus juga membantu saya untuk semakin mampu menemukan rahmat dalam situasi yang kurang ideal itu. Keluarga kudus harus kita teladani sebagai umat Kristiani. They are CHOSEN by God in order to be BROKEN for the perfection of God’s love.

Saya rasa, kita semua juga punya “KE-BROKEN-AN” masing-masing; BROKEN FAMILY, INTELLECTUAL, BROKENNESS, MORAL BROKENNESS, EMOTIONAL BROKENNESS, CHARACTER BROKENNESS, ECONOMICAL BROKENNESS, SOCIAL BROKENNESS, SPIRITUAL BROKENNESS, CULTURAL BROKENNESS, dan lain sebagainya. All of us are BROKEN, and yet CHOSEN by the Lord.

Sr. Yohana Evita Veron Silaban, CAE – Komunitas Napoli, Italia

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.