Pilgrims on Christ’s Mission

serikat yesus

Feature

Pelayanan Tanpa Jalan Akhir

Bertatap muka dan bersalaman dengan Paus Fransiskus adalah mimpi yang tidak pernah berani saya bayangkan sebelumnya. Paus sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik sedunia dalam bayangan saya adalah sosok yang nan jauh di sana. Tokoh yang sepertinya tidak mungkin saya temui secara langsung. Namun ternyata saya diberi kesempatan yang indah untuk bisa bertemu dengan pribadi Paus dalam rangka kunjungannya ke Indonesia pada bulan September 2024 ini. Saya ikut menyambut kedatangan beliau bersama kelompok pengungsi, anak – anak yatim piatu, dan kelompok lansia di Nunciatura, Jakarta.   Selama ini, sosok Paus Fransiskus hanya saya lihat dan ikuti dari pemberitaan, sosial media serta film “The Two Popes.” Latar belakang dan pemikiran beliau sebagai orang yang lahir dari Amerika Latin memberi kesegaran dalam pemikiran-pemikiran Gereja Katolik. Pilihan pada kesederhanaan cara hidup adalah hal yang paling mengena bagi saya ketika melihat sosok Paus Fransiskus dari sejak awal terpilih hingga sekarang. Menjadi sederhana adalah sebuah pilihan bijak ketika kita selalu terpapar dengan informasi terbaru dan diperbandingkan dalam segala hal lewat sosial media. Bagi saya kesederhanaan yang ditunjukkan Paus menjadi bukti bahwa pesan yang beliau sampaikan dalam setiap homili bukanlah kata kosong belaka tapi tindakan yang dimulai dari diri sendiri.   Ensiklik Fratelli Tutti yang dikeluarkan tahun 2020 adalah salah satu pemikiran Paus Fransiskus yang mengena bagi saya. Dalam dokumen yang mengulas secara dalam tentang persaudaraan dan persahabatan sosial, kita diajak pertama untuk mengenali bahwa semua manusia memiliki martabat yang sama, apapun latar belakang, kelas sosial, agama, orientasi, suku, dan ras. Dengan mengenali bahwa semua manusia adalah sejajar maka relasi atau pertemanan antar budaya, komunitas maupun bangsa bukanlah hal yang mustahil. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kemudian kesetaraan martabat dan persaudaraan bisa menjawab tantangan zaman yang penuh dengan persoalan-persoalan pelik mulai kemiskinan, perpindahan paksa, perang dan rusaknya lingkungan bisa dijawab. Menurut saya, Paus tidak menawarkan satu resep mujarab untuk menyelesaikannya. Ia justru mengajukan sebuah konsep solidaritas dan kebaikan bersama yang melampaui individu, kelompok, dan negara untuk menjawab berbagai persoalan tersebut. Solidaritas dan mewujudkan kebaikan bersama ini pun bisa dimulai dari diri sendiri, bersama tetangga, teman, dan rekan kerja.   Perjumpaan saya dengan Paus kali ini mungkin tidak lebih dari lima menit. Saya bersama yang lain turut menyambut beliau sesampainya di Nunciatura. Paus Fransiskus di usianya yang ke-86 tampak kelelahan setelah perjalanan panjang dari Roma ke Jakarta. Namun, perjumpaan singkat ini menjadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup saya. Saya masih ingat pasca pertemuan tersebut dan berita tentang penyambutan singkat ini, banyak teman dan saudara menyapa dan mengatakan bahwa saya adalah orang yang dilimpahi berkat karena kesempatan bertemu Paus ini. Semua ucapan selamat dan berkah inilah yang membuat saya bersyukur atas kesempatan tersebut. Tentu saja, kesempatan ini tidak akan datang jika saya tidak bergerak dalam pelayanan pengungsi di JRS Indonesia yang kebetulan ada beberapa pengungsi dampingan JRS yang ikut dalam pertemuan itu.     Saya juga tersentuh dan tersapa dengan apa yang dinyatakan Paus dalam Misa di GBK “….dalam menghadapi berbagai tugas hidup sehari-hari, menghadapi panggilan yang kita semua rasakan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, untuk melangkah maju di jalan perdamaian dan dialog, yang telah lama dipetakan di Indonesia, kita kadang-kadang merasa tidak mampu, merasakan beratnya komitmen yang begitu besar yang tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan, atau kesalahan-kesalahan kita yang tampaknya menghambat perjalanan hidup kita. Namun, dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak tetap menjadi tawanan kegagalan kita, dan alih-alih tetap menatap jala kita yang kosong, untuk memandang Yesus dan percaya kepada-Nya.” Apa yang beliau sampaikan tersebut berkorelasi dengan situasi batin yang sedang saya hadapi akhir-akhir ini. Ketika saya memberikan pelayanan kepada pengungsi luar negeri, saya kadang merasa bahwa pelayanan untuk pengungsi adalah pelayanan tanpa jalan akhir. Sering kali saya juga bertanya pada diri saya apakah saya sudah melakukan yang benar? Apakah pelayanan kepada pengungsi ini adalah sebuah usaha yang doomed to fail di mana pada akhirnya membuat saya merasa kecewa, putus asa dan sendiri? Akan tetapi, dalam kotbah yang sama Paus juga mengutip apa yang disampaikan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta.   ”Ketika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa-apa, jangan pernah lelah menabur.”   Pada akhirnya, saya kembali pada makna pesan Bapa Paus dalam dalam Fratelli Tutti bahwa saya akan terus menumbuhkan semangat bersaudara bersama mereka yang terpinggirkan, bersentuhan langsung dalam jaringan bela rasa dengan kerendahan hati serta kepercayaan penuh pada kuasa Allah untuk mewujudkan kebaikan bersama yakni dunia dibangun atas solidaritas dan keadilan.   Kontributor: Melani Wahyu Wulandari – JRS Indonesia

Feature

Di Indonesia, Paus Fransiskus Disambut oleh Pengungsi dan JRS Indonesia

Paus Fransiskus terus menunjukkan kepeduliannya yang mendalam terhadap kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan terabaikan saat tiba di Indonesia pada Selasa, 3 September 2024. Saat tiba di Jakarta, Paus disambut hangat oleh anak-anak yatim, orang sakit, tunawisma, dan pengungsi di Kedutaan Vatikan (Nunciatura) di Jakarta Pusat. Di tempat itu dan agenda pertamanya, ia menyapa sekitar 40 orang dari komunitas terpinggirkan. Paus menyapa orang-orang di pinggiran eksistensial. Paus selalu memberikan perhatian khusus kepada orang miskin, yang ditelantarkan, pengungsi, dan korban perdagangan manusia.   Beberapa bulan sebelumnya, JRS Indonesia mengusulkan kepada Mgr. Piero Pioppo, Nuntius Tahta Suci untuk Indonesia, agar para pengungsi diberi kesempatan untuk bertemu dengan Paus selama kunjungannya. Ide ini diterima dengan baik. Penyambutan di Nunciatura diperluas untuk mencakup tidak hanya pengungsi tetapi juga tunawisma, orang sakit, dan anak-anak yatim. Nuntius menyatakan, “Biarkan yang terakhir menjadi yang pertama,” menekankan pentingnya simbol dari gerakan ini dalam mempromosikan perhatian kepada kelompok-kelompok yang terpinggirkan.   Didampingi oleh perwakilan dari JRS Indonesia dan komunitas Sant’Egidio, 20 pengungsi dari Myanmar, Afghanistan, Sudan, Somalia, dan Sri Lanka merasa terhormat menyambut Paus Fransiskus dalam perjalanan apostoliknya yang ke-45. Selama 12 hari, Yang Mulia dijadwalkan mengunjungi Indonesia, Papua Nugini, Timor-Leste, dan Singapura, di mana ia akan bertemu dengan yang paling rentan, pejabat pemerintah, pemimpin agama, dan misionaris, serta terlibat dalam dialog antaragama.     Hidup di Indonesia bisa sangat sulit bagi pencari suaka dan pengungsi. Tanpa hak untuk bekerja, mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan harus bergantung pada bantuan kemanusiaan dari organisasi seperti UNHCR, IOM, dan organisasi non-pemerintah lain seperti JRS Indonesia. Akses terhadap kebutuhan pokok, perawatan kesehatan, dan pendidikan sangat terbatas, dan integrasi tidak mungkin dilakukan di bawah kebijakan saat ini. Bahkan upaya untuk hidup berdampingan dengan penduduk setempat sambil menunggu pemukiman kembali menghadapi banyak kendala.   Beberapa pengungsi mengungkapkan rasa terima kasih dan harapan mereka setelah bertemu dengan Bapa Suci. Feruzul, seorang pengungsi Rohingya, menggambarkan pertemuan dengan Paus Fransiskus sebagai momen berharga dan penuh kehormatan. Ia mengungkapkan antusiasmenya terhadap kunjungan tersebut. Bibi Rahima, seorang pengungsi dari Afghanistan, berterima kasih kepada Paus karena telah menjadi pembela terbaik bagi para pengungsi sambil menekankan perlunya upaya advokasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Tariq, seorang pengungsi dari Sudan, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian Paus terhadap situasi pengungsi global dan mendesaknya untuk mendorong peningkatan peluang pemukiman kembali dari Indonesia. Zakaria, seorang pengungsi dari Somalia, menyoroti pemotongan bantuan dari lembaga internasional baru-baru ini, menekankan bahwa pengungsi di Indonesia kini hidup dalam kondisi yang memprihatinkan dan sangat membutuhkan bantuan.   Kontributor: Martinus Dam Febrianto, S.J. – JRS Indonesia

Feature

A Moment of Joy, Humor, Tears, and Laughter

Kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus menyentuh hati banyak orang lintas generasi, suku, dan bahkan agama. Sosoknya yang sederhana menginspirasi dan menyentuh banyak orang. Pilihan-pilihan atas fasilitas yang tersedia memperlihatkan bahwa ia adalah sosok yang hidup dalam kesederhanaan. Ia berusaha agar dekat dengan semua orang, khususnya anak kecil, orang muda, dan juga mereka yang berkebutuhan khusus. Dalam beberapa momen, Bapa Suci berkelakar, memperlihatkan bahwa ia adalah sosok yang ramah. Sederhana, rendah hati, dan humoris, itulah tiga keutamaan yang saya pelajari dari kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia.   Pada Mulanya “…tambah satu agenda resmi: menyambut Paus Fransiskus di Jakarta. Tanggal menyusul.” Begitu isi chat saya dengan Fr. Popo pada tanggal 26 Februari 2024. Saat itu, saya dan Fr. Benic sedang mempersiapkan proses kepulangan ke Indonesia dari Chuuk, Micronesia. Sebagai bagian proses dari persiapan, saya cukup intens berkomunikasi dengan Fr. Popo mengenai hal-hal yang perlu kami siapkan untuk masuk ke formasi teologi. Saat pesan itu datang, saya sedang mempersiapkan misa di Kapel Xavier High School. Seekor burung Myzomela merah nemplok di altar kapel yang menghadap ke Laguna Chuuk. Kabar mengenai kedatangan Bapa Suci membuat saya antusias. Saya berharap agar nantinya bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Bapa Suci.   Singkat cerita, saya pulang ke Indonesia, mengunjungi beberapa komunitas Jesuit di Jakarta dan Yogyakarta, mengunjungi keluarga di Solo Baru, dan akhirnya bergabung ke komunitas Kolsani. Pembicaraan mengenai kedatangan Bapa Suci di Internos pun perlahan mulai didengungkan. Pater Provinsial lalu memberi detail informasi pertemuan pribadi antara Bapa Suci dengan para Jesuit. Setelah setiap komunitas mendapatkan kuota pertemuan tersebut, Pater Kuntoro Adi, sebagai Rektor komunitas, menyebarkan Google Form untuk mendaftar. Saya lalu mengisi form tersebut dan puji Tuhan saya masuk daftar pertemuan pribadi dengan Bapa Suci Paus Fransiskus.   Momen Kegembiraan Bersama Pada Rabu, 4 September 2024, hampir 200 Jesuit di Indonesia berkumpul di Lobi Gedung Ignasius, Kolese Kanisius. Sejumlah frater filosofan menyambut di meja registrasi. Fr. Kefas setia melayani para Jesuit yang ingin minum secangkir kopi. Pater Gandi, Ketua Panitia, nampak sibuk wira-wiri memastikan segalanya berjalan sesuai rencana. Aneka snack dan sarapan tersedia di beberapa meja. Mereka yang baru datang lantas bersalaman dan bercakap-cakap ringan.   Sebagian besar dari Jesuit yang hadir mengenakan setelan roman kolar dan bersepatu pantofel hitam. Pada saat sesi foto bersama sebelum berangkat ke Nunciatura, Pater Angga berkelakar bahwa baru pertama kali ini Jesuit Indonesia foto bersama dengan setelan yang rapi dan necis. Suasana yang terbangun di Lobi Ignasius pada saat itu sangat menggembirakan. Saya melihat bahwa semua Jesuit yang hadir merasa antusias untuk mengikuti pertemuan pribadi dengan Bapa Suci Paus Fransiskus.   Sesampainya di Nunciatura, para Jesuit duduk sesuai kategori yang sudah ditentukan oleh panitia. Lagi-lagi dalam hal ini Jesuit masih bisa rapi, kata seorang frater filosofan. Ruang pertemuan riuh rendah dengan percakapan para Jesuit. Saya duduk di barisan skolastik muda bersama Frs. Barry dan Kefas. Kami turut bercakap-cakap mengenai antusiasme dan sukacita dalam pertemuan keluarga ini.   Suasana berubah menjadi sedikit lebih hening ketika Bapa Suci tiba di Nunciatura. Berulangkali para skolastik menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Bapa Suci sudah memasuki ruangan. Kami sempat terperanjat saat seseorang berjubah putih memasuki ruangan. Oh, ternyata itu Pater James Spillane. Beberapa saat kemudian, pintu utama terbuka. Seorang dengan jubah putih memasuki ruangan dengan kursi roda. Bapa Suci? Oh ternyata itu Pater James Bharataputra. Suasana semakin menegangkan.   Beberapa saat kemudian, Bapa Suci masuk melalui pintu utara ruang pertemuan. Saya dan Fr. Barry yang duduk bersebelahan saling berbisik, “Pausnya datang.” Perawakannya sederhana. Ia mengenakan jubah putih, sama seperti di foto-foto yang biasanya saya dapatkan di Google. Para panitia berdiri berjejer menyambut Bapa Suci. Ketika lewat, beberapa skolastik seperti Frs. Agung dan Arnold memanfaatkan kesempatan untuk salaman dengan Bapa Suci. Tepuk tangan panjang pun pecah. Ah, akhirnya kami bisa melihat Bapa Suci secara langsung.   Saya lalu bertanya-tanya, bagaimana pertemuan ini akan dimulai. Saya pribadi merasa canggung. Pater Provinsial, dalam pengarahan pertemuan, sudah mengatakan bahwa semua rancangan acara yang beliau siapkan bisa berubah seluruhnya tergantung kersanipun (Jw: kehendak) Bapa Suci. Ternyata memang berubah, walau tidak semua. Bapa Suci berkata bahwa waktu kita tidak banyak, maka ia langsung membuka sesi tanya jawab.     Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Bapa Suci melontarkan satu-dua anekdot yang membuat para Jesuit terbahak. Pertemuan yang singkat, padat, dan hangat itu diakhiri dengan momen bersalaman satu per satu dengan Bapa Suci. Terima kasih Pater Provinsial karena menyampaikan permintaan ini dengan sangat jelas dan diterima oleh Bapa Suci dengan senang hati, malah sempat berkelakar takut kalau tangannya digigit oleh mereka yang bersalaman.   Selepas bersalaman dengan Bapa Suci dan mendapatkan kotak merah yang berisi rosario, kami keluar teratur dari kompleks Nunciatura. Terlukis rona sukacita di wajah para Jesuit. Satu per satu masuk ke dalam bus yang sudah tiba di depan Nunciatura. Dalam perjalanan menuju Kanisius, saya bisa merasakan betapa gembiranya kami bisa mengikuti pertemuan keluarga dengan Bapa Suci. Salah seorang skolastik dengan berkelakar berkata bahwa berkat yang kita terima dari Bapa Suci sama dengan misa satu minggu, jadi setelah pertemuan tidak perlu misa satu minggu. Bus yang saya tumpangi dipenuhi dengan sukacita. Tangan saya masih menggenggam kuat kotak merah dari Bapa Suci dan surat undangan dari panitia. Fr. Arnold berkata bahwa ia akan memberikan rosario itu kepada ibunya. “Iya, supaya lebih berdaya guna”, sahut seorang frater yang lain. Kami pun kembali ke Kolese Kanisius, melakukan santap siang, foto-foto di lapangan Kanisius, dan satu per satu pulang.     Tiga Keutamaan Paus Fransiskus  Pertemuan keluarga itu memang singkat, tapi sukacita yang saya rasakan sungguh berahmat. Rombongan Kolsani tidak bisa berlama-lama di Jakarta karena kami harus segera kembali ke Yogyakarta. Dalam perjalanan pulang ke Kolsani, saya melihat sejumlah pemberitaan mengenai Bapa Suci di media sosial. Harian Kompas, story Instagram, status Whatsapp, FYP TikTok, dan trending Twitter Indonesia menyajikan pemberitaan dan berbagai cuplikan video Bapa Suci di Jakarta.   Hal yang membuat saya tersentuh adalah cerita-cerita kecil perjumpaan umat dengan Bapa Suci di jalan. Sebagai contoh, ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya. Saat mobilnya melintas, Bapa Suci menepi untuk memberi berkat pada sang anak dan memberinya rosario kecil. Sontak sang

Feature

Paus Fransiskus dan Pesan Hidup yang Mendalam

Paus Fransiskus, melalui berbagai ensiklik dan seruan apostolik, telah menyampaikan pesan hidup mendalam yang menekankan pentingnya cinta, belas kasih, dan solidaritas. Dalam ajarannya, Paus sering menyoroti panggilan untuk merawat orang yang terpinggirkan, lingkungan, dan hubungan manusiawi yang lebih inklusif. Beliau mendorong umat beriman agar hidup dengan kerendahan hati dan keberanian serta meneladani kehidupan Yesus Kristus yang penuh cinta tanpa syarat.   Melalui Christus Vivit, Paus Fransiskus secara khusus mengajak kaum muda agar menjalani hidup dengan sukacita, tidak takut terhadap masa depan, dan terus mendengarkan suara Roh Kudus. Bagi beliau, hidup Kristen bukanlah serangkaian aturan kaku, melainkan perjalanan spiritual penuh kasih, kebebasan, dan keterbukaan terhadap transformasi diri. Pesan Paus mencerminkan keyakinan bahwa setiap orang dipanggil untuk berperan aktif dalam merawat dunia dan membangun persaudaraan sejati antarumat manusia.     Sosok Paus Fransiskus Sejak mendengar kabar bahwa Paus Fransiskus akan datang ke Indonesia pada 3-6 September 2024, perasaan saya mulai berkecamuk. Ada rasa penuh harap agar bisa bertemu dengan beliau meski diiringi kecemasan karena pasti kuota untuk bertatap muka sangat terbatas. Di komunitas Rupert Mayer, tempat saya tinggal, pemilihan kandidat yang berkesempatan bertemu dengan Paus dilakukan melalui undian. Ketika yang terpilih bukan nama saya, saya hanya bisa berpasrah sambil menerima bahwa mungkin belum waktunya untuk mendapatkan kesempatan langka itu.    Akan tetapi, pada 24 Juli 2024, sebuah kejutan datang. Superior dari St. Stanislaus Kostka mengirim pesan melalui WhatsApp bahwa ada anggotanya yang berhalangan hadir sehingga saya ditawari kuota tersebut. Dengan dukungan dari Superior Rupert Mayer, akhirnya saya mendapatkan kesempatan impian tersebut. Inilah salah satu rahmat tak terduga bagi saya.   Sosok Paus Fransiskus dikenal sebagai pribadi yang sederhana tetapi memiliki keberanian luar biasa dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Paus sering kali menunjukkan kepekaan mendalam terhadap berbagai masalah yang dihadapi umat-Nya. Kepeduliannya terhadap kaum miskin dan marginal sangat menonjol.   Hal ini membuatnya menjadi salah satu simbol harapan bagi mereka yang sering kali diabaikan. Dalam setiap tindakan dan keputusan, ia berupaya sungguh mengedepankan kasih dan keadilan bahkan ketika itu harus bertentangan dengan “arus besar” kekuasaan dan kepentingan tertentu.   Keberanian Paus Fransiskus tidak hanya terlihat dalam bentuk retorika, tetapi juga dalam tindakan nyata yang diambil. Banyak dari keputusannya yang menentang status quo memicu perdebatan dan kontroversi. Akan tetapi, ia tetap setia pada prinsip-prinsip kebenaran dan kejujuran. Paus tidak ragu dalam mengambil sikap tegas meskipun sering kali itu harus menghadapi oposisi dari kalangan internal maupun eksternal. Kebijakan terhadap reformasi Gereja dan sikapnya terhadap isu-isu sosial global, seperti krisis migran dan perubahan iklim, menegaskan posisinya sebagai pemimpin yang berani melawan ketidakadilan sekaligus menjaga agar Gereja tetap relevan di tengah perubahan zaman.   Saya bersyukur karena perjumpaan langsung dengan beliau, mengafirmasi dan menguatkan kesan-kesan yang telah saya tangkap sebelumnya. Dalam kesederhanaannya Paus Fransiskus memberi dampak mendalam bagi banyak orang. Saya bersyukur karena perjumpaan ini membuat saya semakin terhubung dengan semangat dan visi pribadi Paus Fransiskus.   Keberanian Paus Fransiskus dalam menyuarakan kebenaran tidak pernah mengurangi kerendahan hatinya. Ia sangat tegas tetapi tetap rendah hati. Ia tidak hanya berbicara tentang keadilan tetapi juga berani mengambil tindakan nyata dalam membela yang lemah dan termarjinalkan. Dengan kerendahan hati yang luar biasa, ia terus menunjukkan kepemimpinan yang dapat membawa perubahan dan menggerakkan banyak pihak ke arah yang lebih baik.     Dokumen Penting Laudato Si’ Salah satu dokumen yang paling mendalam dari Paus Fransiskus adalah ensiklik Laudato Si’ yang menyoroti urgensi untuk menjaga lingkungan hidup secara berkelanjutan. Selain menyerukan urgensi kepedulian pada lingkungan fisik dokumen ini juga menggambarkan kedalaman refleksi Paus atas hubungan manusia dengan alam ciptaan. Dalam ensiklik tersebut, Paus mengajak seluruh dunia untuk merasakan keterhubungan manusia dengan bumi dan sesama makhluk hidup, sambil menekankan bahwa setiap tindakan kita terhadap alam akan mempengaruhi kesejahteraan seluruh umat manusia.   Dokumen ini juga saya rasakan sangat relevan dengan visi Perkumpulan Strada dalam membangun sekolah yang ekologis. Perkumpulan ini berkomitmen untuk menanamkan nilai-nilai ekologi dalam setiap aspek pendidikan, baik dalam kurikulum maupun dalam kegiatan sehari-hari. Saya percaya bahwa melalui pendidikan berwawasan ekologi, generasi muda dapat lebih sadar akan pentingnya merawat bumi serta memahami tanggung jawab mereka sebagai penjaga lingkungan.   Dalam Laudato Si’ Paus juga mengingatkan bahwa pemeliharaan bumi merupakan panggilan moral bagi setiap manusia. Ia mengajak kita untuk memandang bumi sebagai rumah bersama yang perlu dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang. Hal ini merupakan panggilan bersama yang memerlukan kerja sama lintas agama, budaya, dan negara, karena krisis lingkungan tidak mengenal batas wilayah atau kepentingan sempit.     Pengalaman Perjumpaan Bertemu secara langsung dengan Paus Fransiskus meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi saya. Uluran tangan beliau memberikan dorongan dan undangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya merasa kehadiran Paus memancarkan rasa damai dan harapan. Ada kekuatan ilahi yang terpancar dalam pribadi dan langkah-langkahnya.   Paus Fransiskus dalam kesempatan pertemuan keluarga dengan para Jesuit di aula Kedutaan Vatikan menyampaikan inspirasi tentang pentingnya doa dalam kehidupan sehari-hari, terlepas dari kesibukan apa pun yang dijalani. Doa menjadi fondasi yang memberikan ketenangan dan keteguhan hati. Jangan sampai doa hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana untuk memperoleh kedamaian batin dan kedewasaan spiritual yang memandu setiap tindakan manusia. Dalam setiap aspek kehidupan—baik dalam keberhasilan maupun kegagalan—kepercayaan kepada Tuhan dan keteguhan dalam doa merupakan elemen penting yang dapat membawa orang pada kedewasaan iman dan spiritualitas secara yang lebih mendalam.    Melalui perjumpaan dan teladan Paus Fransiskus, saya semakin menyadari bahwa hidup adalah panggilan untuk melayani dan berbuat baik kepada sesama serta alam kehidupan. Paus Fransiskus mengajarkan bahwa pelayanan tidak hanya terbatas pada tindakan besar tetapi juga pada hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan. Setiap tindakan yang dilakukan, sekecil apa pun, memiliki potensi membawa perubahan positif bagi dunia di sekitar. Panggilan ini menuntut kita senantiasa waspada akan kebutuhan sesama serta lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan.   Dalam kesempatan Ekaristi bersama di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Paus Fransiskus menyampaikan pesan mendalam ketika mengangkat pengalaman Petrus yang gagal menangkap ikan sepanjang malam. Kisah ini sangat relevan dengan hidup kita karena mencerminkan realitas kehidupan di mana kegagalan dan kegelapan sering kali tidak terhindarkan. Pengalaman Petrus menjadi cerminan bagi banyak orang yang terjebak dalam “padang gurun” prestasi, di mana segala upaya tampaknya

Feature

Menjadi Pelayan Allah dan Sesama yang penuh dengan Sukacita

Sekitar lima bulan yang lalu sudah terdengar desas-desus bahwa Paus Fransiskus akan melakukan kunjungan apostolik ke Indonesia. Berbagai sukacita mulai terasa dan setiap orang menyambut kabar ini dengan harapan bisa berjumpa dengan beliau. Beberapa Gereja dan lembaga Katolik mulai melakukan berbagai kegiatan dan persiapan untuk menyambut kunjungan ini. Majalah Utusan dan Rohani membuat sayembara surat untuk Paus Fransiskus. Beberapa gereja membuat secara khusus penanda kunjungan ini, misalnya papan hitung mundur peristiwa ini. Paroki-paroki sibuk menyeleksi dan mengundi siapakah yang akan turut hadir dalam misa bersama Paus Fransiskus di GBK. Kuotanya sangat terbatas, sementara yang ingin ikut banyak. Banyak merchandise mulai dibuat dan dijual. Beberapa buku mengenai Paus Fransiskus bermunculan. Ada terbitan baru. Ada terbitan lama. Hal ini masih diikuti dengan berbagai forum diskusi dan dialog mengenai sepak terjang Paus Fransiskus. Tak mau kalah, banyak akun media sosial katolik mulai memberitakan dan mengisi postingan mereka dengan peristiwa-peristiwa seputar Paus Fransiskus. Sukacita. Itulah yang pada umumnya dirasakan.   Secara khusus bagi kami, Jesuit Indonesia, mendapat kabar yang sangat menggembirakan. Di sela-sela kunjungan apostolik Paus tersebut, akan ada pertemuan khusus antara Paus dengan kami, saudara-saudaranya se-Serikat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir dalam setiap kunjungan apostoliknya, Paus selalu mengadakan pertemuan dengan para Jesuit di tempat itu. Pater Provinsial meminta beberapa dari kami untuk mengatur kelancaran pertemuan itu di bawah komando Pater Gandi Hartono sejak akhir Mei 2024. Panitia kecil dibantu dengan beberapa alumni kolese mengatur segala hal yang diperlukan. Meskipun hanya pertemuan antar Jesuit, akan tetapi banyak hal yang harus disiapkan dengan baik. Pertemuan ini tidak bisa diadakan seenak dan sesuka kami. Kami diajak terus menyadari bahwa Paus Fransiskus adalah tamu negara sehingga protokol pengamanannya pun ketat. Selain itu, karena pertemuan berlangsung di Kedutaan Vatikan maka kami pun harus menghormati dan mengikuti tata cara yang ada di sana. Semua harus diatur sedemikian rupa agar rapi, aman, dan nyaman. Data pribadi peserta pertemuan ini harus dilaporkan kepada tim pengamanan sebulan sebelum acara berlangsung. Hanya dua ratus orang saja yang bisa hadir untuk pertemuan tersebut. Tak kalah dari antusiasme umat katolik Indonesia, banyak Jesuit yang ingin hadir. Sayangnya tidak semua bisa hadir. Beruntunglah para Jesuit muda di Provindo karena kelompok ini mendapat prioritas. Dan, ternyata inilah yang menggembirakan dan menyentuh hati Paus Fransiskus karena banyak orang muda, ada hidup, ada gairah, ada harapan, dan ada masa depan.   Proses screening dan verifikasi berujung pada sukacita. Semua peserta mendapatkan ID card untuk pertemuan tersebut dan undangan spesial. Nama setiap peserta tertulis dalam balutan kaligrafi yang sangat indah. “Bapa Suci Paus Fransiskus, dalam rangka Kunjungan Apostoliknya ke Indonesia, dengan senang hati menyambut ….(nama lengkap peserta)…. dalam acara Pertemuan Pribadi dengan para Anggota Serikat Yesus ….”     Kolaborasi dengan banyak pihak Menjadi bagian dari kepanitian kunjungan apostolik Bapa Suci adalah rahmat perutusan tersendiri. Dalam kepanitiaan besar kami juga lebih mengenal banyak pribadi religius dan awam yang secara total menyiapkan kunjungan ini. Kebanggaan di balik seluruh perjuangan menjadi panitia menjadi aura gerak perutusan ini. Dengan tema Faith, Fraternity, and Compassion secara tidak langsung seluruh panitia diajak untuk berproses mewujudkan iman dalam pelayanan ini. Bagaimana tidak? Awalnya berat muncul keraguan, ketidakpastian, dan perbedaan pendapat, ide, serta gagasan akan kehadiran Bapa Suci. Faktor kesehatan dan tuntutan operasional menjadi tantangannya. Namun lewat keyakinan, perjumpaan, dan komunikasi rutin nan efektif seluruh keraguan itu berubah menjadi keyakinan akan kepastian.   Dalam proses menyiapkan pertemuan khusus Jesuit dengan Bapa Suci, kami juga diajak untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan dengan banyak institusi (Paspampres, Kepolisian, Nuncio, KWI, Kepanitiaan Inti, dll). Dalam pertemuan itu seringkali dibutuhkan ide-ide, yang meski sederhana, bisa diwujudkan dengan tetap mengakomodasi kepentingan para pemangku kepentingan (Negara, Vatikan, dan KWI). Maka dalam kepanitiaan ini, kami juga secara tidak langsung “dituntut” untuk berbagi metode Ignasian dalam mengambil keputusan. Diskresi dalam menghadapi pilihan-pilihan yang solutif untuk penyatuan gagasan sangat dibutuhkan. Cara-cara seperti inilah yang menjadi kekuatan kepanitiaan di bawah kepemimpinan Bapak Ignasius Jonan yang menurut kami, mungkin, banyak diinspirasi oleh St. Ignatius Loyola.   Sebagai Jesuit, bersama Pater Provinsial kami lebih mengikuti gerak dinamika yang ada, sesekali tetap memberikan gagasan untuk menemukan jawaban dari seluruh tegangan yang terjadi. Seringkali kami lebih mendengarkan lalu memberi masukan lewat kontak pribadi-pribadi para koordinator sehingga lebih efektif. Seperti yang dikatakan oleh Pak Jonan bahwa kehadiran Jesuit dalam kepanitiaan memberi gambaran perutusan yang tetap pada fokus, jelas arah tujuan, dan sederhana dalam menjawab tegangan.    Action day Proses persiapan terus berlangsung. Pater Gandi mewajibkan seluruh peserta pertemuan ini untuk menyiapkan diri, termasuk menyiapkan pakaian yang pantas. Setiap peserta diminta untuk mengenakan kemeja collar atau jubah. Tampaknya semua peserta nurut. Beberapa frater dan imam tertangkap bergegas membeli kemeja roman collar dan celana panjang formal. Di hari H, semua terlihat sangat rapi dan elegan. “Kapan lagi kita bisa berkumpul sebanyak ini dengan pakaian rapi? Kita harus mengabadikan peristiwa ini dengan foto bersama.” Begitu celoteh panitia sebelum mempersiapkan keberangkatan ke Kedutaan Vatikan.   Kendaraan sudah diatur dengan rapi. Penumpang sudah dibagi dengan jelas. Tanpa tas dan perlengkapan lain, kami semua bergegas. Hanya undangan, tanda pengenal, dan kartu identitas yang bisa meloloskan kami dari screening jajaran petugas.     Kurang lebih satu jam dialog terjadi. Tidak jarang kami tertawa lepas tetapi juga hanyut dalam keheningan khidmat yang teresonansi dari kata, gagasan, dan perasaan Paus. Jangan pernah tinggalkan doa, berani keluar dari zona nyaman (berinkulturasi, masuk ke dalam budaya lain), dan terus mengembangkan kemampuan diskresi adalah tiga pesan kuat yang merangkum pertemuan itu. Semua peserta pertemuan pulang dengan senyum lebar dan hati penuh. Pribadi Paus Fransiskus me-recharge energi dan inspirasi pelayanan kami, para Jesuit, ke depannya.   Film The Two Popes merupakan sebuah film yang dirilis pada tahun 2019 dan menampilkan kisah hidup Paus Fransiskus. Banyak sisi manusiawi, Kardinal Bergoglio (Paus Fransiskus) yang terkisahkan dengan menarik. Ada kerapuhan manusiawi, pertobatan (perubahan), dan pengalaman mendengarkan kehendak Allah. Pribadi Paus yang kami jumpai pada pertemuan keluarga ini adalah pribadi yang, dalam bahasa film The Two Popes, menjadi perwakilan Allah di dunia. Menjadi orang yang bisa menyalurkan bisikan Allah kepada manusia dan sekaligus menjadi pribadi yang sangat manusiawi. Berkali-kali kami bisa menangkap kepedulian besar Paus Fransiskus bagi siapapun, khususnya yang

Feature

Perjalanan Paus Fransiskus sebagai seorang Jesuit

Awal bulan September ini, Paus Fransiskus melakukan kunjungan apostoliknya ke beberapa negara, salah satunya Indonesia. Dalam kunjungan apostoliknya ke Indonesia, Paus Fransiskus tidak hanya bertemu dengan pemerintah dan umat Katolik saja, namun juga dengan tokoh-tokoh lintas agama, kaum muda scholas, dan penerima manfaat organisasi amal. Kunjungan apostolik Paus Fransiskus ditutup dengan Misa Kudus yang diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta dan dihadiri kurang lebih 80.000 umat Katolik dari seluruh Indonesia.   Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia begitu menarik perhatian dan antusiasme bukan hanya dari umat Katolik saja, namun juga non-Katolik. Banyak orang yang rela menunggu di jalan-jalan yang dilalui Paus agar bisa sekadar melihat atau juga menyapanya. Paus Fransiskus atau Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi Paus pada 13 Maret 2013 menggantikan Paus Benediktus XVI. Beliau adalah Paus pertama dari ordo Jesuit atau Serikat Jesus.   Serikat Jesus atau Societas Jesu adalah ordo religius dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh St. Ignatius Loyola bersama sahabat-sahabatnya pada tahun 1540. Anggota Serikat Jesus ini terdiri atas imam, bruder, dan skolastik (frater atau calon imam) yang sedang belajar dalam proses pendidikan yang tersebar di enam benua dan 124 negara. Dalam kesehariannya, para Jesuit, termasuk Paus Fransiskus, meneladani cara hidup atau spiritualitas yang diajarkan oleh Ignatius Loyola dan kemudian lebih dikenal dengan istilah spiritualitas Ignatian. Spiritualitas inilah yang menjadi dasar para Jesuit dalam mengambil keputusan demi kemuliaan Allah yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam).   Berikut akan kami sajikan tulisan singkat mengenai riwayat perjalanan panggilan Paus Fransiskus. Sebagai seorang Jesuit, ia menjalani formasinya sama seperti Jesuit lain. Gambaran proses formasi seorang Jesuit, khususnya berdasarkan praktik yang ada dalam konteks Indonesia adalah sebagai berikut: Formasi pertama seorang Jesuit adalah novisiat (dua tahun pendidikan awal dan masa probasi di mana rahmat panggilan dikembangkan sehingga terlihat buah-buahnya). Di masa novisiat ini para novis, sebutan untuk mereka yang sedang menjalani formasi di novisiat, diberikan dasar pemahaman spiritualitas dan kharisma St Ignatius Loyola melalui berbagai kegiatan, misalnya Latihan Rohani, eksperimen, ratio conscientiae, pengakuan dosa, bimbingan rohani, dan interaksi dengan sesama novis serta anggota komunitas lain. Para novis ini dibimbing oleh magister dan socius magister novisiat.     Setelah menyelesaikan formasi novisiat dan mengucapkan kaul pertamanya, seorang Jesuit akan melanjutkan ke jenjang formasi berikutnya, yaitu formasi intelektual. Formasi pertama adalah studi filsafat selama kurang lebih empat tahun. Mereka yang berada dalam formasi filsafat ini disebut skolastik atau frater. Frater adalah sebutan lain bagi seorang calon imam. Studi filsafat ini bertujuan untuk memperkenalkan para calon imam atau skolastik dengan dunia logika, aneka pemikiran, metafisika, etika, dan lain-lain. Selain fokus belajar ilmu filsafat, umumnya setiap skolastik diutus untuk “merasul”, seperti melakukan pendampingan ke mahasiswa dan pelajar, kerasulan sosial, kerasulan paroki, dan lainnya. Dengan ini setiap skolastik belajar untuk mengintegrasikan hidup studi-rohani-kerasulan.    Setelah selesai studi filsafat, seorang skolastik akan dilantik menjadi lektor-akolit dan melanjutkan ke formasi Tahap Orientasi Kerasulan (TOK) selama dua atau tiga tahun. Dalam masa ini, seorang skolastik bisa saja ditugasi untuk menjalani studi khusus atau terjun dan terlibat penuh dalam karya kerasulan Serikat. Mereka juga hidup dalam komunitas karya di mana mereka ditempatkan. Mereka akan banyak belajar berkolaborasi dengan sesama kolega Jesuit dan non-Jesuit berlandaskan semangat kerasulan Serikat.   Selesai TOK, mereka akan melanjutkan ke tahap formasi teologi selama tiga atau empat tahun. Formasi teologi ini menjadi syarat wajib untuk dapat ditahbiskan menjadi imam. Tujuan formasi teologi ini adalah membantu sesama untuk mengenal dan mengasihi Allah serta mencari keselamatan jiwa-jiwa mereka.   Dalam masa kurang lebih tiga sampai lima tahun setelah tahbisan, seorang imam Jesuit kemudian akan diundang untuk menjalani formasi tahap akhir: tersiat. Tahap ini sering disebut juga “schola affectus (sekolah hati)”. Sebutan lain untuk tahap ini ialah novisiat tahun ketiga. Para Jesuit diajak untuk menyegarkan kembali pengetahuan mengenai Serikat, spiritualitas, Latihan Rohani, dan lain-lain. Tersiat berlangsung enam atau sembilan bulan di bawah bimbingan seorang instruktur tersiat. Tersiat juga menjadi salah satu syarat bagi seorang Jesuit sebelum mengucapkan kaul akhir.   Riwayat Perjalanan Panggilan Paus Fransiskus   Jorge Mario Bergoglio lahir di Flores, Buenos Aires, Argentina 17 Desember 1936. Bergoglio dewasa menemukan panggilannya menjadi imam Jesuit setelah mengaku dosa di sebuah gereja pada 21 September 1953. Keinginannya masuk Jesuit sempat terhenti karena ia mengidap sakit pneumonia dan kista, sehingga sebagian paru-parunya harus dipotong. Akhirnya, ia masuk novisiat Jesuit pada 11 Maret 1958.   Motivasi awal Bergoglio bergabung dengan Serikat Jesus adalah keinginannya menjadi misionaris ke Jepang. Namun rupanya Tuhan memiliki misi yang lain. Setelah menjalani dua tahun formasi Novisiat, Bergoglio mengucapkan kaul pertama pada 12 Maret 1960. Kaul pertama yang diucapkan adalah kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Setelah mengucapkan kaul pertama, Bergoglio melanjutkan tugas perutusan pertama yaitu studi filsafat di College Maximus of San Jose di San Miguel, Buenos Aires.     Setelah selesai filsafat, Bergoglio menjalani formasi TOK di beberapa lembaga karya. Ia mengajar sastra dan psikologi di SMA Colegio de la Inmaculada Concepción di Santa Fe, Argentina dari 1964-1965. Tahun 1966, ia mengajar kursus di Sekolah Menengah Colegio del Salvador di Buenos Aires.   Pada tahun 1967, Bergoglio memulai formasi teologi di Fakultas Filsafat dan Teologi di Colegio San Jose, San Miguel. Selama kurang lebih tiga tahun Bergoglio belajar teologi untuk mengeksplorasi rasio mengenai hal-hal yang berkaitan dengan iman dan keilahian.   Pada 13 Desember 1969, Bergoglio menerima tahbisan imam dari tangan Mgr. Ramón José Castellano, Uskup Agung Cordoba. Satu tahun setelah tahbisan, Pater Bergoglio diundang untuk menjalani formasi tersiat. Ia menjalani tersiat di Universitas Alcala de Henares di Spanyol pada 1970-1971. Setelah tersiat, Pater Bergoglio melanjutkan tugas perutusannya sebagai Magister Novis (pendamping para frater novis) dan Wakil Rektor di Seminari San Miguel, Buenos Aires, Argentina. Dua tahun setelah tersiat, Pater Bergoglio mengucapkan kaul akhir sebagai profes (kaul khusus yang menyatakan ketaatan penuh kepada Paus terkait tugas dan perutusan apostoliknya) pada 22 April 1973. Di tahun yang sama, setelah kaul akhir, pada 31 Juli Pater Bergoglio menjadi Provinsial Serikat Jesus Provinsi Argentina dan Uruguay. Provinsial atau superior mayor adalah pemimpin Jesuit yang dipilih oleh Jenderal (Pimpinan Tertinggi) dan membawahi salah satu provinsi. Provinsi adalah unit teritorial di mana perkumpulan Jesuit ini diorganisir; pengawasan suatu provinsi dipercayakan

Pelayanan Masyarakat

Vertical and Horizontal: From God to Others

“Anak-anak-Ku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3 :18)   Saya suka sekali mengamati manusia dan belajar banyak dari sesama, dekat atau jauh, kenal atau belum sama sekali. Kompleksitas dan keunikan setiap pribadi memberi saya kekuatan sekaligus semangat menjalani keseharian. Mereka mendorong saya terus berbagi apa yang saya punya. Ini bentuk perayaan keberagaman hidup dan syukur pada setiap kesempatan yang diberikan Tuhan. Terkadang merefleksikan pengalaman hidup dapat memberikan semangat baru untuk menjalaninya. Ada suatu hal yang saya pelajari dari merefleksikan pengalaman hidup saya, yaitu kehidupan yang sulit, perjuangan harian tidak pernah akan hilang. Tidak ada jaminan pasti esok hari akan seperti apa di tengah perjuangan dan kesulitan. Menyerah bukanlah pilihan terbaik. Karena itu, saya terus belajar menemukan sisi positif setiap pengalaman yang saya lalui, baik maupun buruk. Jadi, fokus dalam hidup ini bukan persoalan, melainkan apa yang bisa dipelajari. Menjadi bagian Komunitas Volunteer Realino adalah kesempatan berharga yang Tuhan berikan untuk saya jalani. Dari kegiatan ini, saya banyak belajar mengenai kehidupan, mendapatkan semangat hidup, dan keinginan berkarya lebih bagi sesama. Hal yang melatarbelakangi bergabungnya saya dalam komunitas ini: saya memiliki keinginan memberikan ilmu yang saya punya bagi orang yang membutuhkan. Keinginan dalam diri saya mengabdikan diri pada sesama bermula saat saya merasa berkat Tuhan pada saya sangat besar. Tuhan memberikan saya kesempatan belajar di universitas tanpa mengeluarkan biaya saat banyak orang tidak bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya. Karena itu, menjadi bagian suatu Komunitas Volunteer Realino ini merupakan kesempatan besar bagi saya untuk menyalurkan berkat yang telah Tuhan berikan. Kegiatan Realino SPM adalah memberikan pendampingan kepada anak-anak di pinggiran rel kereta api. Sebagian dari mereka tidak memiliki kesempatan merasakan dunia pendidikan. Membuat karya kerajinan menjadi salah satu kegiatan yang sangat digemari. Mereka bisa melakukan aktivitas sesuai kreativitas mereka masing-masing meskipun masih membutuhkan bimbingan dari saya sebagai volunteer. Kegembiraan dan semangat anak-anak, ketika melihat kami para volunter datang, sangat menyejukkan hati. Momen itu membuat semangat dalam diri kembali penuh. Saya terus terdorong untuk memberikan apa yang saya miliki kepada mereka. Kehidupan anak-anak ini tidaklah mudah. Mereka mengalami kekurangan: tempat tinggal tidak layak, kesehatan bukan prioritas, lingkungan sekitar yang kotor. Meskipun demikian semangat dan senyuman mereka di Komunitas Belajar Realino menunjukkan bahwa mereka baik-baik saja menjalani situasi yang tidak mudah itu. Kehadiran saya tentunya tidak sepenuhnya mengatasi kesulitan mereka namun saya tetap akan berusaha hadir untuk mereka. Saya ingin menyampaikan kepada mereka bahwa masih ada harapan bagi kita yang mau terus berjuang menjadi lebih baik dan mengusahakan hal baik. Kata terima kasih yang anak-anak sampaikan di akhir kegiatan menjadi kata terindah yang selalu saya dengar. Kata-kata mereka itu menjadi penyemangat bagi saya untuk terus berusaha menyalurkan berkat yang sudah Tuhan berikan. Usai kegiatan belajar bersama anak-anak, kami para volunteer akan melakukan evaluasi kegiatan dan saling membagikan refleksi. Dari refleksi yang dibagikan, saya mendapatkan banyak pandangan baru. Rasa lelah karena mengajar anak-anak dibayar lunas dengan kebahagiaan dan semangat baru yang direguk dari kegiatan bersama anak-anak. Dengan menjadi volunteer, saya mendapatkan kekuatan baru untuk terus berusaha, berjuang menjadi lebih baik menjalani kehidupan. Perubahan tentang tujuan hidup menjadi berubah sejak berkegiatan dengan anak-anak yang membutuhkan, melihat kehidupan lain. Sebelumnya semua ambisi dan mimpi hanya tertuju pada diri sendiri. Sekarang itu menjadi ambisi dan mimpi untuk kehidupan banyak orang supaya mendapatkan kehidupan yang layak. Komunitas Volunteer Realino yang saya ikuti ini membawa visi: kaum lemah, rentan, miskin, dan tersingkir memperoleh kehidupan adil, bermartabat, dan berdaya di masyarakat melalui pendidikan dan keterampilan. Misinya adalah befriend, collaborate, dan empower. Visi dan misi ini secara tidak langsung tertanam dalam diri saya sejak saya tergabung di dalamnya. Dari situ saya memperoleh semangat menjalani hidup dan terus menyalurkan berkat yang saya terima dari Tuhan kepada mereka yang paling membutuhkan.   Kontributor: Monayanti Simanjuntak – Volunteer Realino SPM

Penjelajahan dengan Orang Muda

Saling Bersinergi untuk Menemukan yang “Magis” dalam Sebuah Keterbatasan

Ignatian exercise is becoming aware in growing inner freedom of God’s personal design or plan for me.” The Personal Vocation – Herbert Alphonso, S.J. Masih melekat di ingatan kami saat itu, sesi pembekalan terakhir di Kolese Hermanum Unit Johar Baru. Kami dibekali materi panggilan raja, meditasi dua panji, dan tiga golongan orang. Selama berdinamika dalam Formasi Magis 2023, kami menerima banyak bekal berupa latihan doa dasar, meditasi, eksamen maupun doa praktis yang membantu sampai pada perubahan, mengalami konsolasi, dan cinta pada Allah. Melalui Immersion Experiment inilah kami diajak menemukan yang “magis” sebagai sarana mencapai tujuan. Tema To Serve as You Deserve, kami maknai sebagai cara melibatkan diri seutuhnya dalam menjalankan peran sebagai manusia sebagaimana penjelmaan Allah untuk kami. Sebelum memulai segala sesuatu, kami mohonkan rahmat jiwa besar dan hati rela untuk bisa masuk ke dalam MAGIS Immersion Experiment dengan sungguh. Saat itu, secara personal kami memohon rahmat untuk bisa lepas bebas dan tidak terpaku dengan kegelisahan kami sendiri. Memohon rahmat supaya terus menyadari dan percaya bahwa Tuhan akan selalu menuntun langkah dan memegang tangan kami selama berdinamika di Lovely Hands Gardens, Sunter, Jakarta Utara.   Komunitas tempat kami immersion bernama Lovely Hands Gardens. Komunitas ini awalnya didirikan atas inisiatif Ibu Maria Lanneke Alexander bersama suaminya. Mereka terpanggil untuk memberikan pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, terutama dari keluarga yang kurang mampu. Lovely Hands Gardens melayani tanpa memandang latar belakang agama meskipun berada di tempat yang identik dengan agama Katolik. Tak hanya menangani berbagai kondisi disabilitas, Lovely Hands Gardens juga merupakan ruang untuk belajar dan terapi. Di Lovely Hands Gardens ini para guru, pendamping, dan orang tua saling bersinergi untuk mengupayakan dan mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di Lovely Hands Gardens, latihan kemandirian diutamakan. Anak-anak diajarkan untuk setara dan berdaya dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti menanam, menyiram, memanen, memasak, membuat kompos, & air lindi. Bu Lanneke mengungkapkan bahwa anak-anak diajarkan untuk bisa menemukan jati diri dan tidak hanya mengandalkan belas kasih. Sebagaimana anak-anak dipersiapkan untuk mampu hidup mandiri dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat, anak-anak sangat ditekankan untuk disiplin dan tidak diperkenankan untuk mendahului antrian karena kondisi fisik atau keterbatasan lainnya. Anak-anak juga diminta untuk bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah untuk memandang mereka setara, bersikap normal seperti layaknya bertemu anak-anak, memperlakukan seperti biasa dan tidak terlalu berlebihan.     Tibalah hari itu. Hujan cukup lama tak berhenti dari pagi hingga menjelang siang. Kondisi ini tak menghentikan semangat agere contra kami untuk melawan kelekatan dengan perasaan aman dan nyaman berdiam di rumah. Bersamaan dengan harapan dan intensi baik, ternyata kami masih membawa kebingungan masing-masing. Muncul pertanyaan bagaimana memposisikan diri agar bisa masuk ke dalam dunia mereka dan membuat mereka nyaman atas kehadiran kami. Pertanyaan ini pada akhirnya secara tak sadar menghantar pada suatu permenungan singkat, bahwa ternyata hal yang lebih krusial sedang terjadi dalam diri kami. Ya, moment dimana kami dihadapkan dengan diri kami sendiri dan keraguan yang kami bawa dalam diri hingga akhirnya tuntunan Roh Kudus-lah yang memampukan untuk bisa melawan keraguan dan mengubah rasa itu menjadi tindakan nyata dalam bentuk sapaan hangat yang kami berikan.   Dalam immersion ini, kami (Ditha, Herian, Marie, Mary, Rakhas, dan Alexa) menjadi satu kelompok circle. Kami saling bersinergi untuk hadir sepenuhnya, menyediakan diri, dan melawan ragu untuk terus berkomitmen menjaga api semangat tetap menyala. Sebagaimana Spiritualitas Ignasian selalu membawa misi, melakukan sesuatu dengan berkarya, tidak diam dan selalu bergerak atau dinamis, hari ini kami membawa kerelaan hati untuk memberikan waktu dan tenaga yang kami miliki. Menanggapi panggilan Raja Abadi dalam aksi nyata, kami memberanikan diri untuk mengambil bagian dalam karya Allah bagi sesama. Kami menemani Dylan, Dimas, Raka, Ezar, William, Rifki, Marvel, Ansel, Kefas, Chika, Iin, Sasa, Kim, Gracia, dan Fajar. Kami berdinamika dalam beberapa aktivitas yaitu membuat puding, membuat jus timun suri, menanam semaian terong, dan menyiram tanaman di kebun.   Setelah makan siang, kami semua beraktivitas bersama. Kami melukis pohon cinta dan harapan, dimana setiap anak menempelkan sidik jari mereka ke ranting-ranting pohon. Ilustrasi ini mengingatkan kami pada kisah pokok anggur. Kami hanya dapat memberi dari apa yang kami miliki. Kami rasa saat itulah waktu yang paling tepat untuk kami semakin berakar, bertumbuh, dan berbuah dengan berbagi kasih. Kegiatan ini juga mengingatkan kami pada pengalaman Bu Lanneke. Ia bercerita bahwa ia hampir tidak menemukan kendala berarti. Hati tulus yang selalu ia bawa telah mengantarkannya pada banyak sukacita dan keajaiban. Ia tidak merasa terbebani karena melibatkan Tuhan sepenuhnya. Kesaksian Bu Lanneke begitu berkesan dan mengena bagi kami hingga saat ini.   Tanpa kami sadari, dengan terlibat sepenuhnya bersama mereka, segala pikiran dan prasangka negatif yang sempat ada hilang. Kami berhasil memposisikan diri sebagai anak-anak untuk bisa sepenuhnya hadir di sini dan saat ini. Percaya bahwa kami bisa terus bersandar pada-Nya membuat kami semakin yakin untuk mengabaikan bisikan roh jahat yang menggoda. Menyadari bahwa kami dilimpahi begitu banyak rahmat, mengetahui bahwa apapun yang kami lakukan hanya tertuju pada-Nya, melakukan segala sesuatu tidak untuk manusia melainkan untuk-Nya telah menuntun kami untuk bisa lepas bebas. Tanpa ragu dan percaya akan penyelenggaraan-Nya yang menjadi keutamaan pengharapan, kita semua Ia pelihara dan kasihi, begitu juga dengan kami dan anak-anak yang kami jumpai. Kami mengalami perjumpaan personal dengan Tuhan melalui anak-anak yang teramat istimewa ini. Kami “menemukan Tuhan” dalam diri mereka. Perwujudan cinta dalam aksi ini mengantar kami untuk mengalami sendiri menjadi men and women for others, bagaimana cinta Tuhan begitu tidak terbatas dalam keseharian di Lovely Hands. Sepulang dari Lovely Hands, hati kami begitu penuh dan banyak rahmat yang mengalir deras. Kami merasakan bentuk kasih yang begitu nyata dari sorot mata mereka. Rasa-rasanya, seperti ada surga kecil dengan malaikat-Nya hadir di sini. Dalam konsolasi itu, kami semakin percaya akan kehadiran Tuhan yang amat dekat, sebagaimana diungkapkan St. Ignatius sendiri, “You may be sure that the progress you make in spiritual things will be in proportion to the degree of your withdrawal from self-love and concern for your own welfare.”   Kontributor: Alexandra Yovina dan Patricia Editha – Magis Indonesia