Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Biar Anak-anak Datang KepadaKu

Membaca judul tulisan ini pasti sebagian dari kita langsung terbayangkan pada sepenggal syair nyanyian gerejani dalam Puji Syukur yang berjudul serupa. Awalan syair yang tercipta indah ini memang adalah sabda Yesus sendiri untuk meminta kepada para muridNya supaya tidak mengusir anak–anak yang hendak datang padaNya. Sungguh perbedaan yang kontras dimana para murid melarang anak-anak untuk datang kepada Yesus, manakala saat itu Yesus sedang lelah setelah banyak melakukan pekerjaanNya. Yesus tidak pernah lelah dalam melayani umatNya terutama anak-anak kecil yang hendak datang padaNya karena dari anak-anak kecil inilah sesungguhnya kita belajar tentang sebuah ketulusan dalam menyambut Yesus itu sendiri dalam diri kita tanpa adanya penghalang apapun.  Terkait hal serupa dengan Yesus, kemudian diadaptasi langsung oleh Santo Ignatius Loyola dalam sebuah dokumen pengesahan berdirinya institusi Serikat Jesus yakni dokumen surat kegembalaan Regimini Militantis Ecclesiae yang ditulis oleh Paus Paulus III tahun 1540. Dalam dokumen tersebut dituliskan bahwa siapa saja yang ingin berjuang sebagai prajurit Allah dengan cara menyelamatkan jiwa-jiwa, melalui aneka bentuk pelayanan sabda Allah, diantaranya adalah mengajar agama kristiani kepada anak-anak dan orang sederhana. Dari pengalaman Santo Ignatius pulalah, ketika dirinya berada di Barcelona yakni dengan ikut duduk bersama dalam satu ruangan untuk belajar bahasa latin bersama dengan anak-anak kecil. Hal ini yang mendasari Santo Ignatius Loyola untuk merumuskan Formula Institusi Serikat yakni meminta kepada siapa saja yang ingin bergabung dalam serikat haruslah berkehendak untuk memberi pengajaran agama kristiani kepada anak-anak kecil. Maka sudah sejak awal pendidikan formasi di novisiat para novis diharapkan untuk dapat melakukan hal serupa yakni memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk anak-anak. Dalam hal ini sasarannya adalah anak-anak sekolah dasar yang ada di sekitar novisiat Girisonta. Bulan Mei 2022 yang lalu menjadi kesempatan bagi kami seluruh novis tahun pertama dan kedua untuk merasakan memberi pelajaran kepada anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dikemas sebagai salah satu praktek dalam studi katekese yang sudah kami pelajari. Sebanyak dua kali dalam bulan tersebut, kami mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk bisa memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti. Sekolah yang kami tuju adalah sekolah SD Kanisius Girisonta dan SD Kanisius Jimbaran. Ada tantangan tersendiri dari masing-masing sekolah tersebut sehingga memunculkan daya kreativitas dari masing-masing novis agar bisa luwes dalam memberikan pelajaran karena sebagian besar dari para novis belum pernah menjadi guru sebelumnya.  Tantangan tersebut yang paling saya rasakan adalah tantangan perbedaan agama yang cukup besar. Saat itu saya diutus untuk mengajar anak-anak kelas satu di SD Kanisius Jimbaran. Saya berpikir akan mudah saja memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk anak-anak di SD Kanisius Jimbaran. Ternyata dari info yang saya dapatkan bahwa hampir tujuh puluh lima persen siswa siswi SD Kanisius Jimbaran memeluk agama non Katolik. Sungguh di luar dugaan saya yang semula mengira bahwa sekolah berlabel SD Kanisius justru sebagian besar siswa siswinya beragama non Katolik. Tantangan lain yang saya rasakan adalah kehebohan dari anak-anak kelas satu yang saya ajar. Ternyata mereka begitu antusias dalam menerima pelajaran. Jadi saya harus mengeluarkan daya-daya kreatif untuk bisa memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti di lingkungan mayoritas non Katolik. Kehebohan yang saya maksud adalah kehebohan yang wajar dilakukan untuk anak-anak usia kelas satu sekolah dasar, mulai dari anak-anak yang sulit diatur, lari sana lari sini, nakal khas anak-anak, hingga mempertanyakan hal-hal diluar dugaan saya misalnya “Bruder itu apa sih..?” “Bruder sekolahnya dimana..?” “Bruder rumahnya dimana…?” dan masih ada pertanyaan lainnya. Tantangan seperti itu tidak lantas menyurutkan niat saya untuk tetap memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk mereka. Justru tantangan ini menjadi gambaran kepada diri saya akan model pewartaan dan perutusan dalam Serikat Jesus kelak. Pada akhirnya saya lebih menekankan akan pelajaran budi pekerti yang lebih pas untuk diserap oleh anak-anak tanpa adanya sekat-sekat perbedaan agama yang begitu kontras. Dikemas dengan aneka kegiatan tematik dan kegiatan bergembira bersama mampu membuat anak-anak lebih mudah menangkap maksud sederhana yang hendak saya sampaikan dalam kelas. Bahkan di hari akhir saya mengajar anak-anak ternyata sangat senang akan pelajaran yangh dibawakan oleh kami para novis dan meminta supaya kami para novis dapat kembali memberikan pelajaran di sekolah mereka.  Inilah gambaran sekelumit cerita pengalaman saya ketika memberikan pelajaran katekese untuk anak-anak. Mereka sangat merindukan sapaan personal dan materi pelajaran yang bisa dikemas menarik. Saya merefleksikan pengalaman ini layaknya seperti pengalaman Yesus sendiri yang diawal tulisan ini meminta supaya anak-anak datang kepadaNya. alam diri anak-anak terdapat benih iman yang murni belum tercemar oleh lewat kemegahan dunia ini untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat mereka. Maka dari itu saya hendak menutup tulisan ini dengan lanjutan syair nyanyian pada awal judul tulisan ini. “Biar anak-anak, datang kepadaKu.” Itu sabda Yesus, Dia memanggilku. Kini aku datang siap mendengarNya, Kini aku datang, Yesus memanggilku. “Biar anak-anak, datang kepadaKu.” Itu sabda Yesus, Dia memanggilku. Dalam kesukaran susah tak terhibur, padaNya kudatang, Yesus memanggilku.     Kontributor : Andreas Elan Budi Santoso, nS.J.

Prompang

Hari Doa Panggilan Sedunia Berselimutkan Nuansa “Kolaborasi”

Hari Doa Panggilan Sedunia tahun ini jatuh pada 8 Mei 2022. Tentunya, hari istimewa ini disambut dengan sangat antusias oleh kebanyakan umat, khususnya di Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Entah kebetulan atau tidak, antusiasme ini juga terasa karena membaiknya situasi paska pandemi. Hal ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan perjumpaan secara langsung sehingga di berbagai paroki perayaan Hari Doa Panggilan Sedunia dapat diselenggarakan bersama-sama.  Berbicara soal panggilan, kiranya agak out of date jika kata “panggilan” hanya dipahami secara terbatas merujuk pada cara hidup ikut Tuhan melalui tarekat, ordo, atau menjadi imam diosesan tertentu. Paus Fransiskus dalam pesannya memperingati Hari Doa Panggilan Sedunia mengungkapkan, “Setiap orang beriman dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi Kristus, yakni menyatukan kembali umat manusia yang terpecah-pecah.” Beliau pun menambahkan,  “Sebelum bertemu Kristus dan memeluk iman Kristiani, setiap pria dan wanita menerima karunia kehidupan panggilan mendasar: kita masing-masing makhluk yang dikehendaki dan dikasihi oleh Allah karena keunikan kita di hati-Nya.” Pada waktu yang bersamaan, Serikat Jesus Provinsi Indonesia turut merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia dengan semangat kolaborasi. Hal itu tercermin dari kerja sama antara para awam, para religius dari tarekat/ordo/imam diosesan, dan para frater Serikat Jesus di beberapa paroki. Di Regio “Joglosemar” (Jogja–Solo–Semarang), terdapat beberapa kegiatan di delapan paroki, yaitu Paroki Mlati, Paroki Brayut, Paroki Bintaran, Paroki Pugeran, Paroki Kotabaru, Paroki Kartasura, Paroki Palur, dan Paroki Atmodirono. Misalnya di Paroki St. Antonius Kotabaru, Hari Doa Panggilan dirayakan dengan  melibatkan anak-anak PIA (Pendampingan Iman Anak) bersama Bruder CSA dan Suster CB dalam Perayaan Ekaristi. Kemudian, acara dilanjutkan dengan lomba fashion show pakaian religius, entah suster, bruder, ataupun imam. Diakon Deo dan Fr. Danang turut serta dalam perayaan tersebut.  Selain itu, di Paroki Kartasura, Perayaan Ekaristi dimeriahkan dengan arak-arakan lucu dan menggemaskan dari anak-anak yang berperan sebagai uskup, suster, romo, dan bruder. Setelah Perayaan Ekaristi bersama, dilanjutkan acara sharing bersama teman-teman OMK paroki dari Bruder FIC, Suster-suster OP, FSGM, SND, dan Frater-frater Diosesan Makasar, yang dipandu oleh Fr. Barry.  Berbicara soal sharing panggilan, kegiatan itu juga dilakukan di paroki lainnya. Frater Andre berbagi kisahnya dalam homili di Paroki Bintaran, Frater Doni dan Frater Bagas sharing di salah satu wilayah Paroki Brayut, Frater Adit di Paroki Pugeran, Diakon Wylly dan Diakon Steve di salah satu wilayah Paroki Mlati dan sampai Bruder Marsono serta Bruder David ber-sharing di Paroki Atmodirono Semarang.  Menurut Frater Adit, bertumbuhnya keinginan hidup religius (menjadi Jesuit) bermula dari kenangan indah dan menggembirakan dari Paroki Pugeran (kedekatan dengan romo paroki dan masa kecil di PIA yang mengesan). Baginya, pondasi yang kuat dan mengesan itu dibutuhkan untuk menumbuh-kembangkan panggilan tersebut, ditambah dengan dukungan dari keluarga. Ibaratnya, pondasi pengalaman itu tanahnya dan panggilan itu sebagai benih yang ditabur. Tentunya untuk menumbuh-kembangkan benih itu diperlukan tanah yang subur. Selain itu, menurut Frater Barry, Perayaan Hari Doa Panggilan itu momen berharga untuk mengumpulkan cinta yang telah diterima dari berbagai pihak. Dalam konteksnya sebagai anak tunggal, hidup panggilan sebagai Jesuit dapat bertumbuh, berkembang, dan berproses di dalamnya karena cinta dan dukungan banyak orang. Momen “mengumpulkan cinta” ini kiranya sejalan dengan panggilan sejati setiap manusia, yang dimaksud oleh Paus Fransiskus dalam suratnya. Beralih ke Regio Jakarta, Perayaan Hari Doa Panggilan ini dilaksanakan di 3 paroki, yaitu Paroki Kramat, Paroki Blok Q, dan Paroki Pulomas. Nuansa kolaborasi juga terasa. Bermula dari Paroki Kramat, Frater Boni, Suster-suster BKK, CB, dan Frater-frater OFM, SX, bertugas bersama dalam Perayaan Ekaristi. Selain itu, juga ada beberapa anak yang mengenakan kostum religius. Momen homili diganti dengan sharing panggilan hidup membiara dari salah satu frater dan suster dari tarekat tertentu. Di Paroki Blok Q, acaranya juga dibuka dengan Perayaan Ekaristi dengan nuansa mirip. Namun, ada beberapa frater yang diminta untuk menemani adik-adik PIA dan berdinamika bersama, seperti kegiatan mewarnai dan semacamnya. Selain itu, yang unik di Paroki Blok Q, setiap tarekat atau ordo atau imam diosesan diminta untuk mendirikan pos secara bersama-sama, entah itu pos kopi atau pos musik.Konsep yang diusung ialah adalah para biarawan-biarawati dan imam diosesan ini melakukan promosi panggilan tidak atas nama tarekat, ordo masing-masing, atau diosesan, tapi atas nama kesatuan Gereja. Frater Jesuit yang terlibat ada Frater Cavin, Frater Wibi, Frater Teilhard, Frater Craver, Frater Mikael, Frater Supakchai, Frater Kefas, dan Frater TB. Yang tak kalah serunya adalah para religius ini diajak untuk “berjoget” bersama dengan lagu iringan Mendhung Tanpa Udan yang dipimpin oleh beberapa adik PIA dan pendampingnya. Sepertinya, momen “berjoget” ini bisa jadi salah satu momen ‘klik’ dengan vibes teman-teman muda. Acara merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia di Paroki Pulomas sedikit mengambil bentuk yang berbeda dari Blok Q atau Kramat, yaitu melalui pelayanan tugas koor para frater Serikat Jesus. Setelah melantunkan lagu-lagu dalam perayaan Ekaristi, Frater Bayu, Frater Aryo, Frater Pungkas, Frater Yuris, Frater Ferry, Frater Septian, Frater Alex, dan frater lainnya berjumpa dengan ibu dan bapak beserta teman-teman muda, berdekatan dengan pos kopi SJ.  Seluruh acara tersebut berjalan dengan lancar karena kerja sama antara kaum religius dan awam yang membentuk suatu kepanitiaan. Ibu, bapak, dan teman-teman muda yang membantu dalam persiapan live-streaming, mempersiapkan tempat dan sound system, hingga menyediakan snack/konsumsi, mempunyai peran sangat penting dalam Perayaan Hari Doa Panggilan Sedunia. Yang terpenting, semoga kolaborasi untuk saling mendukung panggilan masing-masing pribadi tidak hanya berhenti pada perayaan seremonial, tetapi kesatuan Gereja ini bisa terasa dan mengakar dalam kegiatan hidup harian. Kontributor : Fr. Agustinus Lanang P. Cahyo, S.J. & Fr. Jakobus Aditya C. Manggala S.J. – Prompang SJ

Kuria Roma

Seri Video Pater Jenderal ke-9 : Bertumbuh dalam Kesadaran terhadap Rumah Bersama

Semua ciptaan adalah anugerah Tuhan bagi manusia. Manusia telah dipercaya untuk memanfaatkan sekaligus merawat seluruh ciptaan.  Namun, meskipun dengan rasa sakit dan malu, haruslah diakui bahwa kita belum sepenuhnya menghidupi perutusan yang dipercayakan kepada kita itu. Kita telah mematri gaya hidup eksploitatif dan merusak alam; dan dari situ kita bersama-sama menyuburkan gaya hidup konsumtif yang justru kita bangun untuk diri kita sendiri. Siklus eksploitasi dan konsumerisme yang kejam ini meninggalkan jejak ketidaksetaraan, kemiskinan, pengingkaran sosial, dan kematian di mana kita bertanggung jawab atas semua itu. Bersikap acuh tak acuh bukanlah pilihan bagi kita dalam menghadapi perubahan iklim dan segala dampaknya bagi hidup manusia secara umum, terutama bagi mereka yang miskin. Kita memerlukan perubahan paradigma sosio-kultural dan ekonomi, bukan saja karena kita telah menggadaikan masa depan kita, tetapi juga karena kita telah mengisolasi keberadaan kita saat ini. Paus Fransiskus, dalam ensiklik Laudato Si, dengan suara kenabiannya mengatakan, “Saat ini, analisis permasalahan lingkungan tidaklah dapat dipisahkan dari analisis terhadap manusia, keluarga, permasalahan pekerjaan dan urbanisasi, dan juga dari cara masing-masing individu berhubungan dengan diri mereka sendiri yang akhirnya mempengaruhi cara mereka berhubungan dengan orang lain dan lingkungannya.” [n. 141] Bapa Suci menantang kita, mengajak kita semua segera terlibat mewujudkan model pembangunan di mana kemajuannya berakar pada ekologi integral yang tidak dapat dipisahkan dari kebaikan bersama/common good, solidaritas, keadilan sosial, dan kemakmuran seluruh warga masyarakat. Banyak orang muda dari seluruh belahan dunia, secara antusias dan dengan penuh komitmen, turut mengambil tanggung jawab terhadap kelestarian rumah kita bersama. Mereka membantu kita mengenali bahwa akar dari semua ini terkait dengan kemanusiaan secara keseluruhan yang melampaui batas keyakinan dan ideologi. Bekerja sama dengan banyak pihak memungkinkan kita mencapai tujuan, yaitu terciptanya lingkungan yang lestari, lebih adil, dan bermartabat bagi semua ciptaan. Demi memenuhi ajakan Gereja dan keyakinan bahwa merawat rumah kita bersama akan berpengaruh terhadap perbaikan kualitas hidup dari mereka yang rapuh di dunia ini, Serikat berkomitmen menjadi mitra bagi semua orang yang ingin menanggapi ratapan Bumi dan mereka yang paling miskin dari antara orang miskin. Apakah Saudara sekalian bersedia?  Kami mengajak Saudara sekalian untuk berdoa, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas, menggunakan poin doa pada bagian akhir bab sembilan dari buku Berjalan bersama Ignatius yang ditulis oleh Pater Jenderal Arturo Sosa, S.J. (Lihat: Berjalan Bersama Ignatius karangan Arturo Sosa, S.J. terbitan P.T. Kanisius dan Serikat Jesus Provinsi Indonesia, 2021 hlm. 269 – 270).

Provindo

Jalan Panjang Misi Jesuit Provindo di Timor Leste

Menemani Rakyat Menuju “Kemerdekaan”  Situasi pelik dan genting di Timor Leste dihadapi oleh setiap Jesuit Provindo yang diutus ke Timor Leste. Namun demikian, keadaan yang menguras emosi itu tak membuat mereka berhenti berkarya. Dengan tetap memperhatikan konteks politik secara cermat, mereka mencoba terus kreatif mendampingi rakyat dan tetap mencari peluang untuk hadir serta terlibat lebih baik lagi. Mereka membangun sikap yang tulus, penuh pertimbangan dan bertindak secara nyata. Totalitas perutusan menjadi modal melakukan perutusan dalam menemani rakyat membentuk identitas mereka sebagai bangsa Timor Leste. Seri webinar ketujuh dalam rangka 50 Tahun Provindo ini berusaha merekam jejak-jejak para Jesuit Provindo di Timor Leste. Nara sumber webinar kali ini adalah Frs. Klemens Yuris, S.J., Vincentius Doni, S.J., Tiro Angelo, S.J., dan Pater Albertus Bagus Laksana, S.J., Hadir sebagai penanggap seperti Pater Joachim Sarmento, S.J. dan Pater L. Dibyawiyata, S.J. yang berada di Timor Leste. Sedangkan Griselda Carlos Moniz, seorang executive communication pada US INGOs Timor menjadi moderator webinar kali ini. Melalui webinar ini diharapkan Provindo dan umat awam yang hadir secara virtual terbantu untuk memetik buah-buah pembelajaran dari perutusan yang menantang dan kompleks itu. Dalam acara yang diselenggarakan secara virtual tanggal 15 Mei pukul 19.30 WIB itu, hadir 65 peserta termasuk Pater Provinsial, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Webinar dimulai dengan pemaparan dari Fr. Tiro mengenai proses pembentukan identitas Timor Leste. Fr. Tiro memaparkan bagaimana sejarah singkat dan pembentukan identitas Timor Leste. Penjajahan Portugal selama dua ratus tahun lebih serta invasi Indonesia turut membentuk identitas mereka. Kesadaran identitas nasional tumbuh di dalam sejarah yang penuh konflik dan kekerasan. Xanana Gusmão dalam pidatonya di hadapan rakyat di tahun 1986 mengobarkan semangat memiliki tanah air Maubere atau persaudaraan. Persaudaraan, di mana setiap orang menjadi “saudaraku”, terbentuk dari sejarah perjuangan dalam penderitaan di bawah penindasan. Pemaparan selanjutnya mengenai memori pengalaman dan keterlibatan para Jesuit Provindo disampaikan oleh Fr. Doni. Dari pemaparannya terungkap bahwa di tengah situasi yang berubah-ubah, para Jesuit tetap setia menggeluti misi di bidang kemanusiaan, pendidikan, pertanian, sosial (pengungsi), dan lain-lain. Situasi yang tidak menentu justru menyebabkan para Jesuit tidak terjebak dalam rutinitas hidup harian mereka sebagai manusia Indonesia, kaum religius yang mengusung nilai-nilai Kristiani, juga manusia biasa dengan seluruh kemanusiaannya. Dengan diskresinya, mereka “masuk” dan “mengakar” dalam perjumpaan dengan rakyat yang menderita dan tertekan. Sikap mau “masuk” ini menjadi pembelajaran penting sebab menjadi wajah pertama yang dilihat rakyat. Di sana ada ketulusan yang akhirnya membuat rakyat di mana Jesuit berada mau mendengarkan suara Jesuit. Sikap ini melahirkan momen-momen perjumpaan sepanjang perutusan yang turut menguatkan hati para Jesuit serta turut membentuk identitas dan kehendak rakyat Timor Leste. Pada sesi ketiga, Fr. Yuris memaparkan bahwa momen-momen perjumpaan itu menghadirkan semangat rekonsiliasi baik pada Jesuit yang diutus dan pada rakyat Timor yang dilayani. Rekonsiliasi yang solid berangkat dari sebuah kedalaman akan kehadiran. Ini adalah usaha dalam rangka mengangkat martabat rakyat. Di samping itu, rekonsiliasi juga berangkat dari inisiatif rakyat yang menjadi korban. Proses tersebut terjadi secara bersama-sama dalam bentuk berbagi perasaan dan rasa kehilangan yang mendalam. Bagi para Jesuit, pemberian diri pada masyarakat yang dilayani mengantarkan pada buah-buah perutusan, yaitu peneguhan untuk terus setia dalam panggilan. Inilah bentuk rekonsiliasi yang autentik yang hadir ketika ada keterlibatan yang penuh. Rekonsiliasi bukan terjadi dalam waktu yang singkat. Yang terpenting adalah keberanian memasukinya sebab akan mengantar rakyat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Tugas inilah yang menjadi tanggung jawab setiap Jesuit. Sebagai penutup pemaparan sekaligus tanggapan atas beberapa pertanyaan yang didiskusikan bersama, Pater Bagus menggarisbawahi setidaknya dua hal penting, yaitu pentingnya sikap realisme yang mengandalkan diskresi dan belajar menjadi misionaris sejati. Sikap yang mengandalkan diskresi akan melihat konteks yang terjadi di lapangan, nilai-nilai Kristiani, serta realitas kebutuhan Gereja dan masyarakat. Realisme yang mengandalkan diskresi ditunjang oleh kemauan mendengarkan dan peka terhadap budaya serta rasa perasaan penduduk lokal. Dua hal tersebut adalah perangkat penting bagi seorang misionaris sejati. Dalam situasi yang tidak stabil, Pater Bagus menekankan perjalanan misi Provindo di Timor Leste adalah sebuah milestone dalam “perjalanan waktu.” Buah-buah misi tidak bisa dibekukan dalam periode tertentu, tetapi akan menjadi jelas dalam perjalanan waktu. Dalam konteks “waktu dan proses” para Jesuit Provindo belajar memaknai seluruh keterlibatan dengan sikap rekonsiliatif serta menjadi bekal perutusan di masa-masa mendatang. Sesi tanggapan dan diskusi menjadi sesi berikutnya sekaligus penutup. Para penanggap seperti yang disebutkan di atas memberikan tanggapan atas pemaparan misi Provindo di Timor Leste. Beberapa hal yang digarisbawahi dalam sesi ini adalah Provindo telah menjadi bagian sejarah Timor Leste yang tentunya berperan dalam membentuk identitas mereka sekarang ini. Aspek kemanusiaan yang ditanamkan dalam setiap ranah perutusan menjadi pendorong dalam pembentukan identitas itu. Bagi Provindo sendiri, misi ini menjadi sebuah rekaman sekaligus refleksi bahwa Jesuit Provindo mampu berkiprah dengan totalitas dalam situasi perutusan yang tidak mudah. Tentunya ini menjadi satu pemantik akan kesiapsediaan menyongsong perutusan serupa sambil memperdalam sebuah perancangan matang akan perutusan di masa depan. Di bagian akhir Pater Provinsial Benedictus Hari Juliawan menegaskan bahwa kita sebagai Serikat Jesus Provindo selalu siap diutus kembali ke Timor Leste bila nanti dibutuhkan. Sejarah memang telah terjadi, namun darinya kita belajar bersama-sama menatap hari depan yang lebih baik. Kontributor : Fr. Vincentius Doni E.S., S.J. – Skolastik SJ

Pelayanan Masyarakat

Laboratorium Sosial Mahasiswa dan Ramadhan yang Paskah

PERKAMPUNGAN SOSIAL PINGIT Bukan gagasan melainkan perjumpaanlah yang mengubah. Dalam dua tahun terakhir perjumpaan langsung menjadi aktivitas yang amat dirindukan oleh banyak orang di tengah pandemi Covid-19.  Pandemi menjadi tantangan besar bagi Perkampungan Sosial Pingit (PSP) atau yang dahulu dikenal dengan nama YSS Pingit untuk menjalankan aktivitas menemani masyarakat sederhana di area bantaran Sungai Winongo. Seiring dengan membaiknya situasi akibat pandemi, kegiatan-kegiatan PSP yang dimotori oleh para frater teologan Kolsani ini lambat laun berjalan normal kembali. Saat ini Perkampungan Sosial Pingit (PSP) memiliki dua kegiatan utama yaitu menemani warga yang kesulitan memiliki tempat tinggal di Yogyakarta dan menemani belajar anak-anak di area Pingit. Ada tiga warga dampingan saat ini. Mereka bekerja sebagai pedagang asongan Malioboro, pemulung, dan pedagang barang bekas. Sementara itu kegiatan pendampingan belajar untuk anak dilaksanakan setiap Senin dan Kamis pukul 18:30-19:30 WIB. Dalam menunjang kegiatan belajar ini, PSP memiliki lima ruang kelas sederhana dan satu ruang perpustakaan. PSP menemani anak-anak mulai dari Taman Kanak-kanak hingga SMP. Selain menemani belajar anak, PSP berusaha untuk juga memperhatikan perkembangan karakter dari setiap anak melalui kegiatan seni. Laboratorium Sosial Mahasiswa Dalam mengelola PSP, para frater Kolsani dibantu oleh  banyak volunteer muda. Pada tahun ini, PSP memiliki 54 volunteer yang terdiri atas 12 volunteer laki-laki dan 42 volunteer perempuan. Mereka  datang dari berbagai universitas di Yogyakarta seperti Universitas Sanata Dharma, Universitas Atma Jaya Jakarta, Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Mercu Buana, dan Universitas Kristen Duta Wacana. Mereka pun juga berasal dari berbagai daerah, suku, ras, dan agama. Ternyata banyak orang muda yang antusias untuk menjadi volunteer di PSP. Dari kurang lebih 80 orang muda yang mendaftar akhirnya diputuskan untuk menerima 54 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa dan tentunya minimal sudah dua kali vaksin. Dalam menjalankan tanggung jawabnya para volunteer  dibagi ke dalam tiga divisi, yaitu divisi warga, divisi anak, dan divisi media sosial. Para volunteer sangat antusias menemani anak-anak dan warga dampingan meskipun kekhawatiran pada covid masih ada. Tak dapat dipungkiri bahwa perjumpaan langsung belum bisa tergantikan oleh teknologi apapun. Maka terdorong akan kerinduan untuk berjumpa inilah para volunteer sangat antusias dan semangat untuk menyediakan waktu khusus di tengah kesibukan kuliah. PSP menjadi laboratorium sosial bagi mereka untuk berjumpa dengan realitas kemiskinan dan mengasah kepedulian sosial di tengah gemerlapnya Kota Yogyakarta. Tidak segan-segan banyak volunteer yang merasa bahwa PSP adalah tempat formasi untuk melatih skill mengajar.  Namun lebih daripada itu, PSP adalah tempat untuk mengasah nurani dan kepedulian pada sesama yang membutuhkan. RAMADHAN tanda PASKAH Masa Ramadhan di PSP tahun ini terasa amat spesial karena berdekatan dengan perayaan Paskah bagi umat Kristiani. Dalam kesempatan merayakan Ramadhan tahun ini, para pengurus dan volunteer PSP bekerja sama dengan RT/RW setempat untuk mengadakan tiga acara besar yaitu Buka Bersama Anak, Buka Bersama Warga, dan Bazar Pakaian Pantas Pakai. Acara ini berturut-turut diadakan dari 21-30 April 2022.  Bagi kami dan seluruh warga Pingit RT 01, 02, 03, dan RW 01 acara ini menjadi RAMADHAN yang PASKAH. Masa Ramadhan kali ini sungguh menjadi tanda PASKAH- kebangkitan bagi seluruh warga setempat beserta anak-anak dan seluruh kegiatan PSP. Pasalnya selama dua tahun terakhir ini kegiatan Perkampungan Sosial Pingit menjadi sangat terbatas. Meskipun pada bulan November 2021 kemarin sempat diadakan Bhakti Sosial Pengobatan Gratis bagi warga setempat. Ketika pandemi meningkat, kegiatan kembali tersendat. Maka Ramadhan kali sungguh menjadi tanda kebangkitan-paskah bagi kami semua di PSP. Apabila anda juga ingin mengikuti kegiatan-kegiatan Perkampungan Sosial Pingit silakan follow akun Instagram kami @pingit_berbagi atau tik tok kami @Perkampungan Sosial Pingit. Kontributor : Pusparani, Anna Galuh, Emanuella Agusta, dan Ludwinia Clarissa – Divisi Medsos PSP

Pelayanan Masyarakat

Bertani itu Benar

Di usianya yang ke-57, Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga terus berbenah diri. Kami terus berusaha mengembangkan dunia pertanian di Indonesia dengan mengejar visi untuk menjadi rujukan Teman Tani. Kami berharap, KPTT bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin belajar tentang pertanian dan peternakan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana KPTT mewujudkan cita-cita tersebut? Ada beberapa action plans yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh KPTT di antaranya adalah penyelenggaraan kursus Smart and Scientific farming, assessment internal KPTT, dan kolaborasi.  Smart and Scientific Farming Pendekatan model pertanian saat ini harus dikemas dalam bentuk yang menarik dan modern. Hal ini dimaksudkan agar menarik lebih banyak orang muda untuk terlibat dalam kursus pertanian dan pendampingan para petani. Dalam arti tertentu, pandemi Covid-19 telah mengajari kami untuk menyelenggarakan kursus pertanian yang menarik bagi banyak kalangan. Sejak bulan Maret 2020 kami menyelenggarakan apa yang disebut sebagai Smart and Scientific Farming. Model pendekatan pertanian yang cerdas dan ilmiah ini ternyata mampu menjawab kebutuhan banyak peserta kursus. Kurikulum kursus pertanian pun disusun dengan mengedepankan tiga hal pokok yaitu pembuatan media tanam, pengenalan dan pembuatan nutrisi tanaman, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).  Semenjak kursus dibuka, KPTT telah mendampingi ratusan peserta kursus baik secara luring maupun daring. Melihat siapa saja peserta kursus pertanian, ada data yang cukup menarik. Pertama, ada banyak sekolah, khususnya Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Atas yang tertarik dengan program overplanting. Kedua, ada banyak peserta kursus yang memiliki usia pensiun. Kebanyakan dari mereka hendak mendalami pertanian untuk memaksimalkan masa pensiun mereka dengan bertani. Mengingat mereka, kadang kami berseloroh, KPTT bukan hanya berjalan bersama orang muda, namun juga berjalan bersama orang-orang tua untuk membangun masa depan yang penuh harapan. Ketiga, saat ini KPTT bekerjasama dengan Yutaka Education Center (lembaga Bahasa Jepang) yang sedang menyiapkan orang-orang muda untuk dikirim ke Jepang sebagai petani. Sudah ada tujuh pemuda yang belajar pertanian di KPTT dari total 60-an orang dan masih banyak lagi para peserta kursus dalam bentuk magang dan sebagai volunteer di KPTT.   Dalam mendampingi orang muda untuk bertani, kata-kata yang pernah disampaikan oleh Masanobu Fukuoka (pegiat natural farming) cukup menginspirasi. “The ultimate goal of farming is not growing the crops but cultivation and perfection of human beings.” Masanobu menekankan pentingnya peranan manusia dalam bertani. Dengan bertani, manusia sejatinya juga akan belajar mengolah diri, menjadi lebih baik, dan menjadi lebih sempurna sebagai manusia. Maka dari itu, natural farming mestinya menjadi pilihan penting jika para petani ingin mencapai kesempurnaan diri bersama alam. Assessment Internal KPTT KPTT terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Setelah sebelumnya mengalami evaluasi karya dan diputuskan bahwa karya ini tetap dilanjutkan, kami bersama seluruh Serikat mencoba menanamkan roh Universal Apostolic Preferences (UAP) dalam menjalankan karya KPTT. Karena alasan itu, KPTT pun terus berbenah. Saat ini, KPTT sedang membentuk Tim 10. Tim 10 adalah sebuah tim yang terdiri atas orang-orang muda, baik dari internal KPTT maupun luar KPTT yang akan “bekerja” atau bergerak memajukan dan membangun KPTT 10 tahun ke depan. Sejak bulan lalu, Tim 10 ini sudah bekerja untuk mewujudkan visi KPTT untuk menjadi rujukan bagi Teman Tani. Mereka bahu membahu akan bekerja untuk mewujudkan misi KPTT agar menjadi lebih profesional dalam mendidik teman tani sesuai dengan perkembangan pertanian modern, profesional dalam produksi dan pemasaran hingga dapat menyelenggarakan institusi yang sehat dan berkelanjutan, dan profesional dalam menemani Teman Tani sebagai pihak sentral.  Setelah paling tidak dua kali bertemu, Tim 10 semakin menyadari bahwa rasa andarbeni menjadi bagian yang paling penting dan paling banyak disebutkan oleh mereka. Berawal dari rasa memiliki tersebut, pengembangan, optimalisasi atau pembaharuan KPTT akan semakin mudah dilakukan.  Dalam pertemuan kedua, setelah melakukan percakapan rohani 3 putaran, Tim 10 menemukan pentingnya pembaharuan KPTT dengan “menggarap”pertama-tama Sumber Daya Manusia (SDM) KPTT. SDM memang menjadi bagian yang krusial. Seperti kita ketahui, sesuai dengan bahasa UAP, untuk mewujudkan perubahan, pertama-tama yang memang harus berubah adalah manusianya. Oleh karena itu, kami berharap dengan adanya perbaikan SDM di KPTT, gerak maju KPTT akan menjadi lebih mudah. “Pembaharuan KPTT tidak bisa dijalankan tanpa sekaligus memperbaiki sektor-sektor yang lain seperti program kursus, aset, keuangan, pemasaran, produksi, pasca panen dan kelembagaan,” tegas Pater Franciscus Asisi Sugiarta, S.J.,  Direktur KPTT saat ini. Kolaborasi   Saat ini logo KPTT sudah diganti dengan logo yang baru. Di logo terdahulu terdapat gambar seorang petani yang mengenakan caping serta memanggul cangkul. Pada zamannya, logo tersebut sangat tepat dan mengena. Namun, di zaman ini gambaran petani dengan caping dan cangkulnya tidak lagi memadai. Oleh karena itu, logo KPTT pun bertransformasi agar lebih menarik bagi para petani millenial. Dalam pembaharuan logonya, KPTT bekerja sama dengan banyak pihak, terutama adalah para alumni sekolah Jesuit. Pembaruan logo KPTT sekaligus menjadi penanda penting bagi KPTT ke depannya untuk terus berkolaborasi agar semakin maju dan dikenal.  Kolaborasi KPTT dengan berbagai kalangan semakin maju pesat sejak tahun 2020. Masa pandemi tidak membatasi kami dalam berkolaborasi. Bentuk kolaborasi yang terjadi sangat beragam. Dari segi edukasi atau penyelenggaraan kursus, KPTT banyak bekerjasama dengan sekolah-sekolah di sekitar Jawa Tengah seperti, SD Don Bosco, SD Kalam Kudus, SD Pangudi Luhur, SMA Kebon Dalem. Beberapa pihak universitas, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Satya Wacana, Universitas Gajah Mada dan baru-baru ini dengan Universitas Sanata Dharma, juga berkolaborasi dengan kami dalam menyelenggarakan kegiatan magang mahasiswa dan melakukan penelitian skripsi. Selain dalam hal penyelenggaraan pendidikan, KPTT juga bekerjasama dengan institusi lain seperti The Farmhill dan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta dalam hal penyediaan sarana produksi pertanian.  Kegiatan kolaborasi lain yang tidak kalah penting adalah dalam bentuk pelayanan sosial. Saat ini KPTT juga bekerjasama dengan  Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan (LPUBTN) Semarang. Bersama lembaga ini, KPTT melakukan pendampingan para petani di daerah Gantang, Penadaran dan kemungkinan kelompok-kelompok tani lain yang ada di Keuskupan Agung Semarang. Dengan kata lain, KPTT saat ini tidak hanya berkutat dengan dirinya sendiri namun juga tetap memiliki gerak keluar.  Bertani itu Benar Sejatinya bertani itu adalah kegiatan yang ekologis. Catatan: jika bertani itu dilakukan dengan cara yang benar. Pertanian yang benar adalah pertanian yang mendukung kelestarian lingkungan hidup. Dengan bertani, kesuburan dan kesehatan tanah harus meningkat, melibatkan semakin banyak organisme/mikroorganisme dalam bercocok tanam dan pada akhirnya menyehatkan

Pelayanan Gereja

Paroki Tangerang : Berjalan Bersama yang Tersingkirkan

Senada dengan Preferensi Kerasulan Universal Serikat Jesus (UAP), Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menetapkan tahun 2022 sebagai Tahun Penghormatan Martabat Manusia. Atas dasar inilah beberapa umat di Paroki Tangerang yang memiliki kemampuan berbeda (different ability / difabel) layak untuk terus direngkuh.  Misa Vigili Paskah 16 April 2022 terasa istimewa. Ada dua misa vigili Paskah, yakni pukul 16.30 WIB dan 20.00 WIB. Pada kedua misa tersebut Paroki Tangerang memberikan kepercayaan kepada dua orang umat difabel untuk menjadi petugas liturgi, yaitu menjadi lektor. Mereka adalah Aurelia Lim, seorang tunanetra dan Pak Nico Indrianto, seorang tunarungu. Keduanya menjadi pembaca Kitab Kejadian 1:1, 26-31a. Mereka berdua dapat menjalankan tugas dengan baik. Hal ini juga didukung oleh sumbangan “Alkitab Braille” dari LBW. Love Works menyediakan “Alkitab Braille” berbahasa Indonesia dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).  Aurel adalah anak tunanetra yang mampu menulis bagian perikop yang dibacakan dalam Misa Vigili dengan tulisan tangan braille. Setelah menyelesaikan pendidikan di SLB selama 11 tahun, ia bisa melanjutkan di sekolah umum. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di SMP Negeri 13 Kota Tangerang kelas VII. Sementara Pak Nico merupakan tunarungu yang bisa berkomunikasi dan berbicara dengan membaca gerak bibir. Ia merupakan alumnus SLB B Don Bosco, Wonosobo. “Mereka yang tersingkirkan” dapat mengacu pada mereka yang tidak mendapat kesempatan merata, termasuk juga dalam kesempatan pelayanan. Tugas kita semua adalah terus berusaha untuk tidak menyingkirkan mereka. Terbukti bahwa saudara-saudara kita yang difabel dan seringkali disingkirkan dalam kesempatan bertugas sebagai pelayan pun bisa berperan dengan baik ketika diberi kepercayaan. Kontributor : P. W. Teguh Santosa, S.J. – Pastor Paroki Tangerang 

Pelayanan Gereja

Berani Membela Kehidupan

Sebanyak tiga kali kita mendengarkan kisah sengsara Yesus dalam masa Pekan Suci. Pertama, saat Perayaan Ekaristi Minggu Palma. Kedua saat mengikuti Ibadat Jalan Salib, dan ketiga dalam Ibadat Jumat Agung.  Hampir semua orang merasa trenyuh setiap kali membaca, mendengarkan, atau bahkan menonton kisah sengsara ini. Pada Paskah tahun ini, ada dua hal yang menyadarkan saya dari kisah sengsara Yesus. Pertama, kematian Tuhan Yesus diselimuti oleh kekerasan. Pemaknaan ini saya ambil dari dalam homili Ibadat Jumat Agung dari Pastor Rekan Paroki Blok B, Gereja St. Yohanes Penginjil, Pater Aluisius Pramudya Daniswara, S.J. Imam Jesuit yang akrab disapa Pater Pram ini seakan mengetuk kesadaran kita bahwa kisah sengsara Yesus merupakan tragedi kekerasan. Andaikan kita sadar, sekarang ini kasus kekerasan sudah seperti makanan sehari-hari, dalam arti, kerap terjadi.  Pater Pram membeberkan bahwa sepanjang tahun 2019, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan mencatat terdapat lebih dari 430.000 kasus kekerasan. Angka ini naik 6% dari tahun sebelumnya. Ada lagi, Amnesty International Indonesia mencatat juga adanya tindak kekerasan dan kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan dan jurnalis yang semakin meningkat. Belum lagi kita disodorkan berita hoax yang berserakan di media sosial yang memperkeruh suasana hidup bermasyarakat. Bunda Maria, para murid, dan sejumlah orang dalam kisah sengsara Yesus merupakan saksi atas kekerasan di masa lampau. Bagaimana dengan kita yang menjadi saksi Kristus di zaman sekarang ini?  Apakah kita hanya diam ketika tindak kekerasan terjadi? Kedua, kisah sengsara Yesus kerap dianggap menjadi suatu kekelaman. Wafat Yesus mengakibatkan para murid-Nya mengalami mental breakdown.  Pater Pram mengingatkan, melalui kisah sengara Yesus, bahwa kita jadi mengenal Tuhan yang merangkul sejarah hidup manusia dalam segala kesengsaraan dan harapannya. Artinya, wafat Yesus merupakan bukti cinta Tuhan kepada manusia tanpa batas. Tuhan yang mau berkorban.  “Tuhan yang menyapa kesedihan manusia dan rela memberikan dirinya sampai sehabis-habisnya!” tegas Pater Pram. Di akhir homilinya, Pater Pram mengajak kita sebagai murid Kristus untuk memaknai kisah sengsara sebagai tanda pemberian diri Tuhan Yesus sampai tuntas. Kita dipanggil untuk melanjutkannya, berjerih payah untuk memperbaharui, merawat, dan membela kehidupan.   Yang bisa saya rangkum dari Paskah tahun ini, berdasarkan makna yang saya temukan dari kisah sengsara Yesus, adalah sebuah pertanyaan,. Maukah kita memberikan diri kita sehabis-habisnya dan memberanikan diri demi membela kehidupan?  “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15: 12-13 Kontributor : Karina Chrisyantia – Komsos Paroki Blok B