Bertani itu Benar

Date

Di usianya yang ke-57, Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga terus berbenah diri. Kami terus berusaha mengembangkan dunia pertanian di Indonesia dengan mengejar visi untuk menjadi rujukan Teman Tani. Kami berharap, KPTT bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin belajar tentang pertanian dan peternakan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana KPTT mewujudkan cita-cita tersebut? Ada beberapa action plans yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh KPTT di antaranya adalah penyelenggaraan kursus Smart and Scientific farming, assessment internal KPTT, dan kolaborasi. 

Smart and Scientific Farming

Pendekatan model pertanian saat ini harus dikemas dalam bentuk yang menarik dan modern. Hal ini dimaksudkan agar menarik lebih banyak orang muda untuk terlibat dalam kursus pertanian dan pendampingan para petani. Dalam arti tertentu, pandemi Covid-19 telah mengajari kami untuk menyelenggarakan kursus pertanian yang menarik bagi banyak kalangan. Sejak bulan Maret 2020 kami menyelenggarakan apa yang disebut sebagai Smart and Scientific Farming. Model pendekatan pertanian yang cerdas dan ilmiah ini ternyata mampu menjawab kebutuhan banyak peserta kursus. Kurikulum kursus pertanian pun disusun dengan mengedepankan tiga hal pokok yaitu pembuatan media tanam, pengenalan dan pembuatan nutrisi tanaman, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). 

Semenjak kursus dibuka, KPTT telah mendampingi ratusan peserta kursus baik secara luring maupun daring. Melihat siapa saja peserta kursus pertanian, ada data yang cukup menarik. Pertama, ada banyak sekolah, khususnya Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Atas yang tertarik dengan program overplanting. Kedua, ada banyak peserta kursus yang memiliki usia pensiun. Kebanyakan dari mereka hendak mendalami pertanian untuk memaksimalkan masa pensiun mereka dengan bertani. Mengingat mereka, kadang kami berseloroh, KPTT bukan hanya berjalan bersama orang muda, namun juga berjalan bersama orang-orang tua untuk membangun masa depan yang penuh harapan. Ketiga, saat ini KPTT bekerjasama dengan Yutaka Education Center (lembaga Bahasa Jepang) yang sedang menyiapkan orang-orang muda untuk dikirim ke Jepang sebagai petani. Sudah ada tujuh pemuda yang belajar pertanian di KPTT dari total 60-an orang dan masih banyak lagi para peserta kursus dalam bentuk magang dan sebagai volunteer di KPTT.  

Dalam mendampingi orang muda untuk bertani, kata-kata yang pernah disampaikan oleh Masanobu Fukuoka (pegiat natural farming) cukup menginspirasi. “The ultimate goal of farming is not growing the crops but cultivation and perfection of human beings.” Masanobu menekankan pentingnya peranan manusia dalam bertani. Dengan bertani, manusia sejatinya juga akan belajar mengolah diri, menjadi lebih baik, dan menjadi lebih sempurna sebagai manusia. Maka dari itu, natural farming mestinya menjadi pilihan penting jika para petani ingin mencapai kesempurnaan diri bersama alam.

Assessment Internal KPTT

KPTT terus melakukan refleksi dan evaluasi diri. Setelah sebelumnya mengalami evaluasi karya dan diputuskan bahwa karya ini tetap dilanjutkan, kami bersama seluruh Serikat mencoba menanamkan roh Universal Apostolic Preferences (UAP) dalam menjalankan karya KPTT. Karena alasan itu, KPTT pun terus berbenah. Saat ini, KPTT sedang membentuk Tim 10. Tim 10 adalah sebuah tim yang terdiri atas orang-orang muda, baik dari internal KPTT maupun luar KPTT yang akan “bekerja” atau bergerak memajukan dan membangun KPTT 10 tahun ke depan. Sejak bulan lalu, Tim 10 ini sudah bekerja untuk mewujudkan visi KPTT untuk menjadi rujukan bagi Teman Tani. Mereka bahu membahu akan bekerja untuk mewujudkan misi KPTT agar menjadi lebih profesional dalam mendidik teman tani sesuai dengan perkembangan pertanian modern, profesional dalam produksi dan pemasaran hingga dapat menyelenggarakan institusi yang sehat dan berkelanjutan, dan profesional dalam menemani Teman Tani sebagai pihak sentral. 

Setelah paling tidak dua kali bertemu, Tim 10 semakin menyadari bahwa rasa andarbeni menjadi bagian yang paling penting dan paling banyak disebutkan oleh mereka. Berawal dari rasa memiliki tersebut, pengembangan, optimalisasi atau pembaharuan KPTT akan semakin mudah dilakukan.  Dalam pertemuan kedua, setelah melakukan percakapan rohani 3 putaran, Tim 10 menemukan pentingnya pembaharuan KPTT dengan “menggarap”pertama-tama Sumber Daya Manusia (SDM) KPTT. SDM memang menjadi bagian yang krusial. Seperti kita ketahui, sesuai dengan bahasa UAP, untuk mewujudkan perubahan, pertama-tama yang memang harus berubah adalah manusianya. Oleh karena itu, kami berharap dengan adanya perbaikan SDM di KPTT, gerak maju KPTT akan menjadi lebih mudah. “Pembaharuan KPTT tidak bisa dijalankan tanpa sekaligus memperbaiki sektor-sektor yang lain seperti program kursus, aset, keuangan, pemasaran, produksi, pasca panen dan kelembagaan,” tegas Pater Franciscus Asisi Sugiarta, S.J.,  Direktur KPTT saat ini.

Kolaborasi  

Saat ini logo KPTT sudah diganti dengan logo yang baru. Di logo terdahulu terdapat gambar seorang petani yang mengenakan caping serta memanggul cangkul. Pada zamannya, logo tersebut sangat tepat dan mengena. Namun, di zaman ini gambaran petani dengan caping dan cangkulnya tidak lagi memadai. Oleh karena itu, logo KPTT pun bertransformasi agar lebih menarik bagi para petani millenial. Dalam pembaharuan logonya, KPTT bekerja sama dengan banyak pihak, terutama adalah para alumni sekolah Jesuit. Pembaruan logo KPTT sekaligus menjadi penanda penting bagi KPTT ke depannya untuk terus berkolaborasi agar semakin maju dan dikenal. 

Kolaborasi KPTT dengan berbagai kalangan semakin maju pesat sejak tahun 2020. Masa pandemi tidak membatasi kami dalam berkolaborasi. Bentuk kolaborasi yang terjadi sangat beragam. Dari segi edukasi atau penyelenggaraan kursus, KPTT banyak bekerjasama dengan sekolah-sekolah di sekitar Jawa Tengah seperti, SD Don Bosco, SD Kalam Kudus, SD Pangudi Luhur, SMA Kebon Dalem. Beberapa pihak universitas, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Satya Wacana, Universitas Gajah Mada dan baru-baru ini dengan Universitas Sanata Dharma, juga berkolaborasi dengan kami dalam menyelenggarakan kegiatan magang mahasiswa dan melakukan penelitian skripsi. Selain dalam hal penyelenggaraan pendidikan, KPTT juga bekerjasama dengan institusi lain seperti The Farmhill dan Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta dalam hal penyediaan sarana produksi pertanian. 

Kegiatan kolaborasi lain yang tidak kalah penting adalah dalam bentuk pelayanan sosial. Saat ini KPTT juga bekerjasama dengan  Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani dan Nelayan (LPUBTN) Semarang. Bersama lembaga ini, KPTT melakukan pendampingan para petani di daerah Gantang, Penadaran dan kemungkinan kelompok-kelompok tani lain yang ada di Keuskupan Agung Semarang. Dengan kata lain, KPTT saat ini tidak hanya berkutat dengan dirinya sendiri namun juga tetap memiliki gerak keluar. 

Bertani itu Benar

Sejatinya bertani itu adalah kegiatan yang ekologis. Catatan: jika bertani itu dilakukan dengan cara yang benar. Pertanian yang benar adalah pertanian yang mendukung kelestarian lingkungan hidup. Dengan bertani, kesuburan dan kesehatan tanah harus meningkat, melibatkan semakin banyak organisme/mikroorganisme dalam bercocok tanam dan pada akhirnya menyehatkan manusia serta lingkungan sekitar. Masanobu Fukuoka telah membuktikan dengan metode natural farming-nya bahwa model pertanian yang diusung sungguh bisa menyehatkan lingkungan dan manusia secara berkelanjutan. Namun, apakah pendekatan pertanian yang alami tersebut memadai untuk zaman ini? Oleh karena itu, sebagai jalan tengah, KPTT mencoba mengusung konsep smart and scientific farming. Model pertanian ini mengandaikan kemauan untuk terus belajar sehingga petani itu sendiri menjadi petani yang cerdas dan tentunya metode pertanian yang mereka miliki juga ilmiah, dapat dipertanggungjawabkan secara benar. 

Kontributor : Br. A. Dieng Karnedi, S.J. – KPTT Salatiga

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.