Biar Anak-anak Datang KepadaKu

Date

Membaca judul tulisan ini pasti sebagian dari kita langsung terbayangkan pada sepenggal syair nyanyian gerejani dalam Puji Syukur yang berjudul serupa. Awalan syair yang tercipta indah ini memang adalah sabda Yesus sendiri untuk meminta kepada para muridNya supaya tidak mengusir anak–anak yang hendak datang padaNya. Sungguh perbedaan yang kontras dimana para murid melarang anak-anak untuk datang kepada Yesus, manakala saat itu Yesus sedang lelah setelah banyak melakukan pekerjaanNya. Yesus tidak pernah lelah dalam melayani umatNya terutama anak-anak kecil yang hendak datang padaNya karena dari anak-anak kecil inilah sesungguhnya kita belajar tentang sebuah ketulusan dalam menyambut Yesus itu sendiri dalam diri kita tanpa adanya penghalang apapun. 

Terkait hal serupa dengan Yesus, kemudian diadaptasi langsung oleh Santo Ignatius Loyola dalam sebuah dokumen pengesahan berdirinya institusi Serikat Jesus yakni dokumen surat kegembalaan Regimini Militantis Ecclesiae yang ditulis oleh Paus Paulus III tahun 1540. Dalam dokumen tersebut dituliskan bahwa siapa saja yang ingin berjuang sebagai prajurit Allah dengan cara menyelamatkan jiwa-jiwa, melalui aneka bentuk pelayanan sabda Allah, diantaranya adalah mengajar agama kristiani kepada anak-anak dan orang sederhana. Dari pengalaman Santo Ignatius pulalah, ketika dirinya berada di Barcelona yakni dengan ikut duduk bersama dalam satu ruangan untuk belajar bahasa latin bersama dengan anak-anak kecil. Hal ini yang mendasari Santo Ignatius Loyola untuk merumuskan Formula Institusi Serikat yakni meminta kepada siapa saja yang ingin bergabung dalam serikat haruslah berkehendak untuk memberi pengajaran agama kristiani kepada anak-anak kecil. Maka sudah sejak awal pendidikan formasi di novisiat para novis diharapkan untuk dapat melakukan hal serupa yakni memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk anak-anak. Dalam hal ini sasarannya adalah anak-anak sekolah dasar yang ada di sekitar novisiat Girisonta.

Novis belajar yang mengajar anak-anak di SDK Jimbaran.
Dokumentasi : Novisiat Girisonta

Bulan Mei 2022 yang lalu menjadi kesempatan bagi kami seluruh novis tahun pertama dan kedua untuk merasakan memberi pelajaran kepada anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dikemas sebagai salah satu praktek dalam studi katekese yang sudah kami pelajari. Sebanyak dua kali dalam bulan tersebut, kami mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk bisa memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti. Sekolah yang kami tuju adalah sekolah SD Kanisius Girisonta dan SD Kanisius Jimbaran. Ada tantangan tersendiri dari masing-masing sekolah tersebut sehingga memunculkan daya kreativitas dari masing-masing novis agar bisa luwes dalam memberikan pelajaran karena sebagian besar dari para novis belum pernah menjadi guru sebelumnya. 

Tantangan tersebut yang paling saya rasakan adalah tantangan perbedaan agama yang cukup besar. Saat itu saya diutus untuk mengajar anak-anak kelas satu di SD Kanisius Jimbaran. Saya berpikir akan mudah saja memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk anak-anak di SD Kanisius Jimbaran. Ternyata dari info yang saya dapatkan bahwa hampir tujuh puluh lima persen siswa siswi SD Kanisius Jimbaran memeluk agama non Katolik. Sungguh di luar dugaan saya yang semula mengira bahwa sekolah berlabel SD Kanisius justru sebagian besar siswa siswinya beragama non Katolik. Tantangan lain yang saya rasakan adalah kehebohan dari anak-anak kelas satu yang saya ajar. Ternyata mereka begitu antusias dalam menerima pelajaran. Jadi saya harus mengeluarkan daya-daya kreatif untuk bisa memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti di lingkungan mayoritas non Katolik. Kehebohan yang saya maksud adalah kehebohan yang wajar dilakukan untuk anak-anak usia kelas satu sekolah dasar, mulai dari anak-anak yang sulit diatur, lari sana lari sini, nakal khas anak-anak, hingga mempertanyakan hal-hal diluar dugaan saya misalnya “Bruder itu apa sih..?” “Bruder sekolahnya dimana..?” “Bruder rumahnya dimana…?” dan masih ada pertanyaan lainnya. Tantangan seperti itu tidak lantas menyurutkan niat saya untuk tetap memberikan pelajaran agama Katolik dan budi pekerti untuk mereka. Justru tantangan ini menjadi gambaran kepada diri saya akan model pewartaan dan perutusan dalam Serikat Jesus kelak. Pada akhirnya saya lebih menekankan akan pelajaran budi pekerti yang lebih pas untuk diserap oleh anak-anak tanpa adanya sekat-sekat perbedaan agama yang begitu kontras. Dikemas dengan aneka kegiatan tematik dan kegiatan bergembira bersama mampu membuat anak-anak lebih mudah menangkap maksud sederhana yang hendak saya sampaikan dalam kelas. Bahkan di hari akhir saya mengajar anak-anak ternyata sangat senang akan pelajaran yangh dibawakan oleh kami para novis dan meminta supaya kami para novis dapat kembali memberikan pelajaran di sekolah mereka. 

Para Novis beristirahat di ruang guru setelah selesai mengajar anak-anak.
Dokumentasi : HUMAS SDK Jimbaran

Inilah gambaran sekelumit cerita pengalaman saya ketika memberikan pelajaran katekese untuk anak-anak. Mereka sangat merindukan sapaan personal dan materi pelajaran yang bisa dikemas menarik. Saya merefleksikan pengalaman ini layaknya seperti pengalaman Yesus sendiri yang diawal tulisan ini meminta supaya anak-anak datang kepadaNya. alam diri anak-anak terdapat benih iman yang murni belum tercemar oleh lewat kemegahan dunia ini untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat mereka. Maka dari itu saya hendak menutup tulisan ini dengan lanjutan syair nyanyian pada awal judul tulisan ini.

“Biar anak-anak, datang kepadaKu.”

Itu sabda Yesus, Dia memanggilku.

Kini aku datang siap mendengarNya,

Kini aku datang, Yesus memanggilku.

“Biar anak-anak, datang kepadaKu.”

Itu sabda Yesus, Dia memanggilku.

Dalam kesukaran susah tak terhibur,

padaNya kudatang, Yesus memanggilku.    

Kontributor : Andreas Elan Budi Santoso, nS.J.

More
articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.