Pilgrims on Christ’s Mission

Penjelajahan dengan Orang Muda

Show Your Fire, Take Your Desire

Lustrum IX Seminari Tinggi InterdioSesan San Giovanni XXIII Selasa, 11 Oktober 2022, pada hari raya Santo Yohanes XXIII, Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII merayakan Lustrum XI dengan tema Show Your Fire, Take Your Desire. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak; dan didampingi oleh Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF – Uskup Agung Samarinda; R.D. Dr. Alphonsus Tjatur Raharso, Pr. – Vikjen Keuskupan Malang; Romo Krispinus Cosmas Boli Tukan, MSF – Vikjen Keuskupan Banjarmasin dan semua staf Seminari Tinggi. Dengan tema Show Your Fire, Take Your Desire, Seminari ingin mengajak para frater untuk meyakini bahwa Allah yang memanggil untuk mengutus dan menggembalakan domba-dombaNya agar para domba selalu sehat serta menikmati hidup kekal. Perayaan ini juga mengingatkan tugas pelayanan imam agar mau berkorban demi segala perutusan yang diberikan oleh Bapak Uskup. Oleh karena itu, diperlukan kerendahan hati para pelayan umat agar domba-domba tidak lari, berkeliaran, bahkan dimangsa serigala. Mgr. Agustinus Agus sebagai selebran utama mengungkapkan dalam homilinya, “Kerendahan hati itu akan membuat nyaman hidup, sedangkan kesombongan hanya akan memunculkan banyak musuh. Contohnya saja misal imam yang menggunakan mimbar untuk mencemooh umatnya hanya akan membuat banyak musuh di sekitarnya. Kerendahan hati adalah kunci menjadi gembala baik yang akan dicintai umatnya.” Begitulah pesan Mgr. Agus untuk para frater di seminari. Serikat Jesus di seminari ini terlibat dalam pelayanan rohani para frater. Serikat Jesus mengutus dua imamnya, P. Basilius Soedibja, S.J. dan P. Herman Joseph Suhardiyanto, S.J. sebagai pembimbing rohani para frater. Serikat Jesus telah hadir bersama para frater interdiosesan selama 32 tahun. Dalam perayaan lustrum ini P. Soedibja berharap agar para frater setia dalam tugas dan pelayanannya serta hidup dalam imamat yang kokoh. Menjadi imam di zaman ini memang tidaklah mudah. Mereka tidak hanya memerlukan pengetahuan yang baik akan teologi, melainkan juga dibutuhkan semangat kerendahan hati seperti yang telah diutarakan oleh Bapak Uskup dalam homilinya. Perayaan ini merupakan perayaan puncak dengan rangkaian acara yang sudah terlaksana seperti aksi sosial donor darah, lomba mewarnai untuk anak-anak, workshop Pancasila, reuni alumni, ziarah ke makam pendiri, live in paroki, jalan sehat bersama umat dan juga penduduk sekitar, bazar murah, serta pameran lukisan. Fr Eduardus I Kadek Suryajaya, Pr, Ketua Panitia, di akhir sambutannya memohon doa agar setiap kegiatan yang ada selama Lustrum ini tidak hanya selesai sampai di sini melainkan terus membentuk karakter menjadi imam yang penuh integritas dan mau berkembang menghadapi zaman. Kontributor: P. Ignatius Windar Santoso, S.J.

Karya Pendidikan

Pendidikan sebagai Wahana Bertumbuh, Berkreasi, & Peduli

Pembukaan Dies Natalis Universitas Sanata Dharma ke-67 Setelah dua tahun dies natalis dilaksanakan secara sederhana dan terbatas, tahun ini Universitas Sanata Dharma (USD) kembali mengalami kemeriahan dies natalis seperti terjadi sebelum pandemi. Tahun ini, USD menginjak usia yang ke-67. Pembukaan dies natalis dilakukan pada Minggu, 2 Oktober 2022, dengan kegiatan bersama yang diikuti oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Kegiatan bersama ini diawali dengan pelepasan burung dan senam bersama. Selanjutnya seluruh keluarga besar USD melakukan sarapan bersama, pembagian doorprize, dan menonton penampilan kesenian dari para mahasiswa Mappi (Papua), Mentawai, Dayak, dan Tanzania. Tema yang dipilih dalam dies natalis USD ke-67 ini adalah “Pendidikan sebagai Wahana Bertumbuh, Berkreasi, dan Peduli”. Seluruh rangkaian acara dies dilaksanakan hingga 22 Desember 2022. Berbagai kegiatan akademis dan non-akademis sudah dipersiapkan. Selain turnamen olahraga bulu tangkis, tenis lapangan, sepak bola, dan tenis meja diadakan juga lomba fotografi dan video TikTok. Kegiatan yang bersifat kesenian adalah konser paduan suara Cantus Firmus, Parade Gamelan, dan pertunjukan Ketoprak. Kegiatan sosial meliputi Go Green penanaman tanaman langka, aksi sosial, dan donor darah. Kegiatan ilmiah diisi seminar nasional Sanata Dharma Berbagi dan Seminar Ilmiah Dosen. Kegiatan kerohanian dilakukan dengan napak tilas dan ziarah ke Girisonta serta Misa Dies Natalis ke-67. Rangkaian dies diakhiri dengan malam apresiasi mahasiswa dan acara puncak dies. Kontributor: Humas USD

Karya Pendidikan

Meningkatkan Kualitas Pendidikan yang Merdeka dalam Semangat Petrus Kanisius

Jumat, 21 Oktober 2022, menjadi momen penting bagi keluarga besar Yayasan Kanisius yang merayakan ulang tahun ke-104 dalam memberikan pelayanan di bidang pendidikan. Lebih istimewa bagi Yayasan Kanisius Cabang Surakarta, karena selain merayakan hari ulang tahun ke-104 juga sekaligus meresmikan gedung baru SD Kanisius Murukan, Wedi, Klaten. SD Kanisius Murukan semula terbagi ke dalam dua lokasi. Lokasi timur menempati gedung milik Suster-suster Abdi Kristus untuk kelas 1-2. Sedangkan lokasi barat milik SD Kanisius Murukan digunakan untuk kelas 3-6. Pembangunan gedung ini menghabiskan dana kurang lebih Rp 2 miliar dan berlangsung dari bulan November 2021 sampai bulan Agustus 2022. Pembangunan gedung tidak lepas dari peran serta kemurahan hati para donatur. Panitia perayaan ulang tahun ke-104 Yayasan Kanisius kali ini dipercayakan kepada regio Klaten yang diketuai oleh Ibu Nurbani Wijayanti. Pada acara ini panitia mengundang seluruh Kepala Sekolah TK, SD, SMP, SMA, SMK di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta serta para donatur dan pemerhati Kanisius. Selain itu, para guru dan siswa di seluruh sekolah Yayasan Kanisius Cabang Surakarta dapat mengikuti rangkaian acara ini melalui live streaming Youtube. Acara diawali dengan Perayaan Ekaristi secara konselebrasi oleh Pater Joseph M.M.T Situmorang, S.J. selaku Kepala Yayasan Kanisius Cabang Surakarta; Pater V. Istanto Pramuja, S.J. selaku Ketua BKS Kevikepan Surakarta; dan Romo A.G. Luhur Prihadi, Pr. selaku Romo Paroki Santa Perawan Bunda Kristus Wedi. Perayaan Ekaristi dimeriahkan oleh suara merdu siswa-siswi SD Kanisius Murukan. Dalam perayaan ini, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, menyampaikan sambutan melalui video karena beliau tidak dapat hadir dalam acara ini. Setelah Perayaan Ekaristi, siswa-siswi sekolah Kanisius di Regio Klaten saling unjuk kebolehan. Perwakilan komunitas TK/SD Kanisius Murukan dengan tari Nusantara yang menceritakan keragaman budaya Indonesia. TK/SD Kanisius Delanggu menampilkan gerak dan lagu. Selain itu, Komunitas TK/SD Kanisius Mlese menampilkan tari Jaranan dan tari Caping sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya Jawa. Komunitas TK/SD Kanisius Sidowayah juga menampilkan dolanan anak yang menceritakan suasana bermain anak-anak di pedesaan. Tak kalah menariknya penampilan komunitas SDK Bayat dengan permainan alat musik Jimbe dan persembahan terakhir dari perwakilan komunitas SMA Kanisius Boyolali yang mempersembahkan Tari Topeng Ireng yang menambah semarak acara ini. Di sela-sela acara, panitia membagikan doorprize bagi tamu yang hadir dalam perayaan HUT Yayasan Kanisius ke-104 dan pemberkatan gedung baru. Semoga di ulang tahunnya yang ke-104 ini Yayasan Kanisius khususnya sekolah-sekolah di Yayasan Kanisius Cabang Surakarta semakin meningkatkan pelayanan di dunia pendidikan dengan meneladan semangat Santo Petrus Kanisius, seperti tema yang diangkat pada ulang tahun Yayasan Kanisius kali ini “Meningkatkan Kualitas Pendidikan yang Merdeka dalam Semangat Petrus Kanisius”. Kontributor: Nurbani Wijayanti – Kepala Sekolah SD Kanisius Sidowayah, Surakarta

Karya Pendidikan

Biarkanlah Anak-anak Datang Kepada-Ku

Peringatan HUT ke-104 Yayasan Kanisius Bendera tunas kelapa berkibar di sepanjang jalan menuju Tempat Doa dan Semadi Bukit Kendalisada. Anak-anak berpakaian pramuka terlihat turun dari angkot dan memasuki area TK Kanisius Harjosari. Di halaman TK, sudah tersedia panggung, sederetan piala, dan tiga buah tiang bendera lengkap dengan bendera merah putih, bendera tunas kelapa, dan bendera pandu dunia. Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022, Yayasan Kanisius cabang Semarang Rayon Selatan yang meliputi Ungaran, Girisonta, Bedono, Ambarawa, dan Salatiga mengadakan Jambore Pramuka Kanisius Rayon Selatan dalam rangka memperingati HUT ke-104 Yayasan Kanisius. Acara Jambore ini sudah dipersiapkan mulai bulan Agustus 2022 diprakarsai oleh para Pembina di 13 sekolah yang ada di Rayon Selatan. Jambore Pramuka Rayon Selatan mengambil tema “Biarkanlah Anak-anak Datang Kepada-Ku” sebagai pengerucutan dari tema tahunan Yayasan Kanisius Cabang Semarang yaitu Amare et Servire (mencintai dan melayani) dengan salah satu harapan kegiatan jambore ini akan mengundang banyak peserta didik baru di tahun ajaran mendatang. Para peserta mulai berdatangan menggunakan angkutan prona atau pick-up. Mereka disapa oleh pembawa acara, melakukan daftar ulang, dan menerima pin yang nantinya akan dipakai selama Jambore. Kemudian para peserta mulai menata barisan di depan dan samping panggung untuk persiapan upacara pembukaan Jambore. Upacara pembukaan Jambore Pramuka Rayon Selatan dimulai tepat pukul 08.00 WIB dengan petugas upacara dari SMP Kanisius Girisonta dan Kak Petrus (Pengawas SD Yayasan Kanisius Cabang Semarang) selaku pembina upacara. Beliau menyampaikan bahwa dengan kegiatan Jambore ini anak-anak dapat mengenal anak Kanisius dari sekolah lain di Rayon Selatan, melatih ketrampilan pramuka dasar, dan sportivitas. Acara selanjutnya adalah penyematan pin tanda peserta Jambore dan pemotongan pita oleh Pater Agustinus Mintara, S.J. (Kepala Yayasan Kanisius Cabang Semarang). Setelah beliau menyematkan pin kepada perwakilan peserta dan memotong pita yang disambungkan dengan balon, Pater Mintara, S.J. menyapa para peserta dari masing-masing sekolah dan mengajak anak-anak untuk tetap gembira dan bangga menjadi anak Kanisius. Tak lupa, Pater Mintara, S.J. juga mengajak semua orang yang hadir untuk melakukan tepuk Kanisius sehingga bertambah semangat. Pada Jambore Pramuka Kanisius Rayon Selatan ini diikuti oleh 15 regu penggalang putra dan 14 regu penggalang putri. Ada sepuluh pos dalam jambore ini yaitu pos Morse, Pentas Seni, PBB, tali-temali (membuat dragbar), Bumbung Sosial, Permainan Air, Dasa Darma, Pengetahuan Umum, Doa Anak Kanisius, Kebersihan Lingkungan (memungut sampah). Setiap pos dijaga dan dinilai oleh kakak-kakak dari SMA Kanisius Ambarawa, SMK Kanisius Ungaran, dan SMK SPP Kanisius Ambarawa. Hal ini dilakukan untuk melatih kepemimpinan, kerjasama, dan ketelitian dari kakak-kakak yang ada di tingkat SMA dan SMK. Setelah upacara pembukaan, para peserta mulai bersiap untuk pos morse. Para peserta mendengarkan morse yang diberikan oleh kakak penjaga pos, kemudian setelah berhasil memecahkan sandinya para peserta melanjutkan ke pos yang lain. Pos Pentas Seni adalah pos dimana para peserta menunjukkan kepiawaian menari tari kreasi dengan iringan musik lagu Wonderland Indonesia (Novia Bachmid). Di Pos PBB, para peserta dinilai kekompakan dan kemantapan dalam melaksanakan baris berbaris, juga ketegasan pemimpin regu dalam memberi aba-aba. Di Pos Tali-temali, para peserta diminta untuk membuat dragbar yang akan dinilai kekuatan simpulnya dengan cara dihentak-hentakkan ke tanah. Di Pos Bumbung Sosial, para peserta diminta untuk memasukkan uang sebesar dua ribu rupiah untuk kegiatan sosial. Di Pos Permainan Air, para peserta diminta untuk memindahkan air dari ember ke dalam botol air mineral yang sudah dilubangi bagian atasnya dengan menggunakan potongan paralon. Dalam permainan ini, para peserta terlihat sangat gembira karena bisa bermain air sepuasnya. Di Pos Dasa Dharma, para peserta diminta untuk mengucapkan Dasa Darma secara bergantian dengan benar. Di Pos Pengetahuan Umum, para peserta diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan berkaitan dengan tokoh nasional, dan pengetahuan umum lainnya. Di Pos Doa Anak Kanisius, para peserta diminta untuk mendoakan Doa Anak Kanisius bersama-sama. Di Pos Kebersihan Lingkungan, para peserta diminta untuk memunguti sampah-sampah yang ada di lingkungan sekitar kemudian dimasukkan ke dalam plastik kresek warna hitam besar yang sudah disiapkan oleh kakak penjaga pos. Sekitar pukul 13.00 WIB, para peserta sudah kembali lagi ke titik awal pemberangkatan dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Sambil menunggu pengumuman regu tergiat baik putra maupun putri, para peserta dipandu oleh Kak Danang selaku pembawa acara, mendengarkan beberapa lagu seperti “Prau Layar dan Jaranan” yang dinyanyikan oleh beberapa peserta secara spontan. Tak lupa, ada acara joget bersama dengan diiringi lagu Aja dibandingke dan Kok Isa ya? yang dinyanyikan oleh peserta. Kurang lebih pukul 14.00 WIB, pengumuman regu tergiat pun dilaksanakan. Terlihat wajah-wajah tegang dari para peserta menantikan pengumuman. Akhirnya, Kak Danang membacakan hasil dari regu tergiat putra: Sedangkan untuk regu tergiat putri: Regu-regu yang disebutkan oleh Kak Danang serentak bersorak dan melompat kegirangan, juga menyerukan yel-yel regu masing-masing. Para ketua regu naik ke panggung, menerima piala, dan foto bersama. Setelah itu, Kak Danang menyampaikan ucapan sayonara dan sampai jumpa lagi di acara Jambore selanjutnya. Puji Tuhan, Jambore Pramuka Kanisius Rayon Selatan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Cuaca juga baik. Tidak turun hujan, walaupun mendung menggantung seharian. Terima kasih kami ucapkan kepada Pater Kepala Cabang Agustinus Mintara, S.J.., Kak Petrus (Pengawas Tingkat SD Yayasan Kanisius Cabang Semarang), Kak Mabigus tiga belas sekolah di rayon Selatan, Pembina Pramuka tiga belas sekolah, Bapak dan Ibu guru yang mendampingi putra-putrinya selama ber-Jambore, Bapak-bapak penjaga yang juga turut serta menjaga ketertiban dan keamanan selama jambore berlangsung, dan Bapak/Ibu serta semua pihak yang mendukung kegiatan ini dalam bentuk dana, tempat, doa, tenaga, dan semua hal yang panitia butuhkan dalam kegiatan Jambore Pramuka Rayon Selatan tahun 2022. Tetap sehat! Tetap semangat! Kanisius horeee!!!! Kontributor: F. Maya Ekasari Wulandari – SMA Kanisius Ambarawa

Pelayanan Gereja

Minggu Misi di Gereja St Theresia Bongsari

Minggu, 23 Oktober 2022 adalah Minggu Misi Sedunia, seperti ditetapkan dalam kalender liturgi Gereja Katolik. Bertepatan dengan Minggu Misi Sedunia, ada yang istimewa dalam Perayaan Ekaristi di Gereja St. Theresia Bongsari, Semarang. Paroki ingin merefleksikan panggilannya sebagai misionaris. Pengurus Gereja St. Theresia bekerja sama dengan pengurus Kevikepan Kategorial Keuskupan Agung Semarang menyelenggarakan Perayaan Ekaristi untuk umat berkebutuhan khusus (difabel). Ekaristi untuk teman-teman tunarungu yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Katolik Tuna Rungu (IKATUR). Kami berharap Ekaristi ini dapat terus diselenggarakan sebagai upaya untuk menyapa dan meneguhkan iman umat yang berkebutuhan khusus secara lebih luas.” Pater Eduardus Didik Chahyono, S.J., Pastor Paroki St. Theresia Bongsari Semarang terharu sekaligus terkesan atas kehadiran para peserta misa. Ada yang datang dari Salatiga, Ungaran, Banyumanik dan sejumlah tempat yang relatif cukup jauh dari Jalan Puspowarno Semarang. “Kami diteguhkan dan belajar banyak bagaimana menghidupi iman Katolik dari rekan-rekan semua. Keterbatasan yang ada tidak menghambat untuk terus bersyukur, meyakini dan berpengharapan pada Tuhan Yesus yang penuh kasih. Bersama rekan-rekan, kita diajak untuk berani meyakini bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita yang rapuh dan penuh keterbatasan. Rekan-rekan semua merupakan saksi-saksi cinta Tuhan yang nyata. Inilah misi kita di dunia agar semua ciptaan Tuhan mengalami dan hidup dalam cinta kasih. Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris cinta kasih. Dengan demikian Kerajaan Allah terwujud dalam kehidupan saat ini yang ditandai hidup dalam cinta, kerukunan, saling peduli dan membantu,” ujar Pater Didik, S.J. dalam renungannya. Beberapa petugas liturgi dalam Perayaan Ekaristi itu adalah rekan-rekan berkebutuhan khusus. Pembacaan kitab suci dilakukan oleh 2 orang tuna rungu. Paduan Suara dinyanyikan oleh rekan-rekan dari Sahabat difabel dari Rumah D. Kontributor: P Eduardus Didik Chahyono Widyatama, S.J.

Kuria Roma

Katolik 101: Apa itu Konsili Vatikan II?*

Tahun ini Konsili Vatikan Kedua (konsili ekumenis ke-21 di Gereja Katolik) genap berusia 60 tahun. Pada tahun 1959, Paus Yohanes XXIII menyerukan konsili ekumenis dengan tujuan untuk memperbarui Gereja (bahasa Italia aggiornamento menjadi kata favoritnya). Konsili berlangsung dalam empat sesi sidang dari tahun 1962-1965. Hampir 2.400 uskup, kardinal, dan pemimpin agama (dikenal sebagai Bapa Konsili) berpartisipasi bersama dengan ratusan penasihat teologi (dikenal sebagai periti). Konsili memperkenalkan, mendiskusikan, dan memperdebatkan puluhan topik penting bagi kehidupan Gereja Katolik yang akhirnya menghasilkan 16 dokumen. Bukan saja menjadi peristiwa terpenting abad ke-20, Konsili Vatikan II memiliki dampak yang terus bergema dan selalu muncul dalam 60 tahun ini. Mengingat pentingnya KV II beserta dinamika yang terjadi, perlulah dipahami latar belakang diadakannya KV II, apa yang terjadi, dan apa signifikansinya bagi Gereja dan dunia saat ini. Mengapa diadakan Konsili Vatikan II Paus Yohanes XXIII, terpilih tahun 1958 saat ia berusia 76 tahun, dianggap sebagai tokoh transisi karena usia dan pembawaannya yang dikenal periang. Ketika pada Januari 1959 ia mengumumkan rencananya untuk mengadakan konsili atau sidang Gereja sedunia, maka Gereja dan dunia pun terkejut. Kejutan ini bukan saja terkait dengan usia Paus Yohanes, tetapi juga dengan iklim Gereja pada saat itu. Banyak umat menganggap bahwa tidak perlu diadakan konsili. Konsili-konsili sebelumnya biasanya diadakan untuk menanggapi krisis yang terjadi di Gereja, untuk menjawab pertanyaan doktrinal yang menyebalkan, atau untuk mengutuk bidaah yang dianggap merusak Gereja. Tidak ada krisis seperti itu yang dihadapi Gereja pada tahun 1959. Kebanyakan umat Katolik menganggap Gereja itu permanen selamanya. Misa dirayakan dalam bahasa Latin dan dalam bentuk yang sebagian besar sama sejak abad ke-16. Gereja melayani sebagai jangkar yang tidak berubah di dunia modern yang dicengkeram oleh dua perang dunia yang menghancurkan. Ada anggapan, bagi rata-rata orang Katolik, bahwa Gereja akan tetap seperti ini tanpa batas waktu. Dinamika kunci Konsili Vatikan II: Sumber Daya dan Aggiornamento Di bawah bayang-bayang kemapanan dalam Gereja, bagaimanapun, reformasi sedang berlangsung. Beberapa teolog Eropa, terutama teolog Perancis, mengangkat tema kembali ke sumber asali yang kemudian menjadi gerakan penting yang dikenal dengan ressourcement, yang berarti kembali kepada para pemikir dan teks-teks teologi awal abad-abad pertama Gereja. Dalam tulisan-tulisan ini, para teolog menemukan kesegaran dan pembaruan yang memperkuat gerakan-gerakan ke arah pembaruan liturgi, memahami Gereja sebagai suatu dinamika, umat peziarah, dan mengapresiasi bagaimana doktrin berkembang dalam kehidupan Gereja. Selain itu, perkembangan telaah tulisan-tulisan sakral sedang berlangsung signifikan dan berkembang baik pada akhir 1950-an. Semua ini dikombinasikan dengan gerakan penting kedua, yaitu aggiornamento yang secara harfiah bermakna ‘memperbarui.’ Meskipun Gereja tampak ajeg selamanya dalam pengalaman sebagian besar umat Katolik, para teolog dan beberapa pemimpin Gereja melihat perlunya Gereja “membaca tanda-tanda zaman” dan menanggapi agar setia pada kekayaan Injil. Kedua gerakan kunci ini berdinamika dalam Konsili. Kembali ke sumber asali bukanlah kembali ke masa lalu yang diidealkan atau lari dari pertanyaan-pertanyaan mendesak dan sering membingungkan dalam dunia modern. Sebaliknya, para Bapa Konsili dan para teolog berusaha menjawab pertanyaan dan masalah-masalah dunia modern yang dihadapi oleh Gereja dengan memanfaatkan kekayaan teologis dan kebijaksanaan masa lampau serta perkembangan modern dalam teologi dan pengalaman pastoral. Hasilnya, Konsili itu merupakan pengalaman “Pentakosta baru”, membuka pintu dan jendela bagi Roh Kudus untuk meniupkan kehidupan baru ke dalam Gereja. Siapa saja yang hadir dalam Konsili Vatikan II? Apa yang dibahas di sana? Antara Oktober 1962 hingga Desember 1965, para Bapa Konsili bersidang dalam empat sesi pleno di Vatikan, dimana masing-masing sesi berlangsung sekitar 10 minggu. Di antara yang hadir adalah Uskup Agung Krakow Karol Wojtyla (Paus Yohanes Paulus II) dan penasihat teologis Pater Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI), serta teolog berpengaruh lainnya seperti Karl Rahner, S.J., Yves Congar, O.P., dan John Courtney Murray, S.J. dari Amerika. Para uskup dari seluruh benua di dunia berpartisipasi mewakili sudut-sudut dunia yang belum pernah (atau jarang) berpartisipasi dalam konsili-konsili sebelumnya. Konsili menunjukkan bahwa Gereja memperdalam identitasnya sebagai Gereja global yang benar-benar universal dalam merangkul semakin banyak orang di dunia. Selain uskup dan pemimpin utama ordo para biarawan, hadir pula perwakilan dari Gereja Protestan dan Gereja Ortodoks Timur sebagai pengamat. Hadir pula lebih dari dua puluh perempuan auditor awam sebagai anggota non-voting. Memang jumlah mereka sangat kecil dibandingkan dengan peserta laki-laki, namun itu menjadi langkah awal dan penting menuju partisipasi kepemimpinan perempuan dalam Gereja. Sebelum Konsili dimulai, para uskup mengajukan ide dan topik untuk diskusi yang dibuat menjadi “skema” atau konsep bagi para Bapa Konsili (dan penasihat teologis mereka) untuk dibahas dalam sesi kerja yang lebih kecil dan kemudian diperdebatkan dalam sesi pleno. Nantinya, para uskup akan memberikan suara pada setiap amandemen dan kemudian akhirnya menyetujui dokumen tersebut. Setelah para uskup menyetujui, Paus akan memberi persetujuan akhir dan mengumumkan dokumen-dokumen tersebut sebagai ajaran resmi Konsili dan Gereja. Meskipun debat dan pemungutan suara terkadang cukup kontroversial, semua dokumen disetujui dengan dukungan signifikan dari mayoritas uskup. Apa saja dokumen yang dihasilkan dalam Konsili Vatikan II? Apa isi ajaran dalam Konsili Vatikan II? Bagaimana pengajarannya? Secara keseluruhan, Konsili Vatikan II menghasilkan 16 dokumen selama empat sesi. Dalam 16 dokumen ini, Konsili mengajarkan tentang apa itu Gereja dari tiga perspektif yang berbeda, yaitu: berkenaan dengan dirinya sendiri, umat Kristiani lainnya, dan dunia. Pertama, Gereja merefleksikan dirinya sendiri dengan apa artinya menjadi Gereja? Ini berarti mempertimbangkan peran liturgi dalam kehidupan Gereja, terutama mengenai partisipasi penuh kaum awam (Sacrosanctum Concilium); melihat hakikat Gereja itu sendiri (Lumen Gentium); dan memperbarui keterlibatan umat Katolik dengan Kitab Suci (Dei Verbum). Selain itu, Konsili Vatikan II berusaha memperbarui cara Gereja memahami peran kaum awam, imam, dan uskup. Secara umum, Konsili berbicara tentang Gereja sebagai ‘umat peziarah’ atau ‘umat Allah’ yang menekankan martabat umum baptisan dan panggilan universal bagi kekudusan. Kedua, Konsili merefleksikan hubungan Gereja dengan umat Kristiani lainnya, mengakui unsur-unsur yang baik dan indah dalam Gereja atau denominasi lain, dan kesediaan untuk berdialog sambil tetap mempertahankan tradisi Gereja dalam kepenuhannya yang kaya dan kebutuhan Gereja akan reformasi yang berkelanjutan (Unitatis Redintegratio). Hal monumental lainnya adalah mengenai ajaran Konsili, sehubungan dengan agama-agama di luar Kristianitas, bahwa “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci…” (Nostra Aetate, 2). Menyatakan bahwa semua orang memiliki hak yang melekat, berdasar pada martabat manusia, untuk secara

Feature

Seratus Tahun Novisiat Serikat Yesus di Yogyakarta 1922

Dari ‘Lembah Maria’ ke ‘Lembah Code’ Pada bulan Mei 1922 tiga bruder Yesuit tiba di Jawa. Bruder Cornelius Groot pulang dari cuti dan mendapat tugas baru di Ambarawa, sedangkan dua bruder lain, Petrus van der Voort dan Jacobus van Zon, bertugas di Yogyakarta. Mereka berdua sebelumnya bekerja di Novisiat Belanda. Kini, di Yogyakarta mereka mendapat tugas untuk menyiapkan rumah yang akan menjadi novisiat, untuk sementara menempati satu rumah sewa milik P.J. Perquin, seorang pakar pada Dinas Kepurbakalaan. Beberapa bulan kemudian, Pater H. Koch, socius magister, dan beberapa frater novis tahun kedua akan tiba di Yogyakarta. Mereka berpindah dari ‘Novisiat Lembah Maria’ (Domus Probationis Vallis Beatae Mariae Virginis-Mariëndaal) ke Novisiat ‘Lembah Code’ Yogyakarta (Domus Probationis Djokjakartensis). Dua Keputusan Penting Pada tahun 1921, Serikat Yesus Provinsi Nederland membuat dua keputusan sangat penting. Pertama, akan didirikan novisiat di Hindia-Belanda; dan kedua, setiap tahun dua novis Belanda akan dikirim untuk menjalani tahun kedua di novisiat tersebut. Yogyakarta dipilih menjadi tempat pendidikan awal para calon Yesuit. Selain sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, menurut pengamatan P H. Koch, Yogyakarta sudah dikenal sebagai ‘kota dengan banyak sekolah.’ Perlu dicatat pula bahwa sejak tahun 1918 Yogyakarta telah menjadi pusat baru aktivitas misi Yesuit di kalangan orang Jawa, selain — tentu saja — Muntilan. Salah satu pertimbangan pendirian novisiat di Jawa adalah karena beberapa calon yang menjalani pendidikan di Belanda jatuh sakit dan bahkan dua orang meninggal di sana. Pertimbangan lain adalah supaya para calon mendapat pendidikan awal di alam dan budaya yang kelak akan mereka geluti. Dalam catatan Pater Koch, “Jadi, sudah sejak di novisiat mereka, para novis ini mengenal negara, adat istiadat, dan bahasa yang digunakan oleh penduduk, sementara pada saat yang sama mereka dengan mudah membiasakan diri dengan iklim” (1923). Salah satu yang mengusulkan pengiriman novis Belanda ke Indonesia ini adalah Rama van Lith. Dalam surat kepada superior misi pada tahun 1921 ia menulis “untuk itu kiranya baik kalau novis-novis Belanda dikirim ke Jawa supaya mereka dapat mengalami awal masa pembinaan mereka bersama dengan calon rekan-rekan kerja mereka di masa depan” (lih. F. Hasto Rosariyanto 2009, 199). Perlu dicatat bahwa sejak tahun 1922, para Jesuit sudah berkonsentrasi untuk berkarya semata-mata di pulau Jawa. Novisiat Yogyakarta dibuka pada 18 Agustus 1922. Pater Fransiskus Straeter ditunjuk sebagai magister, sekaligus sebagai superior pertama. Ia dibantu oleh Pater H. Koch, bruder van Zon dan bruder van der Voort. Pada tanggal 7 September 1922 dua orang novis (C. Poespadihardja dan C. Soeryasoetedja) memulai pendidikan mereka. Sementara itu novis secundi yang datang dari Belanda terdiri atas empat orang Indonesia (B. Soemarna, D. Hardjasoewanda, M. Reksaatmadja, dan C. Tjiptakoesoema) dan dua novis Belanda (Gerardus Vriens dan Hermanus Caminada). Suatu keputusan prematur? Betapapun pentingnya pendirian novisiat di Yogyakarta dalam sejarah misi Serikat Yesus di Indonesia, usaha tersebut pernah terancam gagal. Menjelang didirikannya novisiat tahun 1922, terdapat empat calon yang ingin bergabung. Akan tetapi dua orang berhenti sebelum kursus persiapan berakhir. Dua orang kandidat akhirnya masuk novisiat sebagai angkatan pertama di Novisiat Yogyakarta, tetapi satu orang hanya bertahan selama satu bulan. Akibatnya, pada tahun 1922 hanya ada satu novis primi dan enam novis sekundi pindahan dari Belanda. Tahun berikutnya hanya ada satu novis dan bahkan pada tahun 1924 tidak ada satu kandidat pun yang bergabung di novisiat. Melihat kecilnya jumlah kandidat, beberapa orang beranggapan bahwa pendirian novisiat di Yogyakarta adalah suatu keputusan yang terlalu dini, maka lebih baik ditutup saja dan para novisnya dikirim kembali ke Belanda. Keadaan menjadi semakin buruk karena novisiat di Belanda juga hanya menerima sedikit calon pada tahun 1921 dan 1922, sehingga menjadi pertanyaan besar apakah masih bisa mengirim dua novis setiap tahunnya ke Yogyakarta. Superior misi, P J. Hoeberechts, yang sangat yakin akan pentingnya pendirian novisiat, berusaha mempertahankan novisiat meskipun mengalami banyak kesulitan yang harus dihadapi. Ia mendapat dukungan penuh dari Roma. Rama Jenderal Ledochowski menulis kepada provinsial Belanda, mendorong agar provinsi Belanda, meskipun jumlah novisnya sendiri sedikit, tetap berkurban dengan murah hati dan tetap menyumbangkan dari yang sedikit untuk misi. Sementara itu mengenai gagasan untuk menutup novisiat, Rama Jenderal berpendapat, dengan merujuk pada contoh-contoh dari sejarah Serikat, bahwa dari pengalaman akan sangat sulit membuka kembali novisiat setelah ditutup. Oleh karena itu, mempertahankan novisiat adalah suatu berkah tersendiri meskipun jumlah panggilan untuk sementara masih sangat kecil. Akhirnya diputuskan bahwa Novisiat di Yogyakarta tetap dipertahankan. Pembukaan Novisiat Jawa-Belanda di Yogyakarta pada tahun 1922 adalah suatu tonggak amat penting bagi perjalanan Serikat Yesus di Indonesia. Adanya novisiat mau tidak mau menuntut dibukanya formasi yuniorat dan diselenggarakannya kursus filsafat. Pada tahun 1923 novisiat menempati rumah baru di Kolese Ignatius, di mana diselenggarakan yuniorat dan kursus filsafat bagi para skolastik. Bahwa kelak di kemudian hari Yogyakarta akan menjadi salah satu pusat pendidikan calon imam dan religius kiranya tidak bisa dilepaskan dari pendirian novisiat pada tahun 1922. Novisiat Serikat Yesus di Yogyakarta juga memiliki peran penting bagi perkembangan gereja di wilayah Yogyakarta. Sejak sangat dini para Jesuit muda ini masuk dan terlibat langsung dalam dua sayap kerasulan Rama Straeter, yakni pendidikan anak-anak di sekolah-sekolah Kanisius dan reksa pastoral di desa-desa pinggiran Yogyakarta. Sentuhan orang-orang muda ini kiranya memberi warna khas bagi pesatnya perkembangan kekatolikan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Kontributor: Pater F. Suryanto Hadi, S.J. Pustaka Haryono, Anton. 2009. Awal Mulanya adalah Muntilan. Yogyakarta: Kanisius. Hasto Rosariyanto, F. 2009. Van Lith. Pembuka Pendidikan Guru di Jawa. Yogyakarta: Penerbit USD Press. Koch, “Djokja en het Javaansche Noviciaat Aldaar”, St.-Claverbond, 1923, 65-72. Vriens, G. 1959. Honderd jaar Jezuïeten Missie in Indonesië. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Pelayanan Spiritualitas

Ziarah dalam Gelisah

Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertajuk Ziarah dalam Gelisah yang ketiga dan keempat kembali digelar pada Jumat, 14 Oktober 2022 dan Jumat, 28 Oktober 2022. Webinar yang merupakan kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, dan Yayasan Basis ini cukup menarik minat para pecinta spiritualitas Ignatian. Berdamai dengan Diri: Mengelola Pergulatan Batin dalam Terang Spiritualitas Ignatian Seri ketiga webinar ini diselenggarakan secara hybrid di Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan, Surakarta pada Jumat, 14 Oktober 2022 dengan tema Berdamai dengan Diri: Mengelola Pergulatan Batin dalam Terang Spiritualitas Ignatian. Narasumber kali ini adalah Pater Antonius Sumarwan, S.J. Pada kesempatan ini, ia mengajak para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami. Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan menyimak dengan sungguh-sungguh pemaparan kemudian secara aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana membedakan antara kehendak Tuhan dan ego pribadi. Pater Marwan mengingatkan bahwa salah satu dambaan dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola adalah mencari, menemukan, dan melaksanakan kehendak Tuhan. Pater Sindhunata, S.J. yang hadir dalam kegiatan ini juga menyampaikan dalam kata penutupnya bahwa spiritualitas Ignatian adalah sesuatu yang perlu dilatih terus-menerus. Untuk membantu proses latihan atau olah rohani, salah satu bentuk yang ditawarkan oleh spiritualitas Ignatian adalah Retret Anotasi 19, yang kemudian diolah menjadi Latihan Rohani Pemula. Saat ini komunitas Latihan Rohani Pemula sedang melaksanakan retret sesi ke-8. Pater Marwan yang juga koordinator Latihan Rohani Pemula mengatakan sudah lebih dari 1000 orang menjalani Latihan Rohani Pemula dan merasakan manfaatnya. Harapannya, semoga spiritualitas Ignatian semakin membantu kita untuk menyadari kasih Allah dalam gelap dan terang hidup kita. Hidup adalah Memberi: Mengalami Makna Mendapatkan Cinta dari Latihan Rohani St. Ignatius Jumat, 28 Oktober 2022, menjadi hari yang istimewa terutama bagi Paroki Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q karena dipercaya menjadi tempat diselenggarakannya seri webinar keempat Ziarah dalam Gelisah: Hidup adalah Memberi dengan subtema Mengalami Makna Mendapatkan Cinta dari Latihan Rohani St Ignatius dan Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. sebagai narasumber. Acara ini juga merupakan bagian dari acara Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang menerbitkan karya terbaru Pater Sindhunata, Anak Anak Ignasius. Buku ini menceritakan tentang spiritualitas Ignasian dari sosok para Jesuit, antara lain Pater R. Maryono, S.J. (RIP) yang dahulu pernah berkarya di Gereja Blok Q. Kebetulan sekali bahwa Pater Sunu adalah teman seangkatan Pater Maryono. Dalam webinar ini Pater Sunu membahas mengenai kontemplasi untuk mendapatkan cinta. Kontemplasi untuk mendapatkan cinta adalah sebuah bentuk doa, yang oleh Ignasius dibuat untuk membantu retret dan menghidupi semangat latihan rohani dalam hidup sehari-hari. Menurut Pater Sunu, kontemplasi untuk mendapatkan cinta adalah kontemplasi untuk menghidupi cinta, menghidupi cinta Allah dengan prinsip (1) cinta harus diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata dan (2) cinta itu nyata dalam tindak saling memberi. Dalam terang pengalaman hidup St. Ignasius Loyola, sesungguhnya ia adalah seseorang yang jatuh cinta pada Allah atau mendapatkan cinta dari Allah sehingga ia begitu merindukan Allah lewat sesama. Peluru meriam mengenai kakinya di Pamplona sampai ia menjadi seorang pimpinan Jesuit. Ia banyak mengalami cinta Allah, bahkan selalu mengandalkan Allah. Salah satunya setelah ia meninggalkan Loyola, Ignasius hidup dari orang lain, meminta-minta sepanjang hidupnya, dan benar-benar hidup dari kebaikan Allah lewat orang lain. Dengan perjalanan yang begitu istimewa tersebut, maka Ignasius ingin membagikan pengalaman jatuh cintanya dengan sebanyak mungkin orang. Oleh Ignasius, kita diminta untuk mengingat lalu mensyukuri betapa besar karya Tuhan bagi kita, betapa banyak anugerah telah dilimpahkan-Nya. Ingatlah setiap anugerah Allah sejak kita dilahirkan hingga saat ini. Ignasius mengajak kita untuk menimbang dan melihat bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-Nya, di dalam batu, tumbuh-tumbuhan, dan juga manusia. Bersyukur atas segala pemberian karena telah diberi kehidupan hingga saat ini. Lalu bagaimana kita berlatih secara rohani untuk hal ini? Mulailah berlatih untuk bersyukur karena bersyukur akan melahirkan kerendahan hati (mengakui orang lain) dan kerendahan hati pasti melahirkan kemurahan hati, dan kemurahan hati akan melahirkan keterbukaan, baik keterbukaan kepala, kehendak, tangan, maupun tubuh secara keseluruhan yang berarti siap membantu orang lain – to live for others. Materi webinar ini sangat istimewa dan mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari para peserta. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk, baik melalui zoom