Ziarah dalam Gelisah

Date

Pendalaman Spiritualitas Ignatian bertajuk Ziarah dalam Gelisah yang ketiga dan keempat kembali digelar pada Jumat, 14 Oktober 2022 dan Jumat, 28 Oktober 2022. Webinar yang merupakan kerja sama antara Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, dan Yayasan Basis ini cukup menarik minat para pecinta spiritualitas Ignatian.

Berdamai dengan Diri: Mengelola Pergulatan Batin dalam Terang Spiritualitas Ignatian

Seri ketiga webinar ini diselenggarakan secara hybrid di Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan, Surakarta pada Jumat, 14 Oktober 2022 dengan tema Berdamai dengan Diri: Mengelola Pergulatan Batin dalam Terang Spiritualitas Ignatian.

Narasumber kali ini adalah Pater Antonius Sumarwan, S.J. Pada kesempatan ini, ia mengajak para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami.

Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami.

Para peserta webinar dengan penuh antusias ikut berziarah dalam gelisah.
Dokumentasi: KOMSOS Purbayan

Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan para peserta untuk belajar dari kisah hidup St. Ignatius Loyola melalui beberapa potongan scene film Ignacio de Loyola. Menurut Pater Marwan, berdamai dengan diri berarti berusaha menerima pengalaman yang kurang menyenangkan, menemukan rahmat dari pengalaman tersebut, dan terbuka akan kemungkinan atau bahkan jalan hidup baru yang dirahmatkan kepada kita. Untuk ini, kita memerlukan sikap lepas bebas karena apapun yang terjadi dalam hidup kita, sekalipun itu menyakitkan, bisa menjadi sarana karya Allah. Maka, kita pun perlu memohon rahmat Tuhan supaya bisa berdamai dengan diri dan pengalaman luka yang kita alami.

Para peserta tampak antusias mendengarkan penjelasan dari Pater Marwan, S.J. Peserta yang hadir secara langsung di Aula Ignatius Loyola, Paroki Santo Antonius Padua, Purbayan menyimak dengan sungguh-sungguh pemaparan kemudian secara aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana membedakan antara kehendak Tuhan dan ego pribadi. Pater Marwan mengingatkan bahwa salah satu dambaan dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola adalah mencari, menemukan, dan melaksanakan kehendak Tuhan. Pater Sindhunata, S.J. yang hadir dalam kegiatan ini juga menyampaikan dalam kata penutupnya bahwa spiritualitas Ignatian adalah sesuatu yang perlu dilatih terus-menerus. Untuk membantu proses latihan atau olah rohani, salah satu bentuk yang ditawarkan oleh spiritualitas Ignatian adalah Retret Anotasi 19, yang kemudian diolah menjadi Latihan Rohani Pemula. Saat ini komunitas Latihan Rohani Pemula sedang melaksanakan retret sesi ke-8. Pater Marwan yang juga koordinator Latihan Rohani Pemula mengatakan sudah lebih dari 1000 orang menjalani Latihan Rohani Pemula dan merasakan manfaatnya. Harapannya, semoga spiritualitas Ignatian semakin membantu kita untuk menyadari kasih Allah dalam gelap dan terang hidup kita.

Hidup adalah Memberi: Mengalami Makna Mendapatkan Cinta dari Latihan Rohani St. Ignatius

Jumat, 28 Oktober 2022, menjadi hari yang istimewa terutama bagi Paroki Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q karena dipercaya menjadi tempat diselenggarakannya seri webinar keempat Ziarah dalam Gelisah: Hidup adalah Memberi dengan subtema Mengalami Makna Mendapatkan Cinta dari Latihan Rohani St Ignatius dan Pater Petrus Sunu Hardiyanta, S.J. sebagai narasumber.

Acara ini juga merupakan bagian dari acara Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang menerbitkan karya terbaru Pater Sindhunata, Anak Anak Ignasius. Buku ini menceritakan tentang spiritualitas Ignasian dari sosok para Jesuit, antara lain Pater R. Maryono, S.J. (RIP) yang dahulu pernah berkarya di Gereja Blok Q. Kebetulan sekali bahwa Pater Sunu adalah teman seangkatan Pater Maryono.

Dalam webinar ini Pater Sunu membahas mengenai kontemplasi untuk mendapatkan cinta. Kontemplasi untuk mendapatkan cinta adalah sebuah bentuk doa, yang oleh Ignasius dibuat untuk membantu retret dan menghidupi semangat latihan rohani dalam hidup sehari-hari. Menurut Pater Sunu, kontemplasi untuk mendapatkan cinta adalah kontemplasi untuk menghidupi cinta, menghidupi cinta Allah dengan prinsip (1) cinta harus diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata dan (2) cinta itu nyata dalam tindak saling memberi.

Pater Sunu, S.J. menjadi pembicara dalam webinar keempat.
Dokumentasi: KOMSOS Blok Q

Dalam terang pengalaman hidup St. Ignasius Loyola, sesungguhnya ia adalah seseorang yang jatuh cinta pada Allah atau mendapatkan cinta dari Allah sehingga ia begitu merindukan Allah lewat sesama. Peluru meriam mengenai kakinya di Pamplona sampai ia menjadi seorang pimpinan Jesuit. Ia banyak mengalami cinta Allah, bahkan selalu mengandalkan Allah. Salah satunya setelah ia meninggalkan Loyola, Ignasius hidup dari orang lain, meminta-minta sepanjang hidupnya, dan benar-benar hidup dari kebaikan Allah lewat orang lain. Dengan perjalanan yang begitu istimewa tersebut, maka Ignasius ingin membagikan pengalaman jatuh cintanya dengan sebanyak mungkin orang.

Oleh Ignasius, kita diminta untuk mengingat lalu mensyukuri betapa besar karya Tuhan bagi kita, betapa banyak anugerah telah dilimpahkan-Nya. Ingatlah setiap anugerah Allah sejak kita dilahirkan hingga saat ini. Ignasius mengajak kita untuk menimbang dan melihat bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-Nya, di dalam batu, tumbuh-tumbuhan, dan juga manusia.

Bersyukur atas segala pemberian karena telah diberi kehidupan hingga saat ini. Lalu bagaimana kita berlatih secara rohani untuk hal ini? Mulailah berlatih untuk bersyukur karena bersyukur akan melahirkan kerendahan hati (mengakui orang lain) dan kerendahan hati pasti melahirkan kemurahan hati, dan kemurahan hati akan melahirkan keterbukaan, baik keterbukaan kepala, kehendak, tangan, maupun tubuh secara keseluruhan yang berarti siap membantu orang lain – to live for others.

Para peserta webinar di Aula Paroki SPMR Blok Q Jakarta.
Dokumentasi: KOMSOS Blok Q

Materi webinar ini sangat istimewa dan mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari para peserta. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk, baik melalui zoom maupun secara langsung. Pater Sunu menutup webinar dengan beberapa pesan manis untuk kita semua, yaitu agar senantiasa bersyukur atas segala anugerah yang telah kita terima dari Allah. Latih dan sadari berapa banyak anugerah yang sudah kita terima, melalui ratusan bahkan ribuan pribadi yang diciptakan oleh Allah untuk membantu kita sampai pada mencintai Dia. Mulai berbagi, bagikan anugerah-anugerah yang telah kita terima, baik anugerah ilmu, anugerah bersahabat, maupun lainnya, kepada orang lain.

Jangan lupa untuk merasakan “perasaan yang muncul” setelah berbagi, kegembiraan atau kesedihan apa yang didapatkan. Perhatikanlah bahwa Allah sedang berkarya dalam diri, keluarga, dan komunitas kita. Jadi, marilah mulai memberi diri kita lima atau sepuluh menit saja untuk bersyukur.

Bagi penulis, kesempatan ini menjadi kesempatan yang sangat berharga. Secara personal penulis sungguh merasa beruntung karena dipercaya menjadi moderator dalam kesempatan ini. Dalam persiapan yang cukup padat (satu minggu), koordinasi via Zoom bersama Pater Sunu yang saat itu berada di Girisonta dan Frater Calvin yang sedang berada di Thailand, dilakukan. Pengalaman unik ini memberikan sebuah semangat dan insight baru bagi penulis mengenai makna dan kedalaman yang sesungguhnya tentang memberi dan menerima. Ternyata, memberi dan menerima bukanlah sekadar relasi transaksional belaka. Namun, memberi sejatinya adalah tindakan yang bernilai dalam hidup. Dengan memberi dan menerima kita belajar berkontemplasi untuk mendapatkan cinta.

Life is giving!

Kontributor: Stella Vania & Tasya Ellen

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *