Katolik 101: Apa itu Konsili Vatikan II?*

Date

Tahun ini Konsili Vatikan Kedua (konsili ekumenis ke-21 di Gereja Katolik) genap berusia 60 tahun. Pada tahun 1959, Paus Yohanes XXIII menyerukan konsili ekumenis dengan tujuan untuk memperbarui Gereja (bahasa Italia aggiornamento menjadi kata favoritnya).

Konsili berlangsung dalam empat sesi sidang dari tahun 1962-1965. Hampir 2.400 uskup, kardinal, dan pemimpin agama (dikenal sebagai Bapa Konsili) berpartisipasi bersama dengan ratusan penasihat teologi (dikenal sebagai periti). Konsili memperkenalkan, mendiskusikan, dan memperdebatkan puluhan topik penting bagi kehidupan Gereja Katolik yang akhirnya menghasilkan 16 dokumen.

Bukan saja menjadi peristiwa terpenting abad ke-20, Konsili Vatikan II memiliki dampak yang terus bergema dan selalu muncul dalam 60 tahun ini. Mengingat pentingnya KV II beserta dinamika yang terjadi, perlulah dipahami latar belakang diadakannya KV II, apa yang terjadi, dan apa signifikansinya bagi Gereja dan dunia saat ini.

Mengapa diadakan Konsili Vatikan II Paus Yohanes XXIII, terpilih tahun 1958 saat ia berusia 76 tahun, dianggap sebagai tokoh transisi karena usia dan pembawaannya yang dikenal periang. Ketika pada Januari 1959 ia mengumumkan rencananya untuk mengadakan konsili atau sidang Gereja sedunia, maka Gereja dan dunia pun terkejut.

Kejutan ini bukan saja terkait dengan usia Paus Yohanes, tetapi juga dengan iklim Gereja pada saat itu. Banyak umat menganggap bahwa tidak perlu diadakan konsili. Konsili-konsili sebelumnya biasanya diadakan untuk menanggapi krisis yang terjadi di Gereja, untuk menjawab pertanyaan doktrinal yang menyebalkan, atau untuk mengutuk bidaah yang dianggap merusak Gereja. Tidak ada krisis seperti itu yang dihadapi Gereja pada tahun 1959.

Kebanyakan umat Katolik menganggap Gereja itu permanen selamanya. Misa dirayakan dalam bahasa Latin dan dalam bentuk yang sebagian besar sama sejak abad ke-16. Gereja melayani sebagai jangkar yang tidak berubah di dunia modern yang dicengkeram oleh dua perang dunia yang menghancurkan. Ada anggapan, bagi rata-rata orang Katolik, bahwa Gereja akan tetap seperti ini tanpa batas waktu.

Dinamika kunci Konsili Vatikan II: Sumber Daya dan Aggiornamento

Di bawah bayang-bayang kemapanan dalam Gereja, bagaimanapun, reformasi sedang berlangsung. Beberapa teolog Eropa, terutama teolog Perancis, mengangkat tema kembali ke sumber asali yang kemudian menjadi gerakan penting yang dikenal dengan ressourcement, yang berarti kembali kepada para pemikir dan teks-teks teologi awal abad-abad pertama Gereja. Dalam tulisan-tulisan ini, para teolog menemukan kesegaran dan pembaruan yang memperkuat gerakan-gerakan ke arah pembaruan liturgi, memahami Gereja sebagai suatu dinamika, umat peziarah, dan mengapresiasi bagaimana doktrin berkembang dalam kehidupan Gereja. Selain itu, perkembangan telaah tulisan-tulisan sakral sedang berlangsung signifikan dan berkembang baik pada akhir 1950-an.

Semua ini dikombinasikan dengan gerakan penting kedua, yaitu aggiornamento yang secara harfiah bermakna ‘memperbarui.’ Meskipun Gereja tampak ajeg selamanya dalam pengalaman sebagian besar umat Katolik, para teolog dan beberapa pemimpin Gereja melihat perlunya Gereja “membaca tanda-tanda zaman” dan menanggapi agar setia pada kekayaan Injil.

Kedua gerakan kunci ini berdinamika dalam Konsili. Kembali ke sumber asali bukanlah kembali ke masa lalu yang diidealkan atau lari dari pertanyaan-pertanyaan mendesak dan sering membingungkan dalam dunia modern. Sebaliknya, para Bapa Konsili dan para teolog berusaha menjawab pertanyaan dan masalah-masalah dunia modern yang dihadapi oleh Gereja dengan memanfaatkan kekayaan teologis dan kebijaksanaan masa lampau serta perkembangan modern dalam teologi dan pengalaman pastoral. Hasilnya, Konsili itu merupakan pengalaman “Pentakosta baru”, membuka pintu dan jendela bagi Roh Kudus untuk meniupkan kehidupan baru ke dalam Gereja.

Siapa saja yang hadir dalam Konsili Vatikan II? Apa yang dibahas di sana?

Antara Oktober 1962 hingga Desember 1965, para Bapa Konsili bersidang dalam empat sesi pleno di Vatikan, dimana masing-masing sesi berlangsung sekitar 10 minggu. Di antara yang hadir adalah Uskup Agung Krakow Karol Wojtyla (Paus Yohanes Paulus II) dan penasihat teologis Pater Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI), serta teolog berpengaruh lainnya seperti Karl Rahner, S.J., Yves Congar, O.P., dan John Courtney Murray, S.J. dari Amerika.

Para uskup dari seluruh benua di dunia berpartisipasi mewakili sudut-sudut dunia yang belum pernah (atau jarang) berpartisipasi dalam konsili-konsili sebelumnya. Konsili menunjukkan bahwa Gereja memperdalam identitasnya sebagai Gereja global yang benar-benar universal dalam merangkul semakin banyak orang di dunia.

Selain uskup dan pemimpin utama ordo para biarawan, hadir pula perwakilan dari Gereja Protestan dan Gereja Ortodoks Timur sebagai pengamat. Hadir pula lebih dari dua puluh perempuan auditor awam sebagai anggota non-voting. Memang jumlah mereka sangat kecil dibandingkan dengan peserta laki-laki, namun itu menjadi langkah awal dan penting menuju partisipasi kepemimpinan perempuan dalam Gereja.

Sebelum Konsili dimulai, para uskup mengajukan ide dan topik untuk diskusi yang dibuat menjadi “skema” atau konsep bagi para Bapa Konsili (dan penasihat teologis mereka) untuk dibahas dalam sesi kerja yang lebih kecil dan kemudian diperdebatkan dalam sesi pleno. Nantinya, para uskup akan memberikan suara pada setiap amandemen dan kemudian akhirnya menyetujui dokumen tersebut. Setelah para uskup menyetujui, Paus akan memberi persetujuan akhir dan mengumumkan dokumen-dokumen tersebut sebagai ajaran resmi Konsili dan Gereja. Meskipun debat dan pemungutan suara terkadang cukup kontroversial, semua dokumen disetujui dengan dukungan signifikan dari mayoritas uskup.

Apa saja dokumen yang dihasilkan dalam Konsili Vatikan II? Apa isi ajaran dalam Konsili Vatikan II? Bagaimana pengajarannya?

Secara keseluruhan, Konsili Vatikan II menghasilkan 16 dokumen selama empat sesi. Dalam 16 dokumen ini, Konsili mengajarkan tentang apa itu Gereja dari tiga perspektif yang berbeda, yaitu: berkenaan dengan dirinya sendiri, umat Kristiani lainnya, dan dunia.

Pertama, Gereja merefleksikan dirinya sendiri dengan apa artinya menjadi Gereja? Ini berarti mempertimbangkan peran liturgi dalam kehidupan Gereja, terutama mengenai partisipasi penuh kaum awam (Sacrosanctum Concilium); melihat hakikat Gereja itu sendiri (Lumen Gentium); dan memperbarui keterlibatan umat Katolik dengan Kitab Suci (Dei Verbum).

Selain itu, Konsili Vatikan II berusaha memperbarui cara Gereja memahami peran kaum awam, imam, dan uskup. Secara umum, Konsili berbicara tentang Gereja sebagai ‘umat peziarah’ atau ‘umat Allah’ yang menekankan martabat umum baptisan dan panggilan universal bagi kekudusan.

Kedua, Konsili merefleksikan hubungan Gereja dengan umat Kristiani lainnya, mengakui unsur-unsur yang baik dan indah dalam Gereja atau denominasi lain, dan kesediaan untuk berdialog sambil tetap mempertahankan tradisi Gereja dalam kepenuhannya yang kaya dan kebutuhan Gereja akan reformasi yang berkelanjutan (Unitatis Redintegratio).

Hal monumental lainnya adalah mengenai ajaran Konsili, sehubungan dengan agama-agama di luar Kristianitas, bahwa “Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci…” (Nostra Aetate, 2). Menyatakan bahwa semua orang memiliki hak yang melekat, berdasar pada martabat manusia, untuk secara bebas beragama tanpa penganiayaan atau campur tangan dari pemerintah. Hal ini menandakan sikap baru terhadap pluralisme agama dalam masyarakat sipil (Dignitatis Humanae).

Akhirnya, Konsili berbicara tentang hubungan Gereja dengan dunia modern. Pada abad sebelumnya Gereja dikenal dengan ciri sebagai benteng pertahanan dari dunia, maka Gaudium et Spes justru menggemakan disposisi atau sikap batin baru terhadap dunia, yaitu dialog yang berkelanjutan. Kata-kata pembuka Gaudium et Spes (§1) mengungkapkan keinginan Gereja untuk terlibat dengan kehidupan dunia. “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman ini, terutama mereka yang miskin atau menderita, juga menjadi kegembiraan dan harapan, kesedihan dan kecemasan para pengikut Kristus.”

Seperti yang dicatat oleh sejarawan John O’Malley, S.J. dalam What Happened at Vatican II, Konsili tidak hanya membahas tentang topik-topik penting, tetapi juga berbicara dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh Konsili sebelumnya. Konsili-konsili sebelumnya sering menghasilkan kanon (aturan) untuk kehidupan Gereja disertai dengan kutukan, baik terhadap orang tertentu, bidaah, maupun gerakan yang dianggap berbahaya bagi Gereja dan doktrinnya. Dokumen Vatikan II ditulis dengan gaya yang berbeda yang bertujuan untuk menginspirasi dan menarik Gereja ke dalam refleksi dan keajaiban yang lebih dalam tentang misteri Gereja dan hubungannya dengan dunia. Lumen gentium, misalnya, tidak dimulai dengan mengulangi struktur hierarki Gereja, tetapi menempatkan Gereja dalam kaitannya dengan sumber dan tujuannya dalam misteri suci Allah Tritunggal. Setelah itu dilanjutkan dengan memberikan banyak gambaran dari Kitab Suci untuk Gereja, yaitu bukan melulu gambar yang melibatkan kepala, tetapi juga hati. Dengan demikian, maka tidak ada daftar kanon yang dikeluarkan dan tidak ada satupun kutukan yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan II.

Tidak mengherankan bahwa ada interpretasi yang berbeda dari Konsili dan signifikansinya! Beberapa pandangan yang baik, namun berbeda tentang ajaran Vatikan II adalah The Keys to the Council: Unlocking the Teaching of Vatican II yang ditulis Richard Gaillardetz dan Catherine Clifford dan Vatican II: Renewal Within Tradition, diedit oleh Matthew Lamb dan Matthew Levering.

Akankah ada Vatikan III?

Cara lain untuk mengungkapkan pertanyaan ini adalah: apakah akan ada konsili lain? Pada akhirnya, jawabannya adalah ya. Waktu, keadaan, dan Roh Kudus – serta siapa pun pausnya – akan mengatakan itu.

Namun yang lebih penting di sini adalah bahwa Gereja masih dalam tahap awal menerima dan melaksanakan hasil Konsili Vatikan II. Disebutkan bahwa dibutuhkan beberapa dekade untuk memasukkan Konsili Vatikan II dan ajaran-ajarannya ke dalam kehidupan Gereja. Perdebatan berlanjut tentang pentingnya Konsili ini dan apa artinya bagi siapakah kita dalam Gereja. Maka menjadi tugas kita untuk belajar tentang Konsili Vatikan II, memahami ajaran-ajarannya, dan sebagai komunitas Gereja terus berefleksi tentang bagaimana menjadi anggota Gereja di dunia, apapun peran kita di sana.

* Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel Catholic 101: What is Vatican II? dalam https://thejesuitpost.org/2022/10/catholic-101-what-is-vatican-ii/ Artikel ini diterjemahkan dengan penyesuaian oleh Tim Sekretariat SJ Provindo, pada tanggal 12 Oktober 2022

1 lih. John O’Malley, What Happened at Vatican II, hal. 43 – 52

2 lih. Lumen Gentium, §6 – 7. Beberapa gambaran ini diantaranya: kandang domba, pohon zaitun, kebun anggur, bait Allah.

More
articles

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *