Pilgrims on Christ’s Mission

Kuria Roma

Paus Emeritus Benediktus XVI Wafat

Surat Pater Arturo Sosa, S.J. Saudara-saudara yang terkasih, Serikat Jesus berduka cita bersama seluruh Gereja atas meninggalnya Paus Emeritus Benediktus XVI sekaligus bersyukur atas rahmat karunia Tuhan yang telah memberikan umat terbaik-Nya bagi Gereja dan dunia.  Ada banyak alasan untuk mengenangnya secara mendalam dan penuh syukur, bukan saja karena pelayanannya bagi Gereja Universal sebagai Wakil Kristus, tetapi juga atas pujian-pujian yang sering ia ungkapkan bagi Serikat kita.  Dalam masa hidupnya yang panjang, Pater Joseph Ratzinger sangat tahu akan kekuatan dan keterbatasan-keterbatasan Serikat kita. Buah-buah pekerjaannya sebagai seorang terpelajar dan profesor teologi di Jerman, perannya sebagai seorang ahli dalam Konsili Vatikan II, dan tanggung jawabnya sebagai Prefek Kongregasi Doktrin Iman telah mempertemukannya dengan banyak Jesuit yang berkomitmen dalam refleksi-refleksi  teologis, biblis, filsafat, dan kanonik. Secara tulus dan tanpa mengesampingkan kesulitan-kesulitan yang ada, mereka semua dilibatkan dalam dialog dan diajak berkolaborasi secara positif dan jujur demi menemukan nilai dan keutamaan Gereja yang lebih besar. Ia menaruh rasa hormatnya kepada Pater Henri de Lubac, salah satu penulis yang paling mempengaruhinya serta menunjukkan minat dan penghargaannya terhadap Universitas Gregoriana yang ia ungkapkan selama kunjungannya pada November 2006. Memori Benediktus XVI mendorong kita untuk melanjutkan berbagai penelitian dan studi teologis, dengan penuh dedikasi dan secara sangat serius, demi pelayanan iman di tengah budaya kontemporer. Joseph Ratzinger juga tahu dan sangat menghargai spiritualitas Ignasian. Tak lama setelah pensiunnya, ia menjawab pertanyaan tentang apa doa-doa favoritnya. Ia langsung mengutip doa Santo Ignatius Sume, Domine, et suscipe. Pada waktu lain, ia mengatakan, “Doa ini nampak terlalu tinggi bagi saya, sedemikian rupa sehingga saya hampir tidak berani mengucapkannya. Namun begitu kita harus selalu, lagi dan lagi, mencoba berani mengucapkan dan menjiwainya.” Doa kedua favoritnya adalah doa yang dikaitkan dengan St. Fransiskus Xaverius, “Aku mencintai Engkau karena Engkaulah Tuhanku […]. Aku mencintai engkau karena engkau adalah engkau.” Kita merasa sangat dekat dengannya karena teladan kasih pribadinya bagi Yesus Kristus dan pencariannya yang tanpa henti serta penuh gairah untuk menemukan “wajah Allah,” yang dengan begitu fasihnya ia ungkapkan dalam trilogi tentang Yesus dari Nazaret. Untuk inilah, kita mengenang Benediktus XVI, yaitu mengajak kita untuk melestarikan dan memupuk hubungan yang hidup dengan pribadi Yesus, karena tanpa itu kita kehilangan makna terdalam atas hidup kita. Ada begitu banyak tantangan yang sulit selama masa kepausannya namun ia mengerti bagaimana menghadapi semua itu dengan kerendahan hati, keberanian, dan keteguhan seraya memberikan bimbingan dan teladan kepada seluruh Gereja. Saya mengingat secara khusus realitas pelecehan seksual yang dramatis dan menyakitkan yang dilakukan para imam dan religius, tidak terkecuali oleh kita sendiri. Ia menanggung sendiri beban dan segala konsekuensi dari dosa Gereja yang tak terkatakan ini dengan caranya yang dengan demikian telah menempatkan kita di jalan yang benar: menerima kenyataan yang menyakitkan ini, mendengarkan para korban, menegakkan keadilan atas setiap kasus, mencari cara untuk mengganti kerugian yang ditimbulkan, dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar kepahitan tersebut tidak lagi terulang. Itulah jalan yang juga harus terus kita tempuh, dengan cara yang lebih penuh perhatian, maju bersama seluruh komunitas gerejawi dan semua orang. Rahmat Allah selalu memungkinkan kita memberikan kesaksian integritas hidup dan komitmen pertobatan, dan inilah tuntutan hidup Kristiani, religius, dan imamat kita yang harus senantiasa diingat. Dalam sidang KJ 35 yang dipimpin oleh Jenderal Serikat yang baru terpilih Pater Adolfo Nicolás, Serikat berkesempatan merasakan dan menikmati kedekatan dan cinta kasih yang ditunjukkan oleh Benediktus XVI ketika Serikat beraudiensi pada 21 Februari 2008. Lekturnya yang luar biasa mampu membawa kita ke jantung identitas spiritualitas kita. Ia mendorong agar Serikat, dengan tekad dan penuh antusiasme, untuk menghidupi nilai-nilai perutusan multi-dimensinya, yaitu melayani iman, keadilan, dan budaya, berada di tengah-tengah orang miskin, berpikir bersama dan di dalam Gereja, dengan pengabdian “efektif dan afektif” yang menjadikan Jesuit sebagai “rekan berkarya yang bernilai dan tak tergantikan” dari Wakil Kristus. Itu adalah momen penghiburan dan pengukuhan rohani, ketika kita menyaksikan hubungan resiprokal dan harmonis antara Tahta Suci dan Serikat, bahwa sesuai Dekret 1 dari KJ 35, kita diajak melaksanakan perutusan “dengan tekad dan semangat yang senantiasa diperbarui.” Terlepas dari segala keterbatasan kita, ini menjadi salah satu komitmen yang masih kita usahakan terus-menerus. Setelah mundur dari kepausannya, Paus Benediktus XVI memberikan teladan cemerlang akan kerendahan hati dan kebebasan rohani bagi kita. Hal tersebut juga menunjukkan hasratnya untuk yang besar untuk menempatkan keutamaan Gereja universal di atas segala sesuatu. Bersama seluruh Gereja dan Paus Fransiskus, hari ini kita bersatu dalam doa syukur untuk mengenang, dengan penuh kekaguman, integritas pribadi Joseph Ratzinger dan kedalaman magisterial Benediktus XVI. Selamat jalan, Paus Emeritus Benediktus XVI. Kita percaya bahwa Tuhan bermurah hati menerimanya. Semoga ia mendiami tempat tinggal yang telah lama dipersiapkan bagi mereka yang dengan murah hati telah mempersembahkan hidup kepada-Nya. Saudara dalam Tuhan, Arturo Sosa, S.J. Superior Jenderal Roma, 31 Desember 2022

Provindo

Perpanjangan Tangan Kasih Allah

Surat Akhir Tahun 2022 Saudara-saudari terkasih, Selamat Natal 2022! Semoga damai dan sukacita kelahiran Kristus memenuhi hidup kita. Di akhir tahun ini rasa syukur terbesar saya adalah surutnya pandemi covid-19 setelah hampir tiga tahun hidup kita jungkir balik. Pandemi telah mengubah kita dalam banyak hal, dan mungkin masih ada rasa takut, penyesalan bahkan trauma. Marilah kita persembahkan seluruh perjuangan itu dan bersyukur agar mampu menatap hari depan dengan harapan baru. Selama satu tahun sejak 20 Mei 2021 Serikat Jesus merayakan Tahun Ignatian, yaitu memperingati 500 tahun pertobatan Santo Ignatius. Peringatan ini ditutup dengan Ekaristi bersama umat di Gereja Paroki Mangga Besar pada tanggal 31 Juli 2022. Selama satu tahun ini hal yang paling menonjol adalah makin besarnya peran awam dalam hidup dan karya Serikat Jesus di Indonesia. Semakin banyak rekan-rekan awam yang tertarik mendalami spiritualitas Ignatian lewat berbagai kegiatan seminar, retret, pelatihan, dan bimbingan rohani. Selain itu, para alumni sekolah-sekolah Jesuit terlibat semakin intensif dalam membantu pengelolaan almamater mereka. Pada bulan Juli yang lalu, Indonesia mengirimkan kontingen untuk hadir dalam kongres World’s Union of Jesuit Alumni (WUJA) di Barcelona, Spanyol. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia adalah kontingen terbesar dan paling “pecah” atau ramai. Tidak heran, setelah itu Indonesia didaulat menjadi tuan rumah kongres WUJA berikutnya pada 2024. Di tahun ini para Jesuit mengadakan Kongregasi Provinsi, acara rutin tiap empat tahun untuk memilih seorang prokurator atau utusan yang akan mengikuti Kongregasi Prokurator tahun 2023 nanti. Pater Bambang Sipayung terpilih sebagai prokurator. Kongregasi Prokurator bertugas menentukan apakah Serikat Jesus perlu mengadakan Kongregasi Jenderal, instansi tertinggi dalam Serikat yang menentukan kebijakan-kebijakan penting dalam Serikat sedunia.  Dalam pemerintahan Serikat Jesus di Indonesia, tahun 2022 ini juga penting karena beberapa hal. Pada bulan Maret Pater Jenderal telah menetapkan bahwa regio Malaysia-Singapore menjadi regio independen, dilepaskan dari kaitan formal dengan Provinsi Indonesia. Sebelumnya, pada bulan Januari Pater Jenderal menetapkan Thailand sebagai regio dependen yang bergantung pada Provinsi Indonesia. Kemudian pada bulan Mei Pater Jenderal meminta Provinsi Indonesia untuk mempertimbangkan mengadopsi Misi Pakistan sebagai bagian dari karya Provinsi Indonesia. Saat ini proses diskresi sedang berlangsung dan harapannya tahun depan kami sudah bisa menjawab permintaan Pater Jenderal tersebut. Kepercayaan seperti ini kadang-kadang terasa berat bila mengingat terbatasnya tenaga dan kemampuan para Jesuit di Indonesia. Akan tetapi kami percaya, Allah yang mengutus kami pasti akan memberikan kekuatan.  Salah satu bentuk rahmat Allah itu adalah tahbisan imam. Tahun ini ada dua orang imam baru yaitu Pater Hastra Kurdani dan Pater Harry Kristanto. Pater Dani kemudian bertugas sebagai moderator siswa di SMP Kanisius Jakarta, sementara Pater Harry menjadi pastor rekan di Paroki Cililitan Jakarta. Jumlah panggilan menjadi imam dan bruder Serikat Jesus beberapa tahun terakhir ini cenderung turun. Kami sedang mencari cara yang lebih efektif untuk mempromosikan jalan hidup yang tidak biasa ini. Selama sepuluh tahun terakhir ini, Serikat Jesus menerima 98 orang novis atau rata-rata sembilan orang tiap tahun. Sebagian besar berasal dari seminari menengah dan hanya sekitar 25 persen berasal dari lulusan perguruan tinggi. Kami merasa perlu lebih serius menawarkan cara hidup ini kepada orang-orang muda yang punya keinginan melayani Gereja dan sesama melalui Serikat. Tim promosi panggilan telah menyusun rencana kerja baru yang masih perlu diuji di lapangan. Kami mohon dukungan dan doa saudara-saudari. Tentu saja yang ada di depan mata adalah orang-orang muda yang telah bergabung dengan Serikat Jesus. Mulai tahun 2022 ini, lima orang frater asal Pakistan bergabung dengan skolastikat Kolese Hermanum di Jakarta. Mereka telah belajar bahasa Indonesia selama beberapa bulan dan langsung mengikuti kuliah filsafat bersama para frater dan bruder dari Indonesia, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Timor Leste di STF Driyarkara Jakarta. Kehadiran mereka memperkaya keragaman wajah Serikat Jesus di Indonesia. Di ujung sebaliknya, para Jesuit senior di Wisma Emmaus terus bertambah. Tahun ini ada 13 orang Jesuit yang tinggal di rumah peristirahatan di Girisonta itu. Dalam statistik ada 70 orang Jesuit yang berusia 65 tahun ke atas. Tidak lama lagi mereka akan memerlukan perawatan dan fasilitas di Emmaus perlu diperluas. Saat ini tim khusus sedang dibentuk oleh superior komunitas Girisonta untuk merancang perluasan Wisma Emmaus, baik dalam bentuk bangunan fisik maupun pelayanannya. Kami ingin memberikan penghormatan yang layak kepada saudara-saudara senior kami. Tahun ini ditutup dengan perayaan ulang tahun saudara kami paling senior yaitu Julius Kardinal Darmaatmadja yang berusia 88 tahun. Perayaan berlangsung istimewa karena sekaligus menjadi ajang pengumpulan dana bagi pendidikan para Jesuit muda lewat kegiatan lari virtual selama tiga minggu. Kemurahan hati para donatur, pelari, dan panitia berpuncak pada tanggal 20 Desember saat diadakan lari gembira sejauh 8,8 km di Girisonta dan berakhir dengan pemotongan tumpeng oleh Bapak Kardinal di Wisma Emmaus. Tahun 2023 akan segera tiba. Langit mungkin mendung karena ancaman resesi ekonomi dunia membayangi, tetapi karya Allah di dunia tidak akan pernah berakhir. Marilah kita bersama-sama menyongsong tahun yang baru ini dengan harapan dan menyediakan diri sebagai perpanjangan tangan kasih Allah. Terima kasih atas semua bentuk dukungan saudara-saudari sepanjang 2022 dan selamat Tahun Baru 2023! Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. – Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia

Feature

Bersama Tuhan Mencinta dan Melayani

Tulisan ini menyajikan ajakan berefleksi mengenai misteri Tuhan yang menjadi manusia dari perspektif spiritualitas Ignatian1 sebagaimana termuat di dalam Latihan Rohani St. Ignatius Loyola. Di dalam refleksi ini diikuti kesadaran bahwa iman Kristiani dihayati di tengah dunia karena penjelmaan Tuhan atau inkarnasi terus berlangsung dan menyejarah. Memeluk inspirasi inkarnasi berarti bersama Tuhan terus mencinta dan melayani dalam peristiwa-peristiwa kehidupan manusia. Dalam inspirasi inkarnasi ini, hidup di tengah dunia adalah perpanjangan  komitmen illahi Tuhan untuk memperbaiki dan memulihkan tata kemanusiaan yang rusak oleh dosa dan kejahatan. Jerih payah bersama-Nya (mecum laborare) dalam mencinta dan melayani adalah wujud syukur dan kekuatan yang lahir karena ambil bagian dalam perutusan bersama Tuhan untuk dunia. Tulisan ini juga menunjukkan keutamaan-keutamaan Ignatian dalam inkarnasi yang terus berlangsung dalam situasi baru dengan budayanya. Keutamaan-keutamaan ini meyakinkan kita bahwa  beriman dan beragama yang sejati menghadirkan solusi terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan dan hidup bersama, bukan sebaliknya merusak serta menjadi penyebab permasalahan. Semua ini, dalam konteks Latihan Rohani, berpijak dari pengandaian visi iman Kristiani tentang penciptaan, kejatuhan manusia dan penebusannya.  INKARNASI: ALLAH  YANG TIDAK MENGURUNG DIRI  Dalam pengalaman iman St. Ignatius, dengan jalan turun miskin, hina dan rendah hati (LR 146), inkarnasi adalah komitmen cinta Ilahi terhadap persoalan manusiawi. Ini merupakan bagian dari iman tentang siapa Allah. Dalam misteri inkarnasi, Allah tidak mengurung diri dalam keabadian-Nya, tetapi melibatkan diri dalam cinta tanpa ada batas ukuran. St. Ignatius Loyola menyajikan hal ini dalam kontemplasi inkarnasi untuk mengawali latihan rohani Minggu Kedua Latihan Rohani (LR 101- 109). Di dalam kontemplasi ini St. Ignatius mengajak memohon rahmat “pengertian yang mendalam tentang Tuhan yang telah menjadi manusia bagiku, agar lebih mencintai dan mengikuti-Nya” (LR 104). Rahmat ini memiliki peranan kunci serta strategis dan dimohon sepanjang Minggu Kedua, mulai dari penjelmaan Tuhan hingga menjelang sengsara dan kematian-Nya. Tiga kata “mengerti, mencinta dan mengikuti” Tuhan yang menjadi manusia memiliki peranan strategis untuk membangun kebersatuan afektif dengan Tuhan yang bermuara pada cara Tuhan merasa, mengerti, menalar serta mencinta dan melayani. Dalam hal ini, kontemplasi inkarnasi tidak saja membantu menyerap ajaran iman mengenai Allah yang mencinta dan menyelamatkan tetapi juga menyajikan inspirasi Allah memandangi dunia, menimbang-nimbang, serta berkomitmen mewujudkan cinta penyelamatan-Nya.  Dari dinamika Latihan Rohani, kontemplasi inkarnasi dilakukan setelah kontemplasi Panggilan Raja dengan rahmat  yang dimohon “siap siaga dan penuh minat melaksanakan kehendak Allah sebagai Sang Raja Abadi (bdk. LR 91) serta kesanggupan untuk berjerih payah bersama Tuhan (mecum laborare) di dalam kehendak luhur-Nya, yaitu keselamatan manusia (bdk. LR 95). Dalam hal ini bisa dimengerti dari kenyataan bahwa  Sang Raja Abadi ini adalah Allah yang menjelma (LR 101-109) dan lahir menjadi manusia (LR 110-117). Demikian inkarnasi mewujud di dalam jerih payah Tuhan untuk keselamatan dan karena itu St. Ignatius pun memasukkan perspektif jerih payah ini  kontemplasi kelahiran Tuhan: “Mengamat-amati dan menimbang-nimbang apa yang mereka lakukan: perjalanan dan susah payah mereka, agar Tuhan dilahirkan dalam puncak kemiskinan. Sesudah menderita sedemikian banyak, mengalami lapar, haus, panas dan dingin, kelaliman dan penghinaan, Dia akhirnya wafat di salib; dan semua itu untuk diriku” (LR 116) Selanjutnya, ciri kerja dan jerih payah serta memberi diri sampai tuntas ini, dalam bagian akhir  Latihan Rohani “Kontemplasi Mendapat Cinta” (LR 230-237) dihadirkan lewat permenungan mengenai Allah tinggal di dalam ciptaannya (LR 235) dan Allah bekerja untuk diri kita (LR 236). Dalam arti ini inkarnasi terus berlangsung dan hidup ini merupakan perpanjangan inkarnasi Tuhan.  DUNIA SEBAGAI SASARAN KEPEDULIAN CINTA TUHAN Apa pun itu kondisi dan wajahnya, dunia dan pribadi-pribadi di dalamnya menjadi sasaran kepedulian cinta Tuhan yang menyelamatkan. Pun ketika orang dalam kondisi frustasi rangkap, yaitu objektif karena dunia rusak oleh dosa dan kejahatan, dan subjektif karena tidak mampu mengatasi perilaku buruk dalam hidupnya sendiri, cinta Tuhan terus berlangsung. Demikian ketika St. Ignatius di dalam pendahuluan kontemplasi inkarnasi menyebutkan Ketiga Pribadi illahi memandang seluruh permukaan dan keliling bumi penuh dengan manusia (LR 102) dengan segala situasi dan keberagamannya (LR 106). Sebagai sasaran kepedulian cinta Tuhan, ketika dunia ini menampakkan wajah luhur dan indahnya, kita terlibat untuk terus merawat dan mengambangkan. Sementara itu ketika dunia menampakan wajah buruknya kita terlibat bersama Tuhan terus mencintai dan memperbaiki.   Serikat Jesus di jaman ini, sebagaimana ditunjukkan oleh Jenderal Serikat, P. Arturo Sosa, S. J.2,  menggambarkan dunia masa ini ditandai oleh perubahan demografis yang tidak terduga dengan jutaan imigran dan pengungsi yang disebabkan oleh konflik, kemiskinan dan bencana alam. Juga diwarnai oleh ketidaksamaan yang terus berkembang oleh karena sistem ekonomi global sehingga jarak antara yang miskin dan yang kaya bertambah dan jumlah orang-orang yang dipinggirkan juga meningkat. Dunia juga memperlihatkan berkembangnya polarisasi karena perang, konflik, kekerasan, intoleransi dan terror. Sebagai “rumah bersama” dunia mengalami krisis ekologi. Sementara itu “ekosistem digital” meluas dengan perkembangan internet dan media social (ICT – Information and Communication Technologies) dan  mengubah cara berpikir, mereaksi, berkomunikasi dan berinteraksi. Berkenaan dengan situasi politik, politik sebagai sarana untuk mencari dan memperjuangkan kebaikan bersama melemah.  Demikianlah keadaan dunia ini menjadi sasaran kepedulian cinta Tuhan.  Tentang “ekosistem digital”, disadari bahwa keberelasian manusia telah dibentuk ulang oleh media digital.  Rasa perasaan terhadap dunia, persepsi dan reaksi terhadap situasi dipengaruhi oleh media digital3. Dunia telah terdigitalisasi dan menjadi penuh dengan pelbagai kemungkinan. Salah satu dari kemungkinan tersebut adalah menghindari dari perjumpaan-perjumpaan dengan menarik diri masuk ke ruang sendiri lalu berelasi secara virtual dengan ambil bagian atau berbagi topik-topik dan pilihan yang ada di dalam daftar dalam bentuk yang disederhanakan4. Demikian ini secara antropologis boleh jadi menjadi miskin dan sebagai akibatnya dari perspektif inkarnasi, perjumpaan juga menjadi miskin. Kenyataan ini tidak bisa dan tidak perlu ditolak, sebaliknya dibuka juga untuk inkarnasi Tuhan karena petunjuk orang ke kamar menikmati bentuk relasi digital tersebut senyatanya adalah juga manifestasi kebutuhan manusiawi untuk terus berelasi5.  Mengingat pesan utama dari inkarnasi adalah rekonsilitasi atau pendamaian, “Allah mendamaikan dunia dengan  Diri-Nya di dalam Kristus “ (2 Korintus 5:19), rekonsiliasi tersebut juga berlaku dalam dunia dan hidup yang terdigitalisasi. Berkenaan dengan rekonsiliasi ini, Serikat untuk melibatkan diri di dalam tiga rangkap rekonsiliasinya: dengan Tuhan, sesama dan ciptaan.  Perwujudan iman dalam tiga rangkap rekonsiliasi ini membawa cara beriman dan menghayati agama sebagai bagian dari solusi persoalan, dan tidak menciptakan masalah dalam gerak perjuangan rekonsiliasinya.

Feature

Memaknai Inkarnasi di antara Alunan Ukulele dan Kekakuan Ruang Kelas

Santai, senang mengobrol dan bercanda, suka makan dan olah fisik, serta mencintai musik dan tarian. Itulah orang-orang Micronesia, khususnya orang-orang Chuuk atau Chuukese. Sayangnya, sifat, perilaku, dan kebiasaan yang menyatu dengan budaya mereka itu tidak selalu cocok dengan atmosfer dunia pendidikan. Cobalah Anda sesekali mengunjungi Chuuk, terutama sekolah Jesuit yang berada di sana, Xavier High School. Sapalah orang-orang lokal yang Anda temui di jalan dan mereka akan tersenyum serta membalas sapaan Anda. Tidak jadi soal bahwa mereka dan Anda tidak saling kenal.  Jika Anda ingin mengobrol, mereka bahkan bisa melayani sampai berjam-jam. Kalau beruntung, obrolan itu akan ditemani seporsi kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Segar. Atau, jika berkenan, Anda bisa mencicipi sakaw, minuman tradisional dari akar tanaman yang bisa membuat Anda rileks, walaupun rasanya sedikit masih bercampur dengan tanah. Sementara itu, mereka yang menemani Anda akan mengunyah pu’u alias buah pinang. Senyum lebar dan tawa berhiaskan gigi berwarna merah, akibat terlalu sering nginang, sangat mungkin Anda jumpai dalam obrolan itu. Menginjakkan kaki di Xavier High School, jika sedang tidak dalam masa liburan, sangat mungkin Anda akan menjumpai beberapa siswa yang sedang beraktivitas fisik. Mulai dari saling berkejaran di lapangan, sampai bekerja bakti membersihkan lingkungan sekolah. Bergerak ke lapangan, Anda akan melihat sekelompok anak laki-laki yang kulitnya memerah dan basah kuyup karena keringat, tanda bahwa mereka sudah lama bermain basket. Bergeser sedikit ke gym, Anda akan bertemu beberapa anak lainnya yang sedang mengangkat barbel. Tidak perlu heran pula jika Anda bertemu dengan anak-anak yang ke mana-mana membawa ukulele, gitar mungil bersenar tiga itu. Mereka biasanya sedang mencari tempat yang nyaman untuk memainkannya sambil bernyanyi. Jika berada dalam kelompok, mereka akan membawakan nyanyian yang merdu di telinga. Kadang dalam bahasa Inggris, kadang dalam bahasa Chuukese. Perpaduan suara yang harmonis tercipta secara alami, bahkan tanpa mereka terlebih dulu diajari teknik kor. Alunan nan merdu itu pula yang akan Anda nikmati ketika siswa-siswi menyambut Anda dengan nyanyian Xavier Welcome Song. Kalau datang bertepatan dengan Cultural Day atau hari apresiasi budaya lokal, Anda akan melihat siswa-siswi Xavier High School yang begitu bersemangat menari. Bukan hanya siswa-siswi Chuukese, melainkan juga yang berasal dari suku atau negara Pasifik lainnya. Sementara itu, yang menonton mereka tampil bisa jadi sedang sambil menikmati seporsi besar nasi atau sukun lengkap dengan lauk pauknya. Akan tetapi, untuk melihat mereka menari pada dasarnya memang tidak perlu menunggu Cultural Day. Cobalah Anda menyetel musik disko atau bertempo cepat, maka secara otomatis akan ada anak-anak yang bergoyang. Mencermati dan mengalami semua hal itu, bisa jadi Anda akan mengira bahwa Chuuk sungguh merupakan tempat yang tepat untuk berlibur dan bersantai. Suasana yang cocok untuk berlibur itu juga tercipta di Xavier High School. Tidak salah jika Anda memang berpikir seperti itu. Budaya dan alam Chuuk tampaknya memang saling berkolaborasi untuk membentuk atmosfer liburan dan santai itu. Deburan ombak laut di kejauhan, desiran angin sepoy-sepoy di tengah sengatan panas matahari, serta rindangnya kelapa dan pohon sukun turut menemani obrolan, nyanyian, dan tarian orang-orang Chuuk.  Akan tetapi, tidaklah mungkin jika anak-anak Chuuk dan bangsa Pasifik lainnya semata-mata dididik dalam suasana santai seperti itu. Untuk mengembangkan daya ingat, misalnya, mereka harus dilatih menghafal. Supaya bisa cermat berpikir dan berpendapat, mereka harus membaca soal dengan duduk dan diam, serta belajar merangkai argumen secara logis. Ketika duduk diam dan suasana yang cenderung kaku itu terasa membosankan dan menimbulkan kantuk, mereka harus dididik untuk dapat bertahan dan berusaha fokus. Perutusan sebagai frater Tahun Orientasi Kerasulan (TOK) di Xavier High School saat itu lalu menjadi masa penuh tegangan bagi saya. Ada saatnya saya harus menciptakan suasana santai di dalam dan luar kelas. Ada kalanya mengkondisikan siswa-siswi untuk tetap fokus dalam suasana yang agak kaku dan cenderung membosankan. Ketika menghidupi tegangan itu pun ada masanya saya menjadi terbawa suasana santai dan kendor, kadangkala juga menjadi keras pada anak-anak di Xavier High School.  Saya pun jadi turut belajar menghidupi tegangan. Ada waktunya mengajari mereka agar diam dan mendengarkan. Ada pula saatnya memberi kesempatan bagi mereka untuk bebas berekspresi dan berpendapat. Ada saatnya saya bisa mengobrol, tertawa, bercanda, bernyanyi dan menari bersama mereka, tapi juga belajar mengingatkan dengan tegas dan taat aturan saat mereka salah. Ada momen saya membagikan metode pendidikan yang saya alami di Indonesia Ada pula kesempatan untuk menyesuaikan metode dengan kebiasaan dan budaya setempat. Akhirnya, pada saat yang sama siswa-siswi turut belajar menghidupi tegangan yang saya hayati ini. Metode pendampingan saya susun sehingga ada kalanya anak-anak dapat belajar di luar kelas, selain juga duduk di dalam kelas. Karena metode ini, memang pernah juga saya tidak sependapat dengan salah seorang pendidik yang mengatakan, “Belajar itu ya harus di dalam kelas, bukan dibawa keluar layaknya sedang bermain!” Tentu saja, bukan berarti saya lalu tidak belajar dari sang pendidik. Saat “berkunjung” ke kelas beliau, saya mengakui kehebatannya dalam mengajar dan maklum akan prinsip yang beliau pegang itu.  Akan tetapi, saya sendiri memang tidak mau kehilangan kesempatan untuk belajar, bereksplorasi, dan bereksperimen. Metode itu tetap saya jalankan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, disertai kesadaran terus-menerus akan keinginan untuk mendampingi anak-anak dengan baik. Penilaian setiap hari tetap dilakukan lewat refleksi dan evaluasi diri, serta masukan dari siswa-siswi dan sesama pendidik. Dinamikanya tidak selalu mudah dilalui, tapi kemurahan hati dan penerimaan orang-orang di sekitar saya itulah yang meneguhkan. Saya pun belajar dari teladan Yesus semasa berproses di Xavier High School. Sebagai Allah yang berinkarnasi, Yesus tidak menolak identitas kemanusiaan-Nya sebagai orang Yahudi. Demikian pula, saat mendidik, Ia meminta para murid-Nya untuk tetap setia pada jati diri ke-Yahudi-an mereka dengan segala kebiasaannya. Akan tetapi, Ia juga mendorong para murid untuk terbuka pada berbagai pembaruan. Semua pembaruan itu turut menjadikan mereka pribadi yang lebih baik dan berwawasan luas, tanpa menolak kenyataan diri sebagai orang Yahudi. Inilah yang menurut saya menjadi semangat inkarnasi. Oleh karena itu, siswa-siswi Xavier High School tetap dapat menjadi orang-orang Chuuk, Micronesia, atau apapun jati diri mereka. Saya tidak pernah ingin menjadikan mereka orang yang menolak identitas atau budaya yang membentuk mereka. Namun, saya berharap, hal-hal yang saya coba bagikan kepada mereka selama TOK membantu mereka untuk terbuka pada nilai-nilai baru. Melalui proses bersama itu, semoga

Feature

Mendengarkan dengan Hati

Pada suatu siang yang cerah di Jakarta tahun 2012, beberapa teman skolastik dari Indonesia mengajak saya untuk mengunjungi sebuah rumah di luar kota. Saat kami tiba, seorang pria berpeci dan berpakaian tradisional warna-warni datang menyambut. Ketika ia menyapa dengan senyum lebarnya, saya tiba-tiba mengenali wajahnya yang tidak asing; ia adalah salah satu staf senior di Skolastikat Johar Baru, rumah studi tempat saya tinggal dahulu. Kami diajak masuk ke dalam rumah di mana aneka camilan dan kue tertata rapi dan disediakan bagi para tamu yang datang. Saya merasa sangat tersentuh dan merasa sangat senang karena momen istimewa Idul Fitri yang dirayakan oleh beberapa karyawan bersama keluarga mereka. Idul Fitri menjadi salah satu perayaan terbesar bagi saudara-saudara Muslim setelah Ramadhan. Selama hampir empat tahun berada di Indonesia, saya merasa bahwa perlahan-lahan saya mampu menikmati dan merasa nyaman berada di antara orang-orang yang berbeda agama dan budaya. Saya juga menjadi paham bahwa siapapun kita, kita dapat hidup berdampingan dengan penuh cinta dan rasa hormat satu sama lain. Saya kembali ingat peristiwa beberapa tahun lalu sebelum tiba di Indonesia. Waktu itu saya sudah hampir menyelesaikan masa novisiat saya di Taunggyi, sebuah daerah di bagian utara Myanmar. Suatu hari ketika udara begitu dingin, Pater Paul Pollock, S.J., Superior Regio yang secara rutin berkunjung, memanggil kami, sepuluh novis dari Myanmar dan Thailand, untuk datang menghadapnya di ruang pertemuan. Saya sangat terkejut ketika ia memberi tahu bahwa kami semua diberi tugas untuk menempuh studi filsafat di Jakarta. Selama beberapa hari saya merasa sangat cemas dan kebingungan. Waktu itu saya tidak tahu apa-apa mengenai Indonesia. Yang hanya saya tahu Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dalam hati saya, ada dua hal yang saya khawatirkan. Bagaimana caranya hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama dan budaya? Yang kedua, apakah mungkin saya mempelajari bahasa baru untuk berkomunikasi dan studi filsafat? Sebagai seorang Jesuit muda yang penuh semangat serta kesiapsediaan untuk melanjutkan perjalanan dalam Serikat, saya tidak pernah berpikir bahwa kaul ketaatan akan diuji dalam tahap sedini ini. Setelah melalui proses aplikasi visa yang bisa dikatakan ribet, akhirnya kami berangkat ke Yogyakarta, sebuah kota dengan warisan tradisi dan budaya Jawa yang kentald untuk belajar Bahasa Indonesia selama tiga bulan. Dalam masa ini, di samping banyaknya tantangan dan pertanyaan, saya merasakan kehangatan dan dukungan dari banyak orang. Ada Pater Priyo Poedjiono, S.J. yang setia menemani kami hingga kursus selesai. Pada saat hari libur, Pater Priyo mengajak kami mengunjungi situs-situs budaya dan juga komunitas atau sekolah Jesuit. Ada juga Bu Sophia Wahyu Widiati yang biasa kami panggil “Ibu”. Dia adalah seorang perempuan yang murah senyum dan selalu ceria. Ruang kerjanya tidak jauh dari tempat kami tinggal dan oleh karenanya, setelah kelas selesai kami sering menyapanya di kantor. Ia juga sering menanyakan apakah kami menikmati kelas hari itu atau tidak. Selama tiga bulan itu, yang menarik adalah ketika saya mulai lelah bertanya mengapa Pater Superior mengirim kami ke Indonesia. Karena keterbatasan bahasa, saya sering menemui kesulitan untuk mengungkapkan perasaan saya kepada orang lain. Anehnya, ketika merasa lelah dan tidak bisa berbicara, justru saya menjadi terbiasa menggunakan hati untuk melihat dan memahami hal-hal di sekitar saya. Pada saat itu, secara perlahan saya menjadi terbuka untuk membiarkan keindahan orang, budaya, dan agama baru berbicara sendiri. Saya menemukan kebebasan di dalam lubuk terdalam diri saya! Salah satu pelajaran besar yang saya petik dari situ adalah bahwa dialog dengan orang yang berbeda tidak diawali dengan pengendalian pikiran dan ucapan melainkan dengan keterbukaan hati kita untuk mendengarkan! Satu pengalaman yang paling saya sukai adalah bagaimana kami sering mengeksplorasi cara kreatif untuk belajar bahasa Indonesia. Salah satu guru menyarankan agar kami sering berbicara dengan orang lain. Teknik ini kami praktekkan di waktu luang kami. Salah satu keuntungan tinggal di dalam kompleks Universitas Sanata Dharma adalah terdapat beberapa gerbang. Kami membagi diri menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok berbicara dengan penjaga keamanan di pintu masuk yang berbeda. Karena penjaga ini tahu bahwa kami adalah skolastik Jesuit, mereka memanggil kami frater, dan kami belajar memanggil mereka dalam Bahasa Jawa, Mas. Kami biasanya memulai percakapan dengan sesuatu yang sederhana, seperti basa basi atau salam atau pertanyaan umum yang biasa diucapkan oleh orang Indonesia dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan tersebut tersebut tidak selalu mengharapkan tanggapan apa pun (pada awalnya saya tidak menyadari hal itu dan merasa malu kalau ingat saya selalu berusaha memberi jawaban yang serius dan panjang). Setelah itu, biasanya kami melanjutkan sharing tentang kegiatan sehari-hari kami.  Ketika mulai bisa berbahasa Indonesia, percakapan kami dengan teman-teman baru di gerbang universitas ini menjadi lebih mendalam dan akrab. Mereka bercerita tentang hidup keluarga, impian, harapan, dan bahkan kesulitan. Kemudian saya tahu bahwa beberapa penjaga ini beragama Islam. Secara terbuka mereka bercerita bahwa iman dan agama mereka memupuk kehidupan spiritual mereka dan mengajarkan hidup berdampingan secara damai bersama orang lain. Yang mengejutkan saya adalah bahwa saya bukan saja belajar bahasa baru tetapi juga mengalami perjumpaan bermakna dengan orang lain yang berbeda budaya dan agama. Terlepas dari perbedaan itu, kami berbagi beberapa nilai, yaitu bahwa siapapun kita, kita selalu bisa mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain sebagai saudara dan saudari! Untuk melakukannya, hanya perlu membuka hati untuk mendengarkan agar tercipta saling pengertian dan dialog! Pengalaman saya di Indonesia barangkali mengajak saya untuk merenungkan lebih dalam tentang inkarnasi Tuhan di dunia. Menelusuri kembali lebih dari 2.000 tahun yang lalu, ketika Raja Herodes, seperti raja lainnya, menggunakan segala cara (kekerasan) untuk mempertahankan kekuatan politiknya di Yerusalem, Tuhan memilih untuk dilahirkan dengan rendah hati dan diam-diam jauh di kota kecil Betlehem. Meskipun bayi yang baru lahir tidak dapat mengatakan sepatah kata pun, di malam yang sunyi itu, ketika Sabda menjadi manusia, Tuhan mempersatukan kita manusia dengan Dia. Melalui Yesus, kita semua menjadi anak-anak Allah, dan karena itu kita bukan lagi orang asing melainkan saudara dan saudari (Efesus 2:19-22). Ini mungkin mengingatkan kita pada dunia kita saat ini. Kebanyakan orang berjuang demi kekuasaan dan kendali atas orang lain, kita justru diundang untuk melihat bagaimana Tuhan hadir dalam segala hal dan mempersatukan semua orang. Itu mungkin bukan dimulai dari pikiran dan kata-kata kita, yang seringkali berdasarkan prasangka dan

Feature

Aneka Ragam Budaya, Satu Yesus

  Yesus itu bukan orang Afrika, kan?” tanya saya pada diri sendiri saat saya melihat gambar Yesus berwajah Afrika di dinding refter Wisma Kandidat, Lahore. Saat itu, tahun 2015, adalah hari pertama saya berada di Wisma Kandidat, untuk memulai tahap awal formasi dalam Serikat Jesus. Tentang pengalaman heran akan Yesus yang berwajah Afrika itu, saya hanya menyimpannya dalam hati. Beberapa tahun kemudian, saya melanjutkan formasi di Sri Lanka, dan sekali lagi saya melihat lukisan Yesus berwajah Tamil dan Sinhala. Saat itu saya mulai menghubung-hubungkan Yesus berwajah Yahudi, Afrika, Tamil, dan Sinhala. Saya tiba di Indonesia pada 22 April 2022. Di sini, orang-orang tidak memelihara cambang dan janggut. Ketika mereka melihat saya, saya menduga bahwa mereka akan berpikir bahwa saya bukan orang Indonesia karena bercambang lebat, tetapi saya yakin bahwa mereka berbicara tentang Yesus yang sama dengan yang saya imani. Mereka juga mendoakan doa yang sama seperti yang saya daraskan dalam bahasa Pakistan. Mereka memiliki iman, iman yang sama dengan yang saya yakini di Pakistan. Hingga suatu hari saya berkesempatan untuk berkunjung dan melihat Candi Hati Kudus Yesus di Ganjuran. Saya kaget karena Yesusnya berwajah Indonesia. saat itu saya pun mulai berefleksi lagi mengenai pribadi Yesus. Aneka ragam budaya, satu Yesus, mana mungkin? Aku senang mengingat kontemplasi kelahiran Yesus dalam Latihan Rohani yang pasti pernah dilakukan oleh setiap Jesuit saat di novisiat. Tritunggal Maha Kudus menatap dunia dan melihat semua hal yang sedang terjadi. Ia melihat semua bangsa, semua budaya, ya Pakistan, Afrika, Tamil, Sinhala, Indonesia, dan seterusnya. Tritunggal Maha Kudus memandang penuh belas kasih dan melihat bahwa dunia perlu diselamatkan. Lalu Tritunggal Maha Kudus memutuskan bahwa Kodrat Kedua dari mereka akan menjelma menjadi manusia dan menyelamatkan umat manusia. Dari situlah terjadi inkarnasi! Natal! 25 Desember! Yesus Tuhan menjadi manusia yang sama seperti kita. Kini, Tuhan bukan lagi berada di tempat yang tidak terjangkau melainkan tinggal di antara kita. Saatnya merayakan kegembiraan! Saya yakin bahwa sebenarnya Yesus sudah nyaman berada di antara Bapa dan Roh Kudus. Menjadi manusia pastilah penuh tantangan. Meskipun demikian, ia menerima tantangan-tantangannya dan tinggal di antara kita. Saya diundang untuk menyatu dengan budaya asing di mana saya diutus saat ini. Kini saya berada di Jakarta dan belajar filsafat dalam bahasa Indonesia. Penuh tantangan. Saya harus belajar bahasa bukan sekadar untuk berkomunikasi tetapi juga untuk memahami filsafat. Saya harus memahami orang-orang di sekitar saya. Saya harus berbaur dan menjadi satu seperti halnya Yesus yang menjadi satu dengan kita. Saya tidak akan memiliki tantangan sebesar ini jika berada di Pakistan dibandingkan dengan ketika di Indonesia. Mungkin sama halnya dengan Yesus yang akan lebih nyaman jika ia tetap berada di surga. Hal ini mengundang saya untuk terus mau berinkarnasi dalam sebuah budaya baru. Berbaur bersama banyak orang, meskipun sangat menantang, tetapi menjadi pengalaman yang begitu menyenangkan. Sewaktu di Sri Lanka untuk program juniorat, setiap hari Minggu saya pergi ke gereja paroki yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah juniorat dan membantu tugas-tugas pastoral di sana. Umat berbicara dalam bahasa Sinhala, sedangkan saya tidak bisa. Pada minggu-minggu pertama saya merasa sangat terasing. Saya sekadar pergi ke sana, merayakan misa, dan kembali ke rumah juniorat. Saya merasa tidak puas. Saya ingin memiliki pengalaman yang lebih daripada itu. Saya sadar bahwa saya perlu melibatkan diri bersama umat karena saya bertugas membantu pelayanan pastoral. Lalu saya mulai belajar bahasa Sinhala dan berinteraksi dengan umat. Saya terlibat bersama OMK dan mengajar Sekolah Minggu. Dari situ saya merasa bahwa diri saya mulai terhubung dengan Paroki itu hingga tiba waktunya saya harus kembali ke Pakistan. Di hati yang terdalam, saya merasakan kegembiraan dan kepuasan karena telah mengalami semua itu. Bulan April 2022 saya tiba di Jakarta. Saya berjumpa dengan orang-orang berbahasa Indonesia dan saya tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Saya merasa takut ketika membayangkan nantinya saya akan belajar filsafat dalam bahasa Indonesia, sebuah bidang ilmu yang sulit bahkan ketika dipelajari dalam bahasa asal saya, Pakistan! Dalam hati, saya menyadari bahwa itulah tantangannya dan saya harus bisa melaluinya. Saya harus benar-benar menyelami budaya baru ini seperti halnya Yesus yang menyelami budaya, bahasa, dan alam sekitar kita secara penuh. Inilah perutusan saya. Saya mulai belajar bahasa Indonesia, mencari teman baru, dan membiarkan diri saya hadir sepenuhnya di situ. Kini saya merasa sudah betah di Indonesia. Ada banyak teman di Serikat. Saya mulai bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan mulai merasa bukan sebagai orang asing lagi. Seorang Jesuit bercambang lebat yang berada di antara orang-orang tidak bercambang! Aman, seorang Pakistan, Sri Lanka, dan Indonesia. Kontributor: S. Aman Aslam, S.J. – Skolastik asal Pakistan

Feature

Di Manakah Dia?

Tulisan ini dimaksudkan untuk menghantar kita dalam memaknai perjumpaan lintas budaya, dari perspektif penginjil Matius. Titik pijaknya adalah pengalaman transformatif orang-orang Majus yang meninggalkan negeri asal, demi menemukan jawaban atas pertanyaan yang mereka kejar (Mat 2:1-12). Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang dilahirkan itu? Bermula dari ketidaktahuan, mereka beralih ke aksi pencarian. Lewat menafsir konstelasi bintang, mereka  mendapatkan arahan. Mereka jelajahi tanah Yudea, negeri asing yang tak terpikirkan sebelumnya. Berbekal keyakinan dan perhitungan matang, mereka terus berjalan sampai jawaban didapatkan.  Pengembaraan ini mengubah hidup mereka. Akan kita ulas tiga tahapan transformatif yang mereka alami. Yang pertama adalah fase pengembaraan diri di tataran pikiran. Mereka bersedia digelisahkan dengan macam-macam pertanyaan. Yang kedua adalah terjun berinteraksi  menjumpai realitas yang beragam. Perjumpaan lintas budaya bertambah kompleks karena mereka tidak diam menetap. Mereka maju dan fokus mengikuti bintang. Di fase yang ketiga, mereka pulang melalui jalan lain. Mereka kembali ke realitas hidup harian tetapi kini dengan kebaruan cara pandang. Pengalaman inkarnatoris bersama Sang Bayi Agung telah meneguhkan visi mereka untuk pulang membangun negeri lewat kebijaksanaan hidup yang didapat selama perjalanan.  Fase Pertama: Orang Majus Bertanya-tanya  Berikut ini adalah cara si Matius dalam mendeskripsikan aktivitas utama orang-orang Majus. Dengan gamblang, mereka digambarkan sebagai figur yang “bertanya-tanya” mengenai di manakah Dia (ay.2). Lihatlah, aktivitas mereka ini bukan sekedar “bertanya”, melainkan “bertanya-tanya”. Ada bedanya tentu. “Bertanya” itu berarti meminta keterangan atau penjelasan. Entah informasi kemudian didapat atau tidak, usailah sudah aktivitas tersebut saat itu juga. Sedangkan, orang yang “bertanya-tanya” adalah orang yang mencari jawab “kemana-mana”. “Kemana-mana” bukan hanya menyisir lokasi, tetapi juga dalam artian terus membuka diri terhadap bermacam-macam sumber informasi. Dapat dibayangkan bagaimana orang-orang Majus tidak hanya berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain. Mereka juga tak henti-hentinya beralih meneliti dari satu referensi, entah yang berupa pustaka ataupun prasasti, ke referensi yang lain, hanya demi menemukan sebuah petunjuk. Dengan kata lain, mereka sungguh bereksplorasi.  Aktivitas “bertanya-tanya” juga dapat dimengerti bahwa mereka ini berulang kali harus merevisi temuan sebelumnya.  Ada sebuah proses panjang dan mendalam yang mesti dilewati. Mereka setiap kali harus mempertanyakan ulang apa yang sudah  dirumuskan, demi mendapatkan ketepatan jawaban. Untuk itu, mereka berdiskusi, berdebat, dan memverifikasi temuan mereka dengan temuan rekan sejawat lainnya. Kesahihan penelitian semakin bisa didekati ketika mereka bekerja sebagai satu tim. Deskripsi di atas dapat kita mengerti dengan mengenali siapa sesungguhnya yang disebut sebagai orang “Majus” itu. Tidak seperti yang umumnya kita bayangkan, mereka ini bukanlah raja. Posisi mereka lebih tepat disebut sebagai para penasihat raja. Kedudukan tersebut diperoleh atas dasar kecakapan. Ibarat PNS tempo dulu, mereka adalah kaum terdidik yang lulus ujian seleksi dan naik jabatan karena pelbagai macam kompetensi unggul yang mereka kuasai. Dengan kata lain, mereka adalah para pakar, kaum profesional, orang-orang bijak.  Sebagai penasihat, tugas mereka hanya satu. Mereka diminta menggali sumber pengetahuan sedalam-dalamnya, dan dengan demikian, sang raja akan terbantu dalam memutuskan persoalan atas dasar terang budi mereka. Mereka adalah orang-orang yang mendedikasikan diri demi kemajuan ilmu pengetahuan. Artinya bahwa, sejak awal, mereka memang disiapkan dan dilatih untuk menghadapi bermacam-macam pertanyaan. Mereka membekali diri dengan penguasaan atas pelbagai metode pengerjaan. Mereka suka berpikir. Mereka tidak alergi ketika dijejali dengan aneka kerumitan. Mereka tetap nyaman dalam keresahan. Mereka mampu fokus di tengah keramaian.  Nah, kemahiran mereka dalam menafsir kompleksitas konstelasi bintang dapat dimengerti sebagai berikut. Di ayat 2, Matius memakai kata “en te anatole (di timur)” ketika menceritakan bagaimana orang-orang Majus tersebut bisa sampai di Yudea. Di dalam dunia hellenis, “en te anatole” adalah istilah teknis yang lazim dipakai oleh para astrolog-matematikawan dalam menggambarkan pergerakan sebuah benda langit yang akan terbit di atas ufuk timur tepat sebelum matahari terbit. Benda tersebut pelan-pelan tidak lagi nampak karena terhalang oleh sinar mentari pagi yang mulai menyilaukan. Boleh jadi, Matius secara sengaja memakai istilah tersebut untuk semakin mempertegas identitas orang-orang Majus tersebut, yakni bahwa mereka adalah kaum terpelajar. Mereka cermat mengukur. Mereka berpangkal pada hitungan akal budi dalam membuat penilaian dan keputusan.  Berbekal panduan bintang di timur, mereka dipertemukan satu sama lain. Atas bintang yang sama pula, para majus saling bekerja sama di dalam pencarian. Akhirnya, tibalah mereka di tanah Yudea. Fase Kedua: Orang Majus Berinteraksi Di fase yang kedua ini, pergumulan orang-orang Majus bertambah kompleks. Mereka berjumpa dan berinteraksi dengan Raja Herodes yang digambarkan oleh Matius sebagai sosok yang licik. Di balik wajah keramahannya, terpendam akal busuk untuk memberangus siapapun yang mengancam kedudukannya sebagai raja. Gelar “raja orang Yahudi” sesungguhnya adalah sebutan kehormatan yang dianugerahkan oleh para senatus Romawi kepada Herodes atas jasa-jasanya. Di mata penguasa Romawi, Herodes dinilai berhasil dalam mengintegrasikan daerah Yudea ke dalam kekaisaran Romawi. Ia mendorong semua warganya  untuk mematuhi adat istiadat Romawi. Ia membangun kuil untuk Kaisar Agustus dan berpartisipasi dalam pelbagai even olahraga kekaisaran. Oleh karenanya, Herodes merasa terkejut manakala orang-orang Majus mendiskusikan tentang pencarian lokasi kelahiran “raja orang Yahudi” (ay.3). Di tengah keterkejutannya, Herodes  bermain licik. Ia sengaja mengikuti alur diskusinya orang-orang Majus tersebut. Herodes tidak lekas terpancing amarahnya karena ia masih ingin memanfaatkan mereka. Demi meraih simpati, ia bahkan memanggil orang-orangnya, yakni para imam kepala dan ahli taurat untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang di mana Mesias akan dilahirkan (ay.4). Sesudahnya, Herodes memberitahukan orang-orang Majus untuk pergi ke Betlehem. Bersamaan dengan itu semua, ia menyelipkan pesan agar mereka menyelidiki secara teliti apapun tentang si Anak tersebut dan segera mengabarkan itu semua ke Herodes (ay.8). Apakah orang-orang Majus ini terjebak masuk dalam perangkap Herodes? Memang si Matius tidak menceritakan secara detail bagaimana interaksi pelik yang terjadi di antara mereka. Namun dapat dibayangkan berikut ini. Orang-orang Majus bukanlah orang naif. Mereka tentu peka dengan maksud terselubung si Herodes. Sebagai penasihat para raja, mereka sudah terbiasa menerka-nerka apa yang ada dalam benak pikiran seorang penguasa. Mereka tanggap terhadap gerak-gerik Herodes yang mencurigakan, yang mulai bereaksi berlebih-lebihan lewat permintaan ini itu. Demi keselamatan diri, orang-orang Majus memainkan peran yang tak kalah cerdik. Gaya mereka cukup diplomatis. Mereka dengan tenang mendengarkan kata-kata Herodes, dan tanpa harus merespon berlebihan, segera saja mereka berangkat (ay.9).  Lewat perjumpaan dengan Herodes, dapat dicermati bahwa dalam interaksi interkultural tidak tertutup kemungkinan terjadinya interaksi politis. Akan selalu ada orang-orang

Feature

Perjumpaan dengan Allah yang Hidup

Ya, mungkin itu adalah judul yang tepat untuk perjumpaan yang saya rasakan saat bertemu dengan teman-teman volunteer di Seksi Pengabdian Masyarakat (SPM) Realino. Selama ini saya banyak menjumpai sahabat yang tidak ingin terlibat dan kurangnya keinginan untuk bangkit. Orang muda itu memang “ruwet“, selalu bertahan pada ideologi masing-masing serta susah untuk dapat berani “menjadi” dan berkontribusi. Acuh tak acuh terhadap sesama di dunia dewasa ini seolah menjadi hal yang biasa. Ketakutan saya adalah hal acuh tak acuh yang menjadi normal life di masa sekarang. Padahal, peran orang muda di masa sekarang ini sangat dibutuhkan. Seperti yang dikatakan Bung Karno “Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Di mana kalimat tersebut memiliki isyarat bahwa orang muda akan selalu menjadi ujung tombak keberhasilan di setiap proses. Namun, di masa sekarang keadaannya berkebalikan dengan hal ini. Saya bersyukur masih diperbolehkan Tuhan untuk bertemu dengan sahabat yang hebat di SPM Realino. Sebab, di tengah pergulatan duniawi mereka tetap mau menjadi terang dan garam untuk memanusiakan manusia (kata-kata Rm. Driyarkara ini menjadi yang paling ciamik untuk digaungkan di masa kini). Menyadari setiap proses dan jeli melihat setiap kemungkinan yang ada. Mungkin anak-anak dampingan Bongsuwung dan Jombor merupakan 10% dari anak-anak di Indonesia yang membutuhkan pendampingan dan kasih kita.Harapku tertanam kala menatap wajah nan rupawan para volunteer, jangan berhenti mengasihi mereka yang membutuhkan. Luka paling dalam adalah saat kita melihat senyum mereka pudar karena kehilangan harapan. Tanpa kata kau bercerita Goresan penuh kisah Warnamu membawa rasa Menguak asa yang tersisa Sapuan warna sarat makna Penuh kata yang tak terucap Tuk kudengar dalam senyap Berprakarsalah, dan letakkan hatimu untuk mulai berproses. Salam, Be friend, Collaborate, Empower. Kontributor: Agatha Umifriska Ariyani – Volunteer SPM Realino