capture imaginations, awaken desires, unite the Jesuits and Collaborators in Christ mission

Mendengarkan dengan Hati

Date

Pada suatu siang yang cerah di Jakarta tahun 2012, beberapa teman skolastik dari Indonesia mengajak saya untuk mengunjungi sebuah rumah di luar kota. Saat kami tiba, seorang pria berpeci dan berpakaian tradisional warna-warni datang menyambut. Ketika ia menyapa dengan senyum lebarnya, saya tiba-tiba mengenali wajahnya yang tidak asing; ia adalah salah satu staf senior di Skolastikat Johar Baru, rumah studi tempat saya tinggal dahulu. Kami diajak masuk ke dalam rumah di mana aneka camilan dan kue tertata rapi dan disediakan bagi para tamu yang datang. Saya merasa sangat tersentuh dan merasa sangat senang karena momen istimewa Idul Fitri yang dirayakan oleh beberapa karyawan bersama keluarga mereka. Idul Fitri menjadi salah satu perayaan terbesar bagi saudara-saudara Muslim setelah Ramadhan. Selama hampir empat tahun berada di Indonesia, saya merasa bahwa perlahan-lahan saya mampu menikmati dan merasa nyaman berada di antara orang-orang yang berbeda agama dan budaya. Saya juga menjadi paham bahwa siapapun kita, kita dapat hidup berdampingan dengan penuh cinta dan rasa hormat satu sama lain.

Saya kembali ingat peristiwa beberapa tahun lalu sebelum tiba di Indonesia. Waktu itu saya sudah hampir menyelesaikan masa novisiat saya di Taunggyi, sebuah daerah di bagian utara Myanmar. Suatu hari ketika udara begitu dingin, Pater Paul Pollock, S.J., Superior Regio yang secara rutin berkunjung, memanggil kami, sepuluh novis dari Myanmar dan Thailand, untuk datang menghadapnya di ruang pertemuan. Saya sangat terkejut ketika ia memberi tahu bahwa kami semua diberi tugas untuk menempuh studi filsafat di Jakarta. Selama beberapa hari saya merasa sangat cemas dan kebingungan.

Waktu itu saya tidak tahu apa-apa mengenai Indonesia. Yang hanya saya tahu Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dalam hati saya, ada dua hal yang saya khawatirkan. Bagaimana caranya hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama dan budaya? Yang kedua, apakah mungkin saya mempelajari bahasa baru untuk berkomunikasi dan studi filsafat? Sebagai seorang Jesuit muda yang penuh semangat serta kesiapsediaan untuk melanjutkan perjalanan dalam Serikat, saya tidak pernah berpikir bahwa kaul ketaatan akan diuji dalam tahap sedini ini.

Setelah melalui proses aplikasi visa yang bisa dikatakan ribet, akhirnya kami berangkat ke Yogyakarta, sebuah kota dengan warisan tradisi dan budaya Jawa yang kentald untuk belajar Bahasa Indonesia selama tiga bulan. Dalam masa ini, di samping banyaknya tantangan dan pertanyaan, saya merasakan kehangatan dan dukungan dari banyak orang. Ada Pater Priyo Poedjiono, S.J. yang setia menemani kami hingga kursus selesai. Pada saat hari libur, Pater Priyo mengajak kami mengunjungi situs-situs budaya dan juga komunitas atau sekolah Jesuit. Ada juga Bu Sophia Wahyu Widiati yang biasa kami panggil “Ibu”. Dia adalah seorang perempuan yang murah senyum dan selalu ceria. Ruang kerjanya tidak jauh dari tempat kami tinggal dan oleh karenanya, setelah kelas selesai kami sering menyapanya di kantor. Ia juga sering menanyakan apakah kami menikmati kelas hari itu atau tidak.

Dokumentasi: Penulis

Selama tiga bulan itu, yang menarik adalah ketika saya mulai lelah bertanya mengapa Pater Superior mengirim kami ke Indonesia. Karena keterbatasan bahasa, saya sering menemui kesulitan untuk mengungkapkan perasaan saya kepada orang lain. Anehnya, ketika merasa lelah dan tidak bisa berbicara, justru saya menjadi terbiasa menggunakan hati untuk melihat dan memahami hal-hal di sekitar saya. Pada saat itu, secara perlahan saya menjadi terbuka untuk membiarkan keindahan orang, budaya, dan agama baru berbicara sendiri. Saya menemukan kebebasan di dalam lubuk terdalam diri saya! Salah satu pelajaran besar yang saya petik dari situ adalah bahwa dialog dengan orang yang berbeda tidak diawali dengan pengendalian pikiran dan ucapan melainkan dengan keterbukaan hati kita untuk mendengarkan!

Satu pengalaman yang paling saya sukai adalah bagaimana kami sering mengeksplorasi cara kreatif untuk belajar bahasa Indonesia. Salah satu guru menyarankan agar kami sering berbicara dengan orang lain. Teknik ini kami praktekkan di waktu luang kami. Salah satu keuntungan tinggal di dalam kompleks Universitas Sanata Dharma adalah terdapat beberapa gerbang. Kami membagi diri menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok berbicara dengan penjaga keamanan di pintu masuk yang berbeda. Karena penjaga ini tahu bahwa kami adalah skolastik Jesuit, mereka memanggil kami frater, dan kami belajar memanggil mereka dalam Bahasa Jawa, Mas. Kami biasanya memulai percakapan dengan sesuatu yang sederhana, seperti basa basi atau salam atau pertanyaan umum yang biasa diucapkan oleh orang Indonesia dan sebenarnya pertanyaan-pertanyaan tersebut tersebut tidak selalu mengharapkan tanggapan apa pun (pada awalnya saya tidak menyadari hal itu dan merasa malu kalau ingat saya selalu berusaha memberi jawaban yang serius dan panjang). Setelah itu, biasanya kami melanjutkan sharing tentang kegiatan sehari-hari kami. 

Ketika mulai bisa berbahasa Indonesia, percakapan kami dengan teman-teman baru di gerbang universitas ini menjadi lebih mendalam dan akrab. Mereka bercerita tentang hidup keluarga, impian, harapan, dan bahkan kesulitan. Kemudian saya tahu bahwa beberapa penjaga ini beragama Islam. Secara terbuka mereka bercerita bahwa iman dan agama mereka memupuk kehidupan spiritual mereka dan mengajarkan hidup berdampingan secara damai bersama orang lain. Yang mengejutkan saya adalah bahwa saya bukan saja belajar bahasa baru tetapi juga mengalami perjumpaan bermakna dengan orang lain yang berbeda budaya dan agama. Terlepas dari perbedaan itu, kami berbagi beberapa nilai, yaitu bahwa siapapun kita, kita selalu bisa mencintai, menghormati, dan mendukung satu sama lain sebagai saudara dan saudari! Untuk melakukannya, hanya perlu membuka hati untuk mendengarkan agar tercipta saling pengertian dan dialog!

Pengalaman saya di Indonesia barangkali mengajak saya untuk merenungkan lebih dalam tentang inkarnasi Tuhan di dunia. Menelusuri kembali lebih dari 2.000 tahun yang lalu, ketika Raja Herodes, seperti raja lainnya, menggunakan segala cara (kekerasan) untuk mempertahankan kekuatan politiknya di Yerusalem, Tuhan memilih untuk dilahirkan dengan rendah hati dan diam-diam jauh di kota kecil Betlehem. Meskipun bayi yang baru lahir tidak dapat mengatakan sepatah kata pun, di malam yang sunyi itu, ketika Sabda menjadi manusia, Tuhan mempersatukan kita manusia dengan Dia. Melalui Yesus, kita semua menjadi anak-anak Allah, dan karena itu kita bukan lagi orang asing melainkan saudara dan saudari (Efesus 2:19-22). Ini mungkin mengingatkan kita pada dunia kita saat ini. Kebanyakan orang berjuang demi kekuasaan dan kendali atas orang lain, kita justru diundang untuk melihat bagaimana Tuhan hadir dalam segala hal dan mempersatukan semua orang. Itu mungkin bukan dimulai dari pikiran dan kata-kata kita, yang seringkali berdasarkan prasangka dan keberpihakan kita, tetapi dari kerendahan hati dan keterbukaan hati kita yang mendengarkan. Dengan cara ini, keagungan Tuhan akan terungkap bahkan pada mereka yang berasal dari latar belakang agama atau budaya yang berbeda.

Masa studi bahasa saya di Yogyakarta ini sangat berharga. Hal ini membongkar kekhawatiran dan keraguan yang saya alami sejak saya menerima berita tak terduga dari Superior saat itu. Namun bukan berarti setelah itu saya tidak lagi memiliki rasa takut. Saat itu saya tahu bahwa tantangan baru telah menanti saya di Jakarta. Pengalaman berharga di Yogyakarta menjadi bekal penting bagi masa studi filsafat saya, dimana saya harus terus memahami beberapa istilah dan gagasan filosofis dalam bahasa Indonesia. Selain itu, saya akan segera mengajar mata pelajaran agama kepada murid-murid Kolese Kanisius, Jakarta. Saya tidak tahu apakah bahasa saya memadai agar para murid memahami materi yang saya sampaikan. Terlepas dari tantangan ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri saya sekarang. Pertama, saya memiliki lebih banyak harapan dan keyakinan bahwa Tuhan selalu hadir bersama saya melalui banyak orang baik, termasuk kawan-kawan Jesuit saya. Saya tidak sendirian dan saya memiliki banyak orang lain yang melakukan perjalanan bersama dan mendukung saya kemanapun saya pergi. Kedua, saya menjadi lebih mensyukuri setiap langkah dan kemajuan, sekecil apapun itu. Akhirnya, saya belajar bahwa keterbatasan saya (seperti menjadi orang asing) dapat membuka kekuatan jauh di dalam diri saya: hati yang mendengarkan untuk belajar dari orang lain. Ternyata Tuhan bisa menggunakan segalanya, yaitu kelemahan saya, untuk membuka sesuatu yang lebih berarti bagi hidup saya.

Hingga hari ini, setiap kali saya mengingat kembali kehidupan saya di Indonesia, saya sangat berterima kasih, tidak hanya untuk ilmu filsafat yang saya peroleh, tetapi juga untuk pengalaman-pengalaman berharga yang membentuk dan mentransformasi saya sebagai seorang Jesuit. Ini termasuk kesadaran saya bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan Tuhan untuk mempersatukan kita terlepas dari perbedaan kita. Apa yang kita butuhkan adalah memulai dengan hati yang mendengarkan yang mengungkapkan keindahan Tuhan, yang telah hadir di antara kita, dalam hubungan kita satu sama lain dan di dunia yang kita tinggali bersama ini.

Kontributor: P. Charles Nopparat Ruankool, S.J.Imam Jesuit asal Thailand. Ia menjalani masa formasi Filosofan di Jakarta selama 4 tahun (2009-2013).

More
articles

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *