Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Provindo

Webinar Indonesianisasi – Ruwetnya Identitas Jesuit Indonesia

Indonesianisasi berarti mencari ekspresi imaniah dalam way-of-life Indonesia. Demikian pandangan dari Kardinal Darmoyuwono yang dikemukakannya dalam majalah Tempo (20 Oktober 1973) ketika merefleksikan topik bernama “Indonesianisasi.” Di tengah berbagai situasi yang berkembang saat itu, periode tahun 1960-1970 merupakan periode di mana Gereja Katolik Indonesia sedang menggeliat. Dalam hal ini, Gereja Indonesia dan Provindo mencita-citakan komunitas umat beriman yang bercita-rasa Indonesia.  Minggu malam, 20 Februari 2022, rangkaian webinar 50 tahun Provindo kembali hadir dengan topik Indonesianisasi-Ruwetnya identitas Jesuit Indonesia. Webinar tersebut didasarkan pada studi yang dilakukan beberapa Jesuit muda, yakni Pater Suryanto Hadi, fr. Craver Swandono, fr. Andre Mantiri, dan fr Lambertus Alfred. Dengan moderator Claudia Rosari Dewi, seorang muda pegiat spiritualitas Ignatian, pemaparan hasil studi dilakukan secara padat. Pemaparan itu kemudian dibingkai dengan pandangan dan refleksi dari Pater C. Putranto sebagai penanggap. Sesi tanya jawab pun menjadi hidup ketika Pater Provinsial menyediakan diri untuk menanggapi pertanyaan dari peserta yang hadir.  Tidak dapat disangkal bahwa dinamika Indonesianisasi adalah bagian dari sejarah Provindo. Melalui webinar tersebut, kita disadarkan bahwa benih-benih Indonesianisasi sebenarnya sudah muncul sejak pendirian novisiat S.J. di Indonesia tahun 1922. Sejak itulah dinamika Indonesianisasi terus berkembang. Seiring berjalannya waktu, beberapa figur memberikan pandangan tentang Indonesianisasi. Gesekan karena perbedaan pandangan pun pernah memperkaya dinamika Indonesianisasi. Misalnya tentang peran Jesuit “asing” dan Jesuit “pribumi.” Di tengah gejolak dinamika yang ada, momen-momen rekonsiliasi menjadi oase yang menyejukkan. Ruwetnya identitas Jesuit Indonesia adalah bahasa marketing yang digagas panitia dalam  promosi webinar. Mungkin saja, bahasa marketing itulah yang kemudian menarik sekitar 145 akun peserta untuk hadir dalam ruang daring Zoom. Selain para Jesuit, hadir pula beberapa kolabolator awam, para pemerhati Serikat, dan para pencinta spiritualitas Ignatian. Maka muncul pertanyaan, apakah memang identitas Jesuit Indonesia ruwet? Ada pro dan kontra. Yang jelas, dalam webinar disadari bahwa Indonesianisasi ternyata memiliki banyak dimensi. Mulai dari dimensi personalia Gereja, dimensi budaya, hingga dimensi teologi. Hadirnya berbagai dimensi tersebut mungkin menjadikan Indonesianisasi menjadi terkesan ruwet.  Kita patut bersyukur bahwa Provindo memiliki pengalaman Indonesianisasi. Sebuah pengalaman yang pada akhirnya berbuah, membentuk identitas, dan semoga menjadi puncta refleksi tentang apa artinya menjadi Jesuit Indonesia.   Kontributor : Andre Mantiri S.J. – Skolastik Teologan Kolsani

Provindo

Kunjungan Novis Serikat Jesus 2021 ke Provinsialat SJ Semarang: Perspektif: Mutu dan Kreatif

“Yang kita jual adalah perspektif. Perspektif yang bermutu. Jika orang mengerti mutu, pasti mereka akan  membelinya.” Itulah yang menjadi sepenggal pesan dari Pater Provinsial Serikat Jesus, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. kepada para Novis Serikat Jesus dalam kesempatan kunjungan ke Provinsialat. Pada Kamis (20/01), para Novis Serikat Jesus 2021, berkesempatan untuk berkunjung ke Provinsialat saat Dies Villae (hari khusus di mana para novis diberi kesempatan untuk rekreasi di luar Novisiat) mereka. Dalam kunjungan ini, para novis mendapatkan ‘keistimewaan’ untuk beramah-tamah dengan Pater Provinsial secara lebih dekat. Tidak hanya bertemu dengan Pater Provinsial, para novis juga mendapatkan tur keliling Museum Historia Domus (rumah sejarah) untuk melihat barang-barang peninggalan para Jesuit yang sudah meninggal dan ruang arsip. Lingkungan di Provinsialat yang hijau, asri, dan tenang menghadirkan nuansa yang nyaman saat kunjungan berlangsung. Para novis terlihat gembira dan menikmati waktu kunjungan di Provinsialat. Ada yang berkeliling melihat tanaman dan bermain dengan hewan yang ada. Para nostri yang berkarya di Provinsialat seperti Pater Bambang Sipayung, Pater Windar Santoso, Pater Clay Pareira, dan Bruder Paulus Budi menyambut para novis dengan gembira dan tangan terbuka. Pembicaraan antara para novis dan nostri berlangsung dengan hangat sembari ditemani kudapan singkong goreng yang nikmat. Ada yang bertanya mengenai kegiatan sehari-hari para nostri di Provinsialat dan para novis juga ditanyai mengenai proses formasi mereka di tengah situasi pandemi. Bincang-bincang Dalam ramah-tamah yang dilakukan di refter (ruang makan) Pronvisialat, beberapa novis mengajukan pertanyaan kepada Pater Provinsial. Salah satu novis bertanya dengan penasaran, “Apa yang menjadi tantangan Pater dalam menjalankan tugas sebagai Provinsial?” “Yang menjadi tantangan adalah membuat karya-karya Serikat tetap bertahan seturut dengan perkembangan zaman. Kalian harus mampu menjadi kreatif dan tidak tinggal di zona nyaman,” jawab Pater Beni. Kata-kata Pater Provinsial ini menjadi sebuah undangan dan tantangan bagi para Jesuit muda dalam menghadapi perkembangan zaman yang melaju dengan cepat. Dunia zaman ini menuntut sebuah kreativitas, yaitu sikap ‘mencipta’ yang mampu menghadirkan sebuah pelayanan khas Serikat yang selalu relevan dan berkembang. Pater Provinsial juga berharap agar para novis selama masa Novisiat mengalami suatu perubahan. Perubahan cara pandang atau perspektif seturut dengan perspektif Santo Ignatius Loyola. “Santo Ignatius tetap menjadi pribadi yang berapi-api dan penuh semangat, tetapi ia mengarahkannya pada AMDG,” tambah Pater Beni dengan semangat. Selain tanya-jawab, ada pula novis yang menyampaikan rasa harunya dengan cura personalis (perhatian personal) yang diberikan melalui kartu ucapan ulang tahun yang ia terima. Ternyata, menulis kartu ucapan ulang tahun juga memberi tantangan tersendiri bagi Pater Beni. Mengenal Sejarah, Mengenal Diri Dalam kesempatan tur mengelilingi Historia Domus, para novis terlihat serius mendengarkan dengan rasa penasaran dan kagum terhadap apa yang dijelaskan dan mereka lihat. Kami mendengarkan sejarah  dan perkembangan Serikat Jesus yang datang ke Bumi Nusantara pada zaman Santo Fransiskus Xaverius hingga yang terbaru yaitu, pembukaan karya di Kalimantan (Botong dan Ketapang). Ada juga beberapa barang antik yang langsung mengunci mata para novis, misalnya biola antik Pater Zoetmulder, gramofon tua Pater Tanto, relikui dari para Kudus Serikat Jesus, serta roda andong milik Mgr. Soegijapranata.  Ruang arsip juga tidak luput dari kaki dan mata para novis. Di ruang arsip inilah tersimpan dengan rapi, sistematis, dan lengkap seluruh dokumen milik para Jesuit yang sudah meninggal hingga yang masih hidup. “Ini menjadi cara Serikat menghargai para Jesuit yang masih hidup maupun sudah meninggal,” ungkap Pater Bambang menjelaskan mengapa ada ruang arsip seperti ini. Beberapa novis juga membaca bundelan surat resmi Pater Provinsial terdahulu. Salah satunya adalah surat Pater Jenderal Peter-Hans Kolvenbach kepada Pater Darminta, yang saat itu bertugas sebagai Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Pater Bambang Sipayung juga memberikan penjelasan yang singkat dan menarik mengenai tugas perutusan yang didapatkan oleh setiap Jesuit. “Perutusan sebagai kehendak Tuhan juga harus dijalankan secara sistematis dan teratur sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan dipercaya.” Dibarui dan Diutus Kunjungan ke Provinsialat bukanlah sekadar kegiatan ‘pulang-pergi’ yang rekreatif, tetapi kesempatan para novis untuk dibarui dan diutus oleh Pater Provinsial sendiri. Para novis diutus berformasi di Novisiat melalui berbagai macam percobaan. Percobaan yang dalam bahasa Pater Provinsial, ‘menghadirkan perspektif yang kreatif dan bermutu terhadap dunia’ harus dijalani dengan penuh sukacita. Novis Serikat Jesus menjadi harapan dan masa depan Serikat yang senantiasa memperbaharui diri melalui perspektif kreatif agar selalu menjadi relevan dan dikenal dari mutunya yang baik. Semoga pesan Pater Provinsial bagi para novis pun menjadi sebuah undangan bagi seluruh Jesuit di Provinsi Indonesia untuk mampu mengejawantahkan mutu dan kreativitas perspektif Serikat Jesus yang dilandaskan pada semangat Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola, yaitu demi lebih besarnya kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa. Kontributor : Fr. Adrianus Raditya I., nSJ 

Provindo

Kaul Akhir sebagai Pemberian Diri

Pada Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah, 2 Februari 2022, Serikat Jesus Provinsi Indonesia berbahagia atas pengucapan kaul akhir Pater Yulius Eko Sulistyo S.J., Pater Albertus Buddy Haryadi S.J., dan Pater Antonius Sumarwan S.J.. Melalui kaul akhir, ketiga Pater Jesuit ini mempersembahkan diri untuk sepenuhnya menggabungkan diri atau berinkorporasi ke dalam Serikat Jesus.  Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Provinsial, Pater Benedictus Hari Juliawan S.J. didampingi oleh Pater Yohanes Heru Hendarto S.J. dan Pater Albertus Sadhyoko Rahardjo S.J. di Gereja Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q, Jakarta. Keluarga, umat dan para Jesuit turut hadir mendukung dalam Ekaristi mematuhi protokol kesehatan. Perayaan ini ditayangkan juga secara live streaming di kanal Youtube Jesuit Indonesia dan Gereja St. Perawan Maria Ratu, Blok Q – KAJ.  Dalam homilinya, Pater Provinsial menegaskan makna kaul akhir sebagai pemberian diri sebagaimana Yesus yang mempersembahkan diri di Bait Allah. Pemberian diri ketiga Pater Jesuit melalui kaul akhir merupakan perjalanan yang tidak selalu mudah dan menuntut kesetiaan.  “Kaul-kaul yang akan diucapkan pada saat kaul akhir sudah punya bobot tertentu karena adanya pengalaman, karena kegagalan, tapi mungkin juga pengalaman belajar bangun dari jatuh atau kegagalan itu”, tutur Pater Provinsial.  Pater Provinsial juga mengajak para umat untuk mendukung dan mendoakan para kaules (orang yang berkaul) agar terus mengenali Yesus dalam pelayanan dan penghayatan kaul. Ketiga kaules menjalani panggilan Jesuit dalam konteks yang berbeda dan penuh tantangan. Pater Buddy sebagai misionaris di Myanmar melayani di tengah situasi konflik politik dan perang saudara yang tak mudah. Pater Eko sebagai psikolog klinis terus bertekun dan berhadapan dengan masalah dalam konsultasi-konsultasi. Pater Marwan sebagai ekonom dan pendidik berada dalam konteks perekonomian yang sulit karena pandemi.  Di penghujung ekaristi, Pater Marwan mewakili para kaules menyampaikan ungkapan syukur kepada Serikat Jesus, keluarga, umat Blok Q, para rekan di Myanmar & Chicago dan seluruh pihak. Pater Marwan yang pernah berkarya di Gereja SPMR Blok Q juga menyampaikan kesan pelayanannya di Blok Q sebagai tonggak yang menentukan perjalanan pelayanannya melalui Credit Union.  Ia mengalaminya sebagai sarana untuk mewartakan kabar gembira bagi orang kecil. Ketiga kaules bersyukur dan memohon doa agar semakin mampu mempersembahkan diri kepada Allah sebagaimana Yesus yang mempersembahkan diri di Bait Allah. Kontributor : Isaac Jacques Cavin, S.J.

Provindo

SBC 2021: Ignatian Pedagogical Paradigm di Tengah Pandemi

Setelah Scholastics and Brothers Circle (SBC) tahun 2020 yang mestinya diselenggarakan di Provinsi kita dibatalkan karena pandemi, SBC tahun 2021 kembali hadir pada bulan Desember secara daring. Perwakilan 54 skolastik dari semua wilayah JCAP bertemu via Zoom selama lima hari pada 26-30 Desember 2021. Provinsi Indonesia sendiri mengirimkan lima skolastik perwakilan filosofan, TOKer, dan teologan ditambah dua skolastik Indonesia yang sedang TOK di Kamboja dan studi di Manila. Selain para skolastik dari Asia Pasifik, juga bergabung dua skolastik dari Afrika yang sedang menjalani studi di Jepang.  SBC kali ini dapat berjalan berkat kerja keras tim panitia dari komunitas Arrupe International Residence Manila (AIR) yang dikoordinasi oleh Skolastik Damo Chour dari Kamboja. Rangkaian acara dibuka oleh P Tony Moreno, S.J., Presiden JCAP, dan ditutup oleh P Riyo Mursanto, S.J.,  Rektor AIR dan Delegat Formasi JCAP. Setiap hari selama lima hari tersebut, para skolastik menjalani tiga sesi, di mana sesi pertama adalah percakapan rohani tiga putaran dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan sesi-sesi berikutnya diisi pemaparan materi dan diskusi dengan para narasumber. Oleh karena itu, selain mendengarkan pemaparan dalam ruang besar, para skolastik juga mendapat kesempatan untuk mengenal kelompok percakapan rohaninya secara lebih personal dengan saling berbagi refleksi atas topik terkait.  Para narasumber yang dihadirkan pun sangat beragam, mulai dari para Jesuit sendiri, kebanyakan dari Provinsi Filipina dan pengajar di Ateneo de Manila dan Zamboanga, guru-guru awam, hingga para murid dari beberapa sekolah Jesuit dalam wilayah JCAP. Hal ini sejalan dengan tema yang diusung, yaitu pendidikan khas Jesuit sebagaimana dirumuskan dalam Ignatian Pedagogical Paradigm (IPP) dan penerapannya selama pandemi. Setelah mendapat penjelasan umum mengenai IPP, tema tersebut dibedah lagi dalam topik-topik lebih rinci, misalnya landasan alkitabiah bagi pendidikan Kristiani, kepemimpinan dan visi sekolah Jesuit dalam masa pandemi, penggunaan teknologi untuk membantu penerapan IPP, pentingnya kesehatan mental di sekolah-sekolah Jesuit, posisi pendidikan daring dalam UAP, dan tak ketinggalan adalah kesaksian langsung para guru dan murid dari sekolah-sekolah Jesuit dari aneka penjuru Asia Pasifik. Para peserta SBC dapat mendengarkan berbagai pengalaman untuk menerapkan IPP dalam aneka konteks dan memahami IPP sebagai Latihan Rohani yang diterjemahkan ke dalam dunia pendidikan. Ragam peserta SBC dan narasumber yang membagikan pengalaman mereka menunjukkan ragam konteks wilayah penerapan IPP yang mewujud dalam perbedaan perjuangan guru dan murid di wilayah yang berbeda-beda. Di Australia guru berjuang agar para murid tidak banyak terdistraksi oleh media sosial atau online gaming. Di Kamboja guru berjuang agar murid dan orang tua bisa menggunakan platform daring yang ada di tengah kesulitan ekonomi di sana. Di Jepang para murid mengalami tekanan karena budaya tuntutan pendidikan yang keras. Di Myanmar tekanan keras junta militer tidak menciptakan harapan cerah bagi generasi muda. Juga menjadi tantangan bahwa di negara seperti Filipina yang mayoritas Katolik dan memiliki banyak sekolah Jesuit masih banyak terjadi ketidakadilan. Konteks yang berbeda menuntut penerapan yang berbeda-beda pula. Ragam penerapan ini juga memberi inspirasi dan dorongan bagi kami untuk semakin mengenali konteks Indonesia.  Selain itu, IPP dari kacamata spiritual lebih dari sekadar sepaket prosedur atau sebuah kurikulum, melainkan Latihan Rohani yang diterjemahkan ke dalam dunia pendidikan secara sistematis. Dalam IPP, proses pendidikan harus mencakup pemahaman konteks, adanya pengalaman, refleksi atas pengalaman, tindakan yang muncul setelah refleksi, dan pada akhirnya evaluasi atas seluruh proses. Tujuan dari IPP pada akhirnya adalah menghasilkan murid-murid yang mampu berdiskresi. Br. Jeff Pioquinto, SJ dari Ateneo de Zamboanga bercerita bahwa dalam menerapkan IPP, atau bisa juga dikatakan sebagai proses mengajarkan para muridnya berdiskresi, kebanyakan murid tidak langsung memahaminya pada masa sekolahnya tersebut. Akan tetapi, setelah beberapa tahun lulus mereka menyadari dan sungguh berterima kasih atas pendidikannya selama di sekolah tersebut karena mereka dapat berdiskresi untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang magis dalam hidup mereka. Oleh karena itu, mempelajari bersama IPP dalam SBC kemarin sesungguhnya adalah undangan juga bagi para skolastik untuk kembali pada Latihan Rohani itu sendiri. Hal ini dikarenakan pedagogi Latihan Rohani inilah yang akan menjadi hal yang dibagikan dalam bentuknya sebagai IPP dalam perutusan kelak dalam dunia pendidikan khas Jesuit.  Kontributor: Frater Daud Kefas Raditya, SJ & Frater Teilhard A. Soesilo, SJ Dokumentasi: Panitia SBC 2021

Provindo

Webinar Spiritualitas Ignasian di Era Masyarakat 5.0

Masyarakat 5.0 adalah sebuah konsep mengenai masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based) yang pada awalnya dikembangkan di Jepang. Konsep ini lahir dari Revolusi Industri 4.0 yang dinilai dapat mendegradasi peran manusia. Di tengah fenomena tersebut, bagaimana Spiritualitas Ignasian dapat ditawarkan? Apa tantangan dan peluangnya? Untuk menanggapi dan mendiskusikannya, diadakan webinar ke-3 bertajuk Peluang dan Tantangan Spiritualitas Ignasian di Era Society 5.0 pada Kamis, 9 Desember 2021.  Webinar ke-3 ini menghadirkan Pater Paulus Suparno, S.J. sebagai narasumber utama. Selain itu, ada beberapa perwakilan dari kelompok yang mendalami Spiritualitas Ignasian, antara lain Pak Djoto Halim dari komunitas Schooled by the Spirit, Angeline Ivone dari LRP (Latihan Rohani Pemula), Sr. Anita Sampe, S.J.M.J sebagai biarawati penghidup Latihan Rohani, dan Gregorious Tjaidjadi dari CLC (Christian Life Community).  Diawali dengan pengantar oleh Pater Eko Budi Santoso, webinar ke-3 dimoderatori oleh Sr. Dewi, FCJ dan fr. Ferry Setiawan, S.J. bersama Revita sebagai pemandu acara. Spiritualitas Ignasian dan Pelayanannya di Provindo Pada bagian awal presentasinya, Pater Paul Suparno mengatakan bahwa Spiritualitas Ignasian adalah Spiritualitas Kristiani yang didasarkan pada pengalaman Latihan Rohani St. Ignatius. Pater Paul menekankan bahwa Latihan Rohani bertujuan membantu seseorang mengikuti Kristus dalam situasi apapun. Dalam kesempatan ini, secara khusus, Pater Paul juga berbagi apa yang Serikat Jesus Provindo telah lakukan dengan Spiritualitas Ignasian itu selama 50 tahun di Indonesia beriringan dengan peluang dan tantangan perkembangan masyarakat 5.0.   Pater Paul membagikan keberagaman pelayanan Spiritualitas Ignasian ke dalam empat kategori, yaitu: 1) Institusi rumah retret yang meliputi Rumah Retret Sangkal Putung, Rumah Retret Girisonta, dan Rumah Retret Civita; 2) Institusi non-rumah retret, antara lain Universitas Sanata Dharma, ATMI, kolese-kolese, sekolah-sekolah Yayasan Kanisius dan Strada, Paroki, dan JRS (Jesuit Refugee Service); 3) Kelompok-kelompok, yakni biarawan-biarawati, awam (orang tua, guru, pelajar, pedagang, CLC, LRP); dan 4) Media yang meliputi Majalah Rohani, Utusan, Basis, Percetakan Kanisius, dan sebagainya. Pada bagian akhir presentasinya, Pater Paul mengajukan sebuah pertanyaan reflektif, “Siapkah SJ Provindo berkolaborasi dengan awam untuk menawarkan Spiritualitas Ignasian di era masyarakat 5.0?” Sharing dari Keempat Penghidup Spiritualitas Ignasian Sr. Anita membagikan keterkesanannya akan  diskresi dan refleksi a la Spiritualitas Ignasian sebagai alarm hidup rohani. Baginya, Spiritualitas Ignasian masih relevan di tengah masyarakat 5.0. Dengannya, seseorang dapat lebih terbantu menemukan dan menciptakan makna di dalam hidupnya. Provindo sangat diharapkan tetap berkomitmen membagikan Spiritualitas Ignasian lewat sarana digital dan merangkul kaum awam untuk melestarikan Spiritualitas Ignasian. Pak Djoto juga membagikan pengalaman mengenal dan menghidupi Spiritualitas Ignasian yang mulai dikenalnya dalam kursus Schooled by the Spirit. Lewat Spiritualitas Ignasian, Pak Djoto semakin merasa dicintai dan mencintai Tuhan, sebuah transformasi personal baginya. Selain itu, Gregorius membagikan pengalamannya mulai mengenal Spiritualitas Ignasian di Civita Youth Camp. Setelahnya, pengalaman studi di Universitas Sanata Dharma perlahan-lahan mengantarnya pada CLC (Christian Life Community). Gregorius juga menyampaikan salah satu cita-cita besar CLC, yakni ingin mampu melakukan communal discernment di tengah perkembangan zaman. Baginya, sapaan dan perjumpaan dalam proses-proses interaksi di tengah zaman yang terus berubah ini penting. Di dalam dunia kerja, Angel Ivone terbantu lewat Spiritualitas Ignasian sebagai Ignatian tools, seperti eksamen, percakapan tiga putaran, dan discernment dalam memaknai hidup hariannya. Baginya, tools tersebut dapat membantunya untuk  memaknai hidup. Menawarkan Jalan kepada Yesus di Era Masyarakat 5.0? Dalam diskusi, Pater Paul menggarisbawahi bahwa yang paling utama dalam berbagai spiritualitas Kristiani adalah menghantar orang sampai kepada Yesus. Spiritualitas Ignasian adalah satu dari sekian banyak jalan menuju Yesus. Tak dapat dimungkiri, spiritualitas lain dalam Gereja pun dapat membantu seseorang berkembang baik sebagai seorang Kristiani. Sejalan dengan pendapat Pater Paul Suparno, Sr. Dewi, FCJ menyampaikan benang merah bahwa spiritualitas Ignasian merupakan salah satu jalan di antara spiritualitas lain yang membantu seseorang mengarah kepada Yesus. Sharing keempat penghidup Spiritualitas Ignasian menunjukan bagaimana Spiritualitas Ignasian sebagai jalan itu dapat membantu seseorang secara konkret.  Menyadari hadirnya era masyarakat 5.0, maka ini menjadi tantangan bagi Provindo untuk membagikan Spiritualitas Ignasian seefektif mungkin dalam membantu seseorang sampai kepada Yesus. Siapkah?

Provindo

Pendidikan Jesuit untuk Indonesia

Keterlibatan Serikat Jesus dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia hadir melalui layanan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Seluruh upaya diarahkan untuk menjawab kebutuhan sesuai dengan tuntutan zaman agar mereka menjadi pemimpin-pemimpin masa depan yang mencintai Tuhan dan peduli pada sesama. Serikat Jesus Provinsi Indonesia sendiri saat ini sudah menyediakan 94 orang untuk terlibat aktif dalam dunia pendidikan, baik dalam level kebijakan, pendampingan iman dan karakter, maupun sebagai pendidik atau guru dan dosen.  Dalam rangka peringatan 50 tahun Provindo, diadakanlah webinar bertajuk Pendidikan Jesuit untuk Indonesia. Webinar ini adalah satu dari rangkaian webinar yang diselenggarakan oleh panitia Tahun Ignatian dan 50 tahun Provindo. Webinar ini dilaksanakan pada Kamis, 14 Oktober 2021, pukul 19.00 – 21.30 WIB via zoom. Ada sekitar 400-an orang berpartisipasi di dalamnya. Webinar ini dimoderatori oleh Ibu Victoria Ananingsih, ST., M.Sc,. Ph.D., alumna SMA Kolese Loyola, Semarang. Ada tiga narasumber untuk mengupas tema ini, yaitu Pater Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J. dari Universitas Sanata Dharma, Ibu M.M. Sudewi Fajarina, S.Si., M.Sc. dari SMA Kolese de Britto, dan Pater Eduardus Calistus Ratu Dopo, S.J., M.E. dari SMA Kolese Kanisius, Jakarta.  Acara ini dibuka oleh Pater Provinsial, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dengan menyajikan informasi dan refleksi mengenai dunia pendidikan bagi Serikat Jesus. Ia mengatakan, “Santo Ignatius membayangkan para Jesuit menjadi pengkhotbah atau pengajar yang berkeliling ke mana-mana, idealnya para Jesuit mengajar namun bukan secara formal. Mereka mengajar dalam ruang publik dan ikut dalam perdebatan-perdebatan. Atas permintaan orang lain didirikanlah kolese pertama di Messina, Italia pada tahun 1548. Namun sejak kolese ini dibuka, muncullah pemahaman akan strategi pendidikan untuk kaum muda. Sejak saat itu, Jesuit terbuka pada dunia pendidikan.” Di Indonesia sendiri, kolese pertama yang dibangun adalah Kolese Xaverius di Muntilan pada tahun 1910. Pengalaman ini menyadarkan Serikat Jesus untuk melihat nilai strategis dunia pendidikan dalam membangun Gereja dan dunia.  Pater Edu sebagai pembicara pertama membagikan kekhasan pendidikan Jesuit. Ia menjelaskan bahwa Jesuit selalu berjalan bersama pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Sekolah Jesuit tidak membuat kurikulum sendiri. Sekolah-sekolah Jesuit justru menjalankan kurikulum dari pemerintah dalam kerangka pedagogi Ignatian dengan kekhasannya yaitu 4C: Competence, Conscience, Compassion, dan Commitment. Sumbangan Pendidikan Jesuit untuk Indonesia adalah pendekatan Pedagogi Ignatian yang menghasilkan pendidikan menyeluruh dan menjadikan anak didik menjadi pribadi seutuhnya sesuai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam preambule UUD 1945.  Ibu Dewi sebagai pengajar di SMA Kolese de Britto memberikan pengalamannya mengajar biologi secara kreatif. Model pengajarannya tidak hanya berdasar buku teks melainkan melalui aksi nyata seperti mengajak para murid untuk bersepeda atau berjalan kaki ketika mereka pergi ke suatu tempat. Juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian pada permasalahan tentang lingkungan, misalnya dengan mematikan lampu, AC, atau alat listrik lain ketika tidak dipakai, serta merawat tanaman untuk mengurangi global warming. Ia juga mengisahkan bahwa dalam setiap pengalaman belajar yang dialami muncul perasaan syukur ketika bersinggungan dengan objek makhluk hidup dan lingkungannya. Ada juga rasa kagum,  gembira, pantang menyerah, dan kerja keras. Dengan belajar biologi para siswa dapat memiliki wawasan baru, lebih mencintai alam dan peduli terhadap lingkungan sekitar, dan ada kesadaran untuk menjaga dan merawat bumi sebagai rumah kita bersama.  Pater Wiryono, sebagai pembicara ketiga, membagikan perkembangan pendidikan tinggi yang dikelola oleh Jesuit. Ia menyatakan bahwa perkembangan yang ada dari pendidikan tinggi Jesuit tidak lepas dari para rekan berkarya yang setia pada misi Serikat Jesus di dunia pendidikan. Ia menambahkan kesannya terhadap para kolaborator atau rekan berkarya, “Sepanjang waktu, Serikat menerima dukungan tidak ternilai dari para sahabat dan kolaborator dalam perutusan. Tradisi ini terus berlangsung hingga saat ini dengan menggunakan metode-metode baru untuk menanggapi zaman. Kami, para Jesuit, adalah para kolaborator dalam sebuah perutusan yang bukan milik kami semata, tetapi perutusan Kristus.” Banyak peserta terkesan dengan webinar ini karena semakin memberikan inspirasi dalam mengejawantahkan pendidikan di  Indonesia dengan landasan Spiritualitas Ignatian untuk masa depan orang muda. Webinar ini memunculkan pemahaman bahwa Serikat Jesus memberikan warna pada ranah pendidikan Indonesia. Dengan pendekatan pedagogi Ignatian, Serikat Jesus melalui sekolah-sekolah yang dikelolanya, mampu menyiapkan kaum muda yang tak hanya pandai namun juga berkarakter dan punya semangat militansi untuk membela serta membangun Gereja dan negara. Banyak pemimpin muncul dari kolese-kolese yang didirikan oleh Serikat Jesus.  Serikat Jesus dalam menjalankan misinya di dunia pendidikan Indonesia telah berperan selama bertahun-tahun untuk terus mengembangkan Gereja dan juga negara. Banyak guru atau katekis di berbagai daerah terpencil merupakan lulusan sekolah Jesuit. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin daerah di beberapa kota yang juga merupakan lulusan sekolah Jesuit. Ini merupakan tanda bahwa Paradigma Pendidikan Ignatian mampu mendidik manusia seutuhnya, memanusiakan manusia, dan menjadikan manusia bagi sesama manusia. Pendidikan Jesuit telah menginspirasi banyak guru dan menumbuhkan rasa semakin cinta pada dunia pendidikan yang unggul dan humanis. Dalam merambatkan iman di sekolah-sekolah, Jesuit tidak berdiri sendiri melainkan berjalan bersama pemerintah dan menguatkan kurikulum yang ada dengan paradigma yang khas.  Kontributor : Ignatius Windar Santoso, S.J.

Provindo

Kaul: Tanda Kerendahan Hati untuk Allah dan Sesama

Pada Minggu, 31 Oktober 2021, bertepatan dengan pesta peringatan St. Alfonsus Rodriguez, Serikat Jesus Provinsi Indonesia merayakan kegembiraan bersama PP Agustinus Sarwanto, S.J., Ignatius Dradjat Soesilo, S.J., dan Br. Yohannes Paulus Sunari, S.J. karena mereka bergabung secara penuh dalam Serikat Jesus dengan mengucapkan Kaul Akhir. Momen kaul ini dirayakan dalam Perayaan Ekaristi Pelindung para Bruder Seríkat Jesus di Kapel St. Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta dan dipimpin langsung oleh Pater Provinsial, P Benedictus Hari Juliawan, S.J.  Kaul Akhir menandai kesediaan mereka untuk hidup sepenuhnya di dalam Serikat Jesus dan mengusahakan agar semakin sehati sejiwa dengan Serikat Jesus universal. Kerendahan hati yang tersirat dalam kisah hidup St. Alfonsus Rodriguez dan bacaan Perayaan Ekaristi pesta ini menjadi permohonan rahmat utama dalam menghidupi kaul ini. Kaul tidak memberikan harta ataupun kekuasaan melainkan justru meminta pengikat atau gembok yang tidak bisa dibuka sama sekali. Ketiga saudara ini meminta kehendak untuk mengabdi Allah dan sesama dengan segenap jiwa dalam Serikat Jesus. Dengan perantaraan St. Alfonsus Rodriguez, mereka juga memohon rahmat kerendahan hati agar bisa memberikan seluruh hidupnya kepada Allah dan sesama. Kaul-kaul ini menjadi perlengkapan senjata untuk menghadapi berbagai situasi di dunia di tempat kerja masing-masing. Pater Provinsial sendiri memohon kepada kita semua untuk terus mendukung ketiga saudara ini dalam “memeluk cara hidup serikat sehabis-habisnya.” Akhirnya ungkapan syukur dan terima kasih dari ketiga kaules ini disampaikan oleh P Agustinus Sarwanto, S.J. Mereka dinyatakan dan diterima secara penuh sebagai anggota dalam Serikat Jesus. Tak lupa pula, ucapan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan rangkaian bunga, hiasan, dan makanan serta kepada semua orang yang telah terlibat dan mendukung kelancaran acara ini. Kontributor : Ignatius Windar Santoso, S.J.

Provindo

Menuntaskan Marathon

Pada Minggu, 3 Oktober 2021, sepuluh orang Jesuit Indonesia di Jakarta, Nabire, Yogyakarta, dan Manila mengikuti London Virtual Marathon. Empat orang Jesuit lainnya mendukung marathoners itu dengan berjalan atau berlari dengan jarak minimal 42,195 km dari 11 September hingga 3 Oktober 2021. Kegiatan ini diprakarsai oleh Indonesian Province Development Office (IPDO)  Serikat Jesus untuk menggalang dana bagi para Jesuit dalam formasi.   P. Riyo Mursanto dan P. Eka Heru Murcahyo memulai komitmen marathon ini di Manila pada 3 Oktober 2021. P. Herry Setianto menyusul dengan berlari di Nabire pada tanggal 3 Oktober 2021 mulai pukul 16.00 WIT. Sepuluh anak Asrama Putra Teruna Karsa, Kolese Le Cocq d’Armandville  Nabire ikut berlari bersama secara bergantian menemani P. Harry. P. A Widyarsono, P. Dam Febrianto dan tiga frater dari Myanmar: Frs. Stephen Tuntun, James Naw Kam, dan Patrick Law Ang berlari di Jakarta. Sedangkan P. Pieter Dolle dan Fr. Aditya berlari di Yogyakarta. Selain kesepuluh Jesuit ini, empat Jesuit lainnya  yaitu Pater Andang Binawan, Pater Edi Mulyono, Pater Moerti Yoedho, dan Pater Bambang Alfred Sipayung mendukung acara dengan cara berjalan atau berlari dengan jarak kurang lebih sama dengan jarak maraton yang sesungguhnya.   Tenaga yang terkuras terlihat dari wajah-wajah mereka yang mulai tampak lelah seiring meningkatnya jarak. Demikian juga dengan kecepatan lari yang mulai berkurang. Tampaknya kesepuluh Jesuit ini berhasil menjadikan keraguan yang muncul sesaat sebelum lomba menjadi tantangan yang perlu dituntaskan. Dukungan  anak-anak asrama, beberapa frater dari Kolese Hermanum di Jakarta, Kolese Ignatius di Yogyakarta, dan beberapa romo lainnya juga tampak lewat partisipasi dan kesediaan diri mereka sebagai tim logistik dan kesehatan. Dukungan selama lomba ini sangat berdampak bagi marathoners untuk menyelesaikan London Virtual Marathon dengan sekuat tenaga.   Frater James, seorang frater Jesuit yang berasal dari Myanmar dan sedang menjalani studi di STF Driyarkara, sangat senang karena bisa memberikan dirinya untuk mendukung formasi Jesuit Indonesia. Awalnya dia sangat khawatir seandainya tidak bisa menyelesaikan marathon ini. Akan tetapi selama ia berlari, ia merasa begitu damai dan senang apalagi tidak ada masalah fisik selama berlari. Selama berlari ini Frater James didampingi oleh teman-teman Kolman yang memberi banyak energi dan semangat.   Begitu pula dengan Pater Harry di Nabire. Ia mendapatkan banyak dukungan dari rekan Jesuit dan anak-anak asrama putra. Selama marathon ia selalu dikawal oleh 3 guru relawan dan 1 frater. Secara tidak terduga ada sepuluh anak asrama putra yang pada awalnya bertugas untuk menjaga pos minuman. Akan tetapi mereka justru dengan gembira ikut berlari. Ada yang berlari 3 km, ada yang 5 km, ada juga yang 10 km. Bahkan mereka berlari tanpa alas kaki, tanpa perlengkapan lari lainnya, juga tanpa persiapan tetapi terbukti bahwa fisik mereka kuat. Anak-anak tersebut mengawal sang pamong asrama mereka dengan setia dan gembira hingga garis akhir. Menurut Pater Harry, 5 kilometer terakhir adalah bagian yang paling berat secara fisik dan mental namun ada teman-teman Jesuit yang setia menunggu dan memberi semangat. “Senang sekali bisa finish maraton dalam keadaan sehat dan tanpa cedera.”   Kegiatan “10 Jesuit di London Marathon” ini berhasil menghimpun sumbangan mendekati dua miliar rupiah. “Kami sungguh merasa tersentuh dan berterima kasih atas kemurahan hati (para donatur) membantu formasi para Jesuit dengan cara berlari,” ujar Pater Benedictus Hari Juliawan, SJ, Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia. Binar semangat Ignasian itu pula yang telah menyentuh ribuan hati Sahabat Ignatius untuk membaktikan donasi bagi pendidikan para Jesuit muda seturut pesan Sang Jenderal Jesuit Perdana: Santo Ignasius Loyola.   Acara ini terselenggara berkat kerjasama IPDO dan alumni Kolese Kanisius Jakarta. Serikat Jesus berbangga karena masih banyak orang yang bermurah hati dan mendukung karya-karya Serikat Jesus termasuk karya Formasi. Terima kasih atas kemurahan hati para donatur dalam mendukung acara ini.   Kontributor : Margareta Revita – Tim Komunikator Provindo