Pilgrims on Christ’s Mission

Provindo

Provindo

Rasa Syukur dalam Rahmat Pembaruan

Perayaan Ekaristi Peringatan 50 Tahun Serikat Jesus Indonesia menjadi Provinsi masih dibayangi rasa khawatir. Panitia memutuskan untuk tetap bersikap waspada dengan pembatasan kehadiran di Gereja Santo Yusup, Gedangan dan live streaming melalui kanal YouTube Jesuit Indonesia. Keputusan ini ternyata berbuah rahmat dalam kerja sama rekan berkarya Serikat Jesus Provinsi Indonesia dari Jakarta, Yogyakarta, Kalimantan, Semarang, dan Papua untuk menghadirkan Perayaan Ekaristi sebagai puncak perayaan iman.   Perayaan Ekaristi dilakukan secara konselebrasi dengan selebran Provinsial Serikat Jesus Provinsi Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J., didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang, P Y.R. Edy Purwanto, Pr., Pastor Paroki St. Yusup, Gedangan, P Benedictus Cahyo Christanto, S.J., P. Thomas Ari Wibowo, Pr dari Stasi St. Ignatius, dan para Provinsial SJ pendahulu, yaitu P Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., P Petrus Sunu Hardiyanta, S.J., P Agustinus Priyono Marwan, S.J., P Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J., P Carolus Putranta, S.J., P Josephus Darminta, S.J., dan P R.B. Riyo Mursanto, S.J. yang menjadi konselebran melalui zoom dari Manila.    Buah kolaborasi antara Jesuit dan para rekan berkarya hadir dalam sumbangan lagu-lagu Ekaristi, doa umat, dan petugas liturgi dalam kemasan video yang diputar dalam perayaan Ekaristi. Ada ragam dialek Bahasa Indonesia yang muncul lewat mereka yang membacakan doa umat. Ada alunan merdu lagu-lagu dari koor gabungan paroki-paroki Keuskupan Agung Semarang, dan paroki-paroki Keuskupan Agung Jakarta. Juga ada lagu siswa Kolese Le Cocq di Nabire, Kolese Kanisius di Jakarta, Kolese de Britto, Kolese Mikael dan kolaborasi antara Kolese Loyola dan SMK PIKA di Semarang, serta kontribusi dari Laetitia Disability Choir. Kolaborasi itu hadir pula dalam kerja sama live streaming Perayaan Ekaristi melalui kanal paroki-paroki yang dikelola Serikat Jesus Provinsi Indonesia di Jakarta dan Semarang.    Live Streaming perayaan Ekaristi, yang dilengkapi dengan bahasa isyarat untuk kaum difabel,  diikuti oleh ratusan orang yang mengucapkan syukur atas rahmat 50 tahun Serikat Jesus sebagai provinsi mandiri. Ada yang bersyukur atas buah-buah yang muncul melalui karya-karya Serikat Jesus di bidang pendidikan, karya sosial, dan pelayanan paroki. Ada doa dan harapan yang disampaikan agar para Jesuit semakin progresif, berakar dalam masyarakat Indonesia dan berkembang sumber dalam panggilan dan pelayanan kasih.    Sebelum acara puncak perayaan Ekaristi ini, Tim Komunikator Serikat Jesus Provinsi Indonesia mengeluarkan seri refleksi dan sharing dari beberapa Jesuit yang mengalami peristiwa historis peralihan Serikat Jesus dari Regio Jawa menjadi Provinsi Indonesia. P Wiryono, misalnya, mengungkapkan rasa syukurnya atas kebesaran dan kerendahan hati para misionaris yang menyiapkan dan menyerahkannya kepada para Jesuit pribumi. P. Benveltzen, misionaris dari Belanda yang bertugas di Salatiga, mengungkapkan rasa syukurnya mengalami Gereja Indonesia yang secara hikmat merayakan iman umat dan tidak sibuk dengan debat antara kaum progresif dan konservatif di dalam Gereja. Ada beberapa refleksi dan sharing menarik lain yang bisa disaksikan di sini.   Kesempatan ini dipakai juga untuk meluncurkan buku terjemahan bahasa Indonesia Pater Jenderal Arturo Sosa yang berjudul Walking with Ignatius. Dalam buku itu, Pater Sosa berusaha menjawab dan merefleksikan isu-isu penting yang dihadapi oleh Gereja dan Serikat zaman sekarang. Provinsial kita, P Benedictus Hari Juliawan, S.J. mencoba menempatkan tantangan yang dihadapi Serikat Jesus dalam konteks Indonesia dalam wawancara bersama Rosiana Silalahi di kanal YouTube Jesuit Indonesia.   Melihat kembali perjalanan 50 tahun Serikat Jesus sebagai Provinsi Indonesia atau bahkan perjalanan panjang Serikat Jesus di Indonesia, satu hal yang jelas ialah kontribusi rekan berkarya Serikat Jesus terutama para awam dalam perjalanan itu. Pater Provinsial merefleksikan nilai penting keterlibatan rekan berkarya awam ini dalam membantu para Jesuit untuk melihat realitas. Karena itu, rahmat yang dimohon ialah kerendahan hati bagi para Jesuit sehingga bisa lebih komunikatif, mampu mendengarkan dan bekerja sama dengan setiap pihak. Kolaborasi Perayaan Ekaristi ini menunjukkan kontribusi yang disertai rasa syukur, kerendahan hati, dan kebesaran hati membuahkan hasil kolaborasi yang menggerakan hati banyak orang.    Kontributor : Margareta Revita – Tim Komunikator Provindo

Provindo

Tak Kenal Lelah dan Menyerah Walau Susah

Setiap tahun seluruh anggota Jesuit Indonesia biasanya berkumpul dalam acara Forum Provinsi. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan setiap bulan Juli secara tatap muka. Akan tetapi karena kondisi pandemi COVID 19 yang masih belum dapat teratasi dengan baik, kegiatan ini dilaksanakan secara daring untuk kedua kalinya. Forum provinsi tahun ini dilaksanakan pada 26-27 Juli 2021 melalui platform Zoom.   Selain para nostri yang bertugas di Indonesia, para nostri yang mendapat perutusan di luar negeri juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Beberapa di antaranya datang dari Italia, Perancis, Roma, Amerika Serikat, Spanyol, Australia, Myanmar, Thailand, Filipina, Kamboja, Inggris, Taiwan, Jepang, dan Belanda. Walaupun dilaksanakan secara daring, ternyata kegiatan ini tidak menyurutkan semangat para sahabat dalam Tuhan untuk berbagi cerita dan saling menyapa di sela-sela istirahat.   Hari pertama Forum Provinsi diawali dengan ibadat pembuka oleh para frater di Kolese Hermanum Jakarta. Kemudian, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. melanjutkannya dengan memaparkan De Statu (Status atau Situasi) Provinsi. Pater Advent Novianto, S.J. yang pada saat itu masih menjalani program tersiat di Girisonta memoderatori acara di hari pertama ini. Pater Beni memaparkan situasi terbaru dari provinsi, kegiatan-kegiatan besar, dan arah provinsi ke depannya. Dua topik mencolok di dalam De Statu tahun ini adalah kemendesakan perhatian bagi Promosi Panggilan dan Formasi bagi Awam. Selain itu Pater Provinsial terus mendorong terwujudnya proses implementasi Universal Apostolic Preferences (UAP) dalam karya dan tumbuhnya geliat sukacita menyambut Tahun Ignasian yang mendorong untuk terus melihat segala sesuatunya baru dalam Kristus. Para nostri juga diajak untuk ikut serta merefleksikan apakah provinsi sudah menjawab panggilan Allah secara konkret di Indonesia ini serta pertobatan apa yang dibutuhkan provinsi agar semakin dapat menjawab kehendak Allah. Seluruh nostri diajak untuk melakukan percakapan rohani antar sahabat lewat dua pertanyaan tersebut. Ada yang melakukannya secara luring di komunitas masing-masing. Ada pula yang melakukannya secara daring melalui fasilitas breakout room. Sesi terakhir pertemuan di hari pertama ini adalah sesi tanya-jawab antara para nostri dengan Provinsial.   Di hari kedua Forum Provinsi, giliran Pater Heri Setyawan, S.J., tersiaris lainnya, memoderatori pertemuan. Pada kesempatan ini para Nostri lebih banyak mendengarkan sharing dari beberapa karya Provindo, yaitu karya pendidikan di SMA Kolese De Britto, Kolese Le Cocq d’Armandville, SMA Kolese Gonzaga, dan SMK Mikael. Ada banyak kreativitas dan inovasi demi pelayanan pendidikan yang terdampak pandemi. Sharing dari perwakilan gugus karya pendidikan ini dilanjutkan oleh sharing dari gugus karya pelayanan Gereja. Para Nostri yang berkarya di Paroki HSPMTB Tangerang, Paroki St. Theresia Bongsari, dan Paroki Kampung Sawah unjuk gigi membagikan kisah pelayanan kepada umat di tengah pandemi ini. Sebagai sharing pamungkas, para Nostri yang berkarya di Pulau Kalimantan menyulut kobaran api pengabdian kepada Allah khususnya dalam situasi yang tidak mudah. Bukan hanya susah karena pandemi tetapi juga karena infrastruktur dan fasilitas yang masih sangat terbatas. Akhirnya berkat dari Pater Provinsial mengiringi laju kreativitas dan totalitas dalam pelayanan selanjutnya. AMDG!   Kontributor : Tim Komunikator Provindo

Provindo

Menemukan Tuhan dalam Ketidakberdayaan

Gelombang kedua pandemi Covid-19 kali ini menghantam tanpa ampun, lebih parah daripada gelombang pertama dulu. Hampir tiap hari kita mendengar kabar kepergian orang-orang yang kita kenal bahkan anggota keluarga sendiri. Saya yakin banyak saudara-saudari yang pernah merasakan kunjungan virus ini. Pemerintah kewalahan, orang-orang panik karena rumah sakit penuh sementara antrean oksigen mengular panjang. Bisnis besar maupun kecil terpaksa berhenti sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan dan nafkahnya. Dalam situasi ini, doa-doa kita pun seolah berlalu tanpa jawaban. Rasanya, kita sungguh-sungguh tak berdaya. Hari pesta St. Ignatius Loyola kali ini berlangsung di tengah memburuknya situasi pandemi. Kira-kira nasihat apakah yang akan diberikan oleh St Ignatius kepada kita? Kebetulan, Tahun Ignasian saat ini memang dipersembahkan untuk mengenang salah satu momen paling gelap dalam hidupnya yaitu peristiwa remuknya kaki Inigo muda dalam peperangan di Pamplona yang menjadi titik balik pertobatannya. Luka dan cacat di kaki itu tak seremuk egonya dan tak sehancur masa depannya sebagai ksatria. Hidup dan karir yang ia bangun sedemikian rapi dan penuh ambisi telah hancur berantakan. Masa depannya suram. Dalam saat-saat tak berdaya seperti itu, sang Peziarah tidak lari atau menyingkirkan emosi-emosi negatif yang dirasakannya. Malahan, ia mengakrabinya sambil memperhatikan gelombang emosi yang mengombang-ambingkannya. Memang di rumah kakaknya tempat ia dirawat, tidak banyak hiburan lain yang bisa mengalihkan perhatiannya, tetapi hebatnya ia juga tidak berusaha lari dari kenyataan remuk itu. Sesudahnya, St. Ignatius baru sadar, itulah satu-satunya cara untuk menyingkap lapisan-lapisan makna di dalamnya dan mendapatkan manfaat. Inilah nasihatnya yang pertama. Nasihat yang kedua berhubungan dengan kemampuan St Ignatius melewati saat-saat gelap tersebut. Di masa mudanya, Inigo kerap digambarkan sebagai orang yang keras kepala, jumawa, dan berambisi besar. Di balik sifat-sifat yang tampaknya kerdil itu, tersembunyi karakter yang kuat dengan daya tahan yang luar biasa kukuh. Saat perang di Pamplona, ia tetap maju menghadang pasukan Prancis yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada pasukan Kastilia yang ia bela. Padahal kakaknya sendiri, Martin Garcia, sudah lari tunggang langgang sejak awal. Mungkin ia nekat dan ngawur, tapi kualitas manusiawi macam itu rupanya mengantar St. Ignatius melewati saat-saat sulit dalam hidupnya. Jangan meremehkan daya-daya manusiawi kita sendiri, termasuk rahmat yang tersembunyi di baliknya. Bersyukurlah selalu atas rahmat dalam diri kita.  Yang ketiga, salah satu slogan Jesuit yang terkenal adalah “Jadilah orang bagi sesama” atau “be men and women for others”. Bergelimang dalam rasa sedih dan tak berdaya lama-lama bisa terasa “nyaman” karena tanpa sadar kita menempatkan diri sebagai pusat dari segala penderitaan di dunia ini. Dalam ketidakberdayaan, kita sering mengira diri kitalah orang paling sengsara di dunia. Semua orang harus jatuh kasihan pada kita sekaligus tidak ada orang yang bisa menolong kita. Tapi bagaimana kalau kita yang menolong orang lain? Saat ini banyak orang yang sangat membutuhkan bantuan. Ikut jaringan doa daring bagi korban pandemi, merawat anggota keluarga yang harus isoman, mengumpulkan dan membagi makanan siap saji kepada lingkungan yang membutuhkan, atau menjadi relawan di pusat vaksinasi atau puskesmas, semuanya ini bisa membantu kita untuk tidak sibuk dengan diri sendiri.  Pada akhirnya, Tuhan hadir dalam segala situasi, juga dalam penderitaan. Pandemi ini menawarkan kesempatan berjumpa dengan Tuhan, di dalam pergumulan batin kita dan di antara orang-orang yang kita jumpai. Kita hanya perlu mengakrabi emosi-emosi negatif yang membungkus maksud Tuhan, yakin dengan rahmat dan daya manusiawi yang kita punya, dan membiarkan orang lain menjadi pusat hidup kita. Selamat Pesta St. Ignatius Loyola. 31 Juli 2021, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J.

Provindo

Kaul Pertama Serikat Jesus : Bersama Yesus

Serikat Jesus Indonesia dengan gembira menyambut empat skolastik baru pada Rabu, 23 Juni yang lalu. Mereka mengikrarkan Kaul Pertama dalam Serikat Jesus untuk hidup suci, miskin dan taat di Kapel St. Ignatius, Novisiat St. Stanislaus Kostka, Girisonta. Keempat skolastik baru tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia: Albertus Aryo Anindito dari Paroki St. Joseph, Tegal, Jawa Tengah; Alexius Aji Pradana dari Paroki Kristus Raja, Sumatera Selatan; Leander Emanuel Arya Wikan Prabantara dari Paroki St. Barnabas, Tangerang Selatan, Jakarta; dan Mikael Tri Karitasanto dari Paroki St. John Maria Vianney, Kebumen. Pater Provinsial, P. Benedictus Hari Juliawan, SJ, setelah pengikraran kaul memberikan mereka tugas perutusan perdana yaitu studi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta.  Perayaan Ekaristi Kaul Pertama ini dipimpin oleh Pater Provinsial bersama Pater Magister Novis, P. Agustinus “Nano” Setyodarmono SJ dan P. Petrus Sunu Hardiyanta SJ. Perayaan Ekaristi juga dilakukan terbatas, karena situasi pandemi yang semakin parah, yaitu hanya dihadiri oleh komunitas Novisiat dan para tersiaris. Keluarga dalam acara ini diundang secara daring, yaitu melalui zoom. Walaupun demikian, hal tersebut tidak mengurangi doa dan dukungan dari banyak pihak. Orang tua, saudara, teman, dan para Jesuit lainnya masih bisa berpartisipasi dalam Ekaristi secara virtual. Di akhir misa, setiap orangtua skolastik baru berbagi kegembiraan, harapan, dan doa untuk perjalanan putra mereka masing-masing sebagai Jesuit agar menjadi imam yang pantas bagi Gereja Indonesia. Momen ini menjadi momen yang sangat mengharukan bagi orangtua maupun para skolastik baru.  Dalam homilinya, Pater Provinsial bersyukur karena keempat skolastik ini telah mendapatkan rahmat “self-knowing” selama menjalani masa Novisiat mereka. Pengenalan akan diri sendiri merupakan harta karun yang dapat membebaskan kita masing-masing untuk mengikuti dan melayani Kristus dengan lebih bebas dan penuh sebagai seorang Jesuit,” katanya. Namun, dia melanjutkan, “kita memiliki harta ini di dalam bejana tanah liat; oleh karena itu, kita harus terus mengolahnya dengan setia.” Pater Provinsial juga berterima kasih kepada Rm Nano selaku Magister Novis yang setia menemani dan membimbing mereka dengan kesabaran dan kemurahan hati. “Formasi Jesuit itu selalu pribadi dan integral. Ini tentu saja beda dengan memproduksi sesuatu secara masal di pabrik atau di bengkel,” tambahnya.  Tema Kaul yang diambil oleh para skolastik baru ini adalah “Bersama Yesus”, sebuah tema yang mengekspresikan disposisi mereka sebagai Jesuit yang siap diutus untuk ikut serta bersama Kristus melayani untuk dunia. Tema ini terinspirasi dari visi St. Ignatius Loyola yang bergema di hati mereka: “barangsiapa mau ikut Aku dalam usaha itu, harus bersusah payah bersama Aku supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan (LR 95).” Di akhir Misa, Fr. Alex memberikan sebuah sambutan. Ia mengatakan tema tersebut ingin mengungkapkan betapa diri mereka rapuh, sehingga tidak mampu berdiri sendiri. Namun, kasih karunia Tuhan selalu menaungi dan memberikan kekuatan sehingga mereka berani mencari dan akhirnya bersedia mengikuti panggilan Tuhan. Kontributor : Alexander Hendra Dwi Asmara, S.J.

Provindo

Tahbisan Diakon SJ: Dan Kamu harus Menjadi Saksi!

Senin, 10 Mei 2021, menjadi hari istimewa bagi Provindo karena dua fraternya ditahbiskan diakon, yaitu Frater Martinus Dam Febrianto, S.J. dan Frater Philipus Bagus Widyawan, S.J. Keduanya ditahbiskan diakon oleh Bapak Uskup Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang, di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta. Dalam upacara tahbisan tersebut, Bapa Uskup didampingi oleh Provinsial SJ Indonesia, Pater Benedictus Hari Juliawan, S.J. dan Rektor Kolese Santo Ignatius Yogyakarta, Pater Andreas Sugijopranoto, S.J. Prosesi tahbisan dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan umat yang hadir pun dibatasi jumlahnya. “Kamu Harus Bersaksi” diambil dari Injil Yohanes (Yoh 15:27) menjadi tema tahbisan diakon SS Dam dan Wawan. Tema ini menggambarkan rasa syukur mereka berani mengambil keputusan menjadi murid Kristus meskipun mereka memiliki banyak kelemahan dan kerapuhan. Ayat ini jugalah yang menguatkan mereka untuk menjadi saksi Kristus di tengah umat beriman.Dalam homilinya, Bapak Uskup berpesan agar kedua diakon hendaklah melayani dengan penuh kerendahan hati dan sukacita serta bertekun dalam doa sebagai tanda kedekatan dan kelekatan terhadap Kristus. Para diakon hendaklah terus belajar dan selalu bergantung pada rahmat iman akan Yesus Kristus dan Roh Kudus agar mampu tetap setia melaksanakan kehendak Allah, baik dalam kata-kata maupun tindakan.Kedua diakon ini berasal dari latar belakang yang berbeda. Sebelum masuk novisiat, Frater Dam telah bekerja di industri budidaya tanaman air dan ikan di Lampung, Sumatera Selatan. Sementara Frater Wawan masuk novisiat setelah lulus dari Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan.Selesai novisiat, keduanya melanjutkan formasi filsafat di STF Driyarkara, Jakarta. Formasi TOK mereka jalani di tempat berbeda. Frater Wawan kembali ke Seminari Mertoyudan sebagai sub-Pamong, sementara Frater Wawan bekerja di JRS Indonesia yang mengurusi para pengungsi asing di Medan dan Bogor.Keduanya bersama kembali ketika menempuh formasi teologi hingga selesai di Fakultas Teologi Wedabhakti-Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Jika tidak ada aral melintang, kedua diakon ini akan menerima tahbisan imam tahun ini. Mohon doa dari seluruh nostri dan rekan berkarya, serta seluruh umat. Kontributor: Angelo Tiro Daenuwy, S. J.

Provindo

Pembukaan Tahun Ignatian: Dalam Kristus Kita Dibarui dan Diutus

Serikat Jesus universal baru saja membuka peringatan 500 tahun peristiwa Ignatius terluka di Pamplona dengan nama Tahun Ignatian. Di Indonesia, tahun Ignatian dibuka dengan Perayaan Ekaristi pada Kamis, 20 Mei 2021 pukul 17.00 WIB di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan dipimpin oleh P Benedictus Hari Juliawan, S.J. dengan konselebran P A. Sugijopranoto, S.J. dan P C. Kuntoro Adi, S.J.. Tahun Ignatian ini diperingati selama setahun ke depan sampai 31 Juli 2022. Acara inti akan dilaksanakan pada 12 Maret 2022 yang menandai peringatan 400 tahun kanonisasi Santo Ignatius dan Santo Fransiskus Xaverius. Kondisi pandemi yang tak kunjung selesai tidak mematahkan semangat panitia Tahun Ignatian untuk menyelenggarakan Pembukaan Tahun Ignatian. Panitia membuat berbagai pertimbangan dan tindakan, diantaranya tetap memberlakukan protokol kesehatan bagi para tamu undangan dengan memeriksa suhu, tes genose oleh tim ATMI Surakarta, dan pemberian jarak tempat duduk. Selain itu, tamu undangan yang diperkenankan hadir hanya terbatas untuk komunitas-komunitas dan paroki Jesuit di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang, serta para rekan berkarya Serikat Jesus di Yogyakarta. Untuk memfasilitasi komunitas SJ, rekan berkarya, dan umat yang tidak dapat bergabung secara langsung bisa mengikuti acara secara virtual di kanal Youtube Jesuit Indonesia.   Pembukaan tahun Ignatian ditandai dengan penyalaan lilin Ignatian oleh Pater Provinsial SJ Indonesia. Lilin ini menjadi simbolisasi agar kita semakin diperbaharui, siap sedia diutus, dan simbol yang memandu tingkah laku dan pola hidup kita sesuai dengan tema Tahun Ignatian yaitu Dalam Kristus Kita Dibarui dan Diutus. Selama Perayaan Ekaristi, diputarkan tiga video cannonball moment yang berisi kisah pertobatan dan transformasi yang dialami oleh Simona dari Italia, Frater Andre dari Kolese St. Ignatius Yogyakarta, dan Kiki dari komunitas Magis Indonesia. Pengalaman pertobatan dan transformasi tersebut dialami melalui perjumpaan pribadi dengan Allah yang menyelamatkan. Dalam homilinya, Pater Beni mengajak kita untuk merefleksikan kembali apakah kita pernah mengalami pengalaman perjumpaan dengan Allah secara pribadi. Kemudian, apakah pengalaman perjumpaan tersebut membuat kita berani untuk berubah sehingga kita menjadi diperbarui ataukah berlalu begitu saja?     Dalam Perayaan Ekaristi, ditampilkan juga video pendek hasil karya Teater De Brito dengan judul “Ambillah Kebebasanku.” Film pendek ini mengajak kita untuk berkontemplasi dalam kehidupan para siswa dalam pergulatan di masa pandemi ini agar tetap mendengarkan suara Roh Allah dan terus maju dalam jalan peziarahan sebagai orang muda. Pater Bagus Laksana, sebagai ketua panitia Tahun Ignatian menyampaikan rangkaian kegiatan selama setahun ke depan. Diawali dengan misa pembuka dan akan ditutup dengan misa penutupan pada 31 Juli 2022 kemudian disusul retret untuk semua nostri Jesuit Indonesia dan para rekan berkarya, acara seminar, webinar, dan diskusi bersama mengenai dengan tema utama pertobatan. Panitia bekerja sama dengan beberapa pihak melakukan studi khusus mengenai sejarah perjalanan misi Serikat Jesus sebagai Provinsi selama 50 tahun ini yang nanti hasilnya akan dipublikasikan. Dilakukan pula publikasi buku Pater Jendral berjudul Berjalan bersama Ignatius Loyola. Pater Gregorius Sutomo, S.J. akan menjadi pendamping renungan Menemukan Hidup Baru dalam Kristus. Selain beberapa kegiatan itu, panitia Tahun Ignatian mengajak rekan muda Jesuit dan awam untuk berbagi kisah perjalanan pertobatan transformatif mereka dalam video pendek cannonball moment. Perjalanan ziarah pada situs-situs penting dalam misi Serikat Jesus selama ini, terutama misi di luar Jawa, akan dilakukan dengan dua cara, yaitu virtual dan fisik jika keadaan memungkinkan. Seluruh kegiatan dapat diakses melalui link website www.ignatian500.global atau ignatius500.jesuits.id.     Misa Pembukaan Tahun Ignatian ini bisa terselenggara berkat bantuan berbagai pihak, antara lain para teologan di Kolsani, Koor Ignatius, CM Universitas Sanata Dharma, MAGIS Yogyakarta, dan Kolese de Britto. Selamat memperingati Tahun Ignatian bagi para Jesuit dan rekan berkarya, semoga kita semakin diilhami untuk memiliki keterbukaan hati agar mampu menerima Roh Kudus yang hendak memberi kita keberanian yang ajaib.   Kontributor: Margareta Revita – Tim Komunikator SJ Provindo

Provindo

Solisitasi Serikat Jesus 2021

Akhir-akhir ini kita semua semakin akrab dengan berbagai macam pertemuan daring. Mulai dari misa online, kelas online, rapat online, Pendampingan Iman Anak online, dan berbagai macam pertemuan online lainnya. Semuanya itu harus dilakukan dan diakrabi dengan tujuan mempertemukan beberapa orang dalam satu kepentingan yang sama karena tidak bisa berjumpa secara luring. Kita sudah mengalami banyak acara Provinsi yang juga dilakukan secara daring. Satu lagi acara Provinsi yang dilakukan daring di bulan Februari ini adalah solisitasi. Proses solisitasi yang dari tahun ke tahun biasanya dilakukan di Girisonta, terpaksa diadakan secara daring.  Pada tahun 2021 ini ada 24 anak muda yang melamar bergabung ke Serikat. Para solisitan yang melamar datang dari berbagai macam latar belakang dengan rincian 15 solisitan dari Seminari Menengah Mertoyudan Magelang, 2 solisitan dari Seminari Menengah Wacana Bhakti Jakarta, 1 solisitan dari Seminari Menengah Bogor, 3 solisitan dari Seminari Menengah Pematang Siantar, 2 solisitan dari Prompang Jakarta, dan 1 solisitan dari Prompang Jogja. Pada Senin-Jumat, 8-12 Februari 2021 diadakan tes wawancara solisitasi secara daring. Ini adalah pengalaman pertama dari pelaksanaan tes wawancara secara daring. Keputusan untuk melaksanakan solisitasi secara daring menjadi hal yang tidak bisa dihindari lagi. Hal ini mengingat adanya Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Status Girisonta sebagai rumah aman Provindo, dan posisi baik itu para examinator maupun para solisitan yang terpencar-pencar mulai dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa, hingga Pulau Bali. Menariknya adalah semua solisitan dari Seminari Menengah Mertoyudan Magelang saat ini sedang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah mereka masing-masing. Dinamika formasi di rumah mereka masing-masing justru memberi tantangan tersendiri dan memunculkan karakter mereka. Ada solisitan yang sedemikian rupa menjadi sibuk dan kesulitan untuk membagi waktu serta perhatian antara sekolah dan rumah karena harus membantu orang tua berjualan dan mempersiapkan dagangan. Ada pula yang justru menjadi semakin santai karena tidak ada yang mengawasi lagi. Syukurlah kemajuan teknologi sangat membantu pelaksanaan solisitasi ini tetapi hal ini juga menantang panitia solisitasi untuk memikirkan pernak-pernik pelaksanaan teknisnya. Mulai dari memikirkan pilihan sarana-sarana yang ramah untuk para examinator dan juga para solisitan hingga memberikan panduan detail kepada semua pihak. Setiap solisitan mempunyai kesempatan wawancara dengan 4 orang examinator masing-masing selama 1 jam. Sarana yang akhirnya dipilih untuk melaksanakan wawancara daring ini adalah video call WhatsApp. Aplikasi ini adalah aplikasi paling umum dan ramah terhadap semua solisitan. Setiap solisitan bisa mengusahakan aplikasi ini bahkan mereka yang berada di daerah-daerah pelosok. Syukurlah semua solisitan menjalani tes wawancara daring ini dengan penuh semangat meskipun ada yang harus mengungsi ke pastoran, rumah saudara, ataupun ruangan yang tenang di salah satu sudut seminari agar mendapatkan sambungan internet yang baik dan situasi yang kondusif. Bahkan ada pula yang beberapa kali harus berpindah tempat dan naik ke atap rumah karena sambungan internet yang tidak stabil. Selama lima hari para examinator juga berjuang untuk bersahabat dengan layar HP atau tabletnya masing-masing. Mulai dari jam 07.30 hingga 12.30 WIB non stop para examinator berkanjang asyik dan berdialog dengan gawai mereka. Kurang lebih ada 5 solisitan yang harus diwawancarai oleh para eksaminator setiap harinya. Dalam segala keterbatasan yang ada, para examinator berusaha untuk mengenali secara lebih mendalam masing-masing pribadi solisitan. Tentu masih ada banyak hal yang tidak tertangkap dalam pribadi solisitan, misalnya ekspresi tubuh, spontanitas, dll. Sebagian dari solisitan hanya terekspresi dan terwakili dalam layar berukuran 6,5 hingga 10,4 inch saja. Tentu saja para examinator menyadari ada banyak hal yang tidak bisa tertangkap dengan baik tetapi inilah cara terbaik yang dapat ditempuh di tengah situasi ini.  Para examinator juga bersyukur atas keterbukaan dari masing-masing solisitan dan kelancaran pelaksanaan tes wawancara daring. Selain tes wawancara secara daring, setiap solisitan juga diminta untuk mengerjakan tes psikologi secara daring juga. Cara ini juga ditempuh untuk mendukung dan menambah pengenalan yang lebih dalam mengenai kepribadian para solisitan.  Pada akhirnya pandemi yang sedang melanda kita akan menuntut kesiapsediaan kita untuk berubah dan beradaptasi dengan cara hidup yang baru. Pandemi ini diyakini tidak hanya akan merubah bentuk solisitasi saja tetapi juga cara hidup men-Jesuit, khususnya proses formasi di novisiat. Tim novisiat tentu masih terus memohon doa dan dukungan dari saudara-saudari untuk melaksanakan proses formasi yang tetap relevan dan mendekati dengan cita-cita serta idealisme Serikat dan Ignatius Loyola. Kontributor: Hendricus Satya Wening, SJ – Panitia Solisitasi 2021

Provindo

Bersama Bergerak dengan Inspirasi Universal Apostolic Preferences

Pada tanggal 19 Februari 2019, setelah proses diskresi yang panjang dan mengundang keterlibatan berbagai kalangan, telah ditetapkan preferensi-preferensi kerasulan universal Serikat Jesus. Pilihan-pilihan itu akan menjadi cara dan wujud pertobatan dan pembaruan Serikat Jesus untuk masa 10 tahun ke depan. Sebagai putra Gereja, Pater Jenderal mempersembahkan buah-buah proses diskresi Serikat ini kepada Bapa Suci. Untuk bekerja sama dalam perutusan Tuhan dan melayani Gereja pada masa kini dengan sumber-sumber daya yang ada pada kita, ditetapkan bahwa preferensi kita adalah (a) menunjukkan jalan menuju Allah melalui Latihan Rohani dan diskresi, (b) dalam perutusan rekonsiliasi dan keadilan, Serikat akan berjalan bersama orang miskin, orang-orang terbuang, dan orang-orang yang martabatnya dirampas, (c) menemani kaum muda menciptakan masa depan yang penuh harapan, dan (d) bekerja sama dalam merawat bumi, rumah kita bersama. Keempat preferensi tersebut ditegaskan Bapa Suci sejalan dengan prioritas Gereja saat ini. Serikat Jesus Provindo pun mulai bergerak mengarusutamakan keempat preferensi tadi. Para Jesuit dan kolaborator mendapat dokumen Preferensi Kerasulan Universal (Universal Apostolic Preferences/UAP) yang diterbitkan pada 1 April 2019. Dokumen ini telah menjadi bahan doa, refleksi, dan diskusi di berbagai kelompok dan kesempatan di kalangan kita. Pada bulan September 2020, Pater Provinsial dan Pater Socius mengundang P. Adrianus Suyadi dan P. Joseph Situmorang untuk mencari gagasan tentang langkah-langkah pengarusutamaan keempat preferensi tersebut di atas.  Setelah beberapa diskusi awal, pada tanggal 17 September 2020, para pimpinan karya dan komunitas diundang untuk menghadiri pertemuan secara daring. Pada pertemuan tersebut, Pater Suyadi dan Pater Situmorang menawarkan gagasan-gagasan dari sudut manajemen tentang bagaimana kita dapat segera bergerak sehingga keempat preferensi kerasulan universal Serikat ini sungguh mewarnai hidup dan karya-karya kita. Pater Suyadi menawarkan Teori U, suatu metode manajemen perubahan yang dapat membantu dalam proses-proses diskresi yang akan dilakukan. Pater Situmorang mengingatkan dua prinsip pokok manajemen, yaitu POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Timely-bound).  Untuk itu, perlulah kita berhenti sejenak dan melihat bagaimana visi dan misi lembaga-lembaga kita dapat diinspirasikan oleh keempat preferensi kerasulan universal. Selanjutnya, sejauh diperlukan, kita diminta untuk merumuskan kembali visi-misi, rencana-rencana dan strategi pokok, langkah-langkah (route map), dan indikator-indikator keberhasilan (key performance indicators). Salah satu metode penilaian manajerial yang melihat beberapa sisi organisasi secara berimbang, yaitu balanced scorecard, yang mencakup perspektif finansial, pihak-pihak yang dilayani, proses tata kelola internal, dan hal-hal yang harus dibaharui untuk terus maju, patut dipertimbangkan untuk digunakan dalam gerak pertobatan dan pembaharuan gubernasi ini.  Untuk bergerak lebih lanjut, dibentuklah tim animasi UAP, dengan P. Suyadi sebagai ketua dan P. Situmorang sebagai wakilnya. Agar bisa lebih mudah dikoordinasikan, pelayanan dan karya-karya dikelompokkan dalam gugus, yaitu gugus pendidikan, pelayanan Gereja, formasi, dan pelayanan masyarakat. Delegat untuk masing-masing gugus karya diminta untuk menjadi bagian menyatu dari tim UAP ditambah dengan tim komunikator Provindo.  Pada tanggal 16-18 Desember 2020 dan 15 Januari 2021, masing-masing gugus karya juga telah diundang untuk berdiskusi agar keempat preferensi tadi dapat memberi karakter karya-karya kita. Karya dan lembaga-lembaga karya kita juga dikategorikan menurut statusnya: karya milik Serikat, karya yang dipercayakan secara penuh kepada Serikat, karya kerja sama, dan lembaga karya dimana individu-individu Jesuit ditugaskan. Karya yang sepenuhnya terikat pada UAP adalah lembaga karya miliki Serikat dan lembaga karya yang secara menyeluruh dipercayakan (entrusted) kepada Serikat.  Dalam pertemuan dengan pimpinan-pimpinan dan kolaborator inti pada tingkat gugus karya, Pater Provinsial mengundang keterlibatan kita semua untuk bergerak dalam langkah pertobatan dan pembaharuan ini. Provinsial menegaskan perlunya evaluasi yang mendalam serta menyusun langkah-langkah pembaharuan. Diharapkan bahwa pada bulan Oktober 2021, masing-masing lembaga dan karya sudah memiliki dokumen bagaimana kita menerapkan UAP. Dari sana Provindo akan dapat merumuskan pula bagaimana UAP itu akan dilaksanakan pada tingkat provinsi. Namun diingatkan juga oleh Provinsial, yang menjadi sasaran bukanlah sekedar segera memiliki program-program yang bagus; proses diskresi seperti yang dialami para primi patres di Venesia dulu, diharapkan kita sungguh-sungguh dapat menimbang dan memutuskan haluan baru serta jalan-jalan yang akan kita tekuni. Tim UAP akan mendampingi para Jesuit dalam proses pengarusutamaan UAP ini. Tim UAP akan melakukan langkah-langkah “monitoring” dan mendampingi lembaga-lembaga karya kita agar UAP menjadi ciri atau karakter yang memberi warna. Kontributor: Joseph Situomorang, SJ (Wakil Koordinator Tim Perencanaan Implementasi UAP)