Pilgrims on Christ’s Mission

Karya Pendidikan

Karya Pendidikan

MENEMUKAN ARTI BERTANGGUNG JAWAB

Kegiatan leadership ini rutin diadakan setiap tahun dan dari tahun ke terus mengalami penyempurnaan, apalagi di zaman yang ditandai dengan banyaknya anak muda yang “mabuk” dengan dunia gawai, media sosial, internet, dan sejenisnya. Wabah “globalisasi teknologi” itu tidak bisa dihindari.

br norbert bersama anak-anak papua
Karya Pendidikan

PAPUA di dalam HATI Br. Norbert

Papua. Awalnya tidak terbayang tentang Papua. Dan, sebagai seorang bruder Serikat Jesus, saya tidak ingin mengidolakan sesuatu, termasuk tempat perutusan. Semuanya mengalir saja dan saya hanya mengikuti apa yang dibutuhkan Serikat. Dari diri saya, dengan keterbatasan dan keyakinannya, berusaha memasukkan diri dalam rangka gerak Serikat mau ke mana. Ini adalah sebuah ketaatan dan semangat ini merupakan sebuah transformasi. Dalam keluarga, kami diajarkan untuk tidak terpaku pada satu hal saja. Bagi kami, hidup adalah hidup, mengalir begitu saja sesuai kehendak orangtua. Sejak kecil, saya sudah diajarkan tentang bekerja. Bahkan, hampir tidak ada waktu untuk bermain seperti teman-teman saya waktu kecil. Contoh kecil: sebelum sekolah, teman-teman menghampiri, mengajak ke sekolah bareng, Jika tidak selesai pekerjaannya, saya belum boleh berangkat ke sekolah. Maka, dalam diri saya muncul rasa takut untuk merencanakan atau mengidolakan sesuatu. Saya takut apa yang saya idolakan malah tidak tercapai, maka saya taat saja dan menyelesaikan yang diminta. Itu saja. Simpel. Selain ketaatan, ada pula kepercayaan, yaitu dari Pater Provinsial, Superior, dan teman-teman seperutusan. Itu sangat membuat tenang. Saya mendapat kepercayaan untuk berbuat sesuatu di Papua. Ketika diutus Provinsial ke Waghete, saya senang saja karena saya pikir itu di Jawa. Namun, setelah paham, saya kaget dan bingung. Kok Papua? Apa yang saya bisa lakukan di Papua? Di sinilah saya mendapat jawaban kalau saya dipercaya untuk berkarya di Papua. Awal di Papua memang membuat shock. Pergi ke Papua dengan pesawat kecil, hanya bertiga di dalam pesawat dengan barang seadanya. Perjalanan benar-benar menegangkan. Tiba di Papua, juga semakin tegang, karena melihat umatnya… kok seperti ini? Mereka berpakaian compang-camping, sanitasi buruk sekali, cuaca juga dingin. Namun, yang menguatkan saya adalah mereka itu orang-orang sederhana yang tidak tahu kesehatan, tapi bisa hidup. Juga, mereka adalah orang-orang yang akan terus hidup di tempat seperti ini. Semuanya berbeda dengan saya yang bisa hidup teratur dan kapan saja, suatu saat, bisa pindah. Maka, muncul semangat dalam diri saya. Saya harus bisa melakukan sesuatu. Dengan bekal S1 Bimbingan Konseling, saya melakukan berbagai hal hingga saat ini di Papua. Itu membesarkan hati saya bahwa saya harus bisa hidup di tempat ini. Akhirnya saya menikmati berada di Waghete dan tidak terasa di sana selama 9 tahun. Setelah itu, saya melanjutkan berkarya di Nabire. Sebelum pindah, saya diminta untuk mengurus beberapa hal terlebih dahulu, yaitu rumah susteran karena mereka akan melanjutkan karya pendidikan TK yang sudah saya mulai. Bapak Uskup sangat menginginkan karya TK itu tetap berjalan sehingga beliau meminta suster-suster PMM untuk melanjutkan karya yang sudah saya mulai. Maka dari itu, saya diminta menyiapkan tempat tinggal untuk mereka. Kemudian, saya juga diminta menyiapkan pastoran di stasi pemekaran dari paroki waghete dan harus sudah selesai sebelum saya pindah. Rutinitas di Papua Selama di Waghete, saya bangun jam 05.30. Itu pun sudah termasuk pagi. Setelah bangun tidur, biasanya saya langsung bekerja, mencangkul untuk mencari keringat. Biasanya, sebelum bekerja, saya memukul-mukul cangkul sehingga keluar bunyi teng-teng-teng. Karena kebiasaan itulah kemudian umat tahu bahwa jika ada suara itu, berarti sudah pagi. Saya bekerja di ladang biasanya hingga jam 09.00 kemudian saya mandi dan sarapan. Di Waghete dingin sekali dan pagi hari bisa sampai 8°C. Sewaktu di Waghete, di pedalaman, memang saya bergabung menjadi tim pastoral paroki. Namanya tim pastoran, jadi seolah-olah harus bisa menjawab kebutuhan yang mestinya dikerjakan paroki. Di situ ada seksi pendidikan, rumah tangga, kesehatan, pemberdayaan umat. Nah, karena situasi miskin dan tertinggal, maka saya membayangkan, kalau saya tidak memulai, bagaimana saya bisa makan, bisa mendapatkan obat, lalu bisa mempraktikkan kesejahteraan ibu dan anak-anak TK. Jadi praktis saya harus bisa memulai,supaya kalau saya memulai, pasti umat akan tahu, bahwa Bruder saja mengerjakan. Jadi di sini sisi keteladanan sangat penting. Di sini sebagai seksi paroki tugasnya tidak hanya menunjuk, melainkan juga harus ada gerak sendiri. Falsafah hidup orang Papua adalah do, gai, ekowai. Do itu artinya melihat. Jadi sebagai orang baru, apa yang saya lakukan selalu diperhatikan. Apalagi bisa muncul pertanyaan dari masyarakat, Bruder itu buat apa? Mereka melihat apa yang saya kerjakan. Kemudian gai yang artinya berpikir. Setelah melihat, umat kemudian berpikir, “Ooo, ternyata Bruder ada di sini.” Dan, terlihat jelas apa yang diperbuat sehingga mereka berpikir dan muncul keinginan untuk berbuat demikian. Bruder ternyata datang ke Papua dengan tulus, tanpa pamrih, bukan untuk merampas kekayaan Papua. Yang terakhir adalah ekowai yang artinya bekerja. Setelah melihat, berpikir kemudian melakukan kerja. Jadi di sini bisa dikatakan orang Papua bisa memahami dan bisa meneladani apa yang baik dari yang saya kerjakan. Contohnya adalah seperti dulu ketika saya membuat TK di sana. Awalnya saya hanya mendirikan Sekolah Minggu untuk anak-anak. Mereka melihat apa yang saya lakukan bermanfaat baik. Anak-anak tidak keliaran di mana-mana melainkan terkumpul dan bisa terpantau oleh orangtua juga. Mereka juga menjadi paham dengan kebersihan, karena belajar sikat gigi, mau membersihkan area vital untuk kesehatan, dan juga menjadi tempat untuk belajar bahasa Indonesia. Apa yang mereka lihat ternyata berguna bagi mereka hingga akhirnya dari mereka sendiri mau menjadi guru untuk anak-anak ini. Kegiatan di TK juga tidak hanya untuk anak-anak, melainkan juga untuk orangtuanya, yaitu pembinaan membuat makanan bergizi, bagaimana merapikan rumah dan menjadikannya sebagai rumah sehat huni. Di SMA Adi Luhur, Nabire, anak-anak sudah ingin mengembangkan diri, yaitu orang-orang yang mau meningkatkan kemampuan dirinya. Mereka orang-orang yang mau meningkatkan cara belajar dan bagaimana mendapatkan pengetahuan. Lalu yang dibuat di Nabire adalah meningkatkan yang belum sempat dilakukan di pedalaman, yaitu bagaimana mereka menjaga kebersihan. Tidak hanya membuat tempat menjadi bersih namun mau merawat dan menjaganya. Praktik yang harus dilakukan di asraPraktik yang harus dilakukan di asrama misalnya anak ini mandi atau tidak, kalau mandi pakai sabun atau tidak, menyikat gigi apakah sudah menggunakan odol atau belum. Jadi yang saya lakukan di sana memang konkret sekali. Begitu juga dengan cara belajar. Ternyata anak-anak pedalaman yang sudah SMA juga belum pandai membaca, belum lancar menulis dan menghitung. Bagi mereka yang tidak sadar diri, tidak mau belajar mengembangkan, mereka akan frustasi. Maka, saya sendiri mengajak untuk menyeimbangkan agar mereka tidak stress dengan pelajaran misalnya mengajak mereka ngarit, memberi makan sapi dan babi. Jadi mereka, kalau tidak sungguh-sungguh mau, mereka akan frustasi. Ini terjadi terutama untuk

mahasiswa atmi menjelaskan kebiasaan-kebiasaan dalam kolese
Karya Pendidikan

KONSEP “TEGAS NAMUN HUMANIS” DALAM PPS 52 POLITEKNIK ATMI SURAKARTA

Pada 3 s.d. 10 Agustus 2019 di kampus ATMI diselenggarakan Pengenalan Program Studi (PPS) bagi mahasiswa baru (maba) angkatan 52 sejumlah 233 orang. Kemudian pada 12 Agustus diadakan misa pembukaan tahun perkuliahan 2019/2020 sekaligus kuliah perdana. Berbeda sedikit dari tahun sebelumnya, PPS kali ini mengusung agenda memperkenalkan konsep tegas namun humanis. Konsep pembelajaran yang mulai diperkenalkan sejak PPS ini akan terus diintegrasikan menjadi model pembelajaran selama kuliah bengkel dan teori. Dengan upaya panitia PPS sengaja menggarisbawahi konsep ini, bukan berarti pada tahun-tahun sebelumnya belum ada sama sekali metode pembelajaran ini. Metode itu sudah ada, namun belum diterapkan secara menyeluruh di setiap lini section/bengkel yang ada di ATMI. Konsep ini mulai dipikirkan berawal dari temuan-temuan problem yang dihadapi mahasiswa selama proses perkuliahan. Dari proses pendampingan beberapa mahasiswa tersebut, tim konseling kemahasiswaan menemukan beberapa hal yang menyebabkan mereka sulit mengikuti dinamika perkuliahan yang berat dan ketat. Belum lagi, mereka punya konsep sendiri tentang instruktur atau dosen idaman sehingga mudah menimbulkan gesekan akibat ketidakcocokkan. Tentu saja bila sudah ada gesekan maka dinamika kuliah dirasa semakin berat lagi. Maka, tim konseling mulai memetakan akar penyebabnya. Ternyata hal itu berkaitan dengan terjeratnya anak muda untuk cenderung mengambil apa saja yang serba baru dari teknologi, padahal kebaruan teknologi ini akan diiringi dengan kecepatan informasi yang cenderung mudah berubah-ubah. Teknologi baru itu semakin memanjakan sedangkan informasinya berdampak pada tersedot dan mudah teralihkannya perhatian manusia. Tidak hanya anak muda yang terpengaruh, para orang tua pun menjadi cenderung mengikuti tren ini. Rupa-rupanya tenaga pengajar pun tidak luput dari tren yang berkembang ini. Hadirnya teknologi yang disikapi dengan tidak bijak, pelan-pelan mengikis kebiasaan fokus dan kerja keras. Akhirnya ketika proses perkuliahan mewajibkan mahasiswa mengasah skill dengan tekun, disiplin, dan setia, mahasiswa menjadi tidak siap, orang tua pun terkaget-kaget sebab mereka tidak kenal dengan mendalam bagaimana proses ATMI mendidik dan menyiapkan para mahasiswanya. Jelas, jika tidak segera disikapi akan menyulitkan ATMI dalam menjaga komitmen metode pembelajarannya. Maka, lahirlah konsep tegas namun humanis. Tentu sebelum dipraktikkan, konsep ini dijelaskan dan disosialisasikan pada jajaran dosen struktural dan dosen muda pendamping PPS. Tim kemahasiswaan sengaja membuka kesempatan duduk bersama untuk mematangkan konsep ini. Konsep ini tetap sejalan dengan spirit 4C (Compassion, Conscience, Competence, Commitment) namun dibahasakan kembali dengan cara lugas, yaitu tegas dan humanis. Ketegasan akan membentuk karakter disiplin, namun sisi humanisme yang menghargai martabat manusia tetap tidak ditinggalkan. Praktiknya, kedisiplinan itu tidak hanya menegur dengan keras namun yang terpenting tegas. Tegas artinya yang menegur juga perlu meneladani dengan tindakan yang benar. Tegas juga diartikan keputusan yang dibuat tidak semena-mena, sesuai dengan peraturan yang ditetapkan serta melibatkan hati nurani. Untuk itu, dalam belajar-mengajar, kita harus berani “dekat” dengan mahasiswa supaya kita mengetahui siapa dan bagaimana mereka. Akhirnya, kita mempunyai opini yang jelas tentang mahasiswa tersebut. Dengan demikian, sebagai pengajar, kita menjadi pribadi yang mempunyai rasa memiliki anak didik kita. Kita terbuka namun tetap punya arah yang jelas. Karena anak muda sekarang cukup kritis, maka ketika kita menegur karena mereka keliru, kita harus sampai menjelaskan dan akhirnya sadar mengapa keliru. Dengan demikian untuk selanjutnya ia tahu bagaimana harus memilih yang baik. Cara pembelajaran ini tidak mudah karena seringkali sudah terbentuk “jarak” antara pengajar dan yang diajar. Tentu inisiatif mendekati, pertama-tama harus datang dari tenaga pengajar agar kecanggungan menjadi cair. Dengan demikian tidak ada sekat tinggi antara pengajar dan yang diajar. Selain itu, dalam PPS tersebut, panitia menekankan pentingnya rasa memiliki angkatan. Seluruh anggota angkatan menjadi milik dan tanggung jawab bersama. Ini menjadi cara membumikan pendidikan karakter 4C sekaligus menjadi sarana bantu konsep tegas namun humanis berjalan. Rasa memiliki angkatan akan berimbas pada rasa memiliki ATMI. Maka mereka akan menjadi pioneer yang mampu memelihara angkatan, mengajak angkatan, dan menjadi rekan diskusi dosen demi kemajuan dan konsistensi ATMI. Praktisnya, dipilihlah beberapa anak yang siap dan mau terlibat mengkoordinasikan angkatannya. Mereka akan mengawali dan membuka jalan teman-teman yang lain untuk memperhatikan temannya yang kurang mampu beradaptasi dengan budaya ATMI. Mereka juga menjadi teman tenaga pengajar dan tim konseling dalam berbagi diskusi mengenai dinamika pembelajaran di ATMI. Masih dalam rangka menumbuhkan rasa memiliki, panitia PPS mengawali terbentuknya jaringan relasi melalui tugas kelompok, pembentukan grup angkatan melalui media social, dan pendampingan angelus dari panitia ke maba. Angelus akan menjadi teman sharing saat dinamika kelompok, memberi penjelasan tugas, dan mengajari berbagai metode pembelajaran di bengkel seperti pengukuran. Namun saat tugas tidak dikerjakan dengan tuntas, maka dengan tegas panitia memberi sanksi berupa jam kompensasi yang senilai dengan jenis kerja sosial tertentu dan mahasiswa tetap diwajibkan menyelesaikan tugasnya itu. Akhirnya, semoga dengan berani mengawali dan menegaskan konsep ini, kita menjadi tahu bahwa di satu sisi tetap berpikiran positif bahwa teknologi menjadi sarana bantu melatih kemampuan manusia menuju pada kesempurnaan. Namun di sisi lain juga perlu hati-hati bahwa bisa jadi teknologi akan membentuk relasi manusia hanya seperti jaringan kabel-kabel bahkan mungkin maya. Alih-alih selalu memikirkan bagaimana memperbaharui teknologi, nampaknya filosofi 4C harus menjadi prinsip “hanya satu saja yang perlu” sehingga dikedepankan dan dikuatkan dulu. Semoga konsep tegas namun humanis mampu menjawab fenomena yang berkembang ini. V. Doni Erlangga, SJ

Karya Pendidikan

Bina Keluarga STF Driyarkara

Pada 14-16 Agustus 2019 yang lalu, 10 skolastik filosofan SJ tingkat 1 bersama teman—teman mahasiswa/i baru lainnya (total 62 mahasiswa/i) telah menjalankan acara Bina Keluarga (orientasi kampus) Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Tema yang diusung oleh panitia adalah “Karena Bersama, Maka Kita Ada.” Tema tersebut dijalankan dan dinikmati oleh setiap mahasiswa/i baru agar mereka mulai memupuk kekompakan sebagai 1 angkatan. Konkretnya, di samping pemberian materi mengenai hal-hal praktis-administratif kampus (keuangan, etika kampus, dll.), mereka berdinamika di dalam games, sharing Emausan, examen, dan Bakti Kampus (bersih-bersih kampus). Salah satu nasihat dari Wakil Ketua III, Rm. Joseph Ferry S., Pr, yang menyentuh adalah mahasiswa/i diharapkan tidak menjadi mahasiswa/i yang bermental “kapal selam”. Artinya, kadang muncul dalam perkuliahan sebentar, lalu tiba-tiba menghilang sehingga memperlama waktu kelulusannya. Kekompakan yang ditanamkan dalam Bina Keluarga diharapkan untuk dikonkretkan dalam usaha-usaha tiap mahasiswa untuk saling memberi suasana kondusif dalam belajar formal maupun informal dalam UKM Mahasiswa. Dengan terciptanya suasana angkatan yang kondusif, semangat untuk menjaga konsistensi dan ketepatan waktu kelulusan mahasiswa/i diharapkan dapat diwujudkan dengan baik. Dengan demikian, akuntabilitas civitas academica STF Driyarkara pun akan menjadi lebih baik kualitasnya; baik sebagai mahasiswa/i maupun sebagai alumni. Setelah mendapat suntikan nasihat tersebut, muncul harapan-harapan yang besar yang disampaikan oleh mahasiswa/i dalam dinamika belajar di STF nantinya. Salah satunya adalah Muharom (mahasiswa awam) yang berharap bahwa dengan belajar filsafat, ia mendapat bekal yang cukup untuk melanjutkan penelitiannya tentang Comparative Religion di Indonesia. Dari harapan tersebut, dapat dicecap-cecap makna betapa pentingnya memohon rahmat untuk senantiasa mengalami integrasi pengalaman studi (studi filsafat, teologi, studi khusus, maupun studi kehidupan berupan karya kerasulan) dengan pelayanan dan pengabdian sebagai Jesuit. Integrasi being dan doing tersebut pun akan semakin dapat terwujud apabila rahmat konsistensi sebagai Jesuit juga terus dimohonkan, dijaga, dan terus diwujudkan. Kuliah Pembuka STF Driyarkara. Senin (18/8/2019), setelah mengikuti acara Bina Keluarga, para mahasiswa/i beserta civitas academica STF Driyarkara lainnya berkumpul bersama di Ruang Auditorium Lt. 3 STF Driyarkara. Kami mengikuti Kuliah Pembuka dengan tema “Pemisahan Hukum dan Moralitas: Kritik Positivisme Hukum Herbert Lionel Adolphus Hart atas Bahaya Penyatuan Hukum dan Moralitas.” Kuliah Pembuka tersebut dibawakan oleh P. Antonius Widyarsono, SJ. Dengan diadakannya Kuliah Pembuka tersebut, secara resmi dinamika perkuliahan STF Driyarkara, Jakarta sudah dimulai. Marilah kita memohon rahmat kepada Tuhan agar melalui dinamika perkuliahan tersebut, proses integrasi pengalaman studi filsafat yang mendalam dapat terus dialami oleh setiap Jesuit beserta civitas academica STF Driyarkara yang belajar maupun berkarya di bidang intelektual. Br. Nikolaus David Kristianto, SJ

Karya Pendidikan

BERBAGI ITU TIDAK RUGI

Pada 26 April s.d. 2 Mei 2019 lalu, Politeknik ATMI Surakarta menjadi tempat rujukan bagi 17 Sekolah Madrasah Aliyah Kejuruan maupun Madrasah Aliyah plus keterampilan se-Indonesia untuk melaksanakan bimbingan teknis pengelolaan madrasah vokasi/keterampilan.