ATMI MENGANTARKAN ORANG KE DUNIA KERJA

elaslah bahwa bekerja adalah cara tiap manusia untuk mendapat penghidupan yang layak. Lebih jauh lagi akan menjadikan seseorang menjadi pribadi menjadi utuh. Sebab di sana ia dapat mengembangkan talenta dan intelektualnya, kemampuan kreatif, karakter, dan fisiknya.
ATMI-Surakarta-Job-Fair-2019

Tanggal 28 s.d. 29 Juni 2019 lalu, Politeknik ATMI Surakarta mengadakan Job Fair di area Sport Center. Hari pertama dikhususkan bagi mahasiswa TK3 yang sebentar lagi lulus sedangkan pada hari kedua dibuka untuk umum. Acara dibuka secara resmi oleh Romo T. Agus Sriyono, SJ dengan ditandai pengguntingan pita di gerbang Job Fair. Pada Job Fair kali ini ada 41 perusahaan industri yang terlibat, di antaranya: PT. Astra Honda Motor, PT. Indonesia Stanley Electric, PT. Frisian Flag Indonesia, PT. Dharma Polimetal, PT. Gudang Garam TBK, PT. Musashi Auto Parts Indonesia, PT. Untung Bersama Sejahtera, PT. Muria Sumba Manis dll. Rata-rata dari perusahaan itu sudah menjadi mitra dalam merekrut lulusan ATMI.

Dengan jumlah lulusan sekitar 203 orang, jumlah posisi total yang ditawarkan sekitar 180 posisi, tiap posisi kira-kira dibutuhkan sekitar 3 orang, maka dibutuhkan karyawan baru sekitar 540 orang. Mengingat jumlah lulusan belum sebanding dengan jumlah lowongan yang dibutuhkan, maka untuk mengantisipasi agar setiap perusahaan mendapatkan mahasiswa ATMI, setiap mahasiswa tidak diperkenankan melamar lebih dari 1 perusahaan. Jika mahasiswa tersebut nantinya tidak lolos seleksi maka, ATMI memberikan akses bantuan kepada mahasiswa tersebut untuk melamar pada 40 perusahaan lainnya. Hal ini tentu dimaksudkan, pertama, supaya, setelah mendapatkan informasi awal mengenai perusahaan-perusahaan tersebut dan pendampingan dalam memilih, mahasiswa tersebut, sampai pada kematangan berpikir, kepekaan merasa-rasakan, kemampuan mengimajinasikan, dan akhirnya ketepatan memutuskan sesuai dengan kata hati yang benar. Kebebasan mahasiswa mendapatkan tempatnya, namun kebebasan yang dikehendaki adalah kebebasan yang bertanggung jawab karena mereka sedari awal dilatih memikirkan masa depannya secara sungguh-sungguh. Sikap diskret inilah yang ditawarkan dan ditanamkan ATMI pada anak-anak didiknya.

Kedua, dalam rangka terus membina dan mengembangkan kerjasama dengan dunia usaha dunia industri (dudi), maka kebijakan politeknik untuk mengarahkan mahasiswa hanya melamar pada 1 perusahaan industri justru akan mendukung kesinambungan kemitraan antara perusahaan dengan ATMI. Perusahaan percaya bahwa lulusan tersebut adalah lulusan yang serius dalam menyiapkan tahap-tahap bekerjanya.

Nantinya, perusahaan-perusahaan yang notabene sudah teruji kualitasnya itu akan menjadi kawah candradimuka tiap lulusan untuk membuktikan kualitasnya di ranah praktek, akademik, dan karakter sekaligus kemauan mengembangkan kemampuannya. Selanjutnya, sebagai lulusan ATMI yang bekerja di sana, mereka akan memberikan wawasan kepada ATMI mengenai industri yang sedang berkembang dan kualifikasi apa saja yang dibutuhkan seorang engineer.

Bentuk kesinambungan kemitraan itu tidak hanya berhenti di acara Job Fair saja. Bahkan melalui Job Fair ini ada perusahaan yang bersedia menyediakan tempat magang praktik bagi mahasiswa sehingga lulusannya menjadi siap pakai. Semoga semakin lama, pihak industri menjadikan vokasi sebagai nilai tambah ekonomi sehingga kesan pendidikan vokasi hanya sebagai provider bergeser menjadi investasi. Akhirnya industri semakin andil membangun dunia pendidikan vokasi. Harapan selanjutnya semua komponen bangsa, mulai dari hulu sampai hilir, akan bertanggung jawab memberikan penghidupan yang layak bagi tiap-tiap penduduknya sesuai amanat Pembukaan UUD 1945.

Di atas kertas, berbicara mengenai mengantarkan generasi muda supaya mendapat penghidupan yang layak memang tugas yang tidak bisa ditawar-tawar dan semua orang paham mengenai hal itu. Namun ini bukanlah tugas yang mudah. Persiapan kecil dan mendetail diperlukan supaya tujuan tercapai. Keterlibatan semua pihak meliputi keluarga, anak yang bersangkutan, institusi pendidikan, masyarakat luas, dunia usaha, dan negara perlu ada. Bahkan negara melalui kebijakan-kebijakannya penting untuk menyadari bahwa menyediakan pendidikan berkualitas dan menghadirkan industri yang berkelas adalah tanggung jawabnya karena masyarakat telah mempercayakan pengelolaan di tangan mereka. Lebih jauh lagi kita bisa melihat bahwa kualitas dan daya saing bangsa akan ditentukan dari seberapa banyak anak-anak mudanya yang sanggup membuktikan kiprahnya. Anak-anak muda dengan energi besarnya mampu mengangkat mutu bangsa.

Jelaslah bahwa bekerja adalah cara tiap manusia untuk mendapat penghidupan yang layak. Lebih jauh lagi akan menjadikan seseorang menjadi pribadi menjadi utuh. Sebab di sana ia dapat mengembangkan talenta dan intelektualnya, kemampuan kreatif, karakter, dan fisiknya. Melalui bekerja martabat dan harga dirinya terangkat. Maka, tugas mendidik anak muda memang tidak bisa setengah-setengah. Dalam usaha mengantarkan sampai ke tujuan bahkan perlu dipastikan sesampainya ia masuk ke dalamnya, ia tidak salah tujuan. Mengantarkan bukan hanya sebatas menyiapkan sampai pintu gerbang tetapi juga memastikan yang ada di dalam gerbang itu. Inilah cura personalis yang tak memiliki batas. Kesungguhan cura personalis yang dituntut akan menjadikan kita semakin mengerti bahwa ketika kita diberi, kita justru tergerak balas memberi bahkan lebih.

Fr. V. Doni Erlangga, SJ

Found something interesting? share to friends....

Share on facebook
Share on twitter
Share on google
Share on telegram
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *