AJAKAN UNTUK SEMAKIN MENGENAL DIRI SEBAGAI BANGSA INDONESIA

Seminar ini merupakan salah satu ajakan bagi masyarakat untuk mengenal diri-cara berpikir sebagai bangsa Indonesia. Semoga dengannya, setiap orang yang terlibat dan mendengarkannya dimampukan mentransformasi diri dan membantu bangsa ini bergerak maju.
WhatsApp Image 2019-11-03 at 4.45.16 PM

Pada hari Sabtu, 2 November 2019 diadakan Seminar Nasional 50 tahun Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD) dengan tema Filsafat dan Keindonesiaan. Seminar ini merupakan acara penutup dari serangkaian acara Lustrum X STFD yang dimulai pada bulan Februari 2019. Seminar ini diprioritaskan bagi masyarakat umum (selain mahasiswa STFD) yang tertarik pada bidang Filsafat.

Dalam sambutan, Rm. Thomas Hidya Tjahya, SJ (ketua STFD) menyampaikan bahwa seminar ini disambut baik oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya daftar antrian peserta seminar dan pertanyaan konfirmasi peserta sampai pada H-1 pelaksanaan seminar. Rm. Thomas menghimbau, semoga antusiasme ini diikuti dengan komitmen untuk hadir, mengikuti seminar dengan baik serta senantiasa mengasah kemampuan berpikir kritis dalam keseharian.   

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan doa pembuka secara Katolik. Pembicara utama seminar ini adalah Rm. Magnis-Suseno, SJ. Beliau menyatakan bahwa STFD adalah sekolah yang membuka diri bagi siapapun yang berkehendak baik belajar filsafat serta tempat diskursus terbuka tanpa dibatasi dogma agama. Filsafat yang diajarkan di STFD adalah filsafat yang menjunjung tinggi Pancasila dan meyakini bahwa manusia secara individual adalah nilai pada dirinya sendiri, dikehendaki dan Ia kasihi.

Pembicaraan dimoderatori oleh Ibu Lilian Budianto. Setelah memperkenalkan masing-masing pembicara beserta topik yang akan mereka bagikan, setiap pembicara diberi waktu dua puluh menit untuk membagikan gagasannya. Pembicaraan dibuka dengan presentasi Prof. Mukhtasar. Beliau membagikan pemikiran Raden Soepomo yang meyakini bahwa Indonesia cocok dengan model integralistik (menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kebersamaan). Semagat kekeluargaan yang terwujud dalam nasionalisme, menurut Prof. Mukhtasar, mampu mengatasi dogma agama yang cenderung individualistis. Beliau berharap, Filsafat (Pancasila) hendaknya menjadi daya gerak hidup bersama manusia Indonesia.

Pembicaraan dilanjutkan oleh Prof. Melani Budianta dari Universitas Indonesia. Beliau menawarkan pemikiran Elinor Olstrom dan Valerie Fournier tentang cultural commoning (proses sosial untuk mengorganisir praktik dan pengetahuan budaya demi kepentingan bersama). Pemikiran tersebut dibumikan menjadi konsep membangun lumbung budaya yang nyata dalam pembuatan jejaring media sosial antar kampung untuk sarana komunikasi, forum antardesa untuk saling membantu dalam mengatasi konflik dan persoalan, penyelenggaraan festival desa atau acara gotong royong yang diwarnai keriaan. Prof. Melani meyakini bahwa komunitas di tingkat akar rumput merupakan jangkar untuk membangun ke-Indonesiaan. Baginya, Indonesia itu harus terus dibangun, bukan hanya tinggal dalam imajinasi.

Rm. A. Setyo Wibowo, SJ sebagai pembicara ketiga mengajak pendengar untuk menelusuri sekilas jejak filsafat di Indonesia. Beliau memperkenalkan Prof. M. Nasroen yang menyatakan bahwa kekhasan cara berpikir Indonesia adalah visinya yang anti-dialektika dan cenderung melihat segala sesuatu sebagai sekadar “perbedaan” yang bisa disatukan dalam harmoni lebih tinggi. Harmoni dan keseimbangan dianggap lebih tinggi karena keadaan selaras inilah yang akan memberi kebahagiaan “dunia dan akhirat” sebagai tujuan pokok dari falsafah. Rm. Setyo menambahkan, “Filsafat Indonesia atau Filsafat Nusantara adalah sebuah moving figure, sebuah sosok yang bergerak secara dinamis di antara tegangan-tegangan (modernitas/tradisi, Barat/Timur, asli/asing), di mana kita sendiri sering sulit untuk memastikannya dalam sebuah identitas yang pejal”. Demikian, di akhir pembicaraannya, Rm. Setyo menawarkan empat buku yang dihasilkan dalam Simposium Internasional Filsafat Indonesia yang diadakan tanggal 19-20 September 2014.

Seminar ditutup dengan sambutan Ketua Lustrum X, Rm. Hieronimus Dei Rupa, OFM. Setelah itu, peserta bersama menyanyikan Mars STFD. Tampaknya, seminar ini berhasil membuat pendengar terusik dari kenyamanannya. Selama makan siang bersama, selain diskusi personal dengan para pembicara, banyak terjadi diskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Beberapa di antaranya asyik membincangkan kearifan lokal yang dimiliki oleh suku-suku di Indonesia, sejarah dan pengaruh etnis Tionghoa dan agama Islam di Indonesia dan permasalahan politik terkini. Kiranya apa yang disampaikan Rm. Setyo dalam tulisannya mulai mendapatkan ruang dan waktunya siang itu, “Dalam kondisi keterberian sebagai bangsa Indonesia yang memiliki tradisi di satu sisi dan mengadopsi kemajuan yang ada di dunia di sisi lain, maka penting bagi kita untuk merefleksikan ‘metafisika persatuan dan perbedaan (Bhineka Tunggal Ika)’ supaya bisa dirumuskan secara praktis untuk menjadi strategi kebudayaan”.

Seminar ini merupakan salah satu ajakan bagi masyarakat untuk mengenal diri-cara berpikir sebagai bangsa Indonesia. Semoga dengannya, setiap orang yang terlibat dan mendengarkannya dimampukan mentransformasi diri dan membantu bangsa ini bergerak maju.

Yohanes Ignasius Setiawan, SJ

Found something interesting? share to friends....

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *